<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4537347065284875195</id><updated>2011-10-24T21:31:18.706+07:00</updated><category term='Pendekar Baja'/><category term='Misteri Kapal Layar Pancawarna'/><category term='Pendekar Budiman'/><category term='Pena Wasiat'/><title type='text'>Cerita Silat Blog</title><subtitle type='html'>Kumpulan Cerita Silat Chin Yung, Gu Long, Khu Lung, Kho Ping Ho, SH Mintardja, Gan KL, Cerita Silat Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Taviv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09431956148586873513</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q0YVGe00Snk/SX_O-ytuR-I/AAAAAAAAANA/cAjoAQf6lAU/S220/My+Son.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>103</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4537347065284875195.post-362991683530176607</id><published>2009-02-02T18:06:00.001+07:00</published><updated>2009-02-02T18:13:12.494+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendekar Budiman'/><title type='text'>Pendekar Budiman 9</title><content type='html'>Karya : Gu Long&lt;br /&gt;Disadur Oleh : Gan KL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi Taysu tampak gelisah. "Sekarang bukan waktunya sok gagah, tenagamu belum pulih, engkau pasti bukan tandingan Ngo-tok-tongcu, apabila dia datang, tentu kau ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak terdengar kuda penarik kereta meringkik kaget, si kusir juga menjerit, kereta terus menerjang ke samping dan "blang", menumbuk pohon di tepi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi Taysu juga terbentur dinding kereta, serunya dengan parau, "Mengapa tidak lekas pergi? Apakah hendak kau tolong diriku?"&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa hambar, "Jika kau dapat menolongku, mengapa tidak dapat kutolong dirimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun ... namun aku toh pasti akan mati, cepat atau lambat tetap mati," ujar Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi sekarang engkau kan belum mati?" kata Sun-hoan sambil melolos sebilah pisau dari baju Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebilah pisau kecil yang enteng dan tipis, itulah pisau terbang si Li.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersembul senyuman pada ujung mulut Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta telah ambruk, roda kereta masih terus berputar pada sumbunya dan mengeluarkan serentetan suara keriang-keriut yang tidak enak didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sumbu kereta seharusnya diberi minyak ...." gumam Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan dan di tempat begini dia bicara tentang sumbu kereta yang perlu diberi minyak segala, Sim-bi Taysu merasa orang ini sungguh sangat aneh dan sukar dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan lantas memayang Sim-bi keluar kereta, angin dingin mengusap wajah mereka, rasanya seperti disayat pisau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mestinya tidak perlu kau lakukan hal ini, lekas ... lekas kau pergi saja," ujar Sim-bi dengan terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sun-hoan lantas duduk bersandar kabin kereta yang miring itu, udara gelap, tanpa bulan tiada bintang, bumi raya ini sunyi senyap, hanya suara keresek daun kering yang tertiup angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedapatnya Sim-bi memandang sekelilingnya, namun tidak tampak bayangan seorang pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didengarnya Sun-hoan berseru lantang, "Kek-lok-tongcu, apakah engkau sudah datang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin mendesir-desir, namun tidak terdengar suara manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika engkau tidak datang, biarlah aku pergi saja," ucap Sun-hoan pula. Segera ia menarik bangun Sim-bi Taysu dengan setengah memayang dan setengah menyeret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hendak … hendak ke mana kau?" tanya Sim-bi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ke mana lagi? Dengan sendirinya Siau-lim-si," jawab Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siau-lim-si?" Sim-bi menegas dengan melengak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita menempuh perjalanan ini dengan mati-matian, bukankah tujuan kita adalah mencapai Siau-lim-si?" kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ... tapi sekarang engkau tidak perlu lagi ke sana," ujar Sim-bi dengan napas tersengal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, sekarang justru aku harus ke sana," kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab hanya Siau-lim-si saja mungkin ada obat penawar yang dapat menyelamatkan dirimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa ... mengapa engkau menolong diriku? Padahal aku kan musuhmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kutolong kau, sebab apa pun juga engkau tetap seorang manusia," jawab Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Sim-bi kemudian, "Apabila benar dapat mencapai Siau-lim-si, pasti akan kubuktikan bahwa engkau tidak bersalah, sekarang pun sudah dapat kupastikan engkau bukan Bwe-hoa-cat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan hanya tersenyum saja tanpa bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cuma sayang, jika kau bawa diriku, maka selamanya tak dapat mencapai Siau-lim-si, meski sekarang Ngo-tok-tongcu belum muncul, tapi dia pasti tidak tinggal diam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan hanya batuk perlahan tanpa menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi berkata pula, "Dengan Ginkangmu mungkin masih ada harapan bila kau lari sendirian, untuk apa perlu kubikin susah padamu. Cukup ada maksud baikmu, mati pun aku tidak menyesal lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak terdengar seorang tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, "Hehehe, Hwesio Siau-lim-si yang alim ternyata berkawan dengan Li-tamhoa yang ahli foya-foya, sungguh berita terbesar dan menarik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara tertawanya seperti sangat jauh, tapi mendadak lantas mendekat dan entah berkumandang dari jurusan mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Sim-bi lantas mengejang, desisnya, "Ngo-tok-tongcu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehehe, pangsit yang kubuat itu cukup sedap bukan?" suara tadi berkata pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tersenyum, "Jika ada maksudmu hendak merenggut jiwaku, mengapa sejauh ini engkau tidak berani perlihatkan dirimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanpa memperlihatkan diri juga dapat kucabut nyawamu," kata Ngo-tok-tongcu dari tempat tak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo, apa betul?" ucap Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu, sampai malam ini, orang yang mati di tanganku sudah ada 392, satu pun tidak pernah melihat diriku, bahkan bayanganku saja tidak pernah dilihatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, sudah lama kudengar Anda ini seorang kerdil, bermuka buruk seperti setan sehingga malu bertemu dengan orang, tak tersangka berita dalam dunia Kangouw memang tidak salah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara tertawa yang mengambang dan sebentar jauh dan sebentar jauh itu mendadak berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian barulah terdengar suara Ngo-tok-tongcu berkata pula, "Hm, jika kubiarkan kau mati lewat fajar, anggaplah aku berdosa padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi jelas diriku takkan mati biarpun fajar sudah datang, adapun Anda sendiri sukar untuk diramalkan," jawab Sun-hoan dengan gelak tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar bunyi sempritan yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas tanah salju mendadak muncul bayangan hitam yang merayap-rayap dalam jumlah yang sukar dihitung, ada besar, ada kecil, ada yang panjang, ada pendek, dalam kegelapan sukar diketahui benda apa, hanya terendus bau amis yang menusuk hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah, sekali Ngo-tok (lima racun) muncul, manusia pun berubah menjadi tulang .... Sekarang engkau tidak lekas pergi, memangnya mau tunggu kapan lagi?" seru Sim-bi dengan khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Li Sun-hoan seperti tidak tahu apa yang diucapkannya, dengan suara lantang ia berkata, "Konon makhluk berbisa Kek-lok-tong berjumlah ribuan jenisnya, mengapa sekarang hanya beberapa ekor ulat kecil ini saja yang terlihat, apakah makhluk berbisa yang lain sudah mati ludes?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara sempritan tadi semakin keras, bayangan kecil yang merayap-rayap di tanah salju itu sudah mengepung rapat Sim-bi dan Sun-hoan, ada beberapa ekor di antaranya sudah berada di samping kaki mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngeri dan muak Sim-bi sehingga hampir saja tumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah baru terdengar Ngo-tok-tongcu bersuara dengan tertawa terkekeh, "Ular berbisa ini adalah basil persilangan dari tujuh jenis makhluk berbisa pemakan daging dan darah, apabila kulit daging kalian sudah menjadi isi perut mereka, tentu takkan kau anggap jumlah mereka terlalu sedikit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong sinar pisau berkelebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pisau kilat si Li yang tidak pernah meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja Sim-bi Taysu berteriak kaget. Ia tahu pisau yang dipegang Li Sun-hoan merupakan satu-satunya harapan, sekarang Sun-hoan menyambitkan pisaunya begitu saja, padahal bayangan musuh saja belum kelihatan. Dan kalau pisau ini tidak kena sasarannya berarti tubuh mereka akan menjadi isi perut kawanan makhluk berbisa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertaruhan ini sungguh sangat berbahaya, kesempatan untuk menang sangat kecil. Tak pernah terpikir oleh Sim-bi bahwa Li Sun-hoan bisa bertindak gegabah begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada saat itu juga, begitu sinar pisau berkelebat lenyap dalam kegelapan, seketika berjangkit suara jeritan ngeri yang singkat dan menusuk telinga. Menyusul itu seorang lantas berlari keluar dari kegelapan dengan langkah sempoyongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawakan orang ini pendek kecil seperti anak sepuluh tahun, badan telanjang, hanya mengenakan sepotong kain serupa gaun pendek sehingga kelihatan kakinya yang kecil, di bawah hujan salju begini tampaknya dia tidak kedinginan sedikit pun. Kepalanya juga sangat kecil, namun sorot matanya terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pandangan yang penuh rasa kaget, takut, juga benci dan dendam lagi menatap Li Sun-hoan, tampaknya seperti mau bicara apa-apa, tapi hanya keluar suara "krak-krok" dari kerongkongan tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekarang Sim-bi melihat pisau tadi menancap di tenggorokan si kerdil, tepat menancap di tenggorokannya. Pisau kilat si Li memang betul tidak pernah meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena saluran napasnya teralang oleh pisau, Ngo-tok-tongcu tidak tahan, ia cabut pisau itu. Tapi begitu pisau tertarik, terembuslah napasnya disertai muncratnya darah segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, kawanan makhluk berbisa tadi sudah ada yang mulai merayap ke atas kaki Li Sun-hoan. Namun Sun-hoan tidak bergerak sama sekali. Sim-bi Taysu juga tidak berani bergerak sedikit pun. Ia merasa tubuh sendiri mulai lemas dan hampir-hampir tidak sanggup berdiri lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pisau terbang si Li tiada bandingannya di dunia ini, agaknya nasib mereka tetap tak terhindar menjadi isi perut kawanan binatang melata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terduga setelah pisau tercabut dari tenggorokannya, segera Ngo-tok-tongcu meraung murka dengan darah berhamburan, serentak kawanan makhluk berbisa itu merayap ke sana dengan cepat, semuanya merambat dan menggigit leher Ngo-tok-tongcu yang memancurkan darah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara "srat-sret" yang ramai, dalam sekejap saja si kerdil sudah berubah menjadi seonggok tulang. Tapi setelah kawanan ular itu kenyang mengganyang darah daging Ngo-tok-tongcu, perut menjadi kembung, lalu menggeletak tak bergerak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngo-tok-tongcu terkenal sebagai ahli racun, akhirnya dia mati akibat racun sendiri. Pemandangan ngeri ini sungguh membuat orang tidak tega melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi Taysu memejamkan mata dan diam-diam membaca doa. Selang agak lama barulah ia menghela napas dan membuka mata, katanya dengan gegetun, "Li-sicu, bukan cuma pisaumu tidak ada tandingannya di dunia, ketenanganmu juga tiada bandingannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, jawabnya, "Terima kasih. Aku cuma sudah memperhitungkan bilamana makhluk berbisa ini mencium bau anyir darah tentu segera akan pergi. Padahal dalam hati aku pun sangat takut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa Li-sicu juga merasa takut!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kecuali orang mati, di dunia ini tidak ada manusia yang tidak kenal takut!" ujar Sun-hoan dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menghadapi bahaya tidak menjadi bingung, meski takut tapi tidak panik, ketenangan Li sicu sungguh kukagumi dengan lahir batin ...." makin lemah suara Sim-bi Taysu dan akhirnya ia pun roboh terkulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu fajar sudah menyingsing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li Sun-hoan berduduk di samping Sim-bi Taysu, yang belum sadar, agaknya tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kubur tulang belulang Ngo-tok-tongcu bersama kawanan makhluk berbisa itu, lalu meneruskan perjalanan dengan membawa Sim-bi Taysu, tidak jauh ia rampai di suatu kota kecil dan menyewa sebuah kereta keledai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keras sekali guncangan kereta itu, namun Sun-hoan dapat tidur dengan nyenyak. Maklumlah, dia benar-benar kehabisan tenaga, sangat letih. Setelah minum dua mangkuk minuman kacang hijau, tidak ada urusan lain di dunia ini yang dapat lagi mencegahnya tidak tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah selang berapa lama lagi, mendadak kereta keledai berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir pada saat yang nama Sun-hoan juga mendusin, cepat ia menyingkap tirai kereta, angin yang mengusap wajahnya seketika membangkitkan semangatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didengarnya si kusir lagi berseru, "Sudah tiba di Siong-san kereta tidak dapat naik ke atas gunung, terpaksa silakan Toaya (tuan) berjalan kaki saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Sun-hoan menyewa kereta keledai itu, si kusir diseret bangun dari kolong selimutnya oleh sang istri, malahan istrinya mendesak pula agar menerima persewaan ini, dengan sendirinya kusir ini berangkat dengan ogah-ogahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklumlah, uang sewa langsung disikat oleh istrinya, ia berangkat dengan saku kosong, kalau saja tidak ada penumpang Hwesio dalam keretanya, mungkin keretanya sudah mogok di tengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, Siau-lim-si adalah biara yang termasyhur, penduduk beberapa wilayah kabupaten di seputar Siong-san biasanya sangat menghormati kaum Hwesio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Li Sun-hoan lantai memondong Sim-bi turun dari kereta keledai itu, mendadak ia beri setahil perak kepada si kusir, katanya dengan tertawa, "Inilah sekadar persen untuk minum arak, kutahu orang yang sudah beristri kalau tidak menyimpan sendiri sedikit uang jajan, biasanya dia pasti akan hidup susah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Girang si kusir tak terkatakan, tapi sebelum dia sempat mengucapkan terima kasih, tahu-tahu Sun-hoan sudah melangkah pergi dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salju memenuhi lereng gunung, tidak ada seorang peziarah pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Ginkang atau ilmu mengentengkan tubuhnya yang tinggi, Li Sun-hoan terus berlari ke atas gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekat kaki gunung ada sebuah biara kecil, di sinilah biasanya peziarah mendapat petunjuk seperlunya sebelum mendak ke atas. Beberapa Hwesio Siau-lim berjubah kelabu dan berkaus kaki putih sedang menghangatkan badan di samping perapian di tengah biara itu. Dua Hwesio lain bersembunyi di balik daun pintu dan sedang mengintai ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terlihat ada orang naik ke atas dengan Ginkang yang tinggi, cepat kedua Hwesio pengintai itu memapak keluar dan menegur, "Sicu datang dari mana? Apakah ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang Hwesio itu melihat Sun-hoan memanggul seorang Hwesio, cepat ia pun bertanya, "Yang dipanggul Sicu itu apakah anak murid Siau-lim?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan memperlambat larinya, setiba di depan kedua Hwesio ini, mendadak ia meloncat tinggi ke atas dan melayang lewat di atas kepala mereka, dan begitu kaki menyentuh tanah, segera orangnya melayang lagi lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan pegunungan yang licin tertimbun salju dia dapat menggunakan Ginkang tinggi gaya "capung menyentuh air", biarpun Hwesio Siau-lim-si yang biasanya meremehkan orang lain juga sama terkesiap oleh kehebatan Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Hwesio yang berada di dalam biara memburu keluar, sementara itu Sun-hoan sudah pergi jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siong-san bukan tempat asing bagi Li Sun-hoan, dia tidak mengambil jalan depan, tapi mendaki melalui jalan kecil di belakang gunung. Walaupun begitu diperlukan waktu hampir satu jam baru dapat terlihat bangunan biara Siau-lim yang megah itu dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siau-lim-si didirikan oleh Budhi Dharma pada zaman kaisar Liang-bu-te (502-557), turun-temurun biara ini dipuja sebagai pimpinan dunia persilatan di daerah Tionggoan (Tiongkok tengah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipandang dari jauh, deretan istana biara yang megah dan tinggi menjulang di tengah aman, entah berjumlah berapa buah, sungguh bangunan besar yang jarang ada bandingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan datang dari belakang gunung, dilihatnya di tanah datar sana penuh berderet candi yang tak terhitung banyaknya, ia tahu inilah tempat pemakaman para pimpinan Siau-lim-si selama beberapa abad. Barang siapa berada di sini tentu akan timbul semacam perasaan hampa, perawan jauh berpisah dengan dunia ramai, apalagi bagi Li Sun-hoan yang sudah bosan dan letih kepada nama dan kedudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia terbatuk-bentuk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak seorang menegur dengan suara bengis, "Sicu sembarangan melanggar daerah terlarang Siau-lim-si, sungguh Sicu terlalu meremehkan peraturan di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara lantang Sun-hoan menjawab, "Sim-bi Taysu terluka, khusus kuantar beliau pulang ke sini, mohon Hongtiang (ketua) kalian sudi menerima kunjunganku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah teriakan kaget, berbondong-bondong Hwesio Siau-lim-si sama menampakkan diri dan memberi hormat, "Terima kasih atas budi kebaikan Sicu, mohon tanya nama Sicu yang mulia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cayhe Li Sun-hoan," jawab Sun-hoan dengan lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Siau-lim-si, di sebuah ruangan yang resik dan tenang di bawah rimbunnya pohon bambu, dipandang dari luar jendela, terlihat dua orang sedang main catur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang duduk di sebelah kanan adalah seorang Hwesio tua berwajah aneh, sikapnya yang tenang dan pendiam itu seakan-akan gunung ambruk pun takkan membuatnya kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah kiri adalah seorang kakek kurus pendek kecil, namun sinar matanya mencorong terang, hidungnya besar bengkok serupa paruh elang sehingga membuat orang melupakan tubuhnya yang pendek kecil itu melainkan cuma merasakan perbawa dan daya pengaruhnya yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ini yang dapat duduk berhadapan dan main catur dengan Sim-oh Taysu yang menjabat ketua Siau-lim-si ini, kecuali "Pek-hiau-sing" ini mungkin hanya beberapa orang lagi yang dapat dihitung dengan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada waktu kedua orang asyik main catur, mungkin tidak ada persoalan apa pun yang dapat menghentikan permainan mereka. Tapi ketika diberi lapor tentang kedatangan Li Sun-hoan, serentak mereka berhenti dan berbangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di mana dia sekarang?" tanya Sim-oh Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berada di kamar Jisusiok," jawab Hwesio pelapor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan bagaimana keadaan Jisusiokmu?" tanya Sim-oh pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Luka Jisusiok tampaknya tidak lemah, Sisusiok dan Jitsusiok sedang memeriksa luka beliau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Li Sun-hoan berdiri di serambi dan sedang memandang kemegahan bangunan biara yang agung itu, sayup-sayup terdengar suara kawanan Hwesio yang asyik membaca doa sehingga menambah suasana khidmat dalam biara agung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sudah merasakan ada orang datang, namun dia tidak berpaling, berada di tempat yang keramat ini, dia merasa tiada sesuatu yang perlu merisaukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-oh dan Pek-hiau-sing berhenti belasan kaki jauhnya dari tempat berdiri Li Sun-hoan, meski sudah lama Sim-oh mendengar nama "Li-tamhoa", tapi baru sekarang dapat melihatnya. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa orang yang kelihatan kemalas-malasan, agak kurus dan pendiam serupa seorang seniman rudin ini adalah pendekar dan petualang yang termasyhur di dunia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengamat-amati Li Sun-hoan dari atas sampai ke bawah, tiada satu tempat pun dilewatkannya, lebih-lebih kedua tangannya yang kurus panjang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sukar dimengerti, kedua tangan ini ada kekuatan gaib apa? Mengapa sebilah pisau biasa bila berada di tangan kurus panjang ini akan segera berubah menjadi pisau ajaib dan sakti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun yang lalu Pek-hiau-sing sudah pernah melihat Li Sun-hoan, ia merasa selama ini tiada banyak berubah pada diri petualang ini, tapi juga seperti banyak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin orangnya memang tidak banyak berubah, yang berubah cuma hatinya. Sun-hoan seperti berubah lebih pendiam, lebih malas dan juga lebih kesepian. Biarpun berada bersama orang banyak, dia tetap seperti menyendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Pek-hiau-sing menegur dengan tertawa, "Selamat bertemu lagi, Li-tamhoa, baik-baikkah selama berpisah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menjawab dengan tertawa, "Tak tersangka Siansing masih kenal diriku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-oh memberi hormat dan berucap, "Dan entah Li-tamhoa kenal padri tua tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menjura dan menjawab, "Nama Taysu termasyhur dan diagungkan, sudah lama Wanpwe sangat kagum dan menyesal tidak dapat berkenalan. Sungguh beruntung sekali hari ini dapatlah melihat Taysu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Li-tamhoa jangan rendah hati," ujar Sim-oh Taysu, "Atas pertolonganmu sehingga Jisute dapat diantar pulang kemari, di sini kusampaikan rasa terima kasihku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tak berani," sahut Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biar kujenguk dulu keadaan Sute, segera kutemani bicara lagi dengan Li-sicu," kata Sim-oh sambil memberi hormat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Sim-oh masuk ke kamar, tiba-tiba Pek-hiau-sing tertawa dan berkata, "Kesabaran orang beragama memang lain daripada orang biasa, jika aku, mungkin takkan banyak adat begini terhadap Anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo?!" Sun-hoan melenggong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba, jika ada orang mencelakai Sutemu dan dapatkah engkau bersikap seramah ini kepadanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa Anda menganggap akulah yang melukai Sim-bi Taysu?" tanya Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pek-hiau-sing menengadah dengan bersedekap, ucapnya dengan perlahan, "Kecuali Li-tamhoa, siapa pula yang mampu melukai dia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kulukai dia, kenapa kuantar dia pulang ke Siau-lim-si?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru di sinilah letak kecerdikan Anda," kata Pek-hiau-sing. "Sebab barang siapa memusuhi tokoh Siau-lim-si, selanjutnya mungkin tidak dapat lagi hidup tenteram, sekian ribu anak murid Siau-lim-si cabang utara dan selatan pasti takkan tinggal diam, kekuatan ini tidak berani diremehkan oleh siapa pun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang betul ucapanmu," kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi setelah kau antar pulang Sim-bi Suheng ke sini, orang lain tentu takkan mencurigai dirimu yang melukai dia, juga tidak ada yang menyangsikan engkau adalah Bwe-hoa-cat. Malahan anak murid Siau-lim akan berterima kasih padamu, caramu ini sungguh sangat pintar, sampai aku pun sangat kagum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, "Haha, Pek-hiau-sing ternyata benar serbatahu dan serbapaham, pantas setiap perguruan besar dan aliran di dunia Kangouw sama ingin berkawan denganmu, sebab manfaat yang dapat dipetik darimu ternyata tidak sedikit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali Pek-hiau-sing tidak memusingkan ejekan Sun-hoan, ia malah berkata, "Yang kukemukakan hanya kebenaran dan keadilan saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cuma sayang Anda melupakan sesuatu," sambung Sun-hoan, "Sim-bi Taysu belum lagi meninggal, dia sendiri tentu tahu siapa yang melukainya, tatkala mana bukankah Anda terpaksa harus menelan kembali ucapanmu ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pek-hiau-sing menghela napas, katanya, "Jika tidak meleset dugaanku, kesempatan Sim-bi Suheng untuk bisa bicara mungkin tidak banyak lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah mendadak terdengar Sim-oh Taysu membentak dengan bengis„ "Memangnya siapa yang melukai Suteku jika bukan dirimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan padri agung ini ternyata sudah keluar, mukanya tampak dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa Taysu tidak dapat melihat siapa yang turun tangan keji terhadap Sim-bi Taysu?" jawab Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-oh tidak menjawab, ia berpaling dan berseru, "Jitsute!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jitsute atau adik perguruan ketujuh yang dimaksudkan ialah Sim-kam Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang Kangouw tahu Siau-lim-si adalah perguruan ternama yang tergolong suci, yang diutamakan adalah ilmu pukulan atau kekuatan luar, dengan sendirinya tidak pernah menggunakan Am-gi atau senjata rahasia serta racun segala. Hanya Sim-kam Taysu ini menjadi Hwesio setelah usia setengah tua, dia masuk perguruan Siau-lim dengan membawa dasar ilmu silat yang sudah cukup kuat. Sebelumnya orang kenal dia berjuluk "Jit-giau-susing" atau si pelajar serbapintar, disegani sebagai seorang ahli racun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka muncullah Sim-kam Taysu yang bermuka pucat kuning, serupa orang yang selalu berpenyakitan sepanjang tahun, namun kedua matanya bersinar tajam, seperti kilat ia menyapu pandang sekejap ke arah Li Sun-hoan, lalu berucap, "Racun yang mengenai Jisuheng adalah racun khas Ngo-tok-tongcu dari daerah Miau, racun ini tidak berwarna dan tidak berbau, orang yang keracunan kalau tidak mendapatkan obat penawar tepat pada waktunya, kulit daging seluruh tubuh akan berubah menjadi bening seakan-akan tembus pandang. Dalam keadaan begitu berarti racun sudah menyebar dan tak tertolong lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa dan berkata, "Taysu sungguh berpengetahuan sangat luas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-kam Taysu mendengus, "Aku cuma tahu racun yang mengenai Jisuheng, tapi siapa yang meracuni dia tidak kuketahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keterangan yang baik," tukas Pek-hiau-sing. "Racun bukan makhluk hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-kam Taysu bertutur pula, "Meski tindak tanduk Ngo-tok-tongcu sangat kejam, tapi biasanya dia memegang teguh suatu prinsip, yaitu asalkan orang tidak mengganggu dia, maka dia juga takkan mengganggu orang. Perguruan kita tidak pernah ada sengketa apa pun dengan dia, untuk apa jauh-jauh dia datang ke sini untuk mencelakai Jisuheng?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal ini disebabkan sasarannya bukanlah Sim-bi Taysu melainkan diriku," ujar Sun-hoan dengan menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keteranganmu terlebih bagus lagi," ujar Pek-hiau-sing. "Bahwa yang hendak dicelakai dia ialah dirimu, tapi sekarang engkau masih berdiri sehat walafiat di sini, Sim-bi Suheng bukan sasarannya, tapi malah kena racunnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tatap Sun-hoan tajam-tajam, lalu menyambung sekata demi sekata, "Bilamana dapat kau kemukakan lagi dalih yang tepat, sungguh kukagum padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan termenung hingga lama, tiba-tiba ia tertawa, katanya, "Tak dapat kukatakan apa-apa lagi, sebab apa pun juga yang kukatakan toh belum pasti akan dipercaya oleh kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uraian Anda ini sungguh sukar untuk dapat dipercaya," ujar Pek-hiau-sing, tokoh Kangouw yang dianggap sebagai serbatahu serupa ensiklopedia hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski tak dapat kukatakan apa-apa, tapi masih ada orang yang dapat bicara," kata Sun-hoan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa?" tanya Sim-oh Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sim-bi Taysu, kenapa kalian tidak menanyai dia bilamana sudah siuman nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-oh memandangnya dengan tajam dan tampak ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin mendesir dingin, tiba-tiba serombongan burung gagak yang biasa hinggap di wuwungan sama terbang terkejut, menyusul dari belakang sana bergema suara genta yang nyaring dan juga memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suara genta pun seolah-olah ikut berdukacita atas wafatnya Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya Sun-hoan merasakan dinginnya udara, akhirnya ia tidak tahan dan terbatuk-batuk, sukar dilukiskan perasaannya, entah murka, menyesal atau susah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terbatuk-batuk, dilihatnya beberapa puluh Hwesio berjubah kelabu satu per satu masuk dari pintu bulat sana, air muka semuanya kaku dingin, semuanya, bungkam, semuanya menatap tajam ke arah Sun-hoan, namun sama tutup mulut dengan rapat. Suara genta juga sudah berhenti, segala macam suara seakan-akan membeku oleh hawa dingin, hanya suara langkah kaki yang menyaruk salju menimbulkan suara "srak-srek".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu suara orang melangkah itu pun berhenti, sekujur badan Li Sun-hoan seolah-olah beku juga di dalam lapisan es yang tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biara yang agung dan khidmat ini mendadak penuh diliputi suasana pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang hendak kau katakan lagi?" tanya Sim-oh dengan suara serak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan termenung agak lama, ia menghela napas panjang, lalu berucap, "Tidak ada lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ucapannya toh tidak ada gunanya, kan lebih baik tidak bicara saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mestinya jangan kau datang ke sini," ujar Pek-hiau-sing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Sun-hoan tertawa, katanya, "Mungkin aku memang tidak perlu datang, tapi kalau sang waktu dapat diputar balik lagi, aku tetap akan datang kemari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menghela napas, dengan tak acuh ia menyambung pula, "Meski selama hidupku tidak sedikit orang yang kubunuh, tapi tidak pernah meninggalkan orang sekarat yang perlu ditolong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai di sini, kau masih juga menyangkal?" bentak Sim-oh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, katanya, "Orang beragama tidak boleh sembarangan naik pitam, konon Taysu seorang padri saleh, mengapa juga pemberang seperti diriku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah begini, masih juga kau putar lidah, jelas sama sekali tidak ada rasa penyesalanmu, tampaknya hari ini terpaksa aku harus melanggar pantangan membunuh," bentak Sim-kam Taysu dengan gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, katanya, "Silakan saja bertindak, toh Hwesio yang suka membunuh juga tidak cuma engkau sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kubunuh orang demi menuntut balas dan juga menumpas kejahatan sekaligus," teriak Sim-kam Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja dia hendak bertindak, tiba-tiba terlihat sinar pisau berkelebat, entah sejak kapan tangan Sun-hoan sudah bertambah dengan sebilah pisau. Pisau kilat si Li?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kuharap janganlah engkau sembarangan bergerak," demikian Sun-hoan menjengek. "Sebab engkau jelas bukan tandinganku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika Sim-kam seperti terpaku di tempatnya dan tidak dapat bergerak lagi, sebab ia tahu asalkan bergerak maju sedikit saja, segera pisau kilat itu akan menembus lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa kau masih berani melawan?" damprat Sim-oh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hidup ini meski susah, sayang ajalku belum waktunya," jawab Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pek-hiau-sing ikut bicara, "Meski pisau kilat si Li tidak pernah meleset, tapi ada berapakah pisaumu dan dapat membunuh berapa orang sekaligus?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa tanpa menanggapi, sebab ia tahu pada saat demikian tidak bicara akan jauh lebih baik daripada bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Sim-oh Taysu tidak pernah terlepas dari tangan Li Sun-hoan, katanya tiba-tiba, "Baik, biarlah kucoba belajar kenal dengan pisau saktimu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengebaskan lengan jubahnya dan melangkah maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Pek-hiau-sing lantai menariknya dan mendesis, "Suheng jangan turun tangan sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab apa?" tanya Sim-oh dengan kening bekernyit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pek-hiau-sing menghela napas, katanya, "Tiada seorang pun di dunia ini yakin dapat menghindarkan pisaunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada yang mampu menghindar?" Sim-oh menegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, tidak ada, seorang pun tidak," ujar Pek-hiau-sing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-oh menghela napas panjang dan menyitir ucapan Buddha, "Kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang mau masuk neraka ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat Sim-kam mencegah juga, "Suheng, padamu terletak keselamatan segenap anggota perguruan kita, mana boleh engkau menyerempet bahaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, kalian memang tidak perlu menyerempet bahaya," kata Sun-hoan dengan tertawa, "Toh jumlah murid Siau-lim-si beribu banyaknya, asalkan kalian memberi perintah, yang siap mengantar kematian bagi kalian pasti tidak sedikit jumlahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka Sim-oh berubah, ucapnya dengan beringas, "Dengarkan, tanpa izinku setiap anak murid Siau-lim dilarang sembarangan bertindak, kalau melanggar perintah akan dihukum sesuai tata tertib perguruan ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak para murid Siau-lim-si yang hadir sama menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tersenyum Sun-hoan berkata pula, "Memang sudah kuduga engkau pasti tidak mau membiarkan murid sendiri mengantar nyawa percuma, betapa pun Siau-lim-si tidak sama dengan perkumpulan atau sindikat dunia Kangouw, kalau tidak, mana tipu pancinganku ini bisa berhasil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Pek-hiau-sing menjengek, "Meski para Suheng Siau-lim tidak perlu mengadu jiwa dengan orang macam dirimu ini, tapi apakah kau pikir dapat angkat kaki begitu saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa bilang aku hendak angkat kaki?" jawab Sun-hoan dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya engkau tidak ... tidak ingin pergi?" tanya Pek-hiau-sing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum salah dan benar menjadi jelas, mana boleh kupergi begini saja?" ujar Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masakah kau dapat menyuruh Ngo-tok-tongcu datang ke sini untuk mengakui sebagai pembunuh Sim-bi Taysu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja tidak dapat, sebab dia sudah mati," kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa katamu? Ngo-tok-tongcu sudah mati? Memangnya engkau yang membunuhnya?" Pek-hiau-sing menegas dengan terkesiap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia kan juga manusia, maka dia juga tidak dapat mengelakkan pisauku," ucap Sun-hoan dengan hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Sim-oh berkata, "Jika engkau dapat memperlihatkan jenazahnya, sedikitnya kan dapat membuktikan kau tidak berdusta seluruhnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam Sun-hoan mengeluh di dalam hati, katanya dengan gegetun, "Sekalipun ada orang dapat menemukan jenazahnya juga tidak ada yang mengenali dia lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hm, jika begitu, siapa pula di dunia ini yang dapat membuktikan engkau tak berdosa?" jengek Pek-hiau-sing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai saat ini memang belum kudapatkan seorang pun," ujar Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, lantas apa kehendakmu?" tanya Pek-hiau-sing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan terdiam sejenak, katanya tiba-tiba dengan tertawa, "Sekarang aku cuma ingin minum arak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu A Fei sedang berduduk, gaya berduduknya kurang sedap dipandang, dia tidak pernah berduduk dengan santai sebagaimana halnya Li Sun-hoan, maklumlah, selama hidupnya hampir tidak ada kesempatan baginya untuk berduduk di atas kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api menyala pada tungku di dalam rumah dan cukup hangat, tapi A Fei malah merasa tidak enak, maklumlah, dia tidak biasa duduk di dalam rumah dengan perapian yang hangat. Lim Sian-ji meringkuk di samping perapian, wajahnya kelihatan kemerah-merahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua hari ini nona itu hampir tidak pernah memejamkan mata, sekarang luka A Fei seperti sembuh secara ajaib, maka dapatlah dia tidur dengan hati lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu tidur tampaknya dia terlebih cantik daripada waktu sadar, bulu matanya yang panjang menutupi pelupuk matanya, dadanya yang bernas tampak bergerak naik turun, mukanya bersemu merah bagi bunga. A Fei memandangnya dengan terkesima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam rumah hanya terdengar suara napas Sian-ji yang teratur dan suara nyala api di tungku, salju di luar sudah mulai cair, bumi raya penuh suasana hangat tenteram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sorot mata A Fei justru mulai menampilkan rasa tersiksa. Mendadak ia berbangkit. diam-diam ia mengenakan sepatu, perlahan ia menghela napas, ia mendapatkan pedangnya yang tertaruh di atas meja di pojok rumah sana, perlahan ia selipkan pedang pada ikat pinggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar Sian-ji menegur, "Hei, mau ... mau apa kau?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nona itu terjaga bangun, dengan pandangan tercengang ia tatap A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun A Fei tidak berani memandangnya, ia menggereget dan menjawab, "Aku mau pergi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pergi?" teriak Sian-ji, ia berbangkit dan memburu ke depan A Fei, ucapnya dengan suara gemetar, "Kau mau pergi begitu saja tanpa pamit?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika mau pergi, untuk apa pula bicara," jawab A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Sian-ji menjadi lemas mendadak, ia menyurut mundur dan jatuh di atas kursi, ia pandang A Fei dan menitikkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak A Fei merasa pedih, belum pernah dirasakannya perasaan semacam ini, perasaan yang sukar dijelaskan. Mungkinkah ini perasaan cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau telah menyelamatkan diriku, cepat atau lambat pasti akan kubalas kebaikanmu ini," kata A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Sian-ji tertawa, "Baik, lekas kau balas kebaikanku, kuselamatkan dirimu memang berharap supaya mendapatkan balas jasa darimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tertawa, namun air matanya juga tambah deras bercucuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kutahu perasaanmu," ucap A Fei dengan sedih. "Tapi tidak boleh tidak harus kupergi mencari Li Sun-hoan ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari mana kau tahu aku tidak mau mencari dia? Mengapa tidak kau bawa serta diriku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ... aku tidak ingin membikin susah dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Membikin susah diriku?" Sian-ji menegas sambil menangis. "Kau kira setelah kau pergi aku akan sangat berbahagia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei ingin bicara lagi, tapi bibirnya menjadi rada gemetar. Tidak pernah terpikir olehnya bawa bibir juga bisa gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sian-ji menubruk maju dan merangkulnya erat-erat, desisnya, "Bawalah aku, bawalah pergi diriku, jika tidak kau bawa diriku, biarlah kumati di depanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah banyak lelaki di dunia ini yang mampu menyatakan "tidak" di depan anak perempuan yang cantik, apalagi kalau anak perempuan itu menyatakan ingin mati, hampir tidak ada seorang lelaki pun yang sanggup menolak permintaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari rumah A Fei lantas melihat bunga Bwe yang dihiasi bunga salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya di sinilah paviliun "Leng-hiang-siau-tiok", anehnya, kegemparan yang terjadi di Hin-hun-ceng selama dua hari ini, selama itu tiada seorang pun datang ke paviliun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mereka mau mencari A Fei, mengapa mereka tidak mencari ke sini? Masa mereka begitu memercayai Lim Sian-ji?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji memegang tangan A Fei dengan erat, katanya, "Perlu kubicara dulu dengan Ciciku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silakan," kata A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kukhawatir bila kutinggalkan dirimu di sini, engkau ikut pergi saja bersamaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Cicimu ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan khawatir, dia juga sahabat baik Li Sun-hoan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Sian-ji menarik A Fei menerobos semak bunga dan melintasi jembatan kecil, di dalam taman sunyi senyap, tidak ada suara apa pun, cahaya lampu juga jarang-jarang, A Fei merasa tidak sanggup melepaskan tangan yang dipegang si dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas loteng sana sinar lampu masih berkelip, tabir jendela tampak setengah tertutup sehingga suasana loteng kecil itu terasa semakin sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lim Si-im sedang berduduk menghadapi pelita dengan termangu-mangu dan entah apa yang sedang dipikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Sian-ji naik ke atas dengan menarik A Fei, lalu memanggil, "Toaci, meng ... mengapa engkau belum tidur?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Si-im tetap termangu-mangu, berpaling pun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Toaci, ku ... kudatang untuk mohon diri padamu, aku akan pergi, namun ... namun takkan kulupakan budi kebaikan Toaci kepadaku, selekasnya aku akan datang lagi menjenguk engkau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im seperti tidak mengerti apa yang diucapkan Sian-ji, sampai lama sekali barulah ia mengangguk dan berucap, "Pergilah engkau, memang paling baik engkau pergi saja, di sini tiada sesuatu lagi yang dapat menahanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di manakah Cihu (suami kakak)" tanya Sian-ji tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali sampai sekian lamanya barulah Si-im dapat menerima ucapan Sian-ji itu, gumamnya, "Cihu? ... Cihu siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan sendirinya Cihuku?" jawab Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ... aku tidak tahu Cihumu, aku tidak ... tidak tahu ...." seru Si-im dengan parau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji melengak, sampai sekian lamanya ia melenggong, lalu berkata, "Sekarang juga kami akan menyusul ke Siau-lim-si ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Si-im melonjak bangun dan berseru, "Pergilah lekas, lekas ... jangan bicara lagi, lekas berangkat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengusir pergi Sian-ji dan A Fei, lalu berduduk lagi di samping pelita dengan air mata bercucuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik tabir sana tiba-tiba muncul seorang dengan perlahan, ternyata Liong Siau-hun adanya. Ia melototi Si-im, tersembul senyuman dingin pada ujung mulutnya, jengeknya. "Hm, biarpun mereka terbang ke Siau-lim-si juga tidak ada gunanya, di seluruh dunia ini tidak ada seorang pun yang sanggup menyelamatkan Li Sun-hoan ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei sedang makan, meski banyak dia makan tapi tidak cepat, sesuap nasi yang masuk mulutnya pasti dikunyahnya dengan cermat baru kemudian ditelannya. Tapi ia pun bukan sedang menikmati rasanya setiap makanan dengan perlahan seperti apa yang dilakukan Li Sun-hoan. Ia cuma ingin menyerap segenap kalori pada makanan itu untuk menambah daya tahan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan nelangsa yang berkepanjangan telah menjadikan semacam kebiasaan baginya dan juga membuatnya tahu betapa berharganya makanan. Di tengah hutan belukar setiap kali makan bisa jadi merupakan santapannya yang terakhir. Setelah makan satu kali, tidak pernah diketahuinya makan berikutnya akan terjadi kapan lagi, sebab itu sesuap makanan apa pun tidak boleh dibuangnya dengan percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel ini tidak besar, sudah sehari penuh mereka menempuh perjalanan tanpa berhenti dan akhirnya berhenti di sini, rumah makan sudah tutup semua, terpaksa mereka makan di dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji duduk bertopang dagu dan memandangnya dengan termenung. Belum pernah dilihatnya seorang yang sedemikian menghargai makanan, sebab hanya orang yang pernah merasakan betapa menakutkannya lapar yang dapat menghargai makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah A. Fei menikmati makanannya dengan perlahan dan penuh cita rasa, setiap bulir nasi secuil daging pun dimakannya hingga bersih, habis itu barulah ia menaruh kembali mangkuk dan sumpit sambil mengembus napas puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah kenyang?" tanya Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehm," A Fei mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh sangat menarik caramu makan nasi," ujar Sian-ji dengan tertawa. "Kau makan satu kali tidak habis kumakan tiga kali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi aku sanggup tidak makan nasi selama tiga hari, apakah kau sanggup?" tanya A Fei dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertawa A Fei juga mempunyai cara khas, tertawanya dimulai dari matanya, lalu terpancar ke bagian lain hingga akhirnya sampai ke mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandangi senyuman yang menghiasi wajah A Fei, Sian-ji jadi terkesima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekian lamanya, mendadak ia tanya, "Agaknya kau lupakan sesuatu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo, sesuatu apa?" tanya A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kim-si-kahmu masih berada padaku," kata Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lantas membuka ranselnya dan mengeluarkan baju kutang benang emas itu, dipandang di bawah sinar lampu, benda mestika yang membuat mengiler setiap orang persilatan itu memang gilang-gemilang dan tidak ada bandingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu kuperiksa lukamu, terpaksa kulepaskan baju pusaka ini, sebegitu jauh kulupa mengembalikannya padamu," tutur Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memandang sekejap pun A Fei berkata, "Boleh kau simpan saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata Sian-ji menampilkan rasa girang, tapi dia malah menggeleng kepala dan berkata, "Inilah mestika yang kau dapatkan dengan susah payah, selanjutnya mungkin perlu kau gunakan baju ini, mana boleh sembarangan kau berikan kepada orang lain?