Karya : Gu Long
Disadur Oleh : Gan KL
Dengan sendirinya ucapan Sun-hoan ini sengaja diperdengarkan kepada A Fei.
Kembali A Fei termenung sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, "Mereka bilang engkau Bwe-hoa-cat, lantas benarkah engkau Bwe-hoa-cat?"
Sun-hoan tersenyum dan menjawab, "Perkataan sementara orang sebenarnya tidak ada ubahnya seperti kentut belaka."
"Jika cuma kentut, untuk apa kau pedulikan ocehan mereka?" kata A Fei, mendadak ia berjongkok terus menggendong Li Sun-hoan di atas punggungnya.
Pada saat itulah mendadak Dian Jit turun tangan, toyanya yang lemas itu bekerja dengan cepat, sekaligus ia tutuk beberapa Hiat-to penting di dada A Fei, asalkan salah satu tempat tertutuk, jangan harap lagi A Fei akan bisa bergerak.
A Fei ternyata tidak melolos pedangnya, ia pun serupa Li Sun-hoan, sekali pedangnya bekerja, biasanya tidak pernah kembali dengan hampa.
Tetapi sekali ini ia tahu pedangnya pasti takkan berhasil merobohkan lawan.
Sejak tadi Tio Cing-ngo tidak bersuara dan juga tidak bergerak, hanya mukanya kelihatan masam, kini mendadak ia membentak, "Terhadap Bwe-hoa-cat tidak perlu bicara tentang peraturan Kangouw, kenapa kalian tidak turun tangan?"
Tapi semua orang sama ragu memandangi bayangan toya Dian Jit yang berkelebat di sekitar A Fei, meski toya rotan Dian Jit terhitung alat Tiam-hiat istimewa, namun belum lagi dapat mengatasi anak muda itu.
"Membunuh Bwe-hoa-cat adalah pahala yang gemilang, mengapa kesempatan baik ini kalian sia-siakan?" seru Tio Cing-ngo pula.
Baru lenyap suaranya, serentak beberapa macam senjata menghujani Li Sun-hoan yang berada di punggung A Fei.
Cepat Lim Sian-ji memburu maju dan menarik tangan Liong Siau-hun, serunya, "Siko, mengapa tidak kau cegah tindakan mereka?"
"Tidakkah kau lihat aku pun ditutuk orang?" sahut Siau-hun dengan sedih.
Pada saat itulah mendadak terdengar serentetan jeritan ngeri, tiga orang tergetar mundur sempoyongan. Akhirnya pedang A Fei dilolos juga.
Meski pedangnya belum pasti mampu melukai Dian Jit, kalau orang lain ingin mencari mampus, tentu dia tidak sungkan-sungkan lagi. Maka darah pun berhamburan mengikuti berkelebatnya sinar pedang, mantel bulu Li Sun-hoan telah terciprat darah.
Segala macam senjata itu tidak tampak lagi, hanya toya rotan Dian Jit yang masih terus mengurung mereka serupa ular berbisa, setiap serangannya tidak pernah meninggalkan Hiat-to maut di tubuh A Fei.
Toya rotan itu jauh lebih panjang daripada A Fei, jika anak muda itu ingin menjaga keselamatan Li Sun-hoan, terpaksa ia tidak berani mendesak maju, kalau dapat mendesak maju, terpaksa ia harus berkelit dan menghindari setiap serangan toya.
Tiba-tiba Lim Sian-ji berseru dengan menyesal, "Betapa pun Tio-toaya memang orang yang luhur budi dan tidak sudi main kerubut ...."
Gemerdep sinar mata Tio Cing-ngo, dengusnya, "Tadi kan sudah kukatakan tadi, terhadap orang rendah semacam Bwe-hoa-cat tidak perlu bicara tentang peraturan Kangouw segala."
Segera ia melompat ke pinggir ruangan, dari rak senjata diraihnya sebatang tombak, sekali berputar, langsung ia menusuk punggung Li Sun-hoan.
Nama Tio Cing-ngo cukup terkenal di dunia persilatan dan memang tidak bernama kosong, serangan tombaknya itu tidak dapat diremehkan.
Tombak adalah embahnya senjata, toya adalah rajanya gegaman, apalagi semakin panjang senjata yang dipakai semakin besar pula daya ancamannya. Senjata A Fei hanya sebilah pedang yang pendek, cukup payah baginya menghadapi dua macam senjata lawan yang lebih panjang, apalagi dia menggendong lagi seorang, pula dia sama sekali tidak tahu lawan hendak menutuk Hiat-to bagian mana.
Walaupun Dian Jit sudah berada di atas angin, tapi entah mengapa, setiap kali dia melancarkan serangan maut, pada detik terakhir selalu gagal, selalu tak dapat merobohkan lawan.
Setelah sekian puluh jurus lagi, tiba-tiba dilihatnya meski anak muda itu tidak sempat belas menyerang, tapi langkahnya ternyata sangat ajaib, jelas-jelas kelihatan serangannya akan berhasil, tahu-tahu anak muda itu bergeser, entah dengan langkah apa, serangannya lantas luput.
Maki pengalaman Dian Jit sangat luas juga tidak tahu asal usul ilmu langkah A Fei itu, diam-diam ia membatin, "Asal-usul anak muda ini pasti tidak sembarangan, untuk apa kuikat permusuhan dengan dia?"
Berpikir demikian, segera ia tersenyum dan berkata, "Saudara cilik, kukira lebih baik kau turunkan dia saja, kalau tidak, bukannya dia membikin susah padamu, sebaliknya engkau yang membikin susah dia."
"Betul," tukas Lim Sian-ji, "lebih baik kau turunkan dia saja, kujamin Dian-jitya tidak berniat melukaimu, juga pasti takkan membunuh dia."
Suaranya sangat lembut dan juga sungguh-sungguh, air mukanya penuh rasa cemas dan prihatin.
A Fei menggereget, ucapnya, "Jika kalian menghendaki kuturunkan dia, kalian sendiri mengapa tidak berhenti?"
Serentak Dian Jit melompat mundur sambil menarik kembali toyanya. Tombak Tio Cing-ngo sudah telanjur menusuk, mendadak ia tahan sekuatnya sehingga ujung tombak menusuk ke bawah. "Creng", lelatu api meletik, ujung tombak patah dan mencelat.
Sama sekali A Fei tidak melirik mereka, ia dudukkan Li Sun-hoan di atas kursi, dilihatnya dada Li Sun-hoan terengah-engah, mukanya yang putih timbul pula semacam warna merah pucat, jelas sejak tadi sekuatnya ia menahan batuknya, sebab ia khawatir batuknya akan memengaruhi konsentrasi A Fei menghadapi musuh.
A Fei merasa darah panas bergolak dalam rongga dadanya, sambil menggereget ucapnya perlahan, "Ya, aku salah, aku cuma memikirkan ketangguhan sendiri, tapi melupakan dirimu."
Sun-hoan tertawa, "Baik kau benar atau salah, aku tetap berterima kasih padamu."
Begitu bicara, serentak dia terbatuk-batuk lagi.
A Fei memandangnya lekat-lekat, sampai sekian lama barulah ia membalik tubuh menghadapi Tio Cing-ngo, katanya. "Sungguh aku menyesal mengapa tempo hari tidak kubunuh dirimu!"
Sambil bicara, berbareng pedangnya juga menusuk.
Betapa cepat serangannya sungguh sukar dilukiskan. Mana bisa Tio Cing-ngo menghindari serangan kilat ini?
Tampaknya darah pasti akan tercecer, siapa tahu pada saat itu juga mendadak terdengar seorang menyebut Buddha, "Omitohud!"
Baru saja kata pertama itu diucapkan, serentak deru angin menyambar dengan membawa serenceng bayangan hitam. Waktu kata kedua diucapkan, angin tajam dan bayangan hitam itu sudah hampir mengenai punggung A Fei.
Padahal pedang A Fei jelas kelihatan sudah menusuk ke depan, tapi pada detik yang menentukan itulah sekonyong-konyong ia menarik pedang dan berputar tubuh. "Cring", sinar pedang sempat menyungkit bayangan hitam tadi, Kiranya segandeng tasbih.
Sampai di sini barulah suara ucapan "Omitohud" tadi terdengar lengkap, tasbih itu mencelat terlempar oleh ujung pedang, dan ujung pedang masih mengeluarkan suara mendengung. Nyata satu gandeng tasbih itu ternyata membawa tenaga sambitan yang mahadahsyat.
Meski ujung pedang masih bergetar, namun A Fei tetap berdiri tegak di tempatnya.
Sementara itu fajar menyingsing, di bawah remang subuh kelihatan lima orang Hwesio berjubah kelabu, bersepatu kain dan berkaus kaki putih melangkah masuk ruangan itu dengan perlahan. Padri yang paling depan sudah tua, alis dan jenggotnya sudah putih seluruhnya, namun wajahnya bersemu merah, sinar matanya tajam, sikapnya kereng.
Ketika Hwesio tua itu merangkap kedua tangannya, kalung tasbih tadi entah mengapa tahu-tahu sudah berada kembali ke tangannya.
Rasa kaget Tio Cing-ngo oleh serangan A Fei tadi baru sekarang lenyap, melihat Hwesio beralis putih ini, cepat ia memberi hormat dan menyapa, "Atas kunjungan Taysu ini, maafkan jika tidak dilakukan penyambutan selayaknya."
Hwesio alis putih itu hanya tersenyum saja, sorot matanya menatap tajam ke muka A Fei, ucapnya dengan suara lantang, "Cepat amat pedang tuan ini."
"Jika pedangku tidak cepat, saat ini mungkin perlu minta Taysu bersembahyang bagi arwahku," kata A Fei.
"Ah, soalnya padri tua tidak suka menyaksikan pertumpahan darah, sebab itulah kuturun tangan, ketahuilah, betapa cepatnya pedangmu tetap tidak lebih cepat daripada pandangan Buddha."
"Memangnya tasbih Taysu sendiri bisa lebih cepat daripada pandangan Buddha?" jawab A Fei. "Jika kumati di bawah tasbih Taysu, bukankah Taysu harus memikul dosa pembunuhan ini?"
"Kurang ajar!" bentak Tio Cing-ngo, "Berani kau bicara kasar terhadap Hou-hoat-taysu (padri agung pembela agama) dari Siau-lim-si?"
"Ah, tidak apa," ujar si Hwesio alis putih. "Lidah anak muda memang lebih tajam daripada senjata, rasanya padri tua masih sanggup menahannya."
Tiba-tiba Lim Sian-ji menimbrung dengan tertawa, "Jika Sim-bi Taysu tidak menyalahkan perbuatanmu, tidak lekas kau pergi saja?"
Tio Cing-ngo lantas mendengus, "Tadi dia tidak mau pergi, sekarang mungkin sudah terlambat."
"Oo? Memangnya dapat kau rintangi diriku?" ujar A Fei sembari bertindak ke luar dengan langkah lebar.
Air maka Tio Cing-ngo berubah lagi, "Taysu ...."
"Ah, Sim-bi Taysu selamanya welas asih, mana beliau mau mempersulit anak muda yang tidak tahu diri itu," tukas Dian Jit dengan tertawa. "Biarkan dia pergi saja!"
Tio Cing-ngo menghela napas, gumamnya, "Adalah gampang membiarkan dia pergi, untuk menyuruhnya datang lagi mungkin akan sangat sulit."
Tiba-tiba Sim-bi Taysu berkata dengan suara berat, "Ciangbun-suheng (kakak guru pejabat ketua) kami menerima berita pos merpati dari cabang biara kami dan diketahui murid keluarga swasta perguruan kami Cin Tiong mengalami luka parah, seketika padri tua diperintahkan berangkat ke sini ...."
"Ya, cuma sayang kedatangan Taysu sudah agak terlambat ...." Tio Cing-ngo menghela napas ambil melototi Li Sun-hoan.
*****
Sementara itu hari sudah terang, sudah banyak orang berlalu-lalang di jalan raya, A Fei berjalan di atas salju yang tertimbun semalam, meski langkahnya cepat dan enteng, namun perasaannya sangat berat dan tertekan.
"He, tunggu ... tunggu ...." tiba-tiba seorang memanggilnya.
Suaranya sedemikian nyaring, sedemikian merdu, tanpa menoleh pun A Fei tahu siapa yang memanggilnya. Sebab diketahuinya orang di tepi jalan sama terkesima memandangi belakangnya, orang yang sedang berjalan juga sama berhenti, yang sedang bicara juga lupa bicara.
A Fei tidak berpaling, tapi tanpa terasa ia pun berhenti. Didengarnya suara napas terengah perlahan sudah berada di belakangnya, bau harum yang memabukkan juga tercium, mau tak mau dia harus berpaling.
Dilihatnya Lim Sian-ji sedang tersengal-sengal napasnya, wajahnya yang cantik bersemu merah, cahaya subuh yang mulai mencorong di ufuk timur seolah-olah berubah suram dibanding kecantikan si nona.
Pandangan semua orang di jalan raya sama terbeliak, semuanya terkesima, mendadak terdengar suara gemeresak, entah bakul telur ayam siapa yang jatuh pecah berantakan.
Tapi pandangan A Fei tetap sedingin salju yang berserakan di jalan.
Sian-ji menunduk, dengan muka merah ia berkata, "Kudatang untuk ... untuk minta maaf padamu, aku ...."
"Kan tidak ada kesalahanmu yang perlu minta maaf padaku?" ujar A Fei.
Sian-ji menggigit bibir, ucapnya sambil mengentakkan kakinya, "Ai, orang-orang itu sungguh terlalu banyak tingkah, terlalu kurang ajar!"
"Masa tindakan mereka itu ada sangkut pautnya denganmu?" ujar A Fei.
"Tapi engkau telah menyelamatkan diriku, mana ... mana boleh ku ...."
"Kutolong dirimu tapi kan tidak menolong mereka," kata A Fei. "Kutolong dirimu bukan menghendaki kau mintakan maaf bagi mereka."
Muka Sian-ji bertambah merah, serupa orang yang mendadak menumbuk dinding, setiap ucapannya yang belum selesai selalu diguyur dengan air dingin.
"Apa lagi yang hendak kau katakan?" tanya A Fei.
Lim Sian-ji memang tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Selama hidupnya belum pernah menemui orang semacam ini, dia senantiasa yakin sekalipun gunung es juga akan cair bila berhadapan dengan dirinya.
Malahan A Fei lantas berkata pula, "Sampai bertemu!"
Segera ia membalik tubuh dan melangkah pergi.
Tapi baru dua-tiga langkah, mendadak Sian-ji memanggilnya pula, "Nanti dulu, ada yang hendak kukatakan."
Sekali ini A Fei sama sekali tidak menoleh lagi.
"Ingin ... ingin kutanya padamu, di ... di mana kiranya dapat kutemui engkau?" seru Sian-ji.
"Tidak perlu kau cari diriku," jawab A Fei.
"Jika begitu, bila ... bila Li Sun-hoan mengalami sesuatu, harus kuberi tahukan kepada siapa?" seru Sian-ji pula.
Serentak A Fei berpaling dan berkata, "Kau tahu rumah berhala keluarga Sim di luar gerbang barat kota?"
"Jangan kau lupa, sedikitnya aku sudah bertempat tinggal lima-enam tahun di kota ini," kata Sian-ji dengan tersenyum.
"Di rumah berhala itulah kutinggal," tutur A Fei. "Sebelum matahari terbenam, tidak nanti kupergi dari sana."
"Bagaimana bila matahari sudah terbenam?" tanya Sian-ji.
A Fei termenung sejenak sambil menengadah, katanya kemudian dengan perlahan, "Jangan kau lupa, Li Sun-hoan adalah sahabatku. Tidak banyak sahabatku, malahan sukar mencari keduanya sahabat seperti dia. Jika dia mati, dunia ini terasa tidak menarik lagi."
Sian-ji menghela napas, ucapnya dengan hampa, "Memang sudah kuduga malam nanti engkau pasti akan datang ke sini lagi untuk menolongnya. Cuma perlu kau ketahui, betapa baiknya sahabat tetap tidak lebih penting daripada keselamatan jiwanya sendiri."
Mendadak A Fei menunduk kembali dan melototi Lim Sian-ji, ucapnya sekata demi sekata, "Kuharap selanjutnya tidak pernah lagi kau bicara demikian padaku, sekali ini kuanggap saja tidak mendengar apa-apa."
*****
Sudah sekian hari turun salju, baru hari ini kelihatan sinar sang surya.
Tapi sinar matahari tidak dapat menerangi rumah ini, Li Sun-hoan juga tidak menyesal, sebab sudah diketahuinya di dunia ini memang banyak sekali tempat yang selamanya tidak pernah melihat sinar matahari. Apalagi soal menyesal dan kecewa, semuanya sudah terbiasa baginya.
Dia tidak tahu apa yang hendak dilakukan Dian Jit, Tio Cing-ngo dan lain-lain terhadapnya, malahan dia malas memikirkan hal ini. Dian Jit dan begundalnya telah membawa padri Siau-lim-si untuk menemui Cin Hau-gi ayah dan anak, dan Li Sun-hoan dikurung di gudang kayu yang gelap dan lembap, Liong Siau-hun juga tidak membelanya lagi.
Namun Sun-hoan tidak menyalahkan dia. Liong Siau-hun tentu juga mempunyai kesulitannya sendiri, apalagi sekarang ia pun tidak berbuat apa-apa. Yang diharapkan Sun-hoan sekarang adalah semoga A Fei jangan datang menolongnya, sebab kini dapat diketahuinya dengan jelas, biarpun gerak pedangnya sangat cepat, tapi Kungfunya terdapat banyak titik lemah yang aneh, pengalaman tempurnya juga sangat sedikit. Bila berhadapan dengan lawan seperti Dian Jit, Sim-bi Taysu dan sebagainya, jika sekali serang gagal, mungkin selamanya dia takkan mampu menyerangnya lagi.
Padahal Sun-hoan yakin asalkan digembleng dua-tiga tahun lagi, pasti A Fei dapat menambal titik lemah ilmu silatnya, tatkala mana mungkin anak muda itu akan menjagoi dunia tanpa tandingan. Sebab itulah A Fei harus tahan hidup dua-tiga tahun lagi.
Lantai sangat lembap, hawa dingin terasa merasuk tulang, kembali Sun-hoan terbatuk-batuk tanpa berhenti, dia berharap dapat minum secangkir arak pada saat ini.
Namun hasrat untuk minum satu cangkir arak saja sekarang telah berubah menjadi kenikmatan yang tidak mungkin terjadi. Bila orang lain mengalami nasib seperti Li Sun-hoan sekarang, bukan mustahil akan menangis sedih sekali. Tapi Li Sun-hoan justru malah tertawa, ia merasa perubahan segala sesuatu di dunia ini sungguh sangat menarik.
Padahal tempat ini adalah bekas miliknya, segala sesuatu yang berada di sini adalah haknya, tapi sekarang dia malah dituduh sebagai maling kumbang, diringkus dan dikerangkeng di gudang kayu bakar serupa seekor anjing. Siapakah yang pernah membayangkan akan peristiwa lucu ini?
Tiba-tiba pinta terbuka.
Apakah Tio Cing-ngo tidak sabar menunggu lebih lama lagi dan sekarang juga datang untuk mencabut nyawanya?
Tapi segera diketahui Li Sun-hoan bahwa yang datang ini bukanlah Tio Cing-ngo. Tercium olehnya bau harum arak, menyusul lantas terlihat sebelah tangan yang memegang cawan arak terjulur masuk melalui celah-celah pintu.
Tangan ini sangat kecil, ujung lengan baju pada pergelangan tangannya kelihatan berwarna merah.
"He, Siau-in, kau!" sapa Sun-hoan.
Cawan arak itu tertarik kembali, lalu Ang-hay-ji, si anak serbamerah itu melangkah masuk dengan tertawa-tawa, kedua tangannya memegang cawan arak dan diciumnya bau arak itu, lalu berkata dengan tertawa, "Kutahu engkau sekarang pasti sangat ingin minum arak, betul tidak?"
Sun-hoan tertawa, "Jadi kau tahu aku ingin minum arak, makanya khusus kau antar arak bagiku?"
Ang-hay-ji mengangguk, cawan arak itu disodorkan ke depan Sun-hoan.
Selagi Sun-hoan hendak membuka mulut, mendadak anak itu menarik kembali cawan enaknya dan berkata dengan tertawa, "Coba kau tebak dulu arak apakah ini, jika tepat kau tebak baru kuberi minum padamu."
Sun-hoan memejamkan mata dan tarik napas panjang, lalu berkata dengan tertawa, "Inilah arak Tik-yap-jing simpanan lama, arak kegemaranku, jika bau arak ini saja tidak kukenal, mungkin aku memang pantas mati saja."
Ang-hay-ji tertawa, katanya, "Pantas orang bilang Li-tamhoa adalah ahli arak dan perempuan, buktinya memang tidak salah. Tapi bila engkau memang ingin minum arak ini, perlu kau jawab dulu suatu pertanyaanku."
"Pertanyaan apa?" ucap Sun-hoan.
Tiba-tiba air muka si anak merah yang tertawa berubah menjadi kelam, ia melototi Li Sun-hoan dan berkata tegas, "Ingin kutanya padamu, ada hubungan apa antara dirimu dengan ibuku? Apakah dia sangat suka padamu?"
Air maka Sun-hoan seketika juga berubah, jawabnya sambil bekernyit kening, "Apakah pertanyaan ini pantas kau ajukan?"
"Mengapa tidak pantas kutanyakan? Urusan sang ibu, anaknya kan berhak mengetahuinya?"
Dengan gusar Sun-hoan menjawab, "Masa tidak kau ketahui bahwa ibumu mencintaimu dengan segenap jiwa raganya, mengapa kau berani mencurigai dia?"
"Hm, jangan kau kelabui aku!" jengek Ang-hay-ji. "Segala urusan tak dapat mengelabui diriku."
Setelah menggereget, dia menyambung pula, "Begitu ibu mendengar urusanmu, segera dia menutup pintu kamar dan menangis secara bersembunyi. Padahal waktu aku hampir mati tangisnya juga tidak sedemikian berduka. Nah, ingin kutanya padamu, apa sebabnya?"
Hati Sun-hoan seperti dipuntir-puntir, ia merasa dirinya telah berubah menjadi segumpal tanah liat dan lagi diremas-remas dan diinjak-injak orang.
Selang agak lama barulah ia menarik napas berat, lalu berkata, "Harus kukatakan padamu, kau dapat mencurigai siapa pun, tapi tidak boleh mencurigai ibumu. Tidak ada setitik alasan pun bagi orang lain untuk mencurigainya. Nah, lekas kau pergi dengan arakmu ini."
Ang-hay-ji melototinya dan berkata, "Arak ini sengaja kubawa untukmu, mana boleh kubawa pergi lagi?"
Mendadak ia siramkan secawan arak itu ke muka Li Sun-hoan.
Sana sekali Sun-hoan tidak bergerak, bahkan tidak memandangnya sekejap pun, sebaliknya ia berkata dengan suara lembut, "Kau masih seorang anak, aku tidak marah padamu ...."
"Seumpama aku bukan anak, memangnya apa yang dapat kau lakukan atas diriku?" jengek Ang-hay-ji. Mendadak ia mencabut sebilah pisau dan digerak-gerakkan di depan wajah Li Sun-hoan sambil berteriak, "Nah, lihatlah yang jelas! Inilah pisaumu, dia (ibunya yang dimaksud) bilang dengan memegang pisau ini sama dengan jimat penyelamat. Tapi sekarang apakah dapat kau lindungi diriku? Padahal menyelamatkan dirimu sendiri saja tidak mampu lagi."
Sun-hoan menghela napas, katanya, "Ya, betul, pisau hanya untuk mencelakai orang dan tak dapat melindungi orang."
Muka Ang-hay-ji tampak pucat, serunya dengan parau, "Telah kau bikin badanku cacat selamanya, sekarang aku pun akan membikin kau rasakan siksaan seperti diriku, ku ...."
Pada saat itulah tiba-tiba di luar ada orang berseru, "Siau-in, apakah kau berada di dalam?"
Suara itu sangat halus dan enak didengar, tapi demi mendengar suara itu, seketika air muka Sun-hoan dan Ang-hay-ji berubah lagi.
Cepat Ang-hay-ji menyimpan kembali pisaunya, air mukanya menampilkan senyuman kekanak-kanakan pula, sahutnya, "Ya, ibu, aku berada di sini! Kubawakan arak untuk paman Li, karena seruan ibu, anak menjadi kaget sehingga arak tersiram semua di atas badan paman Li."
Pada waktu dia bicara, Lim Si-im sudah muncul di ambang pintu, kedua matanya yang jeli itu kelihatan rada bendul, penuh rasa pedih dan tampak marah.
Tapi setelah Ang-hay-ji menggelendot di sebelahnya, sinar matanya segera berubah menjadi lembut, katanya, "Paman Li sekarang tidak ingin minum arak, sebaiknya sekarang kau harus tidur, lekas pergi!"
"Paman Li pasti difitnah orang, kenapa tidak kita tolong dia?" ujar Ang-hay-ji.
"Hus, anak kecil, jangan sembarang omong," omel Si-im. "Lekas pergi tidur!"
Ang-hay-ji menoleh dan tertawa terhadap Li Sun-hoan, katanya, "Paman Li, kupergi dahulu, besok akan kubawakan arak lagi bagimu."
Memandangi senyum kekanak-kanakannya itu, tanpa terasa tangan Sun-hoan berkeringat dingin, ngeri akan tingkah laku anak itu.
Didengarnya Si-im lagi menghela napas sedih, ucapnya, "Semula kukhawatir anak ini dendam padamu, tapi sekarang ... sekarang dapatlah kurasa lega. Terkadang dia dapat berbuat kesalahan, tapi pada dasarnya dia bukan anak buruk."
Sun-hoan hanya menyengir saja tanpa memberi komentar.
Mendengar suaranya yang penuh kasih ibu itu, apa yang dapat dikatakannya? Dia cukup tahu cinta adalah buta, terutama cinta seorang ibu.
Si-im juga tidak memandangnya, selang agak lama barulah ia berkata dengan perlahan, "Engkau sebenarnya seorang yang sangat memegang janji, tapi sekarang, mengapa engkau telah berubah?"
Sun-hoan merasa kerongkongannya seperti tersumbat, apa pun tak dapat diucapkannya.
"Engkau sudah berjanji padaku pasti takkan pergi mencari Lim Sian-ji, tapi mereka menemukan dirimu di tempat Sian-ji."
Sun-hoan tertawa, ia tidak tahu mengapa dirinya masih dapat tertawa, tapi dia benar-benar telah tertawa. Katanya, "Kuingat ruangan ini baru dibangun belasan tahun yang lalu, betul tidak?"
"Ehm," Si-im mengangguk sambil berkerut kening.
"Tapi sekarang, rumah ini sudah tua, ujung dinding sana sudah retak, jendela juga rusak .... Semua ini suatu tanda waktu sepuluh tahun memang tidak pendek, dalam waktu sekian rumah dapat berubah menjadi bobrok, apalagi manusia?"
Si-im meremas-remas tangan sendiri, ucapnya dengan suara gemetar, "Memangnya sekarang ... sekarang engkau sudah berubah menjadi pembohong?"
"Aku memang seorang pembohong," jawab Sun-hoan. "Cuma pengalamanku membohongi orang sekarang telah bertambah banyak."
Si-im menggigit bibir, mendadak ia membalik tubuh terus berlari pergi.
Sun-hoan masih tertawa, betapa tujuannya sudah tercapai. Dia memang sengaja hendak melukai hati Lim Si-im, supaya dia lekas pergi. Agar orang lain tidak ikut tersangkut olehnya, terpaksa ia keraskan hati untuk melukai hati orang yang memerhatikan dia. Sebab orang ini juga yang paling diperhatikan olehnya.
Pada waktu dia melukai perasaannya, sama halnya dia melukai hatinya sendiri. Meski dia masih tertawa, tapi hatinya sudah remuk rendam ....
Ia memejamkan mata dan menahan air mata supaya tidak menetes, ketika dia membuka mata pula, diketahuinya entah sejak kapan Lim Si-im sudah berada kembali di dalam rumah dan sedang memandangnya lekat-lekat.
"Ken ... kenapa engkau belum lagi pergi?" tanya Sun-hoan.
"Aku cuma ingin tanya padamu dengan jelas, sesungguhnya engkau ini Bwe-hoa-cat atau bukan?" kata Si-im.
Mendadak Sun-hoan terbahak-bahak, "Hahaha, apakah aku ini Bwe-hoa-cat? .... Kau tanya aku ini Bwe-hoa-cat atau bukan ...."
"Meski aku yakin engkau pasti bukan Bwe-hoa-cat, tapi ... tapi tetap ingin kudengar langsung dari mulutmu sendiri ...."
Sun-hoan tertawa, "Jika kau tidak percaya, untuk apa bertanya pula? Kalau aku pembohong apa gunanya kau tanya lagi? Bila aku dapat membohongimu satu kali, tentu dapat bohong seratus kali, bahkan seribu kali ...."
Air muka Si-im bertambah pucat, tubuh pun menggigil.
Selang agak lama, mendadak ia mengentak kaki katanya, "Akan kulepaskan kau, tak peduli engkau Bwe-hoa-cat atau bukan tetap kulepaskan dirimu. Aku cuma minta setelah kau pergi, jangan kau kembali lagi ke sini, jangan kembali untuk selamanya!"
"Berhenti!" bentak Sun-hoan mendadak. "Mana boleh kau berbuat begini? Kau kira akan kuminta pertolonganmu? Kau kira aku akan melarikan diri dengan mencawat ekor seperti seekor anjing kena gebuk? Memangnya kau pandang diriku ini orang macam apa?"
Tapi Si-im tidak menghiraukannya, ia putar badan Sun-hoan terus hendak membuka Hiat-to kelumpuhannya yang tertutuk.
