Oleh : Gan KL
Jing-ping-kiam-khek Pek Sam-khong maksudmu? ...." seru Ban-lo-hu-jin kaget, "kalau demikian, keberangkatan Pui-Po-giok ke Pek-cui-kiong berarti akan mempertemukan tiga generasi mereka dari kakek anak dan cucu."
Oh-Put-jiu menghela napas, "Sayang sekali meski mereka bertemu, satu dengan yang lain justru tidak boleh saling kenal, Po-ji belum tahu siapa orang yang dilihat dan dihadapinya...."
Mendadak kawanan bajak yang ada di luar berteriak-teriak ribut, "He, apa itu? ...itu? ..."
Maka Cui-Thian-ki memapah Oh-Put-jiu yang masih lemah keluar, tampak di tengah laut terapung sebuah bungkusan besar, bungkusan pancawarna, itulah buntalan berisi Bu-kang-pit-kip warisan Ci-ih hou yang dia bungkus dengan layar pancawarna. Seseorang tampak memeluk erat buntalan besar itu, mukanya tampak membengkak dan mulai rusak, tapi dari bentuk dan perawakannya masih dapat dikenal adalah Ka-sing Tai-su.
Oh-Put-jiu menghela napas panjang, "Akhirnya ia memperoleh juga apa yang diharapkannya."
"Ya, tapi dia sudah mati. Memperoleh apa yang diharapkan setelah mati."
"Seorang kaku bisa memperoleh sesuatu yang diharapkan pada waktu hidupnya, meski hanya sekejap saja, walau harus segera mati, berarti dia sudah memperolehnya dengan abadi, mati pun tidak perlu menyesal."
*****
Po-giok terus menyelusuri lorong panjang yang berliku-liku, akhirnya ia tiba juga di kediaman Cui-nio-nio. Betapa megah dan indah istana di air ini, sungguh sukar dilukiskan.
Seorang tampak duduk di tengah aula yang besar badannya seperti dibalut kain sari yang halus dan lembut, wajahnya juga tertutup cadar dari sutera.
Walau di sini tiada angin namun kain sari tampak melambai-lambai, padahal orang itu bercokol di tempatnya tanpa bergerak, namun selintas pandang orang seperti melihat bidadari yang melayang naik surga. Tampaknya perempuan ini memang mirip sukma di tengah kabut, dewi. Tapi. Tapi. Tapi dalam halimun.
Meski orang ini tidak bergerak, Po-giok juga tidak melihat wajahnya, namun secara langsung ia sudah merasakan betapa agung dan suci, betapa elok dan ayunya.
Tanpa terasa Po-giok berdiri terpesona, berdiri linglung seperti tersedot sukmanya, mulut pun tak kuasa bicara.
"Bagus sekali, akhirnya kau datang," itulah suara lembut, merdu dan nyaring, namun bernada dingin yang diucapkan dari balik cadar.
Po-giok meluruskan kedua tangan, menunduk dan membungkuk badan, "Pui-Po-giok menyampaikan salam hormat kepada Cui-Kiong-cu."
"kau berani menempuh bahaya, jerih payah bergelut dengan marabahaya, tujuannya sudah tentu ingin berduel denganku untuk menentukan kalah menang, sebagai lawan atau musuh, kenapa kau bilang menyampaikan salam hormat padaku?"
Po-giok melengak, "Ini karena ..."
Karena apa, Po-giok tidak bisa menjelaskan.
"Setelah kau masuk ke istanaku," demikian kata Pek-cui-kiong-cu, "Sudah kau hadapi tiga ujian berat yang hampir merengut nyawamu, apa kamu tidak membenciku?"
Kembali Po-giok melengak, jawabnya gelagapan, "Ini ...aku ...."
Tertawa tawar berkumandang dari balik cadar sutera, "Lalu apa maksud tujuanmu menerobos ke dalam istanaku ini?"
Berat nada suara Po-giok, "Untuk memenuhi janji maka kudatang ke sini, harap Kiong-cu ...."
"Baiklah tidak perlu kau jelaskan," tukas Pek-cui-Kiong-cu, "anggaplah kamu sudah menunaikan tugas dengan baik, dan aku meluluskan permintaanmu."
Po-giok melengong, sungguh ia tidak habis pikir bahwa urusan dapat diselesaikan semudah ini, segera ia bersoja, "Terima kasih Kiong-cu."
"Apa tiada urusan lain lagi?" tanya Pek-cui-Kiong-cu.
"Masih ada sedikit persoalan, kumohon penjelasan, apa yang kualami tadi ...."
"Hubungan antara manusia dengan manusia memang amat sensitif, kalau tidak tahu, kenapa kau tanya persoalan itu?"
Sesaat Po-giok tepekur, "Kalau Kiong-cu tidak mau menjelaskan, Cai-he juga tidak ingin mendesak, hanya saja ...akan datang suatu hari, Pasti aku kembali lagi ke Pek-cui-kiong untuk membongkar rahasia ini."
"Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Pek-cui-Kiong-cu.
"Sekarang Cai-he masih mengemban tugas berat, tidak berani mempertaruhkan mati hidupku sekarang."
"Bagus, kau dapat membedakan mana yang penting dan mana yang sepele, sebagai ksatria muda, memang kamu harus tegas membedakan antara yang baik dan yang buruk."
"Bahwasanya Cai-he sudah menunaikan tugas dengan baik, kalau Kiong-cu mengizinkan, Cai-he ingin mohon diri sekarang juga."
"Kamu berjuang sekuatnya untuk masuk ke sini, tentu dengan mudah pula dapat keluar, tapi setelah bertemu denganku, kenapa ....kau hanya tanya persoalan yang menyangkut kehidupan manusia dan tidak tanya tentang kungfu?"
Terkesiap darah Po-giok, serunya."Apa aku boleh tanya tentang kungfu?"
"Kenapa tidak boleh, tapi ...tapi kalau kau ingin tanya padaku, aku anjurkan lebih baik kau tanya pada dirimu sendiri."
"Tanya pada diriku sendiri?" Po-giok menegas dengan bingung.
"Sekarang kau adalah orang pertama dalam Bu-lim, semua persoalan yang kau curigai dan mengganjel dalam sanubarimu, hanya kau sendiri saja yang dapat menjawabnya, kalau kau dapat membersihkan hati menenangkan pikiran serta tanya pada dirimu sendiri, maka tidak sedikit manfaat yang akan kau peroleh."
Lama Po-giok termenung, lalu membungkuk badan, "Mendengar petuah Kiong-cu, Po-giok seperti botol kosong yang diisi penuh air, semua persoalan segera aku sadari dan aku maklumi. Dari pada tanya orang lebih baik tanya diri sendiri, walau pengertian ini amat sederhana, tapi sebelum ini belum pernah Po-giok memikirkannya.
"Nah, sekarang boleh kau mulai tanya pada dirimu sendiri, dalam sehari ini sejak kau masuk istana ini, apakah kungfumu memperoleh kemajuan?"
Po-giok termenung pula beberapa saat, lalu menjawab dengan serius, "Ya, memang ada kemajuan."
"Lebih lanjut boleh kau tanya kenapa kungfumu memperoleh kemajuan?"
Setelah berpikir sejenak Po-giok menjawab, "Karena sejak Po-giok masuk istana, beruntun tiga kali menghadapi musuh jago pedang memiliki taraf kepandaian luar biasa, tiga jurus ilmu pedang itu telah mengoyak-koyak bayangan gelap dalam benak Po-giok yang menyesatkan ...."
"Dari situ dapat kau bertanya lebih lanjut, dari tiga jurus ilmu pedang yang mematikan itu, di mana letak persamaannya?"
Kepala Po-giok tertunduk rendah, sepenuh hati ia merenungkan pertanyaan ini.
Kali ini hampir tiga jam Po-giok memeras otak, semula ia berdiri, kini bersimpuh di lantai, semula keadaan sekelilingnya kosong, entah kapan kini di depannya menggeletak piring mangkok dan sumpit serta cangkir dan poci, bersama hidangan yang selama ini belum pernah dirasakan. Po-giok seperti tidak sadar sejak kapan ia sudah menghabiskan hidangan sebanyak itu, padahal hidangan itu jarang ada dan mahal meski di restoran kelas satu di kota raja namun sukar Po-giok membedakan rasanya.
Pek-cui-Kiong-cu tetap bercokol di tempatnya, diam dan tenang tanpa bersuara, menunggu dan mengawasinya.
Mendadak Po-giok lompat berdiri dan berkata keras, "Jurus pertama dan jurus kedua dilancarkan secara terbalik, yang satu maju yang lain berbalik mundur, maju adalah mundur dan mundur juga maju, kedua jurus ini merupakan tipu serangan yang terampuh di dunia ini, namun letak kekuatan yang paling hebat dari kedua jurus ini justru terletak pada titik terlemah dari jurus ketiga, kedua jurus itu dilancarkan secara tajam dan ganas, sekali tusuk dapat menamatkan jiwa lawan, tapi bila jurus ketiga dilancarkan justru menempatkan diri sendiri pada posisi yang mematikan. Soalnya kedua jurus yang terdahulu terlampau kuat, sekali serang dan berhasil, maka urusan tiada kelanjutannya, merupakan titik tolak dari hidup menuju ke kematian. Tapi jurus ketiga adalah merupakan tipu yang paling lemah dan paling fatal yang pernah ada di dunia ini, entah jurus serangan apa saja sudah cukup membuat beres persoalan, maka kelanjutannya justru bisa berkepanjangan, jadi dari sudut kematian harus berjuang untuk mempertahankan hidup."
Sepanjang itu Po-giok berbicara penuh gairah matanya memancarkan sinar terang, wajahnya juga kelihatan cerah, lalu ia menambahkan dengan nada yang lebih lunak, "Dari sini dapat disimpulkan bahwa kuat adalah lemah, dan lemah juga kuat, ada kelebihan tapi tidak mencukupi, cukup tapi tidak berlebihan, kelihatannya satu dengan yang lain berbeda dan tidak sama padahal satu dengan yang lain mempunyai ikatan yang erat ikatan yang tidak boleh dipisahkan."
Terdengar kikik tawa dari balik cadar sutera, perlahan Pek-cui-Kiong-cu berkata, "Betul, itulah teori paling tinggi dari ilmu silat yang tiada taranya, di seluruh kolong langit, kecuali dirimu, memangnya siapa lagi yang dapat menjelaskan persoalan rumit ini."
"Memang Po-giok yang menjawab pertanyaan rumit dalam teori tinggi ini, namun kalau Kiong-cu tidak memberi tuntunan, memberi spirit dan memetik hikmahnya, mana mampu aku pecahkan persoalan ini."
"Jangan kau berterima kasih padaku. Coba kau tanya lagi pada dirimu sendiri, bahwa tiga jurus ilmu pedang itu memiliki kaitan yang mendalam, ikatan antara sebab dan musabab, ada hubungan yang kesinambungan, kalau ketiganya itu kau gabung dan dimanunggalkan, bagaimana pula hasilnya?"
"Kalau tiga unsur silat yang tiada taranya itu dapat dimanunggalkan menjadi satu, pasti tiada tandingannya di seluruh jagat."
"Nah, coba kutanya apakah ketiga jurus silat itu dapat manunggal?"
Tanpa pikir Po-giok menjawab tegas, "Tentu dapat"
Maka coba kau tanya pada dirimu, cara bagaimana untuk membuat ketiga unsur silat itu manunggal?"
Habis bicara mendadak Pek-cui-Kiong-cu melayang pergi. Tinggal Po-giok melamun sendiri di tempatnya. Pek-cui-Kiong-cu telah meninggalkan persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan oleh Po-giok.
Kali ini lebih lama lagi Po-giok mengasah otak.
Entah kapan Pek-cui-Kiong-cu sudah kembali duduk di singgasananya, duduk diam tanpa bersuara, mengawasi Po-giok dengan penuh perhatian.
Akhirnya Po-giok angkat kepala dan membusungkan dada, katanya dengan nada lesu, "Aku salah."
"Bagaimana kamu bisa salah?"
"Jurus pertama dan jurus kedua walau dapat digabung menjadi satu, tapi ketiga jurus tak mungkin manunggal kecuali begitu bergebrak dapat melancarkan jurus pertama dan kedua dari sudut mematikan dalam jurus ketiga itu ..."
"Apakah kau mau bilang pada saat bergebrak jurus pertama dan kedua dilancarkan dari sudut mematikan dan tidak perlu menggunakan titik kelemahan dari jurus ketiga, maka lawan takkan memperoleh kesempatan untuk merebut kemenangan."
"Betul," kata Po-giok, "karena pada waktu jurus pertama dan kedua dilancarkan, dalam sekejap itu, siapa saja takkan mungkin bisa balas menyerang, padahal kalau kedua jurus itu dapat dilancarkan dari sudut yang mematikan itu, siapa pun, meski dia seorang tokoh silat yang memiliki kepandaian setinggi langit juga takkan mampu melawan atau menangkisnya. Kalau lawan tidak mampu berkelit atau melawan, bukankah dia akan kalah?"
"Ah, kalau demikian, bukankah ketiga jurus itu dapat manunggal?"
"Tidak bisa! Karena jurus pertama dan kedua bagaimana pun tak mungkin dilancarkan dari sudut yang mematikan itu."
Apa yang diuraikan Po-giok memang masuk akal, memangnya manusia mana di dunia ini yang mampu melancarkan serangan dari depan kaki lawannya.
Tapi Pek-cui-Kiong-cu justru berkata, "Tiada sesuatu persoalan yang mutlak tidak bisa di dunia ini. Bila kau mau berpikir dan berpikir lagi, kau pasti dapat menemukan jalan keluarnya. Kalau tidak dapat menemukan jawabannya, maka aku anjurkan kamu jangan keluar dari sini."
Bergetar badan Po-giok, teriaknya, "Kenapa?"
Dingin suara Pek-cui-Kiong-cu, "Karena kalau kamu tidak mampu menjawab, untuk selamanya kamu tidak akan mampu keluar dari sini."
"Kiong-cu!" pekik Po-giok lantang, "kau ..."
Belum habis ucapannya, bayangan Pek-cui-Kiong-cu mendadak berkelebat dan tak kelihatan lagi ke mana ia pergi.
Kali ini Po-giok harus berpikir selama dua hari dua malam.
Waktu pertama kali Pek-cui-Kiong-cu muncul kembali ke tempat duduknya ia bertanya, "Sudah dapat jawabannya?"
Po-giok menjawab, "Kejadian itu tidak mungkin ...."
"Baiklah silakan istirahat ...."
Waktu Pek-cui-Kiong-cu kembali lagi untuk kedua kalinya, tanya jawab mereka tidak berbeda dengan yang pertama kali.
Tatkala ketiga kalinya Pek-cui-Kiong-cu duduk kembali di singgasananya, Po-giok masih tidur di atas kasur yang digelar di lantai, meski ia tidur telentang di lantai, tapi kedua matanya terbelalak lebar.
"Dengan langkah lembut seperti melayang Pek-cui-Kiong-cu mendekati, "Belum berhasil kau dapatkan jawabnya?"
Po-giok mengawasi kaki orang, katanya setelah menghela napas, "Aku belum ..."
Mendadak ia berjingkrak sembari bersorak gembira, "Aha, kini sudah aku temukan jawabnya ...sudah aku temukan jawabnya ..."
Seperti orang putus lotre ia lari berputar satu lingkaran lalu memburu ke depan Pek-cui-Kiong-cu katanya dengan napas tersengal-sengal, "kau benar, jurus pertama dan kedua memang dapat dilancarkan dari sudut yang mematikan itu, asal gaya dan gerakanmu serasi dan tepat, dari sudut dan arah mana pun dapat melontarkan serangan mematikan."
"Apa betul?" ganti Pek-cui-Kiong-cu yang memekik tertahan.
"Urusan ini amat penting dan besar artinya, masa aku omong kosong."
Pek-cui-Kiong-cu termenung sebentar, lalu mengangguk dan mendesis perlahan "Bagus sekali ...bagus sekali ...bagus sekali ..."
Beruntun ia mengucap 'bagus' tujuh-delapan kali, mendadak ia berkata lantang, "Dengan berhasil menyatu padukan ketiga jurus ini, berarti kamu sudah tiada tandingan di kolong langit. Bahwa kamu sudah menjadi jago tanpa tandingan, maka tiada orang dapat menahanmu, lalu untuk apa masih berada di sini?"
Po-giok mengiakan, begitu berputar badan lantas melangkah pergi.
Pek-cui-Kiong-cu memang tidak merintanginya, namun seperti menghela napas perlahan.
Tak nyana hanya beberapa langkah Po-giok beranjak, mendadak ia putar balik dan berkata keras, "Aku belum boleh pergi."
"Kamu masih ada urusan? Kan sudah kukatakan pertanyaan yang kau ajukan sekarang belum bisa kuberi jawabannya. Mungkin kelak bila kau datang lagi ke sini, aku bisa dan akan ..."
"Bukan soal itu," tukas Po-giok tegas
"Aku ...bukan seorang diri kudatang ke sini, maka tidak boleh seorang diri pula aku pergi."
Bergetar cadar sutera di muka Pek-cui-Kiong-cu, entah karena menghela napas atau karena tertawa, namun suaranya berubah lembut, "Maksudmu kau ingin menunggu Siau-kong-cu?"
"Ya, aku mencarinya,"
"Dia tidak akan keluar, kalau kau ingin menunggunya, mungkin harus lama menunggu."
"Umpama harus menunggu seumur hidup juga akan kulakukan."
"Apa benar kau dapat menunggunya seumur hidup?"
Po-giok melengong perlahan ia menunduk, katanya rawan, "Betul, masih banyak urusan yang harus aku selesaikan di luar sana. Duel dengan Pek-ih jin adalah tugas utama, aku tidak boleh lari dari kenyataan, aku ...tidak boleh membuat kecewa orang banyak yang memberi harapan padaku."
Mendadak ia menegakkan kepala dan membusungkan dada, serunya pula "Tapi kalau tanpa dia, adakah harapanku bisa menang?" suaranya menjadi serak dan tersendat.
"Kenapa kamu tak bisa menang?" tanya Pek-cui-Kiong-cu.
"Hidupku ini aku pertahankan untuk dua orang, pertama adalah Pek-ih-jin, aku harus hidup dan mengalahkan dia. Seorang lagi adalah Siau-kong-cu, kalau selama hidup ini aku memperoleh anugrah, mendapat nama dan sukses, semua adalah demi dirinya, kalau dia tidak berada di sampingku, aku ..."
Mendadak air matanya bercucuran, meski serak namun suaranya tetap lantang, "Kalau tidak ada Pek-ih-jin, kungfuku sekarang takkan mencapai taraf yang aku capai sekarang, tapi kalau tiada Siau-kong-cu, aku ...mungkin aku takkan bisa hidup sampai sekarang."
Beberapa kejap Pek-cui-Kiong-cu membungkam, lalu berkata perlahan, "Ternyata Pui-Po-giok juga begini romantis, siapa pun takkan menduganya, namun ...kenapa tidak langsung kau bicara saja terhadapnya?"
Po-giok menunduk, "Dia anak perempuan yang berhati keras, kukuh dan tegas, dia mengira aku belajar dan meyakinkan kungfu hanya untuk mengalahkan dia, di luar tahunya bahwa aku berjuang dan menggembleng diri hanya untuk menghadapi Pek-ih-jin, tak pernah terbetik dalam pikiranku untuk mengalahkan dia, membuatnya malu, aku ...sebetulnya aku rela dikalahkan dia, dalam segala persoalan mengalah dan dikalahkan olehnya ...apakah bisa aku menjelaskan isi hatiku ini kepadanya?"
"Kalau aku menjadi dia ..." demikian ucap Pek-cui-Kiong-cu menghela napas, "aku akan percaya kalau aku menjadi dia, menghadapi cinta sejati, maksud yang tulus dan iklas seperti ini pasti tidak aku abaikan, aku justru lebih menyayangi dan mencintainya, cuma sayang dia ..."
Dari balik gordin sutera di sebelah sana mendadak seorang berteriak, "Aku juga mempercayainya sekarang aku mempercayainya ...."
Seorang mendadak menerobos keluar, seperti terbang menubruk ke dalam pelukan Po-giok, rambutnya yang panjang terurai agak kacau, wajahnya yang jelita kelihatan agak kuyu, dia bukan lain adalah Siau-kong-cu.
Dengan erat Po-giok memeluknya, seperti memeluk jiwa raga sendiri, entah berapa lama kemudian, perlahan Po-giok mengangkat dagunya, ribuan patah kata ingin dia ucapkan, namun mulutnya hanya berkata lirih, "kau jadi kurus."
Siau-kong-cu tersenyum sendu, mata terpejam dan kepala tertunduk, katanya malu-malu, "Karena merindukan engkau ."
Meski hanya beberapa patah kata mereka bicara, namun jauh lebih jelas dan gamblang dibanding rangkaian ribuan kata.
Dari balik gordin sutera sana kembali terdengar dua kali helaan napas berat ....
Di tengah helaan napas sudah tentu juga tercampur tertawa lega dan gembira, sayang Po-giok tidak mendengar, mereka tenggelam dalam buaian asmara.
Tapi Pek-cui-Kiong-cu mendengar jelas, sekilas ia menoleh ke arah sana, lalu berkata lembut, "Semoga Tuhan mengabulkan perjodohan mereka yang dimabuk cinta ..."
******
Pesisir laut itu tidak banyak beda dengan keadaan tujuh tahun yang lalu, waktu Ci-ih-hou berduel dengan Pek-ih-jin di tempat itu, air laut tetap berwarna biru sinar surya juga tetap cemerlang.
Pek-ih-jin yang tegak di pesisir juga mirip keadaannya tujuh tahun yang lalu. Dia tetap mengenakan pakaian serba putih. Pakaian putihnya itu di bawah terik matahari kelihatan terang dan menyolok mata, rambut panjangnya yang awut-awutan juga kelihatan legam dan mengkilap. Tubuhnya yang tegak laksana tonggak masih memancarkan hawa yang memancarkan nyali orang. Kalau dia kelihatan berubah tidak lain hanyalah sorot matanya yang bertambah tajam dan mencorong wajahnya kelihatan lebih tabah dan mantap, demikian pula pedangnya ...pedang panjang yang merengut sukma orang itu, dalam pandangan orang banyak juga lebih menyilaukan, lebih besar daya sedotnya. Darah yang menetes pada ujung pedang juga bertambah banyak dan deras.
Tiga hari, telah tiga hari berlangsung pertarungan berdarah.
Orang-orang gagah, para ksatria di seluruh jagat berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru dunia, seolah-olah mereka sengaja datang untuk menyaksikan betapa hebat satu jurus tusukan pedang yang dapat mencabut nyawa itu. Entah berapa banyak manusia yang terbunuh oleh pedang itu cahaya cemerlang yang menyilaukan pada batang pedang itu lantaran selalu dicuci dengan darah manusia yang segar.
Pek-ih-jin berdiri di sana sambil memegang pedang panjang ia berdiri membelakangi lautan teduh nan luas tak kelihatan ujung pangkalnya, menghadapi orang seluruh dunia yang hari itu tumplek di pesisir laut timur itu.
Di tengah alunan ombak laut nan besar dan luas, kehadirannya di sana seperti amat terpencil kesepian dan sebatang kara. Sorot matanya menyapu pandang orang-orang di sekelilingnya lalu berkata dingin, "Tujuh tahun ...kungfu kaum Bu-lim di Tiong-toh selama tujuh tahun ini, kenapa selain tiada kemajuan, justru lebih mundur malah. Setelah Ci-ih-hou mati, memangnya tiada generasi baru yang meneruskan kedudukannya?"
Perkataannya yang dingin tapi kaku dan ketus berkumandang di sepanjang pesisir yang dipagari manusia orang-orang gagah yang memadati pesisir lautan timur, namun tiada satu pun yang berani memberi jawaban.
Walau darah dalam rongga dada mereka sudah mendidih, banyak yang ingin nekat menantang duel padanya. Tapi selama tiga hari ini, mayat demi mayat yang mati menjadi korban keganasan pedang orang berbaju putih ini sudah membuat ciut nyali mereka yang berdarah panas. Mereka yang berani tampil ke tengah gelanggang ternyata tiada satu pun memperoleh ampun, semua mati dan gugur, pantas juga kalau nyali orang banyak menjadi pecah, tiada jago yang berani menampilkan diri lagi.
Dari tengah orang banyak mendadak seorang berteriak lantang, "Kong-sun Put-ti, di mana kamu bersembunyi? Pui-Po-giok jelas belum kunjung tiba ... atau mungkin dia tidak berani datang? Nah, lekas kau tampil menggantikan dia. Memangnya murid didik perguruan Jing-ping semuanya setan pengecut yang bernyali kecil?"
Suara ini melengking tajam, kedengarannya mirip suara orang perempuan.
Maka terjadi keributan di tengah kerumunan orang banyak, yang pasti teriakan lantang ini memperoleh reaksi yang gegap, "Betul, Pui-Po-giok tidak berani datang, maka pantas kalau Kong-sun Put-ti menggantikan dia. Memangnya kalian tega melihat orang lain gugur satu persatu demi ...."
Teriakan demi teriakan semakin keras dan banyak.
Mendadak tampak seorang memburu keluar dari tengah orang banyak, sambil berlari mulutnya menggembor keras, "Kong-sun Put-ti dan Bok Put-kut sedang pergi mencari Pui-Po-giok, kalau kalian memaksa mereka menyerahkan jiwa, biar aku Kim Co-liu mewakili mereka mempertaruhkan jiwaku ini!"
Sambil menenteng tombaknya, seperti kesetanan saja Kim Co-lim menerjang ke arah Pek-ih-jin.
Pek-ih-jin berdiri kaku, mengawasinya dengan dingin, membiarkan orang menerjang dekat di depannya tubuhnya mendadak berkelebat, tanpa kuasa Kim Co-lin tersungkur ke sana dan langsung terjerumus ke laut.
Pek-ih-jin menyeringai dingin, "Aku datang demi menegakkan kebesaran ilmu silat, bukan untuk menyempurnakan arwah orang-orang yang gegabah dan bodoh, siapa pula di antara kalian yang ingin mampus, boleh silakan cari cara lain untuk menyerahkan nyawa, kalian tidak setimpal untuk kubunuh."
Kim Co-lin berdiri seperti patung di dalam air, nyalinya pecah dan tak berani main terjang lagi.
Hadirin saling pandang, mereka juga takut dan menunduk tanpa berani banyak omong lagi.
perlahan Pek-ih-jin mendongak lalu menghela napas panjang, "Mayapada seluas ini, ternyata memang tidak ada lawan tangguh yang setimpal bergebrak dengan aku ... Umpama aku dapat mengubah air laut menjadi merah dengan darah orang-orang itu, apa manfaatnya bagiku?"
perlahan pula ia menurunkan pedang panjang di tangannya, lalu melambaikan tangan "Pergilah, pergilah semua ... kuampuni jiwa kalian ..."
Betapa sedih dan malu orang banyak mendengar ocehan Pek-ih-jin rasa malu ini lebih terasa daripada jiwa mereka melayang karena terbunuh di medan laga.
Air mata membasahi wajah Kim Co lin mendadak ia berlutut di dalam air laut, sambil mendongak ia meratap pilu, "O Tuhan! Kecuali Pui-Po-giok apa benar tiada manusia lain di dunia ini setimpal melawannya? Apakah Pui-Po-giok saja manusia dan kita semua ini binatang? Kalau Pui-Po-giok tidak datang, memangnya kita harus mandeh dihina dan dicercah orang ini? ..."
Ratapannya yang memilukan, laksana cemeti menghunjam sanubari hadirin.
Dari ribuan penonton yang berjejal di pesisir hanya sedikit yang mukanya masih kering, saat-saat menyedihkan seperti ini merupakan detik yang paling memalukan, penghinaan yang terbesar selama hidup, sayang sekali, terpaksa mereka hanya bisa menghela napas menyesal dan menahan sabar.
Akhirnya ada juga orang yang penasaran, tidak kuat menahan sabar, tidak mau di hina.
Di tengah keheningan yang mencekam itu, mendadak berkumandang tertawa dingin seorang, "Pui-Po-giok apa? Pui-Po-giok terhitung barang apa? Kalau berhadapan dengan aku, sepuluh Pui-Po-giok juga akan tamat di tanganku. Jika sejak tadi aku hanya berpeluk tangan, tidak mau turun gelanggang, itu karena aku ingin melihat manusia-manusia goblok berotak udang seperti kalian ini masih berapa banyak yang berani mati, bila sudah jatuh banyak korban dan tinggal sedikit saja baru aku orang tua akan turun gelanggang dan mengganyangnya."
Suara yang melengking tajam, ini jelas adalah suara orang perempuan yang bicara tadi.
Hadirin gempar, tapi tiada orang tahu siapa gerangan perempuan yang bicara besar ini.
Terdengar suara itu berkata pula, "He, kenapa melamun saja? Hayo lekas beri jalan dan menyingkir yang jauh, biar aku orang tua menyaksikan orang macam apa sebetulnya bocah berpakaian putih itu, apa benar memiliki permainan yang mengejutkan."
Berubah juga air muka Pek-ih-jin, bola matanya lantas memancarkan cahaya yang gemerdep. Hadirin menjadi ribut, beramai-ramai mereka menyingkir memberi jalan. Maka tertampaklah empat gadis yang cantik rupawan dengan dandanan yang merangsang muncul sambil memikul sebuah tandu kecil.
Di atas tandu terbuka itu duduk setengah tiduran seorang perempuan setengah baya, walau wajahnya mulai berkeriput, namun sepasang matanya masih melirik-lirik memiliki daya tarik yang dapat menjatuhkan iman laki-laki mata keranjang. Perempuan ini menyanggul rambutnya dengan dandanan mirip keluarga keraton, berbagai macam perhiasan dengan aneka ragam warna melekat di kepala dan dadanya, pakaiannya terbuat dari sutera kualitas paling bagus sepasang kakinya ditutup dengan selembar kain sutera pula yang bersulam naga dan burung hong (phoenix).
Lebih menyolok lagi adalah pada tubuhnya menyelip delapan bilah pedang panjang yang berjajar, kedelapan pedang telanjang tanpa sarung yang sudah siap pakai, sinar yang terpantul dari batang pedang menyilaukan mata, seolah-olah tubuh orang perempuan ini yang memancarkan cahaya saja.
Agaknya tidak sedikit hadirin yang kenal siapa perempuan setengah baya ini, maka di sana-sini terdengar teriakan kaget orang."He, bukankah perempuan ini yang dijuluki Li-mo-than Ong-toa-nio yang belakangan ini menggemparkan dunia kang-ouw?"
"Benar, memang Ong-toa-nio. Konon Kong-sun Ang si jago pentung yang lihai itu juga dikalahkan olehnya. Mungkin hanya dia seorang yang mampu menghadapi Pek-ih-jin."
Ucapan terakhir ini kembali membangkitkan semangat hadirin. Siapa saja, tanpa pandang bulu, orang jahat atau pendekar, kawan atau lawan, bila dia dapat menandingi Pek-ih-jin, maka dia patut didukung, dibela dan dipuji, orang ini adalah ksatria di mata umum.
Bisik-bisik terdengar di sana-sini menjadikan paduan suara yang menggemparkan. Dengan kabar Ong-toa-nio menyapukan pandangannya ke empat penjuru, senyum bangga terkulum di ujung mulutnya.
Pek-ih-jin hanya mengawasinya dingin dengan mata setengah terpicing, "Ternyata seorang perempuan," ucapnya.
Ong-toa-nio menyeringai dingin, "Memangnya kenapa kalau perempuan? Biar perempuan aku mampu mencabut nyawamu."
"Lebih baik kau pergi dan pulang saja, selama ini belum pernah aku bergebrak dengan kaum hawa"
"Terserah kau mau turun tangan atau tidak, yang penting terimalah seranganku." perlahan tangan Ong-toa-nio bergerak, dua jalur sinar terang melesat lurus ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Serangan dua pedang ini hanya untuk memancing reaksi lawan, bila Pek-ih-jin bergerak, Ong-toa-nio akan menyusuli dengan serangan Cu-bo-tui-hun-toh-jiu-kiam.
Tubuh Pek-ih-jin justru tidak bergerak, hanya pedang di tangannya yang diobat-abitkan, di mana sinar pedangnya berkelebat, terdengar suara merantang yang memekak telinga, kedua batang pedang yang meluncur laksana samberan kilat itu seketika patah menjadi empat potong dan mencelat jatuh ke pasir.
Tapi dalam kejap yang sama, dua batang pedang lain tahu-tahu meluncur tiba pula.
Pedang di tengah Pek-ih-jin sedang bergerak keluar, terpaksa tubuhnya harus mendoyong sedikit. Tapi pedang kelima ternyata sudah menutup gerak tubuhnya.
Melotot mata Pek-ih-jin, di tengah gelak tawa yang panjang ia berkata, "Bagus, seranganmu memang lumayan."
Belum lenyap gelak tawanya, tubuhnya mendadak menyusut mundur, tapi pedang keenam yang ditimpukkan Ong-toa-nio tahu-tahu sudah meluncur tiba tanpa mengeluarkan suara, setelah dekat dan tinggal beberapa belas senti di depan mukanya mendadak bergerak terlebih cepat.
Hadirin melihat sinar pedang berkilauan, bagi pandangan mereka Pek-ih-jin sudah tidak ada jalan mundur untuk menyelamatkan diri, berkelit juga susah, maka pecahlah sorak-sorai orang banyak."
Di luar dugaan, gerak tubuh Pek-ih-jin yang kelihatan tak mungkin selamat oleh samberan pedang panjang itu, mendadak mencelat ke udara. Berubah hebat air muka Ong-toa-nio, tapi masih ada dua batang pedang ditangannya.
"Sambutlah yang terakhir ini, di tengah gemas suaranya mendadak tubuhnya juga meloncat dan pikulan tandu dan menyongsong ke arah Pek-ih-jin.
Tampak sinar pedang gemerdep mirip dua ekor naga yang saling gubat, berkelebat di udara yang cerah, kelihatan amat menyolok. Sementara pakaian putih Pek-ih-jin berkibar tertiup angin, gayanya mirip dewa yang turun dari kahyangan.
Tahu-tahu tubuh Ong-toa-nio melorot jatuh lurus di atas pasir jatuh telentang dengan suara keras. Pedang yang tersisa dua itu masih kencang terpegang di tangannya, sebuah luka tusukan tepat menghias di tengah kedua alisnya. Selama hidup Ong-toa-nio tidak sedikit kejahatan yang dilakukannya, namun hari ini dia gugur di medan laga demi membela kaum persilatan di Tiong-toh, tatkala hidup sepak terjangnya dicela dan dimaki orang, namun kematiannya hari ini memperoleh pujian orang banyak Ong-toa-nio dapat mati dengan tentram.
Hiruk-pikuk seketika sirap, hadirin menunduk kepala merasa malu dan gegetun, menghela napas dengan perasaan tak keruan.
Pek-ih-jin mengawasi noda darah di ujung pedangnya, katanya dengan bergumam, "Perempuan ...Sungguh tak nyana di antara kaum hawa juga ada tokoh selihai ini..."
Seperti orang kerasukan setan mendadak Kim Co-lin berjingkrak-jingkrak dalam air, sambil menuding ke sana ia berkaok gembira, "He, kalian lihat, apa itu ... apa itu ..."
Cepat Pek-ih-jin menoleh, air mukanya berubah untuk kedua kalinya.
Agak jauh di tengah laut, meski masih samar-samar, tapi sudah tampak sebuah layar kapal, berkembang. Itulah layar pancawarna yang gilang gemilang dahulu.
Sorak-sorai kembali bergema gegap gempita suaranya yang gemuruh bagai gugur gunung memekak telinga membumbung ke angkasa.
Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu yang masih jauh di atas kapal juga mendengar suara gemuruh yang menggetar bumi dan menggoncang langit itu.
Memandang lepas dari jendela, pesisir laut luas sepanjang itu berjubel banyak orang, dipandang dari kejauhan mereka seperti puluhan ribu ikan dan udang berlompatan di dalam laut.
Dalam keadaan seperti ini mereka seperti lupa bahwa Ci-ih-hou sudah lama mati, mereka sudah melupakan segalanya, dalam pandangan mereka hanya tampak pancaran layar pancawarna yang berkembang cemerlang, demikian pula dalam sanubari mereka hanya teringat layar pancawarna yang melambangkan kebenaran. Mengawasi orang-orang yang menyambut kedatangannya, air mata Oh-Put-jiu berlinang.
Sebaliknya dalam pandangan Cui-Thian-ki saat itu tetap hanya ada Oh-Put-jiu seorang.
Cui-Thian-ki mengawasi wajah Oh-Put-jiu, katanya dengan suara kuatir, "Kalau mereka tidak melihat Ci-ih-hou, entah bagaimana perasaan mereka? Mungkin kecewa?"
"Tidak," tegas jawaban Oh-Put-jiu, "Mereka tidak akan kecewa."
Mendadak ia menoleh menghadapi Cui-Thian-ki, selebar mukanya berubah menjadi merah legam laksana baja, dengan tandas ia berkata, "Aku tidak akan membuat mereka kecewa."
Cui-Thian-ki menunduk pedih suaranya rawan, "Jadi ... kau sudah berkeputusan menghadapinya?"
"Ya, aku tidak punya pilihan lain," tegas suara Oh-Put-jiu.
Cui-Thian-ki masih menunduk, diam sampai sekian lamanya. Sorak-sorai orang banyak yang menyambut kedatangan kapal layar pancawarna terasa makin keras, tambah gempita dan makin dekat. Suara gemuruh itu kecuali terasa amat senang tapi juga penuh harapan.
Entah berapa lama kemudian, akhirnya Cui-Thian-ki berkata perlahan, "Betul, memang pilihan lain ... pergilah ... aku merelakanmu ..."
Dengan erat Oh-Put-jiu pegang tangannya, air mata menetes di punggung tangannya, begitu dingin dan meresap air mata itu.
Katanya dengan mengertak gigi? "Engkau harus menjaga dirimu sendiri, aku ...aku mungkin takkan melihatmu lagi."
Cui-Thian-ki angkat kepalanya dengan kaget tanyanya gemetar, "Apa ....apa kamu?"
Oh-Put-jiu memejamkan mata sekejap, "Sudah lama kupikir, setiap jurus, setiap tipu pertarungan Ci-ih-hou melawan Pek-ih-jin tujuh tahun yang lalu telah aku cerna dengan teliti dan seksama, setelah kupikir pikir lagi akhirnya kudapatkan bahwa dengan bekal yang sudah aku miliki sekarang, aku masih bukan tandingan Pek ih jin. Umpama selama tujuh tahun ini, taraf kepandaian Pek-ih-jin mandek dan tidak memperoleh kemajuan, rasanya aku juga takkan bisa mengalahkan dia."
Bercucuran air mata Cui-Thian-ki, katanya dengan terisak, "Lalu kenapa engkau justru ingin menghadapinya ....Kenapa?"
Pedih tawa Oh-Put-jiu, "Walau aku tidak punya bekal silat untuk mengalahkan dia, tapi aku memiliki tipu mematikan untuk gugur bersama dia. Walau aku harus mati namun aku yakin dan punya pegangan dapat membuatnya luka parah ...yang pasti aku tidak akan membuat orang-orang gagah di kolong langit ini kecewa."
Lalu Oh-Put-jiu membusungkan dada, katanya lantang, "Kalau aku sudah pasti akan mati, biarlah mati dengan imbalan setimpal, gugur demi membela kepentingan orang banyak, tidak perlu kecewa bila aku mati."