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei memandangnya lekat-lekat, tiba-tiba suaranya berubah lembut, "Aku tidak memberikannya kepada orang lain, juga takkan kuberikan kepada siapa pun, aku cuma memberikannya padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji memandangnya dengan termangu-mangu, sinar matanya penuh rasa terima kasih dan gembira. Kedua orang lantas saling pandang tanpa bicara. Entah berapa lamanya, mendadak Sian-ji bersuara lirih dan menubruk ke dalam pangkuan A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin mendesir di luar jendela, pelita di atas meja bergoyang-goyang. Tubuh Sian-ji terasa sedemikian lunak dan halus, begitu hangat dan agak gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantung A Fei juga berdetak dengan keras. Selama hidupnya belum pernah merasakan kehangatan demikian. Betapa pun dia juga lelaki, apalagi muda dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak pernah belajar, tapi urusan ini selamanya memang tidak perlu belajar, tanpa terasa ia menunduk, bibir beradu dengan bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panas bibir Sian-ji seperti berapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap itu segala urusan duniawi berubah seakan-akan tidak ada artinya sama sekali, segala benda di dunia ini seolah-olah luluh terbakar semua, waktu juga seperti berhenti berputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemetar tubuh Sian-ji dan mengeluarkan keluhan perlahan. Tubuhnya yang gemetar menjadi petunjuk bagi tangan A Fei. Kulit tubuhnya yang halus dan licin panas seperti terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambutnya sudah kusut, gaunnya juga tersingkap, sekujur badannya seolah-olah mengalami dipanggang. kedua pahanya yang panjang dan putih terlipat menjadi satu. A Fei sendiri rasanya hampir meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah cahaya pelita yang guram, paha yang putih licin itu tampak merinding, pahanya merapat, punggung kakinya mengeras lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tiada sesuatu lagi di dunia yang lebih memikat daripada pemandangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan erat Sian-ji merangkul leher A Fei, napasnya yang panas dan memburu menyembur telinga anak muda itu, perlahan ia gigit ujung kuping sehingga meruntuhkan sukmanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butiran keringat tampak menghiasi wajah A Fei, saking tegangnya ia pun menggigil. Inilah untuk pertama kalinya, nafsu berahi yang terpendam selama 20 tahun segera akan meledak dalam sekejap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan mereka sudah berbaring di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya A Fei adalah seorang yang paling dapat mengatasi perasaan sendiri, tapi sekarang ia tidak tahan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, memangnya pemuda mana yang bisa tahan? Dia mulai membuka pakaian Sian-ji ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa dada beradu dada, A Fei seperti telah berubah seekor binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada saat terakhir itulah mendadak Sian-ji mendorongnya dengan keras, karena tidak terduga-duga, A Fei tertolak jatuh ke bawah tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keruan A Fei melenggong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didengarnya Sian-ji berucap dengan suara gemetar, "Ti ... tidak, tidak boleh kita berbuat begini, tidak boleh ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih meringkuk di tempat tidur memeluk selimut kencang-kencang, ucapnya dengan menitikkan air mata, "Meski aku pun tidak tahan, tapi kalau ... kalau kita tidak dapat bersabar, kelak pasti ... pasti akan menyesal, dalam hatimu selanjutnya pasti akan memandang diriku sebagai perempuan yang hina."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tidak bicara, selang agak lama barulah ia berdiri perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang dia sudah dingin, seperti api habis disiram air, sudah paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji merosot ke bawah tempat tidur dan merangkul kaki A Fei, ucapnya dengan menangis, "O, kumohon dengan sangat, maafkan diriku. Kulakukan hal ini demi kehidupan kita di kemudian hari. Hari depan kita masih sangat panjang, betul tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menggigit bibir, akhirnya ia menghela napas dan berkata, "Ya, tindakanmu memang tepat. Akulah yang salah, mana dapat kusalahkan dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kutahu saat ini engkau pasti sangat kagok dan tentu ingin ... dapat juga kuberikan padamu, cepat atau lambat aku toh akan menjadi milikmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan A Fei membelai rambut Sian-ji, ucapnya dengan lembut, "Jika engkau dapat menunggu, mengapa aku tidak dapat? Hari depan kita memang masih sangat panjang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam tertawalah Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ia tahu pemuda yang angkuh dan keras kepala ini akhirnya telah ditaklukkan seluruhnya, selanjutnya anak muda ini pasti akan berlutut di bawah kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei mengangkat Sian-ji dan dibaringkan perlahan di tempat tidur serta menutupnya dengan selimut, dalam pandangannya nona ini adalah jelmaan kecantikan dan kesucian. Si dia sudah menjadi dewi pujaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei sudah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji berbaring di tempat tidur dan diam-diam lagi tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat menaklukkan seorang lelaki memang sesuatu yang sangat menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong daun jendela terbuka, angin dingin mengembus masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak Sian-ji bangun berduduk dan membentak, "Siapa itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru dia bertanya, segera terlihatlah seraut wajah yang menakutkan, wajah yang bersemu hijau, dipandang di tengah malam gelap serupa setan iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah malam sunyi mendadak muncul sebuah wajah demikian di luar jendela, biarpun orang yang bernyali besar pasti juga akan kaget setengah mati jika tidak jatuh kelengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sian-ji lantas berbaring pula, tidak menjerit kaget, juga tidak jatuh pingsan. Ia cuma memandang orang ini dengan tenang, bahkan tiada terunjuk setitik rasa takut pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang aneh ini pun sedang meratap Sian-ji, kedua matanya serupa dua titik api setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji berbalik tertawa, sapanya, "Jika sudah datang, mengapa tidak masuk saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru habis ucapannya, tahu-tahu orang itu sudah berdiri di depan tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menakutkan perawakannya yang tinggi, mukanya juga lonjong, lehernya panjang, pada lehernya malahan terbebat sepotong kain putih sehingga tubuhnya kaku tegak serupa mayat hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun gerak-geriknya ternyata sangat lincah dan sangat cepat, siapa pun tidak tahu cara bagaimana dia melayang masuk melalui jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau terluka?" tanya Sian-ji sambil memandangi leher orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu hanya mendelik, tapi tutup mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Li Sun-hoan yang melukai kau?" tanya pula Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berubah juga air muka orang itu, ucapnya dengan bengis, "Dari mana kau tahu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menghela napas, "Semula kukira engkau dapat membunuhnya, siapa tahu engkau berbalik dilukai olehnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari mana kau tahu aku ingin membunuh dia?" tampaknya orang itu tambah marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab dia telah membunuh Ku Tok dan Ku Tok adalah anakmu yang tidak resmi," kata Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum, lalu menyambung pula, "Tentunya kau heran lagi dari mana kutahu hal ini. Padahal urusan ini sangat sederhana, selamanya 'Jing-mo-jiu' In Gok tidak pernah menerima murid, tapi Ku Tok tidak cuma mendapatkan segenap intisari ilmu silatmu, bahkan juga mewarisi sebuah tangan iblis hijau darimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu memang Jing-mo-jiu In Gok. Dia melototi Sian-ji dengan mata merah membara, sampai sekian lama barulah ia berucap pula sekata demi sekata, "Aku juga kenal darimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O, sungguh aku sangat beruntung," Kata Sian-ji dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum Ku Tok mati, Jing-mo-jiu sudah hilang lebih dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, memang hilang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tangan maut itu telah diberikannya padamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasanya memang begitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Jing-mo-jiu tidak diberikannya kepadamu, mana bisa dia mati di tangan Li Sun-hoan," kata In Gok dengan gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tertawa, "Engkau tidak pernah memberikan Jing-mo-jiu padaku, tapi engkau kan juga dilukai oleh Li Sun-hoan, betul tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan beringas mendadak In Gok menjambak rambut Lim Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sian-ji tidak takut, sebaliknya tertawanya tambah manis, ucapnya dengan lembut, "Hm, umpama dia mati demi diriku kan boleh dikatakan mati dengan sukarela, sebab ia yakin matinya itu cukup berharga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Gok menyeringai dan mendesis, "Hm, justru ingin kulihat apakah kau memang betul berharga atau tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh Sian-ji. Tubuh yang telanjang dan melingkar itu serupa seekor domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji leher In Gok tampak naik turun, kerongkongannya serasa kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana, berharga tidak?" tanya Sian-ji dengan tertawa genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Gok memuntir rambutnya terlebih kencang, seakan-akan hendak mencabut seluruh rambut dari kulit kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesakitan, Sian-ji mencucurkan air mata, tapi di antara air mata yang berlinang itu juga menampilkan semacam rasa kehausan yang merangsang, ia pandang In Gok dengan mata terpicing, keluhnya dengan napas terengah, "Mengapa engkau cuma berani menjambak rambutku? Memangnya tubuhku berduri?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki mana yang tahan oleh kerlingan mata sayu dan ucapan begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak tangan In Gok membalik dan tepat menampar muka Sian-ji, habis itu lantas mencengkeram erat-erat bahunya serta setengah diangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Sian-ji lantas gemetar mendadak, entah gemetar tersiksa atau gemetar karena bergairah, mukanya berubah merah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Gok terus menghantam perutnya sambil membentak dengan parau, "Perempuan hina, kiranya kau suka dipukul."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali tubuh Sian-ji melingkar karena pukulan In Gok, keluhnya, "Oo, pukul, pukul lagi, pukul mati saja diriku ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya ternyata tidak menderita sedikit pun, bahkan penuh rasa harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak takut padaku?" tanya In Gok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kutakut padamu?" ucap Sian-ji dengan gemetar. "Meski mukamu buruk, tapi engkau tetap seorang lelaki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak In Gok mengangkat tubuh Sian-ji dan dibanting ke lantai, lalu menjambak lagi rambutnya. Namun Sian-ji berbalik merangkulnya erat-erat, ucapnya dengan napas memburu, "Aku tidak takut padamu, aku justru suka padamu, aku justru suka padamu! Sudah terlalu banyak lelaki cakap yang kulihat, sekarang aku justru suka kepada lelaki bermuka buruk. Ap ... apa lagi yang kau tunggu sekarang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Gok tidak menunggu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, lelaki mana pun tidak mau menunggu lagi ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar hanya tersisa suara napas yang tersengal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Gok berdiri di depan tempat tidur dan sedang memakai baju, dipandangnya Sian-ji yang telentang di tempat tidur dengan wajah yang puas dan bangga sebagai seorang penakluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai lama sekali, mendadak Sian-ji tertawa dan berkata, "Sekarang tentunya kau tahu aku berharga atau tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seharusnya kubunuh dirimu, kalau tidak, entah betapa banyak orang yang akan menjadi korbanmu," kata In Gok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya kau datang untuk membunuhku?" tanya Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmk," jengek In Gok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tega turun tangan?" tanya Sian-ji dengan tersenyum genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali In Gok menatapnya hingga lama, tiba-tiba ia tanya, "Siapa anak muda yang ikut kemari bersamamu itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tertawa, "Untuk apa kau tanya dia? Cemburu? Atau takut?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Gok mendengus dan tak mau menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia seorang anak penurut," ucap Sian-ji sambil mengerling genit, "tidak busuk seperti engkau, sejak tadi dia sudah pergi tidur ke rumah lain yang berjauhan dari sini. Jika dia berada di sekitar sini dan mendengar suaramu, mana dia mau tinggal diam dan membiarkan diriku dihina olehmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hm, untung dia tidak mendengar suaraku," jengek In Gok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo, apakah kau pun ingin membunuh dia?" tanya Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmk," kembali In Gok mendengus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tertawa, "Kukira engkau tak dapat membunuhnya, bukan cuma ilmu silatnya sangat tinggi, bahkan dia juga sahabat Li Sun-hoan, aku pun sangat suka padanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika air muka In Gok berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji mata Sian-ji mengerling pula, katanya dengan tertawa, "Dia tinggal di deretan rumah yang paling belakang sana, berani kau cari dia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum habis ucapannya, tahu-tahu In Gok sudah melayang pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, hati-hati sedikit, bisa jadi lehermu terkena tusukan lagi," seru Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tertawa cekikik dia terus menyusup ke dalam selimut, senangnya tidak kepalang serupa seorang anak kecil habis mencuri permen dan tidak kepergok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila terbayang tangan iblis hijau In Gok akan menghancurkan kepala A Fei, seketika matanya mencorong terang, kalau teringat pedang A Fei juga akan menembus leher In Gok, saking senangnya sampai tubuhnya gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikir dan pikir, akhirnya dia terpulas. Dalam tidurnya ia masih tertawa manis, sebab siapa yang akan terbunuh oleh siapa tetap akan menyenangkan dia. Malam ini dia benar-benar tidur dengan sangat enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pada saat yang sama A Fei justru tidak dapat pulas. Selamanya dia tidak pernah sulit tidur seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ini, asal terasa letih, sekalipun berbaring di tanah bersalju juga dapat tidur. Sekarang, meski badan dirasakan penat, tapi bergulang-guling tetap sukar terpulas dan selalu terkenang kepada Lim Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila teringat kepada Sian-ji hatinya lantas terasa manis, timbul juga perasaan sesal terhadap dirinya sendiri, ia merasa dirinya telah memperlakukan si nona dengan tidak senonoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bersumpah selanjutnya pasti akan lebih menghormatinya, sebab dia tidak saja cantik, juga sangat menyenangkan, tidak cuma menyenangkan, juga suci bersih dan anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat bertemu dengan anak perempuan seperti ini, sungguh ia merasa sangat beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah selang berapa lama lagi, baru melayap-layap hendak pulas, entah mengapa, mendadak ia melonjak bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan binatang liar bilamana mengendus sesuatu bau bisa mendadak terjaga bangun dari tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja A Fei menyelipkan pedang di pinggang, daun jendela lantas terbuka. Terlihat sepasang mata yang lebih seram daripada mata setan sedang melotot padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau ini yang datang bersama Lim Sian-ji?" In Gok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei mengiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, keluar sini," kata In Gok pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar jendela adalah tembok, antara tembok pagar itu dan kamar ada tempat luang selebar tiga-empat kaki, A Fei dan In Gok lantas berdiri berhadapan di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tidak bicara, ia tidak suka bicara, selamanya ia tidak mau membuka mulut lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan kubunuh dirimu," ucap In Gok. Ia pun tidak suka banyak bicara, hanya berucap seperlunya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali A Fei termenung hingga lama, akhirnya berkata dengan tak acuh, "Hari ini aku tidak suka membunuh orang, boleh kau pergi saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari ini aku pun tidak ingin membunuh orang, hanya ingin membunuhmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo!" melengak juga A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak seharusnya kau datang bersama Lim Sian-ji," kata In Gok pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak sorot mata A Fei memancarkan sinar tajam, "Jika kau sebut namanya lagi terpaksa akan kubunuh dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab apa?" In Gok menyeringai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab tidak setimpal kau sebut namanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak In Gok tertawa terkekeh-kekeh, "Bukan namanya saja akan kusebut, bahkan ingin kutidur bersama dia, kau bisa apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka A Fei mendadak marah membara. Biasanya dia seorang tenang dan pendiam, hampir tidak pernah semurka ini. Tangan sampai gemetar saking gusarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan yang gemetar dengan sendirinya kurang mantap memegang pedang, tapi dia lupa, rasa murka telah membakar rasionya, dengan kalap pedangnya lantas menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama tangan iblis hijau juga mengebas, "tring", pedang patah menjadi dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahahaha!" In Gok tertawa latah. "Begini saja Lim Sian-ji bilang kepandaianmu sangat tinggi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gelak tertawanya In Gok menyerang belasan jurus sekaligus. Senjata berbentuk tangan itu sungguh sangat aneh, tampaknya sangat berat, tapi gerak-geriknya sangat lincah, jurus serangannya juga sangat aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sama sekali A Fei tidak mau menangkis, yang dipegangnya tertinggal pedang patah, terpaksa ia berusaha menghindar dengan langkah yang gesit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Gok menyeringai, "Jika kau mau menjawab pertanyaanku dengan jujur, dapat juga kuampuni jiwamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei mengertak giginya erat-erat, butiran keringat tampak menghiasi hidungnya. Dia tetap diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingin kutanya padamu, apakah Lim Sian-ji sering tidur dengan orang? Pernah dia tidur bersamamu tidak?" tanya In Gok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak A Fei meraung murka, pedang buntung yang dipegangnya menusuk pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tring", kembali terdengar suara nyaring, pedang kutung juga terpukul mencelat oleh tangan iblis hijau, A Fei sendiri juga tergetar roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepat kilat Jing-mo-jiu lantas menghantam pula, karena untuk berdiri saja tidak sempat, terpaksa A Fei bergulingan di tanah, setelah menghindar beberapa kali, akhirnya ia merasa kewalahan. Daya tekan Jing-mo-jiu sungguh terlalu kuat, terlalu menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayolah bicara, bila kau jawab pertanyaanku tadi segera kuampuni jiwamu!" In Gok menyeringai pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, kukatakan!" desis A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja In Gok terbahak-babak lagi, sedikit lengah, mendadak sinar pedang berkelebat. Selama hidup In Gok tidak pernah melihat sinar pedang secepat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia tahu apa yang terjadi, tahu-tahu pedang sudah menembus tenggorokannya, dia mengeluarkan suara "krak-krok", wajahnya penuh rasa takut dan sangsi, seperti mati pun tidak mau percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ajalnya ternyata dia tidak tahu dari mana datangnya tusukan pedang itu? Mati pun dia tidak percaya anak muda itu mampu melancarkan serangan secepat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dengan dua jari A Fei menjepit bagian pedang yang patah tadi, perlahan ia cabut ujung pedang yang menembus leher In Gok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit muka In Gok tampak berkejang dan mata mendelik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sorot mata dingin A Fei menatapnya dan berucap, "Barang siapa menghinanya harus mati!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerongkongan In Gok masih mengeluarkan suara "krak-krok", sampai mata alisnya juga berkerut-kerut, sebab ia masih ingin tertawa, tertawa yang menakutkan. Dengan tertawa dia ingin memberitahukan kepada A Fei bahwa "cepat atau lambat kau pun akan mati di tangan perempuan itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma sayang, perkataan itu tidak dapat lagi diucapkan selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Lim Sian-ji mendusin, segera dilihatnya sesosok bayangan sedang mondar-mandir di luar jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu orang ini tentu A Fei adanya, ingin masuk kamarnya, tapi khawatir membuatnya terjaga bangun. Jika In Gok, tentu dia takkan menunggu di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat bayangan orang ini, hati Sian-ji terasa sangat senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski In Gok terhitung seorang lelaki istimewa, juga sangat terkenal, lelaki demikian memang serbabaru dan sangat merangsang. Tapi tidak perlu disangsikan lagi A Fei terlebih menarik baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gembira Sian-ji berbaring di tempat tidurnya dan membiarkan A Fei menunggu sekian lama pula di luar, kemudian ia memanggilnya perlahan, "Apakah Siau Fei di luar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siau Fei" atau Fei cilik, sebutan yang hangat dan mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan A Fei lantas berhenti di balik jendela dan menjawab, "Ya, aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa engkau tidak masuk saja?" kata Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan A Fei mendorong, daun pintu lantas terpentang, ia berkerut kening. "Pintu tidak kau palang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lim Sian-ji menggigit bibir dan tertawa, "Ai, kulupa ... semuanya kulupakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak A Fei memburu ke depan tempat tidur dan memandang wajahnya dengan lekat-lekat, muka Sian-ji agak biru dan rada bengkak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka A Fei berubah, "Ada ... ada apa dengan kau?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menjawab dengan tersenyum genit, "Jika kurang tidur mukaku lantas bengkak, semalam ... semalam aku tidak dapat tidur ...." mukanya lantas merah, ia bersuara malu dan menutup mukanya dengan selimut, lalu berkata pula dengan tertawa, "Mengapa kau pandang orang cara demikian? Aku ... aku tidak dapat tidur, tentu ... tentu kau pikirkan hal yang tidak-tidak lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei jadi terkesima, hatinya kembali cair. "Dan engkau bagaimana? Dapat kau tidur dengan baik?" tanya Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pun tidak dapat tidur dengan nyenyak," tutur A Fei. "Ada seekor anjing gila menggonggong sepanjang malam di luar kamarku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anjing gila?" Sian-ji terbelalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehm, sudah kubinasakan anjing gila itu dan kubuang ke sungai," tutur A Fei pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah tiba-tiba di luar ada suara orang mengetuk sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei mengintip ke luar, dilihatnya pelayan berdiri di halaman dan sedang memukul tempat air teh sambil berseru, "Dengarkan para tamu, bilamana tuan-tuan ingin mendengarkan berita dunia Kangouw yang menggemparkan dan peristiwa besar yang terjadi di dunia persilatan akhir-akhir ini, disilakan datang ke ruangan makan, baru saja datang Sun-siansing dari daerah selatan, beliau akan mulai bercerita tepat pada waktu tengah hari nanti, dijamin pasti mengasyikkan dan menegangkan, pasti berita baru yang belum tuan-tuan ketahui, pada kesempatan itu tuan-tuan sekaligus dapat bersantap dan minum arak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menutup kembali daun jendela dan menggeleng kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau tidak mau mendengarkan?" tanya Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," jawab A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi aku ingin mendengarkannya, apalagi kita juga harus makan siang," kata Sian-ji pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tertawa, "Tampaknya cara si pelayan meramaikan rumah makannya memang sangat pintar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji lantas menyingkap selimut dan bermaksud bangun, tapi mendadak ia bersuara kaget dan mengkeret lagi ke dalam selimut, dengan muka merah ia berseru, "He, kau jahat, ayolah lekas ... lekas ambilkan pakaianku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka A Fei juga merah, jantung berdebar karena melihat tubuh yang bugil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tertawa mengikik dan berseru pula, "Berpaling ke sana, tidak boleh mengintip."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menghadap dinding, jantung serasa mau melompat keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan makan sudah hampir penuh, cerita dunia Kangouw selalu merangsang setiap peminat, siapa pun ingin mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada meja yang berdekatan dengan jendela berduduk seorang tua berbaju panjang warna biru, rambut beruban, asyik udut dengan pipa tembakau panjang dengan mata terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelahnya berduduk seorang nona yang masih sangat muda, rambut dikepang menjadi kucir panjang, matanya besar, hitam gilap, kerlingannya bisa menghanyutkan sukma setiap lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu A Fei dan Sian-ji masuk ke situ, pandangan setiap orang sama terbeliak, si nona berkucir juga lantas menatapnya tanpa berkedip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji meliriknya sekejap, tiba-tiba ia mendesis kepada A Fei, "Coba lihat sinar matanya, hati-hati, jangan sampai engkau kecantol olehnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja mereka minta beberapa macam makanan, terdengar si kakek berdehem beberapa kali, ia mengetuk pipa tembakaunya di atas meja, lalu berkata, "Hong-ji, sudah waktunya, bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, sudah," jawab si nona berkucir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kakek lantas membentangkan matanya, meski orangnya kelihatan tua renta, tapi sinar matanya masih tajam, sekali menyapu pandang, para tamu merasa dirinya yang lagi ditatap olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tertawa dan berbisik, "Sun-losiansing ini tidak mirip seorang pengelana, tampaknya cuma sekadar cari makan saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski suara ucapannya sangat lirih, namun si kakek she Sun itu seperti dapat mendengarnya, sinar matanya menyapa sekejap ke arah Sian-ji, ujung mulutnya menampilkan secercah senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si nona berkucir lantas mendekatkan semangkuk teh kepada si kakek, lebih dulu kakek itu minum dua-tiga ceguk teh mangkuk itu, lalu mulai berkisah, "Bwe-hoa-cat berbuat macam-macam kejahatan, Tamhoalong, mengutamakan setia kawan dan mengorbankan harta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya itulah judul ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhenti sejenak dan menyapa pandang para tamu, lalu bertanya, "Apakah hadirin tahu siapa kedua orang yang kumaksudkan ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sendirinya si nona berkucir tahu pertanyaan si kakek tidak sungguh-sungguh ditujukan kepada para tamu melainkan cuma ingin mencari seorang penanggap saja. Maka dia lantas menggoyangkan kedua kucirnya, ucapnya dengan menggeleng, "Siapakah kedua orang itu? Rasanya tidak perih terdengar cerita tentang mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-losiansing tertawa dan berucap pula, "Ah, jika begitu, jelas kau ini sedikit pengetahuan dan kurang pengalaman. Mengenai kedua orang ini, mereka sungguh sangat ternama. Selama beberapa puluh tahun ini Bwe-hoa-cat hanya muncul dua kali, meski cukup dua kali saja, namun perkara yang dilakukan oleh beratus orang gagah di lembah kedua Sungai Besar kalau dijumlahkan tetap tidak sebanyak perkara yang diperbuatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si nona berkucir menjulur lidah, ucapnya dengan berlagak kaget, "Wah, lihai amat .... Dan siapa lagi Tamhoalong yang dimaksudkan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang ini adalah keturunan keluarga hartawan dan berpangkat, boleh dikatakan sangat terhormat dan disegani. Dari ketiga angkatan tua leluhurnya, tujuh kali mendapat gelar Cinsu, sayangnya cuma tidak pernah lulus ujian Conggoan (gelar tertinggi ilmu kesusastraan). Sampai pada angkatan Li-tamhoa tua, beliau hanya mempunyai dua orang putra. keduanya bahkan jauh lebih cerdas daripada leluhurnya, harapan orang tua benar-benar tertumpu atas diri kedua putra kesayangan ini semoga mereka berhasil lulus ujian Conggoan untuk memenuhi kekurangan keluarga Li selama ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gelar Tamhoa juga sudah cukup lumayan, kenapa mesti mengharapkan Conggoan segala?" ujar si nona dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin sudah nasib, Li-kongcu besar juga cuma mendapatkan gelar Tamhoa saja, dengan sendirinya ayah dan anak merasa kurang puas, harapan mereka sekarang hanya terletak kepada Li-kongcu kecil saja," tutur kakek Sun lebih lanjut. "Siapa tahu takdir memang tidak dapat dipaksa, Li-kongcu kecil yang sangat cerdas ini akhirnya juga cuma lulus sebagai Tamhoa saja. Keruan Li-tamhoa tua sangat kecewa, tidak sampai dua tahun beliau lantas meninggal. Menyusul Li-kongcu besar juga terkena penyakit yang tak tersembuhkan. Dengan sendirinya Li-kongcu kecil ini juga putus asa dan berduka, ia terus mengundurkan diri dari jabatannya dan tirakat di rumah, harta benda tidak terpandang lagi olehnya, banyak dia mengikat persahabatan, luhur budi dan keterbukaan tangannya sungguh sukar ditandingi sosiawan mana pun baik zaman dahulu maupun masa kini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus dia mencerocos sampai di sini baru berhenti dan menghirup lagi seceguk air teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergolak darah A Fei mendengarkan cerita itu, ada orang memuji kehebatan Li Sun-hoan, baginya jauh lebih gembira daripada orang memuji dia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didengarnya kakek Sun itu bercerita pula, "Tamhoalong kecil ini memang sangat banyak mendapat ajaran orang kosen dan menguasai Kungfu mahalihai."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4537347065284875195-362991683530176607?l=cerita-silat-clasic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/feeds/362991683530176607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4537347065284875195&amp;postID=362991683530176607&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/362991683530176607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/362991683530176607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/2009/02/pendekar-budiman-9.html' title='Pendekar Budiman 9'/><author><name>Taviv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09431956148586873513</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q0YVGe00Snk/SX_O-ytuR-I/AAAAAAAAANA/cAjoAQf6lAU/S220/My+Son.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4537347065284875195.post-5400766898820452475</id><published>2009-02-02T18:03:00.001+07:00</published><updated>2009-02-02T18:06:06.916+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendekar Budiman'/><title type='text'>Pendekar Budiman 8</title><content type='html'>Karya : Gu Long&lt;br /&gt;Disadur Oleh : Gan KL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kau pun tidak mati sebab kau benar telah mengalah tiga jurus padaku dan tidak ingkar janji," kata A Fei pula. Tiba-tiba ia tertawa dan menyambung, "Sedikitnya engkau terlebih hebat daripada Sim-bi Hwesio."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, Sim-bi menyatakan takkan melukai A Fei asalkan anak muda itu mampu menerjang keluar kepungan Lo-han-tin, tapi akhirnya A Fei toh dilukainya juga. Pelajaran ini takkan dilupakan A Fei untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan napas tersengal tiba-tiba Thi-tiok Siansing berkata, "Dan masih ada dua jurus lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih ada dua jurus lagi?" A Fei menegas dengan heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuatnya Thi-tiok Siansing menahan rasa sakitnya dan menjawab, "Ya, bukankah kuberi tiga jurus serangan padamu dan engkau baru menyerang satu kali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi A Fei membalik tubuh dan menatapnya lekat-lekat, sampai lama sekali baru dia berkata, "Baik!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan tangannya lantas memukul lagi dua kali di dada Thi-tiok Siansing, katanya, "Sekarang sudah genap tiga jurus...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah, mendadak terdengar suara "cring" yang ramai, berpuluh bintik perak menyambar keluar dari seruling besi yang dipegang Thi-tiok Siansing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuatnya A Fei berjumpalitan ke belakang hingga lebih dua tombak jauhnya, waktu turun ke bawah, ia tidak sanggup berdiri tegak lagi, kaki terasa lemas dan terduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka Thi-tiok Siansing yang pucat itu timbul cahaya merah, ucapnya dengan napas terengah, "Hari ini dapat kubelajar sesuatu hal, yakni tidak boleh sok memberi tiga jurus serangan kepada orang. Engkau juga mendapat satu pelajaran, yaitu, bilamana mau menyerang, harus sekali serang membuat roboh lawan, kalau tidak, lebih baik jangan kau serang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei mengertak gigi sambil memandang bintik perak yang menancap pada kakinya, ucapnya sekata demi sekata, "Ya, kejadian ini pasti takkan kulupakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah, boleh kau pergi!" ujar Thi-tiok Siansing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi A Fei bicara, terdengar suara orang berlari datang. Suara seorang sedang berseru, "Thi-locianpwe, apakah engkau berhasil?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lekas pergi!" desis Thi-tiok Siansing. "Aku tidak sanggup lagi membunuhmu, tapi juga tidak ingin kau mati dibunuh orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera A Fei menjatuhkan diri dan menggelinding beberapa tombak ke sana. Meski kakinya tidak dapat berjalan, tapi kedua tangannya masih sangat kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia pun tahu dirinya takkan jauh, tanah bersalju yang putih itulah merupakan maut baginya, betapa pun ia tidak sanggup menghapus jejaknya sendiri yang tertinggal di atas salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat atau lambat Dian Jit dan begundalnya pasti akan menyusulnya. Apalagi sekarang dirasakannya darah bergolak dalam rongga dadanya, meski dia bertahan sekuatnya, akhirnya darah pasti juga akan tertumpah ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa dikejar musuh juga dia merasa takkan tahan lama, ia hanya berharap dapat bertemu dengan Li Sun-hoan untuk penghabisan kalinya, untuk memberitahukan kepadanya bahwa dia telah berusaha sepenuh tenaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah sesosok bayangan telah menubruk ke arahnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam rumah itu hanya menyala sebatang lilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya lilin menyinari wajah Li Sun-hoan yang pucat bersemu merah penyakit, dia terbatuk-batuk tiada berhenti, hampir saja tidak dapat bernapas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liong Siau-hun memandangnya dengan diam, ditunggunya setelah batuknya mereda barulah disodorkannya secawan arak ke tepi mulutnya dan dituangkan perlahan ke dalam mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis minum secawan arak, tertawalah Sun-hoan, katanya, "Toako, coba lihat, setetes saja tidak tercecer. Biarpun aku digantung terjungkir, jika ada orang melolohi aku minum arak, pasti juga takkan tercecer setitik pun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liong Siau-hun ingin tertawa, tapi urung, ucapnya dengan sedih, "Mengapa tidak kau biarkan kubuka Hiat-tomu yang tertutuk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, jawabnya, "Aku ini seorang yang tidak tahan godaan, bilamana kau buka Hiat-toku, bisa jadi segera kukabur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang mereka tidak... tidak berada di sini, jika... jika kau mau...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat Sun-hoan memotong ucapan Siau-hun, "Toako, masa sampai saat ini belum lagi kau paham maksudku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kupaham," ujar Siau-hun dengan menyesal, "cuma...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, kutahu apa yang hendak kau katakan lagi," tukas Sun-hoan dengan tertawa. "Namun sesungguhnya engkau tidak berbuat salah apa pun padaku. Kau pindahkan diriku ke sini dari gudang kayu yang pengap itu, apalagi kau sediakan arak pula bagiku, semua ini kurasakan tidaklah sia-sia persaudaraan kita selama ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siau-hun menunduk dan terdiam sampai lama, ucapnya kemudian dengan rawan, "Dan besok... besok juga engkau akan pergi, aku...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan sekali-kali kau antar keberangkatanku," tukas Sun-hoan, "Selamanya aku tidak suka diantar juga tidak suka mengantar. Sebab terasa muak bilamana kulihat orang yang mengantar itu bermuka sedih seperti kematian ibunda sayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia tertawa dan menyambung pula, "Pula kepergianku ini juga takkan lama, bisa jadi cuma beberapa hari saja akan kembali lagi ke sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah mendadak seorang menyambung, "Jelas kalian tahu kepergiannya ini pasti takkan kembali lagi untuk selamanya, mengapa kalian masih juga menipu dirinya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan tampak Lim Si-im melangkah masuk, wajahnya yang cantik kelihatan sudah banyak lebih kurus lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata Sun-hoan lantas menampilkan rasa pedih, namun sedapatnya dia tertawa dan berkata, "Kenapa aku takkan kembali lagi? Kalian adalah sahabatku yang paling baik, aku tentu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im tidak membiarkan dia menyelesaikan ucapannya, dengan ketus ia memotong, "Siapa sahabat baikmu? Di sini pada hakikatnya tidak ada sahabatmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak ia menuding Liong Siau-hun dan berkata pula, "Memangnya kau kira dia sahabatmu? Jika dia sahabatmu, tentu dia melepaskan kau pergi dengan segera."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat Siau-hun menjelaskan, "Namun dia tidak...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia tidak mau pergi, sebab dia takut membikin susah padamu," tukas Si-im. "Tapi mengapa tidak kau lepaskan dia? Pergi atau tidak adalah urusannya, melepaskan dia atau tidak adalah urusanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu jawaban Siau-hun, segera ia berlari pergi tanpa menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak Siau-hun berdiri dan berseru dengan suara parau, "Ucapannya memang betul, apakah kau mau pergi atau tidak harus kubebaskan dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sun-hoan bergelak tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siau-hun melengak, tanyanya kemudian, "Apa... apa yang kau tertawakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bilakah kau tunduk kepada perintah orang perempuan?" seru Sun-hoan. "Liong Siau-hun yang menjadi sahabatku adalah seorang lelaki sejati, seorang jantan, bukan pengecut yang takut bini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siau-hun mengepal tinjunya erat-erat, air mata pun bercucuran, katanya dengan terputus-putus, "Saudaraku, engkau... engkau teramat baik padaku, sungguh... sungguh aku tidak tahu cara bagaimana membalas kebaikanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru ada suatu urusan ingin kuminta pertolonganmu," kata Sun-hoan tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak Siau-hun memegang pundak Sun-hoan dan berseru, "Urusan apa? Katakan saja, lekas katakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"A Fei, pemuda yang datang kemarin itu, tentunya Toako masih ingat padanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja ingat," sahut Siau-hun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila dia mengalami sesuatu bahaya, kumohon Toako suka membantunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Siau-hun mengendurkan pegangannya, lalu menghela napas panjang, ucapnya, "Dalam keadaan demikian masih juga kau pikirkan dia, masa tidak pernah kau pikirkan dirimu sendiri?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku cuma ingin jawabanmu, menyanggupi tidak permintaanku?" tanya Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja kuterima permintaanmu," jawab Siau-hun. "Cuma, mungkin takkan kutemui dia lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan melengak, "Sebab apa? Masakah dia...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan kau lihat sendiri dia telah pergi kemarin, mana bisa dia datang lagi?" ujar Siau-hun dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menghela napas, katanya, "Aku pun berharap dia jangan datang lagi. Cuma, dia pasti akan datang pula."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika dia akan datang menolongmu, mengapa sampai saat ini belum tampak muncul?" ujar Siau-hun, ia menghela napas gegetun, lalu menyambung, "Saudaraku, engkau selalu berbudi luhur kepada orang lain. Tapi, orang lain belum tentu berbuat sama terhadapmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, "Cara bagaimana dia terhadapku adalah urusannya, namun tetap kuminta kepada Toako, selanjutnya bilamana kau lihat dia di mana pun, janganlah kau lupa bahwa dia adalah sahabatku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, sahabatmu juga sama dengan sahabatku," jawab Siau-hun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu tiba-tiba ada orang memanggil di luar sana, "Liong-siya... Liong-siya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siau-hun berbangkit, tapi lantas berduduk pula dan berkata, "Saudaraku, engkau...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, "Arak pun sudah cukup kuminum, silakan kau pergi saja. Cuma harus selalu kau ingat, janganlah esok pagi kau ikut mengantar kepergianku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Siau-hun melangkah pergi, tapi begitu keluar pintu, seketika langkahnya dipercepat. Dilihatnya Dian Jit berdiri di bawah bayang-bayang pohon sana dan sedang menggapai padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah cepat ia mendekat ke sana, tanyanya dengan suara tertahan, "Bagaimana, berhasil?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," jawab Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berubah air muka Liong Siau-hun, "Tidak berhasil? Kalian belasan orang, ditambah Sim-bi Taysu dan Thi-tiok Siansing, masa tidak mampu menghadapi seorang anak muda?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi anak muda ini benar-benar teramat lihai," ujar Dian Jit sambil menyengir. "Bahkan boleh dikatakan rada menakutkan. Mendingan cuma Tio-lotoa saja yang dilukainya, sekarang Thi-tiok Siansing juga terluka oleh pedangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang-ulang Liong Siau-hun mengentak kaki, katanya, "Memang sudah kuduga bocah itu tidak dapat dipandang enteng, kalian justru bilang Thi-tiok Siansing pasti dapat mengatasi dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski dia dapat lolos, tapi tetap terkena suatu pukulan Sim-bi Taysu." tutur Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika demikian, tentu dia tak bisa kabur, mengapa tidak kalian kejar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang Siau-lim-si sudah mengejarnya," sahut Dian Jit. "Aku sengaja kemari untuk memberitahukan padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, coba kulihat ke sana. Perintahkan orang berjaga di sini," kata Siau-hun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah sana ada sebuah gunung-gunungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja mereka pergi, dari balik gunung lantas muncul sesosok bayangan orang serupa badan halus. Matanya yang jeli itu memancarkan rasa kejut dan curiga, juga penuh rasa duka dan murka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemetar sekujur badannya dengan air mata bercucuran. Sungguh tak disangkanya suami sendiri adalah seorang khianat penjual sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remuk redam hati Si-im. Dia menangis perlahan, lalu seperti mengambil sesuatu keputusan dengan tekad penuh, segera ia melangkah ke rumah tempat Sun-hoan ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, didengarnya suara langkah orang berlari datang, cepat Si-im menyelinap lagi ke balik bayang-bayang gunung buatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit berlari tiba dengan membawa tujuh atau delapan lelaki kekar berpakaian ringkas, dengan suara tertahan ia memberi perintah, "Jaga pintu ini, siapa pun dilarang masuk. Yang melanggar boleh dibunuh saja tanpa perkara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya Dian Jit sendiri terburu-buru ingin ikut mengejar A Fei, maka cepat ia melayang pergi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera para penjaga itu memasang panah dan menarik busur, siap berjaga di luar pintu dan jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im menggigit bibir dengan erat sehingga berdarah. Ia menyesal pada dirinya sendiri mengapa meremehkan ilmu silat, tidak mau giat berlatih Kungfu, sebab dia menganggap banyak urusan di dunia ini tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekarang dia menyadari banyak persoalan yang mau tidak mau harus diselesaikan dengan kekerasan. Seketika ia pun tidak mendapat akal untuk masuk ke dalam rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba didengarnya suara orang bernapas agak terengah, sesosok bayangan muncul dari depan sana, langkah orang ini tampak kurang mantap, namun cukup cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Si-im mengenalnya sebagai Thi-tiok Siansing yang baru tiba siang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didengarnya Thi-tiok Siansing sedang menegur para penjaga, "Apakah orang she Li itu dikurung di dalam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penjaga itu saling pandang, lalu seorang menjawab, "Entah, kami pun tidak jelas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, minggir, biar kumasuk dan melihatnya sendiri," kata Thi-tiok Siansing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut perintah Dian-jitya, siapa pun dilarang masuk," kata orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dian Jit maksudmu?" Thi-tiok Siansing menegas dengan gusar. "Huh, Dian Jit itu orang macam apa? Apakah kalian kenal siapa diriku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjaga itu memandang tubuh Thi-tiok Siansing yang berlepotan darah, lalu menjawab, "Tapi siapa pun dilarang masuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik," kata Thi-tiok Siansing, mendadak ia angkat tangannya, "tring", setitik sinar perak menyambar ke depan dan ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Li Sun-hoan sedang memejamkan mata seperti tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong didengarnya suara jeritan ngeri, suaranya tidak keras, bahkan sangat singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu hanya pada saat tenggorokan seorang tertembak oleh semacam Am-gi atau senjata rahasia yang kecil barulah tidak sempat mengeluarkan suara jeritan keras. Kejadian ini sudah terlalu banyak dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkerut kening, pikirnya, "Masakah ada orang datang hendak menolongku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian lantas dilihatnya seorang berjubah hijau dengan tangan memegang seruling besi melangkah masuk ke situ, mukanya tampak pucat, tapi beringas penuh nafsu membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata Sun-hoan berhenti pada seruling yang dipegang orang, ucapnya, "Thi-tiok Siansing?