Pada saat itulah, sekonyong-konyong seorang membentak dengan bengis, "Si-im, apa yang hendak kau lakukan?"
Itulah suara Liang Siau-hun.
Serentak Si-im membalik tubuh dan melototi Liong Siau-hun yang berdiri di ambang pintu itu, jawabnya dengan sekata demi sekata, "Apa yang ingin kulakukan, memangnya engkau tidak tahu?"
Air muka Liong Siau-hun berubah, ucapnya, "Namun ...."
"Namun apa?" potong Si-im dengan suara keras, "Tindakan ini seharusnya dilakukan olehmu, memangnya sudah kau lupakan budi kebaikannya kepada kita? Apakah sudah kau lupakan urusan masa lampau? Masa akan kau saksikan begini saja dia dibunuh orang?"
Badan Si-im tambah menggigil, teriaknya lagi dengan parau, "Jika tindakan ini tidak berani kau lakukan, terpaksa aku yang melakukannya, masa kau cegah?"
Siau-hun mengepal tinjunya erat-erat, mendadak ia memukuli dadanya sendiri sambil sesambatan, "Ya, aku tidak berani, aku penakut, pengecut? Tapi ... tapi kenapa tidak kau pikirkan, mana boleh kita bertindak demikian? Setelah kita menolong dia, apakah mereka akan melepaskan kita!"
Si-im memandangnya dengan terbelalak, seperti tidak pernah mengenalnya. Perlahan ia menyurut mundur dan berucap dengan terputus-putus, "Kau ... kau berubah, kau sudah berubah ... dahulu ... dahulu engkau bukan orang semacam ini ...."
"Betul, mungkin aku sudah berubah," jawab Siau-hun dengan sedih, "sebab sekarang aku sudah punya istri, sudah punya anak, demi mereka, setiap tindakanku harus kupikirkan, aku tidak mau membikin mereka ...."
Belum lanjut ucapannya, menangislah Si-im tergerung-gerung.
Di dunia ini memang tidak ada kata lain yang lebih menggetarkan perasaan kasih sayang seorang ibu daripada kata "anak".
Mendadak Siau-hun berlutut di depan Sun-hoan, ucapnya dengan air mata bercucuran, "Maaf, saudaraku, aku bersalah padamu, kumohon engkau sudi mengampuniku ...."
"Mengampunimu?" kata Sun-hoan. "Pada hakikatnya aku tidak paham apa yang sedang kalian bicarakan. Kan sudah kuberi tahukan sejak mula bahwa urusan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kalian, jika aku mau pergi, tentu aku mempunyai akal untuk angkat kaki dan tidak memerlukan pertolongan kalian."
Dia bicara sambil memandangi ujung kaki sendiri, sebab ia tidak dapat memandang mereka, ia khawatir air mata sendiri mungkin sukar tertahan dan akan menetes.
"Saudaraku," kata Siau-hun pula, "kutahu seluruhnya tuduhan tak berdasar mereka kepadamu. Tapi dapat kujamin mereka pasti takkan membunuh dirimu, asalkan engkau sudah bertemu dengan Sim-oh Taysu, tentu urusan akan beres."
"Sim-oh Taysu?" Sun-hoan menegas sambil berkerut kening. "Memangnya mereka hendak membawaku ke Siau-lim-si?"
"Betul," jaw b Siau-hun. "Tapi meski Cin Tiong adalah murid kesayangan Sim-oh Taysu, kita tahu padri agung itu pasti takkan sembarangan mendakwa orang yang tak berdosa. Apalagi, saat ini Pek-hiau-sing Cianpwe juga berada di Siau-lim-si, dia pasti juga akan membela keadilan bagimu."
Sun-hoan tidak bicara lagi, sebab telah dilihatnya kemunculan Dian Jit.
Dian Jit sedang memandangnya dengan tersenyum. Pada saat munculnya Dian Jit, cepat Si-im telah pulih ketenangannya, ia mengangguk perlahan kepada Dian Jit, lalu melangkah pergi.
Angin malam mendesir dingin, baru melangkah dua-tiga tindak, mendadak Si-im berseru, "Anak In, keluar sini!"
Ternyata Ang-hay-ji bersembunyi di ujung rumah sana, cepat dia menyelinap keluar, katanya dengan tertawa, "Akan tidak dapat tidur, bu, maka ... maka ...."
"Maka kau cari orang-orang ini dan dikerahkan ke sini, begitu bukan?" tukas Si-im.
Ang-hay-ji memburu maju dengan tertawa, tapi mendadak dilihatnya air muka sang ibu sama dingin dan kelamnya seperti sesaat sebelum fajar menyingsing itu, seketika ia berhenti dan kepala pun tertunduk.
Si-im memandanginya dengan diam, inilah putra kandungnya, permata hatinya, jiwanya, darah dagingnya. Tanpa terasa air matanya yang baru saja diusap kembali menetes lagi.
Selang agak lama barulah Si-im menghela napas, gumamnya sambil menengadah, "O, mengapa dendam selalu lebih sukar dilupakan daripada budi kasih ...."
*****
Untuk melupakan budi kasih orang lain memang sangat mudah, tapi sangat sulit untuk melupakan dendam kepada orang lain. Sebab itulah kesedihan di dunia ini selalu lebih banyak daripada kebahagiaan.
Dengan mengepal kedua tinjunya erat-erat Thi Toan-kah sedang mondar-mandir di dalam ruangan rumah berhala itu, entah sudah berapa puluh kali dia berjalan kian kemari, api unggun sudah hampir padam, tapi tidak ada yang menambahi kayu bakar.
A Fei cuma duduk diam saja di sana tanpa bergerak.
Dengan gemas Thi Toan-kah berkata, "Memang sudah kupikirkan sekalipun Bwe-hoa-cat sudah kau bunuh, para pendekar itu pasti juga takkan mengakui kebenaran tindakanmu. Kutahu, bilamana sekawanan anjing liar melihat daging, mana mungkin daging itu akan diserahkan kepada orang lain?"
"Memang sudah kau nasihati diriku, tapi aku toh pergi ke sana, sebab betapa pun aku harus ke sana," kata A Fei.
"Dan untung engkau telah pergi ke sana, kalau tidak, mungkin selamanya engkau tak dapat memahami watak asli kawanan pendekar itu," setelah menghela napas, mendadak Thi Toan-kah berpaling dan memandang A Fei lekat-lekat, lalu katanya pula, "Tapi apakah benar tidak kau lihat Siauya kami?"
"Tidak," jawab A Fei.
Thi Toan-kah memandangi api unggun yang hampir padam itu dengan termangu-mangu, lalu bergumam, "Entah bagaimana keadaannya sekarang?"
"Selamanya dia tidak perlu orang lain berkhawatir baginya," ucap A Fei.
Thi Toan-kah tertawa cerah, "Betul, meski para pendekar itu memandangnya seperti duri di dalam daging, tapi tidak ada seorang pun berani mengusik sepotong jarinya."
Setelah mondar-mandir lagi dua-tiga putaran tiba-tiba ia berkata pula sambil memandang cuaca subuh di luar, "Hati sudah terang, aku mau berangkat."
"Baik," kata A Fei.
"Jika dapat kau temui Siauyaku, katakan apabila Thi Toan-kah berhasil menyelesaikan budi dan sakit hatinya, kelak pasti akan kembali ke sini untuk mencarinya."
A Fei mengiakan.
"Selamat berpisah," Thi Toan-kah menjura sambil menatap wajah anak muda yang kurus itu. Meski kelihatan rasa beratnya, namun dia melangkah pergi juga tanpa menoleh.
A Fei tetap diam saja, bahkan tidak menengadah untuk memandangnya. Sorot matanya yang dingin dan tajam itu seolah-olah timbul selapis kabut yang lembap.
Berapa orang di dunia ini yang dapat memandang budi kasih terlebih berat daripada sakit hati?
A Fei memejamkan matanya, seperti tertidur, tapi ujung matanya merembes keluar setitik air mata sehingga tampaknya serupa setetes embun yang membeku di atas batu karang.
Dia tidak menceritakan apa yang dialami Li Sun-hoan, sebab dia tidak ingin menyaksikan Thi Toan-kah mengadu jiwa bagi Li Sun-hoan, untuk ini ia sendiri yang akan membela Li Sun-hoan dengan mati-matian. Demi setia kawan, apa artinya selembar jiwa?
Makin terasa dingin di dalam ruangan rumah berhala ini, api unggun sudah padam, lantai batu sudah ada es beku, dan di situlah A Fei masih berduduk.
Meski tipis baju yang dipakainya, namun api dalam hatinya justru berkobar. Api yang tidak pernah padam.
Justru lantaran di dalam hati sementara manusia masih menyala api semacam ini, maka dunia ini tidak sampai tenggelam dalam kegelapan, lelaki yang berdarah panas juga takkan kesepian untuk selamanya.
Entah sudah berapa lama lagi, sinar sang surya pagi perlahan mengantar datang sesosok bayangan orang, bayangan yang memanjang dan menutupi muka A Fei.
Anak muda ini tidak membuka matanya, ia cuma tanya, "Apakah kau? Ada beritanya?"
Kepekaan pancaindra anak muda ini ternyata terlebih tajam daripada binatang buas sekalipun. Yang datang ternyata benar Lim Sian-ji adanya. Mukanya tampak kemerahan karena senangnya, dengan napas agak terengah ia menjawab, "Ya, kubawa berita baik."
"Berita baik?" A Fei menegas, ia hampir tidak percaya di dunia ini masih ada berita baik baginya.
Maka Sian-ji bertutur, "Meski untuk sementara dia tak dapat lolos, setidak-tidaknya sudah terhindar dari bahaya."
"Oo?" A Fei sangat tertarik.
"Sebab Dian Jit dan lain-lain terpaksa harus menuruti pendirian Sim-bi Taysu yang memutuskan hendak mengirim dia ke Siau-lim-si," tutur Sian-ji lebih lanjut. "Ketua Siau-lim-pay, Sim-oh Taysu, terkenal saleh dan berbudi luhur. Kabarnya Pek-hiau-sing dari Pengkang saat ini juga berada di Siau-lim-si, jika kedua orang ini tidak dapat mencuci bersih kejahatan yang dituduhkan kepadanya, maka orang lain lebih-lebih tidak mampu lagi."
"Pek-hiau-sing, orang macam apakah Pek-hiau-sing!" tanya A Fei.
Sian-ji tertawa dan bertutur pula, "Orang ini adalah mahatahu nomor satu di dunia, dia serbamengerti dan segala paham. Bahkan katanya cuma dia saja yang dapat membedakan tulen atau palsunya Bwe-hoa-cat."
A Fei termenung sejenak, mendadak ia membuka mata, katanya sambil melototi Liu Sian-ji. "Apakah kau tahu orang macam apakah yang paling menjemukan di dunia ini?"
Sian-ji seperti tidak berani beradu pandang dengan sorot matanya yang tajam itu, dia mengerling ke arah lain dan menjawab, "Jangan-jangan yang kau maksud adalah lelaki munafik semacam Tio Cing-ngo itu?"
"Lelaki munafik memang menggemaskan, tapi manusia sok serbatahu juga menjemukan."
"Sok serbatahu? Apakah kau maksudkan Pek-hiau-sing?" tanya Sian-ji.
"Betul," jawab A Fei. "Orang semacam ini sok pintar sendiri, menganggap dirinya lain daripada yang lain dan serbamengerti, cukup berdasarkan sepatah katanya saja dapat menentukan nasib orang lain. Padahal berapa banyak urusan yang benar-benar dipahaminya?"
"Tapi orang lain sama bilang ...."
"Huh, justru orang lain sama bilang dia tahu segalanya, akhirnya dia terpaksa harus menipu dirinya sendiri juga dan menganggap dirinya memang serbatahu," jengek A Fei.
"Engkau tidak ... tidak percaya padanya?" tanya Sian-ji.
"Aku lebih suka percaya kepada seorang yang tidak tahu apa-apa."
Sian-ji tertawa, "Caramu bicara sungguh menarik. Jika aku bisa lebih sering bercakap-cakap denganmu, tentu aku akan berubah menjadi lebih pintar."
Seorang kalau ingin orang lain berkesan baik padanya, jalan yang paling tepat adalah berusaha orang lain mengetahui dirinya sangat suka padanya. Cara ini entah sudah berapa kali dilaksanakan oleh Lim Sian-ji.
Tapi sekali ini dia gagal, sebab pada hakikatnya A Fei seperti tidak mendengar apa yang diucapkannya, anak muda itu berbangkit dan menuju ke depan pintu, dipandangnya salju yang tertimbun di luar sambil termangu-mangu, sejenak kemudian barulah ia tanya dengan suara berat, "Bilakah mereka hendak berangkat?"
"Pagi esok," tutur Sian-ji.
"Mengapa perlu tunggu sampai esok?"
"Sebab malam ini mereka hendak menjamu Sim-bi Taysu sebagai tanda selamat jalan."
Mendadak A Fei berpaling kembali dan melototi Sian-ji dengan sinar mata gemerdep. "Kecuali itu, apakah tidak ada alasan lain lagi?"
"Kenapa harus pakai alasan lain lagi?"
"Sebab tidak nanti Sim-bi Taysu membuang waktu sehari hanya karena untuk makan saja."
"Betul juga ucapanmu," ujar Sian-ji. "Sim-bi Taysu tidak segera berangkat, tapi tinggal di sini untuk makan, sebab dalam perjamuan nanti akan hadir pula seorang tamu khusus."
"Oo? Siapa dia?" tanya A Fei.
"Thi-tiok Siansing."
"Thi-tiok Siansing? Siapa pula dia?"
Sian-ji terbelalak seperti sangat terkejut, "Masa Thi-tiok Siansing saja tidak kau kenal?"
"Kenapa aku harus kenal dia?" jawab A Fei tak acuh.
Sian-ji menghela napas, "Sebab Thi-tiok Siansing ini meskipun bukan tokoh yang paling ternama di dunia Kangouw sekarang, sedikitnya dia terhitung tokoh terkemuka."
"Oo?!" A Fei merasa tidak mengerti.
Maka Sian-ji menyambung pula, "Konon tinggi ilmu silat orang ini sudah tidak di bawah ketua ketujuh perguruan besar dunia persilatan saat ini."
A Fei mendengus, "Tokoh dunia persilatan terkemuka juga sudah banyak yang kulihat."
"Tapi orang ini berbeda dengan yang lain," ujar Sian-ji. "Dia pasti bukan tokoh yang bernama kosong, selain ilmu silatnya tinggi, senjata andalannya, yaitu sebatang Thi-tiok (seruling besi), di dalam seruling besi itu tersembunyi 13 biji paku sambar nyawa yang khusus digunakan menyerang Hiat-to, dia terhitung jago Tiam-hiat nomor satu dalam Bu-lim sekarang."
Sembari bicara ia terus memerhatikan perubahan air muka anak muda itu. Tapi sekali ini kembali A Fei membuatnya kecewa.
Sama sekali air muka A Fei tidak memperlihatkan rasa kejut atau kagum, dia malah tertawa dan berkata, "Aha, rupanya mereka sengaja mendatangkan tuan seruling besi (Thi-tiok Siansing) ini untuk menghadapi diriku."
Sian-ji tampak sedih, katanya, "Cara bekerja Sim-bi Taysu biasanya sangat cermat, dia, khawatir ...."
"Dia khawatir kupergi menolong Li Sun-hoan, maka didatangkannya Thi-tiok Siansing sebagai pengawal," tukas A Fei.
"Biarpun mereka tidak mencarinya, Thi-tiok Siansing pasti juga akan datang kemari."
"Sebab apa?" tanya A Fei.
"Sebab gundik kesayangan Thi-tiok Siansing juga menjadi korban keganasan Bwe-hoa-cat."
Mencorong sinar mata A Fei, ia pandang tangkai pedang yang terselip pada ikat pinggangnya, tanyanya perlahan, "Bilakah dia akan sampai di sini?"
"Kabarnya dia akan hadir pada jamuan makan malam nanti."
"Jika begitu, bisa jadi sehabis makan malam mereka akan terus berangkat."
Sian-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, "Ya, bisa jadi ...."
"Bisa jadi juga mereka takkan berangkat untuk selamanya," potong A Fei.
"Takkan berangkat untuk selamanya? Memangnya kenapa?" tanya Sian-ji.
Dengan sekata demi sekata A Fei menjawab, "Bilamana istriku mati di tangan seorang, tidak nanti kubiarkan orang itu pergi ke Siau-lim-si dalam keadaan hidup."
Tergerak hati Sian-ji, "Jadi kau khawatir kedatangan Thi-tiok Siansing akan segera turun tangan keji terhadap Li Sun-hoan?"
"Ehm," A Fei mengangguk.
Sian-ji melenggong sekian lamanya, kemudian menghela napas panjang dan berkata, "Ya, betul juga, memang mungkin terjadi begitu. Selamanya Thi-tiok Siansing tidak kenal ampun, biarpun Sim-bi Taysu juga tidak dapat mencegahnya."
"Pembicaraanmu sudah habis, bolehlah kau pergi," kata A Fei tiba-tiba.
"Tapi ... tapi engkau apakah bermaksud menolong Li Sun-hoan lebih dulu sebelum Thi-tiok Siansing tiba di sini?"
"Apa kehendakku kan tiada sangkut pautnya denganmu? Nah, silakan pergi saja."
"Tapi ... tapi melulu tenagamu seorang pasti sukar menyelamatkan dia," segera ia menyambung lagi sebelum A Fei bersuara, "Kutahu ilmu pedangmu sangat tinggi. Tapi Dian Jit dan lain-lain juga tidak lemah. Malahan Sim-bi Taysu terhitung jago nomor dua dari Siau-lim-pay, tenaga luar dalamnya sudah mencapai tingkatan yang sempurna."
A Fei hanya memandangnya dengan dingin tanpa bicara apa pun.
Sian-ji menghela napas, "Saat ini tokoh terkemuka dunia persilatan boleh dikatakan sama berkumpul di Hin-hun-ceng sini, jika kau ingin menolong orang pada siang hari bolong, sungguh ... sungguh ...."
"Sungguh gila, begitu bukan?" tukas A Fei mendadak.
Sian-ji menunduk, ia tidak berani beradu pandang dengan sinar matanya.
A Fei tertawa lagi, ucapnya, "Setiap orang ada kalanya bisa gila-gilaan terkadang hal ini pun bukan tindakan jelek."
Sian-ji menunduk sambil memainkan ujung bajunya, selang sekian lama, mendadak mencorong sinar matanya, katanya, "Ya, kupaham maksudmu."
"Oo?" A Fei jadi melengak malah.
"Sebab orang lain sama tidak menduga engkau berani turun tangan pada siang hari, maka penjagaan mereka pasti tidak ketat. Apalagi semalam mereka baru sibuk semalam suntuk, bisa jadi mereka sama tidur siang ...."
"Sudah terlalu banyak kau bicara," potong A Fei dengan hambar.
Sian-ji tersenyum, "Baik, biar kututup mulut saja. Tapi engkau ... engkau tetap harus waspada, bila terjadi sesuatu, janganlah lupa di Hin-hun-ceng ini masih ada seorang penghuni yang utang jiwa padamu."
*****
Senja pada musim dingin selalu datang terlebih dini daripada biasanya, belum lama lewat tengah hari, cuaca sudah mulai suram, tapi untuk menyalakan lampu terasa agak dini juga.
Bagi kebanyakan orang, pada waktu demikian ini adalah saat yang paling sunyi dalam sehari.
Sudah lebih dari satu jam A Fei menunggu di atas wuwungan di seberang Hin-hun-ceng sana.
Dia mendekam di sana, serupa seekor kucing yang berjaga di luar liang tikus. Dari kepala sampai ujung kaki tidak bergerak sedikit pun, hanya sinar matanya yang tajam senantiasa gemerdep.
Angin meniup kencang dan dingin serupa pisau menyayat badan. Tapi A Fei sama sekali tidak menghiraukannya. Sudah sejak berumur sepuluh tahun, karena ingin membunuh seekor rase, dia pernah mendekam di atas tanah salju tanpa bergerak selama dua-tiga jam.
Waktu itu dia harus bersabar demi perut yang kelaparan, kalau rase itu tidak berhasil ditangkapnya, bisa jadi dia akan mati kelaparan.
Bukan kesulitan besar bagi seorang yang menderita demi mempertahankan hidup selanjutnya. Sebaliknya kalau seorang menderita bagi kehidupan orang lain, inilah tindakan yang tidak gampang. Biasanya jarang yang sanggup melakukannya.
Pintu gerbang Hin-hun-ceng masih seperti biasanya, tidak pernah tertutup, tapi suasana sunyi, tidak kelihatan sesuatu kendaraan, juga jarang ada orang berlalu di situ.
Namun A Fei tidak menjadi lengah, kehidupan di hutan belukar telah mendidiknya menjadi peka dan waspada serupa binatang buas, setiap kali sebelum melakukan sesuatu sergapan, biasanya harus sabar menunggu dan menunggu sampai lama sekali.
Ia tahu, semakin lama menunggu dan semakin banyak melihat, semakin tak dapat berbuat kesalahan. Ia pun tahu, betapa kecilnya sesuatu kesalahan yang diperbuatnya bisa menjadi kesalahan yang fatal.
Dalam pada itu dilihatnya ada seorang sedang melangkah keluar dari Hin-hun-ceng, meski berjarak agak jauh, tapi A Fei dapat melihat jelas orang ini bermuka bopeng atau burik.
Dengan sendirinya tak tersangka olehnya bahwa si burik inilah ayah Lim Sian-ji. Hanya diduganya si burik ini pasti seorang hamba yang berkuasa di dalam perkampungan itu.
Sebab kalau seorang budak biasa, tentu takkan berlagak seperti si burik ini. Sebaliknya kalau bukan kaum hamba, tentu juga tidak perlu berlagak tuan besar. Maklum, biasanya mandor memang lebih besar lagaknya daripada tuannya.
Begitulah, dengan lagak tuan besar, Lim-toacongkoan (kepala rumah tangga Lim) ini sedang menuju ke rumah minum, tentunya dia ingin membual di sana. Tak terduga, baru saja ia membelok tikungan jalan sana, mendadak ujung pedang mengancam tenggorokannya.
A Fei tidak sudi menggunakan pedang terhadap orang begini, tapi bicara dengan pedang jauh lebih efektif daripada menggunakan mulut. Jelas ia pun tidak suku banyak omong dengan orang macam ini, maka dengan tegas ia mendengus, "Pendek kata, kutanya satu kalimat harus kau jawab satu kalimat. Kalau tidak kau jawab, segera kubunuh kau. Salah jawab juga kubunuh, Nah, paham?"
Si burik ingin mengangguk, tapi khawatir janggutnya terluka oleh pedang, maka sukar untuk bicara, hanya keringat dingin yang memenuhi dahinya.
"Ingin kutanya padamu, apakah Li Sun-hoan masih berada di dalam?" A Fei mulai bertanya.
"Iy ... iya ...." sampai lama bibir si burik bergerak baru tercetus satu kata ini.
"Di mana?" tanya A Fei pula.
"Di ... di gudang kayu, dek ... dekat dapur!"
"Bawa aku ke sana!"
Si burik terkejut, "Mana ... mana dapat kubawa engkau ke sana, aku ... aku tidak berdaya ...."
"Kau pasti mempunyai akal," jengek A Fei, pedangnya mendadak menyambar ke samping, "cret", ujung pedang menancap dinding.
"Nah, kau pasti punya akal, bukan?" A Fei menegas pula dengan pandangan tajam.
"Iy ... iya ...." gemertuk gigi si burik.
"Baik, sekarang putar balik ke sana, langsung pulang, jangan lupa, aku berada di belakangmu," kata A Fei.
Cepat si burik memutar tubuh, tapi baru dua-tiga langkah, mendadak ia berucap dengan gemetar, "Tapi ... tapi bajumu ... biarlah jaket kulitku ini boleh ... boleh Tuan pakai."
Baju yang dipakai A Fei hanya sepotong baju kulit tipis dan sangat mencolok, maka gagasan yang baik juga bila si burik meminta A Fei memakai jaket kulitnya.
Banyak gagasan yang baik di dunia ini memang tercetus di bawah ancaman senjata.
Dan Lim-toacongkoan kita jelas bukan baru pertama kali ini membawa teman pulang ke rumah, maka seorang A Fei yang ikut di belakangnya tidak terlalu diperhatikan oleh kawanan centeng yang berjaga di depan pintu.
Gudang kayu memang tidak jauh letaknya dari dapur, sebaliknya letak dapur cukup jauh daripada rumah induk.
Melalui jalan kecil si burik membawa A Fei ke gudang kayu dan tidak kepergok seorang pun. Seumpama kepergok juga orang akan menyangka Lim-toacongkoan hendak mencari santapan ke dapur.
A Fei sendiri tidak menyangka urusan ini dapat berlangsung dengan lancar dan semudah ini.
Tertampak sebuah halaman kecil yang terpencil dan sebuah rumah kecil yang tersudut, pintunya sudah tua, tapi di luar telah ditambahi dua buah gembok yang besar dan kuat.
"Li-toaya terkurung di dalam rumah ini, silakan Tuan ...."
"Kukira kau pun tak berani berdusta padaku," jengek A Fei sambil menatapnya dengan tajam.
"Masa ... masa hamba berani bergurau dengan kepala sendiri?" cepat si burik menjawab dengan menyengir.
"Baik," kata A Fei. Baru selesai ucapannya, tangannya membalik dan sekali jotos si burik terus roboh pingsan. Secepat terbang A Fei melompat ke sana, pintu didepaknya hingga terpentang.
Di luar pintu tidak ada penjaga, mungkin karena siapa pun tidak menyangka A Fei berani menolong tawanan pada siang hari, bisa juga semua orang ingin menggunakan kesempatan ini untuk tidur siang.
Gudang kayu ini hanya terdapat sebuah jendela yang sangat kecil sehingga merupakan sebuah penjara yang gelap, di kaki onggokan kayu yang tertumpuk tinggi meringkuk satu orang, entah sedang tidur atau pingsan.
Begitu melihat baju kulitnya itu seketika darah panas dalam rongga dada A Fei bergolak. Ia sendiri tidak mengerti mengapa bisa timbul rasa persahabatan sedalam ini terhadap orang ini.
Tanpa pikir ia melompat maju sambil berseru dengan suara parau, "Engkau ...."
Tak terduga, pada saat itu juga, dari bawah kulit berbulu itu mendadak menyambar sinar pedang, Secepat kilat sinar pedang menebas kedua kaki A Fei.
Kejadian ini sungguh sama sekali di luar dugaan, serangan pedang ini pun cepat luar biasa. Untung A Fei juga masih memegang pedang, gerak pedangnya ternyata lebih cepat, sukar dibayangkan cepatnya, meski lawan melakukan serangan lebih dulu, tapi pedang A Fei yang bergerak belakangan telah menyambar tiba lebih dulu pada sasarannya.
"Creng", ujung pedang A Fei tepat menusuk batang pedang lawan. Seketika orang itu merasa tangan tergetar keras, pedang pun terpukul jatuh.
Orang itu pun tokoh kelas tinggi, meski menghadapi bahaya dia tidak menjadi panik, cepat ia menjatuhkan diri dan terguling jauh ke sana, habis itu baru dia perhatikan wajahnya, ternyata Yu Liong-sing adanya.
A Fei tidak kenal dia, juga tak dipandangnya lagi, segera ia hendak mundur keluar, meski cukup cepat mundurnya, tapi toh terlambat juga. Di luar pintu sudah siap toya rotan dan golok emas yang menutup jalan mundurnya. Mereka ialah Dian Jit dan Tio Cing-ngo.
Dan baru saja A Fei berhenti bergerak, terdengarlah suara gemuruh, tumpukan kayu yang membukit itu mendadak berguguran dan muncul belasan orang, semuanya berseragam baju ringkas, memegang busur dengar panah yang siap dibidikkan ke arah A Fei.
Siapa pun juga, betapa pun tinggi Kungfunya jika terkurung oleh belasan pemanah tangguh jelas sangat sulit untuk meloloskan diri.
"Apa abamu sekarang?" tegur Dian Jit dengan tersenyum mengejek.
A Fei menghela napas, perlahan ia berduduk malah dan berkata, "Silakan turun tangan saja."
"Haha, bagus Anda memang seorang yang dapat melihat gelagat, biarlah orang she Dian memenuhi kehendakmu!" seru Dian Jit sambil tergelak. Segera ia memberi tanda dan barisan panah segera berhamburan.
Pada saat yang sama, mendadak A Fei menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping, tangan kirinya sempat menyambar pedang Yu Liong-sing yang jatuh tadi. Sekali pedang berputar, hujan panah itu sama tergetar mencelat. Berbareng itu A Fei terus berguling ke depan pintu.
Mendadak Tio Cing-ngo meraung murka, golok emasnya terus membacok.
Tak terduga belum lagi bacokan Tio Cing-ngo itu mengenai sasarannya, tahu-tahu sinar pedang menyambar lagi secepat kilat ke muka Tio Cing-ngo.
Sungguh kejut Tio Cing-ngo tak terkatakan, cepat ia hendak menangkis, namun sudah kasip. "Crit", pedang sudah kena menusuk lehernya, darah muncrat keluar seperti air mancur.
Dalam pada itu Dian Jit menyurut mundur setengah langkah, menyusul toyanya lantas menyabet. Tapi pada saat itu A Fei telah melompat keluar pintu.
Dian Jit seperti hendak mengejar, tapi urung. Dilihatnya Tio Cing-ngo memegangi lehernya yang mengeluarkan suara "krak-krok", ternyata dia tidak sampai putus napas.
Rupanya A Fei terburu-buru hendak menerjang keluar sehingga serangannya agak menceng satu-dua senti dan tepat menembus di antara jalan napas dan jalan makanan, tidak sampai mengenai bagian yang mematikan.