Bergetar tubuh Cui-Thian-ki, mendadak ia mendorongnya, "Betul! Nah, pergilah lekas."
Waktu Oh-Put-jiu melangkah keluar dari kabin. Cui-Thian-ki tergerung-gerung mendekam di geladak kapal.
Orang banyak memang tidak kecewa, melihat yang muncul di atas kapal meski bukan Ci-ih-hou, tapi sikap gaya dan wibawa orang ini jelas tidak lebih asor dibandingkan Ci-ih-hou dulu.
Mendadak sorak-sorai yang gempita itu sirap serentak. Suasana gembira berganti rasa tegang mencekam.
Oh-Put-jiu sudah berhadapan dengan Pek-ih-jin.
Wajah Pek-ih-jin semula putih pucat, kini berubah merah seperti bara menyala, matanya memancarkan cahaya berkilauan mengawasi Oh-Put-jiu, perlahan ia berseru, "Bagus sekali bahwa Ci-ih-hou mempunyai seorang pewaris, akhirnya aku menghadapi lawan setimpal."
Oh-Put-jiu diam saja, ia tidak mau bicara, tiada yang perlu dia bicarakan, karena dalam keadaan dan waktu begini banyak bicara tidak berguna lagi.
perlahan Oh-Put-jiu mengangkat pedang dan mengucap sepatah kata, "Silakan!"
Beberapa saat lagi Pek ih-jin berdiri diam, setelah rona merah di wajahnya mulai pudar, baru perlahan ia mengangkat pedang panjang, "Silakan!"
Sinar surya seperti mendadak menjadi guram kehilangan pamornya karena perpaduan pantulan sinar kedua pedang yang siap tempur ini.
Cui-Thian-ki yang berada di atas kapal diam-diam sudah menyiapkan sebilah badik yang ditujukan ke hulu hatinya. Pada saat Oh-Put jiu gugur di medan laga, pada detik itu pula ia akan menyusulnya ke alam baka.
Pedang panjang sudah mulai bergerak di bawah cahaya matahari, kaki juga mulai menggeser di permukaan pasir. Beberapa kejap lagi pasir laut yang semu kuning ini akan dikotori darah yang masih segar.
Sekonyong-konyong dari kejauhan seorang berteriak lantang, "Pek-ih jin adalah lawanku! Siapa pun dilarang bergebrak dengan dia ....Siapa pun dilarang bergebrak dengan dia ...."
Penonton yang berada di garis belakang mendadak berjingkrak dan bersorak gembira.
"Pui-Po-giok! ...Pui-Po-giok datang!"
Pedang panjang yang sedang bergerak mendadak berhenti di udara.
Sesosok bayangan orang mendadak meluncur tiba bagai seekor burung raksasa melayang lewat atas kepala orang banyak dan meluncur turun dari udara.
"Pui-Po-giok ...itu dia Pui-Po-giok,"
Kecuali ketiga huruf nama itu, seolah-olah tiada suara lain di mayapada ini.
Badik di tangan Cui-Thian-ki yang siap menusuk dada sendiri jatuh di geladak. Pedang panjang di tangan Oh-Put-jiu yang siap berduel di pesisir juga jatuh di atas pasir, mereka hanya mendengar suara gemuruh, "Pui-Po-giok ...Pui-Po-giok..."
Mau-tidak-mau mulut mereka ikut bersorak gembira, "Po-giok, akhirnya kau pun datang."
Mendadak Pek-ih-jin membalik badan, menghadapi pemuda yang baru datang itu, pemuda ini juga berpakaian serba putih, sekujur badan pemuda ini seperti memancarkan cahaya, orang tidak kuat mengawasinya lebih lama, sukar melihat wajahnya.
Dengan kalem pemuda ini melangkah maju, menjemput pedang Oh-Put jiu yang jatuh di pasir dengan enteng dia genggam sekejap tangan Oh-Put-jiu. Oh-Put-jiu manggut-manggut mereka tidak bicara.
Tenggorokan mereka serasa tersumbat, lidah juga kelu, tak mampu bicara sama sekali.
Maka pedang panjang yang akan menentukan nasib kaum persilatan di Tiong-goan kini berganti tuan, tanpa basa-basi secara langsung beralih dari tangan Oh-Put-jiu ke tangan Pui-Po-giok.
Oh-Put-jiu mendongak ke langit, mulutnya komat-kamit, entah senang atau sedih, susah melukiskan perasaan hatinya saat itu.
Pada saat itu ia merasakan tangan seorang telah menggenggam tangannya dari belakang, tangan yang gemetar tapi juga hangat, umpama beberapa saat ini ia pernah kehilangan sesuatu, tapi yang dia peroleh sebagai gantinya sekarang sudah melebihi batas.
Dari pucat dingin wajah Pek-ih-jin berubah merah membara pula, mulutnya bertanya dengan mendesis, "Pui-Po-giok ...jadi kamu ini Pui-Po-giok?"
"Betul, akulah Pui-Po-giok aku pasti dapat mengalahkan engkau ."
"Apa kau mampu? Semoga kau mampu mengalahkan aku ..."
Tertawa yang kaku seperti membayangkan perasaan yang bosan dan kesal. Seolah-olah sudah terlalu sering dan banyak mendengar perkataan yang sama, juga seolah-olah karena terlalu banyak menang, tidak pernah kalah. Apa benar tidak pernah kalah juga merupakan penderitaan?
Po-giok tidak memikirkan soal ini, orang lain juga tidak diberi kesempatan untuk mencerna perkataan ini. Dia hanya mengucapkan "Silakan" dengan nada rendah.
Belum lenyap gema sepatah katanya, pedang panjang di tangannya pun bergerak.
Kejap yang menggetar sukma orang, kejap yang bakal menggemparkan orang banyak, kejap yang mungkin menggetar bumi menggoncang langit. Seperti udara yang semula mendung guram mendadak mega tersingkap dan muncul cahaya benderang.
Sinar pedang mirip dua ekor naga yang saling gubat dan berkelahi saling cakar dengan seru, dua bayangan putih berlompatan di tengah lingkaran cahaya pedang, sukar dibedakan mana Pui-Po-giok dan siapa Pek-ih-jin.
Tapi setelah terjadi benturan keras yang menimbulkan dencing suara yang ramai dari beradunya kedua pedang, sinar pedang yang menggugur gunung itu pun mendadak sirna, pedang di tangan mereka masih teracung di udara, ujung pedang beradu dan saling tindih.
Pek-ih-jin berhadapan dengan Pui-Po-giok, tapi mereka bukan lagi manusia melainkan lebih mirip dua bongkah batu es yang dingin! Tapi juga mirip dua gumpal bara yang menyala.
Mata mereka saling tatap, satu sama melotot pada yang lain, mata itu juga tidak mirip mata manusia, tapi lebih mirip mata binatang, mata serigala atau mata elang.
Dada hadirin seperti mendadak tersumbat, napas menjadi sesak, perasaan mereka tertekan dan rasanya hendak meledak.
Entah berapa lama kemudian, kaki Po-giok mendadak bergerak, mundur dan mundur terus, sebaliknya Pek-ih-jin mendesak maju dan terus maju, jarak mereka tetap ketat, pedang di tangan Po-giok sudah tertekan turun ke bawah.
Banyak lutut para hadirin mulai goyang, telapak tangan berkeringat, badan pun basah dan gemetar.
Mendadak secepat kilat Po-giok menyurut mundur empat langkah, mendadak pula tubuhnya ambruk ke depan dengan kaku, ambruk mencium pasir tepat di depan kaki Pek-ih-jin.
Kalau pedang Pek-ih-jin diturunkan, maka kepala Pui-Po-giok akan terpenggal putus dari badannya. Tapi perbuatan Po-giok seperti di luar dugaannya, sedetik pedang panjangnya merandek di udara. Karena dengan cara demikian, betapapun ia tidak mungkin menusuk mati Po-giok tepat di tengah kedua alisnya, karena bumi nan luas telah melindungi muka Po-giok.
Perasaan hadirin menjadi beku, hati mereka hancur luluh, tidak sedikit yang menjerit serak.
Tapi baru saja jeritan penonton keluar dari mulut, sebelum pedang Pek-ih-jin bergerak lebih lanjut.
Selarik sinar pedang mendadak berkelebat dari depan kaki Pek-ih-jin, disusul darah segar menyembur deras serempak dengan sinar pedang yang mencuat ke angkasa.
Tubuh Pek-ih-jin terhuyung beberapa langkah, lalu berdiri limbung, mendadak ia mendongak dan bergelak tawa. "Jurus pedang yang bagus ...sungguh menakjubkan dan tiada taranya di dunia."
Di tengah gelak tawanya ia roboh terjengkang ke belakang.
Suara mendadak sirap, deru angin laut dan gelombang ombak juga seperti mendadak berhenti, alam semesta menjadi sunyi senyap.
Entah apa yang terjadi, yang terang orang banyak menyaksikan Pek-ih-jin yang mereka pandang sebagai momok menakutkan itu akhirnya roboh dan takkan bangun lagi. Tapi tidak ada sorak-sorai, perasaan mereka seperti mendadak berubah berat dan prihatin.
Apa pun yang telah terjadi, walau Pek-ih-jin dipandang momok terbesar selama ini, namun orang banyak sama mengakui, momok ini adalah tokoh silat yang maha sakti boleh dianggap malaikat dalam kalangan persilatan. Seakan-akan orang ini hanya hidup dan dilahirkan sebagai insan persilatan, kini dia pun gugur karena membela dan menegakkan persilatan. Lalu baik atau jahatkah perbuatannya selama ini? Siapa bisa menjawab? Siapa berani menjawab?
Po-giok berjongkok mengawasinya, daripada dibilang hatinya gembira, lebih tepat kalau dikatakan hatinya kagum, sedih juga menyanjungnya. Orang yang kini menggeletak di depannya adalah orang yang menjadi tumpuan antara cita-cita dan tujuan hidupnya, orang yang menyebabkan dirinya "jadi manusia" sekarang. Dalam dunia seluas ini, memangnya berapa orang yang bisa mensukseskan harapan hidup dan cita-citanya secara menyeluruh?
Pek-ih-jin rebah tenang di atas pasir, dadanya turun naik, napasnya berat. Mendadak ia membuka mata, mengawasi Po-giok, ujung mulutnya mengulum senyum, ia bergumam lirih "Aku berterima kasih padamu ..."
Po-giok melengong, kepalanya menunduk lebih dalam, "Kenapa engkau berterima kasih padaku malah? Akulah yang membunuhmu."
Pek-ih-jin mengawasi gumpalan mega di angkasa raya katanya dengan nada memilukan, "Selamanya engkau takkan bisa menyelami perasaanku orang macam diriku hidup di dunia ini merasakan betapa sunyi ..."
TAMAT
Kumpulan Cerita Silat Chin Yung, Gu Long, Khu Lung, Kho Ping Ho, SH Mintardja, Gan KL, Cerita Silat Indonesia
Showing posts with label Misteri Kapal Layar Pancawarna. Show all posts
Showing posts with label Misteri Kapal Layar Pancawarna. Show all posts
Friday, 23 January 2009
Misteri Kapal Layar Pancawarna 32
Oleh : Gan KL
Tapi arah yang dituju oleh tapak kaki itu justru menjurus ke sebelah kanan.
Kalau sekarang Po-giok harus mampir ke pondok bintang kecil, lalu bertolak balik menuju ke jalan sebelah kanan, sukarnya mungkin seperti memanjat ke langit, apalagi Ciang-Jio-bin sudah mati di tangannya, siapa tahu kalau di balik surat peninggalan ini ada rencana jahat, perangkap yang akan membahayakan jiwanya? Siapa berani menjamin bahwa di Pondok Bintang Kecil tiada perangkap?
Kondisi badannya sudah payah, umpama ia masih mampu berjalan setelah mampir ke Pondok Bintang Kecil, sisa tenaga yang masih ada jelas tambah lemah lagi, lalu dapatkah dirinya menghadapi ujian dua jurus serangan yang mematikan itu?
Po-giok bimbang, tidak tahu ke arah mana dirinya harus meneruskan perjalanan, ke kiri dulu atau langsung ke arah kanan?
Kalau ke arah kiri dulu, apakah dirinya mampu bertolak balik ke arah kanan, hal ini masih merupakan teka-teki, mungkin sekali tiada kesempatan lagi. Tapi kalau langsung ke arah kanan, kesempatan mempertahankan hidup juga sudah mendesak di depan mata, itu berarti tugas untuk menyerahkan surat peninggalan Ciang-Jio-bin kepada penghuni pondok bintang kecil terpaksa harus diabaikan, mengingkari janjinya terhadap Ciang-Jio bin.
Akhirnya Po-giok menghela napas panjang, gumamnya, "Pui-Po-giok, wahai Pui-Po-giok, Ciang-Jio-bin berani mati karena percaya kamu akan menunaikan pesannya, lalu kenapa kau takut mati dan tidak berani mempertaruhkan jiwa ragamu untuk menepati janjimu?
Sambil mengertak gigi akhirnya Po-giok melangkah ke arah Pondok Bintang Kecil.
Tempat macam apakah sebetulnya Pondok Bintang Kecil.
Kalau Pondok Bintang Kecil berada dalam Pek-cui-kiong, apakah pondok ini juga termasuk di bawah kekuasaan Pek-cui-kiong? Demikian pula penghuni atau pemilik Pondok kecil ini juga Pek-cui-kiong?
Malas Po-giok memikirkan hal ini, karena ia tahu umpama dipikir juga percuma, tidak akan memperoleh jawaban.
Namun ia sudah menyadari dan mendapatkan bahwa jalan di dalam gua raksasa ini, semuanya serba megah, warna-warni dan semarak, gua ini berarti sengaja diciptakan oleh Yang Maha Kuasa untuk tempat para dewa dan dewi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi jalan yang menjurus ke arah Pondok Bintang Kecil, ternyata tidak jauh berbeda dengan jalanan umum yang dapat ditemukan di mana-mana, jalan yang gelap lagi lapang dan biasa.
Po-giok merasakan begitu berjalan di jalan yang menjurus ke arah Pondok Bintang Kecil seolah-olah dirinya kembali lagi ke jalan yang menuju surga.
Walau Pondok Bintang Kecil berada dalam gua misterius di Pek cui-kiong, tapi seolah olah berada di suatu dunia yang tersendiri, dalam suasana yang berbeda, di suatu tempat yang lepas dari ruang lingkup kemisteriusan Pek-cui-kiong.
Mungkin maju ke depan, makin dekat dengan Pondok Bintang Kecil itu, lebih nyata lagi Po-giok merasakan bahwa dugaannya benar.
Sekarang Po-giok sudah melihat jelas, Pondok Bintang Kecil di depannya ini adalah sebuah rumah gubuk yang tidak banyak bedanya dengan rumah petak yang terdapat di kampung halamannya, kampung di mana dirinya dibesarkan. Keadaan gubuk mungil yang satu ini jelas jauh berbeda, berbeda secara menyolok dengan segala kemegahan, keajaiban gua yang semarak dan serba misteri ini.
Pondok kecil mungil itu didirikan di tempat tinggi, ada tangga batu yang menjurus naik ke atas tepat ke arah pintu.
Pintu gubuk mungil itu tertutup rapat, ada cahaya lampu dari dalam yang menyorot keluar dari celah-celah pintu.
Selangkah demi selangkah Po-giok beranjak ke atas, setiap kali melangkah ke atas selalu bertambah satu tanda tanya dalam hatinya.
Kalau Pondok Bintang Kecil ini lepas dari kekuasaan Pek-cui-kiong, lalu siapa pemilik dan penghuninya? Mungkinkah Pek-cui-kiong memberi izin untuk orang luar bertempat tinggal di sini?
Setelah menenangkan hati, akhirnya Po-giok tarik suara, "Adakah penghuni Pondok Bintang Kecil di rumah?"
Tiada suara sahutan, tapi di dalam pondok terdengar suara ramai mirip ombak yang mendampar bertubi-tubi.
Po-giok maju belasan langkah lebih dekat, kembali ia berteriak, "Aku mendapat titipan untuk menyampaikan surat dan harus diserahkan langsung kepada penghuni Pondok Bintang Kecil."
Mendadak ada suara orang dari dalam Pondok mungil itu.
Setelah menghela napas rawan, seorang berkata dengan suara pedih, "Penghuni Pondok Bintang Kecil ini sudah mati."
Jelas itu suara perempuan.
Suara merdu enak didengar namun nadanya mengandung rasa sedih dan dingin.
Nada yang dingin tapi suaranya merdu, keruan Po-giok melengong.
"Sudah mati?" teriaknya kaget.
Suara merdu itu tidak menjawab. Po-giok memang tidak mengharap jawabannya, perlahan ia menarik napas panjang, ia menunggu gejolak perasaannya tentram, rasa kecewanya pun lenyap.
Agaknya kedatangannya menjadi sia-sia, padahal betapa berat tadi ia mengambil keputusan, kenyataan pengorbanannya tak berguna sama sekali.
perlahan ia membalik dan menuruti anak tangga, karena surat titipan itu harus langsung diserahkan kepada penghuni Pondok Bintang Kecil, kini penghuni pondok itu sudah mati, terpaksa ia harus meninggalkan tempat ini dengan perasaan kecewa.
Tapi setelah turun beberapa langkah, Po-giok menolak serta bertanya, "Lalu ... nona, engkau ...siapa?"
Kalem suara itu menjawab, "Aku adalah penghuni pondok mungil ini."
Hampir saja Po-giok berjingkrak, teriaknya kurang tenang "Kenapa engkau menggodaku?"
"Menggodamu?" jengeknya itu dingin, "orang yang sudah mati mana bisa menggoda orang?"
Kaget lagi gusar Po-giok, "kau ... kau ..."
"Aku sudah mati!" tawar suara itu, "Kini aku hanya sukma ..."
Tanpa pikir Po-giok menerjang ke sana.
Gubuk itu memang kecil saja, dibangun dengan dinding batu hijau, meja dan kursi juga dari batu hijau, keadaan serba sederhana, tiada sesuatu yang istimewa, tapi dalam rumah justru dipenuhi hawa dingin yang menyeramkan orang.
Gubuk mungil ini ternyata diliputi hawa kematian yang mencekam perasaan.
Begitu berada dalam rumah ini, tanpa terlihat Po-giok bergidik, kaki pun berhenti dengan segera.
Tampak di depan ada sebuah jendela kecil yang terbuka, hembusan angin lembab berbau amis dan asin meniup masuk dari luar jendela, demikian pula gemuruh damparan ombak terdengar di bawah sana.
Melongok keluar dari jendela kecil orang akan melihat langit nan biru, bergumpal-gumpal mega putih terapung di angkasa, halimun juga terhembus angin masuk ke dalam rumah, seorang gadis tengah berdiri terlongong mengawasi mega.
Gadis ini berdiri membelakangi pintu, berpakaian sari warna hitam, rambutnya yang hitam gelap melambai dihembus angin, demikian pula kain sari yang membungkus tubuhnya juga menari-nari dimainkan angin.
Tapi gadis ini berdiri tegak seperti patung, seolah-olah sejak jaman dulu ia sudah berdiri di situ, hawa kematian yang serba misteri dalam rumah ini justru teruar dari badannya.
Mengawasi bayangan gadis baju hitam, Po-giok juga berdiri diam tanpa bergerak. Memang, kalau benar ada sukma gentayangan di dunia ini, maka gadis bersari hitam yang berdiri di depannya inilah adanya.
Secara gaib gadis ini seperti terbungkus oleh suasana serba hitam gelap, hanya pelipisnya saja yang sewaktu-waktu kelihatan putih bila rambutnya yang panjang tersingkap karena hembusan angin, kulit tubuhnya yang putih halus, begitu indah laksana batu jade.
Walau Po-giok susah melihat wajahnya, tapi secara langsung ia merasakan adanya daya menarik dan misteri secara kuat menyedot keinginannya untuk mendekatinya.
Tanpa bergerak dan tidak menoleh gadis itu berkata pula tawar, Pondok Bintang Kecil adalah tempat kediaman sukma gentayangan, kenapa kau datang kemari?"
"Kedatanganku untuk menyampaikan sepucuk surat," sahut Po-giok.
"Surat? Untuk siapa?" tanya gadis baju hitam.
"Engkau ...penghuni Pondok Bintang Kecil ini."
Dingin suara gadis baju hitam, "Mana ada manusia di dunia ini yang mau kirim surat kepada arwah?"
"Tapi ...orang itu tidak tahu ..."
"Siapa yang kau maksud?"
"Ciang-Jio-bin"
Mendadak gadis baju hitam menunduk diam, sayang Po-giok tidak bisa melihat perubahan air mukanya, sukar diketahui apakah roman mukanya berubah.
Sesaat kemudian, Po-giok bertanya pula "kau kenal Ciang-Jio-bin?"
"Sudah tentu kenal," kalem dan perlahan suara gadis baju hitam, "hanya saja ...dia sudah mati."
"Jadi kau tahu kalau dia sudah mati?" tanya Po-giok dengan terbeliak.
"Kenapa aku tidak tahu?" gadis itu balas bertanya.
"kau ... dari mana kau tahu?"
"Kalau dia belum mati, bukankah dia sendiri yang akan datang."
"Lho, kenapa dia harus datang?"
"Dia ada janji denganku, sudah tentu pasti datang."
"Tapi ...mungkin lantaran ada persoalan lain sehingga dia tertunda datang, lalu bagaimana kau berani memastikan dia sudah mati."
"Kecuali sudah mati, menghadapi persoalan apa pun dia pasti datang, karena ... orang yang punya janji dengan dia adalah aku, bukan orang lain."
Sampai di sini mendadak ia membalik badan. Wajah nan pucat penuh misteri, wajah yang cantik jelita kini berhadapan dengan Po-giok.
Bola matanya dengan kerlingannya yang tajam, cukup membuat setiap laki-laki normal berdegup jantungnya bila diliriknya, kini mata jeli dan bening itu tengah mengawasi Po-giok.
Sepatah demi sepatah ia berkata, "Kalau kamu ada janji dengan aku, kecuali mati, persoalan apa yang dapat merintangi kedatanganmu?...Adakah persoalan lain?"
Po-giok mengawasi kerlingan matanya yang bening dan tenang, di bawah tatapan mata yang indah ini, seolah-olah tiada mata gadis di dunia ini yang dapat membandinginya.
Bukan hanya cantik, tapi kerlingan matanya juga mengandung kecerdikan yang luar biasa, ketabahan dan keuletan yang tiada bandingan.
Sepasang bola mata ini seakan-akan serba tahu, mencakup segala persoalan yang ada di dunia ini tentang kehidupan manusia, lahir, dewasa, tua dan sakit lalu mati, tentang suka duka, puas, sedih dan gembira, di bawah tatapan matanya, semua itu akan berubah menjadi sepele dan pandir.
Di sinilah letak yang tak mungkin disamai oleh gadis lain. Siau-kong-cu sendiri yang menjadi pujaannya juga bukan apa-apa, kalau Siau-kong-cu dijajarkan dengan gadis lain, nona binal itu ibarat bocah cilik yang jenaka dan masih bodoh dan sebelum mengenyam pahit getirnya kehidupan.
Akhirnya Po-giok menghela napas panjang, katanya dengan menunduk, "Betul, Ciang-Jio-bin memang sudah mati."
"Dia sudah mati, maka aku pun sudah mati," kalem dan tawar suara gadis baju hitam.
Suaranya tawar lagi datar, namun mengandung kepedihan dan duka cita yang tak terperikan.
Mendadak Po-giok angkat kepalanya, sekarang baru ia dapat melihat jelas kepedihan orang, mendadak terasakan pula oleh Po-giok, kecerdikan dan keceriaannya ternyata tergembleng dari kepedihan dan duka citanya itu.
Ciang-Jio-bin dianggap "bu-ceng", tidak kenal kasihan, agaknya gadis ini lebih "bu-ceng" lagi, memangnya siapa yang tahu betapa mendalam perasaan mereka, begitu mendalamnya sehingga tak mungkin dijajaki lagi.
Kerlingan tajam gadis baju hitam tetap menatap Po-giok, lambat laun timbul perasaan heran dalam benak Po-giok. Padahal baru pertama kali ini ia melihat dan berhadapan dengan gadis asing ini tapi lama kelamaan dia merasakan dirinya seperti sudah kenal dan dekat dengannya.
Padahal gadis ini bak suatu benda suci yang berada di tempat paling atas, di tempat yang tidak mungkin diraih oleh tangan manusia, namun Po-giok merasakan gadis ini berada di sampingnya, begitu dekat seolah-olah dapat memeluknya, menghibur dan membujuknya supaya tidak sedih.
Tapi Po-giok hanya meraba-raba sampul surat dalam bajunya, sampul surat itu sudah basah dan menjadi kering, basah lagi dan kering, hingga menjadi kumal.
Po-giok berkata, "Apa pun yang terjadi, adalah pantas kalau aku menyerahkan surat ini kepadamu"
"Milikku atau milikmu, apa pula perbedaannya sekarang?"
"Apa ...apa engkau tidak ingin membaca surat ini?"
"Kubaca boleh, tidak kubaca juga tidak menjadi soal, apa bedanya!"
"Tapi ...surat ini sudah kubawa kemari kau ...."
"kalau begitu, tolong bacakan, cukup aku mendengar saja."
"Hei, mana boleh begitu?"
"Kenapa tidak boleh?"
"Ini kan menyangkut rahasia pribadi kalian."
"Rahasia pribadi apa, orang yang sudah mati masih ada rahasia pribadi apa."
Sesaat lamanya Po-giok terlongong, setelah menghela napas ia rogoh keluar sampul surat serta membukanya. Diam-diam ia kuatir keringatnya membuat surat yang basah kering ini menjadi buram tulisannya dan tidak terbaca lagi, ia ingin mempertahankan dan menyimpan sampul surat ini dengan baik.
Karena sampul surat ini melambangkan sehidup semati, cinta murni yang abadi.
Tak pernah terpikir dan terbayangkan oleh Po-giok, bahwa sampul surat itu hanya berisi selembar surat putih kosong tanpa satu huruf pun di atasnya.
Secara prihatin dan penuh keiklasan Ciang-Jio-bin menyerahkan sampul surat itu kepadanya, surat ini ternyata hanya kertas kosong belaka.
Memegangi kertas surat putih kosong itu. Po-giok berdiri melongo.
Sikap gadis baju hitam tetap dingin kaku tanpa berubah, badan kasarnya memang belum mati, namun sanubarinya sudah lama mati, maka hanya berkata tawar, "Bagus sekali, akhirnya aku melihat suratnya itu."
"Tapi ...tapi surat ini ..." Po -giok bingung.
"Makna surat ini kan cukup gamblang, aku juga sudah mengerti, sudah jelas seluruhnya."
Terbelalak mata Po-giok, "Engkau , mengerti surat ini tidak tertulis satu huruf pun."
"Tanpa membaca isi surat itu, aku sudah maklum dan mengerti maksudnya."
"Apa maksudnya?" tanya Po-giok.
"Dia menyuruhmu menyerahkan surat ini padaku, tujuannya supaya aku dapat melihatmu."
Tawar dan datar gadis ini bicara, tapi kaget Po-giok seperti disengat kalajengking, surat di tangannya hampir tak kuat dipegangnya lagi, "Melihatku?" pekiknya heran, "Kenapa harus melihatku?"
"Dalam hal ini, sudah tentu ada sebab musababnya."
"Sebab apa, coba jelaskan?"
"Apa sebabnya, kelak akan kau tahu sendiri."
"Kenapa tidak kau jelaskan sekarang?" desak Po-giok dengan lantang, "seperti juga dua orang yang terdahulu tadi, seolah-olah kau pun menyembunyikan sesuatu rahasia terhadapku. Persoalan apa yang kalian rahasiakan terhadapku?"
Gadis bersari hitam itu tidak menghiraukan pertanyaannya, tidak memedulikan kehadirannya lagi perlahan ia menggerakan kaki, bergerak lembut seperti sukma melayang ke luar, tinggal Po-giok berdiri terlongong di tempatnya.
Hati Po-giok amat ruwet, pikiran gundah.
Kenapa Ciang-Jio-bin berbuat demikian?
Apa dia menghendaki supaya aku menggantikan kedudukannya dalam sanubari gadis ini?
Tidak mungkin! Jelas tidak mungkin!
Jangankan gadis ayu ini mencintainya setengah mati, rela sehidup semati, siapa pun tak mungkin menggantikan dia, umpama aku ...aku merasakan ada sesuatu yang ganjil antara aku dengan dia, sesuatu yang ganjil ini jelas bukan cinta asmara ....
Tahu-tahu gadis bersari hitam itu masuk kembali.
Membawa nampan yang berisi satu poci air dingin, juga berisi makanan, nampan itu ia taruh di depan Po-giok, "Silakan makan!"
Nada perkataannya seperti perintah, po-giok seperti tidak kuasa menolak perintahnya.
Apalagi keadaan Po-giok sekarang memang membutuhkan makanan yang disediakan ini.
Waktu makan dan minum, sedapat mungkin Po-giok melupakan segalanya.
Gadis bersari hitam itu juga membawa sebaskom air dingin dan satu potong handuk yang bersih dan masih baru.
Tanpa minta persetujuan Po-giok, gadis itu mulai menanggalkan pakaian padahal dalam menghadapi ujian berat tadi, mati pun Po-giok tidak membuka pakaian, anak muda itu, kini entah kenapa, sedikit pun Po-giok tidak membantah atau melawan, dia mandeh saja ditelenjangi.
Dengan handuk yang dibasahi air dingin, perlahan tapi meyakinkan gadis bersari hitam, membersihkan luka-luka di tubuh Po-giok yang melepuh terbakar, wajahnya dingin dan kaku, tapi gerak-geriknya tampak lembut dan hangat.
Air dingin itu mungkin sudah dicampur obat, terasa oleh Po-giok ketika handuk basah itu menyentuh kulitnya, terasa dingin nyaman, segar lagi enak menyentuh sanubarinya.
Betapapun dingin dan segar air dalam baskom itu, tetap tidak bisa membersihkan rasa sangsi Po-giok.
Hatinya tidak habis mengerti, gadis dingin yang gerak-geriknya seperti arwah gentayangan ini kenapa mau meladeni dirinya dengan sikap yang hangat, lembut lagi telaten?
Akhirnya tak terkendali rasa ingin tahu Po-giok, "kenapa ini kau lakukan? Apa karena datang mengantar surat itu?"
"Memangnya ada faedah apa surat itu terhadapku?"
"Ya, surat itu hanya kertas kosong ...." Po-giok menunduk.
"Ini kulakukan, karena aku bertemu denganmu."
Terangkat kepala Po-giok, "Karena bertemu denganku? Tapi kenapa? ... Kenapa?"
"Karena aku ingin bertemu denganmu."
"Tapi kenapa kau ingin bertemu denganku?" desak Po-giok, "kau ...engkau tidak kenal aku! Tidak kenal siapa aku."
"kau kan Pui-Po-giok!"
Bergetar tubuh Po-giok, teriaknya kaget, "Engkau mengenalku! Dari ... dari mana kau kenal aku?"
"Sudah tentu ada sebabnya."
"Sebab apa?"
Gadis bersari hitam menaruh handuk basah, lalu berdiri, suaranya rawan memelas, "Sekarang, sebab apa pun tiada persoalan, sekarang tidak ada sebabnya lagi. Sekarang antara dirimu dan aku sudah tiada hubungan apa pun."
Lalu perlahan ia membalik tubuh, suaranya berubah dingin, "Orang yang sudah mati, tidak mungkin punya hubungan dengan siapa pun."
"Apa ...apakah sebenarnya engkau ada hubungan sesuatu denganku?"
"Peduli apa pun hubungannya, apa yang ingin kulakukan untukmu sekarang sudah kulakukan semua, lebih baik kau ...."
"Aku tidak mengerti," pekik Po-giok, "makin banyak ucapanmu, aku makin bingung ...."
"Hakikat dari persoalan ini tidak perlu kau ketahui, antara kau dan aku sudah tiada sangkut-paut, dan selanjutnya, kuharap engkau tidak akan memikirkan diriku, aku pun tidak akan memedulikan dirimu, karena ....".
Dia menarik kain hitam di atas kepalanya untuk menutup wajahnya. "Karena orang mati takkan mengingat atau memikirkan seseorang lagi."
Po-giok melompat bangun dan memburu ke sana, tapi mendadak ia berhenti lalu mundur dan duduk kembali di tempatnya dengan lesu.
Gadis sari hitam berkata, "Waktu Ciang-Jio-bin masuk ke istana tempo hari, dari tempatku ini ia melarikan diri, dari jendela ini, hanya jendela ini satu-satunya tempat yang dapat untuk meloloskan diri dalam istana ini, dia ...setelah merawat luka-lukanya hingga sembuh, dia lompat ke bawah melalui jendela ini di luar jendela ada air laut ....air laut yang lembut ...yang tidak akan mencelakai jiwa manusia ..."
Po-giok menghela napas, "Sejak mula sudah aku duga tentu engkau yang menolongnya ... Selama hayat kau hidup dalam kesepian, maka begitu bertemu dengan dia, kau pasrah dan menyerahkan jiwa ragamu kepadanya."
"Dia memang laki-laki yang patut dihargai setiap gadis boleh menyerahkan diri kepadanya."
"Betul, dia ... dia memang laki-laki baik, seorang ksatria, tapi ... tapi" mendadak Po-giok menggenggam tinju, suaranya keras, "Tapi engkau masih muda, kenapa tidak kau pertahankan hidupmu, ke ... kenapa tidak berusaha?"
"Karena hatiku, semangat dan sukmaku sudah dibawanya pergi."
"Lama Po-giok tepekur, "Jadi engkau sudah bertekad..."
"Ya, tekadku sudah bulat, tentang dirimu ... aku anjurkan melompatlah dari jendela ini. Pek-cui-kiong bukan suatu tempat yang patut kau datangi, di sini hanya ada duka, lara, sengsara dan kesepian ..."
Po-giok bergumam, "Sekarang aku bertambah tahu sedikit, Ciang-Jio bin memberikan suratnya supaya aku menyerahkan padamu, kecuali agar kau dapat melihat dan bertemu denganku, dia juga memperhitungkan bahwa aku juga akan terkurung di sini seperti dia, maka ia memberi petunjuk cara bagaimana aku harus melarikan diri betul tidak?"
"Mungkin demikian, tapi juga mungkin bukan."
"Benar atau tidak, aku tidak akan pergi dari sini. Kecuali aku harus bertemu dengan Kiong-cu aku dapatkan juga Pek-cui-kiong seperti menyembunyikan suatu rahasia yang ada sangkut pautnya denganku ...Sungguh aku tidak habis mengerti, bagaimana mungkin Pek-cui-kiong ada rahasia yang menyangkut diriku. Aku akan menyelidiki dan membongkar rahasia ini."
"Sudah kau putuskan?"
Po-giok mengertak gigi, "Ya, sudah aku putuskan sekarang."
"Kamu tidak menyesal?"
"Kenapa aku harus menyesal?"
"Karena kenyataan itu kejam, kenyataan sering melukai hati orang, tapi kalau kamu sudah bertekad bulat, boleh silakan saja, di sini ada sebuah jalan, jalan yang langsung menembus ke istana tempat tinggal Pek Cui-nio."
Jalan yang ditunjukkan bukan berada di luar rumah tapi di dalam rumah, bentuknya seperti almari.
Gadis sari hitam berdiri di depan mulut jalan, "Dari sini kamu akan dapat bertemu dengan Pek-Cui-nio".
Sejak tadi Po-giok memperhatikan wajahnya, memperhatikan setiap perubahan air mukanya. Sekarang ia menemukan sesuatu perubahan pada wajah yang dingin, wajah yang tidak kelihatan sedih atau riang, wajah yang tawar ini kelihatan sedikit berubah tatkala mulutnya menyebut nama Pek Cui-nio."
Setiap kali mulutnya mengucap satu kata nama orang, bayangan gelap seperti berkelebat pada wajahnya, bayangan gelap yang penuh kebencian, padahal perasaannya sudah beku, sudah mati, namun hanya kebencian itu masih bersemayam dalam lubuk hatinya.
Betapa mendalam kebencian itu. Betapa keras dan mendesaknya.
Tapi gadis ini berada dalam Pek-cui-kiong, dapat dipastikan bahwa gadis ini pasti punya hubungan erat dengan Pek-cui-kiong, kalau hubungannya cukup erat dengan Pek Cui-nio, kenapa ia begitu membenci Pek Cui-nio?
Lalu ada hubungan atau sangkut-paut apa antara gadis ini dengan Pek Cui nio? Hubungan itulah yang membuat Po-giok tiada habis mengerti, namun saat ini Po-giok tidak sempat dan tiada waktu memikirkannya, apalagi memecahkan masalah ini.
Tiada persoalan yang sempat dia pikir lagi maka ia menjura dan berkata, "Terima kasih atas penyambutanmu, pendek kata segalanya aku ucapkan terima kasih, sekarang aku mohon diri."
Mendadak gadis itu berkata, "Jangan berterima kasih padaku, ada sesuatu permintaanku padamu."
Po-giok melengong gadis yang bergerak bagai arwah, gadis yang ayu bak bidadari ini ternyata memohon sesuatu padanya, sungguh mimpi pun tak pernah terbayang oleh Po-giok.
"Kalau kamu merasa keberatan juga tidak menjadi soal," demikian ucap gadis itu kaku.
"Untuk urusan apa saja, boleh kau jelaskan padaku," cepat Po-giok menjawab.
"Dalam hati ada persoalan yang ingin kutanya, hanya engkau yang bisa memberi jawaban."
"Persoalan yang tidak dapat kau pecahkan sendiri, mungkin aku tak bisa menjawabnya."
"Untuk persoalanku ini, kau pasti dapat menjawabnya."
"Oo, persoalan apa?"
"Tentang kungfu."
"Tentang kungfu engkau berminat bicara soal kungfu?"
"Sejak aku tahu urusan, sudah mulai aku pikirkan di antara kungfu yang ada di dunia ini entah ada tidak jurus ilmu silat yang tidak dapat ditangkis atau dilawan oleh setiap insan persilatan."
"Wah persoalan ini ... mungkin tiada orang bisa menjawabnya."
"Betul, persoalanku ini memang sukar dijawab, apalagi sepanjang tahun aku hidup terpencil di pondok kecil ini. Umpama benar ada jurus yang aku maksud di dunia ini juga tidak mungkin kuketahui."
"Aliran silat yang ada di dunia ini beraneka ragam dan tidak bisa dihitung jumlahnya, di antara sekian banyak ilmu silat itu, tidak sedikit merupakan jurus atau tipu serangan yang mematikan, umpama jurus lihai mematikan itu dapat merajalela beberapa waktu lamanya, namun belum pernah ada yang dapat menyapu dunia, andai kata bisa menyapu dunia juga belum terbukti bahwa kepandaian yang dimiliki itu mutlak tidak bisa dilawan oleh pesilat mana pun. kau maklum akan pengertian ini?"
"Aku mengerti, memang tidak ada orang bisa membuktikan makna 'mutlak tidak ada' pada kungfu itu.
"Ya, memang demikian."
"Oleh karena itu, siang-malam aku berpikir, banyak aku ciptakan berbagai jurus ilmu silat, seluruh hasil yang aku capai itu, tanpa aku tanyakan orang lain pun aku sendiri yakin masih dapat melawannya."
"Lalu?"
"Aku bertemu dengan Ciang-Jio-bin. Pada waktu merawat luka-lukanya, aku minta dia memberi tahu seluruh jurus ilmu silat yang pernah dia pelajari padaku."