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thi-tiok Siansing tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya, "Hiat-tomu tertutuk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, "Dari arak yang terletak di depanku dan tidak kuminum, tentu dapat kau duga aku pasti tidak dapat bergerak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika sama sekali tidak ada tenagamu untuk melawan, mestinya tidak dapat kubunuh dirimu, tapi mau tidak mau harus kubunuh kau," kata Thi-tiok Siansing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo?" Sun-hoan bersuara singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak kau tanya sebab apa hendak kubunuh dirimu?" ucap Thi-tiok Siansing dengan melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Sun-hoan tertawa, katanya, "Jika kutanya, mungkin kau akan murah, lalu hendak kuberi penjelasan padamu, dan kau pasti juga tidak percaya dan tetap akan membunuhku. Nah, untuk apa aku banyak omong?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thi-tiok Siansing melengak, mendadak ia berseru, "Betul, tak peduli apa keteranganmu tetap akan kubunuh dirimu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tersembul perasaan menderita pada wajahnya, keluhnya dengan suara parau, "O, Ju-hi sayang, betapa mengenaskan kematianmu, akhirnya dapatlah kubalaskan sakit hatimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan seruling besinya diangkat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menghela napas, gumamnya, "O, Ju-ih, bilamana kau lihat diriku tentu engkau akan kaget sekali, sebab engkau tidak kenal padaku dan aku pun tidak kenal padamu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah mendadak Lim Si-im menerobos masuk sambil berseru, "Nanti dulu, aku ingin bicara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terkejut Thi-tiok Siansing berpaling, serunya, "Hujin, kiranya kau? Hendaknya jangan kau rintangiku, siapa pun tidak boleh merintangiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelam wajah Si-im, katanya, "Aku tidak ingin merintangimu, tapi ini kan rumahku, ingin membunuh kan harus juga kuturun tangan lebih dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau pun hendak membunuh dia? Sebab apa?" tanya Thi-tiok Siansing sambil berkerut kening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alasanku untuk membunuhnya jauh lebih kuat daripada alasanmu," kata Si-im. "Kau cuma hendak membalas dendam bagi gundikmu, tapi aku ingin menuntut balas bagi putraku, sebab... sebab aku hanya mempunyai seorang anak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik ucapannya itu dia seakan-akan hendak bilang, "Dan gundikmu kan tidak cuma satu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thi-tiok Siansing termenung agak lama, katanya kemudian, "Baik, setelah kau turun tangan baru aku akan bertindak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia percaya kepada kelihaian seruling sendiri, biarpun menyerang lebih belakangan juga pasti akan mencapai sasaran lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu, ketika Si-im berlalu di depannya, mendadak tangannya membalik dan tepat menghantam dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ilmu silat Lim Si-im tidak tinggi, tapi ia pun bukan perempuan yang lemah, apalagi pukulan ini menggunakan segenap tenaganya, Thi-tiok siansing sendiri tidak berjaga-jaga, keruan ia terpukul hingga terpental dan menumbuk dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklumlah, luka Thi-tiok memang cukup parah, jika dia masih mau menuntut balas pada Li Sun-hoan, yang diandalkan cuma senjata rahasia di dalam serulingnya. Sekarang dadanya kena digenjot Si-im, luka lama kambuh kembali, segera darah tertumpah, orangnya juga lantas jatuh kelengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Si-im berguncang hebat, hampir saja ia pun roboh pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tahu selama hidup Si-im sangat lemah lembut, ibaratnya seekor semut saja tidak pernah diinjaknya. Sekarang perempuan yang berhati lembut ini ternyata dapat menyerang orang, sungguh tidak keruan perasaan Sun-hoan, entah pilu entah girang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan keraskan hati ia lantas menjengek, "Hm, untuk apa lagi kau kembali ke sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im menarik napas dalam-dalam untuk menghentikan gemetar badannya, lalu menjawab, "Kudatang lagi untuk melepaskan dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menghela napas, "Masa belum kau dengar jelas ucapanku tadi? Sekali kubilang tidak mau pergi, betapa pun tetap tidak mau pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kutahu, demi Siau-hun engkau tidak mau pergi," seru Si-im. "Tapi apakah kau tahu dia... dia...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak ia bergemetar lagi terlebih hebat daripada tadi, sekuatnya ia berseru pula, "Dia... dia telah mengkhianatimu, dia berkomplot dengan mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis berucap demikian, ia kehabisan tenaga dan jatuh terkulai. Ia mengira Li Sun-hoan pasti akan terkejut demi mendengar keterangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun tidak menduga Sun-hoan tetap tenang saja tanpa memberi reaksi apa pun, sebaliknya ia malah tertawa, ucapnya dengan tawar, "Mungkin kau salah paham, mana bisa dia menjual diriku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuatnya Si-im memegang meja sehingga cangkir di atas meja sama berdenting, serunya dengan suara parau, "Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kudengar dengan telingaku sendiri!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin kau salah lihat, juga salah dengar," kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa... masa sampai sekarang engkau tetap tidak percaya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kukira engkau terlalu letih sehingga banyak bekerja salah," kata Sun-hoan dengan suara halus. "Pergilah tidur, besok tentu akan kau ketahui suamimu adalah seorang lelaki yang dapat dipercaya sepenuhnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im memandangnya dengan sorot mata yang guram, sampai sama sekali ia pandang Sun-hoan, mendadak ia mendekap di atas meja dan menangis tergerung-gerung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan memejamkan mata, seakan-akan tidak tega memandangnya, ucapnya dengan parau, "Untuk apa kau...." belum lanjut ucapannya darah segar lantas tersembur dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im tidak sanggup menahan dirinya lagi, perasaan yang tertekan selama sepuluh tahun ini serupa gunung api yang meletus. Dengan terhuyung-huyung ia menubruk ke arah Sun-hoan ambil berteriak, "Jika engkau tidak pergi, biarlah kumati di depanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menggereget dan berucap sekata demi sekata, "Engkau mau mati atau akan hidup, sangkut paut apa denganku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong Si-im menatapnya dengar mata terbelalak, teriaknya dengan terputus-putus, "Kau... kau...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali mengucap "kau", setiap kali pula menyurut mundur selangkah. Mendadak ia merasa dirinya terjatuh dalam pangkuan seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Liong Siau-hun sudah berdiri di situ dengan wajah kelam. Ia rangkul pundak Si-im dengan erat, seakan-akan khawatir bilamana pegangannya mengendur, segera Si-im akan memberosot dan lenyap dari pegangannya dan takkan kembali lagi untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im dapat melihat tangan Siau-hun, mendadak ia dapat menenangkan diri, ucapnya dengan dingin, "Singkirkan tanganmu, selanjutnya jangan kau sentuh diriku lagi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Siau-hun mendadak berkerut-kerut, seperti kena dicambuk orang satu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia melepaskan pegangannya dengan perlahan, ia pandang Si-im dengan tajam, katanya, "Jadi semuanya telah kau ketahui?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di dunia ini tidak ada sesuatu yang mutlak dapat mengelabui orang selamanya," sahut Si-im dengan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telah... telah kau beri tahukan padanya semuanya?" tanya Siau-hun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sun-hoan tertawa, katanya, "Padahal tidak perlu dia memberitahukan padaku juga sudah lama kuketahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tadi Siau-hun seperti tidak berani beradu pandang dengan Sun-hoan, baru sekarang mendadak ia mengangkat kepala dan menegas, "Sudah lama kau tahu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehm," Sun-hoan mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bilakah engkau tahu?" tanya Siau-hun pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menghela napas, "Pada saat kau pegang tanganku sehingga Dian Jit sempat merobohkan diriku. Cuma... cuma, meski kutahu tetap tidak kusalahkan kau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siau-hun mengepal kedua tinjunya sehingga urat hijau sama menonjol di punggung tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika... jika kau tahu, mengapa... mengapa tidak kau katakan?" seru Si-im dengan suara gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tersenyum hambar, "Mengapa harus kukatakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im menatapnya lekat-lekat, kembali tubuhnya bergemetar pula, serunya, "Sengaja tidak kau katakan, apakah... apakah demi diriku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Demi dirimu?" tukas Sun-hoan dengan kening bekernyit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau khawatir aku akan berduka bila mengetahui hal ini, engkau tidak mau membikin berantakannya rumah tanggaku, sebab... sebab rumah ini sebenarnya memang milikmu, engkau...." ia tidak sanggup melanjutkan, sebab air matanya lantas berderai sebagai hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sun-hoan bergelak tertawa, "Hahahaha! Mengapa orang perempuan suka menghibur dirinya sendiri secara demikian? Bahwa aku tidak bicara adalah karena tidak ada gunanya meski kukatakan. Bahwa aku tidak mau pergi adalah karena kutahu dia pasti takkan membiarkan kupergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih terus tertawa dan juga terbatuk-batuk, mendadak air matanya bercucuran, entah mengucurkan air mata karena tertawa atau karena batuknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pedih Si-im berucap, "Dan sekarang apa yang kau katakan toh tidak ada persoalan lagi, sebab aku kan sudah tahu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sun-hoan berhenti tertawa dan berteriak dengan bengis, "Kau tahu? Kau tahu apa? Apakah kau tahu perbuatan Liong Siau-hun ini demi siapa? Apakah kau tahu yang ditakuti dia justru adalah karena khawatir kubikin rumah tangga kalian pecah berantakan, makanya dia berbuat demikian? Soalnya dia memandang rumah tangganya jauh lebih penting daripada segalanya, juga memandang dirimu jauh lebih penting daripada apa pun...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im menatapnya dengan terbelalak, mendadak ia pun terbahak-bahak dengan parau, "Hahaha, dia telah membikin susah padamu, tapi engkau malah membelanya. Haha, bagus, bagus! Engkau memang seorang kawan sejati. Tapi apakah kau tahu aku juga manusia.... Apa anggapanmu terhadapku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara sampai di sini, suaranya menjadi parau dan terputus-putus, entah masih tertawa atau sedang menangis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Sun-hoan terbatuk-batuk dengan hebat, darah pun merembes keluar dari ujung mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siau-hun menatapnya dengan tajam, ucapnya kemudian dengan serak, "Perkataanmu memang tidak salah, memang betul demi rumah tanggaku ini, demi putraku, kehidupan kami semula baik-baik, tenang dan bahagia, tapi kedatanganmu telah... telah mengubah segalanya...." mendadak ia meraung kalap, "Mestinya aku majikan rumah ini, tapi dengan kedatanganmu, segera kurasakan diriku ini cuma bertamu saja di sini. Mestinya aku mempunyai seorang putra kesayangan, lantaran kedatanganmu dia menjadi cacat selama hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyesal Sun-hoan menjawab, "Ucapanmu memang betul, aku memang... memang seharusnya tidak perlu datang kemari!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Siau-hun merangkul lagi Si-im erat-erat dan berteriak dengan parau, "Akan tetapi yang lebih penting, demi dirimu, aku tak dapat kehilangan dirimu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum habis ucapannya, bercucurlah air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im memejamkan matanya, air matanya menitik dari ujung matanya serupa butiran mutiara, ucapnya. "Bilamana ada setitik saja kau pikirkan diriku, tentu tidak perlu engkau bertindak demikian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pun tahu tidak pantas bertindak demikian, tapi aku... sungguh aku takut," ratap Siau-hun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau takut apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kutakut kehilangan dirimu, kutakut ditinggal dikau!" seru Siau-hun dengan suara parau. "Sebab biarpun tidak kau katakan juga kutahu engkau tidak... tidak pernah melupakan dia, maka kutakut engkau akan kembali lagi kepadanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Si-im berjingkrak dan berteriak, "Singkirkan tanganmu! Bukan saja tanganmu kotor, hatimu juga kotor! Memangnya kau anggap aku ini orang macam apa? Dan kau pandang dia orang macam apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus menjatuhkan diri ke lantai sambil meratap, "O, masa engkau sudah melupakan diriku... betapa pun aku adalah istrimu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siau-hun berdiri kaku seperti patung, hanya air matanya yang masih terus mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan memandang mereka dengan rawan, gumamnya, "Salah siapakah ini?... Sesungguhnya siapa yang bersalah?...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain, A Fei merasa seperti berbaring di dalam gumpalan awan, tubuh terasa lemas dan melayang-layang di tengah semacam bau harum yang sedap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah mendusin, tapi rasanya seperti dalam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mimpinya juga selalu ditemui salju, ladang belukar, binatang buas dan serentetan bencana dan penderitaan yang tak habis-habis....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau sudah mendusin?" demikian terdengar seorang menegurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya begitu halus, begitu lembut dan penuh perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu A Fei membentang matanya, dilihatnya raut wajah yang sangat cantik dengan senyuman yang lembut dan menarik, kerlingan matanya membawa perasaan cinta kasih yang amat mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah yang cantik ini hampir serupa wajah ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih ingat waktu kecilnya, ketika dia sakit, sang ibu juga duduk di sampingnya dan menjaganya dengan lembut seperti wajah yang cantik ini. Cuma hal ini sudah terjadi lama sekali sehingga hampir dilupakan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera ia meronta-ronta hendak turun dari tempat tidur sambil berseru, "He, tempat apakah ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi baru saja ia berduduk, segera ia rebah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut Lim Sian-ji membetulkan selimutnya dan berucap, "Jangan kau tanya tempat apakah ini, anggaplah sebagai rumahmu sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rumahku?" A Fei menegas. Selamanya ia tidak paham apa artinya "rumah". Sebab dia tidak pernah punya rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lim Sian-ji tersenyum manis, katanya, "Kukira rumahmu pasti sangat hangat dan bahagia, engkau pasti mempunyai seorang ibu yang baik, beliau tentu sangat lembut, sangat cantik, dan juga sangat sayang padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei termenung, entah selang berapa lama barulah ia berucap dengan perlahan, "Tapi aku tidak punya rumah, juga tidak punya ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tercengang, katanya, "Namun... namun waktu engkau tidak sadar, berulang kali engkau menyebut namanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada waktu berumur tujuh, beliau sudah meninggal," ucap A Fei tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, namun begitu matanya tertampak sudah basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menunduk, "Maaf, tidak... tidak seharusnya kusinggung hal yang dapat menyedihkan hatimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terdiam sejenak, tiba-tiba A Fei bertanya, "Engkau yang menolong diriku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu itu engkau jatuh pingsan, maka untuk sementara kubawa dirimu ke sini, hendaknya engkau merawat lukamu dengan tenteram, pasti takkan ada orang berani menerobos ke sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah A Fei yang dingin itu tiba-tiba dirangsang emosi, ucapnya dengan tersendat, "Sekarang aku telah utang jiwa padamu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, engkau tidak utang apa-apa kepadaku," ucap Sian-ji dengan lembut. "Jangan lupa, jiwaku ini juga kau selamatkan tempo hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menghela napas panjang, ucapnya, "Mengapa engkau menolong diriku? Mengapa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji memandangnya dengan termangu, tanpa terasa tangannya terjulur dan meraba wajahnya, katanya dengan lembut, "Sekarang jangan kau pikirkan apa pun, kelak... kelak akan kau ketahui apa sebab apa kuselamatkan engkau dan mengapa kuberbuat begini padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya begitu halus dan lunak seperti tak bertulang, terasa hangat pula. Wajahnya yang cantik bersemu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tidak berani memandangnya, ia memejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatinya sebenarnya sekeras baja, tapi sekarang entah mengapa, sampai lubuk hatinya yang paling dalam juga berguncang, laksana air telaga yang tenang mendadak bergelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pernah terpikir olehnya bahwa hatinya juga mempunyai perasaan demikian. Tapi dia tetap memejamkan mata dan berkata, "Sudah waktu apa sekarang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum lewat tengah malam," jawab Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei meronta bangun berduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hen... hendak ke mana kau?" tanya Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak boleh kubiarkan Li Sun-hoan dibawa pergi mereka," seru A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi dia sudah dibawa pergi," tutur Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bluk", A Fei menjatuhkan diri ke ranjang dengan air keringat bercucuran, ucapnya, "Kau bilang saat ini belum lagi lewat tengah malam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang memang belum lewat tengah malam, namun Li Sun-hoan sudah dibawa pergi pagi kemarin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi kemarin?" A Fei menegas. "Masa sudah sehari semalam aku tidak sadar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Sian-ji mengusap keringat di dahinya dengan sepotong saputangan berwarna jambon, katanya, "Lukamu sangat parah, selain dirimu mungkin tidak ada yang tahan. Maka engkau harus menurut perkataanku, istirahatlah baik-baik di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Li...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Sian-ji mendekap mulut A Fei dan mendesis, "Ssst, jangan kau sebut dia lagi, kutahu keadaannya tidak terlalu berbahaya. Umpama hendak kau tolong dia juga harus menunggu sampai lukamu sembuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengungkatnya berbaring di atas bantal, lalu berkata pula, "Jangan khawatir, jika Sim-bi Taysu bilang hendak membawanya ke Siau-lim-si, maka sepanjang jalan pasti takkan mengalami sesuatu bahaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Li Sun-hoan sedang duduk bersandar di dalam kabin kereta dan memandangi Sim-bi Taysu dan Dian Jit yang berduduk di depannya, tiba-tiba ia tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit melotot, "Ada apa? Kau rasa kami sangat lucu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku cuma merasa sangat geli," jawab Sun-hoan dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Geli?" Dian Jit menegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menguap dan memejamkan mata, seperti ingin tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit menjambret dada bajunya dan bertanya, "Dalam hal apa aku menggelikan, katakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O, maaf, yang kumaksudkan bukan dirimu," jawab Sun-hoan acuh tak acuh. "Meski di dunia ini banyak orang yang menggelikan, tapi engkau harus dikecualikan, sesungguhnya dirimu sama sekali tidak menarik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka Dian Jit berubah, sampai sekian lamanya ia mendelik, tapi akhirnya ia lepaskan Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejuk tadi Sim-bi Taysu tidak menghiraukan apa yang dibicarakan mereka, sekarang ia tidak tahan dan ikut bertanya, "Apakah kau rasa diriku menggelikan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hidupnya belum pernah bertemu dengan seorang yang mengatakan dia menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Sun-hoan menguap, jawabnya dengan kemalas-malasan, "Kurasakan engkau menggelikan, sebab belum pernah kulihat Hwesio menumpang kereta. Kuanggap seorang saleh sebagai dirimu tidak pantas menunggang kuda, juga tidak boleh menumpang kereta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi malah tertawa, katanya, "Hwesio jaga manusia, selain boleh menumpang kereta, juga harus makan nasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika engkau sudah duduk di dalam kereta, mengapa tidak berduduk dengan santai," kata Sun-hoan. "Kulihat caramu berduduk ini lebih mirip orang yang sakit wasir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika muka Sim-bi Taysu berubah masam, katanya, "Apakah kau ingin kusumbat mulutmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika hendak kau sumbat mulutku, kuharap kau gunakan botol arak, paling baik botol arak yang penuh berisi arak," kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi memandang Dian Jit sekejap, perlahan tangan Dian Jit lantas terjulur pada Hiat-to bisu Li Sun-hoan, katanya tiba-tiba dengan tertawa, "Bilamana tanganku menekan, tentu kau tahu bagaimana akibatnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, "Kutahu, bilamana tanganmu menekan, tentu takkan kau dengar lagi kata-kata yang menarik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika begitu, biarlah...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru bicara sampai di sini, belum lagi tangannya bekerja, mendadak terdengar suara ringkik kuda yang keras disusul suara bentakan gusar si kusir, serentak kereta pun berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kereta itu sedang berlari dengan kencang, sekarang berhenti secara mendadak, tentu saja para penumpangnya sama tersuruk dari tempat duduknya, kepala hampir saja membentur dinding kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?" teriak Dian Jit dengan gusar, "Masa kalian...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja kepalanya melongok ke luar jendela, seketika dia bungkam, air mukanya juga berubah pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya di tepi jalan yang penuh timbunan salju itu berdiri tegak seorang dengan tangan menahan tali kendali kuda sehingga kuda penarik kereta itu berjingkrak dan meringkik, namun tangan orang itu tetap lurus tak bergerak seperti tonggak besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memakai jubah hijau dengan lengan baju yang longgar, jubah ini dipakai oleh siapa pun pasti akan terlalu besar, tapi berada pada tubuhnya justru belum lagi melampaui dengkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tinggi badannya sangat mengejutkan, di atas kepalanya justru ditambahi pula sebuah kopiah tinggi berbentuk aneh, sehingga dipandang sepintas lalu dia serupa sebatang pohon kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan sebuah tangan saja dapat menahan kuda yang sedang berlari kencang, betapa hebat tenaganya sungguh sangat mengejutkan. Yang lebih menakutkan lagi adalah matanya yang pada hakikatnya tidak menyerupai mata manusia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya ternyata berwarna hijau siwer, berkelip-kelip, serupa api setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja Dian Jit melongok, segera ia menarik kembali kepalanya, selain mukanya pucat, bibirnya juga rada gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di luar ada orang?" tanya Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehm," Dian Jit mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis putih Sim-bi Taysu berkerut-kerut, katanya pula, "Siapa dia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"In Gok!" tutur Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sun-hoan tertawa, katanya, "Aha kiranya mencari diriku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jing-mo-jiu In Gok juga sahabatmu?" tanya Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang, sahabat ini juga serupa sahabatku yang lain, sama-sama menghendaki nyawaku," ucap Sun-hoan dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka Sim-bi Taysu berubah prihatin, perlahan ia membuka pintu kereta dan melangkah keluar, sapanya sambil memberi hormat, "Apakah In-sicu adanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jing-mo-jiu In Gok, si tangan iblis hijau, memandang sekejap dengan dingin, lalu mendengus, "Sim-oh atau Sim-bi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hwesio tua adalah Sim-bi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang berada di atas kereta?" tanya In Gok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang beragama tidak berdusta, penumpang kereta ini selain Dian-jitya, ada lagi seorang Li-sicu," tutur Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, serahkan Li Sun-hoan dan segera kulepaskan kalian pergi," kata In Gok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksud tujuan kubawa Li-sicu ke Siau-lim-si juga hendak memberi hukuman padanya, bilamana kita mempunyai maksud yang sama, tidak perlu lagi In-sicu mengalangi perjalanan kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Serahkan Li Sun-hoan dan segera kulepaskan kalian pergi," kata In Gok pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang-ulang hanya kata-kata itu saja yang diucapkan In Gok, apa pun yang dikatakan orang lain tetap tidak digubrisnya, wajahnya yang pucat dingin itu serupa muka orang mati, tidak kelihatan sesuatu perasaan apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kutolak, lantas bagaimana?" kata Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika begitu, lebih dulu akan kubunuh dirimu lalu membinasakan Li Sun-hoan," ujar In Gok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak mula tangan kirinya melambai ke bawah dan tertutup oleh lengan bajunya yang longgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mendadak tangan kirinya terjulur keluar, terlihat cahaya hijau berkelebat, serentak dia mencakar ke arah Sim-bi Taysu. Inilah Jing-mo-jiu, tangan iblis hijau yang merontokkan nyali orang Kangouw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi Taysu meraung gusar, serentak dari belakangnya empat bayangan kelabu menubruk maju, Sim-bi mengegos ke samping, empat Hwesio berjubah kelabu sudah mengepung In Gok di tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Haha, bagus!" seru In Gok dengan terbahak. "Memang sudah lama ingin kubelajar kenal dengan Lo-han-tin Siau-lim-si."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gelak tertawanya, dari tangan hijau mendadak tersembur keluar asap hijau, "pluk", terdengar letusan perlahan, asap hijau lantas bertaburan memenuhi udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepat tahan napas!" teriak Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya memperingatkan anak muridnya sehingga lupa akan diri sendiri, baru habis ucapannya, segera dirasakan hawa amis terisap ke dalam mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat wajah Sim-bi Taysu berubah pucat, para Hwesio Siau-lim-si sama terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sim-bi melompat jauh ke sana, cepat ia duduk bersemadi, dengan Lwekang yang terlatih berpuluh tahun ia mengerahkan tenaga dalam untuk mendesak keluar hawa berbisa yang terisap tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Hwesio Siau-lim-si juga lantas menyusul ke sana, mereka berdiri mengadang di depan Sim-bi, dalam keadaan demikian terpaksa mereka harus menjaga keselamatan Sim-bi lebih dulu dan mengesampingkan Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi In Gok tidak lagi memandang mereka, sekali lompat ia mendekati pintu kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihatnya Li Sun-hoan masih duduk bersandar di situ, sedangkan Dian Jit sudah menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Gok melototi Sun-hoan dan bertanya sekata demi sekata, "Khu Tok dibunuh olehmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehm," Sun-hoan mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, jiwa Khu Tok ditukar dengan jiwa Li Sun-hoan, satu bayar satu, matinya tidak penasaran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis bicara, Jing-mo-jiu lantas terangkat lagi, tapi tidak lantas dihantamkan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu A Fei sedang memandangi langit-langit, sampai lama sekali tidak bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sian-ji dengan suara lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau bilang dia takkan menemui bahaya dalam perjalanan?" tanya A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti tidak," ujar Sian-ji dengan tertawa. "Dia dikawal Sim-bi Taysu dan Dian Jit, siapa yang berani mengganggu seujung jarinya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan ia membelai rambut A Fei, lalu berkata pula, "Jika kau percaya padaku, tidurlah dengan nyenyak. Aku akan berjaga di sini, pasti takkan kutinggal pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei memandangnya lekat-lekat, kerlingan mata si nona sedemikian menggiurkan, tulus dan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelopak mata A Fei lambat laun terkatup....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa lagi yang hendak kau katakan?" demikian In Gok lagi bertanya sambil menyeringai terhadap Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandangi Jing-mo-jiu orang yang keji itu, Sun-hoan berucap perlahan, "Cuma satu kalimat saja ingin kukatakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa itu? Cepat katakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa kau antar kematian ke sini?" kata Sun-hoan sambil menghela napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbareng tangannya juga bergerak, sinar pisau berkelebat, kontan In Gok berjumpalitan ke sana. Di atas tanah salju telah bertambah genangan darah segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu bayangan In Gok sudah melayang lagi beberapa tombak jauhnya, terdengar suaranya yang serak bergema di kejauhan, "Li Sun-hoan, ingatlah, kelak pasti ku...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini mendadak suaranya terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin dingin menyayat, suasana hening bagai kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak terdengar orang berkeplok tertawa, Dian Jit menerobos keluar dari belakang kereta sambil bersorak, "Bagus, bagus! Pisau kilat si Li memang benar tidak pernah meleset. Sungguh tidak bernama kosong!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan termenung sejenak, katanya kemudian dengan hambar, "Apabila kau buka seluruh Hiat-toku yang tertutuk, tentu dia takkan lolos."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kubuka seluruh Hiat-tomu, engkaulah yang akan lolos," tukas Dian Jit dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tepuk-tepuk pundak Li Sun-hoan, lalu berkata pula dengan tertawa, "Engkau hanya bisa menggerakkan kedua tanganmu, hanya dapat menyambitkan sebilah pisau, toh tetap dapat melukai In Gok sehingga kabur. Orang semacam dirimu ini, mau tak mau aku harus terlebih hati-hati dan waspada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu para Hwesio Siau-lim sudah memayang Sim-bi Taysu ke sini. Wajah Sim-bi kelihatan pucat dengan napas terengah, begitu naik ke atas kereta segera ia berkata, "Lekas berangkat, lekas!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kereta mulai jalan barulah ia menghela napas lega, ucapnya, "Sungguh Jing-mo-jiu yang keji."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ada senjata lain yang lebih keji, yaitu pisau terbang si Li," tukas Dian Jit dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi memandang Sun-hoan, ucapnya, "Anda ternyata sudi turun tangan membantu, sungguh di luar dugaanku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, "Yang kutolong bukan dirimu, bukan kalian melainkan diriku sendiri. Tidak perlu di luar dugaan, juga tidak perlu berterima kasih padaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi kutanya padanya lebih suka pergi ke Siau-lim-si bersama kita atau lebih baik jatuh dalam cengkeraman In-Gok," tutur Dian Jit. "Sesudah dia pilih satu di antaranya, lalu kubuka Hiat-to kedua tangannya, kuberi pula sebilah pisau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersenyum, lalu menambahkan pula, "Dan kukira dengan demikian sudah cukup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi termangu-mangu, gumamnya kemudian, "Pisau terbang si Li .... Sungguh pisau kilat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga dalam Sim-bi Taysu memang sangat hebat, menjelang magrib, hawa racun yang terisap sudah ditolak keluar semua, air mukanya telah kembali cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka mencari sebuah hotel yang tenang untuk beristirahat, waktu makan malam juga sudah tiba. Hwesio juga manusia, selain perlu makan nasi juga harus tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit mengangkat Sun-hoan dan didudukkan pada sebuah kursi, katanya dengan tersenyum, "Jika kubuka Hiat-to sebelah tanganmu, maksudnya supaya kau dapat memegang sumpit dan bukan menyuruhmu sembarangan omong. Nah, jelas bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menghela napas menyesal, "Makan nasi tanpa arak sama halnya sayur tanpa garam, cemplang, tidak ada rasanya, sungguh tidak enak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diberi makan nasi pun sudah enak, kukira seadanya saja," jengek Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Siau-lim-si memang sangat keras, pada waktu makan, para Hwesio Siau-lim-si tidak ada yang bicara, bahkan tak berani bersuara sedikit pun. Meski di atas meja hanya tersedia beberapa macam sayuran saja, tapi mereka sudah terbiasa makan sederhana, ditambah lagi perjalanan berhari-hari, perut lapar, makan pun banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Sim-bi Taysu saja baru sembuh dari sakitnya, ia cuma minum bubur dengan kecap dan tidak makan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit sendiri sudah pesan beberapa macam santapan lezat dan siap hendak dinikmatinya sendiri, maka sekarang dengan perut kosong sedang menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah sana Sun-hoan telah menyumpit sepotong tahu, tapi baru sampai di tepi mulut mendadak ia taruh kembali makanan itu dan berseru, "Sayuran ini tidak boleh dimakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tuan besar Li tidak biasa makan sayuran begini, tampaknya kau harus menderita lapar," kata Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di dalam sayur ada racun!" desis Sun-hoan dengan suara tertawa tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Haha, tidak mendapatkan arak, segera timbul macam-macam permainanmu," seru Dian Jit dengan tertawa. "Memang kutahu ada ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak suara tertawanya terputus, serupa leher tercekik secara mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya pada saat itu juga dilihatnya air muka keempat Hwesio Siau-lim-si telah berubah menjadi pucat kelabu, tapi para Hwesio itu tidak merasakan apa pun dan tetap asyik makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sim-bi Taysu juga kaget, serunya, "Cepat, cepat mengerahkan tenaga dalam untuk mencegah menjalarnya racun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat Hwesio itu belum lagi mengetahui apa yang terjadi, jawab mereka dengan tertawa, "Masa Susiok ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian keracunan, masa sama sekali tidak tahu," seru Sim-bi pula dengan khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keracunan?" kata salah seorang Hwesio itu. "Keracunan oleh siapa?...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah keempat Hwesio itu saling pandang sekejap, serentak mereka berteriak, "Hei, wajahmu ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lanjut ucapan mereka, kontan semuanya roboh terkulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Sim-bi memandang mereka lagi, wajah keempat orang sudah berubah bentuk, mata melotot, hidung berkerut dan muka beringas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Racun dalam sayur ternyata tak berwarna dan tak berbau sehingga orang yang keracunan tidak merasakan apa pun. Ketika mereka mengetahui dirinya keracunan, semuanya sudah terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tak mau Dian Jit merasa ngeri, desisnya, "Racun apakah ini? Mengapa sedemikian lihai?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski biasanya Sim-bi Taysu sangat sabar, tidak urung sekarang ia naik darah, ia melompat ke sana, pelayan dicengkeramnya seperti elang mencengkeram anak ayam, bentaknya dengan bengis, "Racun apa yang kau taruh di dalam sayur?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat empat orang telah menggeletak tak bernyawa, pelayan itu ketakutan setengah mati, gigi sampai gemertuk dan tidak sanggup bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menghela napas, gumamnya, "Tolol, bila aku yang menaruh racun, tentu sejak tadi aku sudah lari, untuk apa menonton lagi di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukulan Sim-bi Taysu sudah hampir dijatuhkan, karena ucapan Sun-hoan itu, mendadak ia urung menghantam, segera ia melompat ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit juga ikut menerobos keluar, tapi segera memutar balik dan mengempit Li Sun-hoan, jengeknya, "Seumpama kami mati keracunan seluruhnya, kau sendiri juga tak bisa kabur. Apa pun juga kau harus mengiringi diriku, aku hidup kau hidup, aku mati kau pun mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, katanya, "Tak tersangka aku akan mendapatkan pelayanan istimewa darimu. Cuma sayang, engkau bukan wanita cantik, sedangkan terhadap lelaki aku justru tidak berminat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu sudah lewat jam makan, bagian dapur restoran itu sudah menganggur, koki besar telah membuat dua macam sayur, koki kedua mengambil sepoci arak, keduanya sedang menongkrong di situ untuk menikmati saat yang paling menyenangkan selama sehari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah mendadak Sim-bi Taysu menerobos masuk dengan gusar, tapi segera ia melenggong begitu melihat kedua koki itu. Ternyata air muka kedua orang itu pun sudah berubah hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin si koki besar sudah setengah mabuk, dengan tertawa ia menyapa, "Apakah Taysu juga mau minum barang satu dua cawan? Silakan, mari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lanjut ucapannya, mendadak koki itu jatuh terjungkal di atas tungku, wajan ambruk membentur botol minyak, maka tumpahlah minyak ke dalam wajan dan memantulkan cahaya minyak yang mengilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata di dalam minyak yang mengilat itu terdapat seekor kelabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekarang jelas duduknya perkara. Ternyata racun berasal dari minyak goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan minyak goreng ini si koki membuatkan sayuran bagi para Hwesio Siau-lim-si, lalu dengan minyak goreng itu ia membuat sayur untuk dirinya sendiri, maka jiwanya melayang tanpa mengetahui apa sebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi racun sudah dapat ditemukan. Namun siapakah gerangan orang yang menaruh racun ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memandang kelabang di dalam minyak, Sun-hoan berucap dengan gegetun, "Memang sudah kuduga cepat atau lambat dia pasti akan datang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang kau maksudkan? Kau tahu siapa yang menaruh racun?" tanya Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Secara umum, racun di dunia ini terbagi menjadi dua jenis," tutur Sun-hoan. "Yang semacam adalah racun binatang. Racun dari tumbuh-tumbuhan lebih banyak digunakan orang, sedangkan orang yang menggunakan racun dari binatang lebih sedikit. Orang yang mampu meracuni orang secara lihai di luar tahu korbannya, di dunia ini paling-paling juga cuma satu-dua orang saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kau maksudkan Ngo ... Ngo-tok-tongcu dari Kek-lok-tong di daerah Miau?" seru Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kuharap bukan dia," ujar Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masakah dia juga datang ke daerah Tionggoan sini? Untuk apa dia kemari?" kata Dian Jit pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia datang mencari diriku," tutur Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cari dirimu? Apakah dia ...." Dian Jit tahu tidak mungkin Li Sun-hoan bersahabat dengan manusia berbisa itu, maka belum lanjut bicaranya segera ia berganti ucapan, "Tampaknya sahabatmu tidak banyak, sebaliknya musuhmu tidaklah sedikit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betapa banyak musuh akan lebih baik, tapi sahabat cukup satu-dua orang saja," ujar Sun-hoan. "Sebab sahabat terkadang jauh lebih menakutkan daripada musuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahwa di dalam sayur ada racun, cara bagaimana dapat kau lihat?" tanya Sim-bi Taysu tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sendiri tidak tahu mengapa dapat kulihat, yang jelas sudah dapat kulihat," ujar Sun-hoan dengan tertawa tak acuh. "Hal ini serupa waktu kumain Pay-kiu, apabila kutaksir kartu pertama akan menang, maka di situlah kutaruh dan tentu menang. Jika orang bertanya padaku cara bagaimana mengetahuinya, maka aku pun tak dapat menjawabnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi menatapnya sejenak, katanya kemudian kepada kawannya, "Sepanjang jalan kita gunakan dia sebagai pedoman, kalau dia makan baru kita makan juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dua hari lagi dapatlah mereka sampai di Siong-san, di gunung itulah letak Siau-lim-si. Tapi waktu dua hari ini dirasakan terlebih panjang daripada hari-hari yang lain, sebab setiap orang Kangouw tahu, jika Ngo-tok-tongcu sudah bertekad akan membunuh seorang, maka orang itu harus dibunuhnya, tidak ada persoalan lain di dunia ini yang dapat menyuruhnya batal setengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi telah menyerahkan jenazah keempat murid keponakannya kepada sebuah biara yang berdekatan, lalu berangkat lagi dengan tergesa-gesa, sepanjang jalan tidak ada lagi yang mau menyinggung tentang makan-minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka boleh tidak makan dan minum, tapi si pengemudi kereta tidak mau ikut kelaparan bersama mereka. Pada waktu tengah hari, di suatu kota kecil ia lantas masuk sebuah warung dan makan-minum sepuasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi Taysu dan Dian Jit terpaksa menunggu di dalam kereta, mereka tetap tidak berani bersantap. Jika hanya untuk makan semangkuk mi babat dan beberapa potong penganan harus menyerempet bahaya keracunan, jelas mereka lebih suka menahan lapar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, si kusir telah kembali dengan membawa beberapa potong kue kukus, sembari berjalan ia masih terus menggerogoti kue kukus dengan nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit mengawasi air muka si kusir, diperhatikannya sampai lama sekali, tiba-tiba ia bertanya, "Kue ini berapa duit sebiji?