Dalam pada itu A Fei sudah melayang ke luar halaman, mendadak tangannya mengayun ke belakang, pedang tertimpuk ke arah Dian Jit. Mestinya Dian Jit hendak mengejar keluar, tapi cepat ia menyurut mundur lagi. "Crat", pedang itu menancap di dinding.
Sampai sekarang barulah Yu Liong-sing menghela napas panjang, ucapnya, "Cepat amat cara turun tangan anak muda ini!"
Dian Jit tersenyum, katanya, "Nasibnya juga cukup mujur."
"Mujur?" Yu Liong-sing tidak mengerti.
"Masa Siaucengcu tidak melihat tubuhnya telah terkena dua anak panah?" kata Dian Jit pula.
"Betul, kulihat dia putar pedang dengan tangan kiri dan di antara sinar pedang masih ada peluang, kuyakin dia pasti tidak mampu menangkis barisan panah Dian-jitya itu Anehnya, dia ternyata tidak terluka."
"Hal ini disebabkan dia memakai Kim-si-kah," ujar Dian Jit. "Perhitunganku sudah cermat, tapi tetap salah satu langkah ini. Kalau tidak, biarpun kepandaiannya setinggi langit juga jangan harap bisa lolos dari gudang kayu ini dengan hidup."
Yu Liong-sing termangu memandangi pedang yang menancap di dinding, lalu menghela napas berat, ucapnya, "Hari ini mestinya dia tidak kemari, dan aku pun tidak perlu datang."
Dian Jit tertawa, katanya, "Kalah menang adalah soal biasa di medan perang, kenapa Siaucengcu mesti kesal. Apalagi, biarpun keparat itu dapat menerobos rintangan kita ini, memangnya dia mampu lolos dari rintangan kedua?"
Betul juga, baru saja A Fei melayang keluar pintu sana, tiba-tiba didengarnya suara orang menyebut Buddha, suaranya lantang berkumandang dari berbagai penjuru.
Habis itu, tahu-tahu ia sudah terkepung oleh lima orang padri Siau-lim yang berjubah kelabu.
Kelima padri ini sama merangkap kedua tangannya di depan dada, sikapnya kereng, gerakannya enteng tapi mantap, begitu berdiri lantas tegak dan kukuh seperti gunung.
Padri yang mengepalai kelima orang ini beralis putih dan berjenggot panjang, kereng dan berwibawa, tangan kiri memegang segandeng tasbih, dia inilah padri sakti Siau-lim-si yang terkenal.
A Fei menyapu pandang sekejap kelima padri itu, sikapnya tenang tanpa gentar, ucapnya dengan tegas, "Kaum padri ternyata juga bisa main sergap."
"Sama sekali tidak ada maksud kami hendak main sergap, janganlah Sicu bersilat lidah, bersilat lidah hanya akan menyakiti hati, takkan melukai orang, sebaliknya bisa melukai diri sendiri."
Kalem saja padri agung itu bicara, tapi bagi pendengaran A Fei, setiap katanya mendengung seperti bunyi genta di tepi telinga.
"Agaknya cara Hwesio bersilat lidah juga tidak kurang tajam daripadaku," jengek A Fei sembari bicara, segera ia pun menerobos miring ke sana.
Ia tahu bilamana dirinya mengapung ke atas, bagian kaki pasti akan memberi peluang kepada lawan untuk menyerangnya Sebab itulah ia harus menyelinap lewat melalui celah-celah dua orang di sebelahnya.
Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak, sekonyong-konyong kawanan padri Siau-lim-si itu pun bergerak cepat mengitar di sekelilingnya. Ketika ia berhenti, serentak kawanan padri itu pun berhenti.
"Orang beragama tidak suka main bunuh, Sicu membawa pedang, gerak kakimu juga cepat, asalkan engkau sanggup menerobos keluar dari barisan Lo-han-tin yang kecil ini, segera kami mengaku kalah dan akan mengantar kepergianmu dengan hormat," demikian Sim-bi Taysu berucap.
A Fei menarik napas dalam-dalam, tapi tubuhnya tidak bergerak. Dapat dilihatnya Kungfu kawanan padri Siau-lim-si ini sangat tinggi, bahkan bekerja sama dengan sangat rapat, boleh dikatakan air saja tak dapat menembusnya.
Pada waktu kecil A Fei pernah melihat seekor bangau besar terkurung oleh seekor ular sanca, walaupun patuk bangau itu cukup tajam, tapi sebegitu jauh tidak berani menyerang lebih dulu.
Waktu itu A Fei sangat heran, kemudian baru diketahuinya bahwa bangau cukup kenal sifat ular. Setelah ular sanca itu melingkari si bangau, kepala dan ekornya saling berjaga laksana pukulan guntur dan sambaran kilat, bilamana bangau mematuk kepala ular, kedua kakinya tentu akan dibelit oleh ular, jika dia mematuk ekor ular, tentu kepala ular akan memagutnya juga.
Sebab itulah si bangau hanya berdiri saja tanpa bergerak, ditunggunya ular sanca tidak sabar lagi dan melancarkan serangan, maka secepat kilat dipatuknya leher ular.
Semalaman A Fei mengintai pertarungan menarik itu di atas pohon, dari situlah dipahaminya siasat "kepala dan ekor saling membantu" yang merupakan kunci strategi militer, kalau ditambah lagi siasat "mengatasi gerakan dengan ketenangan", tentu akan lebih yakin lagi akan menang.
Penemuan masa kecil itu tidak pernah dilupakan A Fei. Sebab itulah ketika kawanan padri Siau-lim-si itu tidak bergerak, sedikit pun dia juga tidak bergerak.
Sebaliknya Sim-bi Taysu menjadi kurang sabar, ia menegur, "Apakah Sicu menyerah untuk diringkus?"
"Tidak," jawab A Fei. Selamanya dia bicara cekak aos, tidak suka bertele-tele, tidak mau memboroskan satu kata pun.
"Jika tidak menyerah, kenapa tidak pergi?" kata Sim-bi Taysu pula.
"Engkau tidak membunuhku, aku pun tidak membunuhmu, dan kalau tidak kubunuh engkau, sukar bagiku untuk menerjang keluar," jawab A Fei.
Sim-bi tertawa hambar, "Apabila Sicu mampu membunuhku, mati pun padri tua takkan menyesal."
"Baik," ucap A Fei, dan dia mulai bergerak. Sekali bergerak lantas secepat kilat. Tertampak sinar pedang berkelebat, langsung menutuk tenggorokan Sim-bi Taysu.
Pada saat yang hampir sama, serentak kawanan Hwesio Siau-lim-si juga bergerak, delapan telapak tangan sama menghantam ke arah A Fei.
Tak terduga, baru saja pedang A Fei menusuk, gerak tubuhnya mendadak berubah, sukar untuk diketahui cara bagaimana dia menggeser langkah, tahu-tahu dia berubah arah. Pedang yang jelas kelihatan menusuk Sim-bi Taysu juga mendadak berganti sasaran sehingga tangan keempat Hwesio Siau-lim-si itu seolah-olah sengaja disodorkan untuk ditusuk pedang.
"Bagus!" ucap Sim-bi Taysu dengan suara tertahan. Dan begitu bersuara, lengan bajunya lantas mengebas, angin kencang menyambar setajam sembilu, serangan ini memaksa A Fei harus menyelamatkan diri lebih dulu.
Dengan begitu, meski keempat Hwesio itu menghadapi bahaya, mereka tidak perlu berusaha menyelamatkan diri, di sinilah letak kehebatan kerja sama Lo-han-tin yang terkenal dari Siau-lim-si.
Di luar dugaan, pada saat itu juga arah pedang A Fei mendadak berubah lagi, arah yang ditusuk semula ke timur, mendadak berubah menjadi menusuk ke barat.
Padahal yang berubah bukankah arah serangan pedangnya melainkan langkahnya. Karena cepatnya sehingga sukar dibayangkan orang bahwa di dunia ini terdapat kaki segesit ini.
"Bret", tahu-tahu lengan baju Sim-bi Taysu tertusuk robek. Menyusul sinar pedang berubah menjadi selarik cahaya pelangi, orang dan pedangnya seolah-olah terlebur menjadi satu, tahu-tahu A Fei sudah menerjang keluar kepungan.
Dengan menyerempet bahaya beruntung usaha A Fei berhasil dengan baik, tapi ia pun lupa, dengan begitu bagian punggungnya lantas memberi peluang bagi musuh untuk menyerang.
"Jangan tergesa-gesa, Sicu, selamat jalan!" terdengar Sim-bi Taysu berseru, kontan A Fei merasa ditumbuk oleh suatu arus tenaga yang kuat, punggungnya terhantam seperti dipalu, meski dia memakai Kim-si-kah, baju kutang yang kebal, tidak urung dada juga terasa panas dan napas sesak.
Seketika tubuhnya melayang lebih jauh ke depan seperti layang-layang putus.
"Kejar!" salah seorang Hwesio Siau-lim-si itu berseru.
"Tidak perlu," kata Sim-bi Taysu.
"Takkan jauh dia kabur, mengapa Susiok melepaskan dia?" ujar Hwesio muda itu.
"Jika dia tak dapat kabur jauh, untuk apa mengejarnya?" ujar Sim-bi.
Hwesio muda itu berpikir sejenak, lalu tersenyum dan berucap, "Ya, perkataan Susiok memang betul."
Sambil memandangi arah lari A Fei, perlahan Sim-bi Taysu bergumam, "Orang beragama mengutamakan welas asih, jika tidak perlu melukai orang memang lebih baik tidak."
Dari jauh Dian Jit menyaksikan semua itu, mendadak ia pun tertawa dan bergumam, "Alangkah welas asihnya orang beragama, jika ada orang lain mau membunuh baginya, lebih baik dia sendiri tidak perlu turun tangan."
Dalam pada itu A Fei sedang melayang ke depan. Tenaga pukulan Sim-bi Taysu sungguh luar biasa dahsyatnya, setelah melintasi dua wuwungan rumah barulah A Fei dapat menahan diri. Waktu dia hendak melompat ke depan lagi barulah diketahui dia sudah terluka dalam. Namun sedikit luka ini ia percaya masih sanggup bertahan.
Gemblengan sejak kecil dan kehidupan yang sulit menjadikan dia seorang yang tidak gampang roboh, tubuhnya hampir serupa gemblengan baja.
Senja tambah kelam, seputar tak tampak bayangan orang, tapi di atas setiap pohon, di balik setiap wuwungan rumah, setiap pojok, selalu ada kemungkinan menunggu musuh yang akan menyergapnya.
Bahwa A Fei dapat lolos, ini sudah beruntung baginya. Selama ini, hampir jarang terjadi ada orang mampu membobol kepungan Lo-han-tin Siau-lim-si yang dipimpin sendiri oleh tokoh kedua perguruan ternama itu.
Akan tetapi A Fei tidak bermaksud kabur. Jika satu pekerjaan belum berhasil dilaksanakan, tidak nanti ia tinggalkan setengah jalan.
Ke manakah Dian Jit dan begundalnya menyembunyikan Li Sun-hoan?
Setajam mata elang A Fei terus mencari sekitarnya, segesit kucing ia melayang turun dan menyusup ke taman belakang. Tubuh seorang di atas wuwungan terlalu mencolok, di dalam taman justru banyak tempat sembunyi yang baik.
Sekonyong-konyong didengarnya suara tertawa orang. Suara tertawa itu tidak keras, tapi jaraknya sangat dekat, seperti berada di sampingnya. Waktu ia berpaling baru diketahui jarak orang yang tertawa itu cukup jauh.
Beberapa tombak di sebelah sana ada sebuah gardu pemandangan dan orang itu berduduk di dalam gardu, sedang membaca sambil bersandar pada langkan, asyik benar membacanya sehingga seperti sama sekali tidak memerhatikan urusan lain.
Orang itu memakai baju lapis kapas yang sudah tua, mukanya kurus kuning, jenggotnya jarang-jarang, serupa seorang pak guru yang kurang vitamin.
Tapi tertawa seorang pak guru kurus tentu takkan dirasakan orang seperti orang tertawa di sampingnya kecuali ahli Kungfu yang memiliki tenaga dalam yang sempurna.
A Fei menghentikan langkahnya dan memandangnya dengan tenang.
Pak guru itu seolah-olah tidak melihat A Fei, jarinya dibasahi dengan air ludah, lalu membalik halaman buku dan masih terus membaca dengan asyiknya.
Selangkah demi selangkah A Fei mundur ke belakang, setelah belasan langkah, dengan cepat ia membalik tubuh dan sekaligus melayang tiga tombak ke sana, tanpa menoleh lagi ia melompat pula dua-tiga kali dan menyelinap masuk ke hutan Bwe (sakura). Bunga sakura sedang mekar mewangi.
A Fei menarik napas panjang-panjang, ditahannya darah yang hampir tersembur dari kerongkongannya. Ia merasa luka sendiri jauh lebih berat daripada dugaannya semula, karena mengeluarkan tenaga lagi, darah lantas hampir tumpah, rasanya sukar untuk bergebrak lagi dengan orang.
Akan tetapi pada saat itu jaga, sekonyong-konyong terdengar suara seruling bergema mengalun angkasa, bunga salju yang berada di ranting pohon sama berguguran menjatuhi tubuh A Fei.
Di tengah berhamburnya bunga salju, terlihat seorang sedang meniup seruling dengan bersandar pada pohon Bwe di depan sana, seorang tua berbaju kapas tebal, jelas si pak guru yang asyik membaca tadi.
Suara seruling dari melengking tinggi mulai berubah rendah, menjadi sendu dan mengharukan.
Sekarang A Fei tidak kabur lagi, ia pandang orang dengan tajam, lalu berucap sekata demi sekata, "Thi-tiok Siansing!"
Seketika suara seruling berhenti.
Orang itu memang betul Thi-tiok Siansing, si seruling besi.
Dia menengadah, sorot matanya gemerdep, dalam sekejap saja si pak guru yang kelihatannya loyo kurang vitamin itu seketika seperti berubah lebih muda belasan tahun.
Ia pandang A Fei sekian lamanya, tiba-tiba berkata, "Kau terluka?"
Melengak juga A Fei, diam-diam ia mengakui betapa tajamnya pandangan orang.
"Terluka pada bagian punggung?" tanya pula Thi-tiok Siansing.
"Kalau sudah tahu, untuk apa pula bertanya?" jawab A Fei.
"Sim-bi Hwesio yang menyerangmu?"
A Fei hanya mendengus saja.
Thi-tiok Siansing tertawa sambil menggeleng kepala, katanya, "Tokoh Siau-lim-si ternyata juga cuma begitu saja."
"Cuma begitu apa?" tanya A Fei.
"Dengan kedudukannya, sepantasnya dia tidak menyerang orang dari belakang. Dan kalau sudah dapat melukaimu, seharusnya tidak melepaskan dirimu dengan hidup sehingga datang ke depanku." Tiba-tiba Thi-tiok Siansing tertawa, lalu bergumam, "Jangan-jangan Hwesio tua ini sengaja hendak 'pinjam golok untuk membunuh orang'?"
A Fei berkata, "Ingin kuberi tahukan tiga hal padamu. Pertama, kalau tidak menyerang dari belakang, pada hakikatnya dia tidak dapat menyerang diriku. Kedua, biarpun dia dapat menyerang pasti juga tak dapat membunuhku. Ketiga, kau pun lebih-lebih tidak dapat membunuhku."
"Hahaha!" Thi-tiok Siansing bergelak tertawa, "Besar amat suaramu, anak muda!"
Dan begitu berhenti suara tertawanya, dengan bengis ia berkata, "Setelah kau terluka, mestinya aku tidak mau turun tangan. Tapi cara bicaramu terlalu sok, betapa pun harus kuhajar adat padamu."
A Fei merasa sudah bicara terlalu banyak, ia malas untuk berucap lagi.
"Mengingat kau sudah terluka, baiklah, aku akan mengalah tiga jurus padamu," kata Thi-tiok Siansing.
Tiba-tiba A Fei tertawa sambil mengembalikan pedang pada ikat pinggangnya, lalu membalik tubuh dan melangkah pergi.
Mendadak Thi-tiok Siansing tertawa panjang ambil melayang ke udara, lengan baju terbentang, serupa elang saja ia hinggap di depan A Fei, bentaknya, "Setelah bertemu denganku, kau ingin pergi lagi?"
Tanpa meliriknya A Fei menjengek, "Jika aku tidak pergi, kau hendak mati!"
Thi-tiok Siansing tergelak, "Aku harus mati? Mungkin kau yang akan mati!"
"Tidak ada seorang pun mampu mengalah tiga urus padaku!" ucap A Fei.
"Maksudmu, bila kuberi tiga jurus padamu aku pasti mati?" jengek Thi-tiok Siansing.
A Fei tidak bicara lagi, ia berpaling ke sini dan menatap orang. Seketika Thi-tiok Siansing merasa hawa dingin timbul dari lubuk hatinya.
Thi-tiok Siansing adalah tokoh terkemuka yang disegani, keberhasilannya itu bukan secara kebetulan, tapi memang mengandalkan Kungfu sejati dalam berbagai pertempuran, dalam setiap pertempuran selalu akan dihadapinya sepasang mata lawan.
Macam-macam bentuk mata sudah pernah dilihatnya, ada mata yang penuh rasa benci, murka dan ada juga sorot mata yang penuh mengandung rasa ketakutan dan mohon dikasihani.
Tapi sorot mata seperti A Fei sekarang belum pernah dilihatnya.
Sorot mata yang hampir tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, biji mata anak muda ini pun serupa buatan batu, kaku dan dingin.
Tanpa terasa Thi-tiok Siansing menyurut mundur setengah langkah.
Pada saat itulah pedang A Fei lantas bergerak. Dan sekali pedangnya menyerang tidak pernah meleset. Inilah keyakinan A Fei, serangan yang tidak pasti berhasil takkan dilakukannya.
Mendadak tubuh Thi-tiok Siansing mengapung ke atas, menjulang tinggi ke pucuk pohon, terdengar suara gemeresik, bunga salju dan bunga Bwe rontok bertebaran.
Putih salju dan merah bunga berpadu menjadi suatu pemandangan yang menakjubkan, dipandang dari bawah, Thi-tiok Siansing seakan-akan sedang menari di udara di tengah berhamburnya salju dan bunga Bwe.
Sama sekali A Fei tidak mendongak, pedang sudah disimpannya kembali.
Thi-tiok Siansing juga lantas melayang turun, sedemikian lambat turunnya sehingga mirip layangan yang tidak mendapatkan angin, selagi tubuhnya masih terapung, di atas tanah salju sudah berlumuran darah segar.
A Fei memandang darah yang memenuhi tanah itu, katanya perlahan, "Tidak ada orang yang mampu memberi tiga jurus serangan padaku. Satu jurus saja tidak dapat!"
Thi-tiok Siansing bersandar pada pohon Bwe dengan napas terengah. Mukanya pucat pasi, di bawah leher, di atas dada, penuh berlepotan darah.
Seruling besinya yang termasyhur dan disegani sama sekali tidak sempat digunakan.
Kumpulan Cerita Silat Chin Yung, Gu Long, Khu Lung, Kho Ping Ho, SH Mintardja, Gan KL, Cerita Silat Indonesia
Monday, 2 February 2009
Saturday, 31 January 2009
Pendekar Budiman 6
Karya : Gu Long
Disadur Oleh : Gan KL
Dengan sorot mata mencorong Yu Liong-sing berkata pula, “Kalau Li-heng seorang pencinta pedang, tentunya kau tahu meski pedang ini tidak dapat dibandingkan Hi-jong-kiam, tapi pedang ini pun cukup terkenal pada tiga ratus tahun yang lalu, namanya Toat-ceng-kiam (pedang perampas cinta), barangkali Li-heng belum tahu kisah pedang ini.
”
“Coba ceritakan,” kata Sun-hoan.
“Pedang ini milik Tik Bu-cu, seorang jago pedang zaman itu, sampai usianya sudah setengah baya dia baru jatuh cinta kepada seorang perempuan. Keduanya sudah mengikat janji, siapa tahu pada malam sebelum upacara nikah mereka berlangsung, nona ini ialah mengadakan pertemuan gelap dengan sahabat Tik Bu-cu sendiri yang bernama si golok sakti Pang Ging. Saking duka dan gemasnya, dengan pedang perampas cinta inilah Tik Bu-cu membunuh Pang Ging, sejak itu hidupnya melulu berkawan dengan pedang dan tidak pernah bicara tentang pernikahan lagi.”
Mendadak Yu Liong-sing menatap Sun-hoan lekat-lekat, katanya, “Mungkin Li-heng menganggap kisah ini sangat sederhana tanpa liku sehingga terasa tawar, tapi kisah ini adalah kisah nyata, bukan dongeng belaka.”
Sun-hoan tertawa, “Kurasa meski ilmu pedang Tik Bu-cu ini sangat tinggi, tapi jiwanya terlalu sempit. Mestinya dia tahu peribahasa yang mengatakan: sahabat laksana kaki dan tangan, istrinya serupa pakaian. Seorang lelaki sejati mana boleh mengingkari persahabatan hanya karena urusan perempuan?”
“Hm, justru kurasakan Tik-locianpwe ini adalah seorang kesatria besar yang gilang-gemilang, hanya kesatria besar demikian dapat mencintainya sedemikian mendalam dan sedemikian polos.”
“Jika demikian, jadi malam ini Anda ingin meniru Tik Bu-cu zaman dahulu?” tanya Sun-hoan dengan tersenyum.
Sorot mata Yu Liong-sing memancarkan cahaya dingin, jengeknya, “Untuk ini terserah kepada Li-heng apakah juga ingin menipu menjadi si golok sakti Pang Ging pada tiga ratus tahun yang lampau itu?”
“Ai, bulan seterang ini dan ada janji dengan si cantik, betapa romantisnya suasana demikian, kenapa Anda sengaja merusak keindahan?”
“Jadi malam ini Anda pasti akan hadir ke sana?” tanya Yu Liong-sing dengan bengis.
“Jika membiarkan nona Lim yang molek itu, menanti kasih secara sia-sia di bawah sinar bulan purnama, tidakkah aku akan menjadi kekasih yang berdosa?” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.
Muka Yu Liong-sing yang pucat berubah menjadi merah padam, urat hijau sama menonjol di dahinya, ujung pedang berputar, “sret”, ditusukkannya lewat leher Li Sun-hoan.
Sun-hoan tetap mengulum senyum, ucapnya dengan tak acuh, “Dengan ilmu pedangmu rasanya masih selisih jauh jika ingin menjadi Tik Bu-cu.”
“Dengan ilmu pedang demikian sudah lebih dari cukup untuk membinasakan dirimu!” bentak Yu Liong-sing dengan murka, berbareng dia menusuk pula beberapa kali.
Terdengar desing angin yang keras dan cepat, poci teh di atas meja tersampuk pecah oleh angin pedang, air teh berceceran di atas meja dan mengalir ke lantai.
Beberapa kali tusukannya sungguh cepat luar biasa, namun Li Sun-hoan tetap berdiri di tempatnya, seakan-akan tidak bergeser sedikit pun, dan entah mengapa semua tusukan itu sama mengenai tempat kosong.
Yu Liong-sing menjadi geregetan, serangannya bertambah cepat. Dilihatnya Li Sun-hoan bertangan kosong, sebab itulah dia menggunakan serangan kilat agar Sun-hoan tidak sempat melolos pisaunya. Yang ditakutinya memang cuma “pisau kilat” si Li saja.
Siapa tahu Li Sun-hoan sama sekali tidak bermaksud menggunakan pisaunya, setelah semua serangan orang terhindar, tiba-tiba Sun-hoan tertawa dan berkata, “Dengan usiamu yang masih muda begini dan menguasai ilmu pedang setinggi ini, secara umum sudah terhitung sukar dicari. Tapi kalau dipandang dari perguruan dan keluargamu, jika kau gunakan ilmu pedang demikian untuk berkecimpung di dunia Kangouw, cukup dalam waktu dua-tiga tahun saja papan merek orang tua dan gurumu mungkin harus dicopot.”
Di tengah sambaran pedang Li Sun-hoan dapat bicara dengan seenaknya, keruan Yu Liong-sing merasa gemas dan juga gelisah, namun apa daya, ujung pedangnya tetap tidak mampu menyentuh ujung baju orang.
Akhirnya Yu Liong-sing menjadi nekat, mendadak ia menusuk dada Li Sun-hoan, ia pikir sekali ini jangan harap dapat kau hindarkan lagi.
Tak terduga, kembali perhitungannya meleset, hanya sedikit Li Sun-hoan mengegos saja, tahu-tahu pedang Yu Liong-sing mengenai tempat kosong. Malahan terdengar suara “cring”, jari Li Sun-hoan yang kuat itu menjentik perlahan pada batang pedangnya, kontan Yu Liong-sing merasa tangan kesemutan, setengah badan terasa kaku, pedang tak dapat tergenggam lagi, terdengar suara mendering disertai berkelebatnya cahaya terang melayang keluar jendela.
Li Sun-hoan tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeser, selangkah pun. Sebaliknya Yu Liong-sing merasa darah sekujur badan seakan-akan membanjir ke ubun-ubun kepala, lalu menurun kembali ke telapak kaki dan seluruh tubuh terasa dingin.
Perlahan Sun-hoan menepuk bahu Yu Liong-sing dengan tersenyum hambar, “Sayang pedang, lekas dijemput kembali.”
Dengan gemas Yu Liong-sing mengentak kaki, lalu berlari pergi, sampai di ambang pintu mendadak ia berhenti dan menoleh, serunya dengan agak gemetar, “Jika ... jika berani, hendaknya tunggu setahun lagi, pasti akan kubalas sakit hati ini.”
“Setahun?” Sun-hoan menegas. “Kukira tidak cukup.”
Dengan tersenyum lalu ia sambung dengan perlahan, “Bakatmu memang lumayan, ilmu pedangmu juga tidak lemah, cuma sayang terlalu cepat naik darah, sebab itulah seranganmu cepat tapi kurang mantap. Maka begitu berhadapan dengan lawan yang lebih kuat, lebih dulu kau sendiri sudah bingung. Padahal kalau bisa bertindak tenang, bukan mustahil hari ini dapat kau jatuhkan diriku.”
Mencorong sinar mata Yu Liong-sing, tapi belum sempat dia bersuara, tiba-tiba Li Sun-hoan menyambung lagi, “Bicara sabar memang mudah, untuk melakukannya yang sukar. Sebab itulah apabila kau ingin mengalahkan aku sedikitnya kau perlu tekun bertapa tujuh tahun lebih dulu.”
Muka Yu Liong-sing sebentar merah sebentar pucat, tangan tergenggam hingga berkeriut saking gemasnya.
“Nah, pergilah sekarang,” ujar Sun-hoan dengan tertawa, “asalkan dapat kuhidup tujuh tahun lagi, silakan kau cari diriku untuk menuntut batas. Tujuh tahun tidak terlalu lama, apalagi seorang lelaki sejati, jika ingin menuntut batas, sepuluh tahun saja belum terlambat.”
*****
Jagat raya kembali sunyi senyap, hanya desir angin menerbitkan gemeresik daun bambu di luar.
Li Sun-hoan memandang cuaca malam di luar, ia berdiri termenung hingga lama, akhirnya menghela napas dan bergumam, “Anak muda, jangan kau dendam padaku Padahal tindakanku ini justru telah menyelamatkan dirimu. Jika kau masih terus tergila-gila kepada Lim Sian-ji, maka tamatlah hidupmu ini.”
Dia mengebaskan lengan baju dan hendak melangkah keluar. Ia tahu saat itu Lim Sian-ji sedang menantikan kedatangannya, bahkan pasti sudah menyiapkan kailnya. Tapi dia tidak gentar sedikit pun, bahkan merasa sangat tertarik.
Jika ikannya terlalu besar, mungkin pengailnya akan terpancing malah. Maka dengan tersenyum Sun-hoan bergumam pula, “Justru akan kulihat umpan macam apakah yang dipasang pada kailnya?”
Sebelum pergi tadi, dengan emosi Yu Liong-sing telah meraung terhadap Li Sun-hoan, “Jika kau pun menyukai Lim Sian-ji, cepat atau lambat kau pasti menyesal. Sudah lama dia menjadi milikku, dia ... dia .... Untuk apa kau pakai sepatu bekas?”
Tapi dengan tertawa tak acuh Sun-hoan telah menjawab, “Sepatu bekas biasanya lebih enak dipakai daripada sepatu baru.”
Bila teringat kepada sikap Yu Liong-sing tadi, Sun-hoan lantas merasa geli dan juga kasihan. Tapi apakah Lim Sian-ji benar anak perempuan jenis sebagaimana dikatakan Yu Liong-sing itu?
Seorang lelaki jika menaksir seorang perempuan dan tidak berhasil, untuk menutupi rasa malunya dan juga untuk melampiaskan dongkolnya, biasanya dia suka menyiarkan berita bahwa perempuan itu sudah pernah mengadakan hubungan intim dengan dirinya dan sebagainya.
Itulah sifat kebanyakan lelaki, sifat yang lucu dan perlu dikasihani.
Perlahan Sun-hoan melangkah ke luar. Tiba-tiba dilihatnya dari depan sana ada cahaya lampu yang menyusuri pepohonan dan sedang menuju ke sini.
Kiranya dua pelayan cilik berbaju hijau dan menjinjing dua lentera berkerudung, sambil berjalan sambil berbicara dan bersenda gurau. Tapi begitu melihat Li Sun-hoan, seketika mereka tidak bicara dan juga tidak bersenda gurau lagi.
Sebaliknya Sun-hoan lantas menyapa dengan tersenyum, “Apakah kalian disuruh menjemput diriku oleh nona Lim?”
Pelayan yang sebelah kiri lebih tua satu-dua tahun, perawakannya lebih tinggi, dengan hormat ia menjawab, “Hujin yang menyuruh kami mengundang Li-siangkong ....”