Orang itu memang cerdik pandai, keturunan keluarga persilatan. Memang tidak sedikit berbagai aliran ilmu silat di dunia ini yang dipelajari dan diselaminya." ujar Po-giok.
"Jurus-jurus silat yang dia jelaskan padaku ada sebagian kira-kira setanding dengan jurus tipu ciptaanku sendiri, namun sebagian besar berbeda jauh. Setelah dia pergi, aku coba-coba mengkombinasikan jurus-jurus itu, aku ingin menemukan suatu rumus atau intisari dari berbagai ilmu silat itu dan menciptakan satu jurus khas yang tak ada taranya."
"kau ...kepintaranmu, mungkin tiada orang lain yang bisa menandingi."
Selama setahun aku tekun berpikir siang malam, akhirnya berhasil aku ciptakan satu jurus aku yakin jurus ciptaanku ini tidak terdapat dalam semua aliran kungfu yang pernah ada di dunia ini."
"kau dapat membuktikan keyakinanmu?"
"Ya, sebab kalau benar ada jurus yang aku maksudkan, maka jurus itu tentu sudah menggetarkan dunia. Ciang-Jio-bin juga pasti sudah tahu, karena dari sekian banyak jurus lihai mematikan yang dia yakinkan dengan mudah, dapat kulawan dan aku patahkan. Tapi jurus ciptaanku yang satu ini, aku sendiri tidak mampu melawan atau mematahkannya meski sudah aku pikirkan setengah tahun lamanya."
Nada suaranya tetap tenang dan datar, namun mengandung keyakinan dan keteguhan yang tidak mungkin dibikin goyah oleh siapa pun, dan keyakinannya itu membuat orang lain harus percaya bahwa apa yang dia katakan memang benar.
Terpancar sinar gairah di mata Po-giok, "Jurus ciptaanmu itu tentu hebat luar biasa."
"Walau aku sendiri tidak mampu melawan atau mematahkan jurus ini, tapi belum bisa membuktikan bahwa orang lain juga pasti tidak mampu melawannya, maka aku menunggu dan menunggu kedatanganmu. Karena aku maklum kalau ada orang dapat membuktikan keyakinanku itu orang itu adalah dirimu."
"Kenapa diriku?"
"Karena aku sudah dengar engkau lah jago silat nomor satu yang hampir menguasai dunia, jika kau pun tidak mampu mematahkan jurus ini, maka tentu lebih jarang lagi orang yang mampu melawannya."
Berkelebat pikiran Po-giok, mendadak ia berkata keras, "Engkau tidak pernah memperhatikan persoalan lain yang ada di dunia ini, kenapa justru ingin benar membuktikan jurus ciptaanmu itu. Mungkin maksudmu hendak menggunakan jurus ciptaanmu ini untuk menghadapi seseorang?"
"Mungkin benar, mungkin juga tidak."
"Untuk menghadapi siapa jurus itu kau ciptakan?"
"Itu urusan pribadiku ... lebih baik jangan turut campur."
"Apakah Pek Cui-nio? Karena engkau membencinya? Kenapa engkau membencinya?"
Tenang gadis itu mengawasi Pui-Po-giok, "Kamu sudah menerima permintaanku, kenapa bertanya dan ingin tahu persoalan lain?"
Po-giok tepekur lama, akhirnya menghela napas, "Mana pedangku?"
Sinar pedang berkelebat, pedang panjang pun menyerang.
Pedang gadis bersari hitam menusuk tempat kosong antara tiga dim di depan ujung kaki Po-giok.
Po-giok melengong, teriaknya, "Terhitung jurus apa ini?"
"Ya, tapi inilah jurus ciptaanku."
"Jurus seranganmu ini takkan bisa melukaiku ....Siapa pun takkan kau lukai dengan jurus ciptaanmu ini."
"Nah, justru di situlah kunci keberhasilan jurus ciptaanku, karena jurus ini meletakkan kita pada posisi yang tidak mungkin menang, maka orang lain tak mungkin melawan, karena siapa pun pesilat di dunia ini belum pernah melihat jurus serangan ciptaanku ini."
Po-giok termenung pula sekian lamanya, akhirnya ia tertawa getir, "Tapi jurus seranganmu ini memang tidak perlu melawan ..."
"Siapa bilang tidak perlu dilawan?"
"Lha ....apa perlu dijelaskan."
"Baiklah, coba perhatikan."
perlahan ia menarik pedang, lalu mengulang tusukan tadi dengan enteng, yang ditusuk tetap tiga dim di depan kaki Po-giok. Tusukan macam ini memang tidak mungkin melukai Po-giok meski cuma seujung rambut saja.
Tapi begitu tusukan itu diulang, mendadak sinar mata Po-giok seperti mencorong tajam, tubuhnya juga mendadak bersalto mundur dua kali di udara, lalu meluncur turun dua tombak ke belakang, wajahnya tampak kaget dan bingung.
Dingin suara gadis sari hitam, "Apa benar jurus seranganku ini tidak perlu dilawan? Kenapa engkau berkelit dan menyingkir?"
"Hebat, sungguh hebat," puji Po-giok dengan jantung berdebar, "Kini baru kutahu kelihaian jurus ciptaanmu ini."
"Apa benar sudah melihat jelas?"
"Kalau aku bersikap tak acuh dan tidak memedulikan jurus serangan ini, maka jurus ini akan menusuk terbalik dari posisi di depan kakiku, jurus serangan pedang yang dilancarkan dari posisi ini, betul-betul aku tidak tahu cara bagaimana harus melawannya?"
"Apa kau tahu sebab apa tidak bisa melawan?"
"Aku ... belum bisa kupikir, tapi ...." mendadak ia keplok sambil berteriak, "Aha, sudah aku temukan jawabnya, karena posisi itu merupakan sudut kematian manusia."
Gadis itu mengawasinya lekat, suaranya tetap kalem, "Betul, telapak kaki siapa pun merupakan sudut kematiannya. Jurus serangan yang dilancarkan dari sudut mematikan ini, jelas belum pernah dan tidak ada dalam ilmu silat aliran yang ada di dunia, oleh karena itu jurus ini juga tidak bisa dilawan oleh siapa pun. Makna murni dan jurus ini adalah menempatkan dirinya pada sudut mematikan lebih dulu ...."
"Pada sudut kematian berjuang untuk hidup, itulah siasat perang yang paling utama," demikian teriak Po-giok, "Kini aku baru tahu, kungfu berbeda dengan siasat perang, namun satu dengan lain bisa manunggal ..."
"Ya, memang demikian, akhirnya kamu mengerti,"
"Jurus ciptaanmu ini memang tidak ada dalam semua aliran silat di dunia ini, karena tidak ada orang pernah berpikir cara bagaimana melancarkan serangan lihai dari sudut kematiannya sendiri," setelah menghela napas Po-giok berkata pula "Tapi kalau bukan seorang jenius luar biasa, siapa pula yang mampu dan dapat menciptakan jurus silat yang luar biasa ini."
Tawar dan dingin suara gadis baju hitam, "Kalau demikian penilaianmu, berarti jurus ciptaanku itu memang tidak dapat dilawan."
"Kukira belum tentu."
"O, kenapa?"
"Karena ada beberapa hal kau lupakan."
"Coba jelaskan."
"Satu hal yang terpenting adalah, pada saat yang sama waktu melancarkan jurus mematikan itu, lawanmu juga akan melancarkan serangan padamu. Karena dalam waktu sedetik kau lancarkan serangan itu, kau sendiri tidak punya tenaga untuk mempertahankan diri. Kecuali selagi latihan atau bertanding dengan seseorang, kalau menghadapi musuh tangguh, memangnya lawanmu mau memberi kesempatan padamu untuk membunuhnya?"
Mendadak gadis bersari hitam menunduk diam.
"Tatkala kau lancarkan tusukanmu, kalau kau pun berpikir cara bagaimana aku harus siaga melindungi awak sendiri, umpama jurus ini belum mencapai jurus lihai yang tidak bisa dilawan, paling sedikit cukup untuk bekal malang melintang di dunia persilatan."
Pandangan gadis sari hitam menatap ke arah jauh melamun, dan mengigau, "Ya, aku tidak bisa."
"Engkau memang tidak bisa, karena dalam detik itu juga, kau tempatkan dirimu pada posisi yang mematikan ...di situlah letak intisari jurus ciptaanmu, tapi juga merupakan titik kelemahan jurus ciptaanmu itu."
Setelah menghela napas Po-giok menambahkan, oleh karena itu meski jurus ini dapat menyapu dunia, tapi tak berguna sama sekali."
Lama sekali gadis sari hitam ini tepekur, setelah menarik napas panjang, akhirnya ia menyingkir ke pinggir katanya, "Pergilah kau !"
Gadis sari hitam melangkah pergi, dia tidak memberi kesempatan pada Po-giok untuk bicara lagi.
Tapi Po-giok tetap berdiri di tempatnya, tidak pergi seperti yang dianjurkan orang.
Po-giok sedang memeras otak.
Dalam jangka setengah hari ini, dia bertemu dengan tiga orang yang serba aneh. Orang pertama menyergapnya dengan serangan lihai, namun menaruh belas kasihan.
Orang kedua juga melancarkan serangan mematikan, namun juga tidak sungguh-sungguh dan yang lebih mengherankan lagi, jurus mematikan yang dilancarkan orang ini ternyata mirip dengan jurus kepandaian Pek-ih~jin dari Tang-hai itu.
"Orang ketiga adalah satu-satunya orang yang dia bisa bertatap muka, walau perempuan yang satu ini bersikap kaku dingin, tapi secara lahir batin Po-giok merasakan adanya suatu ikatan entah dalam hubungan apa antara dirinya dengan gadis itu.
Di luar tahunya, orang ketiga ini juga melancarkan serangan dengan jurus lihai, bukan saja tidak bermaksud jahat, pada hakikatnya dia tidak melancarkan serangan terhadap dirinya.
Kenapa ketiga orang ini sama-sama melancarkan serangan mematikan padanya, namun ketiganya tidak bermaksud merengut nyawanya walau lihai dan mematikan serangan mereka.
Padahal tiga jurus serangan lihai yang dilancarkan pada dirinya itu merupakan tiga jurus paling sakti, tiga jurus paling ganas yang pernah ada di dunia ini. Jika mereka tidak bermaksud merengut jiwa Po-giok, kenapa harus melancarkan jurus selihai dan seaneh itu?
Berkelebat pikiran Po-giok, mendadak ia teringat sesuatu.
"Apakah tujuan mereka hendak memberi petunjuk permainan silat tingkat tinggi padaku?"
"Mungkinkah mereka mempunyai ikatan batin atau hubungan luar biasa dengan aku?"
"Tapi orang-orang dari Pek-cui-kiong ini mana mungkin ada hubungan dengan diriku? Sungguh sukar dicerna dengan akal sehat bahwa ada tiga orang misterius yang punya sangkut-paut dengan dirinya."
Persoalan itu satu dengan lain saling berkaitan, namun satu dengan yang lain juga bertentangan. Sampai pening po-giok memikirkan persoalan ini, ingin memecahkan teka-teki ini, namun sukar memperoleh jawaban yang memuaskan.
Akhirnya ia berkeputusan untuk tidak memusingkan persoalan ini.
perlahan Po-giok melangkah ke dalam sana.
Po-giok yakin Pek-cui-Kiong-cu akhirnya pasti akan memberikan jawaban yang dia inginkan ..."
******
Begitu jari Ban-lo-hu-jin menyentuh hiat-to sendiri, tangan Cui-Thian-ki juga sudah meraih paha ayam, waktu Ban-lo-hu-jin jatuh tersungkur, Cui-Thian-ki pun sudah memapah Oh-Put-jiu.
perlahan Cui-Thian-ki menyobek paha ayam dan menyuapi Oh-Put-jiu sedikit demi sedikit.
Ban-lo-hu-jin berkata, "Rahasia itu menyangkut hubungan Cui-Nio-nio dengan Pui-Po-giok."
Bergetar badan Cui-Thian-kl, hampir saja paha ayam yang dipegangnya jatuh, teriaknya kaget, "Ada rahasia apa antara ibuku dengan Pui-Po-giok?"
"Ah, masa engkau tidak tahu?" tanya Ban-lo-hu-jin.
Cui-Thian-ki gusar, "Memangnya perlu aku berdusta padamu!"
"Nona meninggalkan Pek-cui-kiong memang sudah ada tujuh delapan tahun, tapi kejadian tujuh tahun yang lalu; kukira nona masih mengingatnya."
"Selamanya aku tidak berani tanya urusan ibu, beliau juga melarang aku bertanya. Sejak kecil jarang aku masuk ke kamar tidur beliau."
Walau Cui-Thian-ki berusaha bicara dengan nada wajar, namun mimik wajahnya menampakkan rasa rawan dan sedih, bagi anak yang punya ibu kandung demikian, biarpun ia bisa memperoleh barang yang tidak bisa dimiliki orang lain, tapi barang yang setiap anak perempuan lain bisa mendapatkan dia justru tidak pernah mengenyamnya, dan itu merupakan suatu hal yang paling berharga dan paling mahal di dunia.
Cui-Thian-ki tidak pernah memperoleh kasih sayang ibunya.
Ban-lo-hu-jin menghela napas, "Urusan yang menyangkut Cui-nio-nio sudah tentu siapa pun tidak bisa mencampurinya, tapi tak pernah terbayang olehku bahwa putri kandungnya sendiri juga tidak terkecuali. Hanya saja ... enam belas tahun yang lalu ... ah tidak, peristiwa yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu di Pek-cui-kiong, apa pun kukira engkau dapat mengingatkan."
Bertaut alis Cui-Thian-ki, "Tujuh belas tahun yang, lalu ..." mulutnya mendesis ragu, "Apa yang pernah terjadi dalam Pek-Cui-kiong pada tujuh belas tahun yang lalu?"
"Tujuh belas tahun yang lalu, ada dua orang laki laki perempuan meluruk ke Pek-cui-kiong. Selama empat puluh tahun hanya kedua orang ini yang dapat menerobos ke tempat kediaman Cui-Nio-nio, mereka pula yang menimbulkan kegemparan dan kepanikan pihak Pek-cui-kiong."
"Betul," seru Cui-Thian-ki, "kini aku ingat kedua orang itu, mereka adalah suami istri, kungfu mereka memang amat tinggi, cerdik pandai lagi tapi akhirnya mereka terkalahkan juga oleh ibuku"
"Tapi Cui-nio-nio tidak membunuh mereka" demikian tutur Ban-lo-hu-jin lebih lanjut, "Mereka adalah dua orang yang pernah selamat setelah meluruk ke Pek-cui-kiong ... Bukan saja mereka tidak mati, mereka malah diam dan menetap di sana."
Cui-Thian-ki bergumam, "Sebelum bertarung dengan ibuku, mereka sudah bertaruh, kalau mereka menang, ibuku harus menyerahkan Pek-cui-kiong sebagai tempat peristirahatan mereka, kalau mereka kalah, selama hidup mereka tidak akan meninggalkan Pek-cui-kiong."
Sambil bicara, tangannya tetap menyuapi Oh-Put-jiu.
Oh-Put-jiu asyik mendengarkan, diam-diam ia membatin, "Kedua suami istri itu memiliki kungfu sehebat itu, gigih perwira dan ksatria entah tokoh macam apa mereka?"
Didengarnya Ban-lo-hu-jin berkata pula "Padahal Cui-Nio-nio tidak pernah memberi ampun pada orang-orang yang membuat kegaduhan di istananya, kenapa dia justru bertaruh dengan mereka, nona apakah engkau tahu seluk-beluk persoalan ini?"
"Waktu itu walau usiaku masih kecil, dalam hati aku pun merasa heran, pernah kutanya pada ibu bila ibu sudah mengalahkan mereka, kenapa tidak membunuh mereka, dan kenapa harus bertaruh segala?"
"Apakah Cui-nio-nio memberi penjelasan?" tanya Ban-lo-hu-jin.
"Apa pun aku ini adalah anak kandungnya"
"Jadi beliau menjelaskan padamu?"
Cui-Thian-ki termenung sejenak, "Mungkinkah kejadian itu ada sangkut-pautnya dengan rahasia itu?"
"Bukan saja ada hubungan, sangkut-paut justru amat besar ... Nona, kalau tidak kau jelaskan apa yang kau ketahui, susah aku menyambung ceritaku"
Cui-Thian-ki termenung beberapa saat lagi lalu mendadak mengulap tangan, "Kalian enyah semua. Urusan ini tiada sangkut-paut dengan kalian."
Sebetulnya kawanan bajak itu juga ingin mendengar kisah rahasia orang-orang persilatan, tapi Cui-Thian-ki memerintahkan mereka menyingkir, siapa lagi berani membandel di hadapannya?
Setelah kawanan bajak itu pergi semua baru Cui-Thian-ki melanjutkan dengan perlahan, "Sebetulnya ibuku tidak mau bicara, kalau waktu itu aku sudah dewasa, mungkin dia tidak mau bicara, tapi waktu itu aku masih terlalu kecil, ibu juga ingin melimpahkan perasaan hatinya terhadap seseorang."
Ia menghela napas, lalu melanjutkan, "Maka beliau menepuk-nepuk kepalaku dan memberi tahu padaku, katanya kecuali ayah kandungku yang sudah meninggal itu, laki-laki itu adalah orang yang paling dia senangi, laki-laki idaman hatiku selama hidup ini. Maka apa pun yang terjadi ibu tidak dapat membiarkan dia mati."
"Ya, memang demikian," ujar Ban-lo-hu-jin sambil menghela napas.
"Karena mendapat hati, aku bertanya pula bila ibu menyukainya, kenapa istrinya tidak dibunuh saja? Ibu menjelaskan, bila ibu membunuh perempuan itu, laki-laki itu tentu takkan mengampuninya, tidak akan memaafkannya, maka itu berarti selama hidup ia tidak akan memperoleh cinta kasihnya. Untuk menarik simpati laki-laki itu ibu terpaksa membiarkan mereka hidup, entah kapan akan datang saatnya cita-citanya akan terkabul. "Ai, sejak waktu itu, aku lantas tahu betapa murni, betapa agung apa yang dinamakan cinta itu."
Waktu mengakhiri kata katanya, pandangan Cui-Thian-ki melekat tajam pada wajah Oh-Put-ju.
Oh-Put-jiu juga mengawasinya, "Lalu bagaimana?" tanyanya perlahan.
Mendengar suara orang sudah bertenaga, lega hati Cui-Thian-ki, katanya dengan tertawa, "Lalu ibu memberikan sebidang tanah dalam istana untuk tempat tinggal mereka, siapa pun kecuali mendapat izinnya dilarang masuk ke daerah itu dan mengganggu mereka suami istri."
Oh-Put-jiu menghela napas, "Ternyata ibumu juga seorang romantis."
Cui-Thian-ki tertawa manis, "Aku masih ingat daerah tempat tinggal mereka itu dinamakan Pondok Bintang Kecil. Dari kejauhan aku sering melihat tapi tidak berani mendekat apalagi masuk ke sana. Hingga pada suatu hari ... waktu yang perempuan meninggal dunia."
Kenapa istrinya meninggal? Apakah karena ...." Oh-Put-jiu menjerit kuatir.
"Jangan salah duga," tukas Cui-Thian-ki, Ibu pernah berjanji tidak akan membunuhnya maka dia hidup berkecukupan kecuali jatuh sakit yang parah dan tak tertolong lagi jiwanya. Ibuku memang bukan orang baik, tapi setiap ucapannya dapat dipercaya."
"Ya, akulah yang salah ... tadi perempuan itu ..."
"Ketika tinggal di Pondok Bintang Kecil, perempuan itu sudah bunting sebelum datang, enam bulan sejak mereka tinggal di Pek-cui-kiong, perempuan itu melahirkan seorang anak perempuan yang mungil, dan karena kelahiran anaknya itu akhirnya ia meninggal."
Oh-Put jiu menghela napas, "Kini anak perempuan itu tentu sudah besar?"
"Untuk merawat dan mengasuhnya sampai besar, ibu terpaksa keluar dari istana dan mengundang seorang ibu inang untuknya. Waktu aku meninggalkan istana, anak perempuan itu sudah berusia tujuh atau delapan tahun, meski masih kecil namun sudah tampak rupawan, hanya sayang sejak kecil ia berwatak pendiam, nyentrik dan kaku, segala permainan anak-anak tidak ada yang disukai. Dari pagi hingga petang kerjanya duduk melamun entah apa saja yang dipikir olehnya?"
"Lalu, bagaimana ayahnya ...."
"Ayahnya memang seorang laki-laki sejati, apa yang pernah diucapkan tidak pernah diingkari, selama beberapa tahun tidak pernah ia bicara tentang pulang atau keluar dari istana. Setiap hari ibu menemaninya main catur, membaca, memetik kecapi dan hiburan lainnya, setelah berkumpul sekian lamanya, lama-kelamaan timbul juga asmara diantara mereka. Tapi berani aku memastikan, sampai aku meninggalkan istana, hubungan mereka masih sopan dan tidak melanggar tata susila."
Oh-Put-jiu menghela napas panjang, "laki-laki itu memang ksatria sejati, laki-laki baja yang patut dipuji. Demikian pula ibumu juga seorang perempuan cendekia yang tiada bandingannya, tapi ... ah, sebetulnya dalam keadaan seperti itu, andaikan laki perempuan yang memiliki serba keanehan itu menikah dan menjadi suami istri juga jamak dan masuk akal."
Cui-Thian-ki tertawa lebar, "Sungguh tak terduga bahwa jiwamu lapang dan pikiranmu juga terbuka."
Oh-Put-jiu tersenyum karena pujian itu, "Umpama aku masih kolot, urusan itu tentu juga tidak salah atau keliru. Hanya saja kalau pasangan suami istri ini termasuk orang aneh, setelah mereka lenyap dari kalangan kang-ouw, kenapa tidak pernah terdengar berita kegemparan mereka di Bu-lim?"
Ban-lo-hu-jin menimbrung, "Karena suami istri itu adalah pendekar kelana, hidup mereka melanglang buana, memangnya jarang kaum persilatan yang tahu jejak mereka, demikian pula ayah mereka juga tidak tahu ke mana dan di mana mereka berada."
"Suami istri yang masih muda, dengan masa depan yang cemerlang berkelana bersama ke mana mereka senang tinggal, ke mana mereka mau pergi, tiada orang dapat mengendalikannya, empat lautan adalah rumah mereka. Betapa bebas dan leluasa mereka berkelana, yang pasti banyak orang merasa iri dan juga memuji mereka."
"Sebetulnya orang lain pun dapat meniru mereka ..."
"Tapi apa kau tahu siapa mereka?" tanya Ban-lo-hu-jin.
Cui-Thian-ki melengong, "Ya, aku tidak tahu nama mereka, belum pernah timbul pikiranku untuk tanya siapa mereka, ibuku juga tidak menerangkan ... Dalam Pek-cui-kiong, kecuali ibuku, mungkin tiada orang kedua yang tahu asal-usul mereka."
"Nah, di situlah letak rahasianya, rahasia besar, dan aku tahu rahasia ini," ucap Ban-lo-hu-jin penuh keyakinan.
"Siapa mereka?" tanya Cui-Thian-ki.
perlahan tapi tegas dan tandas perkataan Ban-lo-hu-jin, "Mereka adalah ayah dan ibu Pui-Po-giok."
Tanpa terkendali Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu menjerit kaget.
"Cui-Nio-nio tahu bila mana berita ini bocor, Jing-ping-kiam-khek Pek Sam-kong pasti akan mengerahkan seluruh kaum persilatan meluruk ke Pek-cui-kiong untuk menuntut anak dan menantunya dibebaskan. Oleh karena itu beliau merahasiakan asal usul dan nama mereka."
Jadi ...Pui-toa-ko ku itu ...apakah sampai sekarang masih tinggal di Pek-cui-kiong?"
"Ya, sampai sekarang dia masih tinggal di sana."
"Kalau demikian, anak perempuan yang tinggal di Pondok Bintang Kecil itu adalah adik kandung Pui-Po-giok."
"Ya, memang betul adik kandungnya, gadis jelita itu bernama Pui-Lin-giok."
"Po-ji berangkat ke Pek-cui-kiong, apakah lantaran dia tahu rahasia ini?" tanya Oh-Put-jiu.
"Sedikit pun dia tidak tahu tentang rahasia ini," tegas jawaban Ban-lo-hu-jin.
"Lalu ...untuk apa dia ke sana?" tanya Oh-Put jiu heran.
"Bagian depan cerita ini tadi sudah dikisahkan oleh nona Cui, maka sambungan ceritanya biar aku nenek tua ini yang melanjutkan. Untuk itu perlu aku memberitahukan dua hal pada kalian."
"Cekak aos saja, jangan bertele-tele," sela Oh-Put-jiu.
"Pertama, sekarang Pui-Lin-giok sudah tumbuh dewasa, namun wataknya semakin nyentrik, dalam dua-tiga hari terkadang tidak bicara sepatah kata pun, kerjanya hanya duduk dan tepekur."
Cui-Thian-ki menghela napas, "Hal ini sudah aku bayangkan, aku mengerti. Hal kedua?"
"Sembilan tahun setelah istrinya meninggal akhirnya Pui-tai-hiap menikah dengan Cui-Nio-nio." tutur Ban-lo-hu-jin.
"Hah, dia ...dia benar-benar ..." Oh-Put-jiu gelagapan.
Ban-lo-hu-jin berkata, "Tadi kau bilang kejadian ini kan masuk akal."
"Betul, bukan aku menyalahkan dia ...siapa pun tak boleh menyalahkan dia."
"Memang dia tidak salah, Cui-Nio-nio adalah istri yang paling setia, telaten, lembut dan prihatin, kalau Pui-tai-hiap mau bicara, apa pun keinginannya pasti dituruti. Tapi sering kali Pui-tai-hiap justru bermuram durja, untuk menyenangkan hatinya, tidak jarang Cui-Nio-nio menganjurkan dia keluar istana menghibur diri."
"O? Lalu dia ... "
"Tapi dia tidak mau mengingkari janji dan melanggar sumpah, kalau dia sudah bilang selama hidup tidak akan keluar istana, umpama mati juga tidak mau keluar meski hanya selangkah pun."
Oh-Put-jiu menarik napas, "Pui-toa-ko memang laki-laki sejati."
"Cui-Nio-nio bukan hanya baik dan cinta terhadap suaminya terhadap Pui-Lin-giok dia pun melimpahkan kasih sayangnya seperti terhadap anak kandung sendiri, untuk menghibur dan menyenangkan hatinya, pernah sengaja beliau membiarkan seorang pemuda menerobos ke dalam istana, lari ke daerah Pondok Bintang Kecil, beliau pura-pura tidak tahu dan tidak mengusut perkara ini. Karena ia tahu pemuda itu adalah laki-laki tampan, ksatria muda yang punya masa depan."
"Lalu ... bagaimana mereka?" tanya Cui-Thian-ki.
Ban-lo-hu-jin menghela napas, "Akhirnya nona Pui melepas pemuda itu pergi seorang diri."
Cui-Thian-ki diam sejenak lalu berkata sendu, "Ayah kandungnya terpaksa harus menyekap diri selama hidup di-Pek-cui-kiong, sudah tentu nona itu tidak ingin mengalami nasib sejelek ayahnya ... ai, lahirnya dia kelihatan kaku dingin, padahal hatinya lemah dan panas membara."
"Belakangan diketahui oleh Cui Nio-nio sebab musabab kemuraman dan kemurungan ayah dan anak itu, yaitu lantaran Pui-tai-hiap merindukan putranya, ingin melihat bagaimana rupa putranya setelah tumbuh dewasa. Nona Pui juga ingin sekali melihat dan bertemu dengan kakak kandungnya yang belum pernah dilihatnya sejak lahir."
"Setelah menghela napas Ban-lo-hu-jin meneruskan, "Mereka ingin melihat dan bertemu dengan Pui-Po-giok."
"Bila mereka menyampaikan rahasia ini kepada Pui-Po-giok, umpama Po-giok terlibat urusan besar dan penting sekali pun tentu juga akan menyingkirkan kepentingan lain untuk memburu ke Pek-cui-kiong," demikian komentar Oh-Put-jiu.
"Betul, sudah tujuh belas tahun rahasia ini tertutup rapat, mereka tidak ingin dan segan membicarakannya," Ban-lo-hu-jin menghela napas.
"Jadi terhadap Po-ji juga tidak dijelasksn?" tanya Oh-Put-jiu terbeliak.
"Terhadap orang lain mungkin boleh, tapi terhadap Pui-Po-giok mutlak tidak boleh," sahut Ban-lo-hu-jin.
"Ken ...kenapa?" tanya Oh-Put-jiu bingung.
"Masa tidak dapat kau pikir"
Cui-Thian-ki yang bicara, "Meski kematian ibu kandung Po-ji tidak langsung oleh tangan ibuku, tapi kalau mereka tidak terkurung dalam istana air, mungkin dia tidak akan mati karena kesulitan melahirkan. Mau tidak mau hal ini pasti menimbulkan rasa dendam Po-ji terhadap ibuku."
Oh-Put-jiu mengangguk, "Tapi ibumu sekarang sudah menjadi ibunya juga ...ibumu sudah menjadi bini ayahnya, memangnya apa yang akan dia lakukan setelah tahu rahasia ini? Apakah Pui-toa-ko tega melukai hati putranya?"
"Apalagi Po-ji tengah memikul beban yang amat berat, nasib seluruh kaum persilatan terletak pada pundaknya, mana boleh sanubarinya memikul beban yang berat pula? Kalau selama hidup ia tidak tahu tentang rahasia ini, bukankah dia akan hidup tentram dan bahagia?" demikian komentar Cui-Thian-ki.
"Tapi Pui-toa-ko melihat putra kandung yang dirindukan sudah berada di depan mata, namun tidak bisa mengakuinya sebagai anak, bukankah berat dan menyedihkan penderitaannya," Oh-Put-jiu bicara dengan nada iba.
"Sebagai seorang ayah," demikian ucap Cui-Thian-ki, "Lebih senang diri sendiri menderita daripada membuat anaknya sedih ...Setiap orang tua di dunia ini pasti akan berbuat demikian, rela berkorban demi anaknya," dengan tertawa pedih lalu ia melanjutkan, "Cinta kasih yang murni adalah pengorbanan dan bukan monopoli ... demi cinta perlu mengorbankan diri sendiri, demi kekasihnya, meski dia kehilangan tapi hatinya akan tentram, akan bahagia."
Oh-Put-jiu mengawasinya lekat, cukup lama ia tidak bisa bicara.
perlahan Cui-Thian-ki mengalihkan pandangannya, menoleh ke arah Ban-lo-hu-jin, "Apa benar tujuan mereka hanya ingin melihat Po-giok saja?"
"Ya itulah sebab utama, namun bukan sebab keseluruhannya."
"Jadi masih ada sebab lain?"
"Selama tujuh belas tahun ini, otak mereka yang brilyan berhasil menciptakan banyak jurus-jurus ilmu silat yang lihai tiada taranya, mereka tidak punya ambisi untuk berkuasa dan merebut nama di Bu-lim, hanya satu harapan mereka, yaitu semoga hasil ciptaan mereka yang telah banyak keringat itu dapat diwaris pada generasi mendatang."
"Betul," Cui-Thian-ki menyokong, "ahli waris yang mereka pilih sudah tentu adalah Pui-Po-giok."
"Ya," ucap Ban-lo-hu-jin, "setelah memperoleh warisan kungfu ciptaan kedua orang tuanya, akan menambah bekalnya untuk berduel dengan Pek-ih-jin, keyakinan dan keteguhan hatinya dalam menghadapi duel itu akan memberi dorongan semangat yang kuat demi mencapai kemenangan. Oleh karena itu, menjelang duel dimulai mereka harus menggembleng Po-giok sewaktu mereka bertemu di Pek-Cui-kiong, itulah salah satu kenapa Po-giok harus pergi ke Pek-cui-kiong, itulah jerih payah orang tuanya."
"Tapi waktu yang dijanjikan untuk duel dengan Pek-ih-jin sudah di ambang mata, umpama Po-giok memiliki otak jenius juga tak mungkin dapat mempelajari ilmu silat tinggi yang ruwet dalam waktu yang singkat" nada Cui-Thian-ki amat kuatir.
"Untuk menghadapi masalah yang luar biasa, sudah tentu harus dikerjakan dengan cara yang luar biasa pula. Mereka pasti akan membuat Po-giok mengalami penderitaan, mungkin juga harus mengalami bahaya yang mengancam jiwanya, dengan cara itu baru akan memaksa dia menggunakan otaknya yang brilyan untuk mengatasi dan menghadapi semua hambatan, siapa saja dalam keadaan seperti itu tentu akan lebih cepat menyerap pelajaran itu lebih cepat." demikian komentar Ban-lo-hu-jin.
"Betul," ucap Cui-Thian-ki. "Tiga tahun berlatih setiap hari, belum tentu lebih matang dibanding perkelahian yang mempertaruhkan jiwa raga dalam waktu sekejap, sesuatu yang kita peroleh di kala menghadapi mara bahaya, tiada persoalan atau benda apa pun yang bisa menyamainya."
"Ya, memang demikian," kata Oh-Put-jiu, "kalau mereka ingin menggembleng Po-ji dan memaksa untuk menyerap pelajaran intisari ilmu pedang, mereka pasti akan menyudutkan Po-ji pada posisi yang paling sulit, dalam duel yang mempertaruhkan jiwa umpamanya, mereka akan memaksa Po-ji menyelami secara dekat dan mendalam makna dari jurus pedang yang dilihatnya. Satu hal yang lebih penting adalah, ilmu yang dia pelajari dalam keadaan seperti itu akan lebih merasuk dalam sanubarinya, selama hidup takkan bisa dilupakan."
"Ya memang demikian." ucap Ban-lo-hu-jin.
"Tapi ada juga yang tidak kau ketahui." kata Cui-Thian-ki.
Ban-lo-hu-jin tersenyum, "Apa benar ada sesuatu yang tidak diketahui oleh nenek tua seperti aku?"
"Tahukah kau bahwa kakek luar Pui-Po-giok sekarang sudah meluruk ke Pek-cui-kiong?" tanya Cui-Thian-ki.
Tapi arah yang dituju oleh tapak kaki itu justru menjurus ke sebelah kanan.
Kalau sekarang Po-giok harus mampir ke pondok bintang kecil, lalu bertolak balik menuju ke jalan sebelah kanan, sukarnya mungkin seperti memanjat ke langit, apalagi Ciang-Jio-bin sudah mati di tangannya, siapa tahu kalau di balik surat peninggalan ini ada rencana jahat, perangkap yang akan membahayakan jiwanya? Siapa berani menjamin bahwa di Pondok Bintang Kecil tiada perangkap?
Kondisi badannya sudah payah, umpama ia masih mampu berjalan setelah mampir ke Pondok Bintang Kecil, sisa tenaga yang masih ada jelas tambah lemah lagi, lalu dapatkah dirinya menghadapi ujian dua jurus serangan yang mematikan itu?
Po-giok bimbang, tidak tahu ke arah mana dirinya harus meneruskan perjalanan, ke kiri dulu atau langsung ke arah kanan?
Kalau ke arah kiri dulu, apakah dirinya mampu bertolak balik ke arah kanan, hal ini masih merupakan teka-teki, mungkin sekali tiada kesempatan lagi. Tapi kalau langsung ke arah kanan, kesempatan mempertahankan hidup juga sudah mendesak di depan mata, itu berarti tugas untuk menyerahkan surat peninggalan Ciang-Jio-bin kepada penghuni pondok bintang kecil terpaksa harus diabaikan, mengingkari janjinya terhadap Ciang-Jio bin.
Akhirnya Po-giok menghela napas panjang, gumamnya, "Pui-Po-giok, wahai Pui-Po-giok, Ciang-Jio-bin berani mati karena percaya kamu akan menunaikan pesannya, lalu kenapa kau takut mati dan tidak berani mempertaruhkan jiwa ragamu untuk menepati janjimu?
Sambil mengertak gigi akhirnya Po-giok melangkah ke arah Pondok Bintang Kecil.
Tempat macam apakah sebetulnya Pondok Bintang Kecil.
Kalau Pondok Bintang Kecil berada dalam Pek-cui-kiong, apakah pondok ini juga termasuk di bawah kekuasaan Pek-cui-kiong? Demikian pula penghuni atau pemilik Pondok kecil ini juga Pek-cui-kiong?
Malas Po-giok memikirkan hal ini, karena ia tahu umpama dipikir juga percuma, tidak akan memperoleh jawaban.
Namun ia sudah menyadari dan mendapatkan bahwa jalan di dalam gua raksasa ini, semuanya serba megah, warna-warni dan semarak, gua ini berarti sengaja diciptakan oleh Yang Maha Kuasa untuk tempat para dewa dan dewi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi jalan yang menjurus ke arah Pondok Bintang Kecil, ternyata tidak jauh berbeda dengan jalanan umum yang dapat ditemukan di mana-mana, jalan yang gelap lagi lapang dan biasa.
Po-giok merasakan begitu berjalan di jalan yang menjurus ke arah Pondok Bintang Kecil seolah-olah dirinya kembali lagi ke jalan yang menuju surga.
Walau Pondok Bintang Kecil berada dalam gua misterius di Pek cui-kiong, tapi seolah olah berada di suatu dunia yang tersendiri, dalam suasana yang berbeda, di suatu tempat yang lepas dari ruang lingkup kemisteriusan Pek-cui-kiong.
Mungkin maju ke depan, makin dekat dengan Pondok Bintang Kecil itu, lebih nyata lagi Po-giok merasakan bahwa dugaannya benar.
Sekarang Po-giok sudah melihat jelas, Pondok Bintang Kecil di depannya ini adalah sebuah rumah gubuk yang tidak banyak bedanya dengan rumah petak yang terdapat di kampung halamannya, kampung di mana dirinya dibesarkan. Keadaan gubuk mungil yang satu ini jelas jauh berbeda, berbeda secara menyolok dengan segala kemegahan, keajaiban gua yang semarak dan serba misteri ini.
Pondok kecil mungil itu didirikan di tempat tinggi, ada tangga batu yang menjurus naik ke atas tepat ke arah pintu.
Pintu gubuk mungil itu tertutup rapat, ada cahaya lampu dari dalam yang menyorot keluar dari celah-celah pintu.
Selangkah demi selangkah Po-giok beranjak ke atas, setiap kali melangkah ke atas selalu bertambah satu tanda tanya dalam hatinya.
Kalau Pondok Bintang Kecil ini lepas dari kekuasaan Pek-cui-kiong, lalu siapa pemilik dan penghuninya? Mungkinkah Pek-cui-kiong memberi izin untuk orang luar bertempat tinggal di sini?
Setelah menenangkan hati, akhirnya Po-giok tarik suara, "Adakah penghuni Pondok Bintang Kecil di rumah?"
Tiada suara sahutan, tapi di dalam pondok terdengar suara ramai mirip ombak yang mendampar bertubi-tubi.
Po-giok maju belasan langkah lebih dekat, kembali ia berteriak, "Aku mendapat titipan untuk menyampaikan surat dan harus diserahkan langsung kepada penghuni Pondok Bintang Kecil."
Mendadak ada suara orang dari dalam Pondok mungil itu.
Setelah menghela napas rawan, seorang berkata dengan suara pedih, "Penghuni Pondok Bintang Kecil ini sudah mati."
Jelas itu suara perempuan.
Suara merdu enak didengar namun nadanya mengandung rasa sedih dan dingin.
Nada yang dingin tapi suaranya merdu, keruan Po-giok melengong.
"Sudah mati?" teriaknya kaget.