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, sangat murah," jawab si kusir dengan tertawa, "cuma tiga duit sebiji, rasanya juga lumayan. Apakah Toaya mau mencicipinya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, kau bagi beberapa biji kepada kami, malam nanti kutraktir dirimu minum arak," kata Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera si kusir memberikan seluruh kue yang dibawanya itu melalui jendela kereta, selang sekian lama lagi, kereta pun sudah dijalankan dan si kusir tetap tidak ada sesuatu tanda kelainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biru sekarang Dian Jit merasa lega, ucapnya dengan tertawa, "Kue kukus ini tentunya tidak beracun, silakan Taysu makan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sim-bi Taysu masih sangsi, setelah berpikir sejenak, lalu katanya, "Silakan Li-sicu makan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, jawabnya, "Tak terduga kalian menjadi sungkan padaku seperti terhadap tamu saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tangan kirinya ia pegang sepotong kue itu, sebab hanya tangan kirinya saja yang dapat bergerak. Tapi mendadak kue itu ditaruhnya kembali, katanya dengan menyesal, "Kue ini juga tidak boleh dimakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi si kusir sudah makan dan tidak terjadi apa-apa," ujar Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia boleh makan, kita tidak boleh," kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab apa?" tanya Dian Jit dengan penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab yang hendak diracun oleh Ngo-tok-tongcu dari Kek-lok-tong bukan dia," jengek Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah sengaja hendak kau bikin kami kelaparan?" damprat Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika tidak percaya, kenapa tidak kau coba?" ujar Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit melototinya sampai sekian lama, mendadak ia berteriak agar kereta berhenti, si kusir dipanggilnya turun, lalu diberinya setengah potong kue kukus itu dan menyaksikannya kue itu dimakan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah potong kue itu sekaligus dijejalkan ke mulut oleh si kusir dan segera berpindah ke dalam perut, namun tidak ada tanda sedikit pun dia keracunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit melirik Sun-hoan sambil tersenyum dingin, tanyanya, "Sekarang berani lagi kau bilang kue ini tidak boleh dimakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetap kukatakan tidak boleh," jawab Sun-hoan, ia menguap dan ingin tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gemas Dian Jit berkata, "Aku justru akan makan, boleh kau lihat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu katanya, betapa pun ia tetap tidak berani menyerempet bahaya. Kebetulan dilihatnya ada seekor anjing sedang menggonggong di belakang kereta, anjing itu kurus kering, mungkin juga anjing kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Dian Jit mendapat akal, dilemparkannya setengah potong kue itu kepada anjing. Biarpun kurus, anjing itu seperti tidak berminat terhadap kue kukus, hanya digigit sekali, lalu ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu, baru beberapa langkah anjing itu berlari, mendadak terdengar suara mengaing, anjing itu melonjak ke atas dan jatuh terjungkal ke tanah, setelah berkelojotan beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekarang Dian Jit dan Sim-bi Taysu terperanjat benar-benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, betul tidak," kata Sun-hoan dengan menyesal. "Cuma sayang, yang mati keracunan adalah anjing dan bukan dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya Dian Jit suka berbangga menghadapi segala sesuatu selalu tenang, sedikit pun tidak pernah memperlihatkan rasa panik. Tapi sekarang tidak urung air mukanya berubah pucat. Mendadak ia mendelik dan membentak si kusir, "Mengapa bisa terjadi begini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gemetar si kusir menjawab, "Hamba tidak tahu, kue itu hamba beli dari warung mi babat tadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anjing saja mati keracunan, mengapa tidak dapat meracun mati dirimu? Jangan-jangan kau sendiri yang menaruh racun?" Dian Jit menyeringai sambil menjambret leher maju si kusir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemertuk gigi si kusir karena ketakutan sehingga tidak sanggup bicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada gunanya kau paksa dia bicara, sebab dia memang tidak tahu-menahu," ujar Sun-hoan acuh tak acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia tidak tahu? Habis siapa yang tahu?" teriak Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu," kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu?" Dian Jit melengak. "Coba katakan, apa-apaan ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kue tadi beracun, tapi dalam kuah mi babat terdapat obat penawar racun," tutur Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekian lama Dian Jit melenggong, ucapnya kemudian dengan mendongkol, "Tahu begini, mengapa tadi kita tidak makan mi babat saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kau makan mi, racun juga terdapat di dalam mi," kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara menaruh racun Ngo-tok-tongcu ternyata sangat ajaib dan sukar dijaga, menghadapi lawan begini, rasanya tidak ada jalan lain kecuali tutup mulut serapatnya, dan hal ini berarti harus kelaparan dan kehausan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia-tak-mau Dian Jit merasa sedih. Sim-bi juga kelihatan murung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syukur satu-dua hari lagi sudah dapat sampai tempat tujuan, kalau cuma puasa sehari dua hari kukira tidak menjadi soal," kata Sim-bi kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarpun tidak makan dan minum juga tiada gunanya," tukas Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo, maksudmu?" Sim-bi tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin dia sengaja menunggu kita kehabisan tenaga karena kelaparan, lalu dia akan turun tangan," tutur Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika Sim-bi tidak dapat bicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba gemerdep sinar mata Dian Jit, serunya, "Aku mempunyai akal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akal apa?" tanya Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit mendesis dengan suara tertahan, "Orang yang hendak diracunnya jelas bukan Taysu, juga bukan diriku ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melirik Sun-hoan sekejap dan tidak melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi tahu maksud Dian Jit, katanya dengan kurang senang, "Tapi sudah kusanggupi akan membawa orang ini pulang ke Siau-lim-si, betapa pun tidak boleh kubiarkan dia mati di tengah jalan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit juga tidak ngotot lagi, tapi bilamana dia pandang Li Sun-hoan, seketika sorot matanya menampilkan nafsu membunuh. Agaknya diam-diam ia sudah ambil keputusan, ia pikir, "Hwesio selain harus makan dan tidur, sekali tempo kan juga harus pergi ke kakus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terduga, Sim-bi seperti dapat menyelami jalan pikirannya, ke mana pun dan berbuat apa pun tidak pernah ia tinggalkan Li Sun-hoan di luar pengawasannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah Dian Jit jadi mati kutu, meski gelisah dan mendongkol, tapi tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat juga perjalanan kereta, menjelang magrib mereka tiba pula di situ kota kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali ini si kusir tidak berani lagi bicara tentang makan dan minum segala. Pada waktu kereta mereka melalui jalan raya, tiba-tiba terendus bau sedap Yu-ca-kue yang digoreng oleh penjualnya di tepi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang yang sudah kelaparan hampir sehari suntuk, betapa tergiurnya bau sedap ini sungguh sukar dilukiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika Dian Jit celingukan ke kanan ke kiri, benarlah dilihatnya di tepi jalan sana ada seorang penjual Yu-ca-kue (sejenis kue untir yang digoreng), tampaknya sangat laris, hal ini terbukti di depan berkerumun belasan pembeli, ada yang minta dibungkus dan dibawa pulang, ada yang beli kontan di situ dan kontan dimakan, dan yang makan di situ ternyata tiada seorang pun yang mati keracunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit tidak tahan, katanya, "Masakah Yu-ca-kue ini juga tidak boleh dimakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang lain boleh makan, hanya kita yang tidak boleh," kata Sun-hoan. "Biarpun, seribu orang makan kue ini tetap tidak beralangan, tapi sekali kita makan segera akan mati keracunan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kata-kata ini diucapkan dua hari yang lalu, Dian Jit pasti tidak percaya. Tapi sekarang bilamana dia teringat kepada betapa keji dan banyak macam ragamnya cara Ngo-tok-tongcu menaruh racun, tanpa terasa ia merinding dan tidak berani coba-coba makan Yu-ca-kue segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa saat itu mendadak didengarnya seorang anak kecil berteriak dan menangis, "Minta kue ... ibu, belikan kue, Yu-ca-kue!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat dua anak kecil berumur tujuh atau delapan tahun berdiri di samping penjual Yu-ca-kue dan sedang berjingkrak dan merengek. Lalu dari toko kelontong di sebelah sana muncul seorang perempuan gemuk, kontan kedua bocah itu ditampar seorang satu kali, lalu kuping mereka dijewer terus diseret masuk ke dalam toko sambil mengomel, "Setan alas, diberi pangsit mi tidak mau, malahan minta Yu-ca-kue. Nanti kalau setan tua tukang kibul itu mendapat lotre, tentu setiap hari akan kubawa kalian masuk restoran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menangis salah seorang anak itu berteriak, "Kalau dapat lotre, kuminta makan-nasi goreng."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam Sun-hoan menggeleng kepala dan menyesali ketidakadilan sosial di dunia ini, bagi pandangan anak kecil ini, mungkin makan nasi goreng sudah dianggapnya kenikmatan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan raya tidak lebar, ditambah lagi orang berkerumun di depan penjual Yu-ca-kue ini cukup banyak, maka kereta mereka menjadi agak teralang dan belum dapat lewat ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kedua anak tadi berlari keluar lagi, masing-masing membawa semangkuk pangsit mi dan duduk di tepi jalan sambil memandangi Yu-ca-kue yang dipegang orang lain, tampaknya mereka hampir mengiler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat pangsit mi dalam mangkuk kedua anak itu, mendadak Dian Jit melompat turun dari keretanya, ia lemparkan sepotong uang perak kepada penjual Yu-ca-kue, segera belasan potong kue yang baru dikeluarkan dari wajan diserobotnya semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski marah pembeli lain yang telah menunggu cukup lama, tapi melihat lagak Dian Jit yang tidak boleh diremehkan itu, mereka tidak berani banyak omong, hanya dalam hati saja mencaci maki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balasan potong Yu-ca-kue itu dibawa Dian Jit ke depan kedua bocah itu, sapanya dengan tertawa, "Eh, adik cilik, kuberi makan Yu-ca-kue kepada kalian dan kau beri pangsit mi padaku, mau?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua anak itu terbelalak bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Dian Jit menambahkan, "Nanti kuberi lagi uang untuk membeli permen!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melenggong lagi sejenak, mendadak kedua anak itu menyodorkan mangkuknya kepada Dian Jit, yang satu menerima Yu-ca-kue, yang lain mengambil uangnya, lalu berlari pergi dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertampil juga senyuman geli pada sinar mata Sim-bi Taysu, ketika melihat Dian Jit datang kembali dengan membawa dua mangkuk pangsit mi, ia tertawa dan berkata, "Dian-sicu memang banyak tipu akal, sungguh aku sangat kagum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan aku rakus dan suka makan," kata Dian Jit, "soalnya malam ini kita masih harus melanjutkan perjalanan, untuk itu kita perlu mengisi perut sekenyangnya supaya bertenaga, kalau tidak, bilamana terjadi sesuatu lagi di tengah jalan, sedangkan badan lemas, lalu cara bagaimana kita mampu menghadapinya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, betul," kata Sim-bi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit lantas menyodorkan semangkuk pangsit mi itu, katanya, "Silakan makan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih," ucap Sim-bi sambil menerima pangsit mi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pangsit mi cuma makanan biasa, tapi bagi mereka sekarang tiada ubahnya seperti makanan paling mahal dan sukar dicari. Sebab siapa pun dapat memastikan di dalam pangsit mi ini tentu tidak beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit melirik Li Sun-hoan, ucapnya dengan tertawa, "Coba katakan lagi, apakah pangsit mi ini juga tidak boleh dimakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum menjawab Sun-hoan sudah terbatuk-batuk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit bergelak tertawa, katanya, "Apabila Ngo tok-tongcu dapat memperhitungkan lebih dulu di dalam mi, maka biarpun aku mati keracunan juga rela."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari tertawa semangkuk pangsit mi itu lantas dimakannya hingga habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi Taysu juga sependapat dengan Dian Jit, betapa lihai Ngo-tok-tongcu juga bukan dewa yang dapat meramal apa yang belum terjadi. Maka ia pun makan pangsit mi itu dengan perasaan aman. Cuma cara makan orang beragama biasanya memang lebih sopan, lebih halus, disumpit dan dikunyah dengan perlahan, jika semangkuk pangsit mi dengan cepat telah masuk perut Dian Jit, maka Sim-bi sendiri baru makan dua-tiga sumpit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu kereta sudah berada di luar kota, si kusir berharap selekasnya dapat mengantar penumpangnya sampai di tempat tujuan, lalu dia sendiri dapat makan-minum sepuasnya, maka doa melarikan keretanya dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika lari kereta secepat ini, tidak sampai fajar tiba kita pasti dapat sampai di Siong-san," ujar Dian Jit dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Sim-bi Taysu juga menampilkan perasaan lega, katanya, "Dalam dua hari ini tentu ada anak murid perguruan kami akan memapak, asalkan dapat ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak ucapannya terhenti dengan tubuh gemetar, mangkuk yang dipegangnya juga hampir terlepas, kuah pangsit mi sampai tumpah dan mengotori jubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He, Taysu, apakah engkau ...." seru Dian Jit dengan kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Prak", tahu-tahu mangkuk teremas hancur oleh Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa pangsit mi ini pun beracun!" seru Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi menghela napas panjang sambil menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit menarik leher baju Li Sun-hoan sambil berteriak dengan suara serak, "Coba kau pandang wajahku, apakah mukaku juga ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak melanjutkan ucapannya, sebab dia tidak perlu tanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menarik napas, katanya, "Meski selama ini aku sangat benci padamu, tepi tidak ingin kusaksikan kau mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Dian Jit pucat seperti mayat, badan gemetar, ia melototi Sun-hoan dengan gemas, selang sejenak ia berucap dengan menyeringai, "Huh, kau tidak ingin melihat kumati, aku justru ingin melihat kau mati. Seharusnya sudah lama kubunuh kau!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah tidak terlambat jika sekarang kau bunuh diriku?" kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, jika sekarang kubunuh dirimu memang agak terlambat, tapi juga tidak terlalu terlambat," ucap Dian Jit dengan geregetan, segera ia mencekik leher Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei telah berdiri, meski air mukanya kelihatan pucat, namun dia dapat berdiri dengan tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lim Sian-ji memandangnya dengan mesra penuh kasih sayang, ucapnya, "Engkau sungguh orang baja, semula kukira paling sedikit tiga-empat hari lagi baru engkau dapat sembuh, siapa tahu belum ada setengah hari engkau sudah dapat turun dari tempat tidur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei berjalan dua lingkaran di dalam rumah, tiba-tiba ia bertanya, "Menurut pandanganmu, dapatkah dia sampai di Siau-lim-si dengan selamat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tampak kurang senang, omelnya, "Mengapa yang selalu kau bicarakan hanya dia dan dia saja, mengapa tidak kau bicara tentang diriku, atau mengenai dirimu sendiri?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dapatkah dia sampai di Siau-lim-si dengan selamat?" kembali A Fei bertanya sambil menatap Lim Sian-ji, apa pun yang dikatakan nona itu yang ditanyakannya juga tetap mengenai diri Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ai, kau ini, sungguh aku tak berdaya," omel Sian-ji dengan tertawa. Dengan halus ia tarik A Fei berduduk, lalu ucapnya dengan lembut, "Namun jangan kau khawatir, bukan mustahil saat ini dia sudah berada di ruang tamu Siau-lim-si dan sedang minum teh, harus kau ketahui, teh Siau-lim-si selama ini sangat terkenal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa gelisah A Fei tampak mereda, katanya dengan tertawa, "Setahuku, biarpun orang mencekik lehernya juga dia pasti tidak mau minum teh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leher Li Sun-hoan memang tercekik dan hampir saja tidak dapat bernapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Dian Jit tampak semakin beringas, napas juga hampir putus, namun tangannya yang penuh urat hijau masih juga mencekik dengan erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan merasa pandangannya mulai gelap, wajah Dian Jit dirasakannya semakin samar dan jauh, jauh sekali. Ia tahu "kematian" sudah mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada detik antara hidup dan mati itu dia mengira akan dapat mengenangkan banyak persoalan, sebab menurut cerita orang, konon sebelum ajal seorang bisa mendadak teringat kepada macam-macam hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Sun-hoan tidak dapat memikirkan apa-apa, tidak merasakan duka, juga tidak merasa takut, ia malah merasa geli dan hampir saja tertawa. Sebab tak pernah terpikir olehnya dirinya bisa sama-sama mengembuskan napas terakhir bersama Dian Jit, biarpun sama-sama menuju ke akhirat, ia merasa Dian Jit pasti bukan teman seperjalanan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didengarnya Dian Jit lagi berteriak dengan suara parau, "Li Sun-hoan, betapa panjang napasmu, mengapa engkau belum lagi mati?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya Sun-hoan hendak menjawab, "Sedang kutunggu kematianmu lebih dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi ia tidak dapat bicara, malahan ganti napas saja tidak dapat. Dirasakan suara Dian Jit juga berubah semakin jauh, seperti berkumandang dari neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak kuat meronta lagi, perlahan ia mulai pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat demikian itulah, sekonyong-konyong didengarnya jeritan kaget seorang, suara jeritan itu terdengar sayup-sayup dan juga sangat jauh, kedengaran juga suara Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis itu dada terasa longgar, napas menjadi lancar, pandangannya mulai terang. Ia dapat lagi melihat Dian Jit. Cuma sekarang Dian Jit sudah roboh di jok depan, kepalanya terkulai miring ke bawah, hanya matanya saja yang masih mendelik padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu ia berpaling, dilihatnya Sim-bi Taysu lagi tersengal-sengal, jelas baru saja terlalu banyak mengeluarkan tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan memandangnya sekian lama, akhirnya bertanya, "Engkau yang menolong diriku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi tidak menjawab, tapi lantas membuka Hiat-to kelumpuhan Sun-hoan dan berkata dengan parau, "Mumpung Ngo-tok-tongcu belum muncul, lekas kau lari saja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sama sekali Li Sun-hoan tidak angkat kaki, bahkan bergerak saja tidak, ucapnya dengan suara tertahan, "Sebab apa kau lepaskan diriku? Apakah sudah kau ketahui aku bukan Bwe-hoa-cat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang beragama tak mau menambah dosa mendekati ajalnya," ucap Sim-bi dengan menyesal, "maka baik engkau Bwe-hoa-cat atau bukan, yang penting lekas kau pergi secepatnya, bilamana Ngo-tok-tongcu muncul, maka terlambatlah biarpun kau ingin lari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan memandangi wajah Hwesio tua yang mulai hitam hangus itu, katanya, "Terima kasih atas maksud baikmu. Cuma sayang, aku serbabisa, hanya kabur saja aku tidak bisa."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4537347065284875195-5400766898820452475?l=cerita-silat-clasic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/feeds/5400766898820452475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4537347065284875195&amp;postID=5400766898820452475&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/5400766898820452475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/5400766898820452475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/2009/02/pendekar-budiman-8.html' title='Pendekar Budiman 8'/><author><name>Taviv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09431956148586873513</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q0YVGe00Snk/SX_O-ytuR-I/AAAAAAAAANA/cAjoAQf6lAU/S220/My+Son.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4537347065284875195.post-8458974916436543506</id><published>2009-02-02T18:00:00.001+07:00</published><updated>2009-02-02T18:03:19.476+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendekar Budiman'/><title type='text'>Pendekar Budiman 7</title><content type='html'>Karya : Gu Long&lt;br /&gt;Disadur Oleh : Gan KL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sendirinya ucapan Sun-hoan ini sengaja diperdengarkan kepada A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali A Fei termenung sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, "Mereka bilang engkau Bwe-hoa-cat, lantas benarkah engkau Bwe-hoa-cat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tersenyum dan menjawab, "Perkataan sementara orang sebenarnya tidak ada ubahnya seperti kentut belaka."&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Jika cuma kentut, untuk apa kau pedulikan ocehan mereka?" kata A Fei, mendadak ia berjongkok terus menggendong Li Sun-hoan di atas punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah mendadak Dian Jit turun tangan, toyanya yang lemas itu bekerja dengan cepat, sekaligus ia tutuk beberapa Hiat-to penting di dada A Fei, asalkan salah satu tempat tertutuk, jangan harap lagi A Fei akan bisa bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei ternyata tidak melolos pedangnya, ia pun serupa Li Sun-hoan, sekali pedangnya bekerja, biasanya tidak pernah kembali dengan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sekali ini ia tahu pedangnya pasti takkan berhasil merobohkan lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tadi Tio Cing-ngo tidak bersuara dan juga tidak bergerak, hanya mukanya kelihatan masam, kini mendadak ia membentak, "Terhadap Bwe-hoa-cat tidak perlu bicara tentang peraturan Kangouw, kenapa kalian tidak turun tangan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua orang sama ragu memandangi bayangan toya Dian Jit yang berkelebat di sekitar A Fei, meski toya rotan Dian Jit terhitung alat Tiam-hiat istimewa, namun belum lagi dapat mengatasi anak muda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Membunuh Bwe-hoa-cat adalah pahala yang gemilang, mengapa kesempatan baik ini kalian sia-siakan?" seru Tio Cing-ngo pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru lenyap suaranya, serentak beberapa macam senjata menghujani Li Sun-hoan yang berada di punggung A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat Lim Sian-ji memburu maju dan menarik tangan Liong Siau-hun, serunya, "Siko, mengapa tidak kau cegah tindakan mereka?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidakkah kau lihat aku pun ditutuk orang?" sahut Siau-hun dengan sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah mendadak terdengar serentetan jeritan ngeri, tiga orang tergetar mundur sempoyongan. Akhirnya pedang A Fei dilolos juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pedangnya belum pasti mampu melukai Dian Jit, kalau orang lain ingin mencari mampus, tentu dia tidak sungkan-sungkan lagi. Maka darah pun berhamburan mengikuti berkelebatnya sinar pedang, mantel bulu Li Sun-hoan telah terciprat darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala macam senjata itu tidak tampak lagi, hanya toya rotan Dian Jit yang masih terus mengurung mereka serupa ular berbisa, setiap serangannya tidak pernah meninggalkan Hiat-to maut di tubuh A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toya rotan itu jauh lebih panjang daripada A Fei, jika anak muda itu ingin menjaga keselamatan Li Sun-hoan, terpaksa ia tidak berani mendesak maju, kalau dapat mendesak maju, terpaksa ia harus berkelit dan menghindari setiap serangan toya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Lim Sian-ji berseru dengan menyesal, "Betapa pun Tio-toaya memang orang yang luhur budi dan tidak sudi main kerubut ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemerdep sinar mata Tio Cing-ngo, dengusnya, "Tadi kan sudah kukatakan tadi, terhadap orang rendah semacam Bwe-hoa-cat tidak perlu bicara tentang peraturan Kangouw segala."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera ia melompat ke pinggir ruangan, dari rak senjata diraihnya sebatang tombak, sekali berputar, langsung ia menusuk punggung Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Tio Cing-ngo cukup terkenal di dunia persilatan dan memang tidak bernama kosong, serangan tombaknya itu tidak dapat diremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tombak adalah embahnya senjata, toya adalah rajanya gegaman, apalagi semakin panjang senjata yang dipakai semakin besar pula daya ancamannya. Senjata A Fei hanya sebilah pedang yang pendek, cukup payah baginya menghadapi dua macam senjata lawan yang lebih panjang, apalagi dia menggendong lagi seorang, pula dia sama sekali tidak tahu lawan hendak menutuk Hiat-to bagian mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Dian Jit sudah berada di atas angin, tapi entah mengapa, setiap kali dia melancarkan serangan maut, pada detik terakhir selalu gagal, selalu tak dapat merobohkan lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian puluh jurus lagi, tiba-tiba dilihatnya meski anak muda itu tidak sempat belas menyerang, tapi langkahnya ternyata sangat ajaib, jelas-jelas kelihatan serangannya akan berhasil, tahu-tahu anak muda itu bergeser, entah dengan langkah apa, serangannya lantas luput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maki pengalaman Dian Jit sangat luas juga tidak tahu asal usul ilmu langkah A Fei itu, diam-diam ia membatin, "Asal-usul anak muda ini pasti tidak sembarangan, untuk apa kuikat permusuhan dengan dia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir demikian, segera ia tersenyum dan berkata, "Saudara cilik, kukira lebih baik kau turunkan dia saja, kalau tidak, bukannya dia membikin susah padamu, sebaliknya engkau yang membikin susah dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul," tukas Lim Sian-ji, "lebih baik kau turunkan dia saja, kujamin Dian-jitya tidak berniat melukaimu, juga pasti takkan membunuh dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya sangat lembut dan juga sungguh-sungguh, air mukanya penuh rasa cemas dan prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menggereget, ucapnya, "Jika kalian menghendaki kuturunkan dia, kalian sendiri mengapa tidak berhenti?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak Dian Jit melompat mundur sambil menarik kembali toyanya. Tombak Tio Cing-ngo sudah telanjur menusuk, mendadak ia tahan sekuatnya sehingga ujung tombak menusuk ke bawah. "Creng", lelatu api meletik, ujung tombak patah dan mencelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali A Fei tidak melirik mereka, ia dudukkan Li Sun-hoan di atas kursi, dilihatnya dada Li Sun-hoan terengah-engah, mukanya yang putih timbul pula semacam warna merah pucat, jelas sejak tadi sekuatnya ia menahan batuknya, sebab ia khawatir batuknya akan memengaruhi konsentrasi A Fei menghadapi musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei merasa darah panas bergolak dalam rongga dadanya, sambil menggereget ucapnya perlahan, "Ya, aku salah, aku cuma memikirkan ketangguhan sendiri, tapi melupakan dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, "Baik kau benar atau salah, aku tetap berterima kasih padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bicara, serentak dia terbatuk-batuk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei memandangnya lekat-lekat, sampai sekian lama barulah ia membalik tubuh menghadapi Tio Cing-ngo, katanya. "Sungguh aku menyesal mengapa tempo hari tidak kubunuh dirimu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bicara, berbareng pedangnya juga menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa cepat serangannya sungguh sukar dilukiskan. Mana bisa Tio Cing-ngo menghindari serangan kilat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya darah pasti akan tercecer, siapa tahu pada saat itu juga mendadak terdengar seorang menyebut Buddha, "Omitohud!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja kata pertama itu diucapkan, serentak deru angin menyambar dengan membawa serenceng bayangan hitam. Waktu kata kedua diucapkan, angin tajam dan bayangan hitam itu sudah hampir mengenai punggung A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal pedang A Fei jelas kelihatan sudah menusuk ke depan, tapi pada detik yang menentukan itulah sekonyong-konyong ia menarik pedang dan berputar tubuh. "Cring", sinar pedang sempat menyungkit bayangan hitam tadi, Kiranya segandeng tasbih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini barulah suara ucapan "Omitohud" tadi terdengar lengkap, tasbih itu mencelat terlempar oleh ujung pedang, dan ujung pedang masih mengeluarkan suara mendengung. Nyata satu gandeng tasbih itu ternyata membawa tenaga sambitan yang mahadahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ujung pedang masih bergetar, namun A Fei tetap berdiri tegak di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu fajar menyingsing, di bawah remang subuh kelihatan lima orang Hwesio berjubah kelabu, bersepatu kain dan berkaus kaki putih melangkah masuk ruangan itu dengan perlahan. Padri yang paling depan sudah tua, alis dan jenggotnya sudah putih seluruhnya, namun wajahnya bersemu merah, sinar matanya tajam, sikapnya kereng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Hwesio tua itu merangkap kedua tangannya, kalung tasbih tadi entah mengapa tahu-tahu sudah berada kembali ke tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kaget Tio Cing-ngo oleh serangan A Fei tadi baru sekarang lenyap, melihat Hwesio beralis putih ini, cepat ia memberi hormat dan menyapa, "Atas kunjungan Taysu ini, maafkan jika tidak dilakukan penyambutan selayaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hwesio alis putih itu hanya tersenyum saja, sorot matanya menatap tajam ke muka A Fei, ucapnya dengan suara lantang, "Cepat amat pedang tuan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika pedangku tidak cepat, saat ini mungkin perlu minta Taysu bersembahyang bagi arwahku," kata A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, soalnya padri tua tidak suka menyaksikan pertumpahan darah, sebab itulah kuturun tangan, ketahuilah, betapa cepatnya pedangmu tetap tidak lebih cepat daripada pandangan Buddha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya tasbih Taysu sendiri bisa lebih cepat daripada pandangan Buddha?" jawab A Fei. "Jika kumati di bawah tasbih Taysu, bukankah Taysu harus memikul dosa pembunuhan ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang ajar!" bentak Tio Cing-ngo, "Berani kau bicara kasar terhadap Hou-hoat-taysu (padri agung pembela agama) dari Siau-lim-si?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tidak apa," ujar si Hwesio alis putih. "Lidah anak muda memang lebih tajam daripada senjata, rasanya padri tua masih sanggup menahannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Lim Sian-ji menimbrung dengan tertawa, "Jika Sim-bi Taysu tidak menyalahkan perbuatanmu, tidak lekas kau pergi saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tio Cing-ngo lantas mendengus, "Tadi dia tidak mau pergi, sekarang mungkin sudah terlambat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo? Memangnya dapat kau rintangi diriku?" ujar A Fei sembari bertindak ke luar dengan langkah lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air maka Tio Cing-ngo berubah lagi, "Taysu ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, Sim-bi Taysu selamanya welas asih, mana beliau mau mempersulit anak muda yang tidak tahu diri itu," tukas Dian Jit dengan tertawa. "Biarkan dia pergi saja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tio Cing-ngo menghela napas, gumamnya, "Adalah gampang membiarkan dia pergi, untuk menyuruhnya datang lagi mungkin akan sangat sulit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Sim-bi Taysu berkata dengan suara berat, "Ciangbun-suheng (kakak guru pejabat ketua) kami menerima berita pos merpati dari cabang biara kami dan diketahui murid keluarga swasta perguruan kami Cin Tiong mengalami luka parah, seketika padri tua diperintahkan berangkat ke sini ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, cuma sayang kedatangan Taysu sudah agak terlambat ...." Tio Cing-ngo menghela napas ambil melototi Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu hari sudah terang, sudah banyak orang berlalu-lalang di jalan raya, A Fei berjalan di atas salju yang tertimbun semalam, meski langkahnya cepat dan enteng, namun perasaannya sangat berat dan tertekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He, tunggu ... tunggu ...." tiba-tiba seorang memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya sedemikian nyaring, sedemikian merdu, tanpa menoleh pun A Fei tahu siapa yang memanggilnya. Sebab diketahuinya orang di tepi jalan sama terkesima memandangi belakangnya, orang yang sedang berjalan juga sama berhenti, yang sedang bicara juga lupa bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tidak berpaling, tapi tanpa terasa ia pun berhenti. Didengarnya suara napas terengah perlahan sudah berada di belakangnya, bau harum yang memabukkan juga tercium, mau tak mau dia harus berpaling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihatnya Lim Sian-ji sedang tersengal-sengal napasnya, wajahnya yang cantik bersemu merah, cahaya subuh yang mulai mencorong di ufuk timur seolah-olah berubah suram dibanding kecantikan si nona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan semua orang di jalan raya sama terbeliak, semuanya terkesima, mendadak terdengar suara gemeresak, entah bakul telur ayam siapa yang jatuh pecah berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pandangan A Fei tetap sedingin salju yang berserakan di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menunduk, dengan muka merah ia berkata, "Kudatang untuk ... untuk minta maaf padamu, aku ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan tidak ada kesalahanmu yang perlu minta maaf padaku?" ujar A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menggigit bibir, ucapnya sambil mengentakkan kakinya, "Ai, orang-orang itu sungguh terlalu banyak tingkah, terlalu kurang ajar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa tindakan mereka itu ada sangkut pautnya denganmu?" ujar A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi engkau telah menyelamatkan diriku, mana ... mana boleh ku ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kutolong dirimu tapi kan tidak menolong mereka," kata A Fei. "Kutolong dirimu bukan menghendaki kau mintakan maaf bagi mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Sian-ji bertambah merah, serupa orang yang mendadak menumbuk dinding, setiap ucapannya yang belum selesai selalu diguyur dengan air dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa lagi yang hendak kau katakan?" tanya A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lim Sian-ji memang tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Selama hidupnya belum pernah menemui orang semacam ini, dia senantiasa yakin sekalipun gunung es juga akan cair bila berhadapan dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malahan A Fei lantas berkata pula, "Sampai bertemu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera ia membalik tubuh dan melangkah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi baru dua-tiga langkah, mendadak Sian-ji memanggilnya pula, "Nanti dulu, ada yang hendak kukatakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali ini A Fei sama sekali tidak menoleh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingin ... ingin kutanya padamu, di ... di mana kiranya dapat kutemui engkau?" seru Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak perlu kau cari diriku," jawab A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika begitu, bila ... bila Li Sun-hoan mengalami sesuatu, harus kuberi tahukan kepada siapa?" seru Sian-ji pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak A Fei berpaling dan berkata, "Kau tahu rumah berhala keluarga Sim di luar gerbang barat kota?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan kau lupa, sedikitnya aku sudah bertempat tinggal lima-enam tahun di kota ini," kata Sian-ji dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di rumah berhala itulah kutinggal," tutur A Fei. "Sebelum matahari terbenam, tidak nanti kupergi dari sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana bila matahari sudah terbenam?" tanya Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei termenung sejenak sambil menengadah, katanya kemudian dengan perlahan, "Jangan kau lupa, Li Sun-hoan adalah sahabatku. Tidak banyak sahabatku, malahan sukar mencari keduanya sahabat seperti dia. Jika dia mati, dunia ini terasa tidak menarik lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menghela napas, ucapnya dengan hampa, "Memang sudah kuduga malam nanti engkau pasti akan datang ke sini lagi untuk menolongnya. Cuma perlu kau ketahui, betapa baiknya sahabat tetap tidak lebih penting daripada keselamatan jiwanya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak A Fei menunduk kembali dan melototi Lim Sian-ji, ucapnya sekata demi sekata, "Kuharap selanjutnya tidak pernah lagi kau bicara demikian padaku, sekali ini kuanggap saja tidak mendengar apa-apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sekian hari turun salju, baru hari ini kelihatan sinar sang surya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sinar matahari tidak dapat menerangi rumah ini, Li Sun-hoan juga tidak menyesal, sebab sudah diketahuinya di dunia ini memang banyak sekali tempat yang selamanya tidak pernah melihat sinar matahari. Apalagi soal menyesal dan kecewa, semuanya sudah terbiasa baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak tahu apa yang hendak dilakukan Dian Jit, Tio Cing-ngo dan lain-lain terhadapnya, malahan dia malas memikirkan hal ini. Dian Jit dan begundalnya telah membawa padri Siau-lim-si untuk menemui Cin Hau-gi ayah dan anak, dan Li Sun-hoan dikurung di gudang kayu yang gelap dan lembap, Liong Siau-hun juga tidak membelanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Sun-hoan tidak menyalahkan dia. Liong Siau-hun tentu juga mempunyai kesulitannya sendiri, apalagi sekarang ia pun tidak berbuat apa-apa. Yang diharapkan Sun-hoan sekarang adalah semoga A Fei jangan datang menolongnya, sebab kini dapat diketahuinya dengan jelas, biarpun gerak pedangnya sangat cepat, tapi Kungfunya terdapat banyak titik lemah yang aneh, pengalaman tempurnya juga sangat sedikit. Bila berhadapan dengan lawan seperti Dian Jit, Sim-bi Taysu dan sebagainya, jika sekali serang gagal, mungkin selamanya dia takkan mampu menyerangnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Sun-hoan yakin asalkan digembleng dua-tiga tahun lagi, pasti A Fei dapat menambal titik lemah ilmu silatnya, tatkala mana mungkin anak muda itu akan menjagoi dunia tanpa tandingan. Sebab itulah A Fei harus tahan hidup dua-tiga tahun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai sangat lembap, hawa dingin terasa merasuk tulang, kembali Sun-hoan terbatuk-batuk tanpa berhenti, dia berharap dapat minum secangkir arak pada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hasrat untuk minum satu cangkir arak saja sekarang telah berubah menjadi kenikmatan yang tidak mungkin terjadi. Bila orang lain mengalami nasib seperti Li Sun-hoan sekarang, bukan mustahil akan menangis sedih sekali. Tapi Li Sun-hoan justru malah tertawa, ia merasa perubahan segala sesuatu di dunia ini sungguh sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal tempat ini adalah bekas miliknya, segala sesuatu yang berada di sini adalah haknya, tapi sekarang dia malah dituduh sebagai maling kumbang, diringkus dan dikerangkeng di gudang kayu bakar serupa seekor anjing. Siapakah yang pernah membayangkan akan peristiwa lucu ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pinta terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Tio Cing-ngo tidak sabar menunggu lebih lama lagi dan sekarang juga datang untuk mencabut nyawanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi segera diketahui Li Sun-hoan bahwa yang datang ini bukanlah Tio Cing-ngo. Tercium olehnya bau harum arak, menyusul lantas terlihat sebelah tangan yang memegang cawan arak terjulur masuk melalui celah-celah pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan ini sangat kecil, ujung lengan baju pada pergelangan tangannya kelihatan berwarna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He, Siau-in, kau!" sapa Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cawan arak itu tertarik kembali, lalu Ang-hay-ji, si anak serbamerah itu melangkah masuk dengan tertawa-tawa, kedua tangannya memegang cawan arak dan diciumnya bau arak itu, lalu berkata dengan tertawa, "Kutahu engkau sekarang pasti sangat ingin minum arak, betul tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, "Jadi kau tahu aku ingin minum arak, makanya khusus kau antar arak bagiku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ang-hay-ji mengangguk, cawan arak itu disodorkan ke depan Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi Sun-hoan hendak membuka mulut, mendadak anak itu menarik kembali cawan enaknya dan berkata dengan tertawa, "Coba kau tebak dulu arak apakah ini, jika tepat kau tebak baru kuberi minum padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan memejamkan mata dan tarik napas panjang, lalu berkata dengan tertawa, "Inilah arak Tik-yap-jing simpanan lama, arak kegemaranku, jika bau arak ini saja tidak kukenal, mungkin aku memang pantas mati saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ang-hay-ji tertawa, katanya, "Pantas orang bilang Li-tamhoa adalah ahli arak dan perempuan, buktinya memang tidak salah. Tapi bila engkau memang ingin minum arak ini, perlu kau jawab dulu suatu pertanyaanku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertanyaan apa?" ucap Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba air muka si anak merah yang tertawa berubah menjadi kelam, ia melototi Li Sun-hoan dan berkata tegas, "Ingin kutanya padamu, ada hubungan apa antara dirimu dengan ibuku? Apakah dia sangat suka padamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air maka Sun-hoan seketika juga berubah, jawabnya sambil bekernyit kening, "Apakah pertanyaan ini pantas kau ajukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa tidak pantas kutanyakan? Urusan sang ibu, anaknya kan berhak mengetahuinya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gusar Sun-hoan menjawab, "Masa tidak kau ketahui bahwa ibumu mencintaimu dengan segenap jiwa raganya, mengapa kau berani mencurigai dia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hm, jangan kau kelabui aku!" jengek Ang-hay-ji. "Segala urusan tak dapat mengelabui diriku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menggereget, dia menyambung pula, "Begitu ibu mendengar urusanmu, segera dia menutup pintu kamar dan menangis secara bersembunyi. Padahal waktu aku hampir mati tangisnya juga tidak sedemikian berduka. Nah, ingin kutanya padamu, apa sebabnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Sun-hoan seperti dipuntir-puntir, ia merasa dirinya telah berubah menjadi segumpal tanah liat dan lagi diremas-remas dan diinjak-injak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang agak lama barulah ia menarik napas berat, lalu berkata, "Harus kukatakan padamu, kau dapat mencurigai siapa pun, tapi tidak boleh mencurigai ibumu. Tidak ada setitik alasan pun bagi orang lain untuk mencurigainya. Nah, lekas kau pergi dengan arakmu ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ang-hay-ji melototinya dan berkata, "Arak ini sengaja kubawa untukmu, mana boleh kubawa pergi lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak ia siramkan secawan arak itu ke muka Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sana sekali Sun-hoan tidak bergerak, bahkan tidak memandangnya sekejap pun, sebaliknya ia berkata dengan suara lembut, "Kau masih seorang anak, aku tidak marah padamu ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seumpama aku bukan anak, memangnya apa yang dapat kau lakukan atas diriku?" jengek Ang-hay-ji. Mendadak ia mencabut sebilah pisau dan digerak-gerakkan di depan wajah Li Sun-hoan sambil berteriak, "Nah, lihatlah yang jelas! Inilah pisaumu, dia (ibunya yang dimaksud) bilang dengan memegang pisau ini sama dengan jimat penyelamat. Tapi sekarang apakah dapat kau lindungi diriku? Padahal menyelamatkan dirimu sendiri saja tidak mampu lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menghela napas, katanya, "Ya, betul, pisau hanya untuk mencelakai orang dan tak dapat melindungi orang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Ang-hay-ji tampak pucat, serunya dengan parau, "Telah kau bikin badanku cacat selamanya, sekarang aku pun akan membikin kau rasakan siksaan seperti diriku, ku ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah tiba-tiba di luar ada orang berseru, "Siau-in, apakah kau berada di dalam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu sangat halus dan enak didengar, tapi demi mendengar suara itu, seketika air muka Sun-hoan dan Ang-hay-ji berubah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat Ang-hay-ji menyimpan kembali pisaunya, air mukanya menampilkan senyuman kekanak-kanakan pula, sahutnya, "Ya, ibu, aku berada di sini! Kubawakan arak untuk paman Li, karena seruan ibu, anak menjadi kaget sehingga arak tersiram semua di atas badan paman Li."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu dia bicara, Lim Si-im sudah muncul di ambang pintu, kedua matanya yang jeli itu kelihatan rada bendul, penuh rasa pedih dan tampak marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah Ang-hay-ji menggelendot di sebelahnya, sinar matanya segera berubah menjadi lembut, katanya, "Paman Li sekarang tidak ingin minum arak, sebaiknya sekarang kau harus tidur, lekas pergi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman Li pasti difitnah orang, kenapa tidak kita tolong dia?" ujar Ang-hay-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hus, anak kecil, jangan sembarang omong," omel Si-im. "Lekas pergi tidur!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ang-hay-ji menoleh dan tertawa terhadap Li Sun-hoan, katanya, "Paman Li, kupergi dahulu, besok akan kubawakan arak lagi bagimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandangi senyum kekanak-kanakannya itu, tanpa terasa tangan Sun-hoan berkeringat dingin, ngeri akan tingkah laku anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didengarnya Si-im lagi menghela napas sedih, ucapnya, "Semula kukhawatir anak ini dendam padamu, tapi sekarang ... sekarang dapatlah kurasa lega. Terkadang dia dapat berbuat kesalahan, tapi pada dasarnya dia bukan anak buruk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan hanya menyengir saja tanpa memberi komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar suaranya yang penuh kasih ibu itu, apa yang dapat dikatakannya? Dia cukup tahu cinta adalah buta, terutama cinta seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im juga tidak memandangnya, selang agak lama barulah ia berkata dengan perlahan, "Engkau sebenarnya seorang yang sangat memegang janji, tapi sekarang, mengapa engkau telah berubah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan merasa kerongkongannya seperti tersumbat, apa pun tak dapat diucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau sudah berjanji padaku pasti takkan pergi mencari Lim Sian-ji, tapi mereka menemukan dirimu di tempat Sian-ji."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, ia tidak tahu mengapa dirinya masih dapat tertawa, tapi dia benar-benar telah tertawa. Katanya, "Kuingat ruangan ini baru dibangun belasan tahun yang lalu, betul tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehm," Si-im mengangguk sambil berkerut kening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi sekarang, rumah ini sudah tua, ujung dinding sana sudah retak, jendela juga rusak .... Semua ini suatu tanda waktu sepuluh tahun memang tidak pendek, dalam waktu sekian rumah dapat berubah menjadi bobrok, apalagi manusia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im meremas-remas tangan sendiri, ucapnya dengan suara gemetar, "Memangnya sekarang ... sekarang engkau sudah berubah menjadi pembohong?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku memang seorang pembohong," jawab Sun-hoan. "Cuma pengalamanku membohongi orang sekarang telah bertambah banyak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im menggigit bibir, mendadak ia membalik tubuh terus berlari pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan masih tertawa, betapa tujuannya sudah tercapai. Dia memang sengaja hendak melukai hati Lim Si-im, supaya dia lekas pergi. Agar orang lain tidak ikut tersangkut olehnya, terpaksa ia keraskan hati untuk melukai hati orang yang memerhatikan dia. Sebab orang ini juga yang paling diperhatikan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu dia melukai perasaannya, sama halnya dia melukai hatinya sendiri. Meski dia masih tertawa, tapi hatinya sudah remuk rendam ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memejamkan mata dan menahan air mata supaya tidak menetes, ketika dia membuka mata pula, diketahuinya entah sejak kapan Lim Si-im sudah berada kembali di dalam rumah dan sedang memandangnya lekat-lekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ken ... kenapa engkau belum lagi pergi?" tanya Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku cuma ingin tanya padamu dengan jelas, sesungguhnya engkau ini Bwe-hoa-cat atau bukan?" kata Si-im.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sun-hoan terbahak-bahak, "Hahaha, apakah aku ini Bwe-hoa-cat? .... Kau tanya aku ini Bwe-hoa-cat atau bukan ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski aku yakin engkau pasti bukan Bwe-hoa-cat, tapi ... tapi tetap ingin kudengar langsung dari mulutmu sendiri ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, "Jika kau tidak percaya, untuk apa bertanya pula? Kalau aku pembohong apa gunanya kau tanya lagi? Bila aku dapat membohongimu satu kali, tentu dapat bohong seratus kali, bahkan seribu kali ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka Si-im bertambah pucat, tubuh pun menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang agak lama, mendadak ia mengentak kaki katanya, "Akan kulepaskan kau, tak peduli engkau Bwe-hoa-cat atau bukan tetap kulepaskan dirimu. Aku cuma minta setelah kau pergi, jangan kau kembali lagi ke sini, jangan kembali untuk selamanya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berhenti!" bentak Sun-hoan mendadak. "Mana boleh kau berbuat begini? Kau kira akan kuminta pertolonganmu? Kau kira aku akan melarikan diri dengan mencawat ekor seperti seekor anjing kena gebuk? Memangnya kau pandang diriku ini orang macam apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Si-im tidak menghiraukannya, ia putar badan Sun-hoan terus hendak membuka Hiat-to kelumpuhannya yang tertutuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah, sekonyong-konyong seorang membentak dengan bengis, "Si-im, apa yang hendak kau lakukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah suara Liang Siau-hun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak Si-im membalik tubuh dan melototi Liong Siau-hun yang berdiri di ambang pintu itu, jawabnya dengan sekata demi sekata, "Apa yang ingin kulakukan, memangnya engkau tidak tahu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka Liong Siau-hun berubah, ucapnya, "Namun ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun apa?" potong Si-im dengan suara keras, "Tindakan ini seharusnya dilakukan olehmu, memangnya sudah kau lupakan budi kebaikannya kepada kita? Apakah sudah kau lupakan urusan masa lampau? Masa akan kau saksikan begini saja dia dibunuh orang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Si-im tambah menggigil, teriaknya lagi dengan parau, "Jika tindakan ini tidak berani kau lakukan, terpaksa aku yang melakukannya, masa kau cegah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siau-hun mengepal tinjunya erat-erat, mendadak ia memukuli dadanya sendiri sambil sesambatan, "Ya, aku tidak berani, aku penakut, pengecut? Tapi ... tapi kenapa tidak kau pikirkan, mana boleh kita bertindak demikian? Setelah kita menolong dia, apakah mereka akan melepaskan kita!