“Hujin (nyonya)?” Sun-hoan menegas, seketika ia menjadi tegang, “Hujin yang mana?”
“Cengcu kami kan cuma mempunyai seorang Hujin saja,” jawab si pelayan tadi dengan tertawa.
Pelayan yang lain cepat menambahkan, “Hujin tahu Li-siangkong tidak suka diganggu urusan tetek bengek, maka sengaja menyiapkan beberapa macam santapan yang diolah Hujin sendiri di ruangan belakang, Li-siangkong diundang dahar dan sekadar berbincang-bincang di sana.”
Sun-hoan berdiri mematung, pikirannya melayang jauh melintasi hutan sana, terbang ke atas paviliun berloteng sana ....
Sepuluh tahun yang lalu, loteng itu adalah tempat yang sering dikunjunginya, ia masih ingat meja marmer itu selalu tersedia beberapa santapan yang menjadi kegemarannya.
Ia masih ingat ham goreng ayam dengan madu itu selalu tertaruh pada piring warna hijau pupus, tapi piring yang berisi sayur kailan cah udang dan taoge cah samcan selalu berwarna cokelat.
Di belakang meja marmer itu adalah sebuah pintu berkerai, kerai bersulam indah buah tangan si dia sendiri, terkadang juga diganti dengan kerai mutiara. Dan di balik kerai itulah kamar tidurnya.
Masih teringat olehnya waktu si dia muncul dari balik kerai, badannya selalu membawa semacam bau harum yang sedap. Selama sepuluh tahun ini, dia tidak berani lagi mengenangkan tempat ini, ia merasa bila memikirnya, baik terhadap si dia, terhadap Liong Siau-hun, boleh dikatakan semacam pikiran kotor yang tak terampunkan.
Begitulah Sun-hoan terus berjalan ke depan dengan linglung, waktu ia menengadah, tahu-tahu sudah berada di bawah loteng kecil itu.
Cahaya lampu di atas loteng masih sangat lembut, tampaknya tiada berbeda daripada sepuluh tahun yang lalu, bahkan salju yang tertimbun di atas rumah juga putih bersih dan menarik seperti masa lampau.
Tapi sepuluh tahun toh sudah berlalu. Sepuluh tahun yang cukup panjang itu sukar lagi disusul kembali oleh siapa pun.
Sun-hoan menjadi ragu, sungguh ia tidak mempunyai keberanian untuk naik ke atas loteng ini. Setelah peristiwa kemarin, ia tidak mengerti untuk apakah Si-im mengundangnya, sungguh ia merasa tidak berani menemuinya. Akan tetapi tidak bisa tidak dia harus naik ke atas. Entah apa maksud undangan Si-im padanya, tidak ada alasan baginya untuk menolak.
Di atas meja marmer itu telah tersedia beberapa porsi masakan menarik, yang terisi pada piring warna hijau adalah ham goreng ayam, piring warna cokelat berisi kailan cah udang dan seterusnya.
Baru saja Sun-hoan naik ke atas, seketika ia terkesima.
Sepuluh tahun yang panjang itu seolah-olah telah lenyap dalam sekejap itu, dia merasa seperti telah kembali pada keadaan sepuluh tahun yang lalu. Dipandangnya kerai yang terjulur itu, mendadak jantungnya berdebar keras, berdebar seperti remaja yang baru jatuh cinta. Terkenang kehangatan sepuluh tahun yang lalu, teringat impian masa lampau.
Sun-hoan tidak berani berpikir lagi, rasanya berdosa kepada Liong Siau-hun, juga bersalah terhadap dirinya sendiri. Hampir saja ia tidak tahan dan hendak lari pergi.
Tapi pada saat itulah terdengar kumandang suara si dia dari balik kerai sana, “Silakan duduk!”
Suaranya masih tetap lembut seperti sepuluh tahun yang lalu, tapi juga terasa begitu asing, begitu dingin, kalau tidak ada beberapa macam santapan di atas meja itu, sungguh sukar dipercaya bahwa orang di balik tirai adalah kenalan lama berpuluh tahun yang lalu itu.
Terpaksa ia duduk dan menjawab, “Terima kasih.”
Dan waktu tirai tersingkap, keluarlah satu orang.
Bernapas saja hampir berhenti Li Sun-hoan, tapi yang muncul ternyata bukan si dia melainkan anak itu, masih tetap memakai baju merah cerah, tapi mukanya pucat lesu.
Si dia masih berada di belakang tirai, terdengar dia berucap, “Jangan lupa pesan ibu tadi, lekas menyuguh arak kepada paman Li.”
Anak merah itu mengiakan. Dengan sangat hormat dia lantas menuangkan arak, katanya dengan menunduk, “Kalau ada yang salah, maka semuanya adalah kesalahan keponakan sendiri, untuk itu mohon paman Li sudi melupakannya. Budi paman terhadap keluarga Liong kami lebih tinggi daripada gunung, biarpun keponakan terbunuh juga pantas.”
Hati Sun-hoan seperti dipuntir-puntir dan tidak tahu apa yang harus diucapkannya, sekalipun ia yakin dirinya tidak bertindak salah, tapi melihat muka anak yang pucat ini, mau tak mau timbul semacam perasaan berdosa yang sukar dilukiskan.
“Si-im, O, Si-im, kau minta kedatanganku, apakah sengaja hendak kau siksa diriku?” demikian Sun-hoan berkeluh di dalam hati.
Arak ini mana sanggup diminumnya? Akan tetapi mana boleh tidak diminumnya? Ini bukan arak lagi, tapi kegetiran kehidupan, terpaksa harus diterimanya jika dirinya masih hidup.
“Selanjutnya Titji (keponakan) tidak dapat berlatih Kungfu lagi,” kata si anak merah, “tapi seorang anak lelaki tidak dapat bernaung di bawah orang tua selama hidup, maka mohon paman Li sudi mengingat hubungan baik pada masa lampau, ajarkanlah kepada keponakanmu ini semacam kepandaian membela diri agar kelak keponakan tidak diganggu orang.”
Diam-diam Sun-hoan menghela napas menyesal, tangan terjulur dan ujung jari sudah menjepit pisaunya.
Di balik tirai Si-im juga lantas berkata, “Selamanya paman Li tidak mengajarkan pisau terbangnya kepada siapa pun, bilamana memegang pisau itu, samalah kau dapatkan jimat pelindung badan. Ayolah lekas mengucapkan terima kasih kepada paman.”
Segera Ang-hay-ji atau anak merah itu menyembah dan mengucapkan terima kasih.
Sun-hoan tertawa, tapi diam-diam gegetun, katanya, “Cinta kasih seorang ibu sungguh tidak ada bandingannya, tetapi, bagaimana seorang anak terhadap ibunda ....”
Suasana menjadi hening sejenak. Anak itu telah dibawa pergi pelayan, tapi Lim Si-im masih berada di belakang tirai dan belum mau membiarkan Sun-hoan pergi. Mengapa dia menahannya di sini?
Sebenarnya Sun-hoan bukan seorang yang banyak tata adat, tapi berada di sini, tiba-tiba ia merasa kikuk seperti orang linglung.
Cinta memang sesuatu yang ajaib. Dia terkadang bisa membuat orang tolol menjadi mahapintar, sebaliknya juga bisa membuat orang pintar menjadi bodoh.
Sudah jauh malam.
Apakah Lim Sian-ji sedang menunggunya?
“Engkau ada ... ada urusan?” tiba-tiba Si-im bertanya.
“Ti ... tidak ada,” sahut Sun-hoan.
Si-im terdiam sejenak, “Kau pasti pernah bertemu dengan Sian-ji?”
“Ya, pernah bertemu satu-dua kali.”
“Dia seorang anak perempuan yang pantas dikasihani, kisah hidupnya sangat memilukan, jika kau pernah melihat ayahnya, tentu dapat kau bayangkan kemalangannya.”
“Oo?!” Sun-hoan intan tahu.
“Pernah satu kali kupergoki dia hendak terjun ke jurang, maka kutolong dia .... Apakah kau tahu sebab apa dia ingin membunuh diri?”
“Tidak tahu.”
“Justru lantaran penyakit ayahnya,” perlahan Si-im menghela napas, lalu menyambung pula. “Ayah begitu ternyata mempunyai anak perempuan begini, sungguh sukar untuk dipercaya orang. Selain kasihan padanya, aku pun kagum padanya. Dia cantik dan pintar, suka maju. Ia tahu asal-usul sendiri terlalu rendah, maka dalam segala hal dia bekerja terlebih giat, selalu khawatir dipandang hina orang lain.”
“Dan sekarang tentunya tak perlu lagi khawatir dipandang hina orang,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.
“Itu juga hasil perjuangannya sendiri, cuma usianya memang masih terlalu muda, hatinya terlalu lunak, selalu kukhawatirkan dia akan tertipu orang.”
Diam-diam Sun-hoan membatin, untunglah bila orang lain tidak tertipu olehnya, masakah dia bakalan tertipu orang?
“Kuharapkan kelak dia akan mendapatkan jodoh yang baik dan jangan sampai tertipu sehingga menderita selama hidup,” demikian kata Si-im lebih lanjut.
Sun-hoan terdiam sejenak, katanya dengan perlahan, “Mengapa engkau bicara urusan ini denganku?”
Si-im juga berdiam sebentar, lalu menjawab, “Sebab apa kubicarakan urusan ini denganmu, memangnya belum lagi kau maklumi?”
Kembali Sun-hoan termenung sejenak, mendadak ia bergelak tertawa dan berseru, “Aha, tahulah aku ... kutahu ....”
Dia memang tahu. Sebabnya Lim Si-im menahannya di sini, rupanya karena tidak menghendaki dia pergi memenuhi janji pertemuan dengan Lim Sian-ji, dengan sendirinya, soal janji pertemuan itu diketahuinya dari Yu Liong-sing.
“Apa pun juga,” kata Si-im pula, “kita kan sahabat lama, maka ingin kumohon sesuatu padamu.”
Pedih hati Sun-hoan, tapi dia malah tersenyum dan berucap, “Kau minta jangan kutemui Lim Sian-ji?”
“Betul,” jawab Si-im.
Sun-hoan menarik napas dalam-dalam, ucapnya, “Kau kira ... kau kira kuincar dia?”
“Tidak kupedulikan bagaimana pendapatmu terhadap dia, cukup kau terima permohonanku,” kata Si-im.
Sun-hoan menenggak habis secawan arak di depannya, lalu bergumam, “Ya, aku ini memang petualang yang sukar diobati pula, jika kupergi mencari dia berarti akan membikin celaka dia ....”
“Jadi kau terima permintaanku?” tanya Si-im.
“Masa kau tidak tahu selama ini kusuka membikin susah orang?” sahut Sun-hoan dengan menggereget.
Sekonyong-konyong sebuah tangan terjulur keluar dan memegang tirai mutiara dengan erat. Sebuah tangan yang halus dan indah, tapi lantaran menggenggam dengan terlalu kencang sehingga urat hijau tampak menonjol pada punggung tangan yang putih mulus itu.
Untaian mutiara tirai sampai terputus dan mutiaranya berserakan di lantai menimbulkan suara gemerencing.
Sun-hoan memandangi tangan itu, perlahan ia berbangkit dan berkata, “Kumohon diri saja!”
Tangan Si-im tergenggam terlebih kencang, ucapnya dengan agak gemetar, “Setelah kau pergi, mengapa ... mengapa kembali lagi? Hidup kami mestinya sangat tenang, meng ... mengapa kau datang lagi untuk mengacau?”
Mulut Sun-hoan terkancing rapat, tapi kulit daging pada ujung mulutnya tampak berkejang ....
Mendadak Si-im menerjang keluar dari balik tirai dan berteriak dengan parau, “Belum cukupkah kau bikin celaka anakku? Dan sekarang hendak kau bikin susah dia pula?”
Mukanya tampak putih pucat dan begitu cantik.
Kerlingan matanya penuh emosi dan juga penuh derita batin.
Selamanya belum pernah dia bersikap kasar begini kepada siapa pun.
Apakah semua ini hanya untuk membela Lim Sian-ji? Masakah yang diperhatikannya cuma Lim Sian-ji saja!
Sun-hoan tidak berpaling. Ia tidak berani menoleh, tidak berani memandangnya.
Ia tahu bilamana sekarang ia memandangnya sekejap, mungkin akan timbul hal-hal yang dapat membuat kedua pihak menderita selamanya, hal ini tidak berani dibayangkannya, apalagi dipikirkannya ....
Dengan cepat ia turun dari loteng paviliun itu sambil berucap perlahan, “Padahal mestinya tidak perlu kau mohon padaku, sebab pada hakikatnya aku tidak pernah menaksir dia!”
Si-im memandangi bayangan punggungnya, mendadak ia jatuh terkulai di lantai.
Air kolam sudah beku, sebuah jembatan kecil melintang di atas air kolam.
Pada musim panas kolam ini penuh bunga teratai yang harum semerbak. Tapi sekarang yang ada cuma semilir angin yang dingin dan kesepian yang tak terhingga.
Sun-hoan duduk termangu-mangu di undakan batu jembatan kecil itu dan memandangi kolam yang sudah beku itu, hatinya juga serupa kolam teratai ini.
“Setelah kupergi, mengapa kukembali lagi ke sini? .... Mengapa kembali lagi? ....”
Terdengar suara kentungan berbunyi, sudah lewat tengah malam.
Dari jauh tertampak cahaya lampu pada paviliun Leng-hiang-siau-tiok sana. Apakah Lim Sian-ji masih menunggu kedatangannya?
Jelas diketahuinya Lim Sian-ji menghendaki kedatangannya malam ini, tentu ada maksud tujuan tertentu, jelas diketahuinya bilamana dia datang ke sana pasti akan terjadi macam-macam hal yang sangat mengejutkan dan juga sangat menarik.
Tapi dia tetap berduduk di sini, memandangi cahaya lampu yang agak guram itu dari kejauhan.
Salju yang menumpuk di undakan batu telah merembeskan rasa dingin ke hatinya. Dia terbatuk-batuk lagi tiada hentinya.
Sekonyong-konyong ada bayangan berkelebat di paviliun sana, cepat sekali bayangan itu melayang ke tempat gelap. Serentak Sun-hoan juga lantas melayang ke sana.
Kecepatannya sungguh sukar dilukiskan, tapi ketika dia mendekati paviliun itu, bayangan tadi sudah menghilang ditelan kegelapan.
“Apakah aku salah lihat?” Sun-hoan menjadi ragu sendiri.
Di bawah pantulan putih salju, tiba-tiba dilihatnya di atas timbunan salju di atap rumah ada bekas telapak kaki yang tidak lengkap. Tapi hanya sebelah bekas kaki ini saja tetap sukar baginya untuk memastikan ke mana menghilangnya orang tadi.
Sun-hoan melayang turun, dilihatnya cahaya lampu di balik jendela masih terang.
Ia mengetuk daun jendela perlahan dan memanggil, “Nona Lim!”
Tidak ada jawaban di dalam rumah.
Sun-hoan memanggil lagi dua kali, tetap tidak ada jawaban. Ia berkerut kening, mendadak ia membuka daun jendela, terlihat di atas meja kecil di dalam rumah juga tersedia beberapa macam santapan, malahan di atas anglo kecil terdapat pula poci arak yang masih panas.
Bau arak memenuhi ruangan, santapan di atas meja juga terdiri dari ham masak ayam dan sebagainya, namun Lim Sian-ji tidak kelihatan berada di situ.
Cepat Sun-hoan melompat ke dalam rumah, segera ditemukan lima buah cawan arak, semuanya ambles ke dalam permukaan meja, dipandang sepintas lalu seperti lukisan sekuntum bunga Bwe.
Bwe-hoa-cat, si maling kumbang bunga sakura!
Apakah mungkin Lim Sian-ji telah diculik oleh maling kumbang itu?
Sun-hoan menekan permukaan meja dan menyalurkan tenaga dalam, seketika kelima cawan arak yang terjepit di permukaan meja itu melenting keluar.
Kelima cawan arak masih tetap utuh seperti baru, cuma permukaan meja telah bertambah lima lubang.
Meja itu bukan meja batu, tapi untuk bisa membikin lima cawan arak ambles, jelas tenaga dalamnya sangat mengejutkan, bahkan Sun-hoan sendiri merasa tidak sanggup. Maka dapat dibayangkan betapa hebat Kungfu si maling kumbang itu.
Tangan Sun-hoan yang memegang cawan arak tanpa terasa berkeringat dingin.
Pada saat itulah, “crit”, mendadak api lilin di atas meja tertimpuk padam, menyusul terdengarlah kesiur angin yang mendesing memenuhi ruangan, entah betapa banyak, senjata rahasia berhamburan ke arah Li Sun-hoan.
Dari suara desing tajam ramai itu, jelas penyerangnya tergolong jago kelas tinggi, bilamana orang lain bukan mustahil dalam sekejap itu tubuhnya akan penuh senjata rahasia seperti badan landak, Akan tetapi senjata rahasia di seluruh jagat ini mana ada yang dapat menandingi pisau terbang si Li kecil?
Sekali Sun-hoan berputar, sekaligus belasan senjata rahasia dapat ditangkap kedua tangannya, menyusul ia terus mengapung ke atas, senjata rahasia yang tidak tertangkap olehnya sama menyambar lewat di bawah kakinya.
Pada saat itulah baru terdengar suara bentakan ramai di luar, “Ayo, maling kumbang, jangan harap akan bisa kabur lagi, lekas keluar menerima kematian!”
“Biarpun kepandaianmu setinggi langit juga sekarang akan kami mampuskan dirimu tanpa terkubur!”
“Supaya kau tahu, Dian-jitya dari Lokyang sekarang juga berada di sini, belum lagi Mo-in-jiu Kongsun-tayhiap, ditambah pula Tio-toaya, Liong-siya dan ....”
Di tengah teriakan itu mendadak seorang membentak dengan bengis, “Jangan berisik, tenang semuanya!”
Meski cuma beberapa kata ucapannya, tapi suara orang ini nyaring sebagai bunyi genta, seketika sirap suara orang banyak.
Sun-hoan menggeleng kepala, pikirnya dengan tersenyum getir, “Ternyata benar Dian-jitya sudah tiba!”
Lalu terdengar orang terakhir tadi berteriak pula, “Jika sahabat sudah datang ke sini, mengapa tidak mau keluar untuk bertemu?”
Perlahan Li Sun-hoan berdehem dua kali, lalu menjawab dengan suara yang dibikin parau, “Jika kalian sudah datang kemari, mengapa tidak mau masuk untuk bertemu?”
Kembali terjadi kegemparan di luar, beramai-ramai mereka berucap, “Awas, bangsat ini sengaja memancing kita masuk ke sana!”
“Betul, musuh di tempat gelap dan kita berada di tempat terang, jangan kita tertipu,” seru seorang lagi.
Pada saat itulah kembali suara orang yang lantang berjangkit pula sehingga suara orang lain tersirap semua, seru suara itu, “Maling kumbang, maling hanya suka main sembunyi-sembunyi dan gelap-gelapan, mana dia berani bertemu dengan orang secara terang-terangan?”
Beramai-ramai yang lain juga ikut memaki, “Ya, maim sembunyi-sembunyi seperti kura-kura, hanya mengkeret di dalam kamar, apa ....”
Dengan mendongkol Sun-hoan berteriak, “Betul, Bwe-hoa-cat biasanya memang suka main sembunyi-sembunyi, tapi apa sangkut pautnya dengan diriku?”
“Memangnya engkau bukan Bwe-hoa-cat? Habis siapa?” tanya suara lantang tadi.
Seorang lantas menukas, “Untuk apa pula Kongsun-tayhiap tanya padanya, masa Tio-toaya bisa salah lihat, tidak perlu diragukan lagi, orang ini pasti maling kumbangnya.”
Mendadak Sun-hoan terbahak-bahak, serunya, “Tio Cing-ngo, memang sudah kuduga semua ini adalah permainanmu!”
Sambil tertawa segesit burung walet ia terus melayang keluar. Serentak sebagian orang di luar berteriak dan menubruk maju, tapi ada sebagian lagi yang melompat mundur dengan menjerit kaget.
Cepat Liong Siau-hun berteriak, “Tunggu sebentar, inilah saudaraku, Li Sun-hoan!”
Dalam pada itu Li Sun-hoan telah menemukan jejak Tio Cing-ngo, ia hinggap di depannya, tegurnya dengan tersenyum, “Tajam benar penglihatan Tio-toaya, apabila aku kurang gesit, mungkin saat ini aku sudah menjadi tumbal bagi Bwe-hoa-cat, jelas kematian yang penasaran!”
Wajah Tio Cing-ngo tampak kelam, jengeknya, “Tengah malam buta main sembunyi di sini, kalau tidak kusangka sebagai Bwe-hoa-cat, habis siapa lagi? Dari mana kutahu sakitmu mendadak sembuh dan diam-diam mengeluyur ke sini?”
“Tidak perlu kumain sembunyi dan berkeluyuran secara diam-diam,” jawab Sun-hoan hambar. “Ke mana pun juga dapat kupergi dengan terang-terangan. Apalagi Tio-toaya kan tidak tahu kedatanganku ini justru atas undangan penghuni tempat ini.”
“Hm, memang tidak kuketahui Anda mempunyai hubungan sebaik ini dengan nona Lim di sini,” jengek Tio Cing-ngo. “Tapi setahuku, malam ini jelas nona Lim tidak berada di sini.”
“Oo?” melengak juga Sun-hoan.
“Lantaran ingin menghindari Bwe-hoa-cat, sejak petang tadi nona Lim sudah pindah dari paviliun ini,” jengek Tio Cing-ngo pula.
“Walaupun begitu, kan seharusnya Anda perlu tanya dulu baru turun tangan?” kata Sun-hoan.
“Terhadap manusia rendah semacam Bwe-hoa-cat, jalan yang paling baik adalah turun tangan dulu dan urusan belakang, bilamana tanya dulu baru turun tangan, maka segalanya sudah terlambat.”
Apa yang dikatakan Tio Cing-ngo selalu masuk di akal dan sukar dibantah.
“Hahahaha, bagus sekali kalimat turun tangan dulu dan urusan belakang!” Sun-hoan terbahak-bahak. “Jika demikian, bilamana tadi kumati di tangan Tio-toaya adalah karena salahku sendiri dan tidak dapat menyesali tindakan Tio-toaya?”
Cepat Liong Siau-hun menengahi pula, ia berdehem dulu, lalu berucap, “Di tengah malam buta memang sering bisa salah lihat, apalagi ....”
“Apalagi, bisa jadi aku tidak salah lihat!” jengek Tio Cing-ngo mendadak.
“Tidak salah lihat?” Sun-hoan menegas. “Memangnya Tio-toaya menganggap orang she Li ini ialah si maling kumbang?”
“Itulah sukar untuk dikatakan,” jengek Tio Cing-ngo pula. “Setiap orang sama tahu Ginkang si maling kumbang itu sangat tinggi, gerak-geriknya sangat cepat, soal apakah dia she Ong atau she Li, siapa pun tidak tahu.”
“Hah, memang betul,” ujar Sun-hoan dengan tenang, “Ginkang orang she Li memang tidak rendah, gerak-gerikku juga tidak lambat, muncul kembalinya si maling kumbang sama juga pada waktu pulangnya orang she Li, kan aneh bilamana Li Sun-hoan bukan Bwe-hoa-cat alias si maling kumbang?”
Ia tertawa, lalu memelototi Tio Cing-ngo dan berucap pula dengan perlahan, “Tapi bila Tio-toaya menganggap orang she Li ialah si maling kumbang, mengapa sekarang tidak lekas turun tangan?”
“Cepat turun tangan atau turun tangan nanti bukan soal, dengan hadirnya Dian-jitya dan Kongsun-tayhiap sekarang, memangnya kau kira dapat lolos begitu saja?” kata Tio Cing-ngo.
Baru sekarang air muka Liong Siau-hun tampak berubah khawatir, cepat ia berkata pula, “Ah, kita hanya bergurau saja, jangan serius. Liong Siau-hun berani menjamin dengan segenap jiwa raganya bahwa Li Sun-hoan pasti bukan Bwe-hoa-cat!”
“Dengan sendirinya urusan ini tidak boleh dibuat bergurau,” ujar Tio Cing-ngo dengan muka masam. “Sudah sepuluh tahun tidak pernah kau lihat dia, mana boleh kau jamin kebenarannya?”
“Tapi ... tapi kutahu persis pribadinya ....” muka Liong Siau-hun tampak merah padam.
Tiba-tiba seorang menukas, “Tahu orangnya, kenal mukanya, tidak tahu hatinya. Tentu Liong-siya pernah mendengar peribahasa ini?”
Yang bicara ini berbadan tinggi kurus, bermuka kuning pucat, tampaknya seperti seorang yang selalu sakit-sakitan, tapi suaranya lantang, kiranya dia inilah Kongsun Mo-in yang terkenal dengan 14 jurus ilmu pukulan Mo-in-jiu yang lihai itu.
Di belakangnya berdiri seorang yang senantiasa tersenyum simpul dengan kedua tangan selalu tergendong di belakang, tampaknya seorang hartawan yang biasa hidup senang dan dipuja, kini tiba-tiba tertawa dan berkata, “Haha, betul, aku Dian Jit juga sahabat puluhan tahun dengan Li-tamhoa, tapi menghadapi peristiwa semacam ini, terpaksa soal persahabatan harus kukesampingkan juga.”
Dengan hambar Sun-hoan menjawab, “Meski tidak sedikit sahabatku, tapi sahabat yang terhormat semacam Dian-jitya kurasa tidak ada satu pun. Maka hendaknya Dian-jitya tidak perlu berbicara tentang persahabatan denganku.”
Muka Dian Jit menjadi kelam, sorot matanya menampilkan nafsu membunuh.
Setiap orang Kangouw sama tahu Dian-jitya tidak kenal ampun, apabila senyuman lenyap dari wajahnya, seketika dia bisa turun tangan membunuh orang. Siapa tahu sekarang dia tidak membunuh orang, malahan bicara saja tidak.
Tertampak Kongsun Mo-in, Tio Cing-ngo dan Dian Jit bertiga telah mengapung Li Sun-hoan di tengah, air muka ketiga orang sama masam dan menggereget benci. Namun ketiganya hanya memelototi pisau di tangan Li Sun-hoan, tampaknya tiada seorang pun ingin mendahului turun tangan.
Sama sekali Sun-hoan tidak memandang mereka, melirik pun tidak, ucapnya dengan adem ayem, “Kutahu saat ini kalau bisa kalian ingin membinasakan diriku, sebab bila aku si maling kumbang ini sudah terbunuh, seketika kalian akan hidup jaya dan si cantik dalam pelukan, bahkan akan mendatangkan pujian dan mendapat nama harum sepanjang masa.”
“Harta dan si cantik adalah urusan sepele,” ucap Tio Cing-ngo dengan menarik muka, “tujuan kami membunuh dirimu hanya demi membasmi kejahatan bagi dunia Kangouw.”
“Haha, sungguh gemilang, sungguh cemerlang, sungguh tidak malu sebagai kesatria bermuka besi yang tidak kenal pilih kasih, sungguh pendekar budiman yang tidak ada bandingannya!” ejek Sun-hoan dengan terbahak. Perlahan ia meraba pisaunya, lalu mendengus, “Dan mengapa Anda tidak lekas turun tangan?”
Sorot mata Tio Cing-ngo berkilat kian kemari mengikuti tangan Li Sun-hoan, ia pun tidak dapat bersuara lagi.
“Aha, tahulah aku,” seru Sun-hoan pula. “Dian-jitya termasyhur dengan toya dan ketiga bola besinya yang menggetarkan dunia Kangouw, tentunya Tio-toaya sedang menunggu Dian-jitya akan turun tangan lebih dulu. Untuk ini tentu saja Dian-jitya akan melakukannya dengan senang hati, begitu bukan?”
Tapi kedua tangan Dian Jit tetap tergendong di belakang, seakan-akan tidak mendengar ucapan Sun-hoan itu.
“Ah, betul, jangan-jangan Dian-jitya juga lagi menanti Kongsun-siansing akan turun tangan lebih dulu,” seru Sun-hoan pula. “Ya, ke-14 jurus pukulan sakti Kongsun-siansing banyak gerak perubahannya dan tidak ada bandingannya, dengan sendirinya Kongsun-siansing yang berkewajiban turun tangan lebih dahulu.”
Namun Kongsun Mo-in mendadak seolah-olah berubah menjadi tuli dan bisu dan tidak bergerak lagi.
“Hahahaha! Sungguh aneh!” seru Sun-hoan dengan bergelak. “Katanya kalian bertekad akan membinasakan diriku, tapi semuanya tidak mau turun tangan, jangan-jangan kalian sama berjiwa luhur, tidak suka berebut jasa dan saling sungkan?”
Kongsun Mo-in bertiga juga benar-benar sabar, betapa pun dimaki dan diejek Li Sun-hoan, mereka tetap tidak menghiraukan, anggap tidak mendengar saja.
Padahal dalam hati ketiga orang itu gemas luar biasa, sungguh mereka ingin sekali depak mampuskan Li Sun-hoan. Tapi mereka juga jeri, sebab “pisau sakti si Li cilik, sekali timpuk tidak pernah meleset”, mereka tahu selama pisau terpegang di tangan Li Sun-hoan, siapa pun tidak berani turun tangan, orang lain lebih-lebih tidak ada yang berani bergerak.
Tiba-tiba Liong Siau-hun berkata dengan tertawa, “Ai, saudaraku, masakah belum lagi kau lihat mereka bertiga cuma bergurau saja denganmu? Ayolah, mari kita pergi minum arak saja untuk menghangatkan badan.”
Sambil bicara ia terus melangkah maju dan merangkul pundak Li Sun-hoan.