Suara merdu itu tidak menjawab. Po-giok memang tidak mengharap jawabannya, perlahan ia menarik napas panjang, ia menunggu gejolak perasaannya tentram, rasa kecewanya pun lenyap.
Agaknya kedatangannya menjadi sia-sia, padahal betapa berat tadi ia mengambil keputusan, kenyataan pengorbanannya tak berguna sama sekali.
perlahan ia membalik dan menuruti anak tangga, karena surat titipan itu harus langsung diserahkan kepada penghuni Pondok Bintang Kecil, kini penghuni pondok itu sudah mati, terpaksa ia harus meninggalkan tempat ini dengan perasaan kecewa.
Tapi setelah turun beberapa langkah, Po-giok menolak serta bertanya, "Lalu ... nona, engkau ...siapa?"
Kalem suara itu menjawab, "Aku adalah penghuni pondok mungil ini."
Hampir saja Po-giok berjingkrak, teriaknya kurang tenang "Kenapa engkau menggodaku?"
"Menggodamu?" jengeknya itu dingin, "orang yang sudah mati mana bisa menggoda orang?"
Kaget lagi gusar Po-giok, "kau ... kau ..."
"Aku sudah mati!" tawar suara itu, "Kini aku hanya sukma ..."
Tanpa pikir Po-giok menerjang ke sana.
Gubuk itu memang kecil saja, dibangun dengan dinding batu hijau, meja dan kursi juga dari batu hijau, keadaan serba sederhana, tiada sesuatu yang istimewa, tapi dalam rumah justru dipenuhi hawa dingin yang menyeramkan orang.
Gubuk mungil ini ternyata diliputi hawa kematian yang mencekam perasaan.
Begitu berada dalam rumah ini, tanpa terlihat Po-giok bergidik, kaki pun berhenti dengan segera.
Tampak di depan ada sebuah jendela kecil yang terbuka, hembusan angin lembab berbau amis dan asin meniup masuk dari luar jendela, demikian pula gemuruh damparan ombak terdengar di bawah sana.
Melongok keluar dari jendela kecil orang akan melihat langit nan biru, bergumpal-gumpal mega putih terapung di angkasa, halimun juga terhembus angin masuk ke dalam rumah, seorang gadis tengah berdiri terlongong mengawasi mega.
Gadis ini berdiri membelakangi pintu, berpakaian sari warna hitam, rambutnya yang hitam gelap melambai dihembus angin, demikian pula kain sari yang membungkus tubuhnya juga menari-nari dimainkan angin.
Tapi gadis ini berdiri tegak seperti patung, seolah-olah sejak jaman dulu ia sudah berdiri di situ, hawa kematian yang serba misteri dalam rumah ini justru teruar dari badannya.
Mengawasi bayangan gadis baju hitam, Po-giok juga berdiri diam tanpa bergerak. Memang, kalau benar ada sukma gentayangan di dunia ini, maka gadis bersari hitam yang berdiri di depannya inilah adanya.
Secara gaib gadis ini seperti terbungkus oleh suasana serba hitam gelap, hanya pelipisnya saja yang sewaktu-waktu kelihatan putih bila rambutnya yang panjang tersingkap karena hembusan angin, kulit tubuhnya yang putih halus, begitu indah laksana batu jade.
Walau Po-giok susah melihat wajahnya, tapi secara langsung ia merasakan adanya daya menarik dan misteri secara kuat menyedot keinginannya untuk mendekatinya.
Tanpa bergerak dan tidak menoleh gadis itu berkata pula tawar, Pondok Bintang Kecil adalah tempat kediaman sukma gentayangan, kenapa kau datang kemari?"
"Kedatanganku untuk menyampaikan sepucuk surat," sahut Po-giok.
"Surat? Untuk siapa?" tanya gadis baju hitam.
"Engkau ...penghuni Pondok Bintang Kecil ini."
Dingin suara gadis baju hitam, "Mana ada manusia di dunia ini yang mau kirim surat kepada arwah?"
"Tapi ...orang itu tidak tahu ..."
"Siapa yang kau maksud?"
"Ciang-Jio-bin"
Mendadak gadis baju hitam menunduk diam, sayang Po-giok tidak bisa melihat perubahan air mukanya, sukar diketahui apakah roman mukanya berubah.
Sesaat kemudian, Po-giok bertanya pula "kau kenal Ciang-Jio-bin?"
"Sudah tentu kenal," kalem dan perlahan suara gadis baju hitam, "hanya saja ...dia sudah mati."
"Jadi kau tahu kalau dia sudah mati?" tanya Po-giok dengan terbeliak.
"Kenapa aku tidak tahu?" gadis itu balas bertanya.
"kau ... dari mana kau tahu?"
"Kalau dia belum mati, bukankah dia sendiri yang akan datang."
"Lho, kenapa dia harus datang?"
"Dia ada janji denganku, sudah tentu pasti datang."
"Tapi ...mungkin lantaran ada persoalan lain sehingga dia tertunda datang, lalu bagaimana kau berani memastikan dia sudah mati."
"Kecuali sudah mati, menghadapi persoalan apa pun dia pasti datang, karena ... orang yang punya janji dengan dia adalah aku, bukan orang lain."
Sampai di sini mendadak ia membalik badan. Wajah nan pucat penuh misteri, wajah yang cantik jelita kini berhadapan dengan Po-giok.
Bola matanya dengan kerlingannya yang tajam, cukup membuat setiap laki-laki normal berdegup jantungnya bila diliriknya, kini mata jeli dan bening itu tengah mengawasi Po-giok.
Sepatah demi sepatah ia berkata, "Kalau kamu ada janji dengan aku, kecuali mati, persoalan apa yang dapat merintangi kedatanganmu?...Adakah persoalan lain?"
Po-giok mengawasi kerlingan matanya yang bening dan tenang, di bawah tatapan mata yang indah ini, seolah-olah tiada mata gadis di dunia ini yang dapat membandinginya.
Bukan hanya cantik, tapi kerlingan matanya juga mengandung kecerdikan yang luar biasa, ketabahan dan keuletan yang tiada bandingan.
Sepasang bola mata ini seakan-akan serba tahu, mencakup segala persoalan yang ada di dunia ini tentang kehidupan manusia, lahir, dewasa, tua dan sakit lalu mati, tentang suka duka, puas, sedih dan gembira, di bawah tatapan matanya, semua itu akan berubah menjadi sepele dan pandir.
Di sinilah letak yang tak mungkin disamai oleh gadis lain. Siau-kong-cu sendiri yang menjadi pujaannya juga bukan apa-apa, kalau Siau-kong-cu dijajarkan dengan gadis lain, nona binal itu ibarat bocah cilik yang jenaka dan masih bodoh dan sebelum mengenyam pahit getirnya kehidupan.
Akhirnya Po-giok menghela napas panjang, katanya dengan menunduk, "Betul, Ciang-Jio-bin memang sudah mati."
"Dia sudah mati, maka aku pun sudah mati," kalem dan tawar suara gadis baju hitam.
Suaranya tawar lagi datar, namun mengandung kepedihan dan duka cita yang tak terperikan.
Mendadak Po-giok angkat kepalanya, sekarang baru ia dapat melihat jelas kepedihan orang, mendadak terasakan pula oleh Po-giok, kecerdikan dan keceriaannya ternyata tergembleng dari kepedihan dan duka citanya itu.
Ciang-Jio-bin dianggap "bu-ceng", tidak kenal kasihan, agaknya gadis ini lebih "bu-ceng" lagi, memangnya siapa yang tahu betapa mendalam perasaan mereka, begitu mendalamnya sehingga tak mungkin dijajaki lagi.
Kerlingan tajam gadis baju hitam tetap menatap Po-giok, lambat laun timbul perasaan heran dalam benak Po-giok. Padahal baru pertama kali ini ia melihat dan berhadapan dengan gadis asing ini tapi lama kelamaan dia merasakan dirinya seperti sudah kenal dan dekat dengannya.
Padahal gadis ini bak suatu benda suci yang berada di tempat paling atas, di tempat yang tidak mungkin diraih oleh tangan manusia, namun Po-giok merasakan gadis ini berada di sampingnya, begitu dekat seolah-olah dapat memeluknya, menghibur dan membujuknya supaya tidak sedih.
Tapi Po-giok hanya meraba-raba sampul surat dalam bajunya, sampul surat itu sudah basah dan menjadi kering, basah lagi dan kering, hingga menjadi kumal.
Po-giok berkata, "Apa pun yang terjadi, adalah pantas kalau aku menyerahkan surat ini kepadamu"
"Milikku atau milikmu, apa pula perbedaannya sekarang?"
"Apa ...apa engkau tidak ingin membaca surat ini?"
"Kubaca boleh, tidak kubaca juga tidak menjadi soal, apa bedanya!"
"Tapi ...surat ini sudah kubawa kemari kau ...."
"kalau begitu, tolong bacakan, cukup aku mendengar saja."
"Hei, mana boleh begitu?"
"Kenapa tidak boleh?"
"Ini kan menyangkut rahasia pribadi kalian."
"Rahasia pribadi apa, orang yang sudah mati masih ada rahasia pribadi apa."
Sesaat lamanya Po-giok terlongong, setelah menghela napas ia rogoh keluar sampul surat serta membukanya. Diam-diam ia kuatir keringatnya membuat surat yang basah kering ini menjadi buram tulisannya dan tidak terbaca lagi, ia ingin mempertahankan dan menyimpan sampul surat ini dengan baik.
Karena sampul surat ini melambangkan sehidup semati, cinta murni yang abadi.
Tak pernah terpikir dan terbayangkan oleh Po-giok, bahwa sampul surat itu hanya berisi selembar surat putih kosong tanpa satu huruf pun di atasnya.
Secara prihatin dan penuh keiklasan Ciang-Jio-bin menyerahkan sampul surat itu kepadanya, surat ini ternyata hanya kertas kosong belaka.
Memegangi kertas surat putih kosong itu. Po-giok berdiri melongo.
Sikap gadis baju hitam tetap dingin kaku tanpa berubah, badan kasarnya memang belum mati, namun sanubarinya sudah lama mati, maka hanya berkata tawar, "Bagus sekali, akhirnya aku melihat suratnya itu."
"Tapi ...tapi surat ini ..." Po -giok bingung.
"Makna surat ini kan cukup gamblang, aku juga sudah mengerti, sudah jelas seluruhnya."
Terbelalak mata Po-giok, "Engkau , mengerti surat ini tidak tertulis satu huruf pun."
"Tanpa membaca isi surat itu, aku sudah maklum dan mengerti maksudnya."
"Apa maksudnya?" tanya Po-giok.
"Dia menyuruhmu menyerahkan surat ini padaku, tujuannya supaya aku dapat melihatmu."
Tawar dan datar gadis ini bicara, tapi kaget Po-giok seperti disengat kalajengking, surat di tangannya hampir tak kuat dipegangnya lagi, "Melihatku?" pekiknya heran, "Kenapa harus melihatku?"
"Dalam hal ini, sudah tentu ada sebab musababnya."
"Sebab apa, coba jelaskan?"
"Apa sebabnya, kelak akan kau tahu sendiri."
"Kenapa tidak kau jelaskan sekarang?" desak Po-giok dengan lantang, "seperti juga dua orang yang terdahulu tadi, seolah-olah kau pun menyembunyikan sesuatu rahasia terhadapku. Persoalan apa yang kalian rahasiakan terhadapku?"
Gadis bersari hitam itu tidak menghiraukan pertanyaannya, tidak memedulikan kehadirannya lagi perlahan ia menggerakan kaki, bergerak lembut seperti sukma melayang ke luar, tinggal Po-giok berdiri terlongong di tempatnya.
Hati Po-giok amat ruwet, pikiran gundah.
Kenapa Ciang-Jio-bin berbuat demikian?
Apa dia menghendaki supaya aku menggantikan kedudukannya dalam sanubari gadis ini?
Tidak mungkin! Jelas tidak mungkin!
Jangankan gadis ayu ini mencintainya setengah mati, rela sehidup semati, siapa pun tak mungkin menggantikan dia, umpama aku ...aku merasakan ada sesuatu yang ganjil antara aku dengan dia, sesuatu yang ganjil ini jelas bukan cinta asmara ....
Tahu-tahu gadis bersari hitam itu masuk kembali.
Membawa nampan yang berisi satu poci air dingin, juga berisi makanan, nampan itu ia taruh di depan Po-giok, "Silakan makan!"
Nada perkataannya seperti perintah, po-giok seperti tidak kuasa menolak perintahnya.
Apalagi keadaan Po-giok sekarang memang membutuhkan makanan yang disediakan ini.
Waktu makan dan minum, sedapat mungkin Po-giok melupakan segalanya.
Gadis bersari hitam itu juga membawa sebaskom air dingin dan satu potong handuk yang bersih dan masih baru.
Tanpa minta persetujuan Po-giok, gadis itu mulai menanggalkan pakaian padahal dalam menghadapi ujian berat tadi, mati pun Po-giok tidak membuka pakaian, anak muda itu, kini entah kenapa, sedikit pun Po-giok tidak membantah atau melawan, dia mandeh saja ditelenjangi.
Dengan handuk yang dibasahi air dingin, perlahan tapi meyakinkan gadis bersari hitam, membersihkan luka-luka di tubuh Po-giok yang melepuh terbakar, wajahnya dingin dan kaku, tapi gerak-geriknya tampak lembut dan hangat.
Air dingin itu mungkin sudah dicampur obat, terasa oleh Po-giok ketika handuk basah itu menyentuh kulitnya, terasa dingin nyaman, segar lagi enak menyentuh sanubarinya.
Betapapun dingin dan segar air dalam baskom itu, tetap tidak bisa membersihkan rasa sangsi Po-giok.
Hatinya tidak habis mengerti, gadis dingin yang gerak-geriknya seperti arwah gentayangan ini kenapa mau meladeni dirinya dengan sikap yang hangat, lembut lagi telaten?
Akhirnya tak terkendali rasa ingin tahu Po-giok, "kenapa ini kau lakukan? Apa karena datang mengantar surat itu?"
"Memangnya ada faedah apa surat itu terhadapku?"
"Ya, surat itu hanya kertas kosong ...." Po-giok menunduk.
"Ini kulakukan, karena aku bertemu denganmu."
Terangkat kepala Po-giok, "Karena bertemu denganku? Tapi kenapa? ... Kenapa?"
"Karena aku ingin bertemu denganmu."
"Tapi kenapa kau ingin bertemu denganku?" desak Po-giok, "kau ...engkau tidak kenal aku! Tidak kenal siapa aku."
"kau kan Pui-Po-giok!"
Bergetar tubuh Po-giok, teriaknya kaget, "Engkau mengenalku! Dari ... dari mana kau kenal aku?"
"Sudah tentu ada sebabnya."
"Sebab apa?"
Gadis bersari hitam menaruh handuk basah, lalu berdiri, suaranya rawan memelas, "Sekarang, sebab apa pun tiada persoalan, sekarang tidak ada sebabnya lagi. Sekarang antara dirimu dan aku sudah tiada hubungan apa pun."
Lalu perlahan ia membalik tubuh, suaranya berubah dingin, "Orang yang sudah mati, tidak mungkin punya hubungan dengan siapa pun."
"Apa ...apakah sebenarnya engkau ada hubungan sesuatu denganku?"
"Peduli apa pun hubungannya, apa yang ingin kulakukan untukmu sekarang sudah kulakukan semua, lebih baik kau ...."
"Aku tidak mengerti," pekik Po-giok, "makin banyak ucapanmu, aku makin bingung ...."
"Hakikat dari persoalan ini tidak perlu kau ketahui, antara kau dan aku sudah tiada sangkut-paut, dan selanjutnya, kuharap engkau tidak akan memikirkan diriku, aku pun tidak akan memedulikan dirimu, karena ....".
Dia menarik kain hitam di atas kepalanya untuk menutup wajahnya. "Karena orang mati takkan mengingat atau memikirkan seseorang lagi."
Po-giok melompat bangun dan memburu ke sana, tapi mendadak ia berhenti lalu mundur dan duduk kembali di tempatnya dengan lesu.
Gadis sari hitam berkata, "Waktu Ciang-Jio-bin masuk ke istana tempo hari, dari tempatku ini ia melarikan diri, dari jendela ini, hanya jendela ini satu-satunya tempat yang dapat untuk meloloskan diri dalam istana ini, dia ...setelah merawat luka-lukanya hingga sembuh, dia lompat ke bawah melalui jendela ini di luar jendela ada air laut ....air laut yang lembut ...yang tidak akan mencelakai jiwa manusia ..."
Po-giok menghela napas, "Sejak mula sudah aku duga tentu engkau yang menolongnya ... Selama hayat kau hidup dalam kesepian, maka begitu bertemu dengan dia, kau pasrah dan menyerahkan jiwa ragamu kepadanya."
"Dia memang laki-laki yang patut dihargai setiap gadis boleh menyerahkan diri kepadanya."
"Betul, dia ... dia memang laki-laki baik, seorang ksatria, tapi ... tapi" mendadak Po-giok menggenggam tinju, suaranya keras, "Tapi engkau masih muda, kenapa tidak kau pertahankan hidupmu, ke ... kenapa tidak berusaha?"
"Karena hatiku, semangat dan sukmaku sudah dibawanya pergi."
"Lama Po-giok tepekur, "Jadi engkau sudah bertekad..."
"Ya, tekadku sudah bulat, tentang dirimu ... aku anjurkan melompatlah dari jendela ini. Pek-cui-kiong bukan suatu tempat yang patut kau datangi, di sini hanya ada duka, lara, sengsara dan kesepian ..."
Po-giok bergumam, "Sekarang aku bertambah tahu sedikit, Ciang-Jio bin memberikan suratnya supaya aku menyerahkan padamu, kecuali agar kau dapat melihat dan bertemu denganku, dia juga memperhitungkan bahwa aku juga akan terkurung di sini seperti dia, maka ia memberi petunjuk cara bagaimana aku harus melarikan diri betul tidak?"
"Mungkin demikian, tapi juga mungkin bukan."
"Benar atau tidak, aku tidak akan pergi dari sini. Kecuali aku harus bertemu dengan Kiong-cu aku dapatkan juga Pek-cui-kiong seperti menyembunyikan suatu rahasia yang ada sangkut pautnya denganku ...Sungguh aku tidak habis mengerti, bagaimana mungkin Pek-cui-kiong ada rahasia yang menyangkut diriku. Aku akan menyelidiki dan membongkar rahasia ini."
"Sudah kau putuskan?"
Po-giok mengertak gigi, "Ya, sudah aku putuskan sekarang."
"Kamu tidak menyesal?"
"Kenapa aku harus menyesal?"
"Karena kenyataan itu kejam, kenyataan sering melukai hati orang, tapi kalau kamu sudah bertekad bulat, boleh silakan saja, di sini ada sebuah jalan, jalan yang langsung menembus ke istana tempat tinggal Pek Cui-nio."
Jalan yang ditunjukkan bukan berada di luar rumah tapi di dalam rumah, bentuknya seperti almari.
Gadis sari hitam berdiri di depan mulut jalan, "Dari sini kamu akan dapat bertemu dengan Pek-Cui-nio".
Sejak tadi Po-giok memperhatikan wajahnya, memperhatikan setiap perubahan air mukanya. Sekarang ia menemukan sesuatu perubahan pada wajah yang dingin, wajah yang tidak kelihatan sedih atau riang, wajah yang tawar ini kelihatan sedikit berubah tatkala mulutnya menyebut nama Pek Cui-nio."
Setiap kali mulutnya mengucap satu kata nama orang, bayangan gelap seperti berkelebat pada wajahnya, bayangan gelap yang penuh kebencian, padahal perasaannya sudah beku, sudah mati, namun hanya kebencian itu masih bersemayam dalam lubuk hatinya.
Betapa mendalam kebencian itu. Betapa keras dan mendesaknya.
Tapi gadis ini berada dalam Pek-cui-kiong, dapat dipastikan bahwa gadis ini pasti punya hubungan erat dengan Pek-cui-kiong, kalau hubungannya cukup erat dengan Pek Cui-nio, kenapa ia begitu membenci Pek Cui-nio?
Lalu ada hubungan atau sangkut-paut apa antara gadis ini dengan Pek Cui nio? Hubungan itulah yang membuat Po-giok tiada habis mengerti, namun saat ini Po-giok tidak sempat dan tiada waktu memikirkannya, apalagi memecahkan masalah ini.
Tiada persoalan yang sempat dia pikir lagi maka ia menjura dan berkata, "Terima kasih atas penyambutanmu, pendek kata segalanya aku ucapkan terima kasih, sekarang aku mohon diri."
Mendadak gadis itu berkata, "Jangan berterima kasih padaku, ada sesuatu permintaanku padamu."
Po-giok melengong gadis yang bergerak bagai arwah, gadis yang ayu bak bidadari ini ternyata memohon sesuatu padanya, sungguh mimpi pun tak pernah terbayang oleh Po-giok.
"Kalau kamu merasa keberatan juga tidak menjadi soal," demikian ucap gadis itu kaku.
"Untuk urusan apa saja, boleh kau jelaskan padaku," cepat Po-giok menjawab.
"Dalam hati ada persoalan yang ingin kutanya, hanya engkau yang bisa memberi jawaban."
"Persoalan yang tidak dapat kau pecahkan sendiri, mungkin aku tak bisa menjawabnya."
"Untuk persoalanku ini, kau pasti dapat menjawabnya."
"Oo, persoalan apa?"
"Tentang kungfu."
"Tentang kungfu engkau berminat bicara soal kungfu?"
"Sejak aku tahu urusan, sudah mulai aku pikirkan di antara kungfu yang ada di dunia ini entah ada tidak jurus ilmu silat yang tidak dapat ditangkis atau dilawan oleh setiap insan persilatan."
"Wah persoalan ini ... mungkin tiada orang bisa menjawabnya."
"Betul, persoalanku ini memang sukar dijawab, apalagi sepanjang tahun aku hidup terpencil di pondok kecil ini. Umpama benar ada jurus yang aku maksud di dunia ini juga tidak mungkin kuketahui."
"Aliran silat yang ada di dunia ini beraneka ragam dan tidak bisa dihitung jumlahnya, di antara sekian banyak ilmu silat itu, tidak sedikit merupakan jurus atau tipu serangan yang mematikan, umpama jurus lihai mematikan itu dapat merajalela beberapa waktu lamanya, namun belum pernah ada yang dapat menyapu dunia, andai kata bisa menyapu dunia juga belum terbukti bahwa kepandaian yang dimiliki itu mutlak tidak bisa dilawan oleh pesilat mana pun. kau maklum akan pengertian ini?"
"Aku mengerti, memang tidak ada orang bisa membuktikan makna 'mutlak tidak ada' pada kungfu itu.
"Ya, memang demikian."
"Oleh karena itu, siang-malam aku berpikir, banyak aku ciptakan berbagai jurus ilmu silat, seluruh hasil yang aku capai itu, tanpa aku tanyakan orang lain pun aku sendiri yakin masih dapat melawannya."
"Lalu?"
"Aku bertemu dengan Ciang-Jio-bin. Pada waktu merawat luka-lukanya, aku minta dia memberi tahu seluruh jurus ilmu silat yang pernah dia pelajari padaku."
Orang itu memang cerdik pandai, keturunan keluarga persilatan. Memang tidak sedikit berbagai aliran ilmu silat di dunia ini yang dipelajari dan diselaminya." ujar Po-giok.
"Jurus-jurus silat yang dia jelaskan padaku ada sebagian kira-kira setanding dengan jurus tipu ciptaanku sendiri, namun sebagian besar berbeda jauh. Setelah dia pergi, aku coba-coba mengkombinasikan jurus-jurus itu, aku ingin menemukan suatu rumus atau intisari dari berbagai ilmu silat itu dan menciptakan satu jurus khas yang tak ada taranya."
"kau ...kepintaranmu, mungkin tiada orang lain yang bisa menandingi."
Selama setahun aku tekun berpikir siang malam, akhirnya berhasil aku ciptakan satu jurus aku yakin jurus ciptaanku ini tidak terdapat dalam semua aliran kungfu yang pernah ada di dunia ini."
"kau dapat membuktikan keyakinanmu?"
"Ya, sebab kalau benar ada jurus yang aku maksudkan, maka jurus itu tentu sudah menggetarkan dunia. Ciang-Jio-bin juga pasti sudah tahu, karena dari sekian banyak jurus lihai mematikan yang dia yakinkan dengan mudah, dapat kulawan dan aku patahkan. Tapi jurus ciptaanku yang satu ini, aku sendiri tidak mampu melawan atau mematahkannya meski sudah aku pikirkan setengah tahun lamanya."
Nada suaranya tetap tenang dan datar, namun mengandung keyakinan dan keteguhan yang tidak mungkin dibikin goyah oleh siapa pun, dan keyakinannya itu membuat orang lain harus percaya bahwa apa yang dia katakan memang benar.
Terpancar sinar gairah di mata Po-giok, "Jurus ciptaanmu itu tentu hebat luar biasa."
"Walau aku sendiri tidak mampu melawan atau mematahkan jurus ini, tapi belum bisa membuktikan bahwa orang lain juga pasti tidak mampu melawannya, maka aku menunggu dan menunggu kedatanganmu. Karena aku maklum kalau ada orang dapat membuktikan keyakinanku itu orang itu adalah dirimu."
"Kenapa diriku?"
"Karena aku sudah dengar engkau lah jago silat nomor satu yang hampir menguasai dunia, jika kau pun tidak mampu mematahkan jurus ini, maka tentu lebih jarang lagi orang yang mampu melawannya."
Berkelebat pikiran Po-giok, mendadak ia berkata keras, "Engkau tidak pernah memperhatikan persoalan lain yang ada di dunia ini, kenapa justru ingin benar membuktikan jurus ciptaanmu itu. Mungkin maksudmu hendak menggunakan jurus ciptaanmu ini untuk menghadapi seseorang?"
"Mungkin benar, mungkin juga tidak."
"Untuk menghadapi siapa jurus itu kau ciptakan?"
"Itu urusan pribadiku ... lebih baik jangan turut campur."
"Apakah Pek Cui-nio? Karena engkau membencinya? Kenapa engkau membencinya?"
Tenang gadis itu mengawasi Pui-Po-giok, "Kamu sudah menerima permintaanku, kenapa bertanya dan ingin tahu persoalan lain?"
Po-giok tepekur lama, akhirnya menghela napas, "Mana pedangku?"
Sinar pedang berkelebat, pedang panjang pun menyerang.
Pedang gadis bersari hitam menusuk tempat kosong antara tiga dim di depan ujung kaki Po-giok.
Po-giok melengong, teriaknya, "Terhitung jurus apa ini?"
"Ya, tapi inilah jurus ciptaanku."
"Jurus seranganmu ini takkan bisa melukaiku ....Siapa pun takkan kau lukai dengan jurus ciptaanmu ini."
"Nah, justru di situlah kunci keberhasilan jurus ciptaanku, karena jurus ini meletakkan kita pada posisi yang tidak mungkin menang, maka orang lain tak mungkin melawan, karena siapa pun pesilat di dunia ini belum pernah melihat jurus serangan ciptaanku ini."
Po-giok termenung pula sekian lamanya, akhirnya ia tertawa getir, "Tapi jurus seranganmu ini memang tidak perlu melawan ..."
"Siapa bilang tidak perlu dilawan?"
"Lha ....apa perlu dijelaskan."
"Baiklah, coba perhatikan."
perlahan ia menarik pedang, lalu mengulang tusukan tadi dengan enteng, yang ditusuk tetap tiga dim di depan kaki Po-giok. Tusukan macam ini memang tidak mungkin melukai Po-giok meski cuma seujung rambut saja.
Tapi begitu tusukan itu diulang, mendadak sinar mata Po-giok seperti mencorong tajam, tubuhnya juga mendadak bersalto mundur dua kali di udara, lalu meluncur turun dua tombak ke belakang, wajahnya tampak kaget dan bingung.
Dingin suara gadis sari hitam, "Apa benar jurus seranganku ini tidak perlu dilawan? Kenapa engkau berkelit dan menyingkir?"
"Hebat, sungguh hebat," puji Po-giok dengan jantung berdebar, "Kini baru kutahu kelihaian jurus ciptaanmu ini."
"Apa benar sudah melihat jelas?"
"Kalau aku bersikap tak acuh dan tidak memedulikan jurus serangan ini, maka jurus ini akan menusuk terbalik dari posisi di depan kakiku, jurus serangan pedang yang dilancarkan dari posisi ini, betul-betul aku tidak tahu cara bagaimana harus melawannya?"
"Apa kau tahu sebab apa tidak bisa melawan?"
"Aku ... belum bisa kupikir, tapi ...." mendadak ia keplok sambil berteriak, "Aha, sudah aku temukan jawabnya, karena posisi itu merupakan sudut kematian manusia."
Gadis itu mengawasinya lekat, suaranya tetap kalem, "Betul, telapak kaki siapa pun merupakan sudut kematiannya. Jurus serangan yang dilancarkan dari sudut mematikan ini, jelas belum pernah dan tidak ada dalam ilmu silat aliran yang ada di dunia, oleh karena itu jurus ini juga tidak bisa dilawan oleh siapa pun. Makna murni dan jurus ini adalah menempatkan dirinya pada sudut mematikan lebih dulu ...."
"Pada sudut kematian berjuang untuk hidup, itulah siasat perang yang paling utama," demikian teriak Po-giok, "Kini aku baru tahu, kungfu berbeda dengan siasat perang, namun satu dengan lain bisa manunggal ..."
"Ya, memang demikian, akhirnya kamu mengerti,"
"Jurus ciptaanmu ini memang tidak ada dalam semua aliran silat di dunia ini, karena tidak ada orang pernah berpikir cara bagaimana melancarkan serangan lihai dari sudut kematiannya sendiri," setelah menghela napas Po-giok berkata pula "Tapi kalau bukan seorang jenius luar biasa, siapa pula yang mampu dan dapat menciptakan jurus silat yang luar biasa ini."
Tawar dan dingin suara gadis baju hitam, "Kalau demikian penilaianmu, berarti jurus ciptaanku itu memang tidak dapat dilawan."
"Kukira belum tentu."
"O, kenapa?"
"Karena ada beberapa hal kau lupakan."
"Coba jelaskan."
"Satu hal yang terpenting adalah, pada saat yang sama waktu melancarkan jurus mematikan itu, lawanmu juga akan melancarkan serangan padamu. Karena dalam waktu sedetik kau lancarkan serangan itu, kau sendiri tidak punya tenaga untuk mempertahankan diri. Kecuali selagi latihan atau bertanding dengan seseorang, kalau menghadapi musuh tangguh, memangnya lawanmu mau memberi kesempatan padamu untuk membunuhnya?"
Mendadak gadis bersari hitam menunduk diam.
"Tatkala kau lancarkan tusukanmu, kalau kau pun berpikir cara bagaimana aku harus siaga melindungi awak sendiri, umpama jurus ini belum mencapai jurus lihai yang tidak bisa dilawan, paling sedikit cukup untuk bekal malang melintang di dunia persilatan."
Pandangan gadis sari hitam menatap ke arah jauh melamun, dan mengigau, "Ya, aku tidak bisa."
"Engkau memang tidak bisa, karena dalam detik itu juga, kau tempatkan dirimu pada posisi yang mematikan ...di situlah letak intisari jurus ciptaanmu, tapi juga merupakan titik kelemahan jurus ciptaanmu itu."
Setelah menghela napas Po-giok menambahkan, oleh karena itu meski jurus ini dapat menyapu dunia, tapi tak berguna sama sekali."
Lama sekali gadis sari hitam ini tepekur, setelah menarik napas panjang, akhirnya ia menyingkir ke pinggir katanya, "Pergilah kau !"
Gadis sari hitam melangkah pergi, dia tidak memberi kesempatan pada Po-giok untuk bicara lagi.
Tapi Po-giok tetap berdiri di tempatnya, tidak pergi seperti yang dianjurkan orang.
Po-giok sedang memeras otak.
Dalam jangka setengah hari ini, dia bertemu dengan tiga orang yang serba aneh. Orang pertama menyergapnya dengan serangan lihai, namun menaruh belas kasihan.
Orang kedua juga melancarkan serangan mematikan, namun juga tidak sungguh-sungguh dan yang lebih mengherankan lagi, jurus mematikan yang dilancarkan orang ini ternyata mirip dengan jurus kepandaian Pek-ih~jin dari Tang-hai itu.
"Orang ketiga adalah satu-satunya orang yang dia bisa bertatap muka, walau perempuan yang satu ini bersikap kaku dingin, tapi secara lahir batin Po-giok merasakan adanya suatu ikatan entah dalam hubungan apa antara dirinya dengan gadis itu.
Di luar tahunya, orang ketiga ini juga melancarkan serangan dengan jurus lihai, bukan saja tidak bermaksud jahat, pada hakikatnya dia tidak melancarkan serangan terhadap dirinya.
Kenapa ketiga orang ini sama-sama melancarkan serangan mematikan padanya, namun ketiganya tidak bermaksud merengut nyawanya walau lihai dan mematikan serangan mereka.
Padahal tiga jurus serangan lihai yang dilancarkan pada dirinya itu merupakan tiga jurus paling sakti, tiga jurus paling ganas yang pernah ada di dunia ini. Jika mereka tidak bermaksud merengut jiwa Po-giok, kenapa harus melancarkan jurus selihai dan seaneh itu?
Berkelebat pikiran Po-giok, mendadak ia teringat sesuatu.
"Apakah tujuan mereka hendak memberi petunjuk permainan silat tingkat tinggi padaku?"
"Mungkinkah mereka mempunyai ikatan batin atau hubungan luar biasa dengan aku?"
"Tapi orang-orang dari Pek-cui-kiong ini mana mungkin ada hubungan dengan diriku? Sungguh sukar dicerna dengan akal sehat bahwa ada tiga orang misterius yang punya sangkut-paut dengan dirinya."
Persoalan itu satu dengan lain saling berkaitan, namun satu dengan yang lain juga bertentangan. Sampai pening po-giok memikirkan persoalan ini, ingin memecahkan teka-teki ini, namun sukar memperoleh jawaban yang memuaskan.
Akhirnya ia berkeputusan untuk tidak memusingkan persoalan ini.
perlahan Po-giok melangkah ke dalam sana.
Po-giok yakin Pek-cui-Kiong-cu akhirnya pasti akan memberikan jawaban yang dia inginkan ..."
******
Begitu jari Ban-lo-hu-jin menyentuh hiat-to sendiri, tangan Cui-Thian-ki juga sudah meraih paha ayam, waktu Ban-lo-hu-jin jatuh tersungkur, Cui-Thian-ki pun sudah memapah Oh-Put-jiu.
perlahan Cui-Thian-ki menyobek paha ayam dan menyuapi Oh-Put-jiu sedikit demi sedikit.
Ban-lo-hu-jin berkata, "Rahasia itu menyangkut hubungan Cui-Nio-nio dengan Pui-Po-giok."
Bergetar badan Cui-Thian-kl, hampir saja paha ayam yang dipegangnya jatuh, teriaknya kaget, "Ada rahasia apa antara ibuku dengan Pui-Po-giok?"
"Ah, masa engkau tidak tahu?" tanya Ban-lo-hu-jin.
Cui-Thian-ki gusar, "Memangnya perlu aku berdusta padamu!"
"Nona meninggalkan Pek-cui-kiong memang sudah ada tujuh delapan tahun, tapi kejadian tujuh tahun yang lalu; kukira nona masih mengingatnya."
"Selamanya aku tidak berani tanya urusan ibu, beliau juga melarang aku bertanya. Sejak kecil jarang aku masuk ke kamar tidur beliau."
Walau Cui-Thian-ki berusaha bicara dengan nada wajar, namun mimik wajahnya menampakkan rasa rawan dan sedih, bagi anak yang punya ibu kandung demikian, biarpun ia bisa memperoleh barang yang tidak bisa dimiliki orang lain, tapi barang yang setiap anak perempuan lain bisa mendapatkan dia justru tidak pernah mengenyamnya, dan itu merupakan suatu hal yang paling berharga dan paling mahal di dunia.
Cui-Thian-ki tidak pernah memperoleh kasih sayang ibunya.
Ban-lo-hu-jin menghela napas, "Urusan yang menyangkut Cui-nio-nio sudah tentu siapa pun tidak bisa mencampurinya, tapi tak pernah terbayang olehku bahwa putri kandungnya sendiri juga tidak terkecuali. Hanya saja ... enam belas tahun yang lalu ... ah tidak, peristiwa yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu di Pek-cui-kiong, apa pun kukira engkau dapat mengingatkan."
Bertaut alis Cui-Thian-ki, "Tujuh belas tahun yang, lalu ..." mulutnya mendesis ragu, "Apa yang pernah terjadi dalam Pek-Cui-kiong pada tujuh belas tahun yang lalu?"
"Tujuh belas tahun yang lalu, ada dua orang laki laki perempuan meluruk ke Pek-cui-kiong. Selama empat puluh tahun hanya kedua orang ini yang dapat menerobos ke tempat kediaman Cui-Nio-nio, mereka pula yang menimbulkan kegemparan dan kepanikan pihak Pek-cui-kiong."
"Betul," seru Cui-Thian-ki, "kini aku ingat kedua orang itu, mereka adalah suami istri, kungfu mereka memang amat tinggi, cerdik pandai lagi tapi akhirnya mereka terkalahkan juga oleh ibuku"
"Tapi Cui-nio-nio tidak membunuh mereka" demikian tutur Ban-lo-hu-jin lebih lanjut, "Mereka adalah dua orang yang pernah selamat setelah meluruk ke Pek-cui-kiong ... Bukan saja mereka tidak mati, mereka malah diam dan menetap di sana."
Cui-Thian-ki bergumam, "Sebelum bertarung dengan ibuku, mereka sudah bertaruh, kalau mereka menang, ibuku harus menyerahkan Pek-cui-kiong sebagai tempat peristirahatan mereka, kalau mereka kalah, selama hidup mereka tidak akan meninggalkan Pek-cui-kiong."
Sambil bicara, tangannya tetap menyuapi Oh-Put-jiu.
Oh-Put-jiu asyik mendengarkan, diam-diam ia membatin, "Kedua suami istri itu memiliki kungfu sehebat itu, gigih perwira dan ksatria entah tokoh macam apa mereka?"
Didengarnya Ban-lo-hu-jin berkata pula "Padahal Cui-Nio-nio tidak pernah memberi ampun pada orang-orang yang membuat kegaduhan di istananya, kenapa dia justru bertaruh dengan mereka, nona apakah engkau tahu seluk-beluk persoalan ini?"
"Waktu itu walau usiaku masih kecil, dalam hati aku pun merasa heran, pernah kutanya pada ibu bila ibu sudah mengalahkan mereka, kenapa tidak membunuh mereka, dan kenapa harus bertaruh segala?"
"Apakah Cui-nio-nio memberi penjelasan?" tanya Ban-lo-hu-jin.
"Apa pun aku ini adalah anak kandungnya"
"Jadi beliau menjelaskan padamu?"
Cui-Thian-ki termenung sejenak, "Mungkinkah kejadian itu ada sangkut-pautnya dengan rahasia itu?"
"Bukan saja ada hubungan, sangkut-paut justru amat besar ... Nona, kalau tidak kau jelaskan apa yang kau ketahui, susah aku menyambung ceritaku"
Cui-Thian-ki termenung beberapa saat lagi lalu mendadak mengulap tangan, "Kalian enyah semua. Urusan ini tiada sangkut-paut dengan kalian."
Sebetulnya kawanan bajak itu juga ingin mendengar kisah rahasia orang-orang persilatan, tapi Cui-Thian-ki memerintahkan mereka menyingkir, siapa lagi berani membandel di hadapannya?