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im memandangnya dengan terbelalak, seperti tidak pernah mengenalnya. Perlahan ia menyurut mundur dan berucap dengan terputus-putus, "Kau ... kau berubah, kau sudah berubah ... dahulu ... dahulu engkau bukan orang semacam ini ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, mungkin aku sudah berubah," jawab Siau-hun dengan sedih, "sebab sekarang aku sudah punya istri, sudah punya anak, demi mereka, setiap tindakanku harus kupikirkan, aku tidak mau membikin mereka ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lanjut ucapannya, menangislah Si-im tergerung-gerung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ini memang tidak ada kata lain yang lebih menggetarkan perasaan kasih sayang seorang ibu daripada kata "anak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Siau-hun berlutut di depan Sun-hoan, ucapnya dengan air mata bercucuran, "Maaf, saudaraku, aku bersalah padamu, kumohon engkau sudi mengampuniku ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengampunimu?" kata Sun-hoan. "Pada hakikatnya aku tidak paham apa yang sedang kalian bicarakan. Kan sudah kuberi tahukan sejak mula bahwa urusan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kalian, jika aku mau pergi, tentu aku mempunyai akal untuk angkat kaki dan tidak memerlukan pertolongan kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bicara sambil memandangi ujung kaki sendiri, sebab ia tidak dapat memandang mereka, ia khawatir air mata sendiri mungkin sukar tertahan dan akan menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saudaraku," kata Siau-hun pula, "kutahu seluruhnya tuduhan tak berdasar mereka kepadamu. Tapi dapat kujamin mereka pasti takkan membunuh dirimu, asalkan engkau sudah bertemu dengan Sim-oh Taysu, tentu urusan akan beres."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sim-oh Taysu?" Sun-hoan menegas sambil berkerut kening. "Memangnya mereka hendak membawaku ke Siau-lim-si?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul," jaw b Siau-hun. "Tapi meski Cin Tiong adalah murid kesayangan Sim-oh Taysu, kita tahu padri agung itu pasti takkan sembarangan mendakwa orang yang tak berdosa. Apalagi, saat ini Pek-hiau-sing Cianpwe juga berada di Siau-lim-si, dia pasti juga akan membela keadilan bagimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tidak bicara lagi, sebab telah dilihatnya kemunculan Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit sedang memandangnya dengan tersenyum. Pada saat munculnya Dian Jit, cepat Si-im telah pulih ketenangannya, ia mengangguk perlahan kepada Dian Jit, lalu melangkah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin malam mendesir dingin, baru melangkah dua-tiga tindak, mendadak Si-im berseru, "Anak In, keluar sini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Ang-hay-ji bersembunyi di ujung rumah sana, cepat dia menyelinap keluar, katanya dengan tertawa, "Akan tidak dapat tidur, bu, maka ... maka ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka kau cari orang-orang ini dan dikerahkan ke sini, begitu bukan?" tukas Si-im.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ang-hay-ji memburu maju dengan tertawa, tapi mendadak dilihatnya air muka sang ibu sama dingin dan kelamnya seperti sesaat sebelum fajar menyingsing itu, seketika ia berhenti dan kepala pun tertunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im memandanginya dengan diam, inilah putra kandungnya, permata hatinya, jiwanya, darah dagingnya. Tanpa terasa air matanya yang baru saja diusap kembali menetes lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang agak lama barulah Si-im menghela napas, gumamnya sambil menengadah, "O, mengapa dendam selalu lebih sukar dilupakan daripada budi kasih ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melupakan budi kasih orang lain memang sangat mudah, tapi sangat sulit untuk melupakan dendam kepada orang lain. Sebab itulah kesedihan di dunia ini selalu lebih banyak daripada kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengepal kedua tinjunya erat-erat Thi Toan-kah sedang mondar-mandir di dalam ruangan rumah berhala itu, entah sudah berapa puluh kali dia berjalan kian kemari, api unggun sudah hampir padam, tapi tidak ada yang menambahi kayu bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei cuma duduk diam saja di sana tanpa bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gemas Thi Toan-kah berkata, "Memang sudah kupikirkan sekalipun Bwe-hoa-cat sudah kau bunuh, para pendekar itu pasti juga takkan mengakui kebenaran tindakanmu. Kutahu, bilamana sekawanan anjing liar melihat daging, mana mungkin daging itu akan diserahkan kepada orang lain?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang sudah kau nasihati diriku, tapi aku toh pergi ke sana, sebab betapa pun aku harus ke sana," kata A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan untung engkau telah pergi ke sana, kalau tidak, mungkin selamanya engkau tak dapat memahami watak asli kawanan pendekar itu," setelah menghela napas, mendadak Thi Toan-kah berpaling dan memandang A Fei lekat-lekat, lalu katanya pula, "Tapi apakah benar tidak kau lihat Siauya kami?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," jawab A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thi Toan-kah memandangi api unggun yang hampir padam itu dengan termangu-mangu, lalu bergumam, "Entah bagaimana keadaannya sekarang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamanya dia tidak perlu orang lain berkhawatir baginya," ucap A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thi Toan-kah tertawa cerah, "Betul, meski para pendekar itu memandangnya seperti duri di dalam daging, tapi tidak ada seorang pun berani mengusik sepotong jarinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mondar-mandir lagi dua-tiga putaran tiba-tiba ia berkata pula sambil memandang cuaca subuh di luar, "Hati sudah terang, aku mau berangkat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik," kata A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika dapat kau temui Siauyaku, katakan apabila Thi Toan-kah berhasil menyelesaikan budi dan sakit hatinya, kelak pasti akan kembali ke sini untuk mencarinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei mengiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat berpisah," Thi Toan-kah menjura sambil menatap wajah anak muda yang kurus itu. Meski kelihatan rasa beratnya, namun dia melangkah pergi juga tanpa menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tetap diam saja, bahkan tidak menengadah untuk memandangnya. Sorot matanya yang dingin dan tajam itu seolah-olah timbul selapis kabut yang lembap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa orang di dunia ini yang dapat memandang budi kasih terlebih berat daripada sakit hati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei memejamkan matanya, seperti tertidur, tapi ujung matanya merembes keluar setitik air mata sehingga tampaknya serupa setetes embun yang membeku di atas batu karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak menceritakan apa yang dialami Li Sun-hoan, sebab dia tidak ingin menyaksikan Thi Toan-kah mengadu jiwa bagi Li Sun-hoan, untuk ini ia sendiri yang akan membela Li Sun-hoan dengan mati-matian. Demi setia kawan, apa artinya selembar jiwa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin terasa dingin di dalam ruangan rumah berhala ini, api unggun sudah padam, lantai batu sudah ada es beku, dan di situlah A Fei masih berduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tipis baju yang dipakainya, namun api dalam hatinya justru berkobar. Api yang tidak pernah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru lantaran di dalam hati sementara manusia masih menyala api semacam ini, maka dunia ini tidak sampai tenggelam dalam kegelapan, lelaki yang berdarah panas juga takkan kesepian untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa lama lagi, sinar sang surya pagi perlahan mengantar datang sesosok bayangan orang, bayangan yang memanjang dan menutupi muka A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak muda ini tidak membuka matanya, ia cuma tanya, "Apakah kau? Ada beritanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan pancaindra anak muda ini ternyata terlebih tajam daripada binatang buas sekalipun. Yang datang ternyata benar Lim Sian-ji adanya. Mukanya tampak kemerahan karena senangnya, dengan napas agak terengah ia menjawab, "Ya, kubawa berita baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berita baik?" A Fei menegas, ia hampir tidak percaya di dunia ini masih ada berita baik baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Sian-ji bertutur, "Meski untuk sementara dia tak dapat lolos, setidak-tidaknya sudah terhindar dari bahaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo?" A Fei sangat tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab Dian Jit dan lain-lain terpaksa harus menuruti pendirian Sim-bi Taysu yang memutuskan hendak mengirim dia ke Siau-lim-si," tutur Sian-ji lebih lanjut. "Ketua Siau-lim-pay, Sim-oh Taysu, terkenal saleh dan berbudi luhur. Kabarnya Pek-hiau-sing dari Pengkang saat ini juga berada di Siau-lim-si, jika kedua orang ini tidak dapat mencuci bersih kejahatan yang dituduhkan kepadanya, maka orang lain lebih-lebih tidak mampu lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pek-hiau-sing, orang macam apakah Pek-hiau-sing!" tanya A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tertawa dan bertutur pula, "Orang ini adalah mahatahu nomor satu di dunia, dia serbamengerti dan segala paham. Bahkan katanya cuma dia saja yang dapat membedakan tulen atau palsunya Bwe-hoa-cat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei termenung sejenak, mendadak ia membuka mata, katanya sambil melototi Liu Sian-ji. "Apakah kau tahu orang macam apakah yang paling menjemukan di dunia ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji seperti tidak berani beradu pandang dengan sorot matanya yang tajam itu, dia mengerling ke arah lain dan menjawab, "Jangan-jangan yang kau maksud adalah lelaki munafik semacam Tio Cing-ngo itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lelaki munafik memang menggemaskan, tapi manusia sok serbatahu juga menjemukan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sok serbatahu? Apakah kau maksudkan Pek-hiau-sing?" tanya Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul," jawab A Fei. "Orang semacam ini sok pintar sendiri, menganggap dirinya lain daripada yang lain dan serbamengerti, cukup berdasarkan sepatah katanya saja dapat menentukan nasib orang lain. Padahal berapa banyak urusan yang benar-benar dipahaminya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi orang lain sama bilang ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huh, justru orang lain sama bilang dia tahu segalanya, akhirnya dia terpaksa harus menipu dirinya sendiri juga dan menganggap dirinya memang serbatahu," jengek A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau tidak ... tidak percaya padanya?" tanya Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku lebih suka percaya kepada seorang yang tidak tahu apa-apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tertawa, "Caramu bicara sungguh menarik. Jika aku bisa lebih sering bercakap-cakap denganmu, tentu aku akan berubah menjadi lebih pintar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kalau ingin orang lain berkesan baik padanya, jalan yang paling tepat adalah berusaha orang lain mengetahui dirinya sangat suka padanya. Cara ini entah sudah berapa kali dilaksanakan oleh Lim Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekali ini dia gagal, sebab pada hakikatnya A Fei seperti tidak mendengar apa yang diucapkannya, anak muda itu berbangkit dan menuju ke depan pintu, dipandangnya salju yang tertimbun di luar sambil termangu-mangu, sejenak kemudian barulah ia tanya dengan suara berat, "Bilakah mereka hendak berangkat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi esok," tutur Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa perlu tunggu sampai esok?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab malam ini mereka hendak menjamu Sim-bi Taysu sebagai tanda selamat jalan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak A Fei berpaling kembali dan melototi Sian-ji dengan sinar mata gemerdep. "Kecuali itu, apakah tidak ada alasan lain lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa harus pakai alasan lain lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab tidak nanti Sim-bi Taysu membuang waktu sehari hanya karena untuk makan saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul juga ucapanmu," ujar Sian-ji. "Sim-bi Taysu tidak segera berangkat, tapi tinggal di sini untuk makan, sebab dalam perjamuan nanti akan hadir pula seorang tamu khusus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo? Siapa dia?" tanya A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thi-tiok Siansing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thi-tiok Siansing? Siapa pula dia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji terbelalak seperti sangat terkejut, "Masa Thi-tiok Siansing saja tidak kau kenal?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa aku harus kenal dia?" jawab A Fei tak acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menghela napas, "Sebab Thi-tiok Siansing ini meskipun bukan tokoh yang paling ternama di dunia Kangouw sekarang, sedikitnya dia terhitung tokoh terkemuka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo?!" A Fei merasa tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Sian-ji menyambung pula, "Konon tinggi ilmu silat orang ini sudah tidak di bawah ketua ketujuh perguruan besar dunia persilatan saat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei mendengus, "Tokoh dunia persilatan terkemuka juga sudah banyak yang kulihat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi orang ini berbeda dengan yang lain," ujar Sian-ji. "Dia pasti bukan tokoh yang bernama kosong, selain ilmu silatnya tinggi, senjata andalannya, yaitu sebatang Thi-tiok (seruling besi), di dalam seruling besi itu tersembunyi 13 biji paku sambar nyawa yang khusus digunakan menyerang Hiat-to, dia terhitung jago Tiam-hiat nomor satu dalam Bu-lim sekarang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari bicara ia terus memerhatikan perubahan air muka anak muda itu. Tapi sekali ini kembali A Fei membuatnya kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali air muka A Fei tidak memperlihatkan rasa kejut atau kagum, dia malah tertawa dan berkata, "Aha, rupanya mereka sengaja mendatangkan tuan seruling besi (Thi-tiok Siansing) ini untuk menghadapi diriku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tampak sedih, katanya, "Cara bekerja Sim-bi Taysu biasanya sangat cermat, dia, khawatir ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia khawatir kupergi menolong Li Sun-hoan, maka didatangkannya Thi-tiok Siansing sebagai pengawal," tukas A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarpun mereka tidak mencarinya, Thi-tiok Siansing pasti juga akan datang kemari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab apa?" tanya A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab gundik kesayangan Thi-tiok Siansing juga menjadi korban keganasan Bwe-hoa-cat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencorong sinar mata A Fei, ia pandang tangkai pedang yang terselip pada ikat pinggangnya, tanyanya perlahan, "Bilakah dia akan sampai di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kabarnya dia akan hadir pada jamuan makan malam nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika begitu, bisa jadi sehabis makan malam mereka akan terus berangkat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, "Ya, bisa jadi ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa jadi juga mereka takkan berangkat untuk selamanya," potong A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Takkan berangkat untuk selamanya? Memangnya kenapa?" tanya Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekata demi sekata A Fei menjawab, "Bilamana istriku mati di tangan seorang, tidak nanti kubiarkan orang itu pergi ke Siau-lim-si dalam keadaan hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergerak hati Sian-ji, "Jadi kau khawatir kedatangan Thi-tiok Siansing akan segera turun tangan keji terhadap Li Sun-hoan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehm," A Fei mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji melenggong sekian lamanya, kemudian menghela napas panjang dan berkata, "Ya, betul juga, memang mungkin terjadi begitu. Selamanya Thi-tiok Siansing tidak kenal ampun, biarpun Sim-bi Taysu juga tidak dapat mencegahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pembicaraanmu sudah habis, bolehlah kau pergi," kata A Fei tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ... tapi engkau apakah bermaksud menolong Li Sun-hoan lebih dulu sebelum Thi-tiok Siansing tiba di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kehendakku kan tiada sangkut pautnya denganmu? Nah, silakan pergi saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ... tapi melulu tenagamu seorang pasti sukar menyelamatkan dia," segera ia menyambung lagi sebelum A Fei bersuara, "Kutahu ilmu pedangmu sangat tinggi. Tapi Dian Jit dan lain-lain juga tidak lemah. Malahan Sim-bi Taysu terhitung jago nomor dua dari Siau-lim-pay, tenaga luar dalamnya sudah mencapai tingkatan yang sempurna."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei hanya memandangnya dengan dingin tanpa bicara apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menghela napas, "Saat ini tokoh terkemuka dunia persilatan boleh dikatakan sama berkumpul di Hin-hun-ceng sini, jika kau ingin menolong orang pada siang hari bolong, sungguh ... sungguh ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh gila, begitu bukan?" tukas A Fei mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menunduk, ia tidak berani beradu pandang dengan sinar matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tertawa lagi, ucapnya, "Setiap orang ada kalanya bisa gila-gilaan terkadang hal ini pun bukan tindakan jelek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menunduk sambil memainkan ujung bajunya, selang sekian lama, mendadak mencorong sinar matanya, katanya, "Ya, kupaham maksudmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo?" A Fei jadi melengak malah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab orang lain sama tidak menduga engkau berani turun tangan pada siang hari, maka penjagaan mereka pasti tidak ketat. Apalagi semalam mereka baru sibuk semalam suntuk, bisa jadi mereka sama tidur siang ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah terlalu banyak kau bicara," potong A Fei dengan hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tersenyum, "Baik, biar kututup mulut saja. Tapi engkau ... engkau tetap harus waspada, bila terjadi sesuatu, janganlah lupa di Hin-hun-ceng ini masih ada seorang penghuni yang utang jiwa padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja pada musim dingin selalu datang terlebih dini daripada biasanya, belum lama lewat tengah hari, cuaca sudah mulai suram, tapi untuk menyalakan lampu terasa agak dini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan orang, pada waktu demikian ini adalah saat yang paling sunyi dalam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari satu jam A Fei menunggu di atas wuwungan di seberang Hin-hun-ceng sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendekam di sana, serupa seekor kucing yang berjaga di luar liang tikus. Dari kepala sampai ujung kaki tidak bergerak sedikit pun, hanya sinar matanya yang tajam senantiasa gemerdep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin meniup kencang dan dingin serupa pisau menyayat badan. Tapi A Fei sama sekali tidak menghiraukannya. Sudah sejak berumur sepuluh tahun, karena ingin membunuh seekor rase, dia pernah mendekam di atas tanah salju tanpa bergerak selama dua-tiga jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu dia harus bersabar demi perut yang kelaparan, kalau rase itu tidak berhasil ditangkapnya, bisa jadi dia akan mati kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kesulitan besar bagi seorang yang menderita demi mempertahankan hidup selanjutnya. Sebaliknya kalau seorang menderita bagi kehidupan orang lain, inilah tindakan yang tidak gampang. Biasanya jarang yang sanggup melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu gerbang Hin-hun-ceng masih seperti biasanya, tidak pernah tertutup, tapi suasana sunyi, tidak kelihatan sesuatu kendaraan, juga jarang ada orang berlalu di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun A Fei tidak menjadi lengah, kehidupan di hutan belukar telah mendidiknya menjadi peka dan waspada serupa binatang buas, setiap kali sebelum melakukan sesuatu sergapan, biasanya harus sabar menunggu dan menunggu sampai lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu, semakin lama menunggu dan semakin banyak melihat, semakin tak dapat berbuat kesalahan. Ia pun tahu, betapa kecilnya sesuatu kesalahan yang diperbuatnya bisa menjadi kesalahan yang fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu dilihatnya ada seorang sedang melangkah keluar dari Hin-hun-ceng, meski berjarak agak jauh, tapi A Fei dapat melihat jelas orang ini bermuka bopeng atau burik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sendirinya tak tersangka olehnya bahwa si burik inilah ayah Lim Sian-ji. Hanya diduganya si burik ini pasti seorang hamba yang berkuasa di dalam perkampungan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kalau seorang budak biasa, tentu takkan berlagak seperti si burik ini. Sebaliknya kalau bukan kaum hamba, tentu juga tidak perlu berlagak tuan besar. Maklum, biasanya mandor memang lebih besar lagaknya daripada tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, dengan lagak tuan besar, Lim-toacongkoan (kepala rumah tangga Lim) ini sedang menuju ke rumah minum, tentunya dia ingin membual di sana. Tak terduga, baru saja ia membelok tikungan jalan sana, mendadak ujung pedang mengancam tenggorokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tidak sudi menggunakan pedang terhadap orang begini, tapi bicara dengan pedang jauh lebih efektif daripada menggunakan mulut. Jelas ia pun tidak suku banyak omong dengan orang macam ini, maka dengan tegas ia mendengus, "Pendek kata, kutanya satu kalimat harus kau jawab satu kalimat. Kalau tidak kau jawab, segera kubunuh kau. Salah jawab juga kubunuh, Nah, paham?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si burik ingin mengangguk, tapi khawatir janggutnya terluka oleh pedang, maka sukar untuk bicara, hanya keringat dingin yang memenuhi dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingin kutanya padamu, apakah Li Sun-hoan masih berada di dalam?" A Fei mulai bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iy ... iya ...." sampai lama bibir si burik bergerak baru tercetus satu kata ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di mana?" tanya A Fei pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di ... di gudang kayu, dek ... dekat dapur!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bawa aku ke sana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si burik terkejut, "Mana ... mana dapat kubawa engkau ke sana, aku ... aku tidak berdaya ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau pasti mempunyai akal," jengek A Fei, pedangnya mendadak menyambar ke samping, "cret", ujung pedang menancap dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, kau pasti punya akal, bukan?" A Fei menegas pula dengan pandangan tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iy ... iya ...." gemertuk gigi si burik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, sekarang putar balik ke sana, langsung pulang, jangan lupa, aku berada di belakangmu," kata A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat si burik memutar tubuh, tapi baru dua-tiga langkah, mendadak ia berucap dengan gemetar, "Tapi ... tapi bajumu ... biarlah jaket kulitku ini boleh ... boleh Tuan pakai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baju yang dipakai A Fei hanya sepotong baju kulit tipis dan sangat mencolok, maka gagasan yang baik juga bila si burik meminta A Fei memakai jaket kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak gagasan yang baik di dunia ini memang tercetus di bawah ancaman senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Lim-toacongkoan kita jelas bukan baru pertama kali ini membawa teman pulang ke rumah, maka seorang A Fei yang ikut di belakangnya tidak terlalu diperhatikan oleh kawanan centeng yang berjaga di depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gudang kayu memang tidak jauh letaknya dari dapur, sebaliknya letak dapur cukup jauh daripada rumah induk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui jalan kecil si burik membawa A Fei ke gudang kayu dan tidak kepergok seorang pun. Seumpama kepergok juga orang akan menyangka Lim-toacongkoan hendak mencari santapan ke dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei sendiri tidak menyangka urusan ini dapat berlangsung dengan lancar dan semudah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertampak sebuah halaman kecil yang terpencil dan sebuah rumah kecil yang tersudut, pintunya sudah tua, tapi di luar telah ditambahi dua buah gembok yang besar dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Li-toaya terkurung di dalam rumah ini, silakan Tuan ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kukira kau pun tak berani berdusta padaku," jengek A Fei sambil menatapnya dengan tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa ... masa hamba berani bergurau dengan kepala sendiri?" cepat si burik menjawab dengan menyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik," kata A Fei. Baru selesai ucapannya, tangannya membalik dan sekali jotos si burik terus roboh pingsan. Secepat terbang A Fei melompat ke sana, pintu didepaknya hingga terpentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar pintu tidak ada penjaga, mungkin karena siapa pun tidak menyangka A Fei berani menolong tawanan pada siang hari, bisa juga semua orang ingin menggunakan kesempatan ini untuk tidur siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gudang kayu ini hanya terdapat sebuah jendela yang sangat kecil sehingga merupakan sebuah penjara yang gelap, di kaki onggokan kayu yang tertumpuk tinggi meringkuk satu orang, entah sedang tidur atau pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu melihat baju kulitnya itu seketika darah panas dalam rongga dada A Fei bergolak. Ia sendiri tidak mengerti mengapa bisa timbul rasa persahabatan sedalam ini terhadap orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir ia melompat maju sambil berseru dengan suara parau, "Engkau ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terduga, pada saat itu juga, dari bawah kulit berbulu itu mendadak menyambar sinar pedang, Secepat kilat sinar pedang menebas kedua kaki A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini sungguh sama sekali di luar dugaan, serangan pedang ini pun cepat luar biasa. Untung A Fei juga masih memegang pedang, gerak pedangnya ternyata lebih cepat, sukar dibayangkan cepatnya, meski lawan melakukan serangan lebih dulu, tapi pedang A Fei yang bergerak belakangan telah menyambar tiba lebih dulu pada sasarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Creng", ujung pedang A Fei tepat menusuk batang pedang lawan. Seketika orang itu merasa tangan tergetar keras, pedang pun terpukul jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu pun tokoh kelas tinggi, meski menghadapi bahaya dia tidak menjadi panik, cepat ia menjatuhkan diri dan terguling jauh ke sana, habis itu baru dia perhatikan wajahnya, ternyata Yu Liong-sing adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tidak kenal dia, juga tak dipandangnya lagi, segera ia hendak mundur keluar, meski cukup cepat mundurnya, tapi toh terlambat juga. Di luar pintu sudah siap toya rotan dan golok emas yang menutup jalan mundurnya. Mereka ialah Dian Jit dan Tio Cing-ngo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan baru saja A Fei berhenti bergerak, terdengarlah suara gemuruh, tumpukan kayu yang membukit itu mendadak berguguran dan muncul belasan orang, semuanya berseragam baju ringkas, memegang busur dengar panah yang siap dibidikkan ke arah A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun juga, betapa pun tinggi Kungfunya jika terkurung oleh belasan pemanah tangguh jelas sangat sulit untuk meloloskan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa abamu sekarang?" tegur Dian Jit dengan tersenyum mengejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menghela napas, perlahan ia berduduk malah dan berkata, "Silakan turun tangan saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Haha, bagus Anda memang seorang yang dapat melihat gelagat, biarlah orang she Dian memenuhi kehendakmu!" seru Dian Jit sambil tergelak. Segera ia memberi tanda dan barisan panah segera berhamburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, mendadak A Fei menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping, tangan kirinya sempat menyambar pedang Yu Liong-sing yang jatuh tadi. Sekali pedang berputar, hujan panah itu sama tergetar mencelat. Berbareng itu A Fei terus berguling ke depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Tio Cing-ngo meraung murka, golok emasnya terus membacok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terduga belum lagi bacokan Tio Cing-ngo itu mengenai sasarannya, tahu-tahu sinar pedang menyambar lagi secepat kilat ke muka Tio Cing-ngo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kejut Tio Cing-ngo tak terkatakan, cepat ia hendak menangkis, namun sudah kasip. "Crit", pedang sudah kena menusuk lehernya, darah muncrat keluar seperti air mancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu Dian Jit menyurut mundur setengah langkah, menyusul toyanya lantas menyabet. Tapi pada saat itu A Fei telah melompat keluar pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit seperti hendak mengejar, tapi urung. Dilihatnya Tio Cing-ngo memegangi lehernya yang mengeluarkan suara "krak-krok", ternyata dia tidak sampai putus napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya A Fei terburu-buru hendak menerjang keluar sehingga serangannya agak menceng satu-dua senti dan tepat menembus di antara jalan napas dan jalan makanan, tidak sampai mengenai bagian yang mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu A Fei sudah melayang ke luar halaman, mendadak tangannya mengayun ke belakang, pedang tertimpuk ke arah Dian Jit. Mestinya Dian Jit hendak mengejar keluar, tapi cepat ia menyurut mundur lagi. "Crat", pedang itu menancap di dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang barulah Yu Liong-sing menghela napas panjang, ucapnya, "Cepat amat cara turun tangan anak muda ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit tersenyum, katanya, "Nasibnya juga cukup mujur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mujur?" Yu Liong-sing tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masa Siaucengcu tidak melihat tubuhnya telah terkena dua anak panah?" kata Dian Jit pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, kulihat dia putar pedang dengan tangan kiri dan di antara sinar pedang masih ada peluang, kuyakin dia pasti tidak mampu menangkis barisan panah Dian-jitya itu Anehnya, dia ternyata tidak terluka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal ini disebabkan dia memakai Kim-si-kah," ujar Dian Jit. "Perhitunganku sudah cermat, tapi tetap salah satu langkah ini. Kalau tidak, biarpun kepandaiannya setinggi langit juga jangan harap bisa lolos dari gudang kayu ini dengan hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Liong-sing termangu memandangi pedang yang menancap di dinding, lalu menghela napas berat, ucapnya, "Hari ini mestinya dia tidak kemari, dan aku pun tidak perlu datang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit tertawa, katanya, "Kalah menang adalah soal biasa di medan perang, kenapa Siaucengcu mesti kesal. Apalagi, biarpun keparat itu dapat menerobos rintangan kita ini, memangnya dia mampu lolos dari rintangan kedua?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul juga, baru saja A Fei melayang keluar pintu sana, tiba-tiba didengarnya suara orang menyebut Buddha, suaranya lantang berkumandang dari berbagai penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis itu, tahu-tahu ia sudah terkepung oleh lima orang padri Siau-lim yang berjubah kelabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima padri ini sama merangkap kedua tangannya di depan dada, sikapnya kereng, gerakannya enteng tapi mantap, begitu berdiri lantas tegak dan kukuh seperti gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padri yang mengepalai kelima orang ini beralis putih dan berjenggot panjang, kereng dan berwibawa, tangan kiri memegang segandeng tasbih, dia inilah padri sakti Siau-lim-si yang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menyapu pandang sekejap kelima padri itu, sikapnya tenang tanpa gentar, ucapnya dengan tegas, "Kaum padri ternyata juga bisa main sergap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sama sekali tidak ada maksud kami hendak main sergap, janganlah Sicu bersilat lidah, bersilat lidah hanya akan menyakiti hati, takkan melukai orang, sebaliknya bisa melukai diri sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalem saja padri agung itu bicara, tapi bagi pendengaran A Fei, setiap katanya mendengung seperti bunyi genta di tepi telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Agaknya cara Hwesio bersilat lidah juga tidak kurang tajam daripadaku," jengek A Fei sembari bicara, segera ia pun menerobos miring ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu bilamana dirinya mengapung ke atas, bagian kaki pasti akan memberi peluang kepada lawan untuk menyerangnya Sebab itulah ia harus menyelinap lewat melalui celah-celah dua orang di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak, sekonyong-konyong kawanan padri Siau-lim-si itu pun bergerak cepat mengitar di sekelilingnya. Ketika ia berhenti, serentak kawanan padri itu pun berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang beragama tidak suka main bunuh, Sicu membawa pedang, gerak kakimu juga cepat, asalkan engkau sanggup menerobos keluar dari barisan Lo-han-tin yang kecil ini, segera kami mengaku kalah dan akan mengantar kepergianmu dengan hormat," demikian Sim-bi Taysu berucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menarik napas dalam-dalam, tapi tubuhnya tidak bergerak. Dapat dilihatnya Kungfu kawanan padri Siau-lim-si ini sangat tinggi, bahkan bekerja sama dengan sangat rapat, boleh dikatakan air saja tak dapat menembusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu kecil A Fei pernah melihat seekor bangau besar terkurung oleh seekor ular sanca, walaupun patuk bangau itu cukup tajam, tapi sebegitu jauh tidak berani menyerang lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu A Fei sangat heran, kemudian baru diketahuinya bahwa bangau cukup kenal sifat ular. Setelah ular sanca itu melingkari si bangau, kepala dan ekornya saling berjaga laksana pukulan guntur dan sambaran kilat, bilamana bangau mematuk kepala ular, kedua kakinya tentu akan dibelit oleh ular, jika dia mematuk ekor ular, tentu kepala ular akan memagutnya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itulah si bangau hanya berdiri saja tanpa bergerak, ditunggunya ular sanca tidak sabar lagi dan melancarkan serangan, maka secepat kilat dipatuknya leher ular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalaman A Fei mengintai pertarungan menarik itu di atas pohon, dari situlah dipahaminya siasat "kepala dan ekor saling membantu" yang merupakan kunci strategi militer, kalau ditambah lagi siasat "mengatasi gerakan dengan ketenangan", tentu akan lebih yakin lagi akan menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan masa kecil itu tidak pernah dilupakan A Fei. Sebab itulah ketika kawanan padri Siau-lim-si itu tidak bergerak, sedikit pun dia juga tidak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya Sim-bi Taysu menjadi kurang sabar, ia menegur, "Apakah Sicu menyerah untuk diringkus?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," jawab A Fei. Selamanya dia bicara cekak aos, tidak suka bertele-tele, tidak mau memboroskan satu kata pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika tidak menyerah, kenapa tidak pergi?" kata Sim-bi Taysu pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau tidak membunuhku, aku pun tidak membunuhmu, dan kalau tidak kubunuh engkau, sukar bagiku untuk menerjang keluar," jawab A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sim-bi tertawa hambar, "Apabila Sicu mampu membunuhku, mati pun padri tua takkan menyesal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik," ucap A Fei, dan dia mulai bergerak. Sekali bergerak lantas secepat kilat. Tertampak sinar pedang berkelebat, langsung menutuk tenggorokan Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang hampir sama, serentak kawanan Hwesio Siau-lim-si juga bergerak, delapan telapak tangan sama menghantam ke arah A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terduga, baru saja pedang A Fei menusuk, gerak tubuhnya mendadak berubah, sukar untuk diketahui cara bagaimana dia menggeser langkah, tahu-tahu dia berubah arah. Pedang yang jelas kelihatan menusuk Sim-bi Taysu juga mendadak berganti sasaran sehingga tangan keempat Hwesio Siau-lim-si itu seolah-olah sengaja disodorkan untuk ditusuk pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus!" ucap Sim-bi Taysu dengan suara tertahan. Dan begitu bersuara, lengan bajunya lantas mengebas, angin kencang menyambar setajam sembilu, serangan ini memaksa A Fei harus menyelamatkan diri lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, meski keempat Hwesio itu menghadapi bahaya, mereka tidak perlu berusaha menyelamatkan diri, di sinilah letak kehebatan kerja sama Lo-han-tin yang terkenal dari Siau-lim-si.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dugaan, pada saat itu juga arah pedang A Fei mendadak berubah lagi, arah yang ditusuk semula ke timur, mendadak berubah menjadi menusuk ke barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal yang berubah bukankah arah serangan pedangnya melainkan langkahnya. Karena cepatnya sehingga sukar dibayangkan orang bahwa di dunia ini terdapat kaki segesit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bret", tahu-tahu lengan baju Sim-bi Taysu tertusuk robek. Menyusul sinar pedang berubah menjadi selarik cahaya pelangi, orang dan pedangnya seolah-olah terlebur menjadi satu, tahu-tahu A Fei sudah menerjang keluar kepungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyerempet bahaya beruntung usaha A Fei berhasil dengan baik, tapi ia pun lupa, dengan begitu bagian punggungnya lantas memberi peluang bagi musuh untuk menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan tergesa-gesa, Sicu, selamat jalan!" terdengar Sim-bi Taysu berseru, kontan A Fei merasa ditumbuk oleh suatu arus tenaga yang kuat, punggungnya terhantam seperti dipalu, meski dia memakai Kim-si-kah, baju kutang yang kebal, tidak urung dada juga terasa panas dan napas sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika tubuhnya melayang lebih jauh ke depan seperti layang-layang putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kejar!" salah seorang Hwesio Siau-lim-si itu berseru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak perlu," kata Sim-bi Taysu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Takkan jauh dia kabur, mengapa Susiok melepaskan dia?" ujar Hwesio muda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika dia tak dapat kabur jauh, untuk apa mengejarnya?" ujar Sim-bi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hwesio muda itu berpikir sejenak, lalu tersenyum dan berucap, "Ya, perkataan Susiok memang betul."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memandangi arah lari A Fei, perlahan Sim-bi Taysu bergumam, "Orang beragama mengutamakan welas asih, jika tidak perlu melukai orang memang lebih baik tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jauh Dian Jit menyaksikan semua itu, mendadak ia pun tertawa dan bergumam, "Alangkah welas asihnya orang beragama, jika ada orang lain mau membunuh baginya, lebih baik dia sendiri tidak perlu turun tangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu A Fei sedang melayang ke depan. Tenaga pukulan Sim-bi Taysu sungguh luar biasa dahsyatnya, setelah melintasi dua wuwungan rumah barulah A Fei dapat menahan diri. Waktu dia hendak melompat ke depan lagi barulah diketahui dia sudah terluka dalam. Namun sedikit luka ini ia percaya masih sanggup bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemblengan sejak kecil dan kehidupan yang sulit menjadikan dia seorang yang tidak gampang roboh, tubuhnya hampir serupa gemblengan baja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja tambah kelam, seputar tak tampak bayangan orang, tapi di atas setiap pohon, di balik setiap wuwungan rumah, setiap pojok, selalu ada kemungkinan menunggu musuh yang akan menyergapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa A Fei dapat lolos, ini sudah beruntung baginya. Selama ini, hampir jarang terjadi ada orang mampu membobol kepungan Lo-han-tin Siau-lim-si yang dipimpin sendiri oleh tokoh kedua perguruan ternama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi A Fei tidak bermaksud kabur. Jika satu pekerjaan belum berhasil dilaksanakan, tidak nanti ia tinggalkan setengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke manakah Dian Jit dan begundalnya menyembunyikan Li Sun-hoan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setajam mata elang A Fei terus mencari sekitarnya, segesit kucing ia melayang turun dan menyusup ke taman belakang. Tubuh seorang di atas wuwungan terlalu mencolok, di dalam taman justru banyak tempat sembunyi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong didengarnya suara tertawa orang. Suara tertawa itu tidak keras, tapi jaraknya sangat dekat, seperti berada di sampingnya. Waktu ia berpaling baru diketahui jarak orang yang tertawa itu cukup jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tombak di sebelah sana ada sebuah gardu pemandangan dan orang itu berduduk di dalam gardu, sedang membaca sambil bersandar pada langkan, asyik benar membacanya sehingga seperti sama sekali tidak memerhatikan urusan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu memakai baju lapis kapas yang sudah tua, mukanya kurus kuning, jenggotnya jarang-jarang, serupa seorang pak guru yang kurang vitamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tertawa seorang pak guru kurus tentu takkan dirasakan orang seperti orang tertawa di sampingnya kecuali ahli Kungfu yang memiliki tenaga dalam yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menghentikan langkahnya dan memandangnya dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak guru itu seolah-olah tidak melihat A Fei, jarinya dibasahi dengan air ludah, lalu membalik halaman buku dan masih terus membaca dengan asyiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selangkah demi selangkah A Fei mundur ke belakang, setelah belasan langkah, dengan cepat ia membalik tubuh dan sekaligus melayang tiga tombak ke sana, tanpa menoleh lagi ia melompat pula dua-tiga kali dan menyelinap masuk ke hutan Bwe (sakura). Bunga sakura sedang mekar mewangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menarik napas panjang-panjang, ditahannya darah yang hampir tersembur dari kerongkongannya. Ia merasa luka sendiri jauh lebih berat daripada dugaannya semula, karena mengeluarkan tenaga lagi, darah lantas hampir tumpah, rasanya sukar untuk bergebrak lagi dengan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pada saat itu jaga, sekonyong-konyong terdengar suara seruling bergema mengalun angkasa, bunga salju yang berada di ranting pohon sama berguguran menjatuhi tubuh A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah berhamburnya bunga salju, terlihat seorang sedang meniup seruling dengan bersandar pada pohon Bwe di depan sana, seorang tua berbaju kapas tebal, jelas si pak guru yang asyik membaca tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara seruling dari melengking tinggi mulai berubah rendah, menjadi sendu dan mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang A Fei tidak kabur lagi, ia pandang orang dengan tajam, lalu berucap sekata demi sekata, "Thi-tiok Siansing!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika suara seruling berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu memang betul Thi-tiok Siansing, si seruling besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menengadah, sorot matanya gemerdep, dalam sekejap saja si pak guru yang kelihatannya loyo kurang vitamin itu seketika seperti berubah lebih muda belasan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pandang A Fei sekian lamanya, tiba-tiba berkata, "Kau terluka?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melengak juga A Fei, diam-diam ia mengakui betapa tajamnya pandangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terluka pada bagian punggung?" tanya pula Thi-tiok Siansing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sudah tahu, untuk apa pula bertanya?" jawab A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sim-bi Hwesio yang menyerangmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei hanya mendengus saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thi-tiok Siansing tertawa sambil menggeleng kepala, katanya, "Tokoh Siau-lim-si ternyata juga cuma begitu saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cuma begitu apa?" tanya A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan kedudukannya, sepantasnya dia tidak menyerang orang dari belakang. Dan kalau sudah dapat melukaimu, seharusnya tidak melepaskan dirimu dengan hidup sehingga datang ke depanku." Tiba-tiba Thi-tiok Siansing tertawa, lalu bergumam, "Jangan-jangan Hwesio tua ini sengaja hendak 'pinjam golok untuk membunuh orang'?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei berkata, "Ingin kuberi tahukan tiga hal padamu. Pertama, kalau tidak menyerang dari belakang, pada hakikatnya dia tidak dapat menyerang diriku. Kedua, biarpun dia dapat menyerang pasti juga tak dapat membunuhku. Ketiga, kau pun lebih-lebih tidak dapat membunuhku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahaha!" Thi-tiok Siansing bergelak tertawa, "Besar amat suaramu, anak muda!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu berhenti suara tertawanya, dengan bengis ia berkata, "Setelah kau terluka, mestinya aku tidak mau turun tangan. Tapi cara bicaramu terlalu sok, betapa pun harus kuhajar adat padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei merasa sudah bicara terlalu banyak, ia malas untuk berucap lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengingat kau sudah terluka, baiklah, aku akan mengalah tiga jurus padamu," kata Thi-tiok Siansing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba A Fei tertawa sambil mengembalikan pedang pada ikat pinggangnya, lalu membalik tubuh dan melangkah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Thi-tiok Siansing tertawa panjang ambil melayang ke udara, lengan baju terbentang, serupa elang saja ia hinggap di depan A Fei, bentaknya, "Setelah bertemu denganku, kau ingin pergi lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa meliriknya A Fei menjengek, "Jika aku tidak pergi, kau hendak mati!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thi-tiok Siansing tergelak, "Aku harus mati? Mungkin kau yang akan mati!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada seorang pun mampu mengalah tiga urus padaku!" ucap A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu, bila kuberi tiga jurus padamu aku pasti mati?" jengek Thi-tiok Siansing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tidak bicara lagi, ia berpaling ke sini dan menatap orang. Seketika Thi-tiok Siansing merasa hawa dingin timbul dari lubuk hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thi-tiok Siansing adalah tokoh terkemuka yang disegani, keberhasilannya itu bukan secara kebetulan, tapi memang mengandalkan Kungfu sejati dalam berbagai pertempuran, dalam setiap pertempuran selalu akan dihadapinya sepasang mata lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam bentuk mata sudah pernah dilihatnya, ada mata yang penuh rasa benci, murka dan ada juga sorot mata yang penuh mengandung rasa ketakutan dan mohon dikasihani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sorot mata seperti A Fei sekarang belum pernah dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata yang hampir tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, biji mata anak muda ini pun serupa buatan batu, kaku dan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa Thi-tiok Siansing menyurut mundur setengah langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah pedang A Fei lantas bergerak. Dan sekali pedangnya menyerang tidak pernah meleset. Inilah keyakinan A Fei, serangan yang tidak pasti berhasil takkan dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak tubuh Thi-tiok Siansing mengapung ke atas, menjulang tinggi ke pucuk pohon, terdengar suara gemeresik, bunga salju dan bunga Bwe rontok bertebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putih salju dan merah bunga berpadu menjadi suatu pemandangan yang menakjubkan, dipandang dari bawah, Thi-tiok Siansing seakan-akan sedang menari di udara di tengah berhamburnya salju dan bunga Bwe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali A Fei tidak mendongak, pedang sudah disimpannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thi-tiok Siansing juga lantas melayang turun, sedemikian lambat turunnya sehingga mirip layangan yang tidak mendapatkan angin, selagi tubuhnya masih terapung, di atas tanah salju sudah berlumuran darah segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei memandang darah yang memenuhi tanah itu, katanya perlahan, "Tidak ada orang yang mampu memberi tiga jurus serangan padaku. Satu jurus saja tidak dapat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thi-tiok Siansing bersandar pada pohon Bwe dengan napas terengah. Mukanya pucat pasi, di bawah leher, di atas dada, penuh berlepotan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruling besinya yang termasyhur dan disegani sama sekali tidak sempat digunakan. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4537347065284875195-8458974916436543506?l=cerita-silat-clasic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/feeds/8458974916436543506/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4537347065284875195&amp;postID=8458974916436543506&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/8458974916436543506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/8458974916436543506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/2009/02/pendekar-budiman-7.html' title='Pendekar Budiman 7'/><author><name>Taviv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09431956148586873513</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q0YVGe00Snk/SX_O-ytuR-I/AAAAAAAAANA/cAjoAQf6lAU/S220/My+Son.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4537347065284875195.post-2252225112535508255</id><published>2009-01-31T20:20:00.005+07:00</published><updated>2009-01-31T20:35:37.702+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendekar Budiman'/><title type='text'>Pendekar Budiman 6</title><content type='html'>Karya : Gu Long&lt;br /&gt;Disadur Oleh : Gan KL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sorot mata mencorong Yu Liong-sing berkata pula, “Kalau Li-heng seorang pencinta pedang, tentunya kau tahu meski pedang ini tidak dapat dibandingkan Hi-jong-kiam, tapi pedang ini pun cukup terkenal pada tiga ratus tahun yang lalu, namanya Toat-ceng-kiam (pedang perampas cinta), barangkali Li-heng belum tahu kisah pedang ini.&lt;br /&gt;”&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Coba ceritakan,” kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pedang ini milik Tik Bu-cu, seorang jago pedang zaman itu, sampai usianya sudah setengah baya dia baru jatuh cinta kepada seorang perempuan. Keduanya sudah mengikat janji, siapa tahu pada malam sebelum upacara nikah mereka berlangsung, nona ini ialah mengadakan pertemuan gelap dengan sahabat Tik Bu-cu sendiri yang bernama si golok sakti Pang Ging. Saking duka dan gemasnya, dengan pedang perampas cinta inilah Tik Bu-cu membunuh Pang Ging, sejak itu hidupnya melulu berkawan dengan pedang dan tidak pernah bicara tentang pernikahan lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Yu Liong-sing menatap Sun-hoan lekat-lekat, katanya, “Mungkin Li-heng menganggap kisah ini sangat sederhana tanpa liku sehingga terasa tawar, tapi kisah ini adalah kisah nyata, bukan dongeng belaka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, “Kurasa meski ilmu pedang Tik Bu-cu ini sangat tinggi, tapi jiwanya terlalu sempit. Mestinya dia tahu peribahasa yang mengatakan: sahabat laksana kaki dan tangan, istrinya serupa pakaian. Seorang lelaki sejati mana boleh mengingkari persahabatan hanya karena urusan perempuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm, justru kurasakan Tik-locianpwe ini adalah seorang kesatria besar yang gilang-gemilang, hanya kesatria besar demikian dapat mencintainya sedemikian mendalam dan sedemikian polos.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika demikian, jadi malam ini Anda ingin meniru Tik Bu-cu zaman dahulu?” tanya Sun-hoan dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata Yu Liong-sing memancarkan cahaya dingin, jengeknya, “Untuk ini terserah kepada Li-heng apakah juga ingin menipu menjadi si golok sakti Pang Ging pada tiga ratus tahun yang lampau itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ai, bulan seterang ini dan ada janji dengan si cantik, betapa romantisnya suasana demikian, kenapa Anda sengaja merusak keindahan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi malam ini Anda pasti akan hadir ke sana?” tanya Yu Liong-sing dengan bengis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika membiarkan nona Lim yang molek itu, menanti kasih secara sia-sia di bawah sinar bulan purnama, tidakkah aku akan menjadi kekasih yang berdosa?” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Yu Liong-sing yang pucat berubah menjadi merah padam, urat hijau sama menonjol di dahinya, ujung pedang berputar, “sret”, ditusukkannya lewat leher Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tetap mengulum senyum, ucapnya dengan tak acuh, “Dengan ilmu pedangmu rasanya masih selisih jauh jika ingin menjadi Tik Bu-cu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan ilmu pedang demikian sudah lebih dari cukup untuk membinasakan dirimu!” bentak Yu Liong-sing dengan murka, berbareng dia menusuk pula beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar desing angin yang keras dan cepat, poci teh di atas meja tersampuk pecah oleh angin pedang, air teh berceceran di atas meja dan mengalir ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali tusukannya sungguh cepat luar biasa, namun Li Sun-hoan tetap berdiri di tempatnya, seakan-akan tidak bergeser sedikit pun, dan entah mengapa semua tusukan itu sama mengenai tempat kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Liong-sing menjadi geregetan, serangannya bertambah cepat. Dilihatnya Li Sun-hoan bertangan kosong, sebab itulah dia menggunakan serangan kilat agar Sun-hoan tidak sempat melolos pisaunya. Yang ditakutinya memang cuma “pisau kilat” si Li saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu Li Sun-hoan sama sekali tidak bermaksud menggunakan pisaunya, setelah semua serangan orang terhindar, tiba-tiba Sun-hoan tertawa dan berkata, “Dengan usiamu yang masih muda begini dan menguasai ilmu pedang setinggi ini, secara umum sudah terhitung sukar dicari. Tapi kalau dipandang dari perguruan dan keluargamu, jika kau gunakan ilmu pedang demikian untuk berkecimpung di dunia Kangouw, cukup dalam waktu dua-tiga tahun saja papan merek orang tua dan gurumu mungkin harus dicopot.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah sambaran pedang Li Sun-hoan dapat bicara dengan seenaknya, keruan Yu Liong-sing merasa gemas dan juga gelisah, namun apa daya, ujung pedangnya tetap tidak mampu menyentuh ujung baju orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Yu Liong-sing menjadi nekat, mendadak ia menusuk dada Li Sun-hoan, ia pikir sekali ini jangan harap dapat kau hindarkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terduga, kembali perhitungannya meleset, hanya sedikit Li Sun-hoan mengegos saja, tahu-tahu pedang Yu Liong-sing mengenai tempat kosong. Malahan terdengar suara “cring”, jari Li Sun-hoan yang kuat itu menjentik perlahan pada batang pedangnya, kontan Yu Liong-sing merasa tangan kesemutan, setengah badan terasa kaku, pedang tak dapat tergenggam lagi, terdengar suara mendering disertai berkelebatnya cahaya terang melayang keluar jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li Sun-hoan tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeser, selangkah pun. Sebaliknya Yu Liong-sing merasa darah sekujur badan seakan-akan membanjir ke ubun-ubun kepala, lalu menurun kembali ke telapak kaki dan seluruh tubuh terasa dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Sun-hoan menepuk bahu Yu Liong-sing dengan tersenyum hambar, “Sayang pedang, lekas dijemput kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gemas Yu Liong-sing mengentak kaki, lalu berlari pergi, sampai di ambang pintu mendadak ia berhenti dan menoleh, serunya dengan agak gemetar, “Jika ... jika berani, hendaknya tunggu setahun lagi, pasti akan kubalas sakit hati ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setahun?” Sun-hoan menegas. “Kukira tidak cukup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tersenyum lalu ia sambung dengan perlahan, “Bakatmu memang lumayan, ilmu pedangmu juga tidak lemah, cuma sayang terlalu cepat naik darah, sebab itulah seranganmu cepat tapi kurang mantap. Maka begitu berhadapan dengan lawan yang lebih kuat, lebih dulu kau sendiri sudah bingung. Padahal kalau bisa bertindak tenang, bukan mustahil hari ini dapat kau jatuhkan diriku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencorong sinar mata Yu Liong-sing, tapi belum sempat dia bersuara, tiba-tiba Li Sun-hoan menyambung lagi, “Bicara sabar memang mudah, untuk melakukannya yang sukar. Sebab itulah apabila kau ingin mengalahkan aku sedikitnya kau perlu tekun bertapa tujuh tahun lebih dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Yu Liong-sing sebentar merah sebentar pucat, tangan tergenggam hingga berkeriut saking gemasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, pergilah sekarang,” ujar Sun-hoan dengan tertawa, “asalkan dapat kuhidup tujuh tahun lagi, silakan kau cari diriku untuk menuntut batas. Tujuh tahun tidak terlalu lama, apalagi seorang lelaki sejati, jika ingin menuntut batas, sepuluh tahun saja belum terlambat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagat raya kembali sunyi senyap, hanya desir angin menerbitkan gemeresik daun bambu di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li Sun-hoan memandang cuaca malam di luar, ia berdiri termenung hingga lama, akhirnya menghela napas dan bergumam, “Anak muda, jangan kau dendam padaku Padahal tindakanku ini justru telah menyelamatkan dirimu. Jika kau masih terus tergila-gila kepada Lim Sian-ji, maka tamatlah hidupmu ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengebaskan lengan baju dan hendak melangkah keluar. Ia tahu saat itu Lim Sian-ji sedang menantikan kedatangannya, bahkan pasti sudah menyiapkan kailnya. Tapi dia tidak gentar sedikit pun, bahkan merasa sangat tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ikannya terlalu besar, mungkin pengailnya akan terpancing malah. Maka dengan tersenyum Sun-hoan bergumam pula, “Justru akan kulihat umpan macam apakah yang dipasang pada kailnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pergi tadi, dengan emosi Yu Liong-sing telah meraung terhadap Li Sun-hoan, “Jika kau pun menyukai Lim Sian-ji, cepat atau lambat kau pasti menyesal. Sudah lama dia menjadi milikku, dia ... dia .... Untuk apa kau pakai sepatu bekas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan tertawa tak acuh Sun-hoan telah menjawab, “Sepatu bekas biasanya lebih enak dipakai daripada sepatu baru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila teringat kepada sikap Yu Liong-sing tadi, Sun-hoan lantas merasa geli dan juga kasihan. Tapi apakah Lim Sian-ji benar anak perempuan jenis sebagaimana dikatakan Yu Liong-sing itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki jika menaksir seorang perempuan dan tidak berhasil, untuk menutupi rasa malunya dan juga untuk melampiaskan dongkolnya, biasanya dia suka menyiarkan berita bahwa perempuan itu sudah pernah mengadakan hubungan intim dengan dirinya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sifat kebanyakan lelaki, sifat yang lucu dan perlu dikasihani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Sun-hoan melangkah ke luar. Tiba-tiba dilihatnya dari depan sana ada cahaya lampu yang menyusuri pepohonan dan sedang menuju ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya dua pelayan cilik berbaju hijau dan menjinjing dua lentera berkerudung, sambil berjalan sambil berbicara dan bersenda gurau. Tapi begitu melihat Li Sun-hoan, seketika mereka tidak bicara dan juga tidak bersenda gurau lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya Sun-hoan lantas menyapa dengan tersenyum, “Apakah kalian disuruh menjemput diriku oleh nona Lim?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayan yang sebelah kiri lebih tua satu-dua tahun, perawakannya lebih tinggi, dengan hormat ia menjawab, “Hujin yang menyuruh kami mengundang Li-siangkong ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujin (nyonya)?” Sun-hoan menegas, seketika ia menjadi tegang, “Hujin yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cengcu kami kan cuma mempunyai seorang Hujin saja,” jawab si pelayan tadi dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayan yang lain cepat menambahkan, “Hujin tahu Li-siangkong tidak suka diganggu urusan tetek bengek, maka sengaja menyiapkan beberapa macam santapan yang diolah Hujin sendiri di ruangan belakang, Li-siangkong diundang dahar dan sekadar berbincang-bincang di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan berdiri mematung, pikirannya melayang jauh melintasi hutan sana, terbang ke atas paviliun berloteng sana ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun yang lalu, loteng itu adalah tempat yang sering dikunjunginya, ia masih ingat meja marmer itu selalu tersedia beberapa santapan yang menjadi kegemarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih ingat ham goreng ayam dengan madu itu selalu tertaruh pada piring warna hijau pupus, tapi piring yang berisi sayur kailan cah udang dan taoge cah samcan selalu berwarna cokelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang meja marmer itu adalah sebuah pintu berkerai, kerai bersulam indah buah tangan si dia sendiri, terkadang juga diganti dengan kerai mutiara. Dan di balik kerai itulah kamar tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih teringat olehnya waktu si dia muncul dari balik kerai, badannya selalu membawa semacam bau harum yang sedap. Selama sepuluh tahun ini, dia tidak berani lagi mengenangkan tempat ini, ia merasa bila memikirnya, baik terhadap si dia, terhadap Liong Siau-hun, boleh dikatakan semacam pikiran kotor yang tak terampunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Sun-hoan terus berjalan ke depan dengan linglung, waktu ia menengadah, tahu-tahu sudah berada di bawah loteng kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya lampu di atas loteng masih sangat lembut, tampaknya tiada berbeda daripada sepuluh tahun yang lalu, bahkan salju yang tertimbun di atas rumah juga putih bersih dan menarik seperti masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepuluh tahun toh sudah berlalu. Sepuluh tahun yang cukup panjang itu sukar lagi disusul kembali oleh siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menjadi ragu, sungguh ia tidak mempunyai keberanian untuk naik ke atas loteng ini. Setelah peristiwa kemarin, ia tidak mengerti untuk apakah Si-im mengundangnya, sungguh ia merasa tidak berani menemuinya. Akan tetapi tidak bisa tidak dia harus naik ke atas. Entah apa maksud undangan Si-im padanya, tidak ada alasan baginya untuk menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas meja marmer itu telah tersedia beberapa porsi masakan menarik, yang terisi pada piring warna hijau adalah ham goreng ayam, piring warna cokelat berisi kailan cah udang dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja Sun-hoan naik ke atas, seketika ia terkesima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun yang panjang itu seolah-olah telah lenyap dalam sekejap itu, dia merasa seperti telah kembali pada keadaan sepuluh tahun yang lalu. Dipandangnya kerai yang terjulur itu, mendadak jantungnya berdebar keras, berdebar seperti remaja yang baru jatuh cinta. Terkenang kehangatan sepuluh tahun yang lalu, teringat impian masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tidak berani berpikir lagi, rasanya berdosa kepada Liong Siau-hun, juga bersalah terhadap dirinya sendiri. Hampir saja ia tidak tahan dan hendak lari pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada saat itulah terdengar kumandang suara si dia dari balik kerai sana, “Silakan duduk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya masih tetap lembut seperti sepuluh tahun yang lalu, tapi juga terasa begitu asing, begitu dingin, kalau tidak ada beberapa macam santapan di atas meja itu, sungguh sukar dipercaya bahwa orang di balik tirai adalah kenalan lama berpuluh tahun yang lalu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaksa ia duduk dan menjawab, “Terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan waktu tirai tersingkap, keluarlah satu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernapas saja hampir berhenti Li Sun-hoan, tapi yang muncul ternyata bukan si dia melainkan anak itu, masih tetap memakai baju merah cerah, tapi mukanya pucat lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si dia masih berada di belakang tirai, terdengar dia berucap, “Jangan lupa pesan ibu tadi, lekas menyuguh arak kepada paman Li.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak merah itu mengiakan. Dengan sangat hormat dia lantas menuangkan arak, katanya dengan menunduk, “Kalau ada yang salah, maka semuanya adalah kesalahan keponakan sendiri, untuk itu mohon paman Li sudi melupakannya. Budi paman terhadap keluarga Liong kami lebih tinggi daripada gunung, biarpun keponakan terbunuh juga pantas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Sun-hoan seperti dipuntir-puntir dan tidak tahu apa yang harus diucapkannya, sekalipun ia yakin dirinya tidak bertindak salah, tapi melihat muka anak yang pucat ini, mau tak mau timbul semacam perasaan berdosa yang sukar dilukiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Si-im, O, Si-im, kau minta kedatanganku, apakah sengaja hendak kau siksa diriku?” demikian Sun-hoan berkeluh di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arak ini mana sanggup diminumnya? Akan tetapi mana boleh tidak diminumnya? Ini bukan arak lagi, tapi kegetiran kehidupan, terpaksa harus diterimanya jika dirinya masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selanjutnya Titji (keponakan) tidak dapat berlatih Kungfu lagi,” kata si anak merah, “tapi seorang anak lelaki tidak dapat bernaung di bawah orang tua selama hidup, maka mohon paman Li sudi mengingat hubungan baik pada masa lampau, ajarkanlah kepada keponakanmu ini semacam kepandaian membela diri agar kelak keponakan tidak diganggu orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam Sun-hoan menghela napas menyesal, tangan terjulur dan ujung jari sudah menjepit pisaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik tirai Si-im juga lantas berkata, “Selamanya paman Li tidak mengajarkan pisau terbangnya kepada siapa pun, bilamana memegang pisau itu, samalah kau dapatkan jimat pelindung badan. Ayolah lekas mengucapkan terima kasih kepada paman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Ang-hay-ji atau anak merah itu menyembah dan mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, tapi diam-diam gegetun, katanya, “Cinta kasih seorang ibu sungguh tidak ada bandingannya, tetapi, bagaimana seorang anak terhadap ibunda ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana menjadi hening sejenak. Anak itu telah dibawa pergi pelayan, tapi Lim Si-im masih berada di belakang tirai dan belum mau membiarkan Sun-hoan pergi. Mengapa dia menahannya di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Sun-hoan bukan seorang yang banyak tata adat, tapi berada di sini, tiba-tiba ia merasa kikuk seperti orang linglung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang sesuatu yang ajaib. Dia terkadang bisa membuat orang tolol menjadi mahapintar, sebaliknya juga bisa membuat orang pintar menjadi bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jauh malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Lim Sian-ji sedang menunggunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau ada ... ada urusan?” tiba-tiba Si-im bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ti ... tidak ada,” sahut Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im terdiam sejenak, “Kau pasti pernah bertemu dengan Sian-ji?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pernah bertemu satu-dua kali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia seorang anak perempuan yang pantas dikasihani, kisah hidupnya sangat memilukan, jika kau pernah melihat ayahnya, tentu dapat kau bayangkan kemalangannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo?!” Sun-hoan intan tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernah satu kali kupergoki dia hendak terjun ke jurang, maka kutolong dia .... Apakah kau tahu sebab apa dia ingin membunuh diri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru lantaran penyakit ayahnya,” perlahan Si-im menghela napas, lalu menyambung pula. “Ayah begitu ternyata mempunyai anak perempuan begini, sungguh sukar untuk dipercaya orang. Selain kasihan padanya, aku pun kagum padanya. Dia cantik dan pintar, suka maju. Ia tahu asal-usul sendiri terlalu rendah, maka dalam segala hal dia bekerja terlebih giat, selalu khawatir dipandang hina orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sekarang tentunya tak perlu lagi khawatir dipandang hina orang,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu juga hasil perjuangannya sendiri, cuma usianya memang masih terlalu muda, hatinya terlalu lunak, selalu kukhawatirkan dia akan tertipu orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam Sun-hoan membatin, untunglah bila orang lain tidak tertipu olehnya, masakah dia bakalan tertipu orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuharapkan kelak dia akan mendapatkan jodoh yang baik dan jangan sampai tertipu sehingga menderita selama hidup,” demikian kata Si-im lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan terdiam sejenak, katanya dengan perlahan, “Mengapa engkau bicara urusan ini denganku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im juga berdiam sebentar, lalu menjawab, “Sebab apa kubicarakan urusan ini denganmu, memangnya belum lagi kau maklumi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Sun-hoan termenung sejenak, mendadak ia bergelak tertawa dan berseru, “Aha, tahulah aku ... kutahu ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang tahu. Sebabnya Lim Si-im menahannya di sini, rupanya karena tidak menghendaki dia pergi memenuhi janji pertemuan dengan Lim Sian-ji, dengan sendirinya, soal janji pertemuan itu diketahuinya dari Yu Liong-sing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa pun juga,” kata Si-im pula, “kita kan sahabat lama, maka ingin kumohon sesuatu padamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedih hati Sun-hoan, tapi dia malah tersenyum dan berucap, “Kau minta jangan kutemui Lim Sian-ji?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul,” jawab Si-im.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menarik napas dalam-dalam, ucapnya, “Kau kira ... kau kira kuincar dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak kupedulikan bagaimana pendapatmu terhadap dia, cukup kau terima permohonanku,” kata Si-im.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menenggak habis secawan arak di depannya, lalu bergumam, “Ya, aku ini memang petualang yang sukar diobati pula, jika kupergi mencari dia berarti akan membikin celaka dia ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kau terima permintaanku?” tanya Si-im.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa kau tidak tahu selama ini kusuka membikin susah orang?” sahut Sun-hoan dengan menggereget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong sebuah tangan terjulur keluar dan memegang tirai mutiara dengan erat. Sebuah tangan yang halus dan indah, tapi lantaran menggenggam dengan terlalu kencang sehingga urat hijau tampak menonjol pada punggung tangan yang putih mulus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untaian mutiara tirai sampai terputus dan mutiaranya berserakan di lantai menimbulkan suara gemerencing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan memandangi tangan itu, perlahan ia berbangkit dan berkata, “Kumohon diri saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Si-im tergenggam terlebih kencang, ucapnya dengan agak gemetar, “Setelah kau pergi, mengapa ... mengapa kembali lagi? Hidup kami mestinya sangat tenang, meng ... mengapa kau datang lagi untuk mengacau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Sun-hoan terkancing rapat, tapi kulit daging pada ujung mulutnya tampak berkejang ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Si-im menerjang keluar dari balik tirai dan berteriak dengan parau, “Belum cukupkah kau bikin celaka anakku? Dan sekarang hendak kau bikin susah dia pula?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukanya tampak putih pucat dan begitu cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerlingan matanya penuh emosi dan juga penuh derita batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamanya belum pernah dia bersikap kasar begini kepada siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua ini hanya untuk membela Lim Sian-ji? Masakah yang diperhatikannya cuma Lim Sian-ji saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tidak berpaling. Ia tidak berani menoleh, tidak berani memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu bilamana sekarang ia memandangnya sekejap, mungkin akan timbul hal-hal yang dapat membuat kedua pihak menderita selamanya, hal ini tidak berani dibayangkannya, apalagi dipikirkannya ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat ia turun dari loteng paviliun itu sambil berucap perlahan, “Padahal mestinya tidak perlu kau mohon padaku, sebab pada hakikatnya aku tidak pernah menaksir dia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-im memandangi bayangan punggungnya, mendadak ia jatuh terkulai di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air kolam sudah beku, sebuah jembatan kecil melintang di atas air kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada musim panas kolam ini penuh bunga teratai yang harum semerbak. Tapi sekarang yang ada cuma semilir angin yang dingin dan kesepian yang tak terhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan duduk termangu-mangu di undakan batu jembatan kecil itu dan memandangi kolam yang sudah beku itu, hatinya juga serupa kolam teratai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah kupergi, mengapa kukembali lagi ke sini? .... Mengapa kembali lagi? ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara kentungan berbunyi, sudah lewat tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jauh tertampak cahaya lampu pada paviliun Leng-hiang-siau-tiok sana. Apakah Lim Sian-ji masih menunggu kedatangannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas diketahuinya Lim Sian-ji menghendaki kedatangannya malam ini, tentu ada maksud tujuan tertentu, jelas diketahuinya bilamana dia datang ke sana pasti akan terjadi macam-macam hal yang sangat mengejutkan dan juga sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia tetap berduduk di sini, memandangi cahaya lampu yang agak guram itu dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salju yang menumpuk di undakan batu telah merembeskan rasa dingin ke hatinya. Dia terbatuk-batuk lagi tiada hentinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong ada bayangan berkelebat di paviliun sana, cepat sekali bayangan itu melayang ke tempat gelap. Serentak Sun-hoan juga lantas melayang ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecepatannya sungguh sukar dilukiskan, tapi ketika dia mendekati paviliun itu, bayangan tadi sudah menghilang ditelan kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah aku salah lihat?” Sun-hoan menjadi ragu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah pantulan putih salju, tiba-tiba dilihatnya di atas timbunan salju di atap rumah ada bekas telapak kaki yang tidak lengkap. Tapi hanya sebelah bekas kaki ini saja tetap sukar baginya untuk memastikan ke mana menghilangnya orang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan melayang turun, dilihatnya cahaya lampu di balik jendela masih terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengetuk daun jendela perlahan dan memanggil, “Nona Lim!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jawaban di dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan memanggil lagi dua kali, tetap tidak ada jawaban. Ia berkerut kening, mendadak ia membuka daun jendela, terlihat di atas meja kecil di dalam rumah juga tersedia beberapa macam santapan, malahan di atas anglo kecil terdapat pula poci arak yang masih panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau arak memenuhi ruangan, santapan di atas meja juga terdiri dari ham masak ayam dan sebagainya, namun Lim Sian-ji tidak kelihatan berada di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat Sun-hoan melompat ke dalam rumah, segera ditemukan lima buah cawan arak, semuanya ambles ke dalam permukaan meja, dipandang sepintas lalu seperti lukisan sekuntum bunga Bwe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bwe-hoa-cat, si maling kumbang bunga sakura!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mungkin Lim Sian-ji telah diculik oleh maling kumbang itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menekan permukaan meja dan menyalurkan tenaga dalam, seketika kelima cawan arak yang terjepit di permukaan meja itu melenting keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima cawan arak masih tetap utuh seperti baru, cuma permukaan meja telah bertambah lima lubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meja itu bukan meja batu, tapi untuk bisa membikin lima cawan arak ambles, jelas tenaga dalamnya sangat mengejutkan, bahkan Sun-hoan sendiri merasa tidak sanggup. Maka dapat dibayangkan betapa hebat Kungfu si maling kumbang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Sun-hoan yang memegang cawan arak tanpa terasa berkeringat dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah, “crit”, mendadak api lilin di atas meja tertimpuk padam, menyusul terdengarlah kesiur angin yang mendesing memenuhi ruangan, entah betapa banyak, senjata rahasia berhamburan ke arah Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari suara desing tajam ramai itu, jelas penyerangnya tergolong jago kelas tinggi, bilamana orang lain bukan mustahil dalam sekejap itu tubuhnya akan penuh senjata rahasia seperti badan landak, Akan tetapi senjata rahasia di seluruh jagat ini mana ada yang dapat menandingi pisau terbang si Li kecil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali Sun-hoan berputar, sekaligus belasan senjata rahasia dapat ditangkap kedua tangannya, menyusul ia terus mengapung ke atas, senjata rahasia yang tidak tertangkap olehnya sama menyambar lewat di bawah kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah baru terdengar suara bentakan ramai di luar, “Ayo, maling kumbang, jangan harap akan bisa kabur lagi, lekas keluar menerima kematian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarpun kepandaianmu setinggi langit juga sekarang akan kami mampuskan dirimu tanpa terkubur!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Supaya kau tahu, Dian-jitya dari Lokyang sekarang juga berada di sini, belum lagi Mo-in-jiu Kongsun-tayhiap, ditambah pula Tio-toaya, Liong-siya dan ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah teriakan itu mendadak seorang membentak dengan bengis, “Jangan berisik, tenang semuanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski cuma beberapa kata ucapannya, tapi suara orang ini nyaring sebagai bunyi genta, seketika sirap suara orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan menggeleng kepala, pikirnya dengan tersenyum getir, “Ternyata benar Dian-jitya sudah tiba!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terdengar orang terakhir tadi berteriak pula, “Jika sahabat sudah datang ke sini, mengapa tidak mau keluar untuk bertemu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Li Sun-hoan berdehem dua kali, lalu menjawab dengan suara yang dibikin parau, “Jika kalian sudah datang kemari, mengapa tidak mau masuk untuk bertemu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali terjadi kegemparan di luar, beramai-ramai mereka berucap, “Awas, bangsat ini sengaja memancing kita masuk ke sana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, musuh di tempat gelap dan kita berada di tempat terang, jangan kita tertipu,” seru seorang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah kembali suara orang yang lantang berjangkit pula sehingga suara orang lain tersirap semua, seru suara itu, “Maling kumbang, maling hanya suka main sembunyi-sembunyi dan gelap-gelapan, mana dia berani bertemu dengan orang secara terang-terangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beramai-ramai yang lain juga ikut memaki, “Ya, maim sembunyi-sembunyi seperti kura-kura, hanya mengkeret di dalam kamar, apa ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mendongkol Sun-hoan berteriak, “Betul, Bwe-hoa-cat biasanya memang suka main sembunyi-sembunyi, tapi apa sangkut pautnya dengan diriku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya engkau bukan Bwe-hoa-cat? Habis siapa?” tanya suara lantang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lantas menukas, “Untuk apa pula Kongsun-tayhiap tanya padanya, masa Tio-toaya bisa salah lihat, tidak perlu diragukan lagi, orang ini pasti maling kumbangnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Sun-hoan terbahak-bahak, serunya, “Tio Cing-ngo, memang sudah kuduga semua ini adalah permainanmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tertawa segesit burung walet ia terus melayang keluar. Serentak sebagian orang di luar berteriak dan menubruk maju, tapi ada sebagian lagi yang melompat mundur dengan menjerit kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat Liong Siau-hun berteriak, “Tunggu sebentar, inilah saudaraku, Li Sun-hoan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu Li Sun-hoan telah menemukan jejak Tio Cing-ngo, ia hinggap di depannya, tegurnya dengan tersenyum, “Tajam benar penglihatan Tio-toaya, apabila aku kurang gesit, mungkin saat ini aku sudah menjadi tumbal bagi Bwe-hoa-cat, jelas kematian yang penasaran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Tio Cing-ngo tampak kelam, jengeknya, “Tengah malam buta main sembunyi di sini, kalau tidak kusangka sebagai Bwe-hoa-cat, habis siapa lagi? Dari mana kutahu sakitmu mendadak sembuh dan diam-diam mengeluyur ke sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak perlu kumain sembunyi dan berkeluyuran secara diam-diam,” jawab Sun-hoan hambar. “Ke mana pun juga dapat kupergi dengan terang-terangan. Apalagi Tio-toaya kan tidak tahu kedatanganku ini justru atas undangan penghuni tempat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm, memang tidak kuketahui Anda mempunyai hubungan sebaik ini dengan nona Lim di sini,” jengek Tio Cing-ngo. “Tapi setahuku, malam ini jelas nona Lim tidak berada di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo?” melengak juga Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantaran ingin menghindari Bwe-hoa-cat, sejak petang tadi nona Lim sudah pindah dari paviliun ini,” jengek Tio Cing-ngo pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walaupun begitu, kan seharusnya Anda perlu tanya dulu baru turun tangan?” kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terhadap manusia rendah semacam Bwe-hoa-cat, jalan yang paling baik adalah turun tangan dulu dan urusan belakang, bilamana tanya dulu baru turun tangan, maka segalanya sudah terlambat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan Tio Cing-ngo selalu masuk di akal dan sukar dibantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahahaha, bagus sekali kalimat turun tangan dulu dan urusan belakang!” Sun-hoan terbahak-bahak. “Jika demikian, bilamana tadi kumati di tangan Tio-toaya adalah karena salahku sendiri dan tidak dapat menyesali tindakan Tio-toaya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat Liong Siau-hun menengahi pula, ia berdehem dulu, lalu berucap, “Di tengah malam buta memang sering bisa salah lihat, apalagi ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi, bisa jadi aku tidak salah lihat!” jengek Tio Cing-ngo mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak salah lihat?” Sun-hoan menegas. “Memangnya Tio-toaya menganggap orang she Li ini ialah si maling kumbang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah sukar untuk dikatakan,” jengek Tio Cing-ngo pula. “Setiap orang sama tahu Ginkang si maling kumbang itu sangat tinggi, gerak-geriknya sangat cepat, soal apakah dia she Ong atau she Li, siapa pun tidak tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah, memang betul,” ujar Sun-hoan dengan tenang, “Ginkang orang she Li memang tidak rendah, gerak-gerikku juga tidak lambat, muncul kembalinya si maling kumbang sama juga pada waktu pulangnya orang she Li, kan aneh bilamana Li Sun-hoan bukan Bwe-hoa-cat alias si maling kumbang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tertawa, lalu memelototi Tio Cing-ngo dan berucap pula dengan perlahan, “Tapi bila Tio-toaya menganggap orang she Li ialah si maling kumbang, mengapa sekarang tidak lekas turun tangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat turun tangan atau turun tangan nanti bukan soal, dengan hadirnya Dian-jitya dan Kongsun-tayhiap sekarang, memangnya kau kira dapat lolos begitu saja?” kata Tio Cing-ngo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekarang air muka Liong Siau-hun tampak berubah khawatir, cepat ia berkata pula, “Ah, kita hanya bergurau saja, jangan serius. Liong Siau-hun berani menjamin dengan segenap jiwa raganya bahwa Li Sun-hoan pasti bukan Bwe-hoa-cat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan sendirinya urusan ini tidak boleh dibuat bergurau,” ujar Tio Cing-ngo dengan muka masam. “Sudah sepuluh tahun tidak pernah kau lihat dia, mana boleh kau jamin kebenarannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ... tapi kutahu persis pribadinya ....” muka Liong Siau-hun tampak merah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seorang menukas, “Tahu orangnya, kenal mukanya, tidak tahu hatinya. Tentu Liong-siya pernah mendengar peribahasa ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bicara ini berbadan tinggi kurus, bermuka kuning pucat, tampaknya seperti seorang yang selalu sakit-sakitan, tapi suaranya lantang, kiranya dia inilah Kongsun Mo-in yang terkenal dengan 14 jurus ilmu pukulan Mo-in-jiu yang lihai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakangnya berdiri seorang yang senantiasa tersenyum simpul dengan kedua tangan selalu tergendong di belakang, tampaknya seorang hartawan yang biasa hidup senang dan dipuja, kini tiba-tiba tertawa dan berkata, “Haha, betul, aku Dian Jit juga sahabat puluhan tahun dengan Li-tamhoa, tapi menghadapi peristiwa semacam ini, terpaksa soal persahabatan harus kukesampingkan juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hambar Sun-hoan menjawab, “Meski tidak sedikit sahabatku, tapi sahabat yang terhormat semacam Dian-jitya kurasa tidak ada satu pun. Maka hendaknya Dian-jitya tidak perlu berbicara tentang persahabatan denganku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Dian Jit menjadi kelam, sorot matanya menampilkan nafsu membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang Kangouw sama tahu Dian-jitya tidak kenal ampun, apabila senyuman lenyap dari wajahnya, seketika dia bisa turun tangan membunuh orang. Siapa tahu sekarang dia tidak membunuh orang, malahan bicara saja tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertampak Kongsun Mo-in, Tio Cing-ngo dan Dian Jit bertiga telah mengapung Li Sun-hoan di tengah, air muka ketiga orang sama masam dan menggereget benci. Namun ketiganya hanya memelototi pisau di tangan Li Sun-hoan, tampaknya tiada seorang pun ingin mendahului turun tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali Sun-hoan tidak memandang mereka, melirik pun tidak, ucapnya dengan adem ayem, “Kutahu saat ini kalau bisa kalian ingin membinasakan diriku, sebab bila aku si maling kumbang ini sudah terbunuh, seketika kalian akan hidup jaya dan si cantik dalam pelukan, bahkan akan mendatangkan pujian dan mendapat nama harum sepanjang masa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harta dan si cantik adalah urusan sepele,” ucap Tio Cing-ngo dengan menarik muka, “tujuan kami membunuh dirimu hanya demi membasmi kejahatan bagi dunia Kangouw.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haha, sungguh gemilang, sungguh cemerlang, sungguh tidak malu sebagai kesatria bermuka besi yang tidak kenal pilih kasih, sungguh pendekar budiman yang tidak ada bandingannya!” ejek Sun-hoan dengan terbahak. Perlahan ia meraba pisaunya, lalu mendengus, “Dan mengapa Anda tidak lekas turun tangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata Tio Cing-ngo berkilat kian kemari mengikuti tangan Li Sun-hoan, ia pun tidak dapat bersuara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aha, tahulah aku,” seru Sun-hoan pula. “Dian-jitya termasyhur dengan toya dan ketiga bola besinya yang menggetarkan dunia Kangouw, tentunya Tio-toaya sedang menunggu Dian-jitya akan turun tangan lebih dulu. Untuk ini tentu saja Dian-jitya akan melakukannya dengan senang hati, begitu bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kedua tangan Dian Jit tetap tergendong di belakang, seakan-akan tidak mendengar ucapan Sun-hoan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, betul, jangan-jangan Dian-jitya juga lagi menanti Kongsun-siansing akan turun tangan lebih dulu,” seru Sun-hoan pula. “Ya, ke-14 jurus pukulan sakti Kongsun-siansing banyak gerak perubahannya dan tidak ada bandingannya, dengan sendirinya Kongsun-siansing yang berkewajiban turun tangan lebih dahulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Kongsun Mo-in mendadak seolah-olah berubah menjadi tuli dan bisu dan tidak bergerak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahahaha! Sungguh aneh!” seru Sun-hoan dengan bergelak. “Katanya kalian bertekad akan membinasakan diriku, tapi semuanya tidak mau turun tangan, jangan-jangan kalian sama berjiwa luhur, tidak suka berebut jasa dan saling sungkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongsun Mo-in bertiga juga benar-benar sabar, betapa pun dimaki dan diejek Li Sun-hoan, mereka tetap tidak menghiraukan, anggap tidak mendengar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dalam hati ketiga orang itu gemas luar biasa, sungguh mereka ingin sekali depak mampuskan Li Sun-hoan. Tapi mereka juga jeri, sebab “pisau sakti si Li cilik, sekali timpuk tidak pernah meleset”, mereka tahu selama pisau terpegang di tangan Li Sun-hoan, siapa pun tidak berani turun tangan, orang lain lebih-lebih tidak ada yang berani bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Liong Siau-hun berkata dengan tertawa, “Ai, saudaraku, masakah belum lagi kau lihat mereka bertiga cuma bergurau saja denganmu? Ayolah, mari kita pergi minum arak saja untuk menghangatkan badan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bicara ia terus melangkah maju dan merangkul pundak Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka Sun-hoan berubah mendadak, serunya, “He, Toako ....” segera ia bermaksud mendorong Liong Siau-hun, tapi sayang sudah terlambat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah, “wutt”, Dian Jit telah melolos toya lemas rotan berbungkus benang emas yang panjangnya cuma empat-lima kaki, seperti ular berbisa memagut, secepat kilat ia sabet kaki Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, sia-sia Li Sun-hoan memegang pisau sakti si Li yang merontokkan nyali siapa pun, sebab bahunya dirangkul oleh tangan Liong Siau-hun yang simpatik, dengan sendirinya pisaunya tidak dapat bekerja seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plok”, kontan kakinya tersabet toya lemas Dian Jit, saking sakitnya hampir saja ia berjongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongsun Mo-in juga tidak tinggal diam, dengan cepat ia menutuk tujuh Hiat-to penting sekaligus di punggung Li Sun-hoan. Menyusul Tio Cing-ngo lantas menambahi sekali tendang sehingga Sun-hoan mencelat dua-tiga tombak jauhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siau-hun berjingkrak dan meraung, “Mengapa kalian turun tangan secara begini? Lekas lepaskan dia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil meraung ia terus menubruk ke arah Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tio Cing-ngo menjengek, “Hm, lepaskan harimau mudah menangkapnya susah, tidak boleh melepaskan dia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, maaf Liong-siya!” kata Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbareng Kongsun Mo-in lantas mengadang di depan Liong Siau-hun. Kedua kepalan Liong Siau-hun menghantam sekaligus, tapi toya rotan Dian Jit sempat mencantol kakinya, sekali tarik, kontan Liang Siau-hun sempoyongan, sebelum dia berdiri tegak lagi, Tio Cing-ngo memberinya satu kali tutukan pada iganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liong Siau-hun jatuh terkulai, teriaknya dengan suara parau, “Tio-toako, ken ... kenapa kau ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan muka kelam Tio Cing-ngo menjawab, “Meski kita bersaudara angkat, tapi setia kawan Kangouw jauh di atas urusan persaudaraan, semoga kau maklum hal ini dan janganlah mencari susah sendiri karena membela sampah dunia persilatan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ... tapi dia pasti bukan Bwe-hoa-cat, pasti bukan!” teriak Siau-hun parau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa banyak omong lagi?” damprat Tio Cing-ngo. “Cara bagaimana dapat kau buktikan dia bukan Bwe-hoa-cat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senyuman yang ramah Dian Jit menukas, “Ya, malahan dia sendiri juga sudah mengaku, untuk apa Liong-siya bersusah payah membelanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Liong-siya,” Kongsun Mo-in ikut bicara, “engkau orang yang berkeluarga, punya kedudukan dan terhormat, jika kau ikut terambat dan menanggung susah perbuatan manusia kotor ini, kan penasaran?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara serak Siau-hun berteriak, “Asalkan kalian melepaskan dia, betapa besar dosanya, biar orang she Liong menanggung baginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau rela menanggung dosanya?” teriak Tio Cing-ngo dengan bengis, “Akan tetapi bagaimana dengan istrimu? Bagaimana dengan anakmu? Apakah kau tega menyaksikan mereka ikut susah lantaran tindakanmu ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkesiap Liong Siau-hun, sekujur badan lantas gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat Li Sun-hoan rebah di tanah bersalju dengan kaki terangkat dan lagi terbatuk-batuk tidak berhenti-henti dan tampak napas pun sesak, tapi pisau masih terpegang kencang di tangannya, serupa seorang yang akan mati tenggelam, meski sebatang gelagah saja akan dipegangnya erat-erat, padahal gelagah itu hakikatnya tidak dapat menyelamatkan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarpun pisau masih terpegang di tangannya, namun apa daya, selamanya tak dapat lagi disambitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesatria yang keras, yang selama hidupnya telah dilaluinya dengan kesepian, apakah akan tamat dengan begini saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa Liong Siau-hun menitikkan air mata, ucapnya gemetar, “O, saudaraku, semuanya gara-garaku, akulah yang membikin celaka dirimu. Ma ... maafkan aku ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat sebelum subuh tiba merupakan saat yang paling gelap, bahkan cahaya lampu di ruangan besar itu pun tidak dapat menembus kegelapan yang tak berujung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serombongan orang berkumpul di undak-undakan batu di luar sana dan sedang berbisik-bisik membicarakan apa yang baru saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dian-jitya memang benar-benar sangat hebat, coba kau lihat betapa cepat gerak toyanya tadi, seumpama Liong-siya tidak kebetulan merangkul pundaknya kuyakin Li Sun-hoan juga tidak mampu menghindarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, apalagi di samping masih ada Kongsun-tayhiap dan Tio-toaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, pantas juga orang bilang kedua kaki Tio-toaya bernilai selaksa tahil emas. Lihat saja tendangannya tadi, sungguh indah dan telak benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa heran? Lam-kun-pak-tui (kepalan selatan, kaki utara), kesatria daerah utara kami memang termasyhur karena kehebatan tendangannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah, Dian-jitya, Tio-toaya, ditambah lagi Kongsun-tayhiap, sungguh sial bagi Li Sun-hoan sekaligus bertemu dengan mereka bertiga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, walaupun begitu, andaikan tadi Liong-siya tidak ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa dengan Liong-siya? Memangnya dia kurang setia kawan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soal setia kawan Liong-siya memang tidak perlu disangsikan lagi, sungguh mujur Li Sun-hoan mendapatkan sahabat seperti dia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Itu Liong Siau-hun lagi berduduk di kursi besar di tengah ruangan, demi mendengar kata-kata terakhir itu, sungguh hatinya seperti ditusuk jarum, butiran keringat memenuhi dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu Li Sun-hoan mendekam di atas lantai dan kembali terbatuk-batuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menangis Liong Siau-hun berkata, “O, saudaraku, akulah yang pantas mampus, sungguh celaka engkau mempunyai sahabat seperti ... seperti diriku. Hidupmu ini hancur gara-gara perbuatanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuatnya Sun-hoan menahan batuknya, katanya dengan tersenyum, “Toako, kuharap engkau mengerti, apabila aku diberi kesempatan hidup sekali lagi mulai dari awal, maka tanpa ragu aku tetap akan bersahabat denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh emosi Liong Siau-hun menangis tergerung-gerung, serunya, “Akan tetapi, kalau ... kalau tadi tidak kurintangimu, mana ... mana bisa ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kutahu, apa pun yang dilakukan Toako adalah demi kebaikanku, maka bagiku hanya ada terima kasih,” ucap Sun-hoan dengan suara lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi mengapa tidak kau beri tahukan kepada mereka bahwa engkau bukan Bwe-hoa-cat, mengapa ... mengapa kau ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mati atau hidup adalah urusan jamak, hidupku ini memang sudah cukup, hidup tidak perlu digembirakan, mati juga tidak perlu gentar, untuk apa aku bertekuk lutut di depan manusia rendah dan kotor ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tadi Dian Jit hanya memandangi mereka dengan mengulum senyum, kini mendadak ia berkeplok tertawa, “Haha, makian tepat, makian bagus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongsun Mo-in mendengus, “Hm, dia cukup maklum apa yang dikatakannya toh tidak bakalan kita lepaskan dia, terpaksa ia menirukan perempuan bawel saling maki di pinggir jalan, biar mati juga ingin mendapatkan kepuasan mulut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, urusan sudah kadung begini, yang kuharap hanya kematian saja,” kata Sun-hoan. “Kini tanganku sudah tidak memegang pisau, mengapa kalian belum lagi turun tangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Kongsun Mo-in yang kurus kering itu menjadi bersemu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan muka Tio Cing-ngo masih tetap masam, ucapnya, “Jika sekarang juga kami bunuh dirimu, bisa jadi ada orang Kangouw yang tidak tahu seluk-beluknya akan bilang kami membunuh dirimu demi kepentingan pribadi Maka untuk membunuhmu harus kami lakukan secara terang dan adil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tio Cing-ngo, sungguh aku sangat kagum padamu,” ejek Sun-hoan. “Isi perutmu penuh kotoran, tapi bicaramu seolah-olah orang suci bersih, muka tidak merah sedikit pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus, orang she Li, kau memang kepala batu,” kata Dian Jit. “Jika kau ingin lekas mampus, ada juga suatu caraku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mestinya juga hendak kumaki dirimu, tapi kukhawatir akan membikin kotor mulutku sendiri.” ujar Sun-hoan dengan menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit berlagak tidak mendengar, ia berkata pula dengan tersenyum, “Asalkan kau mau menulis suatu pernyataan menyesal dan mengakui dosamu, sekarang juga akan kami bikin kau mati dengan enak agar tidak penasaran kematianmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir Sun-hoan lantas menjawab, “Baik, akan kuuraikan, boleh kau tulis ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan, saudaraku!” seru Liong Siau-hun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tidak menghiraukannya, ucapnya pula, “Dosaku memang sudah kelewat takaran dan sukar dihitung, aku munafik, pura-pura bajik, padahal berhati keji dan licik, suka memfitnah dan mengadu domba, menyergap pada waktu orang tidak bersiap. Tidak berbudi, tidak tahu diri, segala perbuatan kotor dan rendah hampir seluruhnya pernah kulakukan, tapi masih sok anggap seorang tokoh yang lain daripada yang lain ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plok”, mendadak tangan Tio Cing-ngo menggampar muka Li Sun-hoan dengan telak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liong Siau-hun meraung gusar, “Seorang kesatria hanya boleh dibunuh dan tidak boleh dihina, mana boleh kalian menyiksa dia secara demikian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa,” ujar Sun-hoan tetap dengan tersenyum, “tamparannya kuanggap sebagai digigit sekali oleh anjing gila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriak Tio Cing-ngo dengan murka, “Dengarkan, orang she Li, anggaplah aku belum mau membunuhmu, tapi aku mampu membuatmu minta hidup tidak dapat, mohon mati pun sukar, kau percaya tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li Sun-hoan terbahak-bahak, “Hahahaha! Jika kujeri terhadap kawanan manusia rendah dan kotor semacam kalian ini, percumalah aku menjadi seorang lelaki. Coba kalian masih mempunyai cara apa, silakan keluarkan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik,” bentak Tio Cing-ngo, segera ia menanggalkan baju luarnya yang baru saja dipakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liong Siau-hun berduduk di kursi dengan badan gemetar, teriaknya, “Maafkan saudaraku, engkau seorang kesatria, tapi aku ... aku seorang pengecut, aku ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tersenyum, “Hal ini tak dapat menyalahkan dirimu, Toako, apabila aku beranak-istri, aku pun akan bertindak seperti Toako.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu tangan Tio Cing-ngo yang kuat sebagai baja sudah mulai meremas tulang pundaknya, rasa sakitnya sungguh tukar ditahan, meski keringat dingin sudah mengucur, namun Li Sun-hoan tetap bertahan, tetap tersenyum simpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang berdiri di luar ruangan sudah banyak yang berpaling ke arah lain. Kesatria Kangouw umumnya mengutamakan “berani”, keberanian seperti Li Sun-hoan ini sungguh jarang terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah sekonyong-konyong di luar ada orang berseru, “He, nona Lim, engkau pulang dari mana? .... Siapakah tuan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertampak baju Lim Sian-ji morat-marit dengan rambut kusut-masai sedang melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Di sampingnya mengikut seorang anak muda, meski hawa sangat dingin, namun baju yang dipakainya sangat tipis, jalannya tegap seakan-akan di dunia ini tiada sesuatu urusan yang dapat membuatnya membungkuk tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukanya kaku serupa batu ukiran, keras, dingin, teguh, tapi juga membawa semacam daya tarik aneh yang sukar dilawan. Yang lebih mengherankan lagi adalah dia datang dengan memanggul sesosok mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei! Anak muda ini ternyata A Fei adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa A Fei bisa datang kemari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terguncang hebat perasaan Li Sun-hoan, entah kejut entah girang? Tapi cepat ia berpaling, sebab ia tidak ingin A Fei melihat keadaannya sekarang. Ia tidak mau A Fei turun tangan dengan menyerempet bahaya baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi A Fei toh melihatnya juga. Seketika air mukanya yang kaku dan dingin itu berubah penuh emosi, ia menerjang maju dengan langkah lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tio Cing-ngo tidak berani merintanginya, sebab dia sudah pernah merasakan betapa lihai ilmu pedang anak muda ini. Tapi Kongsun Mo-in belum tahu, segera ia melompat maju dan mengadang di depan A Fei sambil membentak, “Siapa kau? Apa kehendakmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sendiri siapa? Kau mau apa?” jawab A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingin kubelajar kenal dengan ilmu pedangmu!” seru Kongsun Mo-in, berbareng ia lantas turun tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang mencegahnya. Hal ini tidak perlu diherankan, rebab Tio Cing-ngo justru berharap agar mereka saling gebrak. Dian Jit juga ingin pinjam tangan orang lain untuk mengukur kepandaian anak muda tak dikenalnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagaimana dengan Lim Sian-ji? Dia cuma memandang Li Sun-hoan dengan terkejut dan sama sekali tidak memerhatikan orang lain. Mengenai Liong Siau-hun, dia seperti tidak berniat ikut campur urusan orang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, A Fei ternyata tidak mengelakkan serangan Kongsun Mo-in. “Blang”, terdengar suara keras, kepalan Kongsun Mo-in tepat mengenai dada A Fei. Tapi A Fei bergeming sedikit pun, sebaliknya Kongsun Mo-in kesakitan sendiri sehingga menungging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei tidak memandangnya lagi, ia lewat di sampingnya dan mendekati Li Sun-hoan, tanyanya, “Dia kawanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tersenyum, “Kau kira ada kawanku semacam ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu Kongsun Mo-in telah meraung murka dan menubruk maju pula, kembali ia menghantam punggung A Fei. Mendadak A Fei membalik tubuh dan terdengar pula suara “blang”. Kontan tubuh Kongsun Mo-in mencelat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama berubah air maka para hadirin, siapa pun tidak menyangka tokoh “Mo-in-jiu” yang disegani di dunia Kangouw dapat berubah seperti patung di depan anak muda ini, masa tidak tahan sekali genjot saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Dian Jit saja yang lantas bergelak tertawa dan berseru, “Sungguh cepat amat pukulan sahabat muda ini, sungguh kesatria muda yang mengagumkan,” lalu ia menjura dan menyambung pula, “Cayhe Dian Jit, entah siapa nama saudara cilik yang terhormat, sudikah berkawan dengan Dian Jit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak punya nama, juga tidak suka berkawan dengan orang macammu ini,” sahut A Fei dengan ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air muka para hadirin berubah lagi, tapi Dian Jit tetap tersenyum dan berkata, “Anak muda suka bicara secara blak-blakan, memang harus dipuji. Cuma sayang telah keliru memilih sahabat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo?!” A Fei merasa tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sahabatmu, bukan?” tanya Dian Jit sambil menuding Li Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei mengiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau tahu siapa dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahu!” jawab A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kau pun tahu dia inilah Bwe-hoa-cat?” tanya pula Dian Jit dengan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bwe-hoa-cat?” A Fei melengak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Urusan ini memang sukar untuk dipercaya bila diceritakan, namun fakta nyata, siapa pun sukar menyangkalnya,” kata Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei menatapnya tajam-tajam seperti ingin menembus hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tak mau terasa ngeri juga Dian Jit, ucapnya, “Jika Anda tidak percaya, boleh tanya langsung kepadanya ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak perlu kutanyai dia, jelas dia pasti bukan Bwe-hoa-cat!” jengek A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab apa?” tanya Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak A Fei melemparkan mayat yang dipanggulnya itu dan berkata. “Sebab inilah Bwe-hoa-cat yang sebenarnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin sama melengak pula, beramai-ramai mereka lantas berkerumun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertampak mayat ini kurus kering, mukanya malang melintang penuh bekas luka sayatan pisau sehingga tukar diketahui bagaimana bentuk wajah aslinya. Yang dipakai adalah baju hitam ringkas sehingga tulang iga saja kelihatan menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya tampak terkatup rapat, mati pun mengertak gigi kencang-kencang, tiada kelihatan sesuatu bekas luka pada tubuhnya, hanya bagian leher ditembus oleh sebuah lubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit tertawa pula, katanya, “Kau bilang orang mati inilah Bwe-hoa-cat yang sebenarnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul,” jawab A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha, betapa pun engkau masih muda belia, kau kira orang lain pun sama gampangnya tertipu seperti dirimu,” seru Dian Jit dengan tertawa. “Apabila setiap orang sama membawa pulang seorang mati dan mengatakan dia Bwe-hoa-cat, kan dunia ini bisa kacau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit muka A Fei tampak berkerut-kerut, ucapnya kemudian, “Selamanya aku tidak menipu orang, juga selamanya tidak bisa tertipu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit menarik muka, “Lantas, cara bagaimana akan kau buktikan orang mati ini adalah Bwe-hoa-cat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba kau lihat mulutnya!” kata A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Dian Jit terbahak-bahak, “Untuk apa kulihat mulutnya? Memangnya mulutnya masih bisa bergerak, masih dapat bicara?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang lain pun sama tertawa, tidak semuanya merasa geli, tapi bila Dian Jit tertawa segembira ini, mau tak mau mereka harus ikut tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Lim Sian-ji memburu maju dan berseru, “Kutahu ucapannya memang benar, orang mati ini memang betul Bwe-hoa-cat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo?” Dian Jit merasa heran. “Memangnya orang mati ini yang memberitahukannya padamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, memang dia sendiri yang memberitahukan padaku!” jawab Sian-ji, dia tidak memberi kesempatan tertawa kepada orang lain dan segera menyambung. “Pada waktu Cin Tiong mati sudah dapat kulihat dia terkena semacam senjata rahasia yang berbisa sangat keji. Tapi masih dapat dimengerti apabila Cin Tiong tidak mampu menghindarkan serangan senjata rahasia semacam ini, mengapa tokoh kosen semacam Go Bun-thian juga tidak dapat mengelakkan senjata rahasia semacam ini? Sejauh itu tidak dapat kupecahkan teka-teki ini, sebab hal inilah yang merupakan rahasianya Bwe-hoa-cat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar mata Dian Jit tampak gemerdep, “Dan sekarang teka-teki itu sudah dapat kau pecahkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, rahasia Bwe-hoa-cat justru berada pada mulutnya,” tutur Sian-ji. Mendadak ia mengeluarkan sebilah pisau kecil untuk mencungkil mulut orang mati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata pada mulut orang mati ini tergigit sebatang pipa baja bercat hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Sian-ji berkata lagi, “Lantaran pada waktu dia bicara dengan orang lain, mendadak senjata rahasia menyambar keluar dari mulutnya, maka orang lain sama sekali tidak mengetahuinya dan juga tidak mampu mengelak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika mulutnya menggigit pipa baja pembidik senjata rahasia, lalu cara bagaimana dia bicara dengan orang lain?” ujar Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru di sinilah letak rahasia di dalam rahasianya,” kata Sian-ji. Dia mengerling, lalu menyambung dengan perlahan, “Soalnya dia tidak bicara dengan mulut, tapi bicara dengan perut. Mulutnya hanya digunakan untuk membunuh orang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian Sian-ji ini meski kedengarannya sangat lucu dari tidak masuk di akal, namun jago Kangouw kawakan semacam Dian Jit malah tidak merasa geli sedikit pun. Sebab jago Kangouw kawakan sama tahu di dunia ini memang ada semacam ilmu ajaib yang disebut “bicara dengan perut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon ilmu “bicara dengan perut” ini berasal dari negeri sekitar Persi dan India, biasanya dimainkan oleh tukang sulap dan pemain akrobat pengembara, suara yang timbul dari dalam perut tanpa menggerakkan bibir itu kedengarannya rada lucu, tapi bila dikendalikan dengan tenaga dalam oleh tokoh dunia persilatan, maka suara yang keluar dengan sendirinya akan jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba jawab,” kata Sian-ji pula, “pada waktu Dian-jitya hendak bertempur dengan orang, ke bagian mana Dian-Jitya akan memandangnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan sendirinya memandangi tubuh pihak lawan,” jawab Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagian tubuh yang mana?” tanya pula Sian-ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pundaknya, dan bagian tangannya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah dia,” kata Sian-ji dengan tertawa. “Pertarungan di antara jago kelas tinggi, siapa pun takkan menatap mulut lawan. Hanya perkelahian antara dua ekor anjing saja yang akan saling memelototi mulut pihak lawan. Sebab manusia bukan anjing, manusia tidak berkelahi dengan menggigit seperti anjing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin ikut tertawa lagi. Apa yang dikatakan perempuan cantik seperti Lim Sian-ji, jika mereka tidak merasa geli, kan menunjukkan diri mereka terlalu picik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu Lim Sian-ji lantas menarik muka malah dan berkata pula dengan menyesal, “Tetapi Bwe-hoa-cat ini justru membunuh orang dengan menggunakan mulutnya, hanya lantaran tidak ada yang menyangka di dunia bisa terjadi hal demikian maka dengan mudah dapat diperdayai olehnya. Semakin kosen lawannya, semakin mudah pula teperdaya. Sebab kalau dua jago kelas tinggi berhadapan, tidak nanti matanya akan memandang bagian pundak ke atas pihak lawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana kau tahu rahasia ini?” tanya Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuketahui rahasianya setelah dia membidikkan senjata rahasianya ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika begitu, apakah sahabat muda ini memang seekor anjing yang selalu mengawasi mulutnya?” tanya Dian Jit dengan sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji tersenyum, “Barangkali Dian-jitya belum lagi mengetahui dia memakai baju kutang Kim-si-kah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbeliak mata Dian Jit, “Aha, betul, pantaslah pukulan Kongsun-heng tadi bukannya merobohkan lawan, sebaliknya tangan sendiri yang kesakitan malah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini mestinya aku tidak mau pergi ke paviliun Leng-hiang-siau-tiok, tapi setelah malam tiba, mendadak teringat ada sesuatu barang yang tertinggal di sana, sama sekali tak kuduga setiba di sana segera juga Bwe-hoa-cat lantas muncul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bicara, wajahnya yang cantik itu tampak menampilkan rasa takut, sambungnya lagi, “Bicara sesungguhnya, waktu itu tidak kulihat dia, hanya kurasakan seorang mendadak berada di belakangku, belum sempat kubalik tubuh, tahu-tahu Hiat-to kelumpuhanku sudah tertutuk olehnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika demikian, Ginkang orang ini jelas sangat hebat!” ujar Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menghela napas gegetun, “Gerak tubuhnya sungguh tidak ada ubahnya seperti hantu, dengan begitu saja aku lantas terkempit olehnya dan dibawa kabur. Waktu itu juga sudah kuduga dia pastilah Bwe-hoa-cat, maka lantas kutanyai dia, ‘Hendak kau apakan diriku? Mengapa tidak kau bunuh diriku?’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana jawabnya?” tanya Dian Jit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sian-ji menggigit bibir, “Dia tidak bicara apa-apa, hanya tertawa seram.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemerdep sinar mata Dian Jit, “Oo, kiranya dia tidak memberitahukan padamu bahwa dialah Bwe-hoa-cat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tidak perlu memberitahukan padaku. Yang kupikirkan waktu itu hanya lekas mati saja, tetapi sekujur badanku justru tidak bertenaga. Pada saat itulah tiba-tiba terlihat bayangan orang berkelebat dan seorang muncul di depan kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang muncul ini tentulah sahabat muda ini?” Dian Jit menegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, memang dia,” Sian-ji melirik A Fei sekejap, sorot matanya penuh rasa terima kasih. “Kedatangannya sungguh teramat cepat, agaknya Bwe-hoa-cat itu juga terkejut, segera dia melemparkan diriku ke tanah, lalu kudengar dia menegurnya, ‘Apakah kau ini Bwe-hoa-cat?’ dan dijawab oleh Bwe-hoa-cat, ‘Jika betul mau apa? Kalau bukan lantas bagaimana? Apa pun kau adalah orang yang dekat ajal ....’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong kulihat secomot cahaya hitam menyambar keluar dari mulutnya. Aku terkejut dan juga takut, kulihat cahaya gilap itu sama mengenai tubuh ... tubuh Kongcu ini, kusangka dia pasti juga akan binasa di tangan Bwe-hoa-cat serupa korban yang lain, siapa tahu dia tidak bergerak sedikit pun, dia masih tetap berdiri dengan tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyusul lantas terlihat sinar pedang berkelebat, kontan Bwe-hoa-cat lantas roboh. Betapa cepat gerak pedangnya sungguh tak dapat kulukiskan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara sampai di sini, tanpa terasa semua orang terbelalak memandangi pedang “mainan” yang tergantung di pinggang A Fei, siapa pun tidak percaya pedang rongsokan itu dapat digunakan untuk membunuh, bahkan yang dibunuh ialah Bwe-hoa-cat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menggendong tangan di belakang punggungnya Dian Jit juga sedang mengamat-amati pedang A Fei, tiba-tiba terunjuk senyum lagi pada ujung mulutnya, katanya, “Wah, tampaknya jauh sebelumnya sahabat muda ini sudah menunggunya di sana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul,” jawab A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan begitu Anda melihat mereka, segera kau lompat keluar untuk mencegatnya serta menegur dia apakah Bwe-hoa-cat atau bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul,” kata A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Anda selalu menunggu dalam kegelapan, dan begitu melihat orang pejalan malam lantas kau tegur apakah dia Bwe-hoa-cat bukan?” tanya Dian Jit pula dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana aku mempunyai tempo sebanyak itu untuk menunggu?” ujar A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kebetulan Anda ada tempo, kebetulan pula memergoki orang pejalan malam, lalu cara bagaimana akan kau tanyai dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa kutanya dia? Memangnya apa sangkut pautnya denganku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aha, tepatlah kalau begitu,” seru Dian Jit sambil berkeplok. “Jika Anda ingin menegur, tentu akan kau tanya siapa dia. Misalnya tadi Anda menegur Kongsun Mo-in juga cuma bertanya, ‘Siapa kau?’ dan tidak bertanya, ‘Apakah kau ini Bwe-hoa-cat?’ ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan sudah jelas diketahui dia bukan Bwe-hoa-cat, untuk apa kutanya dia?” ujar A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Dian Jit menarik muka, katanya sambil menuding orang mati di lantai itu, “Jika demikian, mengapa kau tanya orang ini? Apakah sebelumnya sudah kau ketahui dia inilah Bwe-hoa-cat? Dan kalau Anda sudah tahu dia ini Bwe-hoa-cat, untuk apa pula bertanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab ada orang memberitahukan padaku bahwa dalam dua hari ini Bwe-hoa-cat pasti akan muncul di sekitar sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang memberitahukan padamu?” tanya Dian Jit sambil melirik Li Sun-hoan. “Apakah Bwe-hoa-cat sendiri? Atau teman si Bwe-hoa-cat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dia tahu A Fei pasti takkan menjawab pertanyaannya ini, tapi baginya asalkan mengajukan pertanyaan itu sudah tercapailah tujuannya dan sesungguhnya tidak memerlukan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pandangan semua orang lantas terarah kepada A Fei dan Li Sun-hoan lantaran pertanyaan Dian Jit itu, mereka menganggap apa yang dilakukan A Fei itu hanya persekongkolannya dengan Li Sun-hoan belaka, apa pun penjelasan A Fei tak ada lagi yang mau percaya bahwa mayat yang dibawanya itulah Bwe-hoa-cat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa mendapat angin, Dian Jit terus mendekati salah seorang hadirin, seorang pemuda berbaju perlente dan bertanya, “Kau Bwe-hoa-cat bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keruan pemuda itu terkejut, jawabnya dengan gelagapan, “Mana ... mana bisa ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lanjut ucapannya, mendadak Dian Jit menutuk Hiat-to kelumpuhannya, lalu bergumam, “Nah, kembali ada seorang Bwe-hoa-cat dapat kutangkap!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia berpaling dan berseru kepada para hadirin, “Lihatlah, apakah hadirin percaya Bwe-hoa-cat dapat kutangkap dengan semudah ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ramailah gelak tertawa orang banyak, sebagian di antara mereka lantas saling tegur, “Hai, kau Bwe-hoa-cat bukan? ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kukira engkau sendirilah Bwe-hoa-cat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, tampaknya makin lama Bwe-hoa-cat di sini bertambah banyak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, jika cara menangkap Bwe-hoa-cat sedemikian gampang, biarlah aku pun akan menangkap satu untuk main-main.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah ejekan dan sindiran terdengar di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka A Fei tampak masam, tangan sudah meraba tangkai pedangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Sun-hoan berkata kepadanya, “Lebih baik kau pergi saja, saudaraku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergi?” sinar mata A Fei gemerdep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika di sini sudah ada Dian-jitya dan pendekar besar semacam Tio-toaya kita ini, mana mungkin Bwe-hoa-cat akan terbunuh oleh seorang anak muda hijau pelonco seperti dirimu ini? Apa pun yang kau katakan tetap tidak ada gunanya,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tangan memegang tangkai pedang A Fei berkata, “Aku pun tidak ingin bicara lagi dengan orang-orang macam begini, namun pedangku ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarpun kau bunuh mereka juga tidak berguna,” kata Sun-hoan, “tetap tidak ada orang yang mau mengakui engkau yang membunuh Bwe-hoa-cat, masa hal ini tidak kau ketahui?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata A Fei mulai berubah menjadi guram, ucapnya perlahan, “Ya, kutahu, kupaham ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tertawa, “Makanya jika kau ingin mendapat nama, kau harus mengerti dulu hal ini, kalau tidak, tentu akan serupa diriku, cepat atau lambat akan berubah menjadi Bwe-hoa-cat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu, jika aku ingin mendapat nama, lebih dulu aku harus penurut, begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat sekali,” kata Sun-hoan dengan tertawa. “Asalkan segala urusan yang dapat menonjolkan nama kau serahkan kepada para pendekar besar kita, maka para pendekar besar ini akan menganggap dirimu ini anak muda yang polos, berbakat, dan akan diberi giliran kepadamu untuk menonjol ke atas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei terdiam sejenak, tiba-tiba ia tertawa. Tertawa cerah, tapi juga kelihatan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, jika begitu, mungkin selamanya aku takkan menonjol,” katanya dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu pun tidak buruk,” ujar Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat senyum A Fei, tertawa Sun-hoan juga bertambah cerah, seperti tertawa geli atas peristiwa yang paling lucu di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi semua orang terheran-heran dan menyangka kedua orang ini mungkin kurang waras, sekonyong-konyong A Fei mendekati Li Sun-hoan dan menarik tangannya sambil berkata, “Ah, peduli namaku akan menonjol atau tidak, yang penting mumpung kita dapat berkumpul sekarang, marilah kita pergi minum arak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah untuk minum arak, selamanya aku tidak pernah menolak,” kata Sun-hoan dengan tertawa, “Cuma hari ini ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini mungkin dia tidak dapat mengiringi kehendakmu,” tukas Dian Jit dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa bilang?” jengek A Fei dengan menarik muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Jit tersenyum, ia memberi tanda, serentak dua lelaki menerjang masuk, seorang bergodek dan membawa golok, teriaknya, “Dian-jitya yang bilang! Apa yang dikatakan Dian-jitya, itulah perintah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang seorang lagi berperawakan tinggi kurus, ia pun membentak, “Dan barang siapa berani membangkang terhadap perintah Dian-jitya, baginya hanya ada mati!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang ini semula berdiri dengan tegak di luar pintu ruangan serupa kaum budak, tapi sekarang gerak-geriknya ternyata sangat tangkas, jelas tergolong jago kelas satu di dunia Kangouw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah bentakan mereka, dua golok segera menyambar dari kanan dan kiri dengan membawa deru angin tajam, secepat kilat mereka membacok A Fei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun A Fei hanya menatap mereka dengan dingin, seperti tidak menghiraukan serangan mereka. Tapi mendadak sinar perak berkelebat dua kali, menyusul lantas terdengar dua kali jeritan ngeri, kedua golok terlepas dari pegangan dan mencelat ke atas dan “crat”, semuanya menancap di belandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua lelaki itu sama memegangi pergelangan tangan kanan sendiri dengan kesakitan, sampai sekian lama barulah darah merembes dari celah-celah jari dan menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu semua orang memandang pedang si A Fei, ternyata senjata itu masih tergantung di pinggang, siapa pun tidak melihat jelas pedang itu pernah dilolosnya atau tidak, cuma kelihatan pada ujung pedangnya melengket setitik darah segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh pedang yang cepat, pedang kilat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika senyuman Dian Jit juga membeku sehingga lebih tepat dikatakan menyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika ucapan Dian-jitya adalah perintah, maka pedangku justru tidak mau tunduk kepada perintah siapa pun, dia hanya bisa membunuh orang!” kata A Fei dengan hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kedua lelaki itu menyurut mundur dan mengendurkan tangan kiri, tertampak pada pergelangan tangan kanan ada setitik bekas luka, tidak miring dan tidak serong, luka itu tepat berada di tengah kedua urat besar, jika ujung pedang miring ke samping sedikit, urat nadi mereka pasti sudah putus dan tangan mereka pun cacat selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh serangan A Fei bukan saja sangat cepat, juga jitu tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa air muka kedua orang itu menampilkan rasa ngeri, kembali mereka menyurut mundur beberapa langkah, mendadak mereka berebut lari lebih dulu. Meski pedang tak bisa bicara, tapi ternyata jauh lebih menakutkan daripada perintah siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali A Fei menarik tangan Sun-hoan, katanya, “Mari pergi minum arak, aku tidak percaya ada orang berani lagi merintangi kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi Sun-hoan menjawab, mendadak Liong Siau-hun berteriak, “Kau ajak dia pergi, mengapa tidak kau buka Hiat-to kelumpuhannya yang tertutuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit daging ujung mulut A Fei tampak berkedut, sekejap itu hati Sun-hoan juga berdetak, tiba-tiba teringat olehnya kejadian tempo hari ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu A Fei telah menawan Ang Han-bin baginya dan ditinggalkan di dapur Sun Gwe, Ang Han-bin tidak ditutuk olehnya melainkan cuma diringkus dengan tali dan diikat di atas kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala mana Sun-hoan sudah merasa heran mengapa A Fei tidak menutuk Hiat-to tawanannya? Kini barulah ia tahu duduknya perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya pemuda yang dapat memainkan pedangnya secepat kilat ini tidak mahir Tiam-hiat atau ilmu menutuk Hiat-to manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendelu hati Sun-hoan, namun air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu tanda, ia cuma menjawab dengan tersenyum, “Hari ini aku tidak sanggup mentraktir kau minum arak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei terdiam sejenak, ucapnya kemudian sekata demi sekata, “Aku yang mentraktir engkau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, bukan arak yang kubeli sendiri tidak mau kuminum,” kata Sun-hoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Fei memandangnya lekat-lekat, sorot matanya yang dingin tiba-tiba menampilkan secercah rasa pedih. Nyata ia pun tahu Li Sun-hoan sengaja tidak menghendaki dia menyerempet bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklumlah, berhubung dia tidak sanggup membuka Hiat-to Sun-hoan yang tertutuk, untuk mengajaknya pergi terpaksa ia harus menggendongnya, dan jika dia menggendong Li Sun-hoan, dengan tambahan beban ini belum pasti dia mampu menerjang ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemerdep sinar mata Dian Jit, dia sedang mencari apa kiranya yang akan dilakukan orang, tiba-tiba ia tersenyum dan berkata, “Li Sun-hoan adalah seorang lelaki sejati tidak nanti dia membikin susah orang lain, maka saudara cilik ini lebih baik pergi sendiri saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sun-hoan tahu rase tua ini sudah dapat melihat titik lemah A Fei, cepat ia menimpali dengan tersenyum. “Tidak perlu kau pancing dia, tidak nanti dia terjebak olehmu. Apalagi biarpun dia menggendong diriku juga belum tentu kalian mampu melawannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum orang lain buka suara, segera ia menyambung pula, “Apalagi, kalian juga tahu betapa pun aku takkan pergi. Jika kupergi sekarang, bukankah para pendekar besar seperti kalian ini akan tambah bukti bahwa aku ini memang Bwe-hoa-cat?”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4537347065284875195-2252225112535508255?l=cerita-silat-clasic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/feeds/2252225112535508255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4537347065284875195&amp;postID=2252225112535508255&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/2252225112535508255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/2252225112535508255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/2009/01/pendekar-budiman-6.html' title='Pendekar Budiman 6'/><author><name>Taviv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09431956148586873513</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q0YVGe00Snk/SX_O-ytuR-I/AAAAAAAAANA/cAjoAQf6lAU/S220/My+Son.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4537347065284875195.post-2669703167263080134</id><published>2009-01-29T20:47:00.001+07:00</published><updated>2009-01-29T20:50:24.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pena Wasiat'/><title type='text'>Pena Wasiat 24</title><content type='html'>Oleh : Tjan ID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cu Siau hong termenung dan berpikir sejenak, setelah itu sahutnya dengan cepat:&lt;br /&gt;"Baik! Aku akan menuruti perkataanmu itu''&lt;br /&gt;"Sebagai seorang pemuda yang bebas dan tak suka terikat, dia memang tidak begitu ambil perduli terhadap segala persoalan yang tetek bengek, maka begitu selesai berkata pedangnya lantas diputar dan melancarkan sebuah tusukan langsung ke depan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan cekatan nona cantik berbaju hijau itu miririgkan badannya kesamping) mendadak sambil membalikkan badannya dia menerjang maju kemuka.&lt;br /&gt;Dengan cepat tangan kanannya diayunkan kemuka menotok jalan darah yang berada dilengan kanan.&lt;br /&gt;Cu Siau hong terperanjat, dengan cepat dia mundur beberapa langkah kebelakang, pedangnya segera diputar dan balas memba-cok kepinggang musuh .....&lt;br /&gt;Gerakan tubuhnya ini tidak terhitung terlampau cepat cuma rasa takutnya terhadap senjata tajam tidak besar dan lagi cara penggunaan waktunya jitu sekali.&lt;br /&gt;itulah sebabnya serangan gadis itu menjadi hebat dan lihaynya bukan kepalang.&lt;br /&gt;Nona berbaju hijau itu tertawa ringan, sekali lagi dia maju kedepan untuk mendesak, sebuah tendangan segera diayunkan menyepak pergelangan tangan kanan anak muda itu.&lt;br /&gt;Dengan kening berkerut Cu Siau hong segera berpikir:&lt;br /&gt;"Budak ini benar-benar tidak mauinya nyawanya lagi, aku musti memberi sedikit pe-lajaran kepadanya...'&lt;br /&gt;Gerakan pedangnya yang sedang memyambar ke depan itu segera diarahkan untuk menyerang lutut si nona tersebut.&lt;br /&gt;Dimana pedangnya itu bergerak, dengan telak bersarang telak ditubuh lawan sehingga terdengarlah suara benturan yang memekikkan telinga.&lt;br /&gt;Cu Siau hong agak tertegun.&lt;br /&gt;Kiranya tendangan yarg dilancarkan oleh nona cantik berbaju hijau itu dengan tepat sekali berhasil menendang pergelangan tangan kanan si anak muda itu.&lt;br /&gt;Akibat dari tendangaa itu, pedang ditangan kanan Cu Siau hong segera mencelat ke udara dan terlepas dari genggaman.&lt;br /&gt;Sambil tertawa nona cantik berbaju hijau itu berkata:&lt;br /&gt;Cu Siau hong sekarang kau tidak berpedang lagi, terpaksa kita harus melanjutkan pertarungan ini dengan tangan kosong melawan tangan kosong'&lt;br /&gt;Cu Siau hong maju kedepan, kemudian tegurnya.&lt;br /&gt;�'Nona, apakah dibalik pakaianmu tersimpan tameng besi?�&lt;br /&gt;"Coba kau lihat apakah aku mirip seseorang yang mengenakan tameng besi dibalik pakaianku. ?"&lt;br /&gt;"Paling tidak aku dapat mambedakannya dengan pasti, nona bukan mengandalkan tenaga khikang untuk menyambut bacokan itu."&lt;br /&gt;"Tapi toh aku tidak seharusnya memberi tahukan kepadamu apa alasannya bukan?"&lt;br /&gt;Mendadak dia maju sambil melepaskan serangkaian serangan gencar, semua gerak serangannya itu dilancarkan dengan kecepatan seperti terbang.&lt;br /&gt;Buru-buru Cu Siau hong mengerakkan tangannya untuk menangkis dan membendung datangnya serangan si nona baju hijau yang gencar dan berantai datangnya itu...&lt;br /&gt;Ilmu silat yang dimiliki gadis itu lihay dan aneh, mendatangkan semacam tenaga desakan yang besar sekali, untung saja ilmu silat yang dimiliki Cu Siau hong pun beraneka ragam, setiap kali keadaannya terdesak dan jiwanya terancam mara bahaya, dia selalu melepaskan sebuah serangan yang aneh sekali.&lt;br /&gt;Semua kejadian ini berlangsung amat cepat bukan saja dengan mudah sekali pemuda itu dapat melenyapkan ancaman bahaya yang tiba didepan mata, lagi pula dalam posisi yang terdesak kadangkala dia masih sanggup untuk membalikkan keadaan.&lt;br /&gt;Kenyataan ini bukan saja membuat nona cantik berbaju hijau itu menjadi kejut bercampur heran, sekalipun Cu Siau hong sen-diripun merasakan hatinya bergetar keras.&lt;br /&gt;Hal ini membuktikan bahwa kalau hanya mengandalkan hasil latihan Cu Siau hong selama belasan tahun beserta ilmu silat dari aliran Bu khek bun, dia masih bukan tandingannya.&lt;br /&gt;Tapi ilmu silatnya yang beraneka ragam, yang dipelajarinya dari atas kitab pedang tanpa nama beserta ilmu silat yang dipelajarinya dari si dewa pincang justru memiliki suatu kemampuan yang luar biasa sekali, setiap serangan yang dilancarkan, selalu berhasil memaksa nona cantik berbaju hijau itu merasa terkejut bercampur keheranan, juga dapat membuat serangan si nona yang gencar dan dahsyat seakan-akan kena terbendung seluruhnya.&lt;br /&gt;Sekalipun gadis itu sudah melancarkan serangan dengan menggunakan serangan yang tangguhnya sebanyak sepuluh gebrakan, meski ke sepuluh buah serangan itu membuatnya berada di posisi yang lebih menguntungkan, akan tetapi semua serangan tadi berhasil diatasinya dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, satu-satunya kepandaian silat yang belum dicoba oleh Cu Siau hong adalah beberapa jurus serangan aneh yang diperolehnya dari ketua Kay pang.&lt;br /&gt;Makin bertarung Cu Siau hong merasakan hatinya semakin terperanjat, ia telah merasa bahwa ilmu silat yang dimiliki gadis berbaju hijau itu tampaknya masih jauh diatas kepandaian Keng Ji kongcu ....&lt;br /&gt;Sebaliknya nona cantik berbaju hijau itu pun makin bertarung merasa semakin takut, dia merasa ilmu silat yang dimiliki Cu Siau hong bagaikan bukit yang tinggi atau samudra yang dalam, membuat orang hampir bolen dibilang tak dapat meraba asal usulnya.&lt;br /&gt;Mendadak gadis berbaju hijau itu menghentikan serangannya dan melompat mundur sejauh lima depa lebih, setelah itu ujarnya dingin:&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, mari kita berhenti seje-nak''&lt;br /&gt;"Maksud nona.."&lt;br /&gt;"Ada beberapa macam persoalan, seka-rang aku ingin menanyakan lebih dahulu kepadamu"&lt;br /&gt;"Baik, akan kudengarkan pertanyaanmu itu dengan sebaik-baiknya"&lt;br /&gt;"Sesungguhnya kau ini anak murid dari perguruan Bu khek bun atau bukan?''&lt;br /&gt;"Sudah tentu aku adalah murid perguruan Bu khek bun yang asli, apa maksud nona dengan mengajukan pertanyaan ini?'&lt;br /&gt;"Tapi mengapa aliran ilmu silat yang kau gunakan sama sekali tidak mirip dengan aliran ilmu silat dari Bu khek bun?"&lt;br /&gt;"Ooya.. ?"&lt;br /&gt;"Terus terang kukatakan, ilmu silat yang dimiliki oleh orang-orang Bu khek bun telah kami ketahui dengan jelas, sekalipun harus menghadapi dengan berpejam mata aku masih sanggup untuk menghadapinya, tapi buktinya sekarang, setiap kali aku berhasil mencapal posisi yang menguntungkan dan kemenangan sudah berada didepan mata, kau selalu menggunakan jurus serangan yang aneh untuk memunahkan peluangku untuk merebut kemenangan itu dan sebaliknya malah mendesak diriku, padahal jurus pukulan dan jurus telapak tangan yang kau pergunakan sama sekali tak pernah kujumpai sebelumnya, dan selagi serangan yang kau lancarkan secara tiba-tiba itu sungguh membuat orang tak habis berpikir"'&lt;br /&gt;Cu Siau hong tertawa setelah mendengar ucapan itu, katanya:&lt;br /&gt;"Nona, tentunya aku tak akan menerangkan lebih dahulu jurus serangan macam apa-kah yang hendak kulakukan sebelum serangatn itu benar-benar kulancar-kan bukan?"&lt;br /&gt;"Tentu saja kau tak perlu mengutarakan nya keluar, cuma ilmu silat yang kau perguna-kan itu sudah pasti bukan jurus-jurus si-lat dari aliran Bu-khek-bun"&lt;br /&gt;"Nona, pentingkah persoalan itu bagimu?"&lt;br /&gt;'Sudah barang tentu penting sekali"&lt;br /&gt;"Nona, akupun ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu?"&lt;br /&gt;''Pertanyaan apa?"&lt;br /&gt;"Ilmu silat yang nona miliki itu berasal darimana?'&lt;br /&gt;"Dari suhuku"&lt;br /&gt;"Siapakah suhumu itu? Dia bernama siapa dan sekarang berada di mana?"&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau segera menghela napas panjang, sahutnya pelan:&lt;br /&gt;"Sekarang aku tak dapat memberi tahukan hal ini kepadamu lagi, karena saat ini aku sudah tidak mempunyai keyakinan untuk membinasakan dirimu lagi"&lt;br /&gt;"Nona, nama besar suhumu pun tidak bersedia kau katakan, tapi kau minta kepadaku untuk menerangkan asal usul dari il-mu silatku, tidakkah kau rasakan bahwa caramu itu sedikit keterlaluan?"&lt;br /&gt;"Perbuatan ini bukan suatu perbuatan yang keterlaluan, aku hanya merasa keheranan saja'&lt;br /&gt;'Aku tak ambil perduli berapa banyakkah pertanyaan yang terkandung didalam hatimu, tapi yang pasti adalah aku tak akan menjawab semua pertanyaanmu itu'&lt;br /&gt;"Mengapa?"&lt;br /&gt;"Sebab kita bukan berteman, melainkan bermusuhan!"&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau itu menghela napas panjang, katanya kemudian dengan suara pelan:&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, bila aku gagal untuk membunuhmu, aku kuatir tak berani pulang untuk memberikan pertanggungan jawabku dihadapan suhu"&lt;br /&gt;Oya?"&lt;br /&gt;Ketika masih berada didepan guru, aku sudah terlanjur sesumbar pasti dapat membawa batok kepalamu pulang ke rumah"&lt;br /&gt;"Apakah kalian sudah tahu kalau Keng Ji kongcu mati ditanganku?"&lt;br /&gt;"Benar! Kami mempunyai suatu cara penyampaian berita yang amat istimewa, dengan cepat kami dapat mengrtahui akan kejadian tersebut"&lt;br /&gt;"Nona aku rasa lebih baik kau pulang saja! Memandang rendah ilmu silatku toh bukan suatu dosa atau kesalahan yang akan berakibat dijatuhi hukuman mati'&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau itu segera tertawa katanya:&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, apakah kau merasa bahwa aku masih bukan tandinganmu? '&lt;br /&gt;" Aku berpikir demi nona ....''&lt;br /&gt;"Berpikir apa demi diriku?"&lt;br /&gt;"Bagi nona kejadian semacam ini sesuug-guhnya merupakan suatu perbuatan yang sa-ngat tidak menguntungkan"&lt;br /&gt;"Kau takut akan melukai diriku?"&lt;br /&gt;"Sekalipun kita akan sama-sama terluka, tapi buat apa nona musti berbuat demikian'&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau termenung be-berapa saat lamanya, kemudian berkata:&lt;br /&gt;"Aaai, kenapa sih kau musti berpikir begitu banyak bagi seorang musuh seperti aku ini?"&lt;br /&gt;Cu Siau hong mengangkat bahunya sambil menjawab:&lt;br /&gt;'Soal ini mah.... aku rasa mungkin dikarenakan akupun merasa agak takut kepadamu!"&lt;br /&gt;"Takut aku akan melukai dirimu?" sambung si nona berbaju hijau itu sambil tersenyum manis.&lt;br /&gt;"Tepat sekali' Aku memang berpikir demikian"&lt;br /&gt;"Kalau begitu kau memandang tinggi diriku?"&lt;br /&gt;"Benar!"&lt;br /&gt;Pelan-pelan nona cantik berbaju hijau itu menundukkan kepalanya rendah-rendah, ucapnya.&lt;br /&gt;"Terima kasih banyak Cu kongcu, bagaimanapun juga aku tak bisa tidak harus membalaskan dendam bagi kematian Keng-Ji kong cu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Cu Siau hong bermaksud untuk menghindarkan diri dari suatu pertarungan yang tidak bermanfaat dan kalau bisa menundukkan lawannya dengan kata-kata agar dia mau pulang saja..&lt;br /&gt;Kemudian secara diam-diam dia akan mengutus orang untuk menguntilnya secara diam-diam, sehingga sarang mereka dapat ditemukan. .&lt;br /&gt;Walaupun perhitungannya itu cukup baik, tapi sayang budak itu agaknya sukar un-tuk masuk perangkap.&lt;br /&gt;Cu Siau hong tak dapat membedakan sikap gadis itu apakah sedang berpura-pura atau bersungguh hati, terpaksa dia tertawa dan berkata.&lt;br /&gt;'Maksud nona, diantara kita berdua harus ditentukan siapa yang bakal mati dan siapa yang bakal hidup?"&lt;br /&gt;"Tidak perlu harus dibedakan antara hidup dan mati, paling tidak kita dapat menentukan siapa yang menang siapa yang kalah, bila aku yang kalah maka hal ini membuktikan kalau ilmu silatku masih belum cukup untuk dipakai membalas dendam, dengan begitu akupun akan merasa hatiku sedikit a-gak lega''&lt;br /&gt;'Seandainya menang?"&lt;br /&gt;''Seandainya beruntung aku yang menang, maka hal ini akan sulit sekali...!'&lt;br /&gt;''Bagaimana sulitnya?"&lt;br /&gt;"Pertama, aku tak tahu bagaimana harus menghukum dirimu, juga tidak tahu bagaimana caranya untuk mengatasi persoalan ini."&lt;br /&gt;"Terhadap aku, rasanya nona tak usah terlalu susah untuk memikirkannya, bila kau yang menang maka itulah saat yang terbaik bagimu untuk membalaskan dendam bagi kematian Keng Ji kongcu."&lt;br /&gt;"Tapi. . ...'&lt;br /&gt;"Tapi apa?".&lt;br /&gt;"Akupun segan untuk membunuhmu!"&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera tertawa hambar, katanya.&lt;br /&gt;"Nona, jika kau sudah bertekad untuk menentukan siapa menang siapa kalah diantara kita berdua paling tidak sekarang kau masih tak perlu untuk memikirkan banyak persoalan seperti itu"&lt;br /&gt;"Menangkanlah diriku lebih dulu nona sebelum kau putar otak untuk menyelesaikan masalah tersebut"&lt;br /&gt;"Baiknya, sampai waktunya kita baru rundingkan kembali bagaimana baiknya ..."&lt;br /&gt;Diam-diam Cu Siau hong berpikir dalam hatinya.&lt;br /&gt;"Budak ini amat lembut, tapi ucapannya tegas dan tanpa aturan, sungguh mendatangkan perasaan apa boleh buat bagi orang yang menghadapinya...'&lt;br /&gt;Dengan cepat kedua orang itu terlibat kembali dalam suatu pertarungan amat seru.&lt;br /&gt;Situasi sewaktu pertarungan itu berlangsung tentu saja jauh berbeda sekali dengan keadaan sewaktu mereka berdua sedang berbincang-bincang tadi..&lt;br /&gt;Cu Siau hong telah melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, semua ancamannya dilepaskan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, pads hakekatnya setiap jurus serangannya boleh dibilang sanggup merenggut nyawa lawan.&lt;br /&gt;Ilmu pedang yang dimiliki gadis berbaju hijau itupun lihay sekali, selain ganas dan rapat, hampir seluruh badannya dilindungi oleh selapis cahaya pedang yang sangat tebal.&lt;br /&gt;Walaupun Cu Siau hong telah melancar-kan serangan dengan sepenuh tenaga, tapi ilmu pedangnya selalu tak berhasil menembusi lapisan pertahanan dari lawannya ini.&lt;br /&gt;Malahan justru nona berbaju hijau itu yang kerap sekali melancarkan dua buah serangan balasan yang memaksa Cu Siau hong berada dalam posisi yang berbahaya sekali.&lt;br /&gt;Tapi Cu siau hong sendiripun selalu dapat melancarkan serangan dengan jurus pedang yang sangat aneh, serangan dahsyat itu selalu memaksa gadis berbaju hijau itu mundur sejauh beberapa langkah dari posisi semula ....&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat seratus gebrakan lebih sudah lewat, namun menang kalah masih juga belum bisa ditentukan.&lt;br /&gt;Sin jut serta Kui meh yang mengikuti jalannya pertarungan itu hanya bisa berdiri tertegun dan mata terbelalak lebar.&lt;br /&gt;Menyaksikan pertarungan sengit yang begitu hebatnya sedang berlangsung didepan mata, tanpa terasa kedua orang itu berpikir didalam hati:&lt;br /&gt;"Sekalipun Kay pang tianglo sendiri yang turun tangan menghadapi lawan, mungkin tiada orang mampu untuk menahan serangan pedang kilat dari gadis itu, tapi Cu Siau hong sanggup menghadapinya hei .... anak muda ini benar-benar hebat sekali"&lt;br /&gt;Tapi yang membuat kedua orang itu tidak habis mengerti adalah keanehan dari ilmu pedang yang digunakan Cu Siau hong, mereka rasakan gerakan pedang itu terlalu mendadak dan aneh sukar diduga, membuat orang merasa tak tahu serangan tersebut bakal datang dari mana.&lt;br /&gt;Tapi sebagian besar jurus pedang yang dipergunakannya memiliki jurus yang amat teratur.&lt;br /&gt;Sebaliknya jurus pedang yang digunakan gadis cantik berbaju hijau itu lebih hebat lagi, semua jurus serangan yang dipergunakan boleh dibilang merupakan serangan-serangan yang ganas.&lt;br /&gt;Makin menonton kedua orang itu merasa semakin tidak habis mengerti, makin me-mandang semakin pikuk rasanya.&lt;br /&gt;"Traang....'' mendadak terdengar suara benturan nyaring yang menimbulkan percikan bunga api, ternyata sepasang pedang itu sudah saling membentur satu sama lainnya.&lt;br /&gt;Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu berada dalam keadaan seimbang, karenanya kedua belah pihak tak ada yang mau saling mengalah, namun menang kalah juga tak dapat ditentukan.&lt;br /&gt;Setelah sepasang pedang itu saling mem-bentur satu sama lainnya, tiba-tiba Cu Siau hong mengayunkan tangan kirinya melancarkan sebuah serangan kilat.&lt;br /&gt;Serangan itu dilancarkan dengan suatu gerakan yang aneh sekali, walaupun gadis berbaju hijau itu sudah mengangkat tangannya untuk menangkis, ternyata ancaman tersebut gagal untuk dibendung.&lt;br /&gt;''Blaaaamm....!'' benturan keras menggema, bahu kiri nona cantik berhaju hijau itu terkena sebuah serangan dengan telak.&lt;br /&gt;"Nona cantik berbaju hijau itu mundur beberapa langkah dengan sempoyongan akibat dari serangannya itu.&lt;br /&gt;Kelihatannya Cu Siau hong memiliki kesempatan yang baik sekali untuk melancar-kan serangan, akan tetapi Cu Siau hong sama sekali tidak manfaatkan kesempatan baik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bukan dikarenakan Cu Siau hong berniat untuk mengampuni selember jiwa musuhnya, melainkan karena dalam perasaannya dia merasa sudah tak sempat lagi untuk melepaskan serangan.&lt;br /&gt;Sambil melintangkan pedangnya didepan dada, nona cantik berbaju hijau itu mengawasi wajah Cu Siau hong lekat-lekat, kemudi-an ujarnya pelan-pelan:&lt;br /&gt;''Benar-benar sebuah pukulan yang sangat lihay!"&lt;br /&gt;"Maaf, maaf. . . ."&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau itu menghela napas panjang, dia masukkan kembali pe-dangnya kedalam sarung, lalu berkata:&lt;br /&gt;"Aku benar-benar sudah kalah, aaai .... seranganmu itu datangnya benar-benar lihay sekali, sama sekali diluar dugaan siapapun"&lt;br /&gt;"Nona akhir dari pertarungan ini baik bagi diriku maupun bagi nona, merupakan suatu akhir yang paling baik'&lt;br /&gt;"Ucapanmu memang benar, cuma akupun ada beberapa patah kata hendak menasehati dirimu"&lt;br /&gt;"Silahkan disampaikan!''&lt;br /&gt;"Imu pedang yang Cu kongcu miliki memang amat lihay, terutama beberapa jurus di antaranya, sungguh amat dahsyat dan memi-liki kemampuan yang luar biasa, sehingga mendatangkan perasaan diluar dugaan bagi lawannya, namun jarak antara satu jurus serangan dengan jurus serangan yang lain terasa banyak sekali terdapat peluang yang kosong"&lt;br /&gt;"O ya ?"&lt;br /&gt;"Keadaan tersebut seakan-akan sebuah mata rantai yang sangat kuat sekali, namun sayang antara mata rantai yang satu dengan mata rantai yang lain diikat oleh tali rami belaka, hal mana mendatangkan suatu perasaan yang kosong yang berbahaya sekali, sebab didalam suatu pertarungan yang hebat, peluang-peluang semacam ini justru akan memberikan peluang bagi lawan untuk memanfaatkannya dengan segera"&lt;br /&gt;Cu Siau hong manggut-manggut tanda mengerti.&lt;br /&gt;Gadis cantik berbaju hijau itupun berkat-a lebih jauh:&lt;br /&gt;'Bagaimanapun rapatnya perubahan jurus pedang yang lihay, dalam suatu pertarung-an sengit, hal mana merupakan suatu titik kelemahan bagi Cu kongcu"&lt;br /&gt;"Terima kasih banyak untuk petunjuk dari nona itu"&lt;br /&gt;Gadis cantik berbaju hijau itu menghela napas panjang, katanya lebih jauh:&lt;br /&gt;'' Setelah berlangsungnya pertarungan tadi, aku percaya bahwa kau memang mempunyai kesempatan untuk membunuh Keng Ji Kongcu, tapi aku tidak habis ne-ngerti, kenapa dia dapat mati dengan begitu gampang.''&lt;br /&gt;Diam-diam Cu Siau hong merasa terperanjat juga, pikirnya kemudian dengan cepat.&lt;br /&gt;"Kalau didengar dari nada ucapan budak ini, agaknya dia masih merasa curiga sekali atas kematian dari Keng Ji kongcu tersebut."&lt;br /&gt;Berpikir demikian, dia lantas berkata:&lt;br /&gt;"Keng Ji kongcu benar-benar telah tewas ditanganku, jika dalam kebun raya Ban hoa wan masih terdapat anggota organisasi mu yang menyaksikan jalannya pertarungan tersebut, aku percaya mereka dapat memberitahukan hal ini kepada nona" .&lt;br /&gt;"Aku percaya kau memiliki kemampuan untuk membunuh Keng Ji kongcu, tapi aku tidak habis mengerti didalam keadaan se-perti apakah dia bisa mati terbunuh dita-nganmu?'&lt;br /&gt;"Nona, ilmu pedang Keng Ji kongcu memang lihay, tapi bagaimanakah bila dibandingkan dengan kepandaian nona?"&lt;br /&gt;"Seharusnya dia lebih sempurna dan bertenaga daripada aku, mungkin hanya dalam soal kelincahan saja yang dia masih kalah sedikit daripada diriku.."&lt;br /&gt;"Apakah ilmu pedang nona dan Keng ji kongcu berasal dari satu sumber yang sama?"&lt;br /&gt;"Benar"&lt;br /&gt;"Kalau memang begitu, dapatkah nona memperhitungkan sendiri, apakah didalam jurus-jurus ilmu pedang kalian itu terdapat kemungkinan yang menyebabkan kematian dari Keng Ji kongcu?"&lt;br /&gt;"Kalau berbicara dalam satu jurus gebrakan saja, kau memang memiliki kemampu-an untuk merenggut jiwanya, akan tetapi jika ilmu pedang itu dirangkaikan satu dengan lainnya, aku rasa kesempatan bagimu untuk membunuhnya tidaklah terlalu besar"&lt;br /&gt;Cu Siau hong tertawa hambar.&lt;br /&gt;"Nona!" katanya, "jika aku merangkaikan dua jurus serangan pedang yang sama-sama dahsyatnya menjadi satu, akan muncul akibat macam apakah nantinya?"&lt;br /&gt;"'Tentu saja akan makin dahsyat sekalipun masih belum cukup untuk dipakai membunuh Keng Ji kongcu"&lt;br /&gt;Sekali lagi Cu Siau-hong tertawa.&lt;br /&gt;"Seandainya dia tidak terlalu keras ke-pala dan ingin menonjolkan kemampuan-nya, mungkin aku benar-benar tak mampu untuk membinasakan dirinya.'&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau itu terme-nung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan dia berkata:&lt;br /&gt;"Jadi dia beradu kekerasan''&lt;br /&gt;Cu Siau-hong segera mengangguk.&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau itu segera berkata lagi:&lt;br /&gt;"'Sudah hampir tiga tahun lebih kami tak pernah saling bersua muka, sungguh tak kusangka kalau dia akan berubah menjadi begitu takabur dan gegabah, baginya hal mana betul-betul merupakan suatu kejadian yang mengesankan sekali"&lt;br /&gt;"Nona, masib ada satu hal entah kau telah memikirkannya atau belum?"&lt;br /&gt;"Persoalan apa?."&lt;br /&gt;"Dia sangat bernapsu sekali ingin membunuh aku" .&lt;br /&gt;"Akibatnya dia malah kena kau bunuh?"&lt;br /&gt;''Benar! Dia memang terlampau terburu napsu, aku rasa kemungkinan besar dia mempunyai banyak persoalan yang mencekam perasaannya, membuat dia merasa menderita sekali sehingga mesti buru-buru membunuhku agar hatinya dapat menjadi tenang kembali, aku rasa kemungkinan besar hal ini disebabkan dia telah membocorkan rahasia bahwa kebun raya Ban hoa wan merupakan sebuah kantor cabang, maka dia ingin buru-buru membuat pahala untuk menebus dosanya ini"&lt;br /&gt;"Aaai .....! Mungkin saja memang benar, sebab peraturan kami memang terlampau ke-tat dan keras"&lt;br /&gt;Diam-diam Ca Siau hong berpikir kem-bali didalam hati.&lt;br /&gt;''Tampaknya budak ini seorang manusia yang terlalu teliti dan pintar, jika aku bisa mengusahakan sesuatu untuk mengorek keterangan dari mulutnya, mungkin sedikit ba-nyak aku akan lebih memahami tentang organisasi rahasia ini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir demikian, dia lantas berkata:&lt;br /&gt;"Nona, sekarang diantara kita masih ada urusan apa lagi?'&lt;br /&gt;'Aku sudah mengaku kalah maka kau masih ingin masa kau masih ingin memaksakan sesuatu pertarungan lagi."&lt;br /&gt;"Itu sih tidak, aku hanya merasa ilmu pedang nona . . ..."&lt;br /&gt;"Ilmu pedangku terlalu jelek?" tukas si nona cantik berbaju hijau itu cepat.&lt;br /&gt;"Aaah tidak! dibandingkan dengan Keng Ji kongcu, agaknya ilmu pedang yang nova miliki masih jauh lebih hebat'&lt;br /&gt;"Sungguh mencorong sinar terang dari balik mata nona cantik berbaju hijau itu.&lt;br /&gt;"Sungguh, ketika membunuh Keng Ji kongcu, aku mengandalkan ilmu pedang yang sebenarnya, sama sekali tidak menggunakan siasat licik atau akal muslihat"&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau itu menghela napas panjang katanya.&lt;br /&gt;''Cu Siau hong hari ini aku kalah, tapi masih ada besok, lusa, kali ini aku secara khusus datang ke kota Siang yang, persoalan terpenting yang hendak kulakukan adalah untuk membinasakan dirimu, sebelum berhasil membunuhmu aku tak akan pergi meninggalkan tempat ini."&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera tertawa.&lt;br /&gt;"Nona, apakah diantara kita berdua harus diakhiri dengan suatu pertumpahan darah yang tak ada gunanya?" dia berseru.&lt;br /&gt;''Cu Siau hong, coba pikirkan bagiku, apa yang musti kulakukan sekarang? Bila a-ku tidak membunuhmu bagaimana aku musti memberikan pertanggungan jawabku kepada suhuku nanti, bagaimana pula tanggung jawabku terhadap suhengku yang telah mati?"&lt;br /&gt;`Setelah membunuh aku, dia juga tak a-kan hidup kembali, bukankah begitu...?" sambung Cu Siau hong.&lt;br /&gt;"Benar ..... '&lt;br /&gt;"Apa lagi nona juga tidak memiliki keyakinan untuk psati berhasil membunuhku''&lt;br /&gt;"Aku sungguh tak sanggup membunuhmu, itu berarti hanya ada satu cara untuk menyelesaikan persoalan ini, yakni kau yang membunuh aku"&lt;br /&gt;"Andaikata aku hendak membalaskan dendam bagi Bu khek bun, hal ini memang se-pantasnya kulakukan, tapi sayang dalam hatiku sama sekali tidak terkandung rasa dendam kesumat yang demikian dalam`&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, akupun tak ingin membunuhmu, aku jarang sekali melakukan perja-lanan dalam dunia persilatan, orang yang kukenal juga tidak terlalu banyak, akibat dari pertarungan yang barusan berlangsung ini dari asing kita telah saling mengenal, Aaai ....! Seandainya kau tidak membunuh Keng Ji kongcu, kemungkinan besar kita dapat menjadi seorang sahabat yang baik sekali?"&lt;br /&gt;"Nona, bila kau tak dapat menghilangkan rasa dendam kesumat yang mencekam didalam hatimu, sukar buat kita untuk berkumpul bersama"&lt;br /&gt;"Sekarang, diantara kita memang tak bisa berkumpul dalam keadaan damai dan tenang, aku tak dapat membalaskan dendam bagi Keng Ji kongcu, terpaksa aku harus membunuh diriku sendiri''&lt;br /&gt;Mendadak terpancar keluar perasaan ka-gum diatas wajah Cu Siau hong, katanya dengan cepat:&lt;br /&gt;"Nona, kau benar-benar hendak mati demni Keng Ji kongcu?"&lt;br /&gt;Gadis cantik berbaju hijau itu manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Benar!" sahutnya. "aku sudah merupa-kan calon istrinya, sekarang dia telah mati, tentu saja aku harus membalaskan dendam bagi kematiannya itu'&lt;br /&gt;"Baik nona, kau boleh pergi sekarang, besok jika kita bersua lagi, persoalan ini kita selesaikan lagi sampai tuntas''&lt;br /&gt;'Aku telah membunuh beberapa orang anggota Kay pang, aku yakin mereka pasti akan datang mencariku untuk membalas dendam, konon kau mempunyai hubungan yang baik dengan pihak Kay pang, aku rasa kau dapat menasehati mereka dengan beberapa patah kata!"&lt;br /&gt;"Apa yang harus kukatakan kepada mereka?"&lt;br /&gt;"Jangan biarkan mereka datang mencari aku untuk membalas dendam, mulai sekarang akupun tak akan mencari mereka lagi, aku tak akan membunuhi orang-orang mereka, Nah, tengah hari besok aku akan menantikan kedatanganmu ditempat ini"&lt;br /&gt;"Menunggu aku?" tukas Cu Siau hong.&lt;br /&gt;Gadis cantik berbaju hijau itu manggut-manggut.&lt;br /&gt;'Benar, aku akan mengirim kereta kudaku menjemput dirimu"&lt;br /&gt;''Hanya aku seorangkah yang boleh datang?"&lt;br /&gt;"Tidak. kau boleh membawa seorang lagi, seorang sahabat yang paling kau percayai!"&lt;br /&gt;"Oooh . . ."&lt;br /&gt;"Tahukah kau kenapa aku berbuat demikian?"&lt;br /&gt;"Tidak tahu"&lt;br /&gt;"Didalam pertarungan yang akan berlangsung besok, salah seorang diantara kita bakal ada yang mampus, jika kau sampai mati di ujung pedangku, sahabatmu itu akan membereskan jenazahmu"&lt;br /&gt;Cu Siau hong manggut-manggut.&lt;br /&gt;Sebelum ia sempat menjawab, gadis can-tik berbaju hijau itu telah berkata lebih lanjut.&lt;br /&gt;"Aku akan menyiapkan sebuah peti mati, diantara kita berdua mayatnya boleh dimasukan ke dalam peti mati itu"&lt;br /&gt;"Lalu dikubur?&lt;br /&gt;"Tak usah, bila aku yang mati, mereka dapat membawa peti matiku itu untuk diku-bur ke tengah kebun raya Ban hoa wan dikumpulkan menjadi satu dengan jenasah calon suamiku, sedang mengenai kau pun boleh berpesan kepada sahabatmu itu untuk membereskan urusan terakhirmu itu"&lt;br /&gt;Nona ini memang lemah lembut dengan suara yang halus dan lembut, padahal dibalik kelembutan tersebut, justeru terdapat semangat yang tinggi serta hati yang ke-ras seperti baja.&lt;br /&gt;Setelah manggut-manggut, pelan-pelan Cu Siau hong berkata lagi:&lt;br /&gt;"Baik! Kita akan tetapkan dengan sepa-tah kata ini!"&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau itu segera membungkukkan badannya memberi hormat, katanya:&lt;br /&gt;"Kalau begitu, siau-moay akan berangkat selangkah lebih duluan"&lt;br /&gt;Sambil membalikkan badannya, pelan-pelan dia berlalu dari tempat tersebut .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang bayangan punggung nona berbaju hijau yang menjauh itu, Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang, semua rasa kesal di dalam dadanya segera dilampiaskan keluar.&lt;br /&gt;Kui-meh Ong Peng cepat memburu datang dengan langkah lebar, bisiknya lirih:&lt;br /&gt;"Saudara Cu, besok apakah kau benar-benar akan datang kemari?"&lt;br /&gt;Cu Siau hong manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Yaa, tentu saja akan datang! Aku telah salah menilai tentang dirinya..." ia menyahut.&lt;br /&gt;"Padahal untuk menghadapi musuh kita tak usah terlalu memegang janji.. "ucap Ong Peng.&lt;br /&gt;Sementara itu terdengar suara derap kaki kuda bergerak menjauh, rupanya nona berbaju hijau itu telah berhasil memperbaiki keretanya dan berlalu dari situ.&lt;br /&gt;Dalam pada itu, Cu Siau hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali, u-jarnya:&lt;br /&gt;"Saudara Ong, aku tak bisa berbuat demikian, walau nona itu kelihatannya seder-hana dan polos, tapi pendidikan yang diterimanya penuh dengan ketegasan dan keke-rasan, selain dari pada itu kepandaian silat yang dimiliki maupun senjata rahasia tak bersuara yang diandalkannya membuat gadis itu memiliki daya kemampuan membuat gadis itu memiliki daya kemampuan yang mengerikan sekali, jika aku tidak datang menepati janji, niscaya hal mana a-kan memancing ingatannya untuk melaku-kan pembunuhan secara besar- besaran"&lt;br /&gt;'Saudara Cu, maksudku tak ada salahnya jika kita melakukan sedikit persiapan untuk menghadapi kenyataan tersebut, dewasa ini kekuatan Kay pang yang berada dikota Siang yang cukup kuat dan tangguh, kamipun mempunyai beberapa orang Tianglo yang berkumpul disini, kenapa Cu kongcu tidak merundingkan dulu persoalan ini dengan Tan -tianglo dari perkumpulan kami sehingga kita dapat pula menyiapkan suatu perangkap?"&lt;br /&gt;'Cara inipun kurang baik, menurut pendapat siaute, kutemukan meski nona ini keras kepala namun dia masih memegang teguh akan prinsip-prinsip kehidupan yang sewajarnya, bila kita dapat menaklukkan dia, hal mana justru akan lebih bermanfaat lagi daripada kemenangan yang bisa kita raih dari ilmu silat"&lt;br /&gt;Ong Peng manggut-manggut berulang kali.&lt;br /&gt;Jelas dia sudah kena ditundukkan oleh perkataan dari Cu Siau hong itu.&lt;br /&gt;Setelah menghela napas panjang, Cu Siau hong berkata lagi.&lt;br /&gt;"Besok aku bermaksud untuk mengajak serta dirimu untuk memenuhi janji tersebut"&lt;br /&gt;'Bagaimana dengan aku?" dengan cepat Tan Hong bertanya.&lt;br /&gt;'Nona itu toh sudah berkata dengan sejelas-jelasnya, dia hanya mengijinkan dua orang belaka?"&lt;br /&gt;-ooo0ooo-&lt;br /&gt;BAGIAN 31&lt;br /&gt;AAAI...!" Tan Heng menghela napas panjang, "sesungguhnya budak ini memang lihay sekali. diluar wajahnya dia kelihatan seperti polos dan suci bersih tapi sebetulnya banyak akal muslihat yang dimilikinya, ia berjanji untuk menunggumu esok siang disini, bahkan mengirim kereta untuk menjemputmu, dalam sopan santun hal ini tampaknya amat memenuhi syarat, padahal sesungguhnya dia hendak mengawasi kita, semula kita yang mengawasi gerak geriknya menjadi berbalik kita malah yang dia awasi"&lt;br /&gt;Cu Siau hong manggut-manggut setelah mendengar ucapan tersebut sebab ia merasa apa yang dikatakan memang benar.&lt;br /&gt;''Cu-heng adalah seorang lelaki sejati yang jujur dan berjiwa terbuka" kata Tan Heng lagi, "sekalipun tak ingin bermaksud untuk mencelakai orang, paling tidak toh kau musti berjaga-jaga terhadap niat jahat orang untuk mencelakai dirimu"&lt;br /&gt;"Apa yang musti kucegah?"&lt;br /&gt;'Paling tidak saudara Cu harus berjaga-jaga kalau sampai dia mengatur siasat busuk didalam kereta itu untuk menjebakmu"&lt;br /&gt;''Ehmmm... hal ini merupakan bahan yang patut dipertimbangkan" Cu Siau hong segera manggut-manggut.&lt;br /&gt;Setelah terhenti sejenak, ia melanjutkan:&lt;br /&gt;"Saudara Tan, saudara Ong, siaute mempunyai satu permintaan, aku harap kalian berdua sudi untuk mengabulkannya."&lt;br /&gt;"Silahkan saudara Cu utarakan keluar." -kata Ong peng cepat.&lt;br /&gt;''Sekembalinya ke kota Siang yang nanti, kuharap kalian berdua sutra melimpahkan semua tanggung jawab terhadap peristiwa yang baru terjadi tadi diatas tubuhku, biar aku saja yang menghadapi pertanyaan-pertanyaan mereka, setuju bukan"&lt;br /&gt;''Maksud saudara Cu, kami tidak diperkenankan untuk berbicara?"&lt;br /&gt;"Betul! Suruh mereka tanyakan saja langsung kepadaku!"&lt;br /&gt;"Terhadap orang lain, bisa saja kami berbuat demikian, tapi seandainya Tan ti-anglo yang menanyakan persoalan itu..."&lt;br /&gt;"Kalau begitu terangkan saja secara gamblang, katakan kalau aku tidak berharap kalian menerangkan duduk persoalan yang sesungguhnya, maka jika ingin bertanya, bertanya langsung kepadaku"&lt;br /&gt;Ong Peng segera menghembuskan na-pas panjang, ucapnya kemudian:&lt;br /&gt;"Baiklah! Kami akan meluluskan permintaanmu ini"&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera manggut-manggut, katanya lagi:&lt;br /&gt;"Aku tahu peraturan dari Kay pang ketat dan keras, cuma ada sementara persoalan tidak baik kalau diperdebatkan oleh kalian, maka dari itu biar aku yang terangkan, sebab hal ini mungkin akan lebih bisa diterima oleh mereka"&lt;br /&gt;"Baik, kami meluluskan permintaan itu'' Dengan cepat mereka bertiga berangkat kembali ke kota Siang yang.&lt;br /&gt;Sepanjang jalan Cu Siau hong telah menyusun rencana yang padat, dia bermaksud untuk berunding dulu dengan Pek Bwee, kemudian dari mulut Lik Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan berusaha untuk mencari tahu siapa gerangan nona berbaju hijau itu, kemudian baru pergi menjumpai Tan -Tiang kim.&lt;br /&gt;Ternyata semua kejadian yang kemudian berlangsung sama sekali diluar dugaannya, baru masuk pintu gerbang, Pek Bwee dan Tan-Tiang-kim telah menantikan kedatang-annya disana.&lt;br /&gt;Dari sini dapat dibuktikan kalau pihak Kay-pang maupun Pek-Bwee sangat mengua-tirkan keselamatannya.&lt;br /&gt;Tapi hal mana justru mempengaruhi ren-cana Cu Siau hong, membuat semua jawab-an yang sebetulnya telah dipersiapkan itu menjadi porak poranda tak karuan.&lt;br /&gt;Sambil tertawa Tan Tiang-kim segera ber-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cu sauhiap, ciangbunjin perguruan Bu -khek-bun serta Kay-pang pangcu telah menhantikan kedatanganmu, silahkan masuk ke-dalam ruangan tengah ....!"&lt;br /&gt;Didalam ruangan duduk menanti Ui lo pangcu serta Tang Cuan.&lt;br /&gt;Sikap Ui pangcu amat sungkan sekali, dia segera bangkit berdiri seraya menjura.&lt;br /&gt;"Silahkan duduk!"&lt;br /&gt;Tan Heng dan Ong Peng tidak ikut masuk, di dalam ruangan itu hanya terdapat lima orang yakni Ui pangcu, Tang Cuan, Pek Bwee, Tan Tiang kim ditambah Cu -Siau hong.&lt;br /&gt;Sesungguhnya dlsekitar meja memang telah tersedia lima buah kursi, jelas hal ini memang sudah diatur semenjak semula.&lt;br /&gt;Dua orang angkatan muda Kay pang segera datang menghidangkan air teh, kemudian de-ngan cepat mereka mengundurkan diri sekalian merapatkan pimu ruangan.&lt;br /&gt;Setelah meneguk air teh dan tertawa, Ui lo pangcu berkata:&lt;br /&gt;"Cu sauhiap, sudah kau jumpai nona itu?&lt;br /&gt;"Sudah, sudah kujumpai!" sahut Cu Siau hong sambil manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Ada sebelas orang anggota Kay pang yang tewas oleh sergapan mautnya yang sama sekali tak ditemukan bukti kejahatannya."&lt;br /&gt;"Tentang soal ini boanpwe telah berhasil menyelidikinya" sahut Cu Siau -hong dengan cepat, "sesungguhnya mereka sudah terkena semacam rumput hijau yang amat lihay, barang siapa terkena, mereka akan jatuh tak sadarkan diri, Tang Heng serta Ong Peng dari Kay pang juga telah terluka oleh duri beracun tersebut"&lt;br /&gt;"Aaaai ..... sungguh tak disangka kalau di dunia ini benar-benar terdapat rumput hijau semacam ini.&lt;br /&gt;Ditinjau dari ucapan tersebut, jelas pang-cu tua dari Kay pang ini telah menduga ke sana.&lt;br /&gt;"Lo pangcu, nona itu berasal dari satu organisasi dengan pihak kebun raya Ban hoa wan" kembali Cu Siau hong melaporkan.&lt;br /&gt;Ui -lo pangcu segera manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Cu kongcu apalagi yang telah ia bicarakan dengan dirimu?" dia bertanya.&lt;br /&gt;Cu Siau hong termenung beberapa saat lamanya, kemudian katanya.&lt;br /&gt;"Ketika kita membakar kebun raya Ban hboa wan sehingga menimbulkan ledakan dari minyak yang mereka tanam di bawah tanah, entah dari berapa orang yang turut tewas dalam peristiwa itu"&lt;br /&gt;''Cara kerja kita memang agak keji, bila kita tidak berbuat demikian, mustahil ke-bun raya Ban hoa wan bisa kita punahkan.&lt;br /&gt;''Adapun kedatangan si nona ke Siang -yang kali ini adalah untuk membalas dendam"&lt;br /&gt;"Membalas dendam? Membalas dendam untuk siapa? Bagi semua orang yang berada didalam kebun raya Ban hoa wan"&lt;br /&gt;"Dia bukan pembunuh yang dikirim da-tang" tukas Cu Siau hong. "bila dia ada-lah orang yang diutus organisasi tersebut untuk menghadapi kita, tak mungkin hanya dia seorang yang dikirim kemari, juga tak mungkin dia akan datang secara terang-terangan"&lt;br /&gt;"Kalau begitu dia adalah ....?"&lt;br /&gt;"Semacam pembalasan dendam untuk kepentingan pribadi" jawab Cu Siau hong ce-pat, "dia hendak membalaskan dendam bagi kematian suhengnya juga merupakan bakal suaminya"&lt;br /&gt;"0rang itu adalah . . ."&lt;br /&gt;"Keng Ji kongcu !"&lt;br /&gt;"Kalian telah membicarakan persoalan i-ni ?" tanya Tan Tiang kim.&lt;br /&gt;''Benar! Telah kami perbincangkan"&lt;br /&gt;"Lantas ba.galmana dengan penyelesaian-nya?"&lt;br /&gt;"Telah kuakui kalau Keng Ji kongcu memang tewas ditanganku, kamipun telah bertarung satu kali, namun tidak berhasil me-nentukan siapa menang siapa kalah, oleh karena itu kami berjanji akan melangsungkan sebuah pertarungan sengit lagi esok siang''&lt;br /&gt;''-Cu kongcu, dalam menghadapi masalah ini Kay Pang tak bisa berpeluk tangan be-laka, besok kami akan mengutus beberapa orang untuk melakukan perjalanan bersama mu''&lt;br /&gt;"Tak usah" tampik Cu Siau hong sambil menggeleng, dia menantang aku untuk bertvarung satu lawan satu.. ."&lt;br /&gt;"Siau hong" tukas Tang Cuan decngan cepat, persoalan ini toh bukan urusanmu seorang, paling tidak kami tak bisa berpeluk tangan belaka, berbicara soal dendam sakit hati, kamipun sudah seharusnya mencari dia, besok aku akan mengikutimu pergi kesana."&lt;br /&gt;'Tang suheng, besok aku boleh membawa satu orang, tapi orang itu seharusnya anggota Kay-pang"&lt;br /&gt;"Hanya membawa seorang?" tanya Tan Tiang kim.&lt;br /&gt;'Benar! hanya membawa seorang, orang itu sudah kupilih, mohon pangcu suka me-ngabulkannya"&lt;br /&gt;"Siapakah orang itu?"&lt;br /&gt;"Ong Peng!"&lt;br /&gt;"Kui meh Ong peng?"&lt;br /&gt;"Yaa, benar!"&lt;br /&gt;'Cu kongcu, seperti yang kita maklumi, mereka adalah suatu organisasi yang amat besar, dan lagi cara kerja mereka amat kejam dan brutal, bagaimana seandainya mereka persiapkan jebakan? Niat untuk mencelakai orang tak boleh ada, tapi kewaspadaan terhadap alat busuk orang tak boleh hilang, aleh karena itu aku sipengemis tua menganjurkan agar kita bicarakan persoalan ini secara baik-baik, lalu kirim lebih banyak orang untuk menghadapinya.."&lt;br /&gt;"Tidak bisa Tan cianpwe, aku telah mengabulkan permintaannya untuk datang seorang diri untuk memenuhi janji tersebut, aku tak ingin melanggar perjanjian ini."&lt;br /&gt;"Soal ini, soal ini...."&lt;br /&gt;''Tiang kim dalam peristiwa ini tak usah kau risaukan" tiba-tiba Ui lo pangcu menukas.&lt;br /&gt;Buru-buru Tan Tiang kim membungku-kkan badannya memberi hormat.&lt;br /&gt;"Tiang kim turut perintah!"&lt;br /&gt;Ui pangcu manggut-manggut,ujarnya.&lt;br /&gt;"Baiklah Cu kongcu, bawalah serta Ong peng, selain itu akupun menyetujui keinginanmu untuk memberikan semua hak dan kekuasaan atas persoalan ini kepadamu, walaupun dia telah membunuh belasan orang anggota Kay pang, namun kamipun sudah banyak membunuh orang-orang mereka, tentang persoalan ini pihak Kay pang boleh saja tidak menuntut apa-apa."&lt;br /&gt;'Terima kasih lo pangcu"&lt;br /&gt;Sorot matanya segera dialihkan ke atas wajah Tang Cuan, kemudian melanjutkan:&lt;br /&gt;''Ciangbun suheng, siaute mohon kepada suheng agar meluluskan pula permintaan siaute itu"&lt;br /&gt;Tang Cuan menghela napas panjang.&lt;br /&gt;"Aaaai....sebetulnya kau boleh tak usah mengikatkan diri dengan peraturan perguru-an, sebelum suhu menghembuskan napas yang penghabisan, beliau juga menyetujui hal ini, cuma Siau hong, bagaimanapun juga aku tak perlu tahu dengan cara apakah kau hendak menghadapi persoalan ini, tapi kaupun tak boleh mewakili Bu khek bun untuk meme-nuhi permintaan yang diajukan orang itu"&lt;br /&gt;"Tentang soal ini, siaute pasti tahu diri, tak perlu ciangbun suheng risaukan"&lt;br /&gt;"BAIK kalau begitu pergilah! Cuma Siau--hong, kau musti berhati-hati dalam menghadapi persoalan ini"&lt;br /&gt;"Terima kasih atas perhatian suheng"&lt;br /&gt;"'Siau hong, menurut pesan suhu menjelang ajalnya, kau boleh tak usah terikat oleh peraturan perguruan Bu khek bun, oleh karena itu akupun tak akan berpesan apa--apa kepadamu, hanya aku yang menjadi suhengmu mempunyvi suatu pengharapan, entah bolehkah aku mengutarakannya keluar?"&lt;br /&gt;Buru-buru Cu siau hong bangkit berdiri kemudian menjura dalam-dalam, sahutnya:&lt;br /&gt;"Perkataan dari Ciangbun suheng terlalu serius, siaute tidak berani, bila ada persoalan harap sampaikan saja secara berterus terang."&lt;br /&gt;''Walaupun tiada peraturan perguruan yang mengikatmu, tapi sebagai seorang le-lakisejati, kau harus tahu bagaimana ca-ranya menyayangi diri sendiri, bagaimana pun juga kau toh berasal dari perguruan Bu-khek-bun"&lt;br /&gt;"Siaute akan mengingatnya selalu, aku pasti akan setiap hari mengingat pesan suheng ini, paling tidak dalam menghadapi setiap masalah aku harus teringat dulu pada kepentingan perguruan"&lt;br /&gt;Tang Cuan merasa puas sekali, katanya sambil tertawa:&lt;br /&gt;'Jit sute, aku tahu kau berasal dari keluarga sastrawan, sekalipun memiliki il-mu silat yang tinggi otakmu penuh pula dengan aneka macam pengetahuan, kata-kata semacam itu mungkin saja tak perlu banyak kukatakan."&lt;br /&gt;"Setiap nasehat suheng merupakan kata-kata yang tak ternilai harganya" sambung Cu Siau-hong cepat-cepat.&lt;br /&gt;Ui pangcu yang duduk dikursi utama tiba-tiba menghela napas panjang, katanya:&lt;br /&gt;"Tang ciangbunjin, aku si pengemis tua pun ada beberapa patah kata hendak di sampaikan kepada dirimu"&lt;br /&gt;Tang Cuan segera bangkit berdiri dan menjura dalam-dalam, sahutnya dengan cepat:&lt;br /&gt;"Lo-pagucu, kau tak usah sungkan-sungkan, silahkan kau utarakan, boanpwe akan mendengarkan dengan seksama" ,&lt;br /&gt;"Tang ciangbunjin, tahukah kau apa se-babnya menjelang ajalnya tiba, suhumu telah melepaskan Cu Siau-hong dari belenggu peraturan Bu-khek-bun?"&lt;br /&gt;"Tentang soal ini ..... tentang soal ini... boanpwe bodoh, masalah ini kurang kupahami"&lt;br /&gt;'Hal ini dikarenakan suhumu memang mempunyai kemampuan untuk menilai orang."&lt;br /&gt;Jelaskan perkataan itu belum selesai diutarakan, namun secara tiba-tiba Ui pangcu menghentikan kata-katanya dan tak berbicara lagi.&lt;br /&gt;"Mohon lo-pangcu suka memberi penjelasan' buru-buru Tang Cuan berseru kembali.&lt;br /&gt;'Orang yang luar biasa dikala menghadapi persoalan yang luar biasa, ada kalanya harus menggunakan pelbagi cara dan tindakan yang melanggar garis-garis bijaksana, bila terlalu mengikat diri pada peraturan yang ketat maka besar kemungkinan kalau hal ini justeru akan merugikannya daripada suatu keberuntungan"&lt;br /&gt;'Oooh ...."&lt;br /&gt;"Oleh karena itu, aku si pengemis tua beranggapan, ada sementara persoalan perlu dilimpahkan semua hak dan kekuasaan kepadanya sehingga dia bisa bertindak menurut selera dan keinginannya sendiri"&lt;br /&gt;Kembali Tang Cuan manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Dalam ini dunia persilatan sedang menghadapi suatu badai pembunuhan yang luar biasa sekali, perubahan besar yang berlangsung kali ini sama sekali berbeda dengan keadaan dimasa-masa lampau, sudah banyak orang yang terbunuh, namun kita masih belum tahu siapakah pihak lawan, bila kita harus menghadapi persoalan yang luar biasa ini dengan tindak tanduk yang jujur dan lurus, aku rasa banyak kesempa-tan baik yang tak bisa dimanfaatkan dengan sebaiknya, maksud dari aku si pengemis tua tentunya dapat dipahami oleh Tang ciang-bunjin bukan?"&lt;br /&gt;"Boanpwe agak mengerti!"&lt;br /&gt;Agak mengerti berarti masih ada hal yang kurang jelas.&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, Tang Cuan adalah seorang yang berpikir lurus, ia merasa kurang begitu cocok dengan apa yang dikatakan oleh Ui pangcu barusan.&lt;br /&gt;Ui lo pangcu adalah seorang yang sangat berpengalaman, sudah barang tentu diapun dapat menduga kecurigaan diatas orang, sambil tertawa ia lantas berkata lagi:&lt;br /&gt;`Tang ciangbunjin, ambil contoh dengan peristiwa penyerbuan yang menimpa Bu khek bun kalian, coba kalau kita tidak pergunakan sedikit otak dan kecerdasan, dapatkah kita ketahui siapa pembunuh yang sebenarnya?"&lt;br /&gt;Tang Cuan menjadi tertegun dan tak sanggup menjawab lagi.&lt;br /&gt;"Kita ambil contoh dengan diri Cu Siau hong," kata Ui lo pangcu lebih jauh, seandainya dia tidak diberi kebebasan untuk menghadapi perubahan situasi dengan kehendak hatinya, kau anggap dia punya berapa bagian kesempatan untuk melanjutkan hi-dupnya'&lt;br /&gt;Kembali Tang Cuan dibikin tertegun.&lt;br /&gt;Masalah ini merupakan suatu contoh yang amat jelas dan gamblang, terhadap manusia yang suka menyergap dan main curang kita memang tak bisa menghadapinya dengan jalan yang jujur, lurus dan terbuka.&lt;br /&gt;Menyaksikan Tang Cuan sudah tak sang-gup untuk menghadapi keadaan tersebut, Pek Bwee segera menyela.&lt;br /&gt;"Perkataan dari lo pangcu bagaikan gun-tur yang membelah bumi disiang hari bo-long, cuma Siau hong sesungguhnya adalah seorang manusia yang sama sekali belum berpengalaman, namun dia telah menampilkan kecerdasan yang luar biasa, juga telah melakukan beberapa persoalan yang amat berat, sekalipun dibalik kesemuanya itu fak-tor keuntungan merupa-kan pangkal kesuksesannya. Tapi nasib manusia toh tidak selamanya mujur terus."&lt;br /&gt;Ui Lo pangcu tertawa katanya.&lt;br /&gt;"Lote, kau anggap keberhasilan itu terpe-ngaruh pula dari soal kemujuran?"&lt;br /&gt;"Menurut aku si pengemis tua, seharusnya hal ini termasuk semacam kecerdasan, semacam kecerdasan yang muncul karena bakat alam, bakat alam semacam ini bukan setiap orang dapat mempelajarinya.''&lt;br /&gt;Pek Bwee menjadi tertegun, dia tahu Ui pangcu amat mengagumi kemampuan Cu Siau hong, namun sama sekali tak menyangka kalau dia begitu memandang tinggi akan kemanpuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma Pek Bwee saja yang merasa kan hal ini sebagai suatu kejadian yang sama sekali diluar dugaan, sekalipun Tan Tiang kim dan Tang Cuan juga merasa tertegun.&lt;br /&gt;Setelah menghembuskan napas panjang, pelan-pelan Pek Bwee berkata:&lt;br /&gt;"Lo pangcu, dia kan masih seorang bocah, janganlah kau terlalu memanjakan dirinya"&lt;br /&gt;'Ui pangcu segera tertawa, katanya:&lt;br /&gt;"Sudah hampir dua puluh tahun lamanya aku si pengemis tua mengamati perkemba-ngan dunia persilatan, akhirnya kujumpai juga munculnya suatu badai besar dalam dunia persilatan?&lt;br /&gt;Sorot matanya segera dialihkan ketubuh Cu siau hong, setelah itu sambungnya:&lt;br /&gt;'Aku si pengemis tua juga telah bertemu dengan pemuda ini, seorang pemuda yang merupakan tumpuan harapan dari seluruh umat persilatan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran .... '&lt;br /&gt;Beberapa patah kata itu terlampau berat, membuat Cu Siau hong merasakan peluh dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, buru-buru dia bangkit berdiri sembari ber-kata:&lt;br /&gt;"Lo pangcu, boanpwe tak berani menerima sanjunganmu itu"&lt;br /&gt;Ui pangcu kembali tertawa, katanya:&lt;br /&gt;"Nak, duduklah dulu, mari kita berbicara secara baik-baik"&lt;br /&gt;Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan "Tentunya kau sudah pernah bersua de-ngan si Dewa pincang Ui Thong bukan?"&lt;br /&gt;"Benar, boanpwe telah menjumpainya"&lt;br /&gt;''Kenapa? Apakah lo pangcu kenal dengan nya?" seru Pek Bwee.&lt;br /&gt;"Dia adalah seorang adik tongku, kepan-daiannya memang lumayan, tapi ia selalu berusaha untuk melawan takdir, dengan kepandaiannya dia ingin mencegah terjadinya takdir pada manusia, meski di usia tuanya agak menyesal, sayang keadaan sudah terlambat, tidak banyak umat persilatan yang bisa memahami dirinya"&lt;br /&gt;"Banyak sekali yang dia bicarakan dengan diriku" kata Cu Siau hong, "sayang sekali dia sudah ........"&lt;br /&gt;Ui pangcu segera menggoyangkan tangan nya berulang kali mencegah Cu Siau hong berkata lebih lanjut, setelah menghela napas panjang katanya:&lt;br /&gt;"Didalam kehidupannya selama ini banyak penderitaan yang telah dialaminya, terlalu banyak pula yang dipikirkan, dia i-ngin ribut dengan manusia, ingin menen-tang suratan takdir, untuk membangun ru-mah diatas pohon saja entah berapa banyak pikiran yang telah dicurahkan kesana dan pun menyelidiki pelbagai ilmu aneh dengan harapan bisa menemukan sesuatu"&lt;br /&gt;"Apa yang berhasil dia peroleh?" tanya Pek Bwe cepat.&lt;br /&gt;"Ia tak berhasil menemukan apa-apa, Aku pernah menasehatinya agar dia sedikit tahu diri, namun dia menolak anjuranku itu dan lagi dia kuatir akan mempengaruhi namaku, selama ini tak pernah ia singgung kalau aku adalah kakak Tong nya"&lt;br /&gt;Sorot matanya segera dialihkan kewajah Cu Siau hong, kemudian melanjutkan:&lt;br /&gt;"Siau hong, kau tahu? Walaupun kita belum pernah berjumpa namun aku sudah mempunyai bayangan tentang dirimu, itulah pemberitahuan dirinya, ia yang memberitahu kan kepadaku bahwa orang yang bisa menyelamat-kan badai pertumpahan darah dalam dunia persilatan hanyalah kau ....."&lt;br /&gt;"Lo Pangcu, dapatkah kau percayai ucapan tersebut?'' tukas Pek Bwee tiba-tiba.&lt;br /&gt;'Yaa, aku percayai apa yang dia katakan kepadaku belum pernah meleset, ia minta kepadaku untuk percaya kepadanya, dia telah melakukan pemeriksaan yang cermat atas diri Cu Siau hong, dan lagi dia minta aku dengan kedudukan, nama serta kekuatan yang ada pada tubuh Kay pang untuk me-nunjang dirinya ...."&lt;br /&gt;"0ooh.!"&lt;br /&gt;Tan Tiang kim berpaling dan memandang sekejap kearah Cu Siaui hong, kemudian so-rot matanya dialikkan ke Ui pangcu, kata nya:&lt;br /&gt;"Pangcu, asal kau orang memberi perintah, segenap anggota Kay pang akan menu-ruti perintahmu'&lt;br /&gt;"Tiang kim, persoalan ini belum boleh disiarkan dalam dunia persilatan, sebab saat nya belum tiba, apalagi bantuan yang kita berikan kepada Cu Siau hong selama ini sesungguhnya adalah demi membantu Kay pang sendiri, dalam kenyataan dialah yang sedang membantu kita, membantu segenap umat persilatan yang ada didunia ini"&lt;br /&gt;Masalah yang dibicarakan makin lama semakin besar dan serius, suasanapun makin lama semakin tegang, dalam keadaan demikian, agaknya Tang Cuan sudah tak mungkin untuk turut mengambil bagian lagi dalam pembicaraan tersebut.&lt;br /&gt;Akhirnya Cu Siau hong yang berbicara lebih dulu, katanya:&lt;br /&gt;"Lo pangcu, organisasi tersebut telah berhutang darah kepada Bu khek bun kami, hutcang darah ini harus dituntut kembali, ciangbunjin kami dan boanpwe pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk menuntut kembali hutang darah tersebut'&lt;br /&gt;"Dalam kenyataan, musibah yang menimpa Bu kbek bun tak lebih hanya merupakan suatu babak baru didalam dunia persilatan, ketika kalian musnahkan kebun raya Ban hoa wan, bukan saja hal itu sama arti nya telah membalaskan dendam buat Bu khek bun, juga telah mencegah terjadinya suatu pembunuhan-pembunuhan gelap secara besar-besaran...."&lt;br /&gt;'Darimana lo pangcu bisa mengetahui akan hal ini?" tukas Pek Bwee.&lt;br /&gt;"Ui Thong pernah membicarakan tentang soal ini denganku, dia meninggalkan beberapa buah kantungan berisi petunjuk untuk mencegah kejadian besar itu, dia berpe-san apabila dunia sudah mulai kacau dan badai pembunuhan telah dimulai, aku harus membuka kantongnya yang pertama, dalam surat itu dia menulis banyak sekali kejadian-kejadian yang akan berlangsung di dunia ini, setelah kubaca ternyata memang ham-pir sebagian besar yang cocok. Coba, bukankah hal ini aneh sekali?" ..&lt;br /&gt;"Ilmu perbintangan dan ilmu meramal kejadian masa depan merupakan suatu ke-pandaian yang luar biasa sekali, tentu saja hasilnya tak boleh dianggap sebagai bahan permainan"&lt;br /&gt;Ui pangcu menghela napas panjang, katanya:&lt;br /&gt;'Terus terang saja sebetulnya aku merasa kurang percaya dengan segala macdam kepandaian dari Ui Thong tersebut, ta-pi setelah membuktikannya beberapa kali, tampaknya sekalipun aku tak ingin per-caya juga mau tak mau harus mempercayai-nya juga"&lt;br /&gt;"Maka sekarang kaupun percaya?" kata Pek Bwee.&lt;br /&gt;"Ya, sekarang mau tak mau aku musti percaya`&lt;br /&gt;"Maksud lo-pangcu, apakah kau hendak menyuruh Siau-hong untuk menanggung se-suatu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul! Oleh karena itu, aku si penge-mis tua mengusulkan agar kalian lepas ta-ngan semua, biar dia sendiri yang mengha-dapi semua persoalan ini"&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan lo-pangcu sendiri?"&lt;br /&gt;"Tentu saja aku lebih-lebih tak akan menghalangi niatnya, tapi aku akan mengerahkan segenap kekuatan yang ada didalam Kay-pang untuk membantunya"&lt;br /&gt;''Lo-pangcu" bisik Pek Bwee, "sudahkah kau pikirkan, dia masih muda dan masih kekurangan soal kemantapan, didalam meng-hadapi persoalan, bisa jadi dia akan bertindak gegabah ....'.&lt;br /&gt;'Oooh...!"&lt;br /&gt;Melihat Ui pangcu tidak berniat untuk menjawab pertanyaan itu, tak tahan kembali Pek Bwee berkata:&lt;br /&gt;''Lo pangcu, bertindak secara gegabah memang tak akan sampai mencelakainya, tapi aku kuatir kalau cara kerjanya agak sesat"&lt;br /&gt;"Pek lote, yang hendak kita hadapi sesungguhnya adalah suatu organisasi kaum sesat, seandainya kita menghadapi dengan cara yang lurus, aku kuatir belum tentu a-kan peroleh hasil yang diinginkan"&lt;br /&gt;"Pek Bwee menjadi terbungkam, ia sama sekali tidak menyangka kalau tokoh persila-tan yang berkedudukan amat tinggi ini bi-sa begitu memandang serius kemampuan Cu Siau hong, sehingga masalah besar dari dunia persilatan ini telah diserahkan pertanggungan jawabnya atas diri seorang bocah yang baru berusia dua puluh tahunan.&lt;br /&gt;Setelah hening, beberapa saat lamanya, Pek Bwe berkata:&lt;br /&gt;''Baik, kalau begitu kita tetapkan begini saja''&lt;br /&gt;"Loya cu...." seru Cu Siau hong:&lt;br /&gt;"Kau tak perlu kuatir" tukas Pek Bwe&lt;br /&gt;"Soal suniomu, serahkan saja kepadaku"&lt;br /&gt;'Baik!" kata Ui pangcu kemudian, "Tang ciangbunjin, apakah kau bersedia memberi muka kepada aku si pengemis tua?'&lt;br /&gt;Jelas tingkatannya ini merupakan pembe-rian muka untuk Tang Cuan, buru-buru pemuda itu menjawab.&lt;br /&gt;"Perintah dari lo pangcu, mana berani Tang Cuan tolak'&lt;br /&gt;Agaknya Ui pangcu merasa puas sekali dengan jawaban tersebut, katanya sambil tertawa.&lt;br /&gt;''Bagus sekali, kalau begitu aku putuskan demikian saja, aku telah mengeluarkan pe-rintah Tiok hu lang, tak lama kemudian sepasukan jago dari Kay pang akan dikirim kemari, selain itu aku si pengemis tua juga telah berjanji dengan beberapa orang jago dari Pay kau, aku hendak bertemu dengan mereka serta membicarakan soal kerja sama kedua belah pihak."&lt;br /&gt;Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Tang Cuan, kemudian melanjutkan:&lt;br /&gt;"Ciangbunjin, aku rasa lebih baik kau turut serta didalam pembicaraan ini."&lt;br /&gt;'Lo pangcu'' buru-buru Tang Cuan berseru.&lt;br /&gt;"Aku Tang Cuan hanya seorang manusia ke-cil, mana berani mengikuti perundingan besar seperti itu? Aku rasa tak usah ...."&lt;br /&gt;"Nak, jangan terlalu memandang rendah diri sendiri" 'kata Ui pangcu sambil meng-gelengkan kepalanya berulangkali, "kau adalah seorang ciangbunjin dari perguruan Bu khek bun, berarti kedudukanmu sama pu-la dengan kedudukan ciangbunjin partai lain'&lt;br /&gt;Tang Cuan merasa sedikit terkejut mendengar ucapan tersebut, namun juga mera-sakan beban yang menekan bahunya sema-kin berat, dengan wajah serius ujarnya:&lt;br /&gt;"Lo pangcu, aku..."&lt;br /&gt;"Ui pangcu menggoyangkan tangannya mencegah Tang Cuan berkata lebih lanjut, katanya.&lt;br /&gt;"Kau tak usah merendah lagi, keputusankru sudah bulat"&lt;br /&gt;"Baik!''kata Tang Cuan dengan sikap yang sangat menghormat, "pesan dari cianpwe boanpwe laksanakan' .&lt;br /&gt;"Ui pangcu mengalihkan kembali sorot matanya kewajah Cu Siau hong, kemudian ujarnya:&lt;br /&gt;"Siau-hong, pergilah! Mulai sekarang Tan Heng, Ong Peng sudah menjadi anak buahmu, aku serahkan mereka kepadamu, aku serahkan mereka kepadamu, mulai kini dan sementara waktu membiar-kan mereka terlepas dari Kay-pang"&lt;br /&gt;"Soal ini boanpwe rasa tak perlu" Ui pangcu segera tertawa.&lt;br /&gt;'Dalam kenyataan, mereka amat ber-sedia untuk bisa terlepas dari belenggu peraturan Kay-pang yang begitu berat untuk sementara waktu, selama ini kedua orang ini selalu memandang tinggi diri sendiri, tapi aku telah bertanya kepada mereka, agaknya merekapun merasa takluk sekali kepadamu, maka dengan menyerahkan mereka kepadamu, akupun tak usah kuatir jika kedua orang itu sampai nakal''&lt;br /&gt;'Lo pangcu... . ."&lt;br /&gt;"Baiklah kita putuskan demikian saja" tukas Ui pangcu!... sekarang pergilah beristirahat! Besok kau hendak membawa serta siapa untuk memenuhi janjimu, lebih baik kau putuskan sendiri"&lt;br /&gt;Cu Siau hong mengiakan, dia lantas beranjak dan mohon diri dari ruang itu.&lt;br /&gt;Memandang bayangan punggung Cu Siau hong hingga lenyap dari pandangan mata, Ui pangcu menghembuskan napas panjang, -katanya.&lt;br /&gt;"Pek lote, apakah kau merasa keputusan yang kuambil hari ini terlalu luar biasa?"&lt;br /&gt;"Buat seorang locianpwe seperti kau, tentu saja didalam mengatasi masalah sema-cam ini tak perlu berunding lagi dengan orang lain'' jawab Pek Bwe segera.&lt;br /&gt;Ui pangcu tertawa getir, kembali ujarnya: 'Tang ciangbunjin, Pek lote, ada beberapa persoalan aku ingin berbicara dulu de-ngari kalian"&lt;br /&gt;'Boanpwe akan mendengarkan dengan seksama!"&lt;br /&gt;''Walaupun aku mengusulkan Cu Siau hong untuk pergi menempuh bahaya, tapi aku sama sekali tidak berkeyakinan bahwa dia pasti aman tenteram tak akan menjumpai bahaya apa-apa, di dalam hal ini kalian berdua harus mempersiapkan batin sendiri sebaik-baiknya''&lt;br /&gt;"Lo pangcu, benarkah dalam persoalan kali ini, kita biarkan dia pergi dengan hanya membawa satu orang pembantu saja." tanya Tang Cuan.&lt;br /&gt;"Benar, seluruh kekuasaan telah kita serahkan kepadanya, biar dia hadapi menu-rut pendapatnya sendiri, entah apapun yang hendak dia lakukan, kami tak akan turun tangan"&lt;br /&gt;"Lo-pangcu, apakah dari pihak Bu khek bun kami perlu juga mengutus seorang utusan?"&lt;br /&gt;''Aku rasa tak perlu, pertama pihak lawan tidak memperkenankan dia pergi membawa orang, kedua, dengan diutusnya seseorang dari Bu khek bun, berarti membuat tindak tanduknya menjadi tidak leluasa"&lt;br /&gt;"Paling tidak sewaktu terperangkap dalam jebakan musuh, ia mempunyai seorang pembantu yang lebih banyak'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tang Cuan" kata Ui pangcu, "tindakanmu itu bukan saja tak akan membantu dirinya, malah kemungkinan besar justru akan menyulitkan dirinya."&lt;br /&gt;Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan:&lt;br /&gt;"Kau harus mengerti, yang sedang dihadapi Cu Siau hong sekarang adalah rase yang liciknya bukan kepalang, mereka juga seperti harimau licik seperti rase, kecuali orang yang bisa menghadapi perubahan situasi dengan otak cerdasnya, lebih baik kita jangan mencampurinya, Tang Ciangbunjin yang ku-maksudkan sebagai tindakan menghadapi perubahan situasi meliputi pula soal kecerdas-an, siasat licin bahkan tipu menipu"&lt;br /&gt;"Soal ini aku rasa kurang begitu baik!"&lt;br /&gt;"Tindakan penyerbuan terhadap Bu khek bun ditengah malam buta apakah terhitung pula suatu perbuatan lelaki sejati?"&lt;br /&gt;Tang Cuan segera terbungkam setelah mendengar perkataan itu.&lt;br /&gt;Kembali Ui pangcu berkata:&lt;br /&gt;"Aku percaya dia dapat menghadapi keadaan tersebut, perduli bagaimanakah ilmu silatnya atau kecerdasan otaknya, seandai-nya kita turut campur, hal ini benar-benar merupakan suatu tindakan merusak suasana."&lt;br /&gt;Tergerak juga hati Pek Bwee setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian:&lt;br /&gt;"Lo pangcu bagaiinana paras muka nona itu?"&lt;br /&gt;"Cantik jelita bak bidadari dari kahyangan"&lt;br /&gt;"Pangcu, terhadap persoalan ini aku kuatir kalau Cu Siau hong bertindak kurang cermat."&lt;br /&gt;"Budak itu baru pertama kali terjun kedalam dunia persilatan, menurut apa yang kudengar dari mereka, konon dia adalah seorang gadis yang keras kepala, bagaimana cara untuk menghadapinya, aku rasa saat ini merupakan suatu persoalan yang pelik"&lt;br /&gt;'Benar!&lt;br /&gt;"YAA, apa boleh buat? Bila sehari tak dapat menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita, bisa saja kita bertarung selama dua hari dua malam untuk menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita berdua.&lt;br /&gt;"Tidak bisa, aku tidak mempunyai waktu yang cukup banyak untuk berbuat demiki-an'&lt;br /&gt;''Lantas maksud nona?"&lt;br /&gt;"Kita harus mencari suatu akal yang bagus untuk menentukan menang kalah diantara kita dengan secepatnya"&lt;br /&gt;"Aaaah, agak sulit, kau tak mampu membunuhku, akupun tak mampu membu-nuh nona, coba kau pikirkanlah kita masih mempunyai cara apa lagi yang bisa digunakan untuk menentukan menang kalah diantara kita berdua ....?.&lt;br /&gt;"Aku masih mempunyai sebuah cara lagi, bahkan cara ini amat praktis dan bisa menentukan menang kalah diantara kita berdua dalam waktu sesingkat-singkatnya�"'&lt;br /&gt;"Oya? Coba, nona terangkan"&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, sebetulnya tidak pantas kalau kuberitahukan cara ini kepadamu, tapi kami merasa cocok satu dengan lain-nya, maka dari itu aku hendak memberi kesempatan kepadamu untuk mempersiap-kan diri dengan sebaik-baiknya"&lt;br /&gt;"Baik, akan kudengarkan dengan seksama"&lt;br /&gt;"Kau mengerti tentang ilmu pedang terbang?"&lt;br /&gt;"Pernah kudengar, konon kepandaian tersebut merupakan semacam ilmu pedang tingkat tinggi?"&lt;br /&gt;''Kau pernah melatihnya?"&lt;br /&gt;'Belum pernah"&lt;br /&gt;''Aku pernah melatihnya!'&lt;br /&gt;"Oya. . . ?"&lt;br /&gt;"Agar menang kalah diantara kita berdua bisa ditentukan secepatnya, terpaksa aku harus mempergunakan ilmu pedang terbang ini untuk menghadapi dirimu"&lt;br /&gt;Tergetar juga perasaan Cu Siau hong setelah mendengar ucapan tersebut, diam-diam pikirnya:&lt;br /&gt;"Menurut suhu, untuk menggunakan ilmu pedang terbang maka seseorang akan menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk melancarkan sebuah se-rangan, mati hidup, menang kalah akan segera terlihat hanya dalam satu gebrakan saja, aku lihat budak ini masih amat muda, masa dia sudah dapat mempelajari ke-pandaian tingkat tinggi semacam ini?"&lt;br /&gt;Dalam hati ia berpikir demikian, sementara diluaran katanya:&lt;br /&gt;"Nona Ih, benarkah kau hendak menan-tang aku untuk bertarung mati-matian ....."&lt;br /&gt;'Perkataanmu memang benar, bagaimana pun juga menang kalah diantara kita me-mang harus ditentukan, sebab daripada le-bih lambat semenit, toh lebih baik lebih a-wal sedikit?"&lt;br /&gt;Cu Siau hong tertaweagetir, lalu katanya kembali:&lt;br /&gt;"Nona, bila kau memang bersikeras un-tuk berbuat demikian, terpaksa aku akan mempertaruhkan nyawa untuk mengiringi kehendakmu itu"&lt;br /&gt;"Baik, bersiap-siaplah kau, mulai sekarang, setiap saat aku bisa melancarkan serangan"&lt;br /&gt;Selesai berkata pelan-pelan pedangnya diangkat ke atas dan disilangkan di depan dada.&lt;br /&gt;Mengikuti gerakan pedangnya itu, sikap Ih Bu lan pun turut berubah menjadi dingin dan amat serius.&lt;br /&gt;Itulah keseriusan yang telah di perlihat-kan, ketulusan dihati dan kewibawaan diluar.&lt;br /&gt;Sekalipun seseorang yang tidak mengerti tentang iimu pedangpun dapat merasakan juga, apalagi serangan mana dilancarkan sudah pasti akan mendatangkan kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.&lt;br /&gt;Cu Sian hong telah memusatkan segenap perhatiannya untuk mengawasi gerak gerik lawan, ia merasa seluruh tubuh Ih Bu Ian seakan-akan telah melebur menjadi satu dengan pedangnya, hal ini membuat hatinya merasa amat gemetar keras.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Ong