Air muka Sun-hoan berubah mendadak, serunya, “He, Toako ....” segera ia bermaksud mendorong Liong Siau-hun, tapi sayang sudah terlambat!
Pada saat itulah, “wutt”, Dian Jit telah melolos toya lemas rotan berbungkus benang emas yang panjangnya cuma empat-lima kaki, seperti ular berbisa memagut, secepat kilat ia sabet kaki Li Sun-hoan.
Dalam keadaan demikian, sia-sia Li Sun-hoan memegang pisau sakti si Li yang merontokkan nyali siapa pun, sebab bahunya dirangkul oleh tangan Liong Siau-hun yang simpatik, dengan sendirinya pisaunya tidak dapat bekerja seperti biasa.
“Plok”, kontan kakinya tersabet toya lemas Dian Jit, saking sakitnya hampir saja ia berjongkok.
Kongsun Mo-in juga tidak tinggal diam, dengan cepat ia menutuk tujuh Hiat-to penting sekaligus di punggung Li Sun-hoan. Menyusul Tio Cing-ngo lantas menambahi sekali tendang sehingga Sun-hoan mencelat dua-tiga tombak jauhnya.
Siau-hun berjingkrak dan meraung, “Mengapa kalian turun tangan secara begini? Lekas lepaskan dia!”
Sambil meraung ia terus menubruk ke arah Li Sun-hoan.
Tio Cing-ngo menjengek, “Hm, lepaskan harimau mudah menangkapnya susah, tidak boleh melepaskan dia!”
“Ya, maaf Liong-siya!” kata Dian Jit.
Berbareng Kongsun Mo-in lantas mengadang di depan Liong Siau-hun. Kedua kepalan Liong Siau-hun menghantam sekaligus, tapi toya rotan Dian Jit sempat mencantol kakinya, sekali tarik, kontan Liang Siau-hun sempoyongan, sebelum dia berdiri tegak lagi, Tio Cing-ngo memberinya satu kali tutukan pada iganya.
Liong Siau-hun jatuh terkulai, teriaknya dengan suara parau, “Tio-toako, ken ... kenapa kau ....”
Dengan muka kelam Tio Cing-ngo menjawab, “Meski kita bersaudara angkat, tapi setia kawan Kangouw jauh di atas urusan persaudaraan, semoga kau maklum hal ini dan janganlah mencari susah sendiri karena membela sampah dunia persilatan ini.”
“Tapi ... tapi dia pasti bukan Bwe-hoa-cat, pasti bukan!” teriak Siau-hun parau.
“Untuk apa banyak omong lagi?” damprat Tio Cing-ngo. “Cara bagaimana dapat kau buktikan dia bukan Bwe-hoa-cat?”
Dengan senyuman yang ramah Dian Jit menukas, “Ya, malahan dia sendiri juga sudah mengaku, untuk apa Liong-siya bersusah payah membelanya?”
“Liong-siya,” Kongsun Mo-in ikut bicara, “engkau orang yang berkeluarga, punya kedudukan dan terhormat, jika kau ikut terambat dan menanggung susah perbuatan manusia kotor ini, kan penasaran?”
Dengan suara serak Siau-hun berteriak, “Asalkan kalian melepaskan dia, betapa besar dosanya, biar orang she Liong menanggung baginya.”
“Kau rela menanggung dosanya?” teriak Tio Cing-ngo dengan bengis, “Akan tetapi bagaimana dengan istrimu? Bagaimana dengan anakmu? Apakah kau tega menyaksikan mereka ikut susah lantaran tindakanmu ini?”
Terkesiap Liong Siau-hun, sekujur badan lantas gemetar.
Terlihat Li Sun-hoan rebah di tanah bersalju dengan kaki terangkat dan lagi terbatuk-batuk tidak berhenti-henti dan tampak napas pun sesak, tapi pisau masih terpegang kencang di tangannya, serupa seorang yang akan mati tenggelam, meski sebatang gelagah saja akan dipegangnya erat-erat, padahal gelagah itu hakikatnya tidak dapat menyelamatkan jiwanya.
Biarpun pisau masih terpegang di tangannya, namun apa daya, selamanya tak dapat lagi disambitkan.
Kesatria yang keras, yang selama hidupnya telah dilaluinya dengan kesepian, apakah akan tamat dengan begini saja?
Tanpa terasa Liong Siau-hun menitikkan air mata, ucapnya gemetar, “O, saudaraku, semuanya gara-garaku, akulah yang membikin celaka dirimu. Ma ... maafkan aku ....”
*****
Sesaat sebelum subuh tiba merupakan saat yang paling gelap, bahkan cahaya lampu di ruangan besar itu pun tidak dapat menembus kegelapan yang tak berujung ini.
Serombongan orang berkumpul di undak-undakan batu di luar sana dan sedang berbisik-bisik membicarakan apa yang baru saja terjadi.
“Dian-jitya memang benar-benar sangat hebat, coba kau lihat betapa cepat gerak toyanya tadi, seumpama Liong-siya tidak kebetulan merangkul pundaknya kuyakin Li Sun-hoan juga tidak mampu menghindarnya.”
“Ya, apalagi di samping masih ada Kongsun-tayhiap dan Tio-toaya.”
“Betul, pantas juga orang bilang kedua kaki Tio-toaya bernilai selaksa tahil emas. Lihat saja tendangannya tadi, sungguh indah dan telak benar.”
“Kenapa heran? Lam-kun-pak-tui (kepalan selatan, kaki utara), kesatria daerah utara kami memang termasyhur karena kehebatan tendangannya.”
“Hah, Dian-jitya, Tio-toaya, ditambah lagi Kongsun-tayhiap, sungguh sial bagi Li Sun-hoan sekaligus bertemu dengan mereka bertiga.”
“Ya, walaupun begitu, andaikan tadi Liong-siya tidak ....”
“Memangnya kenapa dengan Liong-siya? Memangnya dia kurang setia kawan?”
“Soal setia kawan Liong-siya memang tidak perlu disangsikan lagi, sungguh mujur Li Sun-hoan mendapatkan sahabat seperti dia!”
Saat Itu Liong Siau-hun lagi berduduk di kursi besar di tengah ruangan, demi mendengar kata-kata terakhir itu, sungguh hatinya seperti ditusuk jarum, butiran keringat memenuhi dahinya.
Dalam pada itu Li Sun-hoan mendekam di atas lantai dan kembali terbatuk-batuk.
Dengan menangis Liong Siau-hun berkata, “O, saudaraku, akulah yang pantas mampus, sungguh celaka engkau mempunyai sahabat seperti ... seperti diriku. Hidupmu ini hancur gara-gara perbuatanku.”
Sekuatnya Sun-hoan menahan batuknya, katanya dengan tersenyum, “Toako, kuharap engkau mengerti, apabila aku diberi kesempatan hidup sekali lagi mulai dari awal, maka tanpa ragu aku tetap akan bersahabat denganmu.”
Dengan penuh emosi Liong Siau-hun menangis tergerung-gerung, serunya, “Akan tetapi, kalau ... kalau tadi tidak kurintangimu, mana ... mana bisa ....”
“Kutahu, apa pun yang dilakukan Toako adalah demi kebaikanku, maka bagiku hanya ada terima kasih,” ucap Sun-hoan dengan suara lembut.
“Tapi mengapa tidak kau beri tahukan kepada mereka bahwa engkau bukan Bwe-hoa-cat, mengapa ... mengapa kau ....”
“Mati atau hidup adalah urusan jamak, hidupku ini memang sudah cukup, hidup tidak perlu digembirakan, mati juga tidak perlu gentar, untuk apa aku bertekuk lutut di depan manusia rendah dan kotor ini?”
Sejak tadi Dian Jit hanya memandangi mereka dengan mengulum senyum, kini mendadak ia berkeplok tertawa, “Haha, makian tepat, makian bagus!”
Kongsun Mo-in mendengus, “Hm, dia cukup maklum apa yang dikatakannya toh tidak bakalan kita lepaskan dia, terpaksa ia menirukan perempuan bawel saling maki di pinggir jalan, biar mati juga ingin mendapatkan kepuasan mulut!”
“Betul, urusan sudah kadung begini, yang kuharap hanya kematian saja,” kata Sun-hoan. “Kini tanganku sudah tidak memegang pisau, mengapa kalian belum lagi turun tangan?”
Muka Kongsun Mo-in yang kurus kering itu menjadi bersemu merah.
Sedangkan muka Tio Cing-ngo masih tetap masam, ucapnya, “Jika sekarang juga kami bunuh dirimu, bisa jadi ada orang Kangouw yang tidak tahu seluk-beluknya akan bilang kami membunuh dirimu demi kepentingan pribadi Maka untuk membunuhmu harus kami lakukan secara terang dan adil.”
“Tio Cing-ngo, sungguh aku sangat kagum padamu,” ejek Sun-hoan. “Isi perutmu penuh kotoran, tapi bicaramu seolah-olah orang suci bersih, muka tidak merah sedikit pun.”
“Bagus, orang she Li, kau memang kepala batu,” kata Dian Jit. “Jika kau ingin lekas mampus, ada juga suatu caraku.”
“Mestinya juga hendak kumaki dirimu, tapi kukhawatir akan membikin kotor mulutku sendiri.” ujar Sun-hoan dengan menyesal.
Dian Jit berlagak tidak mendengar, ia berkata pula dengan tersenyum, “Asalkan kau mau menulis suatu pernyataan menyesal dan mengakui dosamu, sekarang juga akan kami bikin kau mati dengan enak agar tidak penasaran kematianmu.”
Tanpa pikir Sun-hoan lantas menjawab, “Baik, akan kuuraikan, boleh kau tulis ....”
“Jangan, saudaraku!” seru Liong Siau-hun.
Sun-hoan tidak menghiraukannya, ucapnya pula, “Dosaku memang sudah kelewat takaran dan sukar dihitung, aku munafik, pura-pura bajik, padahal berhati keji dan licik, suka memfitnah dan mengadu domba, menyergap pada waktu orang tidak bersiap. Tidak berbudi, tidak tahu diri, segala perbuatan kotor dan rendah hampir seluruhnya pernah kulakukan, tapi masih sok anggap seorang tokoh yang lain daripada yang lain ....”
“Plok”, mendadak tangan Tio Cing-ngo menggampar muka Li Sun-hoan dengan telak.
Liong Siau-hun meraung gusar, “Seorang kesatria hanya boleh dibunuh dan tidak boleh dihina, mana boleh kalian menyiksa dia secara demikian?”
“Tidak apa,” ujar Sun-hoan tetap dengan tersenyum, “tamparannya kuanggap sebagai digigit sekali oleh anjing gila.”
Teriak Tio Cing-ngo dengan murka, “Dengarkan, orang she Li, anggaplah aku belum mau membunuhmu, tapi aku mampu membuatmu minta hidup tidak dapat, mohon mati pun sukar, kau percaya tidak?”
Li Sun-hoan terbahak-bahak, “Hahahaha! Jika kujeri terhadap kawanan manusia rendah dan kotor semacam kalian ini, percumalah aku menjadi seorang lelaki. Coba kalian masih mempunyai cara apa, silakan keluarkan saja.”
“Baik,” bentak Tio Cing-ngo, segera ia menanggalkan baju luarnya yang baru saja dipakainya.
Liong Siau-hun berduduk di kursi dengan badan gemetar, teriaknya, “Maafkan saudaraku, engkau seorang kesatria, tapi aku ... aku seorang pengecut, aku ....”
Sun-hoan tersenyum, “Hal ini tak dapat menyalahkan dirimu, Toako, apabila aku beranak-istri, aku pun akan bertindak seperti Toako.”
Dalam pada itu tangan Tio Cing-ngo yang kuat sebagai baja sudah mulai meremas tulang pundaknya, rasa sakitnya sungguh tukar ditahan, meski keringat dingin sudah mengucur, namun Li Sun-hoan tetap bertahan, tetap tersenyum simpul.
Orang-orang yang berdiri di luar ruangan sudah banyak yang berpaling ke arah lain. Kesatria Kangouw umumnya mengutamakan “berani”, keberanian seperti Li Sun-hoan ini sungguh jarang terlihat.
Pada saat itulah sekonyong-konyong di luar ada orang berseru, “He, nona Lim, engkau pulang dari mana? .... Siapakah tuan ini?”
Tertampak baju Lim Sian-ji morat-marit dengan rambut kusut-masai sedang melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Di sampingnya mengikut seorang anak muda, meski hawa sangat dingin, namun baju yang dipakainya sangat tipis, jalannya tegap seakan-akan di dunia ini tiada sesuatu urusan yang dapat membuatnya membungkuk tubuh.
Mukanya kaku serupa batu ukiran, keras, dingin, teguh, tapi juga membawa semacam daya tarik aneh yang sukar dilawan. Yang lebih mengherankan lagi adalah dia datang dengan memanggul sesosok mayat.
A Fei! Anak muda ini ternyata A Fei adanya.
Mengapa A Fei bisa datang kemari?
Terguncang hebat perasaan Li Sun-hoan, entah kejut entah girang? Tapi cepat ia berpaling, sebab ia tidak ingin A Fei melihat keadaannya sekarang. Ia tidak mau A Fei turun tangan dengan menyerempet bahaya baginya.
Tapi A Fei toh melihatnya juga. Seketika air mukanya yang kaku dan dingin itu berubah penuh emosi, ia menerjang maju dengan langkah lebar.
Tio Cing-ngo tidak berani merintanginya, sebab dia sudah pernah merasakan betapa lihai ilmu pedang anak muda ini. Tapi Kongsun Mo-in belum tahu, segera ia melompat maju dan mengadang di depan A Fei sambil membentak, “Siapa kau? Apa kehendakmu!”
“Kau sendiri siapa? Kau mau apa?” jawab A Fei.
“Ingin kubelajar kenal dengan ilmu pedangmu!” seru Kongsun Mo-in, berbareng ia lantas turun tangan.
Tidak ada yang mencegahnya. Hal ini tidak perlu diherankan, rebab Tio Cing-ngo justru berharap agar mereka saling gebrak. Dian Jit juga ingin pinjam tangan orang lain untuk mengukur kepandaian anak muda tak dikenalnya ini.
Dan bagaimana dengan Lim Sian-ji? Dia cuma memandang Li Sun-hoan dengan terkejut dan sama sekali tidak memerhatikan orang lain. Mengenai Liong Siau-hun, dia seperti tidak berniat ikut campur urusan orang lain lagi.
Anehnya, A Fei ternyata tidak mengelakkan serangan Kongsun Mo-in. “Blang”, terdengar suara keras, kepalan Kongsun Mo-in tepat mengenai dada A Fei. Tapi A Fei bergeming sedikit pun, sebaliknya Kongsun Mo-in kesakitan sendiri sehingga menungging.
A Fei tidak memandangnya lagi, ia lewat di sampingnya dan mendekati Li Sun-hoan, tanyanya, “Dia kawanmu?”
Sun-hoan tersenyum, “Kau kira ada kawanku semacam ini?”
Dalam pada itu Kongsun Mo-in telah meraung murka dan menubruk maju pula, kembali ia menghantam punggung A Fei. Mendadak A Fei membalik tubuh dan terdengar pula suara “blang”. Kontan tubuh Kongsun Mo-in mencelat.
Sama berubah air maka para hadirin, siapa pun tidak menyangka tokoh “Mo-in-jiu” yang disegani di dunia Kangouw dapat berubah seperti patung di depan anak muda ini, masa tidak tahan sekali genjot saja.
Hanya Dian Jit saja yang lantas bergelak tertawa dan berseru, “Sungguh cepat amat pukulan sahabat muda ini, sungguh kesatria muda yang mengagumkan,” lalu ia menjura dan menyambung pula, “Cayhe Dian Jit, entah siapa nama saudara cilik yang terhormat, sudikah berkawan dengan Dian Jit?”
“Aku tidak punya nama, juga tidak suka berkawan dengan orang macammu ini,” sahut A Fei dengan ketus.
Air muka para hadirin berubah lagi, tapi Dian Jit tetap tersenyum dan berkata, “Anak muda suka bicara secara blak-blakan, memang harus dipuji. Cuma sayang telah keliru memilih sahabat.”
“Oo?!” A Fei merasa tidak mengerti.
“Dia sahabatmu, bukan?” tanya Dian Jit sambil menuding Li Sun-hoan.
A Fei mengiakan.
“Apakah kau tahu siapa dia?”
“Tahu!” jawab A Fei.
“Dan kau pun tahu dia inilah Bwe-hoa-cat?” tanya pula Dian Jit dengan tertawa.
“Bwe-hoa-cat?” A Fei melengak.
“Urusan ini memang sukar untuk dipercaya bila diceritakan, namun fakta nyata, siapa pun sukar menyangkalnya,” kata Dian Jit.
A Fei menatapnya tajam-tajam seperti ingin menembus hatinya.
Mau tak mau terasa ngeri juga Dian Jit, ucapnya, “Jika Anda tidak percaya, boleh tanya langsung kepadanya ....”
“Tidak perlu kutanyai dia, jelas dia pasti bukan Bwe-hoa-cat!” jengek A Fei.
“Sebab apa?” tanya Dian Jit.
Mendadak A Fei melemparkan mayat yang dipanggulnya itu dan berkata. “Sebab inilah Bwe-hoa-cat yang sebenarnya!”
Para hadirin sama melengak pula, beramai-ramai mereka lantas berkerumun ke depan.
Tertampak mayat ini kurus kering, mukanya malang melintang penuh bekas luka sayatan pisau sehingga tukar diketahui bagaimana bentuk wajah aslinya. Yang dipakai adalah baju hitam ringkas sehingga tulang iga saja kelihatan menonjol.
Mulutnya tampak terkatup rapat, mati pun mengertak gigi kencang-kencang, tiada kelihatan sesuatu bekas luka pada tubuhnya, hanya bagian leher ditembus oleh sebuah lubang.
Dian Jit tertawa pula, katanya, “Kau bilang orang mati inilah Bwe-hoa-cat yang sebenarnya?”
“Betul,” jawab A Fei.
“Hahaha, betapa pun engkau masih muda belia, kau kira orang lain pun sama gampangnya tertipu seperti dirimu,” seru Dian Jit dengan tertawa. “Apabila setiap orang sama membawa pulang seorang mati dan mengatakan dia Bwe-hoa-cat, kan dunia ini bisa kacau?”
Kulit muka A Fei tampak berkerut-kerut, ucapnya kemudian, “Selamanya aku tidak menipu orang, juga selamanya tidak bisa tertipu!”
Dian Jit menarik muka, “Lantas, cara bagaimana akan kau buktikan orang mati ini adalah Bwe-hoa-cat?”
“Coba kau lihat mulutnya!” kata A Fei.
Kembali Dian Jit terbahak-bahak, “Untuk apa kulihat mulutnya? Memangnya mulutnya masih bisa bergerak, masih dapat bicara?”
Orang lain pun sama tertawa, tidak semuanya merasa geli, tapi bila Dian Jit tertawa segembira ini, mau tak mau mereka harus ikut tertawa.
Mendadak Lim Sian-ji memburu maju dan berseru, “Kutahu ucapannya memang benar, orang mati ini memang betul Bwe-hoa-cat.”
“Oo?” Dian Jit merasa heran. “Memangnya orang mati ini yang memberitahukannya padamu?”
“Betul, memang dia sendiri yang memberitahukan padaku!” jawab Sian-ji, dia tidak memberi kesempatan tertawa kepada orang lain dan segera menyambung. “Pada waktu Cin Tiong mati sudah dapat kulihat dia terkena semacam senjata rahasia yang berbisa sangat keji. Tapi masih dapat dimengerti apabila Cin Tiong tidak mampu menghindarkan serangan senjata rahasia semacam ini, mengapa tokoh kosen semacam Go Bun-thian juga tidak dapat mengelakkan senjata rahasia semacam ini? Sejauh itu tidak dapat kupecahkan teka-teki ini, sebab hal inilah yang merupakan rahasianya Bwe-hoa-cat.”
Sinar mata Dian Jit tampak gemerdep, “Dan sekarang teka-teki itu sudah dapat kau pecahkan?”
“Betul, rahasia Bwe-hoa-cat justru berada pada mulutnya,” tutur Sian-ji. Mendadak ia mengeluarkan sebilah pisau kecil untuk mencungkil mulut orang mati itu.
Ternyata pada mulut orang mati ini tergigit sebatang pipa baja bercat hitam.
Lalu Sian-ji berkata lagi, “Lantaran pada waktu dia bicara dengan orang lain, mendadak senjata rahasia menyambar keluar dari mulutnya, maka orang lain sama sekali tidak mengetahuinya dan juga tidak mampu mengelak.”
“Jika mulutnya menggigit pipa baja pembidik senjata rahasia, lalu cara bagaimana dia bicara dengan orang lain?” ujar Dian Jit.
“Justru di sinilah letak rahasia di dalam rahasianya,” kata Sian-ji. Dia mengerling, lalu menyambung dengan perlahan, “Soalnya dia tidak bicara dengan mulut, tapi bicara dengan perut. Mulutnya hanya digunakan untuk membunuh orang!”
Uraian Sian-ji ini meski kedengarannya sangat lucu dari tidak masuk di akal, namun jago Kangouw kawakan semacam Dian Jit malah tidak merasa geli sedikit pun. Sebab jago Kangouw kawakan sama tahu di dunia ini memang ada semacam ilmu ajaib yang disebut “bicara dengan perut”.
Konon ilmu “bicara dengan perut” ini berasal dari negeri sekitar Persi dan India, biasanya dimainkan oleh tukang sulap dan pemain akrobat pengembara, suara yang timbul dari dalam perut tanpa menggerakkan bibir itu kedengarannya rada lucu, tapi bila dikendalikan dengan tenaga dalam oleh tokoh dunia persilatan, maka suara yang keluar dengan sendirinya akan jauh berbeda.
“Coba jawab,” kata Sian-ji pula, “pada waktu Dian-jitya hendak bertempur dengan orang, ke bagian mana Dian-Jitya akan memandangnya?”
“Dengan sendirinya memandangi tubuh pihak lawan,” jawab Dian Jit.
“Bagian tubuh yang mana?” tanya pula Sian-ji.
“Pundaknya, dan bagian tangannya!”
“Itulah dia,” kata Sian-ji dengan tertawa. “Pertarungan di antara jago kelas tinggi, siapa pun takkan menatap mulut lawan. Hanya perkelahian antara dua ekor anjing saja yang akan saling memelototi mulut pihak lawan. Sebab manusia bukan anjing, manusia tidak berkelahi dengan menggigit seperti anjing.”
Para hadirin ikut tertawa lagi. Apa yang dikatakan perempuan cantik seperti Lim Sian-ji, jika mereka tidak merasa geli, kan menunjukkan diri mereka terlalu picik.
Siapa tahu Lim Sian-ji lantas menarik muka malah dan berkata pula dengan menyesal, “Tetapi Bwe-hoa-cat ini justru membunuh orang dengan menggunakan mulutnya, hanya lantaran tidak ada yang menyangka di dunia bisa terjadi hal demikian maka dengan mudah dapat diperdayai olehnya. Semakin kosen lawannya, semakin mudah pula teperdaya. Sebab kalau dua jago kelas tinggi berhadapan, tidak nanti matanya akan memandang bagian pundak ke atas pihak lawan.”
“Dari mana kau tahu rahasia ini?” tanya Dian Jit.
“Kuketahui rahasianya setelah dia membidikkan senjata rahasianya ....”
“Jika begitu, apakah sahabat muda ini memang seekor anjing yang selalu mengawasi mulutnya?” tanya Dian Jit dengan sinis.
Sian-ji tersenyum, “Barangkali Dian-jitya belum lagi mengetahui dia memakai baju kutang Kim-si-kah?”
Terbeliak mata Dian Jit, “Aha, betul, pantaslah pukulan Kongsun-heng tadi bukannya merobohkan lawan, sebaliknya tangan sendiri yang kesakitan malah.”
“Hari ini mestinya aku tidak mau pergi ke paviliun Leng-hiang-siau-tiok, tapi setelah malam tiba, mendadak teringat ada sesuatu barang yang tertinggal di sana, sama sekali tak kuduga setiba di sana segera juga Bwe-hoa-cat lantas muncul.”
Sambil bicara, wajahnya yang cantik itu tampak menampilkan rasa takut, sambungnya lagi, “Bicara sesungguhnya, waktu itu tidak kulihat dia, hanya kurasakan seorang mendadak berada di belakangku, belum sempat kubalik tubuh, tahu-tahu Hiat-to kelumpuhanku sudah tertutuk olehnya.”
“Jika demikian, Ginkang orang ini jelas sangat hebat!” ujar Dian Jit.
Sian-ji menghela napas gegetun, “Gerak tubuhnya sungguh tidak ada ubahnya seperti hantu, dengan begitu saja aku lantas terkempit olehnya dan dibawa kabur. Waktu itu juga sudah kuduga dia pastilah Bwe-hoa-cat, maka lantas kutanyai dia, ‘Hendak kau apakan diriku? Mengapa tidak kau bunuh diriku?’”
“Bagaimana jawabnya?” tanya Dian Jit.
Sian-ji menggigit bibir, “Dia tidak bicara apa-apa, hanya tertawa seram.”
Gemerdep sinar mata Dian Jit, “Oo, kiranya dia tidak memberitahukan padamu bahwa dialah Bwe-hoa-cat?”
“Dia tidak perlu memberitahukan padaku. Yang kupikirkan waktu itu hanya lekas mati saja, tetapi sekujur badanku justru tidak bertenaga. Pada saat itulah tiba-tiba terlihat bayangan orang berkelebat dan seorang muncul di depan kami.”
“Yang muncul ini tentulah sahabat muda ini?” Dian Jit menegas.
“Betul, memang dia,” Sian-ji melirik A Fei sekejap, sorot matanya penuh rasa terima kasih. “Kedatangannya sungguh teramat cepat, agaknya Bwe-hoa-cat itu juga terkejut, segera dia melemparkan diriku ke tanah, lalu kudengar dia menegurnya, ‘Apakah kau ini Bwe-hoa-cat?’ dan dijawab oleh Bwe-hoa-cat, ‘Jika betul mau apa? Kalau bukan lantas bagaimana? Apa pun kau adalah orang yang dekat ajal ....’
“Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong kulihat secomot cahaya hitam menyambar keluar dari mulutnya. Aku terkejut dan juga takut, kulihat cahaya gilap itu sama mengenai tubuh ... tubuh Kongcu ini, kusangka dia pasti juga akan binasa di tangan Bwe-hoa-cat serupa korban yang lain, siapa tahu dia tidak bergerak sedikit pun, dia masih tetap berdiri dengan tegak.
“Menyusul lantas terlihat sinar pedang berkelebat, kontan Bwe-hoa-cat lantas roboh. Betapa cepat gerak pedangnya sungguh tak dapat kulukiskan.”
Bicara sampai di sini, tanpa terasa semua orang terbelalak memandangi pedang “mainan” yang tergantung di pinggang A Fei, siapa pun tidak percaya pedang rongsokan itu dapat digunakan untuk membunuh, bahkan yang dibunuh ialah Bwe-hoa-cat!
Sambil menggendong tangan di belakang punggungnya Dian Jit juga sedang mengamat-amati pedang A Fei, tiba-tiba terunjuk senyum lagi pada ujung mulutnya, katanya, “Wah, tampaknya jauh sebelumnya sahabat muda ini sudah menunggunya di sana?”
“Betul,” jawab A Fei.
“Dan begitu Anda melihat mereka, segera kau lompat keluar untuk mencegatnya serta menegur dia apakah Bwe-hoa-cat atau bukan?”
“Betul,” kata A Fei.
“Apakah Anda selalu menunggu dalam kegelapan, dan begitu melihat orang pejalan malam lantas kau tegur apakah dia Bwe-hoa-cat bukan?” tanya Dian Jit pula dengan tersenyum.
“Mana aku mempunyai tempo sebanyak itu untuk menunggu?” ujar A Fei.
“Jika kebetulan Anda ada tempo, kebetulan pula memergoki orang pejalan malam, lalu cara bagaimana akan kau tanyai dia?”
“Untuk apa kutanya dia? Memangnya apa sangkut pautnya denganku?”
“Aha, tepatlah kalau begitu,” seru Dian Jit sambil berkeplok. “Jika Anda ingin menegur, tentu akan kau tanya siapa dia. Misalnya tadi Anda menegur Kongsun Mo-in juga cuma bertanya, ‘Siapa kau?’ dan tidak bertanya, ‘Apakah kau ini Bwe-hoa-cat?’ ....”
“Kan sudah jelas diketahui dia bukan Bwe-hoa-cat, untuk apa kutanya dia?” ujar A Fei.
Mendadak Dian Jit menarik muka, katanya sambil menuding orang mati di lantai itu, “Jika demikian, mengapa kau tanya orang ini? Apakah sebelumnya sudah kau ketahui dia inilah Bwe-hoa-cat? Dan kalau Anda sudah tahu dia ini Bwe-hoa-cat, untuk apa pula bertanya?”
“Sebab ada orang memberitahukan padaku bahwa dalam dua hari ini Bwe-hoa-cat pasti akan muncul di sekitar sini.”
“Siapa yang memberitahukan padamu?” tanya Dian Jit sambil melirik Li Sun-hoan. “Apakah Bwe-hoa-cat sendiri? Atau teman si Bwe-hoa-cat?”
Padahal dia tahu A Fei pasti takkan menjawab pertanyaannya ini, tapi baginya asalkan mengajukan pertanyaan itu sudah tercapailah tujuannya dan sesungguhnya tidak memerlukan jawaban.
Sedangkan pandangan semua orang lantas terarah kepada A Fei dan Li Sun-hoan lantaran pertanyaan Dian Jit itu, mereka menganggap apa yang dilakukan A Fei itu hanya persekongkolannya dengan Li Sun-hoan belaka, apa pun penjelasan A Fei tak ada lagi yang mau percaya bahwa mayat yang dibawanya itulah Bwe-hoa-cat.