Setelah kawanan bajak itu pergi semua baru Cui-Thian-ki melanjutkan dengan perlahan, "Sebetulnya ibuku tidak mau bicara, kalau waktu itu aku sudah dewasa, mungkin dia tidak mau bicara, tapi waktu itu aku masih terlalu kecil, ibu juga ingin melimpahkan perasaan hatinya terhadap seseorang."
Ia menghela napas, lalu melanjutkan, "Maka beliau menepuk-nepuk kepalaku dan memberi tahu padaku, katanya kecuali ayah kandungku yang sudah meninggal itu, laki-laki itu adalah orang yang paling dia senangi, laki-laki idaman hatiku selama hidup ini. Maka apa pun yang terjadi ibu tidak dapat membiarkan dia mati."
"Ya, memang demikian," ujar Ban-lo-hu-jin sambil menghela napas.
"Karena mendapat hati, aku bertanya pula bila ibu menyukainya, kenapa istrinya tidak dibunuh saja? Ibu menjelaskan, bila ibu membunuh perempuan itu, laki-laki itu tentu takkan mengampuninya, tidak akan memaafkannya, maka itu berarti selama hidup ia tidak akan memperoleh cinta kasihnya. Untuk menarik simpati laki-laki itu ibu terpaksa membiarkan mereka hidup, entah kapan akan datang saatnya cita-citanya akan terkabul. "Ai, sejak waktu itu, aku lantas tahu betapa murni, betapa agung apa yang dinamakan cinta itu."
Waktu mengakhiri kata katanya, pandangan Cui-Thian-ki melekat tajam pada wajah Oh-Put-ju.
Oh-Put-jiu juga mengawasinya, "Lalu bagaimana?" tanyanya perlahan.
Mendengar suara orang sudah bertenaga, lega hati Cui-Thian-ki, katanya dengan tertawa, "Lalu ibu memberikan sebidang tanah dalam istana untuk tempat tinggal mereka, siapa pun kecuali mendapat izinnya dilarang masuk ke daerah itu dan mengganggu mereka suami istri."
Oh-Put-jiu menghela napas, "Ternyata ibumu juga seorang romantis."
Cui-Thian-ki tertawa manis, "Aku masih ingat daerah tempat tinggal mereka itu dinamakan Pondok Bintang Kecil. Dari kejauhan aku sering melihat tapi tidak berani mendekat apalagi masuk ke sana. Hingga pada suatu hari ... waktu yang perempuan meninggal dunia."
Kenapa istrinya meninggal? Apakah karena ...." Oh-Put-jiu menjerit kuatir.
"Jangan salah duga," tukas Cui-Thian-ki, Ibu pernah berjanji tidak akan membunuhnya maka dia hidup berkecukupan kecuali jatuh sakit yang parah dan tak tertolong lagi jiwanya. Ibuku memang bukan orang baik, tapi setiap ucapannya dapat dipercaya."
"Ya, akulah yang salah ... tadi perempuan itu ..."
"Ketika tinggal di Pondok Bintang Kecil, perempuan itu sudah bunting sebelum datang, enam bulan sejak mereka tinggal di Pek-cui-kiong, perempuan itu melahirkan seorang anak perempuan yang mungil, dan karena kelahiran anaknya itu akhirnya ia meninggal."
Oh-Put jiu menghela napas, "Kini anak perempuan itu tentu sudah besar?"
"Untuk merawat dan mengasuhnya sampai besar, ibu terpaksa keluar dari istana dan mengundang seorang ibu inang untuknya. Waktu aku meninggalkan istana, anak perempuan itu sudah berusia tujuh atau delapan tahun, meski masih kecil namun sudah tampak rupawan, hanya sayang sejak kecil ia berwatak pendiam, nyentrik dan kaku, segala permainan anak-anak tidak ada yang disukai. Dari pagi hingga petang kerjanya duduk melamun entah apa saja yang dipikir olehnya?"
"Lalu, bagaimana ayahnya ...."
"Ayahnya memang seorang laki-laki sejati, apa yang pernah diucapkan tidak pernah diingkari, selama beberapa tahun tidak pernah ia bicara tentang pulang atau keluar dari istana. Setiap hari ibu menemaninya main catur, membaca, memetik kecapi dan hiburan lainnya, setelah berkumpul sekian lamanya, lama-kelamaan timbul juga asmara diantara mereka. Tapi berani aku memastikan, sampai aku meninggalkan istana, hubungan mereka masih sopan dan tidak melanggar tata susila."
Oh-Put-jiu menghela napas panjang, "laki-laki itu memang ksatria sejati, laki-laki baja yang patut dipuji. Demikian pula ibumu juga seorang perempuan cendekia yang tiada bandingannya, tapi ... ah, sebetulnya dalam keadaan seperti itu, andaikan laki perempuan yang memiliki serba keanehan itu menikah dan menjadi suami istri juga jamak dan masuk akal."
Cui-Thian-ki tertawa lebar, "Sungguh tak terduga bahwa jiwamu lapang dan pikiranmu juga terbuka."
Oh-Put-jiu tersenyum karena pujian itu, "Umpama aku masih kolot, urusan itu tentu juga tidak salah atau keliru. Hanya saja kalau pasangan suami istri ini termasuk orang aneh, setelah mereka lenyap dari kalangan kang-ouw, kenapa tidak pernah terdengar berita kegemparan mereka di Bu-lim?"
Ban-lo-hu-jin menimbrung, "Karena suami istri itu adalah pendekar kelana, hidup mereka melanglang buana, memangnya jarang kaum persilatan yang tahu jejak mereka, demikian pula ayah mereka juga tidak tahu ke mana dan di mana mereka berada."
"Suami istri yang masih muda, dengan masa depan yang cemerlang berkelana bersama ke mana mereka senang tinggal, ke mana mereka mau pergi, tiada orang dapat mengendalikannya, empat lautan adalah rumah mereka. Betapa bebas dan leluasa mereka berkelana, yang pasti banyak orang merasa iri dan juga memuji mereka."
"Sebetulnya orang lain pun dapat meniru mereka ..."
"Tapi apa kau tahu siapa mereka?" tanya Ban-lo-hu-jin.
Cui-Thian-ki melengong, "Ya, aku tidak tahu nama mereka, belum pernah timbul pikiranku untuk tanya siapa mereka, ibuku juga tidak menerangkan ... Dalam Pek-cui-kiong, kecuali ibuku, mungkin tiada orang kedua yang tahu asal-usul mereka."
"Nah, di situlah letak rahasianya, rahasia besar, dan aku tahu rahasia ini," ucap Ban-lo-hu-jin penuh keyakinan.
"Siapa mereka?" tanya Cui-Thian-ki.
perlahan tapi tegas dan tandas perkataan Ban-lo-hu-jin, "Mereka adalah ayah dan ibu Pui-Po-giok."
Tanpa terkendali Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu menjerit kaget.
"Cui-Nio-nio tahu bila mana berita ini bocor, Jing-ping-kiam-khek Pek Sam-kong pasti akan mengerahkan seluruh kaum persilatan meluruk ke Pek-cui-kiong untuk menuntut anak dan menantunya dibebaskan. Oleh karena itu beliau merahasiakan asal usul dan nama mereka."
Jadi ...Pui-toa-ko ku itu ...apakah sampai sekarang masih tinggal di Pek-cui-kiong?"
"Ya, sampai sekarang dia masih tinggal di sana."
"Kalau demikian, anak perempuan yang tinggal di Pondok Bintang Kecil itu adalah adik kandung Pui-Po-giok."
"Ya, memang betul adik kandungnya, gadis jelita itu bernama Pui-Lin-giok."
"Po-ji berangkat ke Pek-cui-kiong, apakah lantaran dia tahu rahasia ini?" tanya Oh-Put-jiu.
"Sedikit pun dia tidak tahu tentang rahasia ini," tegas jawaban Ban-lo-hu-jin.
"Lalu ...untuk apa dia ke sana?" tanya Oh-Put jiu heran.
"Bagian depan cerita ini tadi sudah dikisahkan oleh nona Cui, maka sambungan ceritanya biar aku nenek tua ini yang melanjutkan. Untuk itu perlu aku memberitahukan dua hal pada kalian."
"Cekak aos saja, jangan bertele-tele," sela Oh-Put-jiu.
"Pertama, sekarang Pui-Lin-giok sudah tumbuh dewasa, namun wataknya semakin nyentrik, dalam dua-tiga hari terkadang tidak bicara sepatah kata pun, kerjanya hanya duduk dan tepekur."
Cui-Thian-ki menghela napas, "Hal ini sudah aku bayangkan, aku mengerti. Hal kedua?"
"Sembilan tahun setelah istrinya meninggal akhirnya Pui-tai-hiap menikah dengan Cui-Nio-nio." tutur Ban-lo-hu-jin.
"Hah, dia ...dia benar-benar ..." Oh-Put-jiu gelagapan.
Ban-lo-hu-jin berkata, "Tadi kau bilang kejadian ini kan masuk akal."
"Betul, bukan aku menyalahkan dia ...siapa pun tak boleh menyalahkan dia."
"Memang dia tidak salah, Cui-Nio-nio adalah istri yang paling setia, telaten, lembut dan prihatin, kalau Pui-tai-hiap mau bicara, apa pun keinginannya pasti dituruti. Tapi sering kali Pui-tai-hiap justru bermuram durja, untuk menyenangkan hatinya, tidak jarang Cui-Nio-nio menganjurkan dia keluar istana menghibur diri."
"O? Lalu dia ... "
"Tapi dia tidak mau mengingkari janji dan melanggar sumpah, kalau dia sudah bilang selama hidup tidak akan keluar istana, umpama mati juga tidak mau keluar meski hanya selangkah pun."
Oh-Put-jiu menarik napas, "Pui-toa-ko memang laki-laki sejati."
"Cui-Nio-nio bukan hanya baik dan cinta terhadap suaminya terhadap Pui-Lin-giok dia pun melimpahkan kasih sayangnya seperti terhadap anak kandung sendiri, untuk menghibur dan menyenangkan hatinya, pernah sengaja beliau membiarkan seorang pemuda menerobos ke dalam istana, lari ke daerah Pondok Bintang Kecil, beliau pura-pura tidak tahu dan tidak mengusut perkara ini. Karena ia tahu pemuda itu adalah laki-laki tampan, ksatria muda yang punya masa depan."
"Lalu ... bagaimana mereka?" tanya Cui-Thian-ki.
Ban-lo-hu-jin menghela napas, "Akhirnya nona Pui melepas pemuda itu pergi seorang diri."
Cui-Thian-ki diam sejenak lalu berkata sendu, "Ayah kandungnya terpaksa harus menyekap diri selama hidup di-Pek-cui-kiong, sudah tentu nona itu tidak ingin mengalami nasib sejelek ayahnya ... ai, lahirnya dia kelihatan kaku dingin, padahal hatinya lemah dan panas membara."
"Belakangan diketahui oleh Cui Nio-nio sebab musabab kemuraman dan kemurungan ayah dan anak itu, yaitu lantaran Pui-tai-hiap merindukan putranya, ingin melihat bagaimana rupa putranya setelah tumbuh dewasa. Nona Pui juga ingin sekali melihat dan bertemu dengan kakak kandungnya yang belum pernah dilihatnya sejak lahir."
"Setelah menghela napas Ban-lo-hu-jin meneruskan, "Mereka ingin melihat dan bertemu dengan Pui-Po-giok."
"Bila mereka menyampaikan rahasia ini kepada Pui-Po-giok, umpama Po-giok terlibat urusan besar dan penting sekali pun tentu juga akan menyingkirkan kepentingan lain untuk memburu ke Pek-cui-kiong," demikian komentar Oh-Put-jiu.
"Betul, sudah tujuh belas tahun rahasia ini tertutup rapat, mereka tidak ingin dan segan membicarakannya," Ban-lo-hu-jin menghela napas.
"Jadi terhadap Po-ji juga tidak dijelasksn?" tanya Oh-Put-jiu terbeliak.
"Terhadap orang lain mungkin boleh, tapi terhadap Pui-Po-giok mutlak tidak boleh," sahut Ban-lo-hu-jin.
"Ken ...kenapa?" tanya Oh-Put-jiu bingung.
"Masa tidak dapat kau pikir"
Cui-Thian-ki yang bicara, "Meski kematian ibu kandung Po-ji tidak langsung oleh tangan ibuku, tapi kalau mereka tidak terkurung dalam istana air, mungkin dia tidak akan mati karena kesulitan melahirkan. Mau tidak mau hal ini pasti menimbulkan rasa dendam Po-ji terhadap ibuku."
Oh-Put-jiu mengangguk, "Tapi ibumu sekarang sudah menjadi ibunya juga ...ibumu sudah menjadi bini ayahnya, memangnya apa yang akan dia lakukan setelah tahu rahasia ini? Apakah Pui-toa-ko tega melukai hati putranya?"
"Apalagi Po-ji tengah memikul beban yang amat berat, nasib seluruh kaum persilatan terletak pada pundaknya, mana boleh sanubarinya memikul beban yang berat pula? Kalau selama hidup ia tidak tahu tentang rahasia ini, bukankah dia akan hidup tentram dan bahagia?" demikian komentar Cui-Thian-ki.
"Tapi Pui-toa-ko melihat putra kandung yang dirindukan sudah berada di depan mata, namun tidak bisa mengakuinya sebagai anak, bukankah berat dan menyedihkan penderitaannya," Oh-Put-jiu bicara dengan nada iba.
"Sebagai seorang ayah," demikian ucap Cui-Thian-ki, "Lebih senang diri sendiri menderita daripada membuat anaknya sedih ...Setiap orang tua di dunia ini pasti akan berbuat demikian, rela berkorban demi anaknya," dengan tertawa pedih lalu ia melanjutkan, "Cinta kasih yang murni adalah pengorbanan dan bukan monopoli ... demi cinta perlu mengorbankan diri sendiri, demi kekasihnya, meski dia kehilangan tapi hatinya akan tentram, akan bahagia."
Oh-Put-jiu mengawasinya lekat, cukup lama ia tidak bisa bicara.
perlahan Cui-Thian-ki mengalihkan pandangannya, menoleh ke arah Ban-lo-hu-jin, "Apa benar tujuan mereka hanya ingin melihat Po-giok saja?"
"Ya itulah sebab utama, namun bukan sebab keseluruhannya."
"Jadi masih ada sebab lain?"
"Selama tujuh belas tahun ini, otak mereka yang brilyan berhasil menciptakan banyak jurus-jurus ilmu silat yang lihai tiada taranya, mereka tidak punya ambisi untuk berkuasa dan merebut nama di Bu-lim, hanya satu harapan mereka, yaitu semoga hasil ciptaan mereka yang telah banyak keringat itu dapat diwaris pada generasi mendatang."
"Betul," Cui-Thian-ki menyokong, "ahli waris yang mereka pilih sudah tentu adalah Pui-Po-giok."
"Ya," ucap Ban-lo-hu-jin, "setelah memperoleh warisan kungfu ciptaan kedua orang tuanya, akan menambah bekalnya untuk berduel dengan Pek-ih-jin, keyakinan dan keteguhan hatinya dalam menghadapi duel itu akan memberi dorongan semangat yang kuat demi mencapai kemenangan. Oleh karena itu, menjelang duel dimulai mereka harus menggembleng Po-giok sewaktu mereka bertemu di Pek-Cui-kiong, itulah salah satu kenapa Po-giok harus pergi ke Pek-cui-kiong, itulah jerih payah orang tuanya."
"Tapi waktu yang dijanjikan untuk duel dengan Pek-ih-jin sudah di ambang mata, umpama Po-giok memiliki otak jenius juga tak mungkin dapat mempelajari ilmu silat tinggi yang ruwet dalam waktu yang singkat" nada Cui-Thian-ki amat kuatir.
"Untuk menghadapi masalah yang luar biasa, sudah tentu harus dikerjakan dengan cara yang luar biasa pula. Mereka pasti akan membuat Po-giok mengalami penderitaan, mungkin juga harus mengalami bahaya yang mengancam jiwanya, dengan cara itu baru akan memaksa dia menggunakan otaknya yang brilyan untuk mengatasi dan menghadapi semua hambatan, siapa saja dalam keadaan seperti itu tentu akan lebih cepat menyerap pelajaran itu lebih cepat." demikian komentar Ban-lo-hu-jin.
"Betul," ucap Cui-Thian-ki. "Tiga tahun berlatih setiap hari, belum tentu lebih matang dibanding perkelahian yang mempertaruhkan jiwa raga dalam waktu sekejap, sesuatu yang kita peroleh di kala menghadapi mara bahaya, tiada persoalan atau benda apa pun yang bisa menyamainya."
"Ya, memang demikian," kata Oh-Put-jiu, "kalau mereka ingin menggembleng Po-ji dan memaksa untuk menyerap pelajaran intisari ilmu pedang, mereka pasti akan menyudutkan Po-ji pada posisi yang paling sulit, dalam duel yang mempertaruhkan jiwa umpamanya, mereka akan memaksa Po-ji menyelami secara dekat dan mendalam makna dari jurus pedang yang dilihatnya. Satu hal yang lebih penting adalah, ilmu yang dia pelajari dalam keadaan seperti itu akan lebih merasuk dalam sanubarinya, selama hidup takkan bisa dilupakan."
"Ya memang demikian." ucap Ban-lo-hu-jin.
"Tapi ada juga yang tidak kau ketahui." kata Cui-Thian-ki.
Ban-lo-hu-jin tersenyum, "Apa benar ada sesuatu yang tidak diketahui oleh nenek tua seperti aku?"
"Tahukah kau bahwa kakek luar Pui-Po-giok sekarang sudah meluruk ke Pek-cui-kiong?" tanya Cui-Thian-ki.
Misteri Kapal Layar Pancawarna 31
Oleh : Gan KL
"Kalian memang sekawanan binatang liar yang bodoh, memangnya kalian tidak melihat sikap nenek itu amat takut dan segan terhadap nona ini? Kalau nona ini tidak kelaparan dan lemas lunglai, memangnya nenek siluman itu tidak berlutut minta ampun padanya."
Sekilas kawanan perampok itu adu pandang pula, lalu pecah gelak tawa mereka.
"Betul," seru mereka berkeplok dan berjingkrak, "memang demikian ...Liong-lo-toa memang lebih pintar dari kita."
"Kalian sudah tahu akalku amat bagus, kenapa tidak lekas serahkan kuah hangat itu."
perlahan Cui-Thian-ki minum kuah yang diangsurkan ke depan mulutnya, selain menghabiskan satu bakpao dan sekerat daging, matanya juga sudah terbuka lebar, hanya beberapa kejap kemudian, bola matanya kembali bercahaya, bening lagi jeli.
Kini Cui-Thian-ki sudah dapat duduk, tawanya masih manis, "Terima kasih, kalian ...!"
Mendengar Cui-Thian-ki tertawa, kawanan perompak itu sama terpesona dan melongo, tertegun seperti orang pikun mimpi pun mereka tidak pernah membayangkan ada gadis ayu dan menggiurkan seperti Cui-Thian-ki.
Melihat keadaan orang-orang itu, senyum Cui-Thian-ki tambah manis, lirikan matanya juga lebih tajam, katanya lirih, "Sebetulnya aku sudah menerima kematian, tapi kalian menolong aku malah, juga menolongnya, aku ...aku tidak tahu cara bagaimana harus berterima kasih pada kalian."
perlahan ia berdiri dengan gemulai ia maju dan satu per satu mencipuk pipi orang-orang itu.
Memangnya kawanan perampok itu sudah linglung, setelah dicipuk mereka menjadi kaku mirip tonggak kayu. Umpama ada orang membacok mereka dengan golok juga tidak akan dirasakan sakit.
Tok-gan-liong juga gelagapan, "Nona, kau ...."
Tadi betapa girang dan gagah laki-iaki ini di hadapan anak buahnya, namun menghadapi Cui-Thian-ki, dia berubah mirip anak kecil, bicara juga gelagapan.
"Jangan kuatir." ucap Cui-Thian-ki tertawa, "serahkan urusan ini padaku, tanggung beres."
"Tapi nenek siluman itu ...."
"Kali ini dia tidak akan bisa lari."
Melihat senyum manis Cui-Thian-ki, suaranya yang lembut, akhirnya timbul keberanian Tok-gan-liong, "Tapi ...orang seperti nona, apa dapat membunuh orang? Apakah nona pernah membunuh orang?"
Tadi dia amat yakin dan penuh kepercayaan namun setelah melihat keadaan Cui-Thian ki, bicara lembut, gerak gerik sendiri.
"Satu pun aku tidak pernah membunuh," ujar Cui-Thian-ki tertawa.
"Wah, kalau begitu ...." Tok-gan-liong menghela napas.
"Aku tidak membunuh satu orang," demikian tukas Cui-Thian-ki, "aku hanya membunuh lima ribu lebih."
Tok-gan-liong tercengang, matanya terbeliak, demikian pula anak buahnya, semua berdiri linglung.
Sambil menggeliat dan meluruskan kaki tangan nya, perlahan Cui-Thian-ki malah merebahkan diri.
Angin laut meniup buyar rambutnya, meniup pakaiannya yang sudah tidak keruan, pahanya yang jenjang mulus terpampang di depan orang banyak.
Selama beberapa hari ini, keadaannya tidak terurus, badannya kotor, demikian pula pahanya berlepotan hangus, jadi tidak seputih dan semulus biasanya, namun potongan tubuhnya dengan lekuk-lekuknya yang nyata, laki-laki mana yang tidak terangsang melihatnya.
Cui-Thian-ki tidak peduli. Dia berbaring seenaknya, seolah-olah orang-orang itu tidak dianggap manusia.
Sudah tentu orang-orang itu sama serba salah, biji leher mereka turun naik dan menelan air liur, banyak yang melengos ke arah lain, namun tidak jarang mereka menoleh dan melirik.
Akhirnya Tok-gan-liong tidak sabar lagi, "No ...nona, tidak sekarang engkau bertindak?"
"Sebelum tenagaku pulih, kalau sampai berkelahi bagaimana?" demikian jawab Cui-Thian-ki ia kuatir kalau Ban-lo-hu-jin nekat dan melabraknya, urusan bisa runyam.
"O, ya ...." Tok-gan-liong menunduk. Tapi beberapa kejap kemudian ia tak tahan lagi, "Laki-laki yang berada di atas kapal dengan nona itu...."
"Dia bernama Oh-Put-jiu, dia ..." Cui-Thian-ki tertawa lebar, "Bagaimana tentang dia?"
Tawa yang genit dan malu-malu secara tidak langsung menjelaskan tentang hubungannya dengan Oh-Put-jiu.
"Baik, bagus sekali, hanya saja ...mungkin ...agak lemah sedikit."
"Dia lemah? ...Ah, kalau bukan lantaran kelaparan belasan hari, terhadap orang-orang seperti kalian, seorang diri pun dia mampu melawan empat atau lima puluh orang."
"O, ya ....ya, tapi sekarang, keadaannya justru amat berbahaya."
"Berbahaya?" tanya Cui-Thian-ki, "kalau benar dia menghadapi bahaya, memangnya aku enak-enak tidur di sini? Kalau benar dia mengalami bahaya, jangankan aku sudah bisa berdiri dan berjalan merangkak pun akan kususul ke sana."
"Tapi ...tapi nenek siluman itu ...""
"Jangan kuatir, nenek siluman itu takkan membunuhnya, umpama ditempeleng dan diludahi mukanya, nenek itu juga tidak akan marah, tidak berani mengusiknya."
"Oo, kenapa demikian?" tanya Tok-gan liong bingung.
"Karena nenek siluman itu ingin memperoleh sesuatu dari dia."
Terbelalak heran Tok-gan-liong, "Maksudmu nenek itu memohon sesuatu padanya?"
"Ehm, kamu tidak percaya?"
"Padahal nona tidak melihat mereka dari mana tahu?"
"Tanpa melihat mereka pun aku dapat menebaknya, dia ..."
Belum habis Cui-Thian-ki bicara, mendadak berkumandang lengking jeritan yang menyayat hati.
Jeritan itu ternyata suara Ban-lo-hu-jin.
"Hah, nenek siluman itu ...wah ...apa yang terjadi."
Kejut-kejut girang Cui-Thian-ki dibuatnya, "Lekas papah aku berdiri."
Bergegas Tok-gan-liong memapah Cui-Thian-ki, waktu jari tangannya menyentuh kulit badannya, mendadak ia gemetar dan merinding, hampir saja napasnya menjadi sesak.
"Papah aku ke sana." pinta Cui-Thian-ki.
Tok-gan-liong menarik napas, "Ya, tapi ... tapi ....."
"Tapi apa lagi, lekas!"
"Untuk berjalan saja nona tidak bertenaga, mana bisa ..."
"Siapa bilang aku tidak bertenaga, untuk jalan, aku hanya ingin menghemat tenaga, tenaga yang sudah pulih sebagian ini akan kugunakan untuk menghadapi nenek itu, tahu tidak?"
"O, ya ...ya," Tok-gan-liong menghela napas panjang.
Dengan kekuatannya, menjinjing tubuh orang seberat Cui-Thian-ki, sepuluh orang juga dapat diangkatnya bersama. Tapi entah kenapa, tubuh Cui-Thian-ki yang halus, selembut sutera, harum lagi hangat, begitu menggelendot di badannya, seketika ia merasa berat sekali boleh dikatakan tenaga untuk menarik napas pun terasa berat, malah hampir tidak kuat menggerakkan kaki.
Untung Tok-gan-liong masih mampu membawa Cui-thian-ki ke depan pintu kabin.
Keadaan dalam kabin sudah tenang dan sepi, namun daun pintu masih tertutup rapat.
"Terjang pintu itu," Cui-Thian-ki memberi aba-aba.
Kepandaian untuk berkelahi kawanan perampok itu memang terlalu rendah, tapi tenaga untuk menjebol pintu cukup berlebihan, tiga orang beradu pundak lalu menerjang serempak, "blang" daun pintu pecah dan jebol berhamburan.
Tampak tangan kiri Ban-lo-hu-jin mendekap muka sebelah kanan, mukanya berlepotan darah. Sementara Oh-Put-jiu duduk lemas di atas kursi mulutnya juga berlepotan darah.
Jari-jari tangan kanan Ban-lo-hu-jin sedang mencekik leher Oh-Put-jiu, begitu daun pintu jebol diterjang dari luar, segera dia lepas tangan sambil mundur tiga langkah. "Siapa ..."
Belum habis bicara, ia lihat Cui-Thian-ki berdiri diambang pintu. Kini sikapnya mirip dicekik lehernya, bibirnya bergetar, sepatah kata pun tak mampu bicara.
Begitu daun pintu jebol, Cui-Thian-ki lantas berdiri sendiri, berdiri tegak dan pasang aksi lagi.
Wajahnya dihias senyum cerah yang menggiurkan, wajah nan jelita tampak bersemu merah dan bercahaya, siapa pun takkan percaya bahwa barusan nona ini masih empas-empis dan lemas kelaparan.
Dengan mengulum senyum ia menyapa, "Hai, Ban-lo-hu-jin, baik-baik saja engkau ?"
Ban-lo-hu-jin berdiri kaku seperti kayu, tapi kulit daging wajahnya kelihatan kedutan, walau mulut terpentang lebar, tapi suaranya serak dan tenggelam dalam tenggorokan.
Setelah menelan ludah beberapa kali, akhirnya ia tergagap, "kau ...bagaimana bisa ...."
"Mengherankan bukan? Sebetulnya aku sendiri agak heran, tapi sekarang aku sudah tahu, lapar memang penyakit yang menakutkan, namun penyakit ini pun cepat sembuh."
Sambil tersenyum ia melangkah maju, sebaliknya setapak demi setapak Ban-lo-hu-jin menyurut mundur.
Ketika Cui-Thian-ki tiba di samping Oh-Put-jiu, Ban-lo-hu-jin sudah mundur mepet dinding.
"Ban-lo-hu-jin, apa yang kau takuti?" ucap Cui-Thian-ki lembut, "paling banter aku hanya membunuhmu sekali, atau mengiris dan menyayat kulit dagingmu saja, bila aku malas dan cari gampangnya, mungkin kamu aku dorong ke dalam laut untuk umpan ikan, lalu apa yang harus kau takuti?"
"Nona ...nona Cui, aku ...aku tidak ...tidak bersalah terhadap kalian, coba periksa, telingaku sudah protol digigit Oh-siau-hiap."
Sembari bicara ia turunkan tangannya, telinga kanannya memang tidak kelihatan, pipinya berlepotan darah.
Cui-Thian-ki cekikikan "Lho, apa yang terjadi? ...O, ya, aku tahu sekarang. Mungkin Oh-siau-hiap bicara terlalu lirih, maka kamu mendekatkan kupingmu ke depan mulutnya, siapa tahu tahu Oh-Put-jiu kelaparan, saking tak tahan telingamu digigit dan ditelannya, ai ... seleranya ternyata cukup besar."
Kawanan perompak itu geli dan ingin tertawa di samping kaget mereka pun heran, "Siapa menduga laki-laki yang sekarat karena kelaparan itu masih dapat menipu dan menggigit telinga nenek keparat itu."
Ban-lo-hu-jin memang tertipu oleh Oh-Put-jiu dengan muka cemberut ia berkata, "Ucapan nona Cui memang benar, seperti menyaksikaa sendiri saja."
"Terima kasih atas pujianmu," ucap Cui-Thian-ki tertawa, "Tapi soal apa yang dibicarakan Oh-Put-jiu terhadapmu? Ban-lo-hu-jin ternyata begitu besar hasratnya untuk mendengarkan bisikannya?"
"Dia ...ini ...."
"Ah, tahulah aku sekarang. Yang akan dia bisikan tentu rahasia kungfu warisan Ci-ih-hou, betul tidak?"
Ban-lo-hu-jin menunduk lesu, "Persoalan apa pun agaknya tidak bisa mengelabui dirimu."
"Setelah mendengar rahasia kungfu peninggalan Ci-ih-hou tentu kungfumu memperoleh kemajuan pesat, mungkin ... aku bukan tandinganmu lagi."
"Ah, mana ... mana bisa begitu cepat?"
"Ya, untung tidak secepat itu, kalau tidak memangnya aku bisa hidup sampai sekarang?"
"Ya ...bukan ...ya!"
Kalau aku ingin bertahan hidup, maka jangan kau pertahankan diri."
"Nona Cui...." pekik Ban-lo-hu-jin setengah meratap, "kumohon ampun padamu."
Makin lembut suara Cui-Thian-ki, "Kalau aku turun tangan, mungkin kamu bisa mati dengan cara yang paling enak, sebaliknya ...aih."
Ban-lo-hu-jin menjatuhkan diri dan menyembah, ratapnya, "Ampun nona Cui, pandanglah muka anakku, ampunilah jiwaku."
"Putramu? Siapa putramu? Ada sangkut paut apa dia dengan aku?"
"Nona Cui, bila engkau mengampuniku, akan aku beberkan sebuah rahasia, rahasia besar dan penting."
Berputar bola mata Cui-Thian-ki, "Nah, sekarang tutuk dulu hiat-to Jian-kin dan Khi-hiat, pada urat nadi kedua sendi tulang kanan kiri lututmu mungkin akan kuberi kelonggaran untuk mendengar omonganmu.
"Ya, ya, Ban-lo-hu-jin mengiakan sambil angkat tangan, dengan keras ia menutuk keempat hiat-to yang ditusuk Cui-Thian-ki, tutukannya memang keras tanpa kenal kasihan, Maklum, di hadapan Cui-Thian-ki tak berani ia main licik, sedikit pura-pura tentu diketahui olehnya.
"Aneh bin heran," ujar Cui-Thian-ki dengan tertawa geli, "kenapa kamu tidak berani melabrakku? Padahal tenagaku belum pulih, kalau kamu melabrakku, jelas aku bukan tandinganmu."
Tubuh Ban-Lo-hu-jin berjingkat seperti dicambuk seketika ia melengong di tempatnya, wajahnya merah padam, lalu berubah pucat dan hijau, desisnya perlahan, "Aku ... kau ..."
"Sering aku dengar kaum persilatan mengatakan Ban-lo-hu-jin rela berlutut dan menyembah daripada bertempur kalau tidak yakin bisa menang, maka sampai sekarang dia masih bertahan hidup. Tapi kalau ini kamu tertipu olehku."
Pucat seperti kapur wajah Ban-lo-hu-jin, "Aku sudah kalah ...sudah kalah, nona Cui memang lihai, aku nenek tua mengaku kalah lahir batin kalah dengan patuh dan tunduk."
"Baiklah, sekarang boleh kau bicara tentang rahasia itu."
Walau belum bergebrak secara nyata, namun ia sudah menang satu babak, betapa sengit tegang dan mendebarkan adu urat yang dilakukan barusan, jauh lebih seru dibanding bertempur secara kasar.
Walau Cui-Thian-ki masih tersenyum, namun keringat bertetes-tetes di jidatnya. Padahal keadaannya belum pulih, tenaga untuk berkelahi jelas tidak mungkin dikerahkan, tenaga yang dimiliki hanya cukup untuk berdiri saja, bila berdiri kurang tegak atau terhuyung dan menggeliat, tentu Ban-lo-hu-jin akan menyergapnya dengan serangan kilat.
Cui-Thian-ki maklum dirinya ibarat berdiri di pinggir jurang kematian.
Ban-lo-hu-jin mengawasinya dengan mendelong sesaat kemudian baru berkata, "Baiklah, akan aku ceritakan, rahasia itu mengenai hubungan Cui-nio-nio dengan Pui-Po-giok ... "
******
Air danau itu dingin tapi bening.
Dengan gaya Jian-kin-tui Pui-Po-giok memberatkan tubuhnya sehingga dia terus melorot turun ke dasar air.
Dia berpendapat danau yang satu ini pasti berbeda dengan danau kebanyakan yang ada di dunia ini, dia yakin dan percaya, bahwa analisanya tentu tidak salah.
Kali ini Po-giok mempertaruhkan jiwa raganya untuk membuktikan keyakinannya.
Analisanya memang tidak keliru.
Danau ini memang besar dan luas, tapi airnya tidak dalam, lebih tepat dikatakan dangkal, dan kedangkalan air danau ini sangat di luar dugaannya. Begitu terjun ke dalam air, tidak lama kemudian kakinya sudah menyentuh dasar danau.
Sudah tentu tekanan air juga terasa tidak begitu besar, sambil menahan napas Po-giok bergerak maju ke depan.
Ketika dia membuka lebar matanya, air sangat jernih dan bening.
Pemandangan dalam air segera menarik perhatiannya, sesaat ia berdiri tertegun.
Begitu membuka mata, pandangan pertama yang dilihat Pui-Po-giok bukan lain adalah ....seorang perempuan.
Seperti ikan duyung saja gadis ini sedang berenang dalam air, berenang di hadapannya, potongan tubuhnya yang indah, boleh dikata hampir telanjang bulat.
Rambutnya yang hitam panjang mirip rumput laut yang berkembang, sepasang bola matanya gemerdep mirip mutiara.
Sambil mengulum senyum gadis ini mendekatinya, lalu berenang ke dalam pelukan Po-giok, dadanya yang kenyal dan padat, pahanya yang jenjang dan mulus meliuk gemulai mirip belut melingkar di tubuh Po-giok.
Po-giok berdiri diam tak bergerak, juga tidak menyingkir.
Gadis jelita di dasar danau ini mengangkat sebelah tangan Po-giok serta mengangguk kepadanya. Maksudnya mari ikut padaku.
Tanpa sangsi sedikit pun Po-giok bergerak mengikuti orang.
Tak lama kemudian ia lihat sebuah pintu gerbang yang besar, mirip pintu gerbang istana naga laut, batu-batu laut dengan bentuknya yang beraneka ragam dengan warnanya yang berbeda-beda berkilauan begitu indah dan mempesona.
Semua benda yang ada di sini, dapat membuat pandangan orang kabur membuat orang yang melihatnya silau. Apalagi di antara sekian banyak batu-batu gunung dengan pemandangan yang indah itu, terdapat seorang gadis jelita yang bertubuh hampir telanjang berada di sampingnya.
Kalau tidak menyaksikan sendiri, mana Po-giok mau percaya bahwa pengalamannya adalah kenyataan?
Gadis telanjang itu menariknya masuk ke sebuah lubang yang terletak di celah-celah himpitan batu karang.
Air dalam lorong gua ini terasa lebih dingin lebih bening tapi tenang.
Maju lagi ke depan, Po-giok melihat beberapa huruf yang dirangkai dengan butir-butir mutiara yang gemerlapan, huruf itu berbunyi "Pintu Istana Air".
Begitu Po-giok melihat dan memperhatikan huruf-huruf itu, gadis telanjang itu segera menariknya ke atas.
Dengan cepat kepalanya sudah menonjol keluar permukaan air. Sesaat ia terpesona pula oleh pemandangan semarak dan megah, lalu didengarnya pula suara merdu disertai suara tawa nyaring, "Apakah Pui-siau-hiap sudah datang? Sudah lama Nio-nio menunggu kedatangannya."
Sekilas Po-giok celingukan, ia dapatkan dirinya berada dalam sebuah empang yang tidak begitu besar empang ini terbuat dari batu kemala dengan segala macam ukirannya yang indah.
Air empang ini mengalir keluar ke danau yang ada di bagian luar, permukaan air empang sejajar dengan permukaan air danau, maka empang buatan ini merupakan satu-satunya pintu keluar masuk istana air yang tembus ke danau di luar itu.
Betapa aneh bentuk bangunannya, betapa pintar orang memanfaatkan denahnya, apalagi betapa indah, molek dan aneh bentuk dan keadaan istana bawah air ini, sungguh membuat orang kagum pesona dan tidak habis heran.
Empang itu ternyata terletak di tengah gua besar, berbagai bentuk stalakmit dengan corak dan aneka warnanya yang aneh-aneh, jarang terlihat di dunia ramai, pemandangan di sini berbentuk suatu gambaran yang membuat orang tenggelam dalam dunia khayal.
Entah dari mana datangnya penerangan dalam gua besar ini, jelas bukan dari cahaya matahari, tapi pemandangan setiap pelosok gua besar ini dapat terlihat jelas.
Di tepi empang berdiri seorang gadis semampai dengan rambutnya yang panjang terurai, perawakan yang tinggi dengan tubuh yang ramping, hanya rambut panjang itu yang menutup dadanya, keelokannya cukup membuat laki-laki terangsang berahinya.
Meski berdiri polos di depan laki-laki, sikap gadis ini sedikit pun tidak kikuk, tidak merasa malu atau jengah, ia berdiri wajar tenang dengan mengulum senyum manis.
Berdiri lurus seperti sengaja memamerkan keelokan tubuhnya yang ramping padat kepada Pui-Po-giok, sedikit pun tidak merasa malu, malah sikapnya itu kelihatan bangga dan angkuh.
Perawakan dan potongannya yang elok memang patut dibuat bangga, namun Po-giok tidak kuat menahan gejolak hati, meski sudah keluar dari air, namun matanya tidak berani melihat ke atas.
Didengarnya gadis itu cekikikan, "Apakah tubuhku jelek?"
Po-giok melengong, "Ah, tidak ..." sahutnya dengan menyengir.
"Kalau tubuhku tidak jelek, kenapa Pui-siau-hiap tidak berani mengawasiku?"
Po-giok tertegun, "Wah, ini ..."
"Apa karena aku tidak berpakaian, maka Pui-siau-hiap tidak berani melihatku?"
Tanpa menunggu jawaban Po-giok, dengan tertawa geli ia menyambung, "Tapi apakah Pui-siau-hiap tahu, kenapa manusia harus berpakaian?"