Merasa mendapat angin, Dian Jit terus mendekati salah seorang hadirin, seorang pemuda berbaju perlente dan bertanya, “Kau Bwe-hoa-cat bukan?”
Keruan pemuda itu terkejut, jawabnya dengan gelagapan, “Mana ... mana bisa ....”
Belum lanjut ucapannya, mendadak Dian Jit menutuk Hiat-to kelumpuhannya, lalu bergumam, “Nah, kembali ada seorang Bwe-hoa-cat dapat kutangkap!”
Kemudian ia berpaling dan berseru kepada para hadirin, “Lihatlah, apakah hadirin percaya Bwe-hoa-cat dapat kutangkap dengan semudah ini?”
Maka ramailah gelak tertawa orang banyak, sebagian di antara mereka lantas saling tegur, “Hai, kau Bwe-hoa-cat bukan? ....”
“Kukira engkau sendirilah Bwe-hoa-cat!”
“Wah, tampaknya makin lama Bwe-hoa-cat di sini bertambah banyak!”
“Ya, jika cara menangkap Bwe-hoa-cat sedemikian gampang, biarlah aku pun akan menangkap satu untuk main-main.”
Begitulah ejekan dan sindiran terdengar di sana-sini.
Muka A Fei tampak masam, tangan sudah meraba tangkai pedangnya.
Tiba-tiba Sun-hoan berkata kepadanya, “Lebih baik kau pergi saja, saudaraku!”
“Pergi?” sinar mata A Fei gemerdep.
“Jika di sini sudah ada Dian-jitya dan pendekar besar semacam Tio-toaya kita ini, mana mungkin Bwe-hoa-cat akan terbunuh oleh seorang anak muda hijau pelonco seperti dirimu ini? Apa pun yang kau katakan tetap tidak ada gunanya,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.
Dengan tangan memegang tangkai pedang A Fei berkata, “Aku pun tidak ingin bicara lagi dengan orang-orang macam begini, namun pedangku ....”
“Biarpun kau bunuh mereka juga tidak berguna,” kata Sun-hoan, “tetap tidak ada orang yang mau mengakui engkau yang membunuh Bwe-hoa-cat, masa hal ini tidak kau ketahui?”
Sorot mata A Fei mulai berubah menjadi guram, ucapnya perlahan, “Ya, kutahu, kupaham ....”
Sun-hoan tertawa, “Makanya jika kau ingin mendapat nama, kau harus mengerti dulu hal ini, kalau tidak, tentu akan serupa diriku, cepat atau lambat akan berubah menjadi Bwe-hoa-cat.”
“Maksudmu, jika aku ingin mendapat nama, lebih dulu aku harus penurut, begitu?
“Tepat sekali,” kata Sun-hoan dengan tertawa. “Asalkan segala urusan yang dapat menonjolkan nama kau serahkan kepada para pendekar besar kita, maka para pendekar besar ini akan menganggap dirimu ini anak muda yang polos, berbakat, dan akan diberi giliran kepadamu untuk menonjol ke atas.”
A Fei terdiam sejenak, tiba-tiba ia tertawa. Tertawa cerah, tapi juga kelihatan hampa.
“Wah, jika begitu, mungkin selamanya aku takkan menonjol,” katanya dengan tersenyum.
“Itu pun tidak buruk,” ujar Sun-hoan.
Melihat senyum A Fei, tertawa Sun-hoan juga bertambah cerah, seperti tertawa geli atas peristiwa yang paling lucu di dunia ini.
Selagi semua orang terheran-heran dan menyangka kedua orang ini mungkin kurang waras, sekonyong-konyong A Fei mendekati Li Sun-hoan dan menarik tangannya sambil berkata, “Ah, peduli namaku akan menonjol atau tidak, yang penting mumpung kita dapat berkumpul sekarang, marilah kita pergi minum arak.”
“Hah untuk minum arak, selamanya aku tidak pernah menolak,” kata Sun-hoan dengan tertawa, “Cuma hari ini ....”
“Hari ini mungkin dia tidak dapat mengiringi kehendakmu,” tukas Dian Jit dengan tersenyum.
“Siapa bilang?” jengek A Fei dengan menarik muka.
Dian Jit tersenyum, ia memberi tanda, serentak dua lelaki menerjang masuk, seorang bergodek dan membawa golok, teriaknya, “Dian-jitya yang bilang! Apa yang dikatakan Dian-jitya, itulah perintah!”
Yang seorang lagi berperawakan tinggi kurus, ia pun membentak, “Dan barang siapa berani membangkang terhadap perintah Dian-jitya, baginya hanya ada mati!”
Kedua orang ini semula berdiri dengan tegak di luar pintu ruangan serupa kaum budak, tapi sekarang gerak-geriknya ternyata sangat tangkas, jelas tergolong jago kelas satu di dunia Kangouw.
Di tengah bentakan mereka, dua golok segera menyambar dari kanan dan kiri dengan membawa deru angin tajam, secepat kilat mereka membacok A Fei.
Namun A Fei hanya menatap mereka dengan dingin, seperti tidak menghiraukan serangan mereka. Tapi mendadak sinar perak berkelebat dua kali, menyusul lantas terdengar dua kali jeritan ngeri, kedua golok terlepas dari pegangan dan mencelat ke atas dan “crat”, semuanya menancap di belandar.
Kedua lelaki itu sama memegangi pergelangan tangan kanan sendiri dengan kesakitan, sampai sekian lama barulah darah merembes dari celah-celah jari dan menetes.
Waktu semua orang memandang pedang si A Fei, ternyata senjata itu masih tergantung di pinggang, siapa pun tidak melihat jelas pedang itu pernah dilolosnya atau tidak, cuma kelihatan pada ujung pedangnya melengket setitik darah segar.
Sungguh pedang yang cepat, pedang kilat!
Seketika senyuman Dian Jit juga membeku sehingga lebih tepat dikatakan menyengir.
“Jika ucapan Dian-jitya adalah perintah, maka pedangku justru tidak mau tunduk kepada perintah siapa pun, dia hanya bisa membunuh orang!” kata A Fei dengan hambar.
Waktu kedua lelaki itu menyurut mundur dan mengendurkan tangan kiri, tertampak pada pergelangan tangan kanan ada setitik bekas luka, tidak miring dan tidak serong, luka itu tepat berada di tengah kedua urat besar, jika ujung pedang miring ke samping sedikit, urat nadi mereka pasti sudah putus dan tangan mereka pun cacat selamanya.
Sungguh serangan A Fei bukan saja sangat cepat, juga jitu tempatnya.
Tanpa terasa air muka kedua orang itu menampilkan rasa ngeri, kembali mereka menyurut mundur beberapa langkah, mendadak mereka berebut lari lebih dulu. Meski pedang tak bisa bicara, tapi ternyata jauh lebih menakutkan daripada perintah siapa pun.
Kembali A Fei menarik tangan Sun-hoan, katanya, “Mari pergi minum arak, aku tidak percaya ada orang berani lagi merintangi kita.”
Belum lagi Sun-hoan menjawab, mendadak Liong Siau-hun berteriak, “Kau ajak dia pergi, mengapa tidak kau buka Hiat-to kelumpuhannya yang tertutuk?”
Kulit daging ujung mulut A Fei tampak berkedut, sekejap itu hati Sun-hoan juga berdetak, tiba-tiba teringat olehnya kejadian tempo hari ....
Waktu itu A Fei telah menawan Ang Han-bin baginya dan ditinggalkan di dapur Sun Gwe, Ang Han-bin tidak ditutuk olehnya melainkan cuma diringkus dengan tali dan diikat di atas kursi.
Tatkala mana Sun-hoan sudah merasa heran mengapa A Fei tidak menutuk Hiat-to tawanannya? Kini barulah ia tahu duduknya perkara.
Rupanya pemuda yang dapat memainkan pedangnya secepat kilat ini tidak mahir Tiam-hiat atau ilmu menutuk Hiat-to manusia.
Mendelu hati Sun-hoan, namun air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu tanda, ia cuma menjawab dengan tersenyum, “Hari ini aku tidak sanggup mentraktir kau minum arak.”
A Fei terdiam sejenak, ucapnya kemudian sekata demi sekata, “Aku yang mentraktir engkau!”
“Tidak, bukan arak yang kubeli sendiri tidak mau kuminum,” kata Sun-hoan.
A Fei memandangnya lekat-lekat, sorot matanya yang dingin tiba-tiba menampilkan secercah rasa pedih. Nyata ia pun tahu Li Sun-hoan sengaja tidak menghendaki dia menyerempet bahaya.
Maklumlah, berhubung dia tidak sanggup membuka Hiat-to Sun-hoan yang tertutuk, untuk mengajaknya pergi terpaksa ia harus menggendongnya, dan jika dia menggendong Li Sun-hoan, dengan tambahan beban ini belum pasti dia mampu menerjang ke luar.
Gemerdep sinar mata Dian Jit, dia sedang mencari apa kiranya yang akan dilakukan orang, tiba-tiba ia tersenyum dan berkata, “Li Sun-hoan adalah seorang lelaki sejati tidak nanti dia membikin susah orang lain, maka saudara cilik ini lebih baik pergi sendiri saja.”
Sun-hoan tahu rase tua ini sudah dapat melihat titik lemah A Fei, cepat ia menimpali dengan tersenyum. “Tidak perlu kau pancing dia, tidak nanti dia terjebak olehmu. Apalagi biarpun dia menggendong diriku juga belum tentu kalian mampu melawannya.”
Sebelum orang lain buka suara, segera ia menyambung pula, “Apalagi, kalian juga tahu betapa pun aku takkan pergi. Jika kupergi sekarang, bukankah para pendekar besar seperti kalian ini akan tambah bukti bahwa aku ini memang Bwe-hoa-cat?”
Disadur Oleh : Gan KL
Dengan sorot mata mencorong Yu Liong-sing berkata pula, “Kalau Li-heng seorang pencinta pedang, tentunya kau tahu meski pedang ini tidak dapat dibandingkan Hi-jong-kiam, tapi pedang ini pun cukup terkenal pada tiga ratus tahun yang lalu, namanya Toat-ceng-kiam (pedang perampas cinta), barangkali Li-heng belum tahu kisah pedang ini.
”
“Coba ceritakan,” kata Sun-hoan.
“Pedang ini milik Tik Bu-cu, seorang jago pedang zaman itu, sampai usianya sudah setengah baya dia baru jatuh cinta kepada seorang perempuan. Keduanya sudah mengikat janji, siapa tahu pada malam sebelum upacara nikah mereka berlangsung, nona ini ialah mengadakan pertemuan gelap dengan sahabat Tik Bu-cu sendiri yang bernama si golok sakti Pang Ging. Saking duka dan gemasnya, dengan pedang perampas cinta inilah Tik Bu-cu membunuh Pang Ging, sejak itu hidupnya melulu berkawan dengan pedang dan tidak pernah bicara tentang pernikahan lagi.”
Mendadak Yu Liong-sing menatap Sun-hoan lekat-lekat, katanya, “Mungkin Li-heng menganggap kisah ini sangat sederhana tanpa liku sehingga terasa tawar, tapi kisah ini adalah kisah nyata, bukan dongeng belaka.”
Sun-hoan tertawa, “Kurasa meski ilmu pedang Tik Bu-cu ini sangat tinggi, tapi jiwanya terlalu sempit. Mestinya dia tahu peribahasa yang mengatakan: sahabat laksana kaki dan tangan, istrinya serupa pakaian. Seorang lelaki sejati mana boleh mengingkari persahabatan hanya karena urusan perempuan?”
“Hm, justru kurasakan Tik-locianpwe ini adalah seorang kesatria besar yang gilang-gemilang, hanya kesatria besar demikian dapat mencintainya sedemikian mendalam dan sedemikian polos.”
“Jika demikian, jadi malam ini Anda ingin meniru Tik Bu-cu zaman dahulu?” tanya Sun-hoan dengan tersenyum.
Sorot mata Yu Liong-sing memancarkan cahaya dingin, jengeknya, “Untuk ini terserah kepada Li-heng apakah juga ingin menipu menjadi si golok sakti Pang Ging pada tiga ratus tahun yang lampau itu?”
“Ai, bulan seterang ini dan ada janji dengan si cantik, betapa romantisnya suasana demikian, kenapa Anda sengaja merusak keindahan?”
“Jadi malam ini Anda pasti akan hadir ke sana?” tanya Yu Liong-sing dengan bengis.
“Jika membiarkan nona Lim yang molek itu, menanti kasih secara sia-sia di bawah sinar bulan purnama, tidakkah aku akan menjadi kekasih yang berdosa?” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.
Muka Yu Liong-sing yang pucat berubah menjadi merah padam, urat hijau sama menonjol di dahinya, ujung pedang berputar, “sret”, ditusukkannya lewat leher Li Sun-hoan.
Sun-hoan tetap mengulum senyum, ucapnya dengan tak acuh, “Dengan ilmu pedangmu rasanya masih selisih jauh jika ingin menjadi Tik Bu-cu.”
“Dengan ilmu pedang demikian sudah lebih dari cukup untuk membinasakan dirimu!” bentak Yu Liong-sing dengan murka, berbareng dia menusuk pula beberapa kali.
Terdengar desing angin yang keras dan cepat, poci teh di atas meja tersampuk pecah oleh angin pedang, air teh berceceran di atas meja dan mengalir ke lantai.
Beberapa kali tusukannya sungguh cepat luar biasa, namun Li Sun-hoan tetap berdiri di tempatnya, seakan-akan tidak bergeser sedikit pun, dan entah mengapa semua tusukan itu sama mengenai tempat kosong.
Yu Liong-sing menjadi geregetan, serangannya bertambah cepat. Dilihatnya Li Sun-hoan bertangan kosong, sebab itulah dia menggunakan serangan kilat agar Sun-hoan tidak sempat melolos pisaunya. Yang ditakutinya memang cuma “pisau kilat” si Li saja.
Siapa tahu Li Sun-hoan sama sekali tidak bermaksud menggunakan pisaunya, setelah semua serangan orang terhindar, tiba-tiba Sun-hoan tertawa dan berkata, “Dengan usiamu yang masih muda begini dan menguasai ilmu pedang setinggi ini, secara umum sudah terhitung sukar dicari. Tapi kalau dipandang dari perguruan dan keluargamu, jika kau gunakan ilmu pedang demikian untuk berkecimpung di dunia Kangouw, cukup dalam waktu dua-tiga tahun saja papan merek orang tua dan gurumu mungkin harus dicopot.”
Di tengah sambaran pedang Li Sun-hoan dapat bicara dengan seenaknya, keruan Yu Liong-sing merasa gemas dan juga gelisah, namun apa daya, ujung pedangnya tetap tidak mampu menyentuh ujung baju orang.
Akhirnya Yu Liong-sing menjadi nekat, mendadak ia menusuk dada Li Sun-hoan, ia pikir sekali ini jangan harap dapat kau hindarkan lagi.
Tak terduga, kembali perhitungannya meleset, hanya sedikit Li Sun-hoan mengegos saja, tahu-tahu pedang Yu Liong-sing mengenai tempat kosong. Malahan terdengar suara “cring”, jari Li Sun-hoan yang kuat itu menjentik perlahan pada batang pedangnya, kontan Yu Liong-sing merasa tangan kesemutan, setengah badan terasa kaku, pedang tak dapat tergenggam lagi, terdengar suara mendering disertai berkelebatnya cahaya terang melayang keluar jendela.
Li Sun-hoan tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeser, selangkah pun. Sebaliknya Yu Liong-sing merasa darah sekujur badan seakan-akan membanjir ke ubun-ubun kepala, lalu menurun kembali ke telapak kaki dan seluruh tubuh terasa dingin.
Perlahan Sun-hoan menepuk bahu Yu Liong-sing dengan tersenyum hambar, “Sayang pedang, lekas dijemput kembali.”
Dengan gemas Yu Liong-sing mengentak kaki, lalu berlari pergi, sampai di ambang pintu mendadak ia berhenti dan menoleh, serunya dengan agak gemetar, “Jika ... jika berani, hendaknya tunggu setahun lagi, pasti akan kubalas sakit hati ini.”
“Setahun?” Sun-hoan menegas. “Kukira tidak cukup.”
Dengan tersenyum lalu ia sambung dengan perlahan, “Bakatmu memang lumayan, ilmu pedangmu juga tidak lemah, cuma sayang terlalu cepat naik darah, sebab itulah seranganmu cepat tapi kurang mantap. Maka begitu berhadapan dengan lawan yang lebih kuat, lebih dulu kau sendiri sudah bingung. Padahal kalau bisa bertindak tenang, bukan mustahil hari ini dapat kau jatuhkan diriku.”
Mencorong sinar mata Yu Liong-sing, tapi belum sempat dia bersuara, tiba-tiba Li Sun-hoan menyambung lagi, “Bicara sabar memang mudah, untuk melakukannya yang sukar. Sebab itulah apabila kau ingin mengalahkan aku sedikitnya kau perlu tekun bertapa tujuh tahun lebih dulu.”
Muka Yu Liong-sing sebentar merah sebentar pucat, tangan tergenggam hingga berkeriut saking gemasnya.
“Nah, pergilah sekarang,” ujar Sun-hoan dengan tertawa, “asalkan dapat kuhidup tujuh tahun lagi, silakan kau cari diriku untuk menuntut batas. Tujuh tahun tidak terlalu lama, apalagi seorang lelaki sejati, jika ingin menuntut batas, sepuluh tahun saja belum terlambat.”
*****
Jagat raya kembali sunyi senyap, hanya desir angin menerbitkan gemeresik daun bambu di luar.
Li Sun-hoan memandang cuaca malam di luar, ia berdiri termenung hingga lama, akhirnya menghela napas dan bergumam, “Anak muda, jangan kau dendam padaku Padahal tindakanku ini justru telah menyelamatkan dirimu. Jika kau masih terus tergila-gila kepada Lim Sian-ji, maka tamatlah hidupmu ini.”
Dia mengebaskan lengan baju dan hendak melangkah keluar. Ia tahu saat itu Lim Sian-ji sedang menantikan kedatangannya, bahkan pasti sudah menyiapkan kailnya. Tapi dia tidak gentar sedikit pun, bahkan merasa sangat tertarik.
Jika ikannya terlalu besar, mungkin pengailnya akan terpancing malah. Maka dengan tersenyum Sun-hoan bergumam pula, “Justru akan kulihat umpan macam apakah yang dipasang pada kailnya?”
Sebelum pergi tadi, dengan emosi Yu Liong-sing telah meraung terhadap Li Sun-hoan, “Jika kau pun menyukai Lim Sian-ji, cepat atau lambat kau pasti menyesal. Sudah lama dia menjadi milikku, dia ... dia .... Untuk apa kau pakai sepatu bekas?”
Tapi dengan tertawa tak acuh Sun-hoan telah menjawab, “Sepatu bekas biasanya lebih enak dipakai daripada sepatu baru.”
Bila teringat kepada sikap Yu Liong-sing tadi, Sun-hoan lantas merasa geli dan juga kasihan. Tapi apakah Lim Sian-ji benar anak perempuan jenis sebagaimana dikatakan Yu Liong-sing itu?
Seorang lelaki jika menaksir seorang perempuan dan tidak berhasil, untuk menutupi rasa malunya dan juga untuk melampiaskan dongkolnya, biasanya dia suka menyiarkan berita bahwa perempuan itu sudah pernah mengadakan hubungan intim dengan dirinya dan sebagainya.
Itulah sifat kebanyakan lelaki, sifat yang lucu dan perlu dikasihani.
Perlahan Sun-hoan melangkah ke luar. Tiba-tiba dilihatnya dari depan sana ada cahaya lampu yang menyusuri pepohonan dan sedang menuju ke sini.
Kiranya dua pelayan cilik berbaju hijau dan menjinjing dua lentera berkerudung, sambil berjalan sambil berbicara dan bersenda gurau. Tapi begitu melihat Li Sun-hoan, seketika mereka tidak bicara dan juga tidak bersenda gurau lagi.
Sebaliknya Sun-hoan lantas menyapa dengan tersenyum, “Apakah kalian disuruh menjemput diriku oleh nona Lim?”
Pelayan yang sebelah kiri lebih tua satu-dua tahun, perawakannya lebih tinggi, dengan hormat ia menjawab, “Hujin yang menyuruh kami mengundang Li-siangkong ....”
“Hujin (nyonya)?” Sun-hoan menegas, seketika ia menjadi tegang, “Hujin yang mana?”
“Cengcu kami kan cuma mempunyai seorang Hujin saja,” jawab si pelayan tadi dengan tertawa.
Pelayan yang lain cepat menambahkan, “Hujin tahu Li-siangkong tidak suka diganggu urusan tetek bengek, maka sengaja menyiapkan beberapa macam santapan yang diolah Hujin sendiri di ruangan belakang, Li-siangkong diundang dahar dan sekadar berbincang-bincang di sana.”
Sun-hoan berdiri mematung, pikirannya melayang jauh melintasi hutan sana, terbang ke atas paviliun berloteng sana ....
Sepuluh tahun yang lalu, loteng itu adalah tempat yang sering dikunjunginya, ia masih ingat meja marmer itu selalu tersedia beberapa santapan yang menjadi kegemarannya.
Ia masih ingat ham goreng ayam dengan madu itu selalu tertaruh pada piring warna hijau pupus, tapi piring yang berisi sayur kailan cah udang dan taoge cah samcan selalu berwarna cokelat.
Di belakang meja marmer itu adalah sebuah pintu berkerai, kerai bersulam indah buah tangan si dia sendiri, terkadang juga diganti dengan kerai mutiara. Dan di balik kerai itulah kamar tidurnya.
Masih teringat olehnya waktu si dia muncul dari balik kerai, badannya selalu membawa semacam bau harum yang sedap. Selama sepuluh tahun ini, dia tidak berani lagi mengenangkan tempat ini, ia merasa bila memikirnya, baik terhadap si dia, terhadap Liong Siau-hun, boleh dikatakan semacam pikiran kotor yang tak terampunkan.
Begitulah Sun-hoan terus berjalan ke depan dengan linglung, waktu ia menengadah, tahu-tahu sudah berada di bawah loteng kecil itu.
Cahaya lampu di atas loteng masih sangat lembut, tampaknya tiada berbeda daripada sepuluh tahun yang lalu, bahkan salju yang tertimbun di atas rumah juga putih bersih dan menarik seperti masa lampau.
Tapi sepuluh tahun toh sudah berlalu. Sepuluh tahun yang cukup panjang itu sukar lagi disusul kembali oleh siapa pun.
Sun-hoan menjadi ragu, sungguh ia tidak mempunyai keberanian untuk naik ke atas loteng ini. Setelah peristiwa kemarin, ia tidak mengerti untuk apakah Si-im mengundangnya, sungguh ia merasa tidak berani menemuinya. Akan tetapi tidak bisa tidak dia harus naik ke atas. Entah apa maksud undangan Si-im padanya, tidak ada alasan baginya untuk menolak.
Di atas meja marmer itu telah tersedia beberapa porsi masakan menarik, yang terisi pada piring warna hijau adalah ham goreng ayam, piring warna cokelat berisi kailan cah udang dan seterusnya.
Baru saja Sun-hoan naik ke atas, seketika ia terkesima.
Sepuluh tahun yang panjang itu seolah-olah telah lenyap dalam sekejap itu, dia merasa seperti telah kembali pada keadaan sepuluh tahun yang lalu. Dipandangnya kerai yang terjulur itu, mendadak jantungnya berdebar keras, berdebar seperti remaja yang baru jatuh cinta. Terkenang kehangatan sepuluh tahun yang lalu, teringat impian masa lampau.
Sun-hoan tidak berani berpikir lagi, rasanya berdosa kepada Liong Siau-hun, juga bersalah terhadap dirinya sendiri. Hampir saja ia tidak tahan dan hendak lari pergi.
Tapi pada saat itulah terdengar kumandang suara si dia dari balik kerai sana, “Silakan duduk!”
Suaranya masih tetap lembut seperti sepuluh tahun yang lalu, tapi juga terasa begitu asing, begitu dingin, kalau tidak ada beberapa macam santapan di atas meja itu, sungguh sukar dipercaya bahwa orang di balik tirai adalah kenalan lama berpuluh tahun yang lalu itu.
Terpaksa ia duduk dan menjawab, “Terima kasih.”
Dan waktu tirai tersingkap, keluarlah satu orang.
Bernapas saja hampir berhenti Li Sun-hoan, tapi yang muncul ternyata bukan si dia melainkan anak itu, masih tetap memakai baju merah cerah, tapi mukanya pucat lesu.
Si dia masih berada di belakang tirai, terdengar dia berucap, “Jangan lupa pesan ibu tadi, lekas menyuguh arak kepada paman Li.”
Anak merah itu mengiakan. Dengan sangat hormat dia lantas menuangkan arak, katanya dengan menunduk, “Kalau ada yang salah, maka semuanya adalah kesalahan keponakan sendiri, untuk itu mohon paman Li sudi melupakannya. Budi paman terhadap keluarga Liong kami lebih tinggi daripada gunung, biarpun keponakan terbunuh juga pantas.”
Hati Sun-hoan seperti dipuntir-puntir dan tidak tahu apa yang harus diucapkannya, sekalipun ia yakin dirinya tidak bertindak salah, tapi melihat muka anak yang pucat ini, mau tak mau timbul semacam perasaan berdosa yang sukar dilukiskan.
“Si-im, O, Si-im, kau minta kedatanganku, apakah sengaja hendak kau siksa diriku?” demikian Sun-hoan berkeluh di dalam hati.
Arak ini mana sanggup diminumnya? Akan tetapi mana boleh tidak diminumnya? Ini bukan arak lagi, tapi kegetiran kehidupan, terpaksa harus diterimanya jika dirinya masih hidup.
“Selanjutnya Titji (keponakan) tidak dapat berlatih Kungfu lagi,” kata si anak merah, “tapi seorang anak lelaki tidak dapat bernaung di bawah orang tua selama hidup, maka mohon paman Li sudi mengingat hubungan baik pada masa lampau, ajarkanlah kepada keponakanmu ini semacam kepandaian membela diri agar kelak keponakan tidak diganggu orang.”
Diam-diam Sun-hoan menghela napas menyesal, tangan terjulur dan ujung jari sudah menjepit pisaunya.
Di balik tirai Si-im juga lantas berkata, “Selamanya paman Li tidak mengajarkan pisau terbangnya kepada siapa pun, bilamana memegang pisau itu, samalah kau dapatkan jimat pelindung badan. Ayolah lekas mengucapkan terima kasih kepada paman.”
Segera Ang-hay-ji atau anak merah itu menyembah dan mengucapkan terima kasih.
Sun-hoan tertawa, tapi diam-diam gegetun, katanya, “Cinta kasih seorang ibu sungguh tidak ada bandingannya, tetapi, bagaimana seorang anak terhadap ibunda ....”
Suasana menjadi hening sejenak. Anak itu telah dibawa pergi pelayan, tapi Lim Si-im masih berada di belakang tirai dan belum mau membiarkan Sun-hoan pergi. Mengapa dia menahannya di sini?
Sebenarnya Sun-hoan bukan seorang yang banyak tata adat, tapi berada di sini, tiba-tiba ia merasa kikuk seperti orang linglung.
Cinta memang sesuatu yang ajaib. Dia terkadang bisa membuat orang tolol menjadi mahapintar, sebaliknya juga bisa membuat orang pintar menjadi bodoh.
Sudah jauh malam.
Apakah Lim Sian-ji sedang menunggunya?
“Engkau ada ... ada urusan?” tiba-tiba Si-im bertanya.
“Ti ... tidak ada,” sahut Sun-hoan.
Si-im terdiam sejenak, “Kau pasti pernah bertemu dengan Sian-ji?”
“Ya, pernah bertemu satu-dua kali.”
“Dia seorang anak perempuan yang pantas dikasihani, kisah hidupnya sangat memilukan, jika kau pernah melihat ayahnya, tentu dapat kau bayangkan kemalangannya.”
“Oo?!” Sun-hoan intan tahu.
“Pernah satu kali kupergoki dia hendak terjun ke jurang, maka kutolong dia .... Apakah kau tahu sebab apa dia ingin membunuh diri?”
“Tidak tahu.”
“Justru lantaran penyakit ayahnya,” perlahan Si-im menghela napas, lalu menyambung pula. “Ayah begitu ternyata mempunyai anak perempuan begini, sungguh sukar untuk dipercaya orang. Selain kasihan padanya, aku pun kagum padanya. Dia cantik dan pintar, suka maju. Ia tahu asal-usul sendiri terlalu rendah, maka dalam segala hal dia bekerja terlebih giat, selalu khawatir dipandang hina orang lain.”
“Dan sekarang tentunya tak perlu lagi khawatir dipandang hina orang,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.
“Itu juga hasil perjuangannya sendiri, cuma usianya memang masih terlalu muda, hatinya terlalu lunak, selalu kukhawatirkan dia akan tertipu orang.”
Diam-diam Sun-hoan membatin, untunglah bila orang lain tidak tertipu olehnya, masakah dia bakalan tertipu orang?
“Kuharapkan kelak dia akan mendapatkan jodoh yang baik dan jangan sampai tertipu sehingga menderita selama hidup,” demikian kata Si-im lebih lanjut.
Sun-hoan terdiam sejenak, katanya dengan perlahan, “Mengapa engkau bicara urusan ini denganku?”
Si-im juga berdiam sebentar, lalu menjawab, “Sebab apa kubicarakan urusan ini denganmu, memangnya belum lagi kau maklumi?”
Kembali Sun-hoan termenung sejenak, mendadak ia bergelak tertawa dan berseru, “Aha, tahulah aku ... kutahu ....”
Dia memang tahu. Sebabnya Lim Si-im menahannya di sini, rupanya karena tidak menghendaki dia pergi memenuhi janji pertemuan dengan Lim Sian-ji, dengan sendirinya, soal janji pertemuan itu diketahuinya dari Yu Liong-sing.
“Apa pun juga,” kata Si-im pula, “kita kan sahabat lama, maka ingin kumohon sesuatu padamu.”
Pedih hati Sun-hoan, tapi dia malah tersenyum dan berucap, “Kau minta jangan kutemui Lim Sian-ji?”
“Betul,” jawab Si-im.
Sun-hoan menarik napas dalam-dalam, ucapnya, “Kau kira ... kau kira kuincar dia?”
“Tidak kupedulikan bagaimana pendapatmu terhadap dia, cukup kau terima permohonanku,” kata Si-im.
Sun-hoan menenggak habis secawan arak di depannya, lalu bergumam, “Ya, aku ini memang petualang yang sukar diobati pula, jika kupergi mencari dia berarti akan membikin celaka dia ....”
“Jadi kau terima permintaanku?” tanya Si-im.
“Masa kau tidak tahu selama ini kusuka membikin susah orang?” sahut Sun-hoan dengan menggereget.
Sekonyong-konyong sebuah tangan terjulur keluar dan memegang tirai mutiara dengan erat. Sebuah tangan yang halus dan indah, tapi lantaran menggenggam dengan terlalu kencang sehingga urat hijau tampak menonjol pada punggung tangan yang putih mulus itu.
Untaian mutiara tirai sampai terputus dan mutiaranya berserakan di lantai menimbulkan suara gemerencing.
Sun-hoan memandangi tangan itu, perlahan ia berbangkit dan berkata, “Kumohon diri saja!”
Tangan Si-im tergenggam terlebih kencang, ucapnya dengan agak gemetar, “Setelah kau pergi, mengapa ... mengapa kembali lagi? Hidup kami mestinya sangat tenang, meng ... mengapa kau datang lagi untuk mengacau?”
Mulut Sun-hoan terkancing rapat, tapi kulit daging pada ujung mulutnya tampak berkejang ....
Mendadak Si-im menerjang keluar dari balik tirai dan berteriak dengan parau, “Belum cukupkah kau bikin celaka anakku? Dan sekarang hendak kau bikin susah dia pula?”
Mukanya tampak putih pucat dan begitu cantik.
Kerlingan matanya penuh emosi dan juga penuh derita batin.
Selamanya belum pernah dia bersikap kasar begini kepada siapa pun.
Apakah semua ini hanya untuk membela Lim Sian-ji? Masakah yang diperhatikannya cuma Lim Sian-ji saja!
Sun-hoan tidak berpaling. Ia tidak berani menoleh, tidak berani memandangnya.
Ia tahu bilamana sekarang ia memandangnya sekejap, mungkin akan timbul hal-hal yang dapat membuat kedua pihak menderita selamanya, hal ini tidak berani dibayangkannya, apalagi dipikirkannya ....
Dengan cepat ia turun dari loteng paviliun itu sambil berucap perlahan, “Padahal mestinya tidak perlu kau mohon padaku, sebab pada hakikatnya aku tidak pernah menaksir dia!”
Si-im memandangi bayangan punggungnya, mendadak ia jatuh terkulai di lantai.
Air kolam sudah beku, sebuah jembatan kecil melintang di atas air kolam.
Pada musim panas kolam ini penuh bunga teratai yang harum semerbak. Tapi sekarang yang ada cuma semilir angin yang dingin dan kesepian yang tak terhingga.
Sun-hoan duduk termangu-mangu di undakan batu jembatan kecil itu dan memandangi kolam yang sudah beku itu, hatinya juga serupa kolam teratai ini.
“Setelah kupergi, mengapa kukembali lagi ke sini? .... Mengapa kembali lagi? ....”
Terdengar suara kentungan berbunyi, sudah lewat tengah malam.
Dari jauh tertampak cahaya lampu pada paviliun Leng-hiang-siau-tiok sana. Apakah Lim Sian-ji masih menunggu kedatangannya?
Jelas diketahuinya Lim Sian-ji menghendaki kedatangannya malam ini, tentu ada maksud tujuan tertentu, jelas diketahuinya bilamana dia datang ke sana pasti akan terjadi macam-macam hal yang sangat mengejutkan dan juga sangat menarik.
Tapi dia tetap berduduk di sini, memandangi cahaya lampu yang agak guram itu dari kejauhan.
Salju yang menumpuk di undakan batu telah merembeskan rasa dingin ke hatinya. Dia terbatuk-batuk lagi tiada hentinya.
Sekonyong-konyong ada bayangan berkelebat di paviliun sana, cepat sekali bayangan itu melayang ke tempat gelap. Serentak Sun-hoan juga lantas melayang ke sana.
Kecepatannya sungguh sukar dilukiskan, tapi ketika dia mendekati paviliun itu, bayangan tadi sudah menghilang ditelan kegelapan.
“Apakah aku salah lihat?” Sun-hoan menjadi ragu sendiri.
Di bawah pantulan putih salju, tiba-tiba dilihatnya di atas timbunan salju di atap rumah ada bekas telapak kaki yang tidak lengkap. Tapi hanya sebelah bekas kaki ini saja tetap sukar baginya untuk memastikan ke mana menghilangnya orang tadi.
Sun-hoan melayang turun, dilihatnya cahaya lampu di balik jendela masih terang.
Ia mengetuk daun jendela perlahan dan memanggil, “Nona Lim!”
Tidak ada jawaban di dalam rumah.
Sun-hoan memanggil lagi dua kali, tetap tidak ada jawaban. Ia berkerut kening, mendadak ia membuka daun jendela, terlihat di atas meja kecil di dalam rumah juga tersedia beberapa macam santapan, malahan di atas anglo kecil terdapat pula poci arak yang masih panas.
Bau arak memenuhi ruangan, santapan di atas meja juga terdiri dari ham masak ayam dan sebagainya, namun Lim Sian-ji tidak kelihatan berada di situ.
Cepat Sun-hoan melompat ke dalam rumah, segera ditemukan lima buah cawan arak, semuanya ambles ke dalam permukaan meja, dipandang sepintas lalu seperti lukisan sekuntum bunga Bwe.
Bwe-hoa-cat, si maling kumbang bunga sakura!
Apakah mungkin Lim Sian-ji telah diculik oleh maling kumbang itu?
Sun-hoan menekan permukaan meja dan menyalurkan tenaga dalam, seketika kelima cawan arak yang terjepit di permukaan meja itu melenting keluar.
Kelima cawan arak masih tetap utuh seperti baru, cuma permukaan meja telah bertambah lima lubang.
Meja itu bukan meja batu, tapi untuk bisa membikin lima cawan arak ambles, jelas tenaga dalamnya sangat mengejutkan, bahkan Sun-hoan sendiri merasa tidak sanggup. Maka dapat dibayangkan betapa hebat Kungfu si maling kumbang itu.
Tangan Sun-hoan yang memegang cawan arak tanpa terasa berkeringat dingin.
Pada saat itulah, “crit”, mendadak api lilin di atas meja tertimpuk padam, menyusul terdengarlah kesiur angin yang mendesing memenuhi ruangan, entah betapa banyak, senjata rahasia berhamburan ke arah Li Sun-hoan.
Dari suara desing tajam ramai itu, jelas penyerangnya tergolong jago kelas tinggi, bilamana orang lain bukan mustahil dalam sekejap itu tubuhnya akan penuh senjata rahasia seperti badan landak, Akan tetapi senjata rahasia di seluruh jagat ini mana ada yang dapat menandingi pisau terbang si Li kecil?
Sekali Sun-hoan berputar, sekaligus belasan senjata rahasia dapat ditangkap kedua tangannya, menyusul ia terus mengapung ke atas, senjata rahasia yang tidak tertangkap olehnya sama menyambar lewat di bawah kakinya.
Pada saat itulah baru terdengar suara bentakan ramai di luar, “Ayo, maling kumbang, jangan harap akan bisa kabur lagi, lekas keluar menerima kematian!”
“Biarpun kepandaianmu setinggi langit juga sekarang akan kami mampuskan dirimu tanpa terkubur!”
“Supaya kau tahu, Dian-jitya dari Lokyang sekarang juga berada di sini, belum lagi Mo-in-jiu Kongsun-tayhiap, ditambah pula Tio-toaya, Liong-siya dan ....”
Di tengah teriakan itu mendadak seorang membentak dengan bengis, “Jangan berisik, tenang semuanya!”
Meski cuma beberapa kata ucapannya, tapi suara orang ini nyaring sebagai bunyi genta, seketika sirap suara orang banyak.
Sun-hoan menggeleng kepala, pikirnya dengan tersenyum getir, “Ternyata benar Dian-jitya sudah tiba!”
Lalu terdengar orang terakhir tadi berteriak pula, “Jika sahabat sudah datang ke sini, mengapa tidak mau keluar untuk bertemu?”
Perlahan Li Sun-hoan berdehem dua kali, lalu menjawab dengan suara yang dibikin parau, “Jika kalian sudah datang kemari, mengapa tidak mau masuk untuk bertemu?”
Kembali terjadi kegemparan di luar, beramai-ramai mereka berucap, “Awas, bangsat ini sengaja memancing kita masuk ke sana!”
“Betul, musuh di tempat gelap dan kita berada di tempat terang, jangan kita tertipu,” seru seorang lagi.
Pada saat itulah kembali suara orang yang lantang berjangkit pula sehingga suara orang lain tersirap semua, seru suara itu, “Maling kumbang, maling hanya suka main sembunyi-sembunyi dan gelap-gelapan, mana dia berani bertemu dengan orang secara terang-terangan?”
Beramai-ramai yang lain juga ikut memaki, “Ya, maim sembunyi-sembunyi seperti kura-kura, hanya mengkeret di dalam kamar, apa ....”
Dengan mendongkol Sun-hoan berteriak, “Betul, Bwe-hoa-cat biasanya memang suka main sembunyi-sembunyi, tapi apa sangkut pautnya dengan diriku?”
“Memangnya engkau bukan Bwe-hoa-cat? Habis siapa?” tanya suara lantang tadi.
Seorang lantas menukas, “Untuk apa pula Kongsun-tayhiap tanya padanya, masa Tio-toaya bisa salah lihat, tidak perlu diragukan lagi, orang ini pasti maling kumbangnya.”
Mendadak Sun-hoan terbahak-bahak, serunya, “Tio Cing-ngo, memang sudah kuduga semua ini adalah permainanmu!”
Sambil tertawa segesit burung walet ia terus melayang keluar. Serentak sebagian orang di luar berteriak dan menubruk maju, tapi ada sebagian lagi yang melompat mundur dengan menjerit kaget.
Cepat Liong Siau-hun berteriak, “Tunggu sebentar, inilah saudaraku, Li Sun-hoan!”
Dalam pada itu Li Sun-hoan telah menemukan jejak Tio Cing-ngo, ia hinggap di depannya, tegurnya dengan tersenyum, “Tajam benar penglihatan Tio-toaya, apabila aku kurang gesit, mungkin saat ini aku sudah menjadi tumbal bagi Bwe-hoa-cat, jelas kematian yang penasaran!”
Wajah Tio Cing-ngo tampak kelam, jengeknya, “Tengah malam buta main sembunyi di sini, kalau tidak kusangka sebagai Bwe-hoa-cat, habis siapa lagi? Dari mana kutahu sakitmu mendadak sembuh dan diam-diam mengeluyur ke sini?”
“Tidak perlu kumain sembunyi dan berkeluyuran secara diam-diam,” jawab Sun-hoan hambar. “Ke mana pun juga dapat kupergi dengan terang-terangan. Apalagi Tio-toaya kan tidak tahu kedatanganku ini justru atas undangan penghuni tempat ini.”
“Hm, memang tidak kuketahui Anda mempunyai hubungan sebaik ini dengan nona Lim di sini,” jengek Tio Cing-ngo. “Tapi setahuku, malam ini jelas nona Lim tidak berada di sini.”
“Oo?” melengak juga Sun-hoan.
“Lantaran ingin menghindari Bwe-hoa-cat, sejak petang tadi nona Lim sudah pindah dari paviliun ini,” jengek Tio Cing-ngo pula.
“Walaupun begitu, kan seharusnya Anda perlu tanya dulu baru turun tangan?” kata Sun-hoan.
“Terhadap manusia rendah semacam Bwe-hoa-cat, jalan yang paling baik adalah turun tangan dulu dan urusan belakang, bilamana tanya dulu baru turun tangan, maka segalanya sudah terlambat.”
Apa yang dikatakan Tio Cing-ngo selalu masuk di akal dan sukar dibantah.
“Hahahaha, bagus sekali kalimat turun tangan dulu dan urusan belakang!” Sun-hoan terbahak-bahak. “Jika demikian, bilamana tadi kumati di tangan Tio-toaya adalah karena salahku sendiri dan tidak dapat menyesali tindakan Tio-toaya?”
Cepat Liong Siau-hun menengahi pula, ia berdehem dulu, lalu berucap, “Di tengah malam buta memang sering bisa salah lihat, apalagi ....”
“Apalagi, bisa jadi aku tidak salah lihat!” jengek Tio Cing-ngo mendadak.
“Tidak salah lihat?” Sun-hoan menegas. “Memangnya Tio-toaya menganggap orang she Li ini ialah si maling kumbang?”
“Itulah sukar untuk dikatakan,” jengek Tio Cing-ngo pula. “Setiap orang sama tahu Ginkang si maling kumbang itu sangat tinggi, gerak-geriknya sangat cepat, soal apakah dia she Ong atau she Li, siapa pun tidak tahu.”
“Hah, memang betul,” ujar Sun-hoan dengan tenang, “Ginkang orang she Li memang tidak rendah, gerak-gerikku juga tidak lambat, muncul kembalinya si maling kumbang sama juga pada waktu pulangnya orang she Li, kan aneh bilamana Li Sun-hoan bukan Bwe-hoa-cat alias si maling kumbang?”
Ia tertawa, lalu memelototi Tio Cing-ngo dan berucap pula dengan perlahan, “Tapi bila Tio-toaya menganggap orang she Li ialah si maling kumbang, mengapa sekarang tidak lekas turun tangan?”
“Cepat turun tangan atau turun tangan nanti bukan soal, dengan hadirnya Dian-jitya dan Kongsun-tayhiap sekarang, memangnya kau kira dapat lolos begitu saja?” kata Tio Cing-ngo.
Baru sekarang air muka Liong Siau-hun tampak berubah khawatir, cepat ia berkata pula, “Ah, kita hanya bergurau saja, jangan serius. Liong Siau-hun berani menjamin dengan segenap jiwa raganya bahwa Li Sun-hoan pasti bukan Bwe-hoa-cat!”
“Dengan sendirinya urusan ini tidak boleh dibuat bergurau,” ujar Tio Cing-ngo dengan muka masam. “Sudah sepuluh tahun tidak pernah kau lihat dia, mana boleh kau jamin kebenarannya?”
“Tapi ... tapi kutahu persis pribadinya ....” muka Liong Siau-hun tampak merah padam.
Tiba-tiba seorang menukas, “Tahu orangnya, kenal mukanya, tidak tahu hatinya. Tentu Liong-siya pernah mendengar peribahasa ini?”
Yang bicara ini berbadan tinggi kurus, bermuka kuning pucat, tampaknya seperti seorang yang selalu sakit-sakitan, tapi suaranya lantang, kiranya dia inilah Kongsun Mo-in yang terkenal dengan 14 jurus ilmu pukulan Mo-in-jiu yang lihai itu.
Di belakangnya berdiri seorang yang senantiasa tersenyum simpul dengan kedua tangan selalu tergendong di belakang, tampaknya seorang hartawan yang biasa hidup senang dan dipuja, kini tiba-tiba tertawa dan berkata, “Haha, betul, aku Dian Jit juga sahabat puluhan tahun dengan Li-tamhoa, tapi menghadapi peristiwa semacam ini, terpaksa soal persahabatan harus kukesampingkan juga.”
Dengan hambar Sun-hoan menjawab, “Meski tidak sedikit sahabatku, tapi sahabat yang terhormat semacam Dian-jitya kurasa tidak ada satu pun. Maka hendaknya Dian-jitya tidak perlu berbicara tentang persahabatan denganku.”
Muka Dian Jit menjadi kelam, sorot matanya menampilkan nafsu membunuh.
Setiap orang Kangouw sama tahu Dian-jitya tidak kenal ampun, apabila senyuman lenyap dari wajahnya, seketika dia bisa turun tangan membunuh orang. Siapa tahu sekarang dia tidak membunuh orang, malahan bicara saja tidak.
Tertampak Kongsun Mo-in, Tio Cing-ngo dan Dian Jit bertiga telah mengapung Li Sun-hoan di tengah, air muka ketiga orang sama masam dan menggereget benci. Namun ketiganya hanya memelototi pisau di tangan Li Sun-hoan, tampaknya tiada seorang pun ingin mendahului turun tangan.
Sama sekali Sun-hoan tidak memandang mereka, melirik pun tidak, ucapnya dengan adem ayem, “Kutahu saat ini kalau bisa kalian ingin membinasakan diriku, sebab bila aku si maling kumbang ini sudah terbunuh, seketika kalian akan hidup jaya dan si cantik dalam pelukan, bahkan akan mendatangkan pujian dan mendapat nama harum sepanjang masa.”
“Harta dan si cantik adalah urusan sepele,” ucap Tio Cing-ngo dengan menarik muka, “tujuan kami membunuh dirimu hanya demi membasmi kejahatan bagi dunia Kangouw.”
“Haha, sungguh gemilang, sungguh cemerlang, sungguh tidak malu sebagai kesatria bermuka besi yang tidak kenal pilih kasih, sungguh pendekar budiman yang tidak ada bandingannya!” ejek Sun-hoan dengan terbahak. Perlahan ia meraba pisaunya, lalu mendengus, “Dan mengapa Anda tidak lekas turun tangan?”
Sorot mata Tio Cing-ngo berkilat kian kemari mengikuti tangan Li Sun-hoan, ia pun tidak dapat bersuara lagi.
“Aha, tahulah aku,” seru Sun-hoan pula. “Dian-jitya termasyhur dengan toya dan ketiga bola besinya yang menggetarkan dunia Kangouw, tentunya Tio-toaya sedang menunggu Dian-jitya akan turun tangan lebih dulu. Untuk ini tentu saja Dian-jitya akan melakukannya dengan senang hati, begitu bukan?”
Tapi kedua tangan Dian Jit tetap tergendong di belakang, seakan-akan tidak mendengar ucapan Sun-hoan itu.
“Ah, betul, jangan-jangan Dian-jitya juga lagi menanti Kongsun-siansing akan turun tangan lebih dulu,” seru Sun-hoan pula. “Ya, ke-14 jurus pukulan sakti Kongsun-siansing banyak gerak perubahannya dan tidak ada bandingannya, dengan sendirinya Kongsun-siansing yang berkewajiban turun tangan lebih dahulu.”
Namun Kongsun Mo-in mendadak seolah-olah berubah menjadi tuli dan bisu dan tidak bergerak lagi.
“Hahahaha! Sungguh aneh!” seru Sun-hoan dengan bergelak. “Katanya kalian bertekad akan membinasakan diriku, tapi semuanya tidak mau turun tangan, jangan-jangan kalian sama berjiwa luhur, tidak suka berebut jasa dan saling sungkan?”
Kongsun Mo-in bertiga juga benar-benar sabar, betapa pun dimaki dan diejek Li Sun-hoan, mereka tetap tidak menghiraukan, anggap tidak mendengar saja.
Padahal dalam hati ketiga orang itu gemas luar biasa, sungguh mereka ingin sekali depak mampuskan Li Sun-hoan. Tapi mereka juga jeri, sebab “pisau sakti si Li cilik, sekali timpuk tidak pernah meleset”, mereka tahu selama pisau terpegang di tangan Li Sun-hoan, siapa pun tidak berani turun tangan, orang lain lebih-lebih tidak ada yang berani bergerak.
Tiba-tiba Liong Siau-hun berkata dengan tertawa, “Ai, saudaraku, masakah belum lagi kau lihat mereka bertiga cuma bergurau saja denganmu? Ayolah, mari kita pergi minum arak saja untuk menghangatkan badan.”
Sambil bicara ia terus melangkah maju dan merangkul pundak Li Sun-hoan.
Air muka Sun-hoan berubah mendadak, serunya, “He, Toako ....” segera ia bermaksud mendorong Liong Siau-hun, tapi sayang sudah terlambat!
Pada saat itulah, “wutt”, Dian Jit telah melolos toya lemas rotan berbungkus benang emas yang panjangnya cuma empat-lima kaki, seperti ular berbisa memagut, secepat kilat ia sabet kaki Li Sun-hoan.
Dalam keadaan demikian, sia-sia Li Sun-hoan memegang pisau sakti si Li yang merontokkan nyali siapa pun, sebab bahunya dirangkul oleh tangan Liong Siau-hun yang simpatik, dengan sendirinya pisaunya tidak dapat bekerja seperti biasa.
“Plok”, kontan kakinya tersabet toya lemas Dian Jit, saking sakitnya hampir saja ia berjongkok.
Kongsun Mo-in juga tidak tinggal diam, dengan cepat ia menutuk tujuh Hiat-to penting sekaligus di punggung Li Sun-hoan. Menyusul Tio Cing-ngo lantas menambahi sekali tendang sehingga Sun-hoan mencelat dua-tiga tombak jauhnya.
Siau-hun berjingkrak dan meraung, “Mengapa kalian turun tangan secara begini? Lekas lepaskan dia!”
Sambil meraung ia terus menubruk ke arah Li Sun-hoan.
Tio Cing-ngo menjengek, “Hm, lepaskan harimau mudah menangkapnya susah, tidak boleh melepaskan dia!”
“Ya, maaf Liong-siya!” kata Dian Jit.
Berbareng Kongsun Mo-in lantas mengadang di depan Liong Siau-hun. Kedua kepalan Liong Siau-hun menghantam sekaligus, tapi toya rotan Dian Jit sempat mencantol kakinya, sekali tarik, kontan Liang Siau-hun sempoyongan, sebelum dia berdiri tegak lagi, Tio Cing-ngo memberinya satu kali tutukan pada iganya.
Liong Siau-hun jatuh terkulai, teriaknya dengan suara parau, “Tio-toako, ken ... kenapa kau ....”
Dengan muka kelam Tio Cing-ngo menjawab, “Meski kita bersaudara angkat, tapi setia kawan Kangouw jauh di atas urusan persaudaraan, semoga kau maklum hal ini dan janganlah mencari susah sendiri karena membela sampah dunia persilatan ini.”
“Tapi ... tapi dia pasti bukan Bwe-hoa-cat, pasti bukan!” teriak Siau-hun parau.
“Untuk apa banyak omong lagi?” damprat Tio Cing-ngo. “Cara bagaimana dapat kau buktikan dia bukan Bwe-hoa-cat?”
Dengan senyuman yang ramah Dian Jit menukas, “Ya, malahan dia sendiri juga sudah mengaku, untuk apa Liong-siya bersusah payah membelanya?”
“Liong-siya,” Kongsun Mo-in ikut bicara, “engkau orang yang berkeluarga, punya kedudukan dan terhormat, jika kau ikut terambat dan menanggung susah perbuatan manusia kotor ini, kan penasaran?”
Dengan suara serak Siau-hun berteriak, “Asalkan kalian melepaskan dia, betapa besar dosanya, biar orang she Liong menanggung baginya.”
“Kau rela menanggung dosanya?” teriak Tio Cing-ngo dengan bengis, “Akan tetapi bagaimana dengan istrimu? Bagaimana dengan anakmu? Apakah kau tega menyaksikan mereka ikut susah lantaran tindakanmu ini?”
Terkesiap Liong Siau-hun, sekujur badan lantas gemetar.
Terlihat Li Sun-hoan rebah di tanah bersalju dengan kaki terangkat dan lagi terbatuk-batuk tidak berhenti-henti dan tampak napas pun sesak, tapi pisau masih terpegang kencang di tangannya, serupa seorang yang akan mati tenggelam, meski sebatang gelagah saja akan dipegangnya erat-erat, padahal gelagah itu hakikatnya tidak dapat menyelamatkan jiwanya.
Biarpun pisau masih terpegang di tangannya, namun apa daya, selamanya tak dapat lagi disambitkan.
Kesatria yang keras, yang selama hidupnya telah dilaluinya dengan kesepian, apakah akan tamat dengan begini saja?
Tanpa terasa Liong Siau-hun menitikkan air mata, ucapnya gemetar, “O, saudaraku, semuanya gara-garaku, akulah yang membikin celaka dirimu. Ma ... maafkan aku ....”
*****
Sesaat sebelum subuh tiba merupakan saat yang paling gelap, bahkan cahaya lampu di ruangan besar itu pun tidak dapat menembus kegelapan yang tak berujung ini.
Serombongan orang berkumpul di undak-undakan batu di luar sana dan sedang berbisik-bisik membicarakan apa yang baru saja terjadi.
“Dian-jitya memang benar-benar sangat hebat, coba kau lihat betapa cepat gerak toyanya tadi, seumpama Liong-siya tidak kebetulan merangkul pundaknya kuyakin Li Sun-hoan juga tidak mampu menghindarnya.”
“Ya, apalagi di samping masih ada Kongsun-tayhiap dan Tio-toaya.”
“Betul, pantas juga orang bilang kedua kaki Tio-toaya bernilai selaksa tahil emas. Lihat saja tendangannya tadi, sungguh indah dan telak benar.”
“Kenapa heran? Lam-kun-pak-tui (kepalan selatan, kaki utara), kesatria daerah utara kami memang termasyhur karena kehebatan tendangannya.”
“Hah, Dian-jitya, Tio-toaya, ditambah lagi Kongsun-tayhiap, sungguh sial bagi Li Sun-hoan sekaligus bertemu dengan mereka bertiga.”
“Ya, walaupun begitu, andaikan tadi Liong-siya tidak ....”
“Memangnya kenapa dengan Liong-siya? Memangnya dia kurang setia kawan?”
“Soal setia kawan Liong-siya memang tidak perlu disangsikan lagi, sungguh mujur Li Sun-hoan mendapatkan sahabat seperti dia!”
Saat Itu Liong Siau-hun lagi berduduk di kursi besar di tengah ruangan, demi mendengar kata-kata terakhir itu, sungguh hatinya seperti ditusuk jarum, butiran keringat memenuhi dahinya.
Dalam pada itu Li Sun-hoan mendekam di atas lantai dan kembali terbatuk-batuk.
Dengan menangis Liong Siau-hun berkata, “O, saudaraku, akulah yang pantas mampus, sungguh celaka engkau mempunyai sahabat seperti ... seperti diriku. Hidupmu ini hancur gara-gara perbuatanku.”
Sekuatnya Sun-hoan menahan batuknya, katanya dengan tersenyum, “Toako, kuharap engkau mengerti, apabila aku diberi kesempatan hidup sekali lagi mulai dari awal, maka tanpa ragu aku tetap akan bersahabat denganmu.”
Dengan penuh emosi Liong Siau-hun menangis tergerung-gerung, serunya, “Akan tetapi, kalau ... kalau tadi tidak kurintangimu, mana ... mana bisa ....”
“Kutahu, apa pun yang dilakukan Toako adalah demi kebaikanku, maka bagiku hanya ada terima kasih,” ucap Sun-hoan dengan suara lembut.
“Tapi mengapa tidak kau beri tahukan kepada mereka bahwa engkau bukan Bwe-hoa-cat, mengapa ... mengapa kau ....”
“Mati atau hidup adalah urusan jamak, hidupku ini memang sudah cukup, hidup tidak perlu digembirakan, mati juga tidak perlu gentar, untuk apa aku bertekuk lutut di depan manusia rendah dan kotor ini?”
Sejak tadi Dian Jit hanya memandangi mereka dengan mengulum senyum, kini mendadak ia berkeplok tertawa, “Haha, makian tepat, makian bagus!”
Kongsun Mo-in mendengus, “Hm, dia cukup maklum apa yang dikatakannya toh tidak bakalan kita lepaskan dia, terpaksa ia menirukan perempuan bawel saling maki di pinggir jalan, biar mati juga ingin mendapatkan kepuasan mulut!”
“Betul, urusan sudah kadung begini, yang kuharap hanya kematian saja,” kata Sun-hoan. “Kini tanganku sudah tidak memegang pisau, mengapa kalian belum lagi turun tangan?”
Muka Kongsun Mo-in yang kurus kering itu menjadi bersemu merah.
Sedangkan muka Tio Cing-ngo masih tetap masam, ucapnya, “Jika sekarang juga kami bunuh dirimu, bisa jadi ada orang Kangouw yang tidak tahu seluk-beluknya akan bilang kami membunuh dirimu demi kepentingan pribadi Maka untuk membunuhmu harus kami lakukan secara terang dan adil.”
“Tio Cing-ngo, sungguh aku sangat kagum padamu,” ejek Sun-hoan. “Isi perutmu penuh kotoran, tapi bicaramu seolah-olah orang suci bersih, muka tidak merah sedikit pun.”
“Bagus, orang she Li, kau memang kepala batu,” kata Dian Jit. “Jika kau ingin lekas mampus, ada juga suatu caraku.”
“Mestinya juga hendak kumaki dirimu, tapi kukhawatir akan membikin kotor mulutku sendiri.” ujar Sun-hoan dengan menyesal.
Dian Jit berlagak tidak mendengar, ia berkata pula dengan tersenyum, “Asalkan kau mau menulis suatu pernyataan menyesal dan mengakui dosamu, sekarang juga akan kami bikin kau mati dengan enak agar tidak penasaran kematianmu.”
Tanpa pikir Sun-hoan lantas menjawab, “Baik, akan kuuraikan, boleh kau tulis ....”
“Jangan, saudaraku!” seru Liong Siau-hun.
Sun-hoan tidak menghiraukannya, ucapnya pula, “Dosaku memang sudah kelewat takaran dan sukar dihitung, aku munafik, pura-pura bajik, padahal berhati keji dan licik, suka memfitnah dan mengadu domba, menyergap pada waktu orang tidak bersiap. Tidak berbudi, tidak tahu diri, segala perbuatan kotor dan rendah hampir seluruhnya pernah kulakukan, tapi masih sok anggap seorang tokoh yang lain daripada yang lain ....”
“Plok”, mendadak tangan Tio Cing-ngo menggampar muka Li Sun-hoan dengan telak.
Liong Siau-hun meraung gusar, “Seorang kesatria hanya boleh dibunuh dan tidak boleh dihina, mana boleh kalian menyiksa dia secara demikian?”
“Tidak apa,” ujar Sun-hoan tetap dengan tersenyum, “tamparannya kuanggap sebagai digigit sekali oleh anjing gila.”
Teriak Tio Cing-ngo dengan murka, “Dengarkan, orang she Li, anggaplah aku belum mau membunuhmu, tapi aku mampu membuatmu minta hidup tidak dapat, mohon mati pun sukar, kau percaya tidak?”
Li Sun-hoan terbahak-bahak, “Hahahaha! Jika kujeri terhadap kawanan manusia rendah dan kotor semacam kalian ini, percumalah aku menjadi seorang lelaki. Coba kalian masih mempunyai cara apa, silakan keluarkan saja.”
“Baik,” bentak Tio Cing-ngo, segera ia menanggalkan baju luarnya yang baru saja dipakainya.
Liong Siau-hun berduduk di kursi dengan badan gemetar, teriaknya, “Maafkan saudaraku, engkau seorang kesatria, tapi aku ... aku seorang pengecut, aku ....”
Sun-hoan tersenyum, “Hal ini tak dapat menyalahkan dirimu, Toako, apabila aku beranak-istri, aku pun akan bertindak seperti Toako.”
Dalam pada itu tangan Tio Cing-ngo yang kuat sebagai baja sudah mulai meremas tulang pundaknya, rasa sakitnya sungguh tukar ditahan, meski keringat dingin sudah mengucur, namun Li Sun-hoan tetap bertahan, tetap tersenyum simpul.
Orang-orang yang berdiri di luar ruangan sudah banyak yang berpaling ke arah lain. Kesatria Kangouw umumnya mengutamakan “berani”, keberanian seperti Li Sun-hoan ini sungguh jarang terlihat.
Pada saat itulah sekonyong-konyong di luar ada orang berseru, “He, nona Lim, engkau pulang dari mana? .... Siapakah tuan ini?”
Tertampak baju Lim Sian-ji morat-marit dengan rambut kusut-masai sedang melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Di sampingnya mengikut seorang anak muda, meski hawa sangat dingin, namun baju yang dipakainya sangat tipis, jalannya tegap seakan-akan di dunia ini tiada sesuatu urusan yang dapat membuatnya membungkuk tubuh.
Mukanya kaku serupa batu ukiran, keras, dingin, teguh, tapi juga membawa semacam daya tarik aneh yang sukar dilawan. Yang lebih mengherankan lagi adalah dia datang dengan memanggul sesosok mayat.
A Fei! Anak muda ini ternyata A Fei adanya.
Mengapa A Fei bisa datang kemari?
Terguncang hebat perasaan Li Sun-hoan, entah kejut entah girang? Tapi cepat ia berpaling, sebab ia tidak ingin A Fei melihat keadaannya sekarang. Ia tidak mau A Fei turun tangan dengan menyerempet bahaya baginya.
Tapi A Fei toh melihatnya juga. Seketika air mukanya yang kaku dan dingin itu berubah penuh emosi, ia menerjang maju dengan langkah lebar.
Tio Cing-ngo tidak berani merintanginya, sebab dia sudah pernah merasakan betapa lihai ilmu pedang anak muda ini. Tapi Kongsun Mo-in belum tahu, segera ia melompat maju dan mengadang di depan A Fei sambil membentak, “Siapa kau? Apa kehendakmu!”
“Kau sendiri siapa? Kau mau apa?” jawab A Fei.
“Ingin kubelajar kenal dengan ilmu pedangmu!” seru Kongsun Mo-in, berbareng ia lantas turun tangan.
Tidak ada yang mencegahnya. Hal ini tidak perlu diherankan, rebab Tio Cing-ngo justru berharap agar mereka saling gebrak. Dian Jit juga ingin pinjam tangan orang lain untuk mengukur kepandaian anak muda tak dikenalnya ini.
Dan bagaimana dengan Lim Sian-ji? Dia cuma memandang Li Sun-hoan dengan terkejut dan sama sekali tidak memerhatikan orang lain. Mengenai Liong Siau-hun, dia seperti tidak berniat ikut campur urusan orang lain lagi.
Anehnya, A Fei ternyata tidak mengelakkan serangan Kongsun Mo-in. “Blang”, terdengar suara keras, kepalan Kongsun Mo-in tepat mengenai dada A Fei. Tapi A Fei bergeming sedikit pun, sebaliknya Kongsun Mo-in kesakitan sendiri sehingga menungging.
A Fei tidak memandangnya lagi, ia lewat di sampingnya dan mendekati Li Sun-hoan, tanyanya, “Dia kawanmu?”
Sun-hoan tersenyum, “Kau kira ada kawanku semacam ini?”
Dalam pada itu Kongsun Mo-in telah meraung murka dan menubruk maju pula, kembali ia menghantam punggung A Fei. Mendadak A Fei membalik tubuh dan terdengar pula suara “blang”. Kontan tubuh Kongsun Mo-in mencelat.
Sama berubah air maka para hadirin, siapa pun tidak menyangka tokoh “Mo-in-jiu” yang disegani di dunia Kangouw dapat berubah seperti patung di depan anak muda ini, masa tidak tahan sekali genjot saja.
Hanya Dian Jit saja yang lantas bergelak tertawa dan berseru, “Sungguh cepat amat pukulan sahabat muda ini, sungguh kesatria muda yang mengagumkan,” lalu ia menjura dan menyambung pula, “Cayhe Dian Jit, entah siapa nama saudara cilik yang terhormat, sudikah berkawan dengan Dian Jit?”
“Aku tidak punya nama, juga tidak suka berkawan dengan orang macammu ini,” sahut A Fei dengan ketus.
Air muka para hadirin berubah lagi, tapi Dian Jit tetap tersenyum dan berkata, “Anak muda suka bicara secara blak-blakan, memang harus dipuji. Cuma sayang telah keliru memilih sahabat.”
“Oo?!” A Fei merasa tidak mengerti.
“Dia sahabatmu, bukan?” tanya Dian Jit sambil menuding Li Sun-hoan.
A Fei mengiakan.
“Apakah kau tahu siapa dia?”
“Tahu!” jawab A Fei.
“Dan kau pun tahu dia inilah Bwe-hoa-cat?” tanya pula Dian Jit dengan tertawa.
“Bwe-hoa-cat?” A Fei melengak.
“Urusan ini memang sukar untuk dipercaya bila diceritakan, namun fakta nyata, siapa pun sukar menyangkalnya,” kata Dian Jit.
A Fei menatapnya tajam-tajam seperti ingin menembus hatinya.
Mau tak mau terasa ngeri juga Dian Jit, ucapnya, “Jika Anda tidak percaya, boleh tanya langsung kepadanya ....”
“Tidak perlu kutanyai dia, jelas dia pasti bukan Bwe-hoa-cat!” jengek A Fei.
“Sebab apa?” tanya Dian Jit.
Mendadak A Fei melemparkan mayat yang dipanggulnya itu dan berkata. “Sebab inilah Bwe-hoa-cat yang sebenarnya!”
Para hadirin sama melengak pula, beramai-ramai mereka lantas berkerumun ke depan.
Tertampak mayat ini kurus kering, mukanya malang melintang penuh bekas luka sayatan pisau sehingga tukar diketahui bagaimana bentuk wajah aslinya. Yang dipakai adalah baju hitam ringkas sehingga tulang iga saja kelihatan menonjol.
Mulutnya tampak terkatup rapat, mati pun mengertak gigi kencang-kencang, tiada kelihatan sesuatu bekas luka pada tubuhnya, hanya bagian leher ditembus oleh sebuah lubang.
Dian Jit tertawa pula, katanya, “Kau bilang orang mati inilah Bwe-hoa-cat yang sebenarnya?”
“Betul,” jawab A Fei.
“Hahaha, betapa pun engkau masih muda belia, kau kira orang lain pun sama gampangnya tertipu seperti dirimu,” seru Dian Jit dengan tertawa. “Apabila setiap orang sama membawa pulang seorang mati dan mengatakan dia Bwe-hoa-cat, kan dunia ini bisa kacau?”
Kulit muka A Fei tampak berkerut-kerut, ucapnya kemudian, “Selamanya aku tidak menipu orang, juga selamanya tidak bisa tertipu!”
Dian Jit menarik muka, “Lantas, cara bagaimana akan kau buktikan orang mati ini adalah Bwe-hoa-cat?”
“Coba kau lihat mulutnya!” kata A Fei.
Kembali Dian Jit terbahak-bahak, “Untuk apa kulihat mulutnya? Memangnya mulutnya masih bisa bergerak, masih dapat bicara?”
Orang lain pun sama tertawa, tidak semuanya merasa geli, tapi bila Dian Jit tertawa segembira ini, mau tak mau mereka harus ikut tertawa.
Mendadak Lim Sian-ji memburu maju dan berseru, “Kutahu ucapannya memang benar, orang mati ini memang betul Bwe-hoa-cat.”
“Oo?” Dian Jit merasa heran. “Memangnya orang mati ini yang memberitahukannya padamu?”
“Betul, memang dia sendiri yang memberitahukan padaku!” jawab Sian-ji, dia tidak memberi kesempatan tertawa kepada orang lain dan segera menyambung. “Pada waktu Cin Tiong mati sudah dapat kulihat dia terkena semacam senjata rahasia yang berbisa sangat keji. Tapi masih dapat dimengerti apabila Cin Tiong tidak mampu menghindarkan serangan senjata rahasia semacam ini, mengapa tokoh kosen semacam Go Bun-thian juga tidak dapat mengelakkan senjata rahasia semacam ini? Sejauh itu tidak dapat kupecahkan teka-teki ini, sebab hal inilah yang merupakan rahasianya Bwe-hoa-cat.”
Sinar mata Dian Jit tampak gemerdep, “Dan sekarang teka-teki itu sudah dapat kau pecahkan?”
“Betul, rahasia Bwe-hoa-cat justru berada pada mulutnya,” tutur Sian-ji. Mendadak ia mengeluarkan sebilah pisau kecil untuk mencungkil mulut orang mati itu.
Ternyata pada mulut orang mati ini tergigit sebatang pipa baja bercat hitam.
Lalu Sian-ji berkata lagi, “Lantaran pada waktu dia bicara dengan orang lain, mendadak senjata rahasia menyambar keluar dari mulutnya, maka orang lain sama sekali tidak mengetahuinya dan juga tidak mampu mengelak.”
“Jika mulutnya menggigit pipa baja pembidik senjata rahasia, lalu cara bagaimana dia bicara dengan orang lain?” ujar Dian Jit.
“Justru di sinilah letak rahasia di dalam rahasianya,” kata Sian-ji. Dia mengerling, lalu menyambung dengan perlahan, “Soalnya dia tidak bicara dengan mulut, tapi bicara dengan perut. Mulutnya hanya digunakan untuk membunuh orang!”
Uraian Sian-ji ini meski kedengarannya sangat lucu dari tidak masuk di akal, namun jago Kangouw kawakan semacam Dian Jit malah tidak merasa geli sedikit pun. Sebab jago Kangouw kawakan sama tahu di dunia ini memang ada semacam ilmu ajaib yang disebut “bicara dengan perut”.
Konon ilmu “bicara dengan perut” ini berasal dari negeri sekitar Persi dan India, biasanya dimainkan oleh tukang sulap dan pemain akrobat pengembara, suara yang timbul dari dalam perut tanpa menggerakkan bibir itu kedengarannya rada lucu, tapi bila dikendalikan dengan tenaga dalam oleh tokoh dunia persilatan, maka suara yang keluar dengan sendirinya akan jauh berbeda.
“Coba jawab,” kata Sian-ji pula, “pada waktu Dian-jitya hendak bertempur dengan orang, ke bagian mana Dian-Jitya akan memandangnya?”
“Dengan sendirinya memandangi tubuh pihak lawan,” jawab Dian Jit.
“Bagian tubuh yang mana?” tanya pula Sian-ji.
“Pundaknya, dan bagian tangannya!”
“Itulah dia,” kata Sian-ji dengan tertawa. “Pertarungan di antara jago kelas tinggi, siapa pun takkan menatap mulut lawan. Hanya perkelahian antara dua ekor anjing saja yang akan saling memelototi mulut pihak lawan. Sebab manusia bukan anjing, manusia tidak berkelahi dengan menggigit seperti anjing.”
Para hadirin ikut tertawa lagi. Apa yang dikatakan perempuan cantik seperti Lim Sian-ji, jika mereka tidak merasa geli, kan menunjukkan diri mereka terlalu picik.
Siapa tahu Lim Sian-ji lantas menarik muka malah dan berkata pula dengan menyesal, “Tetapi Bwe-hoa-cat ini justru membunuh orang dengan menggunakan mulutnya, hanya lantaran tidak ada yang menyangka di dunia bisa terjadi hal demikian maka dengan mudah dapat diperdayai olehnya. Semakin kosen lawannya, semakin mudah pula teperdaya. Sebab kalau dua jago kelas tinggi berhadapan, tidak nanti matanya akan memandang bagian pundak ke atas pihak lawan.”
“Dari mana kau tahu rahasia ini?” tanya Dian Jit.
“Kuketahui rahasianya setelah dia membidikkan senjata rahasianya ....”
“Jika begitu, apakah sahabat muda ini memang seekor anjing yang selalu mengawasi mulutnya?” tanya Dian Jit dengan sinis.
Sian-ji tersenyum, “Barangkali Dian-jitya belum lagi mengetahui dia memakai baju kutang Kim-si-kah?”
Terbeliak mata Dian Jit, “Aha, betul, pantaslah pukulan Kongsun-heng tadi bukannya merobohkan lawan, sebaliknya tangan sendiri yang kesakitan malah.”
“Hari ini mestinya aku tidak mau pergi ke paviliun Leng-hiang-siau-tiok, tapi setelah malam tiba, mendadak teringat ada sesuatu barang yang tertinggal di sana, sama sekali tak kuduga setiba di sana segera juga Bwe-hoa-cat lantas muncul.”
Sambil bicara, wajahnya yang cantik itu tampak menampilkan rasa takut, sambungnya lagi, “Bicara sesungguhnya, waktu itu tidak kulihat dia, hanya kurasakan seorang mendadak berada di belakangku, belum sempat kubalik tubuh, tahu-tahu Hiat-to kelumpuhanku sudah tertutuk olehnya.”
“Jika demikian, Ginkang orang ini jelas sangat hebat!” ujar Dian Jit.
Sian-ji menghela napas gegetun, “Gerak tubuhnya sungguh tidak ada ubahnya seperti hantu, dengan begitu saja aku lantas terkempit olehnya dan dibawa kabur. Waktu itu juga sudah kuduga dia pastilah Bwe-hoa-cat, maka lantas kutanyai dia, ‘Hendak kau apakan diriku? Mengapa tidak kau bunuh diriku?’”
“Bagaimana jawabnya?” tanya Dian Jit.
Sian-ji menggigit bibir, “Dia tidak bicara apa-apa, hanya tertawa seram.”
Gemerdep sinar mata Dian Jit, “Oo, kiranya dia tidak memberitahukan padamu bahwa dialah Bwe-hoa-cat?”
“Dia tidak perlu memberitahukan padaku. Yang kupikirkan waktu itu hanya lekas mati saja, tetapi sekujur badanku justru tidak bertenaga. Pada saat itulah tiba-tiba terlihat bayangan orang berkelebat dan seorang muncul di depan kami.”
“Yang muncul ini tentulah sahabat muda ini?” Dian Jit menegas.
“Betul, memang dia,” Sian-ji melirik A Fei sekejap, sorot matanya penuh rasa terima kasih. “Kedatangannya sungguh teramat cepat, agaknya Bwe-hoa-cat itu juga terkejut, segera dia melemparkan diriku ke tanah, lalu kudengar dia menegurnya, ‘Apakah kau ini Bwe-hoa-cat?’ dan dijawab oleh Bwe-hoa-cat, ‘Jika betul mau apa? Kalau bukan lantas bagaimana? Apa pun kau adalah orang yang dekat ajal ....’
“Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong kulihat secomot cahaya hitam menyambar keluar dari mulutnya. Aku terkejut dan juga takut, kulihat cahaya gilap itu sama mengenai tubuh ... tubuh Kongcu ini, kusangka dia pasti juga akan binasa di tangan Bwe-hoa-cat serupa korban yang lain, siapa tahu dia tidak bergerak sedikit pun, dia masih tetap berdiri dengan tegak.
“Menyusul lantas terlihat sinar pedang berkelebat, kontan Bwe-hoa-cat lantas roboh. Betapa cepat gerak pedangnya sungguh tak dapat kulukiskan.”
Bicara sampai di sini, tanpa terasa semua orang terbelalak memandangi pedang “mainan” yang tergantung di pinggang A Fei, siapa pun tidak percaya pedang rongsokan itu dapat digunakan untuk membunuh, bahkan yang dibunuh ialah Bwe-hoa-cat!
Sambil menggendong tangan di belakang punggungnya Dian Jit juga sedang mengamat-amati pedang A Fei, tiba-tiba terunjuk senyum lagi pada ujung mulutnya, katanya, “Wah, tampaknya jauh sebelumnya sahabat muda ini sudah menunggunya di sana?”
“Betul,” jawab A Fei.
“Dan begitu Anda melihat mereka, segera kau lompat keluar untuk mencegatnya serta menegur dia apakah Bwe-hoa-cat atau bukan?”
“Betul,” kata A Fei.
“Apakah Anda selalu menunggu dalam kegelapan, dan begitu melihat orang pejalan malam lantas kau tegur apakah dia Bwe-hoa-cat bukan?” tanya Dian Jit pula dengan tersenyum.
“Mana aku mempunyai tempo sebanyak itu untuk menunggu?” ujar A Fei.
“Jika kebetulan Anda ada tempo, kebetulan pula memergoki orang pejalan malam, lalu cara bagaimana akan kau tanyai dia?”
“Untuk apa kutanya dia? Memangnya apa sangkut pautnya denganku?”
“Aha, tepatlah kalau begitu,” seru Dian Jit sambil berkeplok. “Jika Anda ingin menegur, tentu akan kau tanya siapa dia. Misalnya tadi Anda menegur Kongsun Mo-in juga cuma bertanya, ‘Siapa kau?’ dan tidak bertanya, ‘Apakah kau ini Bwe-hoa-cat?’ ....”
“Kan sudah jelas diketahui dia bukan Bwe-hoa-cat, untuk apa kutanya dia?” ujar A Fei.
Mendadak Dian Jit menarik muka, katanya sambil menuding orang mati di lantai itu, “Jika demikian, mengapa kau tanya orang ini? Apakah sebelumnya sudah kau ketahui dia inilah Bwe-hoa-cat? Dan kalau Anda sudah tahu dia ini Bwe-hoa-cat, untuk apa pula bertanya?”
“Sebab ada orang memberitahukan padaku bahwa dalam dua hari ini Bwe-hoa-cat pasti akan muncul di sekitar sini.”
“Siapa yang memberitahukan padamu?” tanya Dian Jit sambil melirik Li Sun-hoan. “Apakah Bwe-hoa-cat sendiri? Atau teman si Bwe-hoa-cat?”
Padahal dia tahu A Fei pasti takkan menjawab pertanyaannya ini, tapi baginya asalkan mengajukan pertanyaan itu sudah tercapailah tujuannya dan sesungguhnya tidak memerlukan jawaban.
Sedangkan pandangan semua orang lantas terarah kepada A Fei dan Li Sun-hoan lantaran pertanyaan Dian Jit itu, mereka menganggap apa yang dilakukan A Fei itu hanya persekongkolannya dengan Li Sun-hoan belaka, apa pun penjelasan A Fei tak ada lagi yang mau percaya bahwa mayat yang dibawanya itulah Bwe-hoa-cat.
Merasa mendapat angin, Dian Jit terus mendekati salah seorang hadirin, seorang pemuda berbaju perlente dan bertanya, “Kau Bwe-hoa-cat bukan?”
Keruan pemuda itu terkejut, jawabnya dengan gelagapan, “Mana ... mana bisa ....”
Belum lanjut ucapannya, mendadak Dian Jit menutuk Hiat-to kelumpuhannya, lalu bergumam, “Nah, kembali ada seorang Bwe-hoa-cat dapat kutangkap!”
Kemudian ia berpaling dan berseru kepada para hadirin, “Lihatlah, apakah hadirin percaya Bwe-hoa-cat dapat kutangkap dengan semudah ini?”
Maka ramailah gelak tertawa orang banyak, sebagian di antara mereka lantas saling tegur, “Hai, kau Bwe-hoa-cat bukan? ....”
“Kukira engkau sendirilah Bwe-hoa-cat!”
“Wah, tampaknya makin lama Bwe-hoa-cat di sini bertambah banyak!”
“Ya, jika cara menangkap Bwe-hoa-cat sedemikian gampang, biarlah aku pun akan menangkap satu untuk main-main.”
Begitulah ejekan dan sindiran terdengar di sana-sini.
Muka A Fei tampak masam, tangan sudah meraba tangkai pedangnya.
Tiba-tiba Sun-hoan berkata kepadanya, “Lebih baik kau pergi saja, saudaraku!”
“Pergi?” sinar mata A Fei gemerdep.
“Jika di sini sudah ada Dian-jitya dan pendekar besar semacam Tio-toaya kita ini, mana mungkin Bwe-hoa-cat akan terbunuh oleh seorang anak muda hijau pelonco seperti dirimu ini? Apa pun yang kau katakan tetap tidak ada gunanya,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.
Dengan tangan memegang tangkai pedang A Fei berkata, “Aku pun tidak ingin bicara lagi dengan orang-orang macam begini, namun pedangku ....”
“Biarpun kau bunuh mereka juga tidak berguna,” kata Sun-hoan, “tetap tidak ada orang yang mau mengakui engkau yang membunuh Bwe-hoa-cat, masa hal ini tidak kau ketahui?”
Sorot mata A Fei mulai berubah menjadi guram, ucapnya perlahan, “Ya, kutahu, kupaham ....”
Sun-hoan tertawa, “Makanya jika kau ingin mendapat nama, kau harus mengerti dulu hal ini, kalau tidak, tentu akan serupa diriku, cepat atau lambat akan berubah menjadi Bwe-hoa-cat.”
“Maksudmu, jika aku ingin mendapat nama, lebih dulu aku harus penurut, begitu?
“Tepat sekali,” kata Sun-hoan dengan tertawa. “Asalkan segala urusan yang dapat menonjolkan nama kau serahkan kepada para pendekar besar kita, maka para pendekar besar ini akan menganggap dirimu ini anak muda yang polos, berbakat, dan akan diberi giliran kepadamu untuk menonjol ke atas.”
A Fei terdiam sejenak, tiba-tiba ia tertawa. Tertawa cerah, tapi juga kelihatan hampa.
“Wah, jika begitu, mungkin selamanya aku takkan menonjol,” katanya dengan tersenyum.
“Itu pun tidak buruk,” ujar Sun-hoan.
Melihat senyum A Fei, tertawa Sun-hoan juga bertambah cerah, seperti tertawa geli atas peristiwa yang paling lucu di dunia ini.
Selagi semua orang terheran-heran dan menyangka kedua orang ini mungkin kurang waras, sekonyong-konyong A Fei mendekati Li Sun-hoan dan menarik tangannya sambil berkata, “Ah, peduli namaku akan menonjol atau tidak, yang penting mumpung kita dapat berkumpul sekarang, marilah kita pergi minum arak.”
“Hah untuk minum arak, selamanya aku tidak pernah menolak,” kata Sun-hoan dengan tertawa, “Cuma hari ini ....”
“Hari ini mungkin dia tidak dapat mengiringi kehendakmu,” tukas Dian Jit dengan tersenyum.
“Siapa bilang?” jengek A Fei dengan menarik muka.
Dian Jit tersenyum, ia memberi tanda, serentak dua lelaki menerjang masuk, seorang bergodek dan membawa golok, teriaknya, “Dian-jitya yang bilang! Apa yang dikatakan Dian-jitya, itulah perintah!”
Yang seorang lagi berperawakan tinggi kurus, ia pun membentak, “Dan barang siapa berani membangkang terhadap perintah Dian-jitya, baginya hanya ada mati!”
Kedua orang ini semula berdiri dengan tegak di luar pintu ruangan serupa kaum budak, tapi sekarang gerak-geriknya ternyata sangat tangkas, jelas tergolong jago kelas satu di dunia Kangouw.
Di tengah bentakan mereka, dua golok segera menyambar dari kanan dan kiri dengan membawa deru angin tajam, secepat kilat mereka membacok A Fei.
Namun A Fei hanya menatap mereka dengan dingin, seperti tidak menghiraukan serangan mereka. Tapi mendadak sinar perak berkelebat dua kali, menyusul lantas terdengar dua kali jeritan ngeri, kedua golok terlepas dari pegangan dan mencelat ke atas dan “crat”, semuanya menancap di belandar.
Kedua lelaki itu sama memegangi pergelangan tangan kanan sendiri dengan kesakitan, sampai sekian lama barulah darah merembes dari celah-celah jari dan menetes.
Waktu semua orang memandang pedang si A Fei, ternyata senjata itu masih tergantung di pinggang, siapa pun tidak melihat jelas pedang itu pernah dilolosnya atau tidak, cuma kelihatan pada ujung pedangnya melengket setitik darah segar.
Sungguh pedang yang cepat, pedang kilat!
Seketika senyuman Dian Jit juga membeku sehingga lebih tepat dikatakan menyengir.
“Jika ucapan Dian-jitya adalah perintah, maka pedangku justru tidak mau tunduk kepada perintah siapa pun, dia hanya bisa membunuh orang!” kata A Fei dengan hambar.
Waktu kedua lelaki itu menyurut mundur dan mengendurkan tangan kiri, tertampak pada pergelangan tangan kanan ada setitik bekas luka, tidak miring dan tidak serong, luka itu tepat berada di tengah kedua urat besar, jika ujung pedang miring ke samping sedikit, urat nadi mereka pasti sudah putus dan tangan mereka pun cacat selamanya.
Sungguh serangan A Fei bukan saja sangat cepat, juga jitu tempatnya.
Tanpa terasa air muka kedua orang itu menampilkan rasa ngeri, kembali mereka menyurut mundur beberapa langkah, mendadak mereka berebut lari lebih dulu. Meski pedang tak bisa bicara, tapi ternyata jauh lebih menakutkan daripada perintah siapa pun.
Kembali A Fei menarik tangan Sun-hoan, katanya, “Mari pergi minum arak, aku tidak percaya ada orang berani lagi merintangi kita.”
Belum lagi Sun-hoan menjawab, mendadak Liong Siau-hun berteriak, “Kau ajak dia pergi, mengapa tidak kau buka Hiat-to kelumpuhannya yang tertutuk?”
Kulit daging ujung mulut A Fei tampak berkedut, sekejap itu hati Sun-hoan juga berdetak, tiba-tiba teringat olehnya kejadian tempo hari ....
Waktu itu A Fei telah menawan Ang Han-bin baginya dan ditinggalkan di dapur Sun Gwe, Ang Han-bin tidak ditutuk olehnya melainkan cuma diringkus dengan tali dan diikat di atas kursi.
Tatkala mana Sun-hoan sudah merasa heran mengapa A Fei tidak menutuk Hiat-to tawanannya? Kini barulah ia tahu duduknya perkara.
Rupanya pemuda yang dapat memainkan pedangnya secepat kilat ini tidak mahir Tiam-hiat atau ilmu menutuk Hiat-to manusia.
Mendelu hati Sun-hoan, namun air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu tanda, ia cuma menjawab dengan tersenyum, “Hari ini aku tidak sanggup mentraktir kau minum arak.”
A Fei terdiam sejenak, ucapnya kemudian sekata demi sekata, “Aku yang mentraktir engkau!”
“Tidak, bukan arak yang kubeli sendiri tidak mau kuminum,” kata Sun-hoan.
A Fei memandangnya lekat-lekat, sorot matanya yang dingin tiba-tiba menampilkan secercah rasa pedih. Nyata ia pun tahu Li Sun-hoan sengaja tidak menghendaki dia menyerempet bahaya.
Maklumlah, berhubung dia tidak sanggup membuka Hiat-to Sun-hoan yang tertutuk, untuk mengajaknya pergi terpaksa ia harus menggendongnya, dan jika dia menggendong Li Sun-hoan, dengan tambahan beban ini belum pasti dia mampu menerjang ke luar.
Gemerdep sinar mata Dian Jit, dia sedang mencari apa kiranya yang akan dilakukan orang, tiba-tiba ia tersenyum dan berkata, “Li Sun-hoan adalah seorang lelaki sejati tidak nanti dia membikin susah orang lain, maka saudara cilik ini lebih baik pergi sendiri saja.”
Sun-hoan tahu rase tua ini sudah dapat melihat titik lemah A Fei, cepat ia menimpali dengan tersenyum. “Tidak perlu kau pancing dia, tidak nanti dia terjebak olehmu. Apalagi biarpun dia menggendong diriku juga belum tentu kalian mampu melawannya.”
Sebelum orang lain buka suara, segera ia menyambung pula, “Apalagi, kalian juga tahu betapa pun aku takkan pergi. Jika kupergi sekarang, bukankah para pendekar besar seperti kalian ini akan tambah bukti bahwa aku ini memang Bwe-hoa-cat?”
Subscribe to:
Posts (Atom)