Po-giok melengak, "Karena ...manusia memang harus berpakaian."
"Tapi apa sebabnya harus berpakaian?"
"Karena ...untuk menahan dingin."
"Di sini tidak dingin."
"Kalau begitu, karena manusia tahu malu."
"Kenapa harus malu? Setiap orang dilahirkan suci bersih, keluar dari rahim ibunya dalam keadaan polos, kenapa setelah besar tidak boleh diperlihatkan pada orang? ...Itu karena manusia sebetulnya berdosa, hanya orang yang berdosa merasa malu, betul tidak?"
Po-giok batuk-batuk.
"Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa orang berpakaian hanya untuk menutupi dosa benar tidak?"
Po-giok batuk-batuk lagi, "Tolong nona, membawaku menemui Kiong-cu saja."
"Tidak, aku ingin tanya padamu, betul tidak omonganku tadi?"
Po-giok menyengir getir, "Kedengarannya memang demikian."
"Kalau benar, aku persilakan Pui-siau-hiap menanggalkan pakaian."
Po-giok adalah pemuda yang tidak tahu artinya takut, namun perkataan gadis belia ini benar-benar membuatnya kaget, tanpa sadar ia mundur dua langkah dan "byuurr", kembali ia jatuh ke dalam air.
Bila Po-giok dapat berdiri lagi dan angkat kepalanya, entah sejak kapan, di pinggir empang sudah berjajar belasan pasang kaki orang, setiap paha yang jenjang mulus lagi putih itu semua tampak sehat, segar dan kuat.
Sudah tentu Po-giok tidak berani angkat kepala.
Didengarnya gadis tadi cekikikan, "Apakah badan Pui-siau-hiap ada sesuatu yang memalukan bila dilihat orang? Kalau tidak kenapa hanya mencopot pakaian saja tampaknya ketakutan?"
Para gadis itu tertawa bingar, paduan tawa yang merdu dan mengasyikan.
Sebelum masuk ke istana air, Po-giok sudah mempersiapkan diri, mempertebal mental dan kepercayaan, sudah berpikir matang dan meneguhkan iman, bahaya apa pun yang akan dihadapinya, dia yakin punya cara dan keberanian untuk menghadapi dan mengatasinya.
Tapi pengalaman yang dihadapi sekarang, sungguh mimpi pun tidak pernah terbayang sebelumnya, bukan mara bahaya yang dihadapi, tapi malahan belasan gadis cantik jelita yang semuanya telanjang bulat.
Keberanian, akal sehat dan kungfunya tidak berguna untuk menghadapi masalah di depan mata ini.
Pada saat Po-giok tertegun, didengarnya suara "byaar-byuur", di tengah gelak tawa gadis-gadis itu terjun ke dalam air, sambil menghamburkan air dengan telapak tangan mereka dari berbagai arah, gadis-gadis ini merubung ke arah Po-giok.
Saking gugup Po-giok membentak, "Berani kalian mendekat segera aku kembali ke arah datangku tadi."
Gertakan Po-giok ini hanya spontan saja karena kehabisan akal ia tahu belum tentu gertakannya akan berhasil. Setiap orang dalam keadaan kepepet dan gugup sering kali mengucapkan gertakan seperti yang dilakukan Po-giok, dan lawannya jarang yang berhasil digertak mundur.
Di luar dugaan, gertakan yang biasa tidak manjur, kali ini justru amat berguna. Walau gadis-gadis itu tidak tergertak mundur, tapi mereka tidak berani mendesak maju lagi.
Berputar biji mata Po-giok dengan tertawa ia berkata, "Aku tahu bukan hanya aku ingin lekas bertemu dengan Kiong-cu kalian, Kiong-cu kalian juga berhasrat bertemu denganku. Kalau aku kembali ke arah datang tadi kalian tentu akan memikul akibatnya, betul tidak?"
Sembari bicara Po-giok mundur beberapa langkah lalu berenang ke tengah.
Ternyata gadis-gadis itu sama memberi jalan dengan cemas mengawasinya naik ke atas, setelah membetulkan pakaian lalu maju ke sana.
Baru beberapa langkah Po-giok berjalan, gadis berambut panjang itu mendadak membentak, "Berhenti! Masih ada yang harus kutanya padamu."
Walau tidak menoleh, tapi Po-giok berhenti, "Tanya soal apa?"
"Apa kau tahu di mana Kiong-cu sekarang?"
"Setelah berada di Cui-kiong (istana air), memangnya aku kuatir tidak dapat bertemu dengan Kiong-cu kalian?"
"Istana air besar lagi luas, jalannya berliku dan menyesatkan, di mana-mana dipasang alat perangkap yang mematikan. Entah berapa banyak orang yang orang yang sudah masuk ke istana air dan tidak dapat bertemu dengan Cui-Nio-nio, kebanyakan terkurung dalam alat perangkap yang mematikan, masih banyak lagi yang ...hm, untuk bertemu dengan Cui-Nio-nio, memangnya semudah yang kau bayangkan?"
"Ya, engkau memang agak berbeda dengan orang-orang itu, tapi belum tentu ..."
"Biar belum tentu, aku akan mencobanya. Mendadak gadis itu cekikikan, "Asal kau mau membuka pakaian, aku akan membawamu langsung ke hadapan Cui-Nio-nio, kalau tidak ..hm bukan saja engkau akan mengalami banyak penderitaan, mungkin selama hidup takkan bisa menemukannya."
"Tidak jadi soal," ucap Po-giok tertawa, tanpa menoleh ia meneruskan ke depan.
Gadis itu menggigit bibir, mengentak "kau ...jangan menyesal!"
"Sebetulnya tidak jadi soal mencopot pakaian tapi melihat sikapmu yang gugup, dengan berbagai cara sengaja memancingku untuk menanggalkan pakaian, aku menjadi curiga, dalam persoalan ini tentu ada udang di balik batu, oleh karena itu ...." sampai di sini ia tertawa lebar, "Oleh karena itu, lebih baik aku menyesal daripada mencopot pakaian,"
Gadis-sadis itu mengawasinya dengan melongo, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak dapat bersuara, juga tidak bisa tertawa lagi ....
Setelah beberapa jauh Po-giok berjalan ke dalam, Po-giok membuktikan keajaiban alam yang aneh megah dan semarak, bentuk dan besarnya memang mirip istana, pemandangan yang menakjubkan sukar dibayangkan kalau tidak menyaksikan sendiri.
Ribuan stalakmit menghiasi langit-langit gua, satu dengan lain tidak ada yang sama bentuknya, satu dengan yang lain berbeda warnanya, tidak pernah ada pemandangan segaib ini di dunia ramai.
Lebih mempesona lagi karena stalakmit itu dihiasi lagi mutiara-mutiara yang gemerlapan, ditata dan dihias sedemikian rupa, ada yang berbentuk huruf, ada pula yang tercipta menjadi lukisan.
Po-giok tidak peduli dan tidak memperhatikan tulisan dan gambar yang dibentuk dari butir-butir mutiara itu.
Bukan tidak ingin melihat, tapi tidak berani melihat, karena ia kuatir sekali melihat tulisan atau lukisan itu, pendiriannya bisa goyah, imannya bisa runtuh, pikiran kacau dan ruwet.
Kakinya beranjak di tengah pancaran tujuh macam sinar kemilau, seolah-olah tubuhnya juga berhias tata warna yang indah, hingga Po-giok sendiri merasakan dirinya seolah-olah bukan berada dalam gua besar, lebih tepat berada dalam istana dewa yang terletak di dasar air.
Setelah satu lingkar ia bergerak, didapati oleh Po-giok, istana besar ini ternyata tidak berpintu.
Waktu ia menoleh, bayangan gadis-gadis telanjang itu sudah tidak kelihatan. Dalam gua yang besar itu cuma dia dan stalakmit-stalakmit itu seperti menyambut kedatangannya, seperti juga menggoda dan mengedip mata padanya.
Tanpa terasa Po-giok menarik suara lalu membentak, "Pek-cui Kiong-cu, di mana engkau ? Pui-Po-giok mohon bertemu!"
Gema suaranya memantul balik dari dinding gua, suaranya mirip gemuruh ombak samudra laksana guntur menggelegar, begitu kerasnya sehingga telinga Po-giok sendiri terasa pekak. Kecuali pantulan gema suara sendiri. Po-giok tidak mendengar suara orang lain.
Dalam gua besar ini tentu ada pintu rahasia yang tersembunyi, tapi di mana letak rahasianya? Cahaya yang kemilau dengan paduan warna yang menyolok, menyilaukan mata dan memusingkan kepala, tidak mudah orang menemukan tombol atau kunci rahasianya?
Po-giok menenangkan pikiran, menahan gejolak hati perlahan ia berjalan lagi satu lingkar.
Kali ini po-giok memeriksa lebih teliti, setiap jengkal dinding dan lantai diperiksa dengan seksama. Jerih payah Po-giok ternyata tidak sia-sia di antara sekian banyak stalakmit yang beraneka ragam coraknya itu, dia menemukan satu di antaranya berbeda dengan keadaan yang lain, bukan saja lebih mengkilap dan halus, bentuknya juga lebih aneh lebih menyolok.
Tanpa sangsi Po-giok menghampiri dan memeriksa dari dekat, kalau stalakmit yang ada dalam gua besar itu berlumut dan berdebu, stalakmit yang satu ini justru mengkilap dan bening seperti kaca, itu pertanda bahwa stalakmit yang satu ini sering dipegang oleh manusia.
perlahan Po-giok ulur tangan memegang ujung-stalakmit ini, ternyata bisa bergerak dan bisa diputar, setelah po-giok memutar dua kali, maka terdengarlah suara gemuruh, dinding gua pun bergerak dan muncul sebuah lubang, dari balik lubang sana terdengar suara orang tertawa.
"Pui-Po-giok, kamu memang luar biasa, pandai juga kau temukan pintu rahasia ini, tapi apa kau berani masuk kemari? Ketahuilah, bila sudah masuk pintu ini, tiada harapan bisa keluar lagi dengan hidup."
Semula suara itu dekat di balik pintu, namun lama kelamaan makin jauh dan lirih, kalau tidak puluhan tombak, mungkin ada ratusan tombak jauhnya jelas di balik sana merupakan lubang yang dalam sekali.
Tapi dengan tersenyum Po-giok melangkah tegap.
Baru saja Po-giok melangkah masuk, celah-celah dinding itu segera menutup kembali. Pancaran cahaya warna-warni, pemandangan semarak yang menyilaukan itu semuanya lenyap, kini Po-giok berada di tempat yang gelap gulita, lima jari sendiri saja tidak kelihatan.
Perubahan ini sedemikian, drastis, Po-giok merasakan dirinya seperti jatuh ke neraka dari surga.
Tapi dirinya sudah telanjur masuk ke sini maju ka depan adalah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh, tidak mungkin mundur lagi.
Sambil meraba-raba dinding di kanan-kirinya Po-giok menggeremet maju, makin ke depan terasa olehnya dinding gunung yang semula basah, lembab dan dingin semakin kering dan panas, puluhan langkah kemudian dinding yang di jamah tangan Po-giok panasnya seperti besi dibakar.
Sebagai manusia biasa sudah tentu Po-giok tidak berani memegang dinding panas itu. Tapi Po-giok keras kepala, dia nekat maju lagi beberapa langkah "Co", waktu Po-giok berdiri agak mepet dinding, pakaiannya yang basah terbakar hangus waktu menyentuh dinding.
Umpama Po-giok memiliki kepandaian setinggi langit juga tidak berani beranjak maju lagi.
Hawa dalam gua itu mulai panas, sebetulnya Po-giok kuat bertahan dan melawan, ia yakin dengan kekuatan lwe-kang dan ketenangannya, biarpun dirinya berpakaian tebal juga tidak akan berkeringat dan kegerahan.
Tapi lama kelamaan hawa dalam gua ini memang panas sekali, sepanas dalam tungku, Po-giok seperti di panggang, namun keringat yang bercucuran juga cepat menguap, beberapa kejap lagi Po-giok merasakan tubuhnya seperti mau hangus.
Entah mengapa gua ini seperti berubah menjadi tungku raksasa. Dalam keadaan seperti yang dialami Po-giok, manusia mana pun takkan tahan lebih lama.
Kepala Po-giok mulai pusing, pandangan juga berkunang-kunang.
Sekonyong-konyong didengarnya seorang berkata dengan tawa cekikik. "Hawa sepanas ini? Kenapa tidak lekas copot pakaianmu?"
Dalam kegelapan yang pekat itu, entah dari mana datangnya suara itu.
Po-giok mengertak gigi, bertahan dan bungkam.
Suara itu berkumandang lagi, "Tempat ini begini gelap, umpama kau copot pakaianmu juga tidak ada orang melihat keadaanmu, lalu apa lagi yang membuatmu malu? ...Eh, kenapa belum juga buka pakaian?"
"Kenapa kau paksa aku copot pakaian?" teriak Po-giok.
Diam sesaat, akhirnya suara itu berkata dengan tertawa, "Karena kamu tidak mau mencopot pakaian, maka aku paksa supaya kau copot pakaian."
"Tahukah kenapa aku tidak mau buka pakaian?" tanya Po-giok kalem.
"Ya, ingin aku dengar alasanmu, kenapa kamu keras kepala."
"Seorang laki-laki, apalagi laki-laki muda normal dan berdarah panas, kalau dia harus telanjang di tengah kerumunan gadis-gadis cantik, yang juga telanjang, meski ia punya ketenangan dan iman yang teguh juga akhirnya akan tekuk lutut di depan kawanan cewek itu, peduli harga diri atau keyakinan segala, dalam sekejap itu tentu tak terpikir lagi olehnya. Dalam keadaan seperti itu, apa pula yang bisa ia lakukan selain memuaskan rangsangan nafsu. Kuyakin kau pun tahu akibat dari semua itu, betul tidak?"
Keadaan tetap gelap pekat tiada suara sahutan.
"Oleh karena itu." kata Po-giok lebih lanjut, "dengan siasat inilah kalian memerangi jiwa dan iman manusia, entah betapa banyak laki-laki yang jatuh dalam perangkap kalian. Tapi mereka bukan aku, Pui-Po-giok adalah ...."
Belum habis ia bicara, tertawa bingar berkumandang di tengah kegelapan, "Bagus, Pui-Po-giok, anggaplah kamu memang pintar ...."
Tawa bingar semerdu kelintingan itu makin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.
Mendadak Po-giok menanggalkan pakaiannya malah, dengan baju luarnya ia membalut tangannya, dengan tangan yang terbalut ini ia meraba-raba dinding terus merambat ke arah datangnya suara, di sana pula suara itu akhirnya lenyap.
Walau telapak tangannya sudah dibalut tebal, tapi masih terasa oleh Po-giok betapa panas tangannya.
Sambil mengertak gigi Po-giok terus maju ke depan, dengan tekadnya yang besar, ia berhasil mengatasi penderitaan, memusatkan semangat dan mengkonsentrasikan pikiran, selangkah demi selangkah menggeremet maju.
Sudah tentu perjalanan kali ini ditempuh dengan cara yang jauh lebih sukar, lebih menyiksa. Kecuali Pui-Po-giok, mungkin tidak ada orang yang kuat melangkah belasan tindak. Tapi Po-giok sudah melangkah ratusan tindak, seribu langkah dan terus maju ke depan, Badannya hampir kering, mirip daging yang dipanggang. Keadaannya sudah hampir lumpuh dan hangus terbakar.
Pada detik-detik yang menentukan ini, tawa bingar yang merdu tadi berkumandang lagi, "Bagus sekali, kamu mampu menempuh perjalanan sejauh ini, memang tidak malu Pui-Po-giok diagulkan sebagai ksatria sejati tapi ...Pui-Po-giok, tahukah di mana sekarang kamu berada?"
"Aku sudah berada di depanmu!" tegas suara Po-giok, tapi serak dan kering.
Suara itu masih tertawa, "Baiklah, boleh kau lihat...."
Di tengah suara tawa merdu orang, setitik sinar melayang jatuh di tanah, namun hanya sekejap lantas padam.
Nyala api yang sekejap itu cukup bagi Po-giok untuk melihat keadaan sekitarnya. Jelas terlihat oleh Po-giok dirinya kini berada di tempat semula, di mana pertama kali dirinya masuk dari celah-celah dinding tadi. Sebelum celah dinding tertutup tadi, sempat ia perhatikan keadaan sekelilingnya.
Dengan ketahanan yang luar biasa Po-giok menempuh perjalanan, betapa susah dan menderita, ternyata perjalanan yang sia-sia, akhirnya putar kayun dan kembali ke tempat semula. Luluh semangat dan tenaga Po-giok, hampir saja ia ambruk dan pingsan.
Suara itu berkumandang pula, "Sejak mula sudah aku peringatkan, lorong gua di sini amat ruwet dan menyesatkan, banyak perangkap dan perubahannya. Nah, apakah kamu masih anggap dirimu pintar? Lekaslah copot pakaianmu."
"Tidak!" desis Po-giok geram.
Berubah lembut dan prihatin suara itu, "Begitu kau copot pakaian, segera kau dapat bertemu dengan Nio-nio, kamu dapat berendam di air yang hangat dan segar, berapa lama ingin berendam dalam air boleh terserah padamu, berapa poci kau ingin minum teh atau arak boleh sesuka hatimu. Kenapa masih kukuh pendapat, keras kepala bukan cara yang paling baik, kalau masih juga bandel, bila kamu mampus kekeringan, siapa akan memujimu."
"Jangan kuatir, penderitaan begini belum akan membuatku mampus."
Diam sesaat lamanya, suara itu akhirnya tertawa dingin, "Baiklah, berapa lama kamu akan bertahan lagi."
Tokoh besar mana pun setelah mengalami siksa derita seberat itu, pasti roboh dan tak kuat bangkit lagi. Tapi Po-giok hanya memejamkan mata "menggeremet maju ke depan, sembilan di antara sepuluh orang pasti menggunakan tangan kiri, karena tangan kanan harus selalu siaga bila di tengah kegelapan dirinya disergap atau diserang secara mendadak.
Demikian pula yang dilakukan oleh Pui-Po-giok.
Tadi dia menggeremet maju dengan tangan kiri meraba dinding sebelah kiri, kenyataan dia kembali ke tempat semula.
Kini ia menanggalkan pakaiannya yang sudah hangus untuk membalut tangan kiri tadi, menyobeknya beberapa potong lalu menyambungnya lebih panjang untuk membalut tangan kanan.
Kini ia menggeremet maju lagi ke depan dengan meraba dinding sebelah kanan.
Jalan yang ditempuhnya kali ini sudah tentu lebih sukar, lebih menyiksa, seluruh tenaga dan semangat seperti menguap oleh suhu panas yang luar biasa.
Kedua kakinya seperti mendadak berubah berat ribuan kati, pandangan matanya mulai berkunang-kunang, kesadarannya juga mulai pudar ....Air, air jernih lagi dingin!
Saking tak tahan ingin rasanya dia memekik dan berteriak, menerima segala syarat yang mereka ajukan, cukup dengan imbalan air untuk dia minum, air yang dingin lagi segar.
Tapi Po-giok hanya mendengus, mengertak gigi dan meneruskan ke depan Mendadak tubuhnya menjadi lemas dan kehilangan keseimbangan, lalu robohlah dia.
Di tengah pingsannya, seolah-olah Po-giok kembali pada masa kecilnya dulu. Di pekarangan belakang, di bawah rumput bunga yang rimbun, dia tengah duduk tegak belajar membaca.
Cuaca amat panas, gerah sekali hingga sesak bernapas, pakaian luar ia tanggalkan, dalam hati ia mengharap turun hujan, dan hujan ternyata benar turun, air hujan bertetesan dari dahan pohon.
Tetesan air hujan nan dingin menyejukkan, sungguh nyaman dan segar. Mendadak seorang berteriak-teriak di pekarangan depan, "Po-giok ... Po-giok ... "
Siapa itu? Ah, kiranya paman berkepala besar? Begitu Po-giok membuka mata, mimpi pun sirna. Kenyataan adalah kejam, namun mukanya masih basah oleh air. Apa benar air hujan?
Terdengar seorang menghela napas di atas, "Pui-Po-giok, akhirnya kau sadar"
Waktu Po-giok- angkat kepala, tampak olehnya di ujung dinding gua yang gelap dan keras itu, di tengah himpitan dua dinding terjal, entah sejak kapan terbuka sebuah lubang.
Gadis berambut panjang itu tengah melongok di atas lubang dengan tawa genit ia berkata, "Pui-Po-giok, kini kamu sudah sadar bukan bahwa kamu ini manusia biasa, bukan robot, datang juga saatnya ambruk dan tak mampu berjalan lagi. Nah sekarang, kau mau menyerah?"
Po-giok merintih, "Air ...air ..."
Gadis ayu itu mengangkat tangan, tangannya memegang sebuah cangkir emas suaranya lembut menarik, "Dalam cangkir ini berisi air embun kembang mawar, tadi aku meneteskan tiga tetes di mukamu, hanya tiga tetes, kau sadar dari pingsan sudah kau rasakannya. Nah asal mau menyerah, air lembut bunga mawar ini boleh kau minum sampai habis."
"Air embun? ... Bunga mawar ... " Po-giok bergumam. Seolah-olah mengigau dalam pingsannya, tampak betapa lemah kondisinya, keadaannya yang payah sudah tidak bisa dilukiskan lagi.
Gadis ayu itu cekikikan, "Tetesan air yang dingin segar, biar kau rasakan sekali lagi ... "
Dia angkat cangkir emas itu lalu dimiringkan sedikit hingga airnya menetes satu tetes, tepat menetes di wajah Po-giok.
Mendadak Po-giok memekik sambil meronta "Tidak ... tidak mau menyerah ..."
Gadis itu geleng kepala katanya setelah menghela napas gegetun, "Dasar bandel seperti kerbau. Baiklah, kau sendiri ingin menderita, jangan salahkan aku."
Air dalam cangkir emas di tangannya itu mendadak ia buang ke dinding gua.
"Cess," begitu air menyentuh dinding gua, asap pun mengepul, air itu seketika kering dan menguap menjadi asap tipis.
Wajah gadis jelita itu pun lenyap di tengah mengepulnya asap, suasana kembali menjadi gelap dan hening.
Mendadak Po-giok melompat bangun. Bukan karena beberapa tetes air bunga mawar tadi yang memulihkan kekuatannya, yang benar tadi Po-giok hanya pura-pura semaput, pura-pura payah dan ambruk tak sadarkan diri.
Sekali lompat dengan enteng ia mencapai puncak dinding, sekilas pandang ketika lubang tadi masih terbuka, dapatlah Po-giok meneliti keadaan sekitarnya, maka dengan cepat ia merayap ke atas.
Jari jari tangannya terbungkus kain, kakinya juga terbungkus sepatu, tapi kaki tangannya panas terbakar, bila tidak kuat bertahan, tubuhnya akan terjungkal dan segala usahanya akan gagal total.
Dinding karang yang puluhan tombak tingginya itu, bagi keadaan Po-giok sekarang rasanya menjadi ratusan tombak, namun ia kertak gigi, mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya.
Syukur akhirnya dia berhasil mencapai puncak dinding.
Waktu ia angkat tangan, hatinya seperti bergantung di udara. Demikian pula jiwanya seperti terapung di awang-awang.
Kalau batu gunung di sebelah atas dapat bergerak, itu berarti segala penderitaannya ini akan memperoleh imbalan setimpal, kalau tidak ...kalau tidak bagaimana? Po-giok tidak berani membayangkan.
Terima kasih pada bumi dan langit! Batu yang menutup lubang di sebelah atas ternyata dapat bergerak.
Rasa girang Po-giok seperti mendapat rejeki nomplok, perlahan ia mendorongnya ke samping lalu melompat keluar dan menggelinding ke samping.
Batu gunung di luar lubang ternyata dingin segar, sedingin air danau.
Mendekam di tanah Pui-Po-giok terengah-engah, sekelilingnya sepi lengang. Segala penderitaan mara-bahaya seolah-olah sudah berlalu.
Telapak tangannya menempel batu gunung yang dingin, demikian pula pipinya juga melekat di batu gunung, setebal napas teratur dan tenaga pulih, perlahan baru ia angkat kepala dan memandang ke depan.
Mendadak ia lihat sepasang kaki. Sepasang kaki orang laki-laki.
Sepasang kaki ini berada di depan matanya.
Kaki orang laki-laki ini mengenakan sepatu yang indah dan mewah, sepatu mahal yang dibuat dari sutera dengan sulaman benang emas, mahalnya sepatu sekaligus menandakan kedudukan pemakainya yang agung. Tapi bila sepasang kaki ini sedikit saja diangkat, menendang dengan ringan .....Maka Pui-Po-giok akan menggelinding jatuh ke dalam lubang pula.
Begitu melihat kaki di depan matanya, napas Po-giok seperti berhenti darah juga seperti beku. Bila sepasang kaki ini menendang, jelas dia tidak mampu melawan atau menyingkir.
Tapi sepasang kaki ini tetap berdiri diam, tidak menendang juga tidak bergerak.
Po-giok merapatkan badan ke tanah, tidak berani bergeming, mengangkat kepala menengok muka orang pun tidak berani, padahal besar hasratnya ingin mengetahui siapa orang yang berdiri di depannya ini.
Dia hanya tahu orang ini berpakaian. Orang pertama yang ia lihat berpakaian sejak dirinya berada dalam istana air ini, juga orang laki-laki yang ia lihat pertama kali di sini. Bukankah asal-usul dan kedudukan orang ini membuatnya tertarik heran.
Didengarnya suatu suara rendah berat berkata perlahan. "Ternyata kau mampu datang ke tempat ini, jerih payahmu sungguh harus dipuji. Tapi perlu kau tahu, tempat ini sudah dekat dengan pusat istana, perjalanan yang masih harus kau lalui justru lebih sukar, lebih berat, kau harus lebih waspada menghadapi ujian ini."
Po-giok melengak keheranan, karena dari nada bicara orang ini, bukan saja tidak mengandung maksud jahat malah prihatin dan penuh kasih sayang, seperti nasihat seorang tua terhadap anak atau muridnya.
Kenapa hal ini terjadi? Siapa pula orang ini?
Ingin Po-giok bertanya, tapi suaranya tidak keluar, bukan tidak berani bertanya, ia maklum umpama dirinya bertanya juga takkan memperoleh jawaban, orang ini tidak akan memberi penjelasan.
Lebih lanjut orang itu berkata pula, "Usiamu masih muda tapi tekadmu yang besar dan teguh sungguh harus dihargai. Asal imanmu tetap teguh tekadmu tetap besar penderitaanmu tidak akan sia-sia."
Bukan saja merupakan nasihat juga merupakan anjuran, memberi dorongan.
Makin tebal rasa kaget dan curiga Po-giok, namun mulutnya hanya bisa mengucap, "Terima kasih."
Setelah diam sejenak suara itu berkata pula, "Sekarang kamu masih mampu berdiri?
"Bisa," sahut Po-giok pendek.
"Kalau bisa berdiri, kenapa masih rebah di tanah?"
Po-giok mengiakan. Kini ia yakin orang tidak bermaksud jahat terhadapnya, segera ia membalik tubuh terus melompat berdiri. Tertampak orang sudah berputar membelakangi dirinya serta berjalan lambat ke sana.
Langkah orang lambat tapi mantap kian berat kedua tangannya seperti bersidekap di dada.
Saking tak tahan Po-giok bertanya, "Kenapa tuan tidak memberi kesempatan agar aku lihat wajahmu?"
"Tidak perlu kau lihat wajahku, lebih penting kau lihat pedangku."
Di saat mengucap "ku", kata yang terakhir, pundaknya mendadak bergerak sedikit.
Gerakan yang sedikit ini tidak mungkin diikuti oleh pandangan mata, siapa pun takkan mengambil perhatian gerakan pundak seseorang. Tapi begitu melihat pundak orang bergerak Po-giok justru berjingkat kaget.
"Cu-coan-kian-kun-sat-jiu-kiam!"
Begitu pundak bergerak, sinar pedang pun meluncur seperti seutas rantai perak. Itulah serangan mematikan yang pernah dilancarkan Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin dari Lam-hai-pai Cu-coan-kian-kun-sat-jiu-kiam.
Serangan kali ini jauh lebih cepat dibanding serangan Ciang-Jio-bin dulu, sasarannya lebih telak dan ganas, posisinya juga lebih kuat dan mantap dibanding serangan yang dilakukan Ciang-Jio-bin dulu.
Kalau dahulu Po-giok belum pernah mengalami serangan jurus pedang yang mematikan ini, bila sebelumnya tidak waspada waktu melihat pundak orang bergerak, umpama jiwanya tidak melayang di bawah tusukan pedang orang, selanjutnya jangan harap dapat meneruskan usahanya untuk bertemu dengan Cui-Nio-nio.
Baru saja sinar pedang menyambar keluar dari bawah ketiak orang ini, tubuh Po-giok sudah melompat mundur. Po-giok sudah menggunakan setaker tenaganya, juga sudah dia perhitungkan, tusukan pedang ini paling banter hanya bisa mencapai pakaiannya, dan pasti takkan mampu melukai tubuhnya. Di luar tahunya pedang itu mendadak berhenti beberapa kaki di depan dadanya.
Walau serangan pedang ini lebih cepat dari tusukan pedang Ciang-Jio-bin, lebih ganas, lebih telak, tapi tusukan orang ini ternyata tidak sungguh-sungguh dilancarkan, jelas orang ini menaruh belas kasihan, ini dirasakan secara langsung oleh Pui-Po-giok.
Setelah menarik napas panjang, Po-giok berkata haru, "Terima kasih!"
Pedang orang itu perlahan melorot turun, suaranya kalem, "Apakah kau pernah melihat jurus serangan ini?"
"Ya," pendek jawaban Po-giok.
Berubah dingin suara orang itu, "Kalau belum pernah melihat jurus pedang ini, saat ini mungkin kamu sudah terluka oleh tusukan pedangku. Dengan jurus pedang yang ganas aku hendak merengut nyawamu, kenapa kamu berbalik berterima kasih padaku?"
"Bahwa pedangmu tadi menaruh belas kasihan, memangnya Po-giok tidak merasakan?"
"Umpama benar menaruh belas kasihan, tapi tusukanku tadi bisa menamatkan jiwamu."
Po-giok tertawa malah, "Tapi kenyataan sekarang aku masih hidup, masih segar bugar."
Diam sejenak akhirnya orang itu berkata, "Betul sekarang kamu masih hidup, sudah dua kali kau saksikan jurus serangan pedang ini, ternyata kamu masih segar bugar, maka ilmu pedang yang bisa melukaimu mungkin tidak banyak lagi di dunia ini."
"Tidak banyak?" Po-giok melengong, "kukira juga tidak sedikit?"
Mendadak orang itu menghentikan gelak tawanya, "Em, memang tidak sedikit, paling sedikit masih ada tiga macam."
"Kenapa tidak memberi kesempatan padaku untuk belajar kenal?"
"Buat apa terburu-buru?"
Mendadak pedang dibuang ke belakang, tanpa terasa Po-giok ulur tangan menangkapnya. Begitu sinar pedang berkelebat, waktu Po-giok memandang ke depan, bayangan orang itu pun sudah lenyap.
Di depan masih merupakan lorong gua yang gelap panjang ini rasanya berada di perut gunung, kalau ada hanya cahaya lampu tidak pernah ada sinar matahari.
Tidak pernah terpikir oleh Po-giok meski dalam mimpi, bahwa ada orang di dunia ini dapat membangun istana dalam perut gunung dengan sebesar, seluas dan semegah itu. Istana yang penuh misteri dan gaib.
Setelah berdiri mematung sekian saat, po-giok bergumam sendiri, "Apa kedudukan orang ini dalam Pek-cui-kiong? Tutur katanya begitu prihatin dan menaruh belas kasihan terhadapku, namun kenapa dia melancarkan serangan mematikan padaku? Kalau serangan mematikan itu dilancarkan, kenapa pula dia menaruh belas kasihan? Kalau rela memberi pengampunan dan menaruh belas kasihan, kenapa harus menyiapkan tiga macam serangan mematikan, kenapa pedang ini diberikan padaku? ...."
Pedang di tangannya itu lencir panjang tajam, lagi sempit tipis, begitu sempurna bentuk pedang ini, dari ujung sampai ke gagangnya, seperti diciptakan oleh seorang ahli.
Begitu menggenggam gagang pedang panjang ini, timbul perasaan hangat, nyaman dan penuh keyakinan dalam benak Po-giok rasa lapar dan dahaga sudah terlupakan sama sekali, badan tidak merasa letih lagi.
Cukup lama Po-giok berdiri diam di tempatnya, memusatkan pikiran dan semangat sehingga lama kelamaan, antara jiwa dan hawa pedang di tangannya jadi manunggal. Segala kerisauan sudah terbenam dalam relung hatinya, demikian pula siksa derita yang dialami selama ini sudah terbuang dari ujung pedang.
Setelah jiwa raga manunggal dengan pedang baru Po-giok berani maju ke depan.
Segala keajaiban pemandangan dalam gua itu sudah tidak menarik perhatiannya.
Dalam pandangannya kini hanya ada ujung pedang. Dalam hatinya hanya ada pedang.
Mendadak alam sekitarnya berubah sepi dan tengang seperti kuburan yang gelap.
Tapi langkah Po-giok tidak pernah berhenti, mantap lagi tegap, tangannya juga tidak perlu meraba-raba. Karena mata hatinya sudah terpanoar di ujung pedangnya dan menimbulkan perasaan yang peka pada dirinya.
Kini pedang di tangannya dapat menggantikan mata.
Keheningan yang mencekam, kegelapan yang menegangkan.
Sekonyong-konyong dalam kegelapan itu terasa berkembangnya hawa membunuh.
Tiba-tiba Po-giok merinding, bulu romanya berdiri.
Padahal dirinya berada di tempat gelap dan hening, rasanya tiada sesuatu perubahan, tapi hawa membunuh ini melanda datang seperti ombak pasang yang menerpa secara bergelombang.
Hawa membunuh itu tidak berbentuk dan tiada wujudnya, tapi secara nyata dan benar Po-giok merasakan adanya tekanan mendadak dari hawa membunuh di tempat gelap itu. Lama kelamaan hawa membunuh itu membuatnya sesak napas.
perlahan pedang terangkat, langkahnya juga menjadi lamban, lalu hampir berhenti.
Di tengah kegelapan, benar-benar berkelebat sinar pedang yang kemilau, tapi hanya sekali berkelebat lalu berhenti.
Kelima jari sendiri tidak terlihat, sudah tentu siapa pemegang pedang itu juga tidak terlihat oleh Po-giok, dia hanya melihat sebatang pedang, seperti ditenung saja pedang itu berhenti dan terapung di udara, terapung lurus ke depan menghadang jalannya.
Pedang ini tidak menakutkan, yang menakutkan adalah hawa membunuh dari pedang itu. Sudah jelas dan tidak perlu dipermasalahkan lagi, bahwa pedang yang satu ini akan memainkan satu jurus ilmu pedang yang hebat lagi dahsyat, sejurus ilmu pedang yang dapat mengejutkan langit dan menggetar bumi.
Jurus pedang yang satu ini sudah tentu merupakan salah satu dari tiga jurus yang akan melukai Pui-Po-giok.
Pedang di tangan Po-giok juga terhenti di udara. Gelap gulita, tiada sesuatu benda yang terlihat kecuali pedang yang gemerdep tiada suara dengus napas juga amat perlahan, yang ada hanya dua pedang yang berhadapan, dua pedang yang siap berduel.
Dua pedang yang sama-sama memiliki hawa membunuh.
Belum pernah Po-giok menghadapi hawa membunuh setebal pedang yang satu ini. Tapi terasa olehnya adanya sesuatu yang ganjil karena orang yang memegang pedang di depannya ini, tubuhnya ternyata terlepas di luar lingkup hawa membunuh dari pedang yang dipegangnya.
Kejadian ini sungguh luar biasa dan belum pernah ada dalam dunia persilatan. Orang yang memegang pedang ternyata terbagi menjadi dua bentuk yang berbeda dengan hawa membunuh dari pedang itu, kenyataan yang ganjil dan keadaan yang luar biasa ini sebetulnya tidak mungkin terjadi.
Hanya ada satu kemungkinan, dalam keadaan tertentu keadaan luar biasa ini bisa terjadi. Yaitu meski tebal hawa membunuh dari pedang itu namun pemegang pedang itu pada dasarnya tidak ada hasrat melukai atau membunuh musuh yang akan dilawannya.
Oleh karena itu, meski ganas dan keras hawa membunuh dari pedang itu, tapi pemegang pedangnya merupakan unsur pelaksana yang lemah, dan hawa manusia yang lemah ini jelas tidak mungkin manunggal dengan hawa membunuh itu, dan sekaligus menjadikan hawa membunuh yang ganas dan berkobar itu menjadi tawar dan akan sirna kalau bertahan cukup lama.
Dengan tajam Po-giok mengawasi pedang itu mendadak ia teringat akan golok milik Thi-kim-to itu.
Hawa membunuh pedang ini kira-kira setanding dan golok Thi-kim-to tempo hari. Tapi hawa membunuh pedang ini jelas tidak seganas dan sepanas hawa membunuh golok Thi-kim-to waktu berhadapan dengan dirinya.
Ini dapat disimpulkan bahwa hawa membunuh dari pedang di depannya ini mengandung makna "kebaikan", hawa membunuh pedang ini mengandung cinta kasih.
Kenapa pula hal ini bisa terjadi?
Hening lelap, seorang-olah tiada kehidupan dalam mayapada ini. Tapi di tengah keheningan itu seolah-olah Po-giok mendengar sebuah irama yang fiktif, sejenis alunan musik yang mengasyikan.
Mendadak pedang itu bergerak msnggaris sebuah lingkaran.
Gerak lingkar yang membundar itu juga kelihatan indah dan gaib, bergerak mengikuti alunan musik yang gaib pula, hingga menimbulkan gerak tarian yang paling indah dari segala tarian yang pernah ada dalam ilmu pedang.
Po-giok terbeliak kaget. Gerak pedang yang melingkar bundar ini, bukankah mirip gerak golok yang pernah dilancarkan Pek-ih-jin itu.
Begitu pedang bergerak melingkar, cahayanya berubah menjadi tabir kemilau, laksana kilat menyerang ke arah Pui-Po-giok.
Deru angin pedang yang melingkar itu, laksana pekik binatang buas.
Di tengah kegelapan hanya tampak sinar pedang berkelebat sekali pedang di tangan Po-giok dan pedang itu saling berpindah tempat dengan posisi yang berbeda. Tapi, dua orang yang saling gebrak ini tidak ada yang roboh.
Kalau keadaan tadi hening lelap, sepi dan lengang. Kini di tengah gelap mulai terdengar dengus napas yang agak berat.
Waktu sekejap itu meski pendek, namun dalam sekejap itu mereka sudah melewati garis pemisah antara mati dan hidup. Kejadian itu merupakan suatu kejutan luar biasa yang sukar dibayangkan, siapa pun di dunia ini setelah mengalami kejutan yang luar biasa dan menegangkan ini, dengus napas siapa yang tidak akan memburu?
Kedua orang berdiri tegak tak bergerak.
Entah berapa lama kemudian mendadak berkumandang suara serak seorang tua, "Jurus ini pernah kau saksikan?"
Pertanyaannya mengandung nada kaget dan heran, tapi bukan kaget atau heran karena Po-giok berhasil menyelamatkan diri dari serangan pedangnya, tapi kaget dan heran karena Po-giok pernah menyaksikan jurus pedang yang baru saja dia lancarkan.
"Ya," Po-giok menjawab pendek.
"Siapa yang melancarkan jurus serangan pedang ini padamu?" tanya suara itu.
"Thi-kim-to." sahut Po-giok lantang.
"Thi-kim-to?" teriak suara itu nadanya kaget "Dia ..."
"Jurus itu dilancarkan Thi-kim-to, namun tidak berarti dia," demikian tukas Po-giok.
"Kenapa tidak berarti dia?"
"Karena Thi-Kim-to hanya pelaksana, dia mendapat perintah orang lain."
"Pek-ih-jin maksudmu?"
"Benar ..."
Suara itu diam sebentar, lalu berkata kalem "Apakah jurus yang dilancarkan Thi-kim-to persis dengan yang aku lancarkan barusan?"
"Sembilan puluh persen sama tapi perbedaan yang sepuluh persen justru amat besar."
"Coba jelaskan?"
"Titik paling tebal dari hawa membunuh jurus serangan yang dilancarkan Thi-kim-to juga adalah titik kelemahannya. Suhu badannya merembes lewat titik kelemahannya, maka aku menyerempet bahaya menyerang titik kelemahannya itu ternyata berhasil."
Lebih lama suara itu diam setelah menghela napas, akhirnya memuji, "Bagus!"
"Berbeda dengan caramu turun tangan, sebelumnya tidak menghimpun tenaga, hati juga tidak tegang, oleh karena itu suhu badanmu normal, dari sini dapat disimpulkan, meski pedangmu mengandung hawa membunuh, tapi hatimu sedikit pun tiada nafsu membunuh ....hawa membunuh pada pedangmu berkembang karena jurus ilmu pedang itu sendiri."
"O, demikian?" pendek suara itu.
"Karena tuan tidak bernafsu membunuh, maka waktu melancarkan jurus serangan itu, hati dan pedang tidak manunggal, dengan sendirinya hasrat membunuh yang tertuang dalam hawa membunuh yang tuan lancarkan itu tidak sederas seganas hawa membunuh yang dilancarkan Thi-kim-to."
"Oo, kenapa demikian?" tanya suara itu.
"Sekali jurus pedang itu dilancarkan, harus dicuci dengan darah, maka aku dipaksa untuk merengut jiwanya. Maklum dalam keadaan segenting itu, tiada waktu untuk memilih atau mempertimbangkannya. Sebaliknya jurus pedang yang tuan lancarkan tadi, pada hakikatnya aku dipaksa untuk membela diri dan tak mampu melancarkan serangan mematikan."
"Betul," puji suara itu dengan menghela napas, "kalau pedang itu tiada maksud melukai musuh, maka jurus pedang itu takkan mungkin membangkitkan hawa membunuh. Dan itulah pengertian paling sempurna dari ajaran ilmu pedang tingkat tinggi."
"Tapi ... tuan tidak bermaksud melukai aku, kenapa melancarkan jurus ganas dan mematikan untuk menghadapiku? Bukankah kejadian ini amat bertentangan? sungguh aku tidak habis mengerti."
"Tidak mengerti ya sudah, lebih baik tidak mengerti," ucap suara itu.
"Masih ada pertanyaanku. Jurus itu adalah ciptaan Pek-ih-jin yang tidak diturunkan kepada siapa pun, di kolong langit ini tiada orang tahu intisari dan rahasia jurus pedang itu. Lalu dari mana tuan mempelajarinya? Hal ini pun membuatku bingung."
"Tidak lama lagi kamu akan tahu," suara itu berbicara kalem.
"Tidak lama lagi?" Po-giok menegas.
"Ya: tidak lama lagi ...." Hanya empat kata diucapkan, namun pada kata terakhir, suaranya sudah jauh dan lirih, sedikitnya ada belasan tombak jauhnya.
Kini tinggal dua jurus lagi ilmu pedang yang ada di dunia ini dapat mengalahkan atau melukai Po-giok.
Berbagai persoalan justru bertumpuk dan menyelimuti sanubari Po-giok.
Dalam waktu beberapa kejap tadi, sudah dua kali ia menghadapi serangan mematikan. Tapi orang yang dua kali melancarkan serangan mematikan terhadapnya itu tidak bermusuhan, tidak menaruh dendam, tidak bermaksud jahat terhadapnya.
Inilah persoalan pertama yang mengherankan.
Kedua, kedua jurus serangan mematikan itu sebelum ini pernah dia alami, pernah menghadapi serangan yang ganas itu. Tapi sukar Po-giok menemukan jawabannya, apa hubungan atau sangkut paut kedua orang yang dahulu menyerang dia dengan kedua orang yang hari ini menyerangnya ini.
Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin masih mungkin punya hubungan dengan Pek-cui-kiong, adalah logis kalau jurus ilmu pedang warisan Lam-hai-pai yang dirahasiakan itu juga dipelajari orang-orang Pek-cui-kiong.
Tapi dari mana orang-orang Pek-cui-kiong memperoleh dan mampu melancarkan jurus khas ciptaan Pek-ih-jin dari Tang-ing? Jika Pek-cui-kiong jelas tiada sangkut paut dengan Pek-ih-jin, umpama air sumur dengan air laut, berbeda satu dengan yang lain, mana mungkin ada hubungan?
Makin dipikir, makin bingung, makin dipikir makin sukar dipecahkan. Pusing kepala Po-giok.
Masih ada dua jurus serangan mematikan akan dia hadapi. Dua jurus yang telah dihadapinya tadi sudah begitu mengejutkan, lalu betapa hebat dan dahsyat kedua jurus yang akan dihadapinya nanti?" Mau tidak mau Po-giok merasa was-was, kuatir.
Apalagi Po-giok merasakan sendiri tenaganya sudah banyak terkuras, apakah dirinya mampu melayani kedua jurus serangan mematikan lagi! Po-giok tidak berani membayangkannya.
Pikir punya pikir, tanpa disadari keadaan sekelilingnya ternyata sudah terang benderang, cahaya mutiara yang kemilau membuat keadaan sekelilingnya terlihat cukup jelas oleh Po-giok. Mutiara-mutiara yang memancarkan cahaya itu tersembunyi di antara celah-celah dinding batu di pojok sana, sehingga bayangan tubuh Po-giok samar-samar memanjang rebah di tanah menjorok ke depan.
Mengawasi bayangan tubuh sendiri, mendadak Po-giok melihat di tanah terdapat belas tapak kaki manusia.
Tapak kaki orang yang berbaris memanjang setiap tapak kaki itu melesak ke dalam tanah, datang dari arah gua yang dalam sana, lurus datang dan berhenti di depannya.
Mungkinkah tapak kaki ini peninggalan orang yang barusan menjajal dirinya?
Mungkinkah dia datang dari sentral istana air yang serba misteri ini? Orang sengaja meninggalkan tapak kakinya, bukankah bermaksud memberi petunjuk pada Po-giok untuk menempuh perjalanan ke depan menuruti tapak kakinya?
Setelah berpikir sebentar, Po-giok ambil keputusan, dia beranjak ke depan mengikuti barisan tapak kaki itu.
Langkah Po-giok perlahan, sambil jalan ia berusaha menghimpun semangat dan memulihkan tenaga. Matanya tidak ingin melihat sesuatu meski yang paling menyolok sekali pun, tapi akhirnya pandangannya bentrok dengan sebaris huruf yang aneh.
Huruf-huruf yang diukir di dinding batu, huruf-huruf itu sudah berlumut, mungkin karena sudah lama terukir di sana. Tapi huruf-huruf itu diukir dengan gaya yang mantap dan puitis.
"Jin Hong San Ceng, Sing Sing Siau Lau."
Po-giok terperanjat melihat delapan huruf itu, Jin-hong-san-ceng, Sing-sing-siau-lau. Bukankah itu alamat yang tertera pada sampul surat peninggalan Ciang-Jio-bin?
Surat peninggalan Ciang-Jio-bin itu ditujukan dan harus diserahkan kepada orang yang tinggal di Sing-sing-siau-lau itu.
Bahwa Ciang-Jio-bin meninggalkan suratnya untuk orang yang tinggal di Pondok Bintang Kecil dalam Perkampungan Selendang Merah, ini menandakan bahwa Ciang-Jio-bin ada hubungan tertentu dengan Pek-cui-kiong.
Tidak heran dalam surat peninggalan Ciang-Jio-bin tidak dijelaskan di mana letak Pondok Bintang Kecil itu. Sebab ia tahu tanpa dijelaskan pun Po-giok akan dapat menemukannya di Pek-cui-kiong.
Po-giok meraba sampul surat peninggalan Ciang-Jio-bin yang ia simpan dalam saku bajunya. Ciang-Jio-bin berkorban, mati untuk memenuhi janjinya, mana boleh ia melupakan dan mengabaikan janji dan pengorbanannya?
Namun untuk menunaikan janji, melaksanakan tugas itu, hampir saja Po-giok harus mempertaruhkan jiwa raga sendiri.
Jalan yang menembus ke arah Pondok Bintang Kecil berada di sebelah kiri.
"Kalian memang sekawanan binatang liar yang bodoh, memangnya kalian tidak melihat sikap nenek itu amat takut dan segan terhadap nona ini? Kalau nona ini tidak kelaparan dan lemas lunglai, memangnya nenek siluman itu tidak berlutut minta ampun padanya."
Sekilas kawanan perampok itu adu pandang pula, lalu pecah gelak tawa mereka.
"Betul," seru mereka berkeplok dan berjingkrak, "memang demikian ...Liong-lo-toa memang lebih pintar dari kita."
"Kalian sudah tahu akalku amat bagus, kenapa tidak lekas serahkan kuah hangat itu."
perlahan Cui-Thian-ki minum kuah yang diangsurkan ke depan mulutnya, selain menghabiskan satu bakpao dan sekerat daging, matanya juga sudah terbuka lebar, hanya beberapa kejap kemudian, bola matanya kembali bercahaya, bening lagi jeli.
Kini Cui-Thian-ki sudah dapat duduk, tawanya masih manis, "Terima kasih, kalian ...!"
Mendengar Cui-Thian-ki tertawa, kawanan perompak itu sama terpesona dan melongo, tertegun seperti orang pikun mimpi pun mereka tidak pernah membayangkan ada gadis ayu dan menggiurkan seperti Cui-Thian-ki.
Melihat keadaan orang-orang itu, senyum Cui-Thian-ki tambah manis, lirikan matanya juga lebih tajam, katanya lirih, "Sebetulnya aku sudah menerima kematian, tapi kalian menolong aku malah, juga menolongnya, aku ...aku tidak tahu cara bagaimana harus berterima kasih pada kalian."
perlahan ia berdiri dengan gemulai ia maju dan satu per satu mencipuk pipi orang-orang itu.
Memangnya kawanan perampok itu sudah linglung, setelah dicipuk mereka menjadi kaku mirip tonggak kayu. Umpama ada orang membacok mereka dengan golok juga tidak akan dirasakan sakit.
Tok-gan-liong juga gelagapan, "Nona, kau ...."
Tadi betapa girang dan gagah laki-iaki ini di hadapan anak buahnya, namun menghadapi Cui-Thian-ki, dia berubah mirip anak kecil, bicara juga gelagapan.
"Jangan kuatir." ucap Cui-Thian-ki tertawa, "serahkan urusan ini padaku, tanggung beres."
"Tapi nenek siluman itu ...."
"Kali ini dia tidak akan bisa lari."
Melihat senyum manis Cui-Thian-ki, suaranya yang lembut, akhirnya timbul keberanian Tok-gan-liong, "Tapi ...orang seperti nona, apa dapat membunuh orang? Apakah nona pernah membunuh orang?"
Tadi dia amat yakin dan penuh kepercayaan namun setelah melihat keadaan Cui-Thian ki, bicara lembut, gerak gerik sendiri.
"Satu pun aku tidak pernah membunuh," ujar Cui-Thian-ki tertawa.
"Wah, kalau begitu ...." Tok-gan-liong menghela napas.
"Aku tidak membunuh satu orang," demikian tukas Cui-Thian-ki, "aku hanya membunuh lima ribu lebih."
Tok-gan-liong tercengang, matanya terbeliak, demikian pula anak buahnya, semua berdiri linglung.
Sambil menggeliat dan meluruskan kaki tangan nya, perlahan Cui-Thian-ki malah merebahkan diri.
Angin laut meniup buyar rambutnya, meniup pakaiannya yang sudah tidak keruan, pahanya yang jenjang mulus terpampang di depan orang banyak.
Selama beberapa hari ini, keadaannya tidak terurus, badannya kotor, demikian pula pahanya berlepotan hangus, jadi tidak seputih dan semulus biasanya, namun potongan tubuhnya dengan lekuk-lekuknya yang nyata, laki-laki mana yang tidak terangsang melihatnya.
Cui-Thian-ki tidak peduli. Dia berbaring seenaknya, seolah-olah orang-orang itu tidak dianggap manusia.
Sudah tentu orang-orang itu sama serba salah, biji leher mereka turun naik dan menelan air liur, banyak yang melengos ke arah lain, namun tidak jarang mereka menoleh dan melirik.
Akhirnya Tok-gan-liong tidak sabar lagi, "No ...nona, tidak sekarang engkau bertindak?"
"Sebelum tenagaku pulih, kalau sampai berkelahi bagaimana?" demikian jawab Cui-Thian-ki ia kuatir kalau Ban-lo-hu-jin nekat dan melabraknya, urusan bisa runyam.
"O, ya ...." Tok-gan-liong menunduk. Tapi beberapa kejap kemudian ia tak tahan lagi, "Laki-laki yang berada di atas kapal dengan nona itu...."
"Dia bernama Oh-Put-jiu, dia ..." Cui-Thian-ki tertawa lebar, "Bagaimana tentang dia?"
Tawa yang genit dan malu-malu secara tidak langsung menjelaskan tentang hubungannya dengan Oh-Put-jiu.
"Baik, bagus sekali, hanya saja ...mungkin ...agak lemah sedikit."
"Dia lemah? ...Ah, kalau bukan lantaran kelaparan belasan hari, terhadap orang-orang seperti kalian, seorang diri pun dia mampu melawan empat atau lima puluh orang."
"O, ya ....ya, tapi sekarang, keadaannya justru amat berbahaya."
"Berbahaya?" tanya Cui-Thian-ki, "kalau benar dia menghadapi bahaya, memangnya aku enak-enak tidur di sini? Kalau benar dia mengalami bahaya, jangankan aku sudah bisa berdiri dan berjalan merangkak pun akan kususul ke sana."
"Tapi ...tapi nenek siluman itu ...""
"Jangan kuatir, nenek siluman itu takkan membunuhnya, umpama ditempeleng dan diludahi mukanya, nenek itu juga tidak akan marah, tidak berani mengusiknya."
"Oo, kenapa demikian?" tanya Tok-gan liong bingung.
"Karena nenek siluman itu ingin memperoleh sesuatu dari dia."
Terbelalak heran Tok-gan-liong, "Maksudmu nenek itu memohon sesuatu padanya?"
"Ehm, kamu tidak percaya?"
"Padahal nona tidak melihat mereka dari mana tahu?"
"Tanpa melihat mereka pun aku dapat menebaknya, dia ..."
Belum habis Cui-Thian-ki bicara, mendadak berkumandang lengking jeritan yang menyayat hati.
Jeritan itu ternyata suara Ban-lo-hu-jin.
"Hah, nenek siluman itu ...wah ...apa yang terjadi."
Kejut-kejut girang Cui-Thian-ki dibuatnya, "Lekas papah aku berdiri."
Bergegas Tok-gan-liong memapah Cui-Thian-ki, waktu jari tangannya menyentuh kulit badannya, mendadak ia gemetar dan merinding, hampir saja napasnya menjadi sesak.
"Papah aku ke sana." pinta Cui-Thian-ki.
Tok-gan-liong menarik napas, "Ya, tapi ... tapi ....."
"Tapi apa lagi, lekas!"
"Untuk berjalan saja nona tidak bertenaga, mana bisa ..."
"Siapa bilang aku tidak bertenaga, untuk jalan, aku hanya ingin menghemat tenaga, tenaga yang sudah pulih sebagian ini akan kugunakan untuk menghadapi nenek itu, tahu tidak?"
"O, ya ...ya," Tok-gan-liong menghela napas panjang.
Dengan kekuatannya, menjinjing tubuh orang seberat Cui-Thian-ki, sepuluh orang juga dapat diangkatnya bersama. Tapi entah kenapa, tubuh Cui-Thian-ki yang halus, selembut sutera, harum lagi hangat, begitu menggelendot di badannya, seketika ia merasa berat sekali boleh dikatakan tenaga untuk menarik napas pun terasa berat, malah hampir tidak kuat menggerakkan kaki.
Untung Tok-gan-liong masih mampu membawa Cui-thian-ki ke depan pintu kabin.
Keadaan dalam kabin sudah tenang dan sepi, namun daun pintu masih tertutup rapat.
"Terjang pintu itu," Cui-Thian-ki memberi aba-aba.
Kepandaian untuk berkelahi kawanan perampok itu memang terlalu rendah, tapi tenaga untuk menjebol pintu cukup berlebihan, tiga orang beradu pundak lalu menerjang serempak, "blang" daun pintu pecah dan jebol berhamburan.
Tampak tangan kiri Ban-lo-hu-jin mendekap muka sebelah kanan, mukanya berlepotan darah. Sementara Oh-Put-jiu duduk lemas di atas kursi mulutnya juga berlepotan darah.
Jari-jari tangan kanan Ban-lo-hu-jin sedang mencekik leher Oh-Put-jiu, begitu daun pintu jebol diterjang dari luar, segera dia lepas tangan sambil mundur tiga langkah. "Siapa ..."
Belum habis bicara, ia lihat Cui-Thian-ki berdiri diambang pintu. Kini sikapnya mirip dicekik lehernya, bibirnya bergetar, sepatah kata pun tak mampu bicara.
Begitu daun pintu jebol, Cui-Thian-ki lantas berdiri sendiri, berdiri tegak dan pasang aksi lagi.
Wajahnya dihias senyum cerah yang menggiurkan, wajah nan jelita tampak bersemu merah dan bercahaya, siapa pun takkan percaya bahwa barusan nona ini masih empas-empis dan lemas kelaparan.
Dengan mengulum senyum ia menyapa, "Hai, Ban-lo-hu-jin, baik-baik saja engkau ?"
Ban-lo-hu-jin berdiri kaku seperti kayu, tapi kulit daging wajahnya kelihatan kedutan, walau mulut terpentang lebar, tapi suaranya serak dan tenggelam dalam tenggorokan.
Setelah menelan ludah beberapa kali, akhirnya ia tergagap, "kau ...bagaimana bisa ...."
"Mengherankan bukan? Sebetulnya aku sendiri agak heran, tapi sekarang aku sudah tahu, lapar memang penyakit yang menakutkan, namun penyakit ini pun cepat sembuh."
Sambil tersenyum ia melangkah maju, sebaliknya setapak demi setapak Ban-lo-hu-jin menyurut mundur.
Ketika Cui-Thian-ki tiba di samping Oh-Put-jiu, Ban-lo-hu-jin sudah mundur mepet dinding.
"Ban-lo-hu-jin, apa yang kau takuti?" ucap Cui-Thian-ki lembut, "paling banter aku hanya membunuhmu sekali, atau mengiris dan menyayat kulit dagingmu saja, bila aku malas dan cari gampangnya, mungkin kamu aku dorong ke dalam laut untuk umpan ikan, lalu apa yang harus kau takuti?"
"Nona ...nona Cui, aku ...aku tidak ...tidak bersalah terhadap kalian, coba periksa, telingaku sudah protol digigit Oh-siau-hiap."
Sembari bicara ia turunkan tangannya, telinga kanannya memang tidak kelihatan, pipinya berlepotan darah.
Cui-Thian-ki cekikikan "Lho, apa yang terjadi? ...O, ya, aku tahu sekarang. Mungkin Oh-siau-hiap bicara terlalu lirih, maka kamu mendekatkan kupingmu ke depan mulutnya, siapa tahu tahu Oh-Put-jiu kelaparan, saking tak tahan telingamu digigit dan ditelannya, ai ... seleranya ternyata cukup besar."
Kawanan perompak itu geli dan ingin tertawa di samping kaget mereka pun heran, "Siapa menduga laki-laki yang sekarat karena kelaparan itu masih dapat menipu dan menggigit telinga nenek keparat itu."
Ban-lo-hu-jin memang tertipu oleh Oh-Put-jiu dengan muka cemberut ia berkata, "Ucapan nona Cui memang benar, seperti menyaksikaa sendiri saja."
"Terima kasih atas pujianmu," ucap Cui-Thian-ki tertawa, "Tapi soal apa yang dibicarakan Oh-Put-jiu terhadapmu? Ban-lo-hu-jin ternyata begitu besar hasratnya untuk mendengarkan bisikannya?"
"Dia ...ini ...."
"Ah, tahulah aku sekarang. Yang akan dia bisikan tentu rahasia kungfu warisan Ci-ih-hou, betul tidak?"
Ban-lo-hu-jin menunduk lesu, "Persoalan apa pun agaknya tidak bisa mengelabui dirimu."
"Setelah mendengar rahasia kungfu peninggalan Ci-ih-hou tentu kungfumu memperoleh kemajuan pesat, mungkin ... aku bukan tandinganmu lagi."
"Ah, mana ... mana bisa begitu cepat?"
"Ya, untung tidak secepat itu, kalau tidak memangnya aku bisa hidup sampai sekarang?"
"Ya ...bukan ...ya!"
Kalau aku ingin bertahan hidup, maka jangan kau pertahankan diri."
"Nona Cui...." pekik Ban-lo-hu-jin setengah meratap, "kumohon ampun padamu."
Makin lembut suara Cui-Thian-ki, "Kalau aku turun tangan, mungkin kamu bisa mati dengan cara yang paling enak, sebaliknya ...aih."
Ban-lo-hu-jin menjatuhkan diri dan menyembah, ratapnya, "Ampun nona Cui, pandanglah muka anakku, ampunilah jiwaku."
"Putramu? Siapa putramu? Ada sangkut paut apa dia dengan aku?"
"Nona Cui, bila engkau mengampuniku, akan aku beberkan sebuah rahasia, rahasia besar dan penting."
Berputar bola mata Cui-Thian-ki, "Nah, sekarang tutuk dulu hiat-to Jian-kin dan Khi-hiat, pada urat nadi kedua sendi tulang kanan kiri lututmu mungkin akan kuberi kelonggaran untuk mendengar omonganmu.
"Ya, ya, Ban-lo-hu-jin mengiakan sambil angkat tangan, dengan keras ia menutuk keempat hiat-to yang ditusuk Cui-Thian-ki, tutukannya memang keras tanpa kenal kasihan, Maklum, di hadapan Cui-Thian-ki tak berani ia main licik, sedikit pura-pura tentu diketahui olehnya.
"Aneh bin heran," ujar Cui-Thian-ki dengan tertawa geli, "kenapa kamu tidak berani melabrakku? Padahal tenagaku belum pulih, kalau kamu melabrakku, jelas aku bukan tandinganmu."
Tubuh Ban-Lo-hu-jin berjingkat seperti dicambuk seketika ia melengong di tempatnya, wajahnya merah padam, lalu berubah pucat dan hijau, desisnya perlahan, "Aku ... kau ..."
"Sering aku dengar kaum persilatan mengatakan Ban-lo-hu-jin rela berlutut dan menyembah daripada bertempur kalau tidak yakin bisa menang, maka sampai sekarang dia masih bertahan hidup. Tapi kalau ini kamu tertipu olehku."
Pucat seperti kapur wajah Ban-lo-hu-jin, "Aku sudah kalah ...sudah kalah, nona Cui memang lihai, aku nenek tua mengaku kalah lahir batin kalah dengan patuh dan tunduk."
"Baiklah, sekarang boleh kau bicara tentang rahasia itu."
Walau belum bergebrak secara nyata, namun ia sudah menang satu babak, betapa sengit tegang dan mendebarkan adu urat yang dilakukan barusan, jauh lebih seru dibanding bertempur secara kasar.
Walau Cui-Thian-ki masih tersenyum, namun keringat bertetes-tetes di jidatnya. Padahal keadaannya belum pulih, tenaga untuk berkelahi jelas tidak mungkin dikerahkan, tenaga yang dimiliki hanya cukup untuk berdiri saja, bila berdiri kurang tegak atau terhuyung dan menggeliat, tentu Ban-lo-hu-jin akan menyergapnya dengan serangan kilat.
Cui-Thian-ki maklum dirinya ibarat berdiri di pinggir jurang kematian.
Ban-lo-hu-jin mengawasinya dengan mendelong sesaat kemudian baru berkata, "Baiklah, akan aku ceritakan, rahasia itu mengenai hubungan Cui-nio-nio dengan Pui-Po-giok ... "
******
Air danau itu dingin tapi bening.
Dengan gaya Jian-kin-tui Pui-Po-giok memberatkan tubuhnya sehingga dia terus melorot turun ke dasar air.
Dia berpendapat danau yang satu ini pasti berbeda dengan danau kebanyakan yang ada di dunia ini, dia yakin dan percaya, bahwa analisanya tentu tidak salah.
Kali ini Po-giok mempertaruhkan jiwa raganya untuk membuktikan keyakinannya.
Analisanya memang tidak keliru.
Danau ini memang besar dan luas, tapi airnya tidak dalam, lebih tepat dikatakan dangkal, dan kedangkalan air danau ini sangat di luar dugaannya. Begitu terjun ke dalam air, tidak lama kemudian kakinya sudah menyentuh dasar danau.
Sudah tentu tekanan air juga terasa tidak begitu besar, sambil menahan napas Po-giok bergerak maju ke depan.
Ketika dia membuka lebar matanya, air sangat jernih dan bening.
Pemandangan dalam air segera menarik perhatiannya, sesaat ia berdiri tertegun.
Begitu membuka mata, pandangan pertama yang dilihat Pui-Po-giok bukan lain adalah ....seorang perempuan.
Seperti ikan duyung saja gadis ini sedang berenang dalam air, berenang di hadapannya, potongan tubuhnya yang indah, boleh dikata hampir telanjang bulat.
Rambutnya yang hitam panjang mirip rumput laut yang berkembang, sepasang bola matanya gemerdep mirip mutiara.
Sambil mengulum senyum gadis ini mendekatinya, lalu berenang ke dalam pelukan Po-giok, dadanya yang kenyal dan padat, pahanya yang jenjang dan mulus meliuk gemulai mirip belut melingkar di tubuh Po-giok.
Po-giok berdiri diam tak bergerak, juga tidak menyingkir.
Gadis jelita di dasar danau ini mengangkat sebelah tangan Po-giok serta mengangguk kepadanya. Maksudnya mari ikut padaku.
Tanpa sangsi sedikit pun Po-giok bergerak mengikuti orang.
Tak lama kemudian ia lihat sebuah pintu gerbang yang besar, mirip pintu gerbang istana naga laut, batu-batu laut dengan bentuknya yang beraneka ragam dengan warnanya yang berbeda-beda berkilauan begitu indah dan mempesona.
Semua benda yang ada di sini, dapat membuat pandangan orang kabur membuat orang yang melihatnya silau. Apalagi di antara sekian banyak batu-batu gunung dengan pemandangan yang indah itu, terdapat seorang gadis jelita yang bertubuh hampir telanjang berada di sampingnya.
Kalau tidak menyaksikan sendiri, mana Po-giok mau percaya bahwa pengalamannya adalah kenyataan?
Gadis telanjang itu menariknya masuk ke sebuah lubang yang terletak di celah-celah himpitan batu karang.
Air dalam lorong gua ini terasa lebih dingin lebih bening tapi tenang.
Maju lagi ke depan, Po-giok melihat beberapa huruf yang dirangkai dengan butir-butir mutiara yang gemerlapan, huruf itu berbunyi "Pintu Istana Air".
Begitu Po-giok melihat dan memperhatikan huruf-huruf itu, gadis telanjang itu segera menariknya ke atas.
Dengan cepat kepalanya sudah menonjol keluar permukaan air. Sesaat ia terpesona pula oleh pemandangan semarak dan megah, lalu didengarnya pula suara merdu disertai suara tawa nyaring, "Apakah Pui-siau-hiap sudah datang? Sudah lama Nio-nio menunggu kedatangannya."
Sekilas Po-giok celingukan, ia dapatkan dirinya berada dalam sebuah empang yang tidak begitu besar empang ini terbuat dari batu kemala dengan segala macam ukirannya yang indah.
Air empang ini mengalir keluar ke danau yang ada di bagian luar, permukaan air empang sejajar dengan permukaan air danau, maka empang buatan ini merupakan satu-satunya pintu keluar masuk istana air yang tembus ke danau di luar itu.
Betapa aneh bentuk bangunannya, betapa pintar orang memanfaatkan denahnya, apalagi betapa indah, molek dan aneh bentuk dan keadaan istana bawah air ini, sungguh membuat orang kagum pesona dan tidak habis heran.
Empang itu ternyata terletak di tengah gua besar, berbagai bentuk stalakmit dengan corak dan aneka warnanya yang aneh-aneh, jarang terlihat di dunia ramai, pemandangan di sini berbentuk suatu gambaran yang membuat orang tenggelam dalam dunia khayal.
Entah dari mana datangnya penerangan dalam gua besar ini, jelas bukan dari cahaya matahari, tapi pemandangan setiap pelosok gua besar ini dapat terlihat jelas.
Di tepi empang berdiri seorang gadis semampai dengan rambutnya yang panjang terurai, perawakan yang tinggi dengan tubuh yang ramping, hanya rambut panjang itu yang menutup dadanya, keelokannya cukup membuat laki-laki terangsang berahinya.
Meski berdiri polos di depan laki-laki, sikap gadis ini sedikit pun tidak kikuk, tidak merasa malu atau jengah, ia berdiri wajar tenang dengan mengulum senyum manis.
Berdiri lurus seperti sengaja memamerkan keelokan tubuhnya yang ramping padat kepada Pui-Po-giok, sedikit pun tidak merasa malu, malah sikapnya itu kelihatan bangga dan angkuh.
Perawakan dan potongannya yang elok memang patut dibuat bangga, namun Po-giok tidak kuat menahan gejolak hati, meski sudah keluar dari air, namun matanya tidak berani melihat ke atas.
Didengarnya gadis itu cekikikan, "Apakah tubuhku jelek?"
Po-giok melengong, "Ah, tidak ..." sahutnya dengan menyengir.
"Kalau tubuhku tidak jelek, kenapa Pui-siau-hiap tidak berani mengawasiku?"
Po-giok tertegun, "Wah, ini ..."
"Apa karena aku tidak berpakaian, maka Pui-siau-hiap tidak berani melihatku?"
Tanpa menunggu jawaban Po-giok, dengan tertawa geli ia menyambung, "Tapi apakah Pui-siau-hiap tahu, kenapa manusia harus berpakaian?"
Po-giok melengak, "Karena ...manusia memang harus berpakaian."
"Tapi apa sebabnya harus berpakaian?"
"Karena ...untuk menahan dingin."
"Di sini tidak dingin."
"Kalau begitu, karena manusia tahu malu."
"Kenapa harus malu? Setiap orang dilahirkan suci bersih, keluar dari rahim ibunya dalam keadaan polos, kenapa setelah besar tidak boleh diperlihatkan pada orang? ...Itu karena manusia sebetulnya berdosa, hanya orang yang berdosa merasa malu, betul tidak?"
Po-giok batuk-batuk.
"Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa orang berpakaian hanya untuk menutupi dosa benar tidak?"
Po-giok batuk-batuk lagi, "Tolong nona, membawaku menemui Kiong-cu saja."
"Tidak, aku ingin tanya padamu, betul tidak omonganku tadi?"
Po-giok menyengir getir, "Kedengarannya memang demikian."
"Kalau benar, aku persilakan Pui-siau-hiap menanggalkan pakaian."
Po-giok adalah pemuda yang tidak tahu artinya takut, namun perkataan gadis belia ini benar-benar membuatnya kaget, tanpa sadar ia mundur dua langkah dan "byuurr", kembali ia jatuh ke dalam air.
Bila Po-giok dapat berdiri lagi dan angkat kepalanya, entah sejak kapan, di pinggir empang sudah berjajar belasan pasang kaki orang, setiap paha yang jenjang mulus lagi putih itu semua tampak sehat, segar dan kuat.
Sudah tentu Po-giok tidak berani angkat kepala.
Didengarnya gadis tadi cekikikan, "Apakah badan Pui-siau-hiap ada sesuatu yang memalukan bila dilihat orang? Kalau tidak kenapa hanya mencopot pakaian saja tampaknya ketakutan?"
Para gadis itu tertawa bingar, paduan tawa yang merdu dan mengasyikan.
Sebelum masuk ke istana air, Po-giok sudah mempersiapkan diri, mempertebal mental dan kepercayaan, sudah berpikir matang dan meneguhkan iman, bahaya apa pun yang akan dihadapinya, dia yakin punya cara dan keberanian untuk menghadapi dan mengatasinya.
Tapi pengalaman yang dihadapi sekarang, sungguh mimpi pun tidak pernah terbayang sebelumnya, bukan mara bahaya yang dihadapi, tapi malahan belasan gadis cantik jelita yang semuanya telanjang bulat.
Keberanian, akal sehat dan kungfunya tidak berguna untuk menghadapi masalah di depan mata ini.
Pada saat Po-giok tertegun, didengarnya suara "byaar-byuur", di tengah gelak tawa gadis-gadis itu terjun ke dalam air, sambil menghamburkan air dengan telapak tangan mereka dari berbagai arah, gadis-gadis ini merubung ke arah Po-giok.
Saking gugup Po-giok membentak, "Berani kalian mendekat segera aku kembali ke arah datangku tadi."
Gertakan Po-giok ini hanya spontan saja karena kehabisan akal ia tahu belum tentu gertakannya akan berhasil. Setiap orang dalam keadaan kepepet dan gugup sering kali mengucapkan gertakan seperti yang dilakukan Po-giok, dan lawannya jarang yang berhasil digertak mundur.
Di luar dugaan, gertakan yang biasa tidak manjur, kali ini justru amat berguna. Walau gadis-gadis itu tidak tergertak mundur, tapi mereka tidak berani mendesak maju lagi.
Berputar biji mata Po-giok dengan tertawa ia berkata, "Aku tahu bukan hanya aku ingin lekas bertemu dengan Kiong-cu kalian, Kiong-cu kalian juga berhasrat bertemu denganku. Kalau aku kembali ke arah datang tadi kalian tentu akan memikul akibatnya, betul tidak?"
Sembari bicara Po-giok mundur beberapa langkah lalu berenang ke tengah.
Ternyata gadis-gadis itu sama memberi jalan dengan cemas mengawasinya naik ke atas, setelah membetulkan pakaian lalu maju ke sana.
Baru beberapa langkah Po-giok berjalan, gadis berambut panjang itu mendadak membentak, "Berhenti! Masih ada yang harus kutanya padamu."
Walau tidak menoleh, tapi Po-giok berhenti, "Tanya soal apa?"
"Apa kau tahu di mana Kiong-cu sekarang?"
"Setelah berada di Cui-kiong (istana air), memangnya aku kuatir tidak dapat bertemu dengan Kiong-cu kalian?"
"Istana air besar lagi luas, jalannya berliku dan menyesatkan, di mana-mana dipasang alat perangkap yang mematikan. Entah berapa banyak orang yang orang yang sudah masuk ke istana air dan tidak dapat bertemu dengan Cui-Nio-nio, kebanyakan terkurung dalam alat perangkap yang mematikan, masih banyak lagi yang ...hm, untuk bertemu dengan Cui-Nio-nio, memangnya semudah yang kau bayangkan?"
"Ya, engkau memang agak berbeda dengan orang-orang itu, tapi belum tentu ..."
"Biar belum tentu, aku akan mencobanya. Mendadak gadis itu cekikikan, "Asal kau mau membuka pakaian, aku akan membawamu langsung ke hadapan Cui-Nio-nio, kalau tidak ..hm bukan saja engkau akan mengalami banyak penderitaan, mungkin selama hidup takkan bisa menemukannya."
"Tidak jadi soal," ucap Po-giok tertawa, tanpa menoleh ia meneruskan ke depan.
Gadis itu menggigit bibir, mengentak "kau ...jangan menyesal!"
"Sebetulnya tidak jadi soal mencopot pakaian tapi melihat sikapmu yang gugup, dengan berbagai cara sengaja memancingku untuk menanggalkan pakaian, aku menjadi curiga, dalam persoalan ini tentu ada udang di balik batu, oleh karena itu ...." sampai di sini ia tertawa lebar, "Oleh karena itu, lebih baik aku menyesal daripada mencopot pakaian,"
Gadis-sadis itu mengawasinya dengan melongo, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak dapat bersuara, juga tidak bisa tertawa lagi ....
Setelah beberapa jauh Po-giok berjalan ke dalam, Po-giok membuktikan keajaiban alam yang aneh megah dan semarak, bentuk dan besarnya memang mirip istana, pemandangan yang menakjubkan sukar dibayangkan kalau tidak menyaksikan sendiri.
Ribuan stalakmit menghiasi langit-langit gua, satu dengan lain tidak ada yang sama bentuknya, satu dengan yang lain berbeda warnanya, tidak pernah ada pemandangan segaib ini di dunia ramai.
Lebih mempesona lagi karena stalakmit itu dihiasi lagi mutiara-mutiara yang gemerlapan, ditata dan dihias sedemikian rupa, ada yang berbentuk huruf, ada pula yang tercipta menjadi lukisan.
Po-giok tidak peduli dan tidak memperhatikan tulisan dan gambar yang dibentuk dari butir-butir mutiara itu.
Bukan tidak ingin melihat, tapi tidak berani melihat, karena ia kuatir sekali melihat tulisan atau lukisan itu, pendiriannya bisa goyah, imannya bisa runtuh, pikiran kacau dan ruwet.
Kakinya beranjak di tengah pancaran tujuh macam sinar kemilau, seolah-olah tubuhnya juga berhias tata warna yang indah, hingga Po-giok sendiri merasakan dirinya seolah-olah bukan berada dalam gua besar, lebih tepat berada dalam istana dewa yang terletak di dasar air.
Setelah satu lingkar ia bergerak, didapati oleh Po-giok, istana besar ini ternyata tidak berpintu.
Waktu ia menoleh, bayangan gadis-gadis telanjang itu sudah tidak kelihatan. Dalam gua yang besar itu cuma dia dan stalakmit-stalakmit itu seperti menyambut kedatangannya, seperti juga menggoda dan mengedip mata padanya.
Tanpa terasa Po-giok menarik suara lalu membentak, "Pek-cui Kiong-cu, di mana engkau ? Pui-Po-giok mohon bertemu!"
Gema suaranya memantul balik dari dinding gua, suaranya mirip gemuruh ombak samudra laksana guntur menggelegar, begitu kerasnya sehingga telinga Po-giok sendiri terasa pekak. Kecuali pantulan gema suara sendiri. Po-giok tidak mendengar suara orang lain.
Dalam gua besar ini tentu ada pintu rahasia yang tersembunyi, tapi di mana letak rahasianya? Cahaya yang kemilau dengan paduan warna yang menyolok, menyilaukan mata dan memusingkan kepala, tidak mudah orang menemukan tombol atau kunci rahasianya?
Po-giok menenangkan pikiran, menahan gejolak hati perlahan ia berjalan lagi satu lingkar.
Kali ini po-giok memeriksa lebih teliti, setiap jengkal dinding dan lantai diperiksa dengan seksama. Jerih payah Po-giok ternyata tidak sia-sia di antara sekian banyak stalakmit yang beraneka ragam coraknya itu, dia menemukan satu di antaranya berbeda dengan keadaan yang lain, bukan saja lebih mengkilap dan halus, bentuknya juga lebih aneh lebih menyolok.
Tanpa sangsi Po-giok menghampiri dan memeriksa dari dekat, kalau stalakmit yang ada dalam gua besar itu berlumut dan berdebu, stalakmit yang satu ini justru mengkilap dan bening seperti kaca, itu pertanda bahwa stalakmit yang satu ini sering dipegang oleh manusia.
perlahan Po-giok ulur tangan memegang ujung-stalakmit ini, ternyata bisa bergerak dan bisa diputar, setelah po-giok memutar dua kali, maka terdengarlah suara gemuruh, dinding gua pun bergerak dan muncul sebuah lubang, dari balik lubang sana terdengar suara orang tertawa.
"Pui-Po-giok, kamu memang luar biasa, pandai juga kau temukan pintu rahasia ini, tapi apa kau berani masuk kemari? Ketahuilah, bila sudah masuk pintu ini, tiada harapan bisa keluar lagi dengan hidup."
Semula suara itu dekat di balik pintu, namun lama kelamaan makin jauh dan lirih, kalau tidak puluhan tombak, mungkin ada ratusan tombak jauhnya jelas di balik sana merupakan lubang yang dalam sekali.
Tapi dengan tersenyum Po-giok melangkah tegap.
Baru saja Po-giok melangkah masuk, celah-celah dinding itu segera menutup kembali. Pancaran cahaya warna-warni, pemandangan semarak yang menyilaukan itu semuanya lenyap, kini Po-giok berada di tempat yang gelap gulita, lima jari sendiri saja tidak kelihatan.
Perubahan ini sedemikian, drastis, Po-giok merasakan dirinya seperti jatuh ke neraka dari surga.
Tapi dirinya sudah telanjur masuk ke sini maju ka depan adalah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh, tidak mungkin mundur lagi.
Sambil meraba-raba dinding di kanan-kirinya Po-giok menggeremet maju, makin ke depan terasa olehnya dinding gunung yang semula basah, lembab dan dingin semakin kering dan panas, puluhan langkah kemudian dinding yang di jamah tangan Po-giok panasnya seperti besi dibakar.
Sebagai manusia biasa sudah tentu Po-giok tidak berani memegang dinding panas itu. Tapi Po-giok keras kepala, dia nekat maju lagi beberapa langkah "Co", waktu Po-giok berdiri agak mepet dinding, pakaiannya yang basah terbakar hangus waktu menyentuh dinding.
Umpama Po-giok memiliki kepandaian setinggi langit juga tidak berani beranjak maju lagi.
Hawa dalam gua itu mulai panas, sebetulnya Po-giok kuat bertahan dan melawan, ia yakin dengan kekuatan lwe-kang dan ketenangannya, biarpun dirinya berpakaian tebal juga tidak akan berkeringat dan kegerahan.
Tapi lama kelamaan hawa dalam gua ini memang panas sekali, sepanas dalam tungku, Po-giok seperti di panggang, namun keringat yang bercucuran juga cepat menguap, beberapa kejap lagi Po-giok merasakan tubuhnya seperti mau hangus.
Entah mengapa gua ini seperti berubah menjadi tungku raksasa. Dalam keadaan seperti yang dialami Po-giok, manusia mana pun takkan tahan lebih lama.
Kepala Po-giok mulai pusing, pandangan juga berkunang-kunang.
Sekonyong-konyong didengarnya seorang berkata dengan tawa cekikik. "Hawa sepanas ini? Kenapa tidak lekas copot pakaianmu?"
Dalam kegelapan yang pekat itu, entah dari mana datangnya suara itu.
Po-giok mengertak gigi, bertahan dan bungkam.
Suara itu berkumandang lagi, "Tempat ini begini gelap, umpama kau copot pakaianmu juga tidak ada orang melihat keadaanmu, lalu apa lagi yang membuatmu malu? ...Eh, kenapa belum juga buka pakaian?"
"Kenapa kau paksa aku copot pakaian?" teriak Po-giok.
Diam sesaat, akhirnya suara itu berkata dengan tertawa, "Karena kamu tidak mau mencopot pakaian, maka aku paksa supaya kau copot pakaian."
"Tahukah kenapa aku tidak mau buka pakaian?" tanya Po-giok kalem.
"Ya, ingin aku dengar alasanmu, kenapa kamu keras kepala."
"Seorang laki-laki, apalagi laki-laki muda normal dan berdarah panas, kalau dia harus telanjang di tengah kerumunan gadis-gadis cantik, yang juga telanjang, meski ia punya ketenangan dan iman yang teguh juga akhirnya akan tekuk lutut di depan kawanan cewek itu, peduli harga diri atau keyakinan segala, dalam sekejap itu tentu tak terpikir lagi olehnya. Dalam keadaan seperti itu, apa pula yang bisa ia lakukan selain memuaskan rangsangan nafsu. Kuyakin kau pun tahu akibat dari semua itu, betul tidak?"
Keadaan tetap gelap pekat tiada suara sahutan.
"Oleh karena itu." kata Po-giok lebih lanjut, "dengan siasat inilah kalian memerangi jiwa dan iman manusia, entah betapa banyak laki-laki yang jatuh dalam perangkap kalian. Tapi mereka bukan aku, Pui-Po-giok adalah ...."
Belum habis ia bicara, tertawa bingar berkumandang di tengah kegelapan, "Bagus, Pui-Po-giok, anggaplah kamu memang pintar ...."
Tawa bingar semerdu kelintingan itu makin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.
Mendadak Po-giok menanggalkan pakaiannya malah, dengan baju luarnya ia membalut tangannya, dengan tangan yang terbalut ini ia meraba-raba dinding terus merambat ke arah datangnya suara, di sana pula suara itu akhirnya lenyap.
Walau telapak tangannya sudah dibalut tebal, tapi masih terasa oleh Po-giok betapa panas tangannya.
Sambil mengertak gigi Po-giok terus maju ke depan, dengan tekadnya yang besar, ia berhasil mengatasi penderitaan, memusatkan semangat dan mengkonsentrasikan pikiran, selangkah demi selangkah menggeremet maju.
Sudah tentu perjalanan kali ini ditempuh dengan cara yang jauh lebih sukar, lebih menyiksa. Kecuali Pui-Po-giok, mungkin tidak ada orang yang kuat melangkah belasan tindak. Tapi Po-giok sudah melangkah ratusan tindak, seribu langkah dan terus maju ke depan, Badannya hampir kering, mirip daging yang dipanggang. Keadaannya sudah hampir lumpuh dan hangus terbakar.
Pada detik-detik yang menentukan ini, tawa bingar yang merdu tadi berkumandang lagi, "Bagus sekali, kamu mampu menempuh perjalanan sejauh ini, memang tidak malu Pui-Po-giok diagulkan sebagai ksatria sejati tapi ...Pui-Po-giok, tahukah di mana sekarang kamu berada?"
"Aku sudah berada di depanmu!" tegas suara Po-giok, tapi serak dan kering.
Suara itu masih tertawa, "Baiklah, boleh kau lihat...."
Di tengah suara tawa merdu orang, setitik sinar melayang jatuh di tanah, namun hanya sekejap lantas padam.
Nyala api yang sekejap itu cukup bagi Po-giok untuk melihat keadaan sekitarnya. Jelas terlihat oleh Po-giok dirinya kini berada di tempat semula, di mana pertama kali dirinya masuk dari celah-celah dinding tadi. Sebelum celah dinding tertutup tadi, sempat ia perhatikan keadaan sekelilingnya.
Dengan ketahanan yang luar biasa Po-giok menempuh perjalanan, betapa susah dan menderita, ternyata perjalanan yang sia-sia, akhirnya putar kayun dan kembali ke tempat semula. Luluh semangat dan tenaga Po-giok, hampir saja ia ambruk dan pingsan.
Suara itu berkumandang pula, "Sejak mula sudah aku peringatkan, lorong gua di sini amat ruwet dan menyesatkan, banyak perangkap dan perubahannya. Nah, apakah kamu masih anggap dirimu pintar? Lekaslah copot pakaianmu."
"Tidak!" desis Po-giok geram.
Berubah lembut dan prihatin suara itu, "Begitu kau copot pakaian, segera kau dapat bertemu dengan Nio-nio, kamu dapat berendam di air yang hangat dan segar, berapa lama ingin berendam dalam air boleh terserah padamu, berapa poci kau ingin minum teh atau arak boleh sesuka hatimu. Kenapa masih kukuh pendapat, keras kepala bukan cara yang paling baik, kalau masih juga bandel, bila kamu mampus kekeringan, siapa akan memujimu."
"Jangan kuatir, penderitaan begini belum akan membuatku mampus."
Diam sesaat lamanya, suara itu akhirnya tertawa dingin, "Baiklah, berapa lama kamu akan bertahan lagi."
Tokoh besar mana pun setelah mengalami siksa derita seberat itu, pasti roboh dan tak kuat bangkit lagi. Tapi Po-giok hanya memejamkan mata "menggeremet maju ke depan, sembilan di antara sepuluh orang pasti menggunakan tangan kiri, karena tangan kanan harus selalu siaga bila di tengah kegelapan dirinya disergap atau diserang secara mendadak.
Demikian pula yang dilakukan oleh Pui-Po-giok.
Tadi dia menggeremet maju dengan tangan kiri meraba dinding sebelah kiri, kenyataan dia kembali ke tempat semula.
Kini ia menanggalkan pakaiannya yang sudah hangus untuk membalut tangan kiri tadi, menyobeknya beberapa potong lalu menyambungnya lebih panjang untuk membalut tangan kanan.
Kini ia menggeremet maju lagi ke depan dengan meraba dinding sebelah kanan.
Jalan yang ditempuhnya kali ini sudah tentu lebih sukar, lebih menyiksa, seluruh tenaga dan semangat seperti menguap oleh suhu panas yang luar biasa.
Kedua kakinya seperti mendadak berubah berat ribuan kati, pandangan matanya mulai berkunang-kunang, kesadarannya juga mulai pudar ....Air, air jernih lagi dingin!
Saking tak tahan ingin rasanya dia memekik dan berteriak, menerima segala syarat yang mereka ajukan, cukup dengan imbalan air untuk dia minum, air yang dingin lagi segar.
Tapi Po-giok hanya mendengus, mengertak gigi dan meneruskan ke depan Mendadak tubuhnya menjadi lemas dan kehilangan keseimbangan, lalu robohlah dia.
Di tengah pingsannya, seolah-olah Po-giok kembali pada masa kecilnya dulu. Di pekarangan belakang, di bawah rumput bunga yang rimbun, dia tengah duduk tegak belajar membaca.
Cuaca amat panas, gerah sekali hingga sesak bernapas, pakaian luar ia tanggalkan, dalam hati ia mengharap turun hujan, dan hujan ternyata benar turun, air hujan bertetesan dari dahan pohon.
Tetesan air hujan nan dingin menyejukkan, sungguh nyaman dan segar. Mendadak seorang berteriak-teriak di pekarangan depan, "Po-giok ... Po-giok ... "
Siapa itu? Ah, kiranya paman berkepala besar? Begitu Po-giok membuka mata, mimpi pun sirna. Kenyataan adalah kejam, namun mukanya masih basah oleh air. Apa benar air hujan?
Terdengar seorang menghela napas di atas, "Pui-Po-giok, akhirnya kau sadar"
Waktu Po-giok- angkat kepala, tampak olehnya di ujung dinding gua yang gelap dan keras itu, di tengah himpitan dua dinding terjal, entah sejak kapan terbuka sebuah lubang.
Gadis berambut panjang itu tengah melongok di atas lubang dengan tawa genit ia berkata, "Pui-Po-giok, kini kamu sudah sadar bukan bahwa kamu ini manusia biasa, bukan robot, datang juga saatnya ambruk dan tak mampu berjalan lagi. Nah sekarang, kau mau menyerah?"
Po-giok merintih, "Air ...air ..."
Gadis ayu itu mengangkat tangan, tangannya memegang sebuah cangkir emas suaranya lembut menarik, "Dalam cangkir ini berisi air embun kembang mawar, tadi aku meneteskan tiga tetes di mukamu, hanya tiga tetes, kau sadar dari pingsan sudah kau rasakannya. Nah asal mau menyerah, air lembut bunga mawar ini boleh kau minum sampai habis."
"Air embun? ... Bunga mawar ... " Po-giok bergumam. Seolah-olah mengigau dalam pingsannya, tampak betapa lemah kondisinya, keadaannya yang payah sudah tidak bisa dilukiskan lagi.
Gadis ayu itu cekikikan, "Tetesan air yang dingin segar, biar kau rasakan sekali lagi ... "
Dia angkat cangkir emas itu lalu dimiringkan sedikit hingga airnya menetes satu tetes, tepat menetes di wajah Po-giok.
Mendadak Po-giok memekik sambil meronta "Tidak ... tidak mau menyerah ..."
Gadis itu geleng kepala katanya setelah menghela napas gegetun, "Dasar bandel seperti kerbau. Baiklah, kau sendiri ingin menderita, jangan salahkan aku."
Air dalam cangkir emas di tangannya itu mendadak ia buang ke dinding gua.
"Cess," begitu air menyentuh dinding gua, asap pun mengepul, air itu seketika kering dan menguap menjadi asap tipis.
Wajah gadis jelita itu pun lenyap di tengah mengepulnya asap, suasana kembali menjadi gelap dan hening.
Mendadak Po-giok melompat bangun. Bukan karena beberapa tetes air bunga mawar tadi yang memulihkan kekuatannya, yang benar tadi Po-giok hanya pura-pura semaput, pura-pura payah dan ambruk tak sadarkan diri.
Sekali lompat dengan enteng ia mencapai puncak dinding, sekilas pandang ketika lubang tadi masih terbuka, dapatlah Po-giok meneliti keadaan sekitarnya, maka dengan cepat ia merayap ke atas.
Jari jari tangannya terbungkus kain, kakinya juga terbungkus sepatu, tapi kaki tangannya panas terbakar, bila tidak kuat bertahan, tubuhnya akan terjungkal dan segala usahanya akan gagal total.
Dinding karang yang puluhan tombak tingginya itu, bagi keadaan Po-giok sekarang rasanya menjadi ratusan tombak, namun ia kertak gigi, mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya.
Syukur akhirnya dia berhasil mencapai puncak dinding.
Waktu ia angkat tangan, hatinya seperti bergantung di udara. Demikian pula jiwanya seperti terapung di awang-awang.
Kalau batu gunung di sebelah atas dapat bergerak, itu berarti segala penderitaannya ini akan memperoleh imbalan setimpal, kalau tidak ...kalau tidak bagaimana? Po-giok tidak berani membayangkan.
Terima kasih pada bumi dan langit! Batu yang menutup lubang di sebelah atas ternyata dapat bergerak.
Rasa girang Po-giok seperti mendapat rejeki nomplok, perlahan ia mendorongnya ke samping lalu melompat keluar dan menggelinding ke samping.
Batu gunung di luar lubang ternyata dingin segar, sedingin air danau.
Mendekam di tanah Pui-Po-giok terengah-engah, sekelilingnya sepi lengang. Segala penderitaan mara-bahaya seolah-olah sudah berlalu.
Telapak tangannya menempel batu gunung yang dingin, demikian pula pipinya juga melekat di batu gunung, setebal napas teratur dan tenaga pulih, perlahan baru ia angkat kepala dan memandang ke depan.
Mendadak ia lihat sepasang kaki. Sepasang kaki orang laki-laki.
Sepasang kaki ini berada di depan matanya.
Kaki orang laki-laki ini mengenakan sepatu yang indah dan mewah, sepatu mahal yang dibuat dari sutera dengan sulaman benang emas, mahalnya sepatu sekaligus menandakan kedudukan pemakainya yang agung. Tapi bila sepasang kaki ini sedikit saja diangkat, menendang dengan ringan .....Maka Pui-Po-giok akan menggelinding jatuh ke dalam lubang pula.
Begitu melihat kaki di depan matanya, napas Po-giok seperti berhenti darah juga seperti beku. Bila sepasang kaki ini menendang, jelas dia tidak mampu melawan atau menyingkir.
Tapi sepasang kaki ini tetap berdiri diam, tidak menendang juga tidak bergerak.
Po-giok merapatkan badan ke tanah, tidak berani bergeming, mengangkat kepala menengok muka orang pun tidak berani, padahal besar hasratnya ingin mengetahui siapa orang yang berdiri di depannya ini.
Dia hanya tahu orang ini berpakaian. Orang pertama yang ia lihat berpakaian sejak dirinya berada dalam istana air ini, juga orang laki-laki yang ia lihat pertama kali di sini. Bukankah asal-usul dan kedudukan orang ini membuatnya tertarik heran.
Didengarnya suatu suara rendah berat berkata perlahan. "Ternyata kau mampu datang ke tempat ini, jerih payahmu sungguh harus dipuji. Tapi perlu kau tahu, tempat ini sudah dekat dengan pusat istana, perjalanan yang masih harus kau lalui justru lebih sukar, lebih berat, kau harus lebih waspada menghadapi ujian ini."
Po-giok melengak keheranan, karena dari nada bicara orang ini, bukan saja tidak mengandung maksud jahat malah prihatin dan penuh kasih sayang, seperti nasihat seorang tua terhadap anak atau muridnya.
Kenapa hal ini terjadi? Siapa pula orang ini?
Ingin Po-giok bertanya, tapi suaranya tidak keluar, bukan tidak berani bertanya, ia maklum umpama dirinya bertanya juga takkan memperoleh jawaban, orang ini tidak akan memberi penjelasan.
Lebih lanjut orang itu berkata pula, "Usiamu masih muda tapi tekadmu yang besar dan teguh sungguh harus dihargai. Asal imanmu tetap teguh tekadmu tetap besar penderitaanmu tidak akan sia-sia."
Bukan saja merupakan nasihat juga merupakan anjuran, memberi dorongan.
Makin tebal rasa kaget dan curiga Po-giok, namun mulutnya hanya bisa mengucap, "Terima kasih."
Setelah diam sejenak suara itu berkata pula, "Sekarang kamu masih mampu berdiri?
"Bisa," sahut Po-giok pendek.
"Kalau bisa berdiri, kenapa masih rebah di tanah?"
Po-giok mengiakan. Kini ia yakin orang tidak bermaksud jahat terhadapnya, segera ia membalik tubuh terus melompat berdiri. Tertampak orang sudah berputar membelakangi dirinya serta berjalan lambat ke sana.
Langkah orang lambat tapi mantap kian berat kedua tangannya seperti bersidekap di dada.
Saking tak tahan Po-giok bertanya, "Kenapa tuan tidak memberi kesempatan agar aku lihat wajahmu?"
"Tidak perlu kau lihat wajahku, lebih penting kau lihat pedangku."
Di saat mengucap "ku", kata yang terakhir, pundaknya mendadak bergerak sedikit.
Gerakan yang sedikit ini tidak mungkin diikuti oleh pandangan mata, siapa pun takkan mengambil perhatian gerakan pundak seseorang. Tapi begitu melihat pundak orang bergerak Po-giok justru berjingkat kaget.
"Cu-coan-kian-kun-sat-jiu-kiam!"
Begitu pundak bergerak, sinar pedang pun meluncur seperti seutas rantai perak. Itulah serangan mematikan yang pernah dilancarkan Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin dari Lam-hai-pai Cu-coan-kian-kun-sat-jiu-kiam.
Serangan kali ini jauh lebih cepat dibanding serangan Ciang-Jio-bin dulu, sasarannya lebih telak dan ganas, posisinya juga lebih kuat dan mantap dibanding serangan yang dilakukan Ciang-Jio-bin dulu.
Kalau dahulu Po-giok belum pernah mengalami serangan jurus pedang yang mematikan ini, bila sebelumnya tidak waspada waktu melihat pundak orang bergerak, umpama jiwanya tidak melayang di bawah tusukan pedang orang, selanjutnya jangan harap dapat meneruskan usahanya untuk bertemu dengan Cui-Nio-nio.
Baru saja sinar pedang menyambar keluar dari bawah ketiak orang ini, tubuh Po-giok sudah melompat mundur. Po-giok sudah menggunakan setaker tenaganya, juga sudah dia perhitungkan, tusukan pedang ini paling banter hanya bisa mencapai pakaiannya, dan pasti takkan mampu melukai tubuhnya. Di luar tahunya pedang itu mendadak berhenti beberapa kaki di depan dadanya.
Walau serangan pedang ini lebih cepat dari tusukan pedang Ciang-Jio-bin, lebih ganas, lebih telak, tapi tusukan orang ini ternyata tidak sungguh-sungguh dilancarkan, jelas orang ini menaruh belas kasihan, ini dirasakan secara langsung oleh Pui-Po-giok.
Setelah menarik napas panjang, Po-giok berkata haru, "Terima kasih!"
Pedang orang itu perlahan melorot turun, suaranya kalem, "Apakah kau pernah melihat jurus serangan ini?"
"Ya," pendek jawaban Po-giok.
Berubah dingin suara orang itu, "Kalau belum pernah melihat jurus pedang ini, saat ini mungkin kamu sudah terluka oleh tusukan pedangku. Dengan jurus pedang yang ganas aku hendak merengut nyawamu, kenapa kamu berbalik berterima kasih padaku?"
"Bahwa pedangmu tadi menaruh belas kasihan, memangnya Po-giok tidak merasakan?"
"Umpama benar menaruh belas kasihan, tapi tusukanku tadi bisa menamatkan jiwamu."
Po-giok tertawa malah, "Tapi kenyataan sekarang aku masih hidup, masih segar bugar."
Diam sejenak akhirnya orang itu berkata, "Betul sekarang kamu masih hidup, sudah dua kali kau saksikan jurus serangan pedang ini, ternyata kamu masih segar bugar, maka ilmu pedang yang bisa melukaimu mungkin tidak banyak lagi di dunia ini."
"Tidak banyak?" Po-giok melengong, "kukira juga tidak sedikit?"
Mendadak orang itu menghentikan gelak tawanya, "Em, memang tidak sedikit, paling sedikit masih ada tiga macam."
"Kenapa tidak memberi kesempatan padaku untuk belajar kenal?"
"Buat apa terburu-buru?"
Mendadak pedang dibuang ke belakang, tanpa terasa Po-giok ulur tangan menangkapnya. Begitu sinar pedang berkelebat, waktu Po-giok memandang ke depan, bayangan orang itu pun sudah lenyap.
Di depan masih merupakan lorong gua yang gelap panjang ini rasanya berada di perut gunung, kalau ada hanya cahaya lampu tidak pernah ada sinar matahari.
Tidak pernah terpikir oleh Po-giok meski dalam mimpi, bahwa ada orang di dunia ini dapat membangun istana dalam perut gunung dengan sebesar, seluas dan semegah itu. Istana yang penuh misteri dan gaib.
Setelah berdiri mematung sekian saat, po-giok bergumam sendiri, "Apa kedudukan orang ini dalam Pek-cui-kiong? Tutur katanya begitu prihatin dan menaruh belas kasihan terhadapku, namun kenapa dia melancarkan serangan mematikan padaku? Kalau serangan mematikan itu dilancarkan, kenapa pula dia menaruh belas kasihan? Kalau rela memberi pengampunan dan menaruh belas kasihan, kenapa harus menyiapkan tiga macam serangan mematikan, kenapa pedang ini diberikan padaku? ...."
Pedang di tangannya itu lencir panjang tajam, lagi sempit tipis, begitu sempurna bentuk pedang ini, dari ujung sampai ke gagangnya, seperti diciptakan oleh seorang ahli.
Begitu menggenggam gagang pedang panjang ini, timbul perasaan hangat, nyaman dan penuh keyakinan dalam benak Po-giok rasa lapar dan dahaga sudah terlupakan sama sekali, badan tidak merasa letih lagi.
Cukup lama Po-giok berdiri diam di tempatnya, memusatkan pikiran dan semangat sehingga lama kelamaan, antara jiwa dan hawa pedang di tangannya jadi manunggal. Segala kerisauan sudah terbenam dalam relung hatinya, demikian pula siksa derita yang dialami selama ini sudah terbuang dari ujung pedang.
Setelah jiwa raga manunggal dengan pedang baru Po-giok berani maju ke depan.
Segala keajaiban pemandangan dalam gua itu sudah tidak menarik perhatiannya.
Dalam pandangannya kini hanya ada ujung pedang. Dalam hatinya hanya ada pedang.
Mendadak alam sekitarnya berubah sepi dan tengang seperti kuburan yang gelap.
Tapi langkah Po-giok tidak pernah berhenti, mantap lagi tegap, tangannya juga tidak perlu meraba-raba. Karena mata hatinya sudah terpanoar di ujung pedangnya dan menimbulkan perasaan yang peka pada dirinya.
Kini pedang di tangannya dapat menggantikan mata.
Keheningan yang mencekam, kegelapan yang menegangkan.
Sekonyong-konyong dalam kegelapan itu terasa berkembangnya hawa membunuh.
Tiba-tiba Po-giok merinding, bulu romanya berdiri.
Padahal dirinya berada di tempat gelap dan hening, rasanya tiada sesuatu perubahan, tapi hawa membunuh ini melanda datang seperti ombak pasang yang menerpa secara bergelombang.
Hawa membunuh itu tidak berbentuk dan tiada wujudnya, tapi secara nyata dan benar Po-giok merasakan adanya tekanan mendadak dari hawa membunuh di tempat gelap itu. Lama kelamaan hawa membunuh itu membuatnya sesak napas.
perlahan pedang terangkat, langkahnya juga menjadi lamban, lalu hampir berhenti.
Di tengah kegelapan, benar-benar berkelebat sinar pedang yang kemilau, tapi hanya sekali berkelebat lalu berhenti.
Kelima jari sendiri tidak terlihat, sudah tentu siapa pemegang pedang itu juga tidak terlihat oleh Po-giok, dia hanya melihat sebatang pedang, seperti ditenung saja pedang itu berhenti dan terapung di udara, terapung lurus ke depan menghadang jalannya.
Pedang ini tidak menakutkan, yang menakutkan adalah hawa membunuh dari pedang itu. Sudah jelas dan tidak perlu dipermasalahkan lagi, bahwa pedang yang satu ini akan memainkan satu jurus ilmu pedang yang hebat lagi dahsyat, sejurus ilmu pedang yang dapat mengejutkan langit dan menggetar bumi.
Jurus pedang yang satu ini sudah tentu merupakan salah satu dari tiga jurus yang akan melukai Pui-Po-giok.
Pedang di tangan Po-giok juga terhenti di udara. Gelap gulita, tiada sesuatu benda yang terlihat kecuali pedang yang gemerdep tiada suara dengus napas juga amat perlahan, yang ada hanya dua pedang yang berhadapan, dua pedang yang siap berduel.
Dua pedang yang sama-sama memiliki hawa membunuh.
Belum pernah Po-giok menghadapi hawa membunuh setebal pedang yang satu ini. Tapi terasa olehnya adanya sesuatu yang ganjil karena orang yang memegang pedang di depannya ini, tubuhnya ternyata terlepas di luar lingkup hawa membunuh dari pedang yang dipegangnya.
Kejadian ini sungguh luar biasa dan belum pernah ada dalam dunia persilatan. Orang yang memegang pedang ternyata terbagi menjadi dua bentuk yang berbeda dengan hawa membunuh dari pedang itu, kenyataan yang ganjil dan keadaan yang luar biasa ini sebetulnya tidak mungkin terjadi.
Hanya ada satu kemungkinan, dalam keadaan tertentu keadaan luar biasa ini bisa terjadi. Yaitu meski tebal hawa membunuh dari pedang itu namun pemegang pedang itu pada dasarnya tidak ada hasrat melukai atau membunuh musuh yang akan dilawannya.
Oleh karena itu, meski ganas dan keras hawa membunuh dari pedang itu, tapi pemegang pedangnya merupakan unsur pelaksana yang lemah, dan hawa manusia yang lemah ini jelas tidak mungkin manunggal dengan hawa membunuh itu, dan sekaligus menjadikan hawa membunuh yang ganas dan berkobar itu menjadi tawar dan akan sirna kalau bertahan cukup lama.
Dengan tajam Po-giok mengawasi pedang itu mendadak ia teringat akan golok milik Thi-kim-to itu.
Hawa membunuh pedang ini kira-kira setanding dan golok Thi-kim-to tempo hari. Tapi hawa membunuh pedang ini jelas tidak seganas dan sepanas hawa membunuh golok Thi-kim-to waktu berhadapan dengan dirinya.
Ini dapat disimpulkan bahwa hawa membunuh dari pedang di depannya ini mengandung makna "kebaikan", hawa membunuh pedang ini mengandung cinta kasih.
Kenapa pula hal ini bisa terjadi?
Hening lelap, seorang-olah tiada kehidupan dalam mayapada ini. Tapi di tengah keheningan itu seolah-olah Po-giok mendengar sebuah irama yang fiktif, sejenis alunan musik yang mengasyikan.
Mendadak pedang itu bergerak msnggaris sebuah lingkaran.
Gerak lingkar yang membundar itu juga kelihatan indah dan gaib, bergerak mengikuti alunan musik yang gaib pula, hingga menimbulkan gerak tarian yang paling indah dari segala tarian yang pernah ada dalam ilmu pedang.
Po-giok terbeliak kaget. Gerak pedang yang melingkar bundar ini, bukankah mirip gerak golok yang pernah dilancarkan Pek-ih-jin itu.
Begitu pedang bergerak melingkar, cahayanya berubah menjadi tabir kemilau, laksana kilat menyerang ke arah Pui-Po-giok.
Deru angin pedang yang melingkar itu, laksana pekik binatang buas.
Di tengah kegelapan hanya tampak sinar pedang berkelebat sekali pedang di tangan Po-giok dan pedang itu saling berpindah tempat dengan posisi yang berbeda. Tapi, dua orang yang saling gebrak ini tidak ada yang roboh.
Kalau keadaan tadi hening lelap, sepi dan lengang. Kini di tengah gelap mulai terdengar dengus napas yang agak berat.
Waktu sekejap itu meski pendek, namun dalam sekejap itu mereka sudah melewati garis pemisah antara mati dan hidup. Kejadian itu merupakan suatu kejutan luar biasa yang sukar dibayangkan, siapa pun di dunia ini setelah mengalami kejutan yang luar biasa dan menegangkan ini, dengus napas siapa yang tidak akan memburu?
Kedua orang berdiri tegak tak bergerak.
Entah berapa lama kemudian mendadak berkumandang suara serak seorang tua, "Jurus ini pernah kau saksikan?"
Pertanyaannya mengandung nada kaget dan heran, tapi bukan kaget atau heran karena Po-giok berhasil menyelamatkan diri dari serangan pedangnya, tapi kaget dan heran karena Po-giok pernah menyaksikan jurus pedang yang baru saja dia lancarkan.
"Ya," Po-giok menjawab pendek.
"Siapa yang melancarkan jurus serangan pedang ini padamu?" tanya suara itu.
"Thi-kim-to." sahut Po-giok lantang.
"Thi-kim-to?" teriak suara itu nadanya kaget "Dia ..."
"Jurus itu dilancarkan Thi-kim-to, namun tidak berarti dia," demikian tukas Po-giok.
"Kenapa tidak berarti dia?"
"Karena Thi-Kim-to hanya pelaksana, dia mendapat perintah orang lain."
"Pek-ih-jin maksudmu?"
"Benar ..."
Suara itu diam sebentar, lalu berkata kalem "Apakah jurus yang dilancarkan Thi-kim-to persis dengan yang aku lancarkan barusan?"
"Sembilan puluh persen sama tapi perbedaan yang sepuluh persen justru amat besar."
"Coba jelaskan?"
"Titik paling tebal dari hawa membunuh jurus serangan yang dilancarkan Thi-kim-to juga adalah titik kelemahannya. Suhu badannya merembes lewat titik kelemahannya, maka aku menyerempet bahaya menyerang titik kelemahannya itu ternyata berhasil."
Lebih lama suara itu diam setelah menghela napas, akhirnya memuji, "Bagus!"
"Berbeda dengan caramu turun tangan, sebelumnya tidak menghimpun tenaga, hati juga tidak tegang, oleh karena itu suhu badanmu normal, dari sini dapat disimpulkan, meski pedangmu mengandung hawa membunuh, tapi hatimu sedikit pun tiada nafsu membunuh ....hawa membunuh pada pedangmu berkembang karena jurus ilmu pedang itu sendiri."
"O, demikian?" pendek suara itu.
"Karena tuan tidak bernafsu membunuh, maka waktu melancarkan jurus serangan itu, hati dan pedang tidak manunggal, dengan sendirinya hasrat membunuh yang tertuang dalam hawa membunuh yang tuan lancarkan itu tidak sederas seganas hawa membunuh yang dilancarkan Thi-kim-to."
"Oo, kenapa demikian?" tanya suara itu.
"Sekali jurus pedang itu dilancarkan, harus dicuci dengan darah, maka aku dipaksa untuk merengut jiwanya. Maklum dalam keadaan segenting itu, tiada waktu untuk memilih atau mempertimbangkannya. Sebaliknya jurus pedang yang tuan lancarkan tadi, pada hakikatnya aku dipaksa untuk membela diri dan tak mampu melancarkan serangan mematikan."
"Betul," puji suara itu dengan menghela napas, "kalau pedang itu tiada maksud melukai musuh, maka jurus pedang itu takkan mungkin membangkitkan hawa membunuh. Dan itulah pengertian paling sempurna dari ajaran ilmu pedang tingkat tinggi."
"Tapi ... tuan tidak bermaksud melukai aku, kenapa melancarkan jurus ganas dan mematikan untuk menghadapiku? Bukankah kejadian ini amat bertentangan? sungguh aku tidak habis mengerti."
"Tidak mengerti ya sudah, lebih baik tidak mengerti," ucap suara itu.
"Masih ada pertanyaanku. Jurus itu adalah ciptaan Pek-ih-jin yang tidak diturunkan kepada siapa pun, di kolong langit ini tiada orang tahu intisari dan rahasia jurus pedang itu. Lalu dari mana tuan mempelajarinya? Hal ini pun membuatku bingung."
"Tidak lama lagi kamu akan tahu," suara itu berbicara kalem.
"Tidak lama lagi?" Po-giok menegas.
"Ya: tidak lama lagi ...." Hanya empat kata diucapkan, namun pada kata terakhir, suaranya sudah jauh dan lirih, sedikitnya ada belasan tombak jauhnya.
Kini tinggal dua jurus lagi ilmu pedang yang ada di dunia ini dapat mengalahkan atau melukai Po-giok.
Berbagai persoalan justru bertumpuk dan menyelimuti sanubari Po-giok.
Dalam waktu beberapa kejap tadi, sudah dua kali ia menghadapi serangan mematikan. Tapi orang yang dua kali melancarkan serangan mematikan terhadapnya itu tidak bermusuhan, tidak menaruh dendam, tidak bermaksud jahat terhadapnya.
Inilah persoalan pertama yang mengherankan.
Kedua, kedua jurus serangan mematikan itu sebelum ini pernah dia alami, pernah menghadapi serangan yang ganas itu. Tapi sukar Po-giok menemukan jawabannya, apa hubungan atau sangkut paut kedua orang yang dahulu menyerang dia dengan kedua orang yang hari ini menyerangnya ini.
Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin masih mungkin punya hubungan dengan Pek-cui-kiong, adalah logis kalau jurus ilmu pedang warisan Lam-hai-pai yang dirahasiakan itu juga dipelajari orang-orang Pek-cui-kiong.
Tapi dari mana orang-orang Pek-cui-kiong memperoleh dan mampu melancarkan jurus khas ciptaan Pek-ih-jin dari Tang-ing? Jika Pek-cui-kiong jelas tiada sangkut paut dengan Pek-ih-jin, umpama air sumur dengan air laut, berbeda satu dengan yang lain, mana mungkin ada hubungan?
Makin dipikir, makin bingung, makin dipikir makin sukar dipecahkan. Pusing kepala Po-giok.
Masih ada dua jurus serangan mematikan akan dia hadapi. Dua jurus yang telah dihadapinya tadi sudah begitu mengejutkan, lalu betapa hebat dan dahsyat kedua jurus yang akan dihadapinya nanti?" Mau tidak mau Po-giok merasa was-was, kuatir.
Apalagi Po-giok merasakan sendiri tenaganya sudah banyak terkuras, apakah dirinya mampu melayani kedua jurus serangan mematikan lagi! Po-giok tidak berani membayangkannya.
Pikir punya pikir, tanpa disadari keadaan sekelilingnya ternyata sudah terang benderang, cahaya mutiara yang kemilau membuat keadaan sekelilingnya terlihat cukup jelas oleh Po-giok. Mutiara-mutiara yang memancarkan cahaya itu tersembunyi di antara celah-celah dinding batu di pojok sana, sehingga bayangan tubuh Po-giok samar-samar memanjang rebah di tanah menjorok ke depan.
Mengawasi bayangan tubuh sendiri, mendadak Po-giok melihat di tanah terdapat belas tapak kaki manusia.
Tapak kaki orang yang berbaris memanjang setiap tapak kaki itu melesak ke dalam tanah, datang dari arah gua yang dalam sana, lurus datang dan berhenti di depannya.
Mungkinkah tapak kaki ini peninggalan orang yang barusan menjajal dirinya?
Mungkinkah dia datang dari sentral istana air yang serba misteri ini? Orang sengaja meninggalkan tapak kakinya, bukankah bermaksud memberi petunjuk pada Po-giok untuk menempuh perjalanan ke depan menuruti tapak kakinya?
Setelah berpikir sebentar, Po-giok ambil keputusan, dia beranjak ke depan mengikuti barisan tapak kaki itu.
Langkah Po-giok perlahan, sambil jalan ia berusaha menghimpun semangat dan memulihkan tenaga. Matanya tidak ingin melihat sesuatu meski yang paling menyolok sekali pun, tapi akhirnya pandangannya bentrok dengan sebaris huruf yang aneh.
Huruf-huruf yang diukir di dinding batu, huruf-huruf itu sudah berlumut, mungkin karena sudah lama terukir di sana. Tapi huruf-huruf itu diukir dengan gaya yang mantap dan puitis.
"Jin Hong San Ceng, Sing Sing Siau Lau."
Po-giok terperanjat melihat delapan huruf itu, Jin-hong-san-ceng, Sing-sing-siau-lau. Bukankah itu alamat yang tertera pada sampul surat peninggalan Ciang-Jio-bin?
Surat peninggalan Ciang-Jio-bin itu ditujukan dan harus diserahkan kepada orang yang tinggal di Sing-sing-siau-lau itu.
Bahwa Ciang-Jio-bin meninggalkan suratnya untuk orang yang tinggal di Pondok Bintang Kecil dalam Perkampungan Selendang Merah, ini menandakan bahwa Ciang-Jio-bin ada hubungan tertentu dengan Pek-cui-kiong.
Tidak heran dalam surat peninggalan Ciang-Jio-bin tidak dijelaskan di mana letak Pondok Bintang Kecil itu. Sebab ia tahu tanpa dijelaskan pun Po-giok akan dapat menemukannya di Pek-cui-kiong.
Po-giok meraba sampul surat peninggalan Ciang-Jio-bin yang ia simpan dalam saku bajunya. Ciang-Jio-bin berkorban, mati untuk memenuhi janjinya, mana boleh ia melupakan dan mengabaikan janji dan pengorbanannya?
Namun untuk menunaikan janji, melaksanakan tugas itu, hampir saja Po-giok harus mempertaruhkan jiwa raga sendiri.
Jalan yang menembus ke arah Pondok Bintang Kecil berada di sebelah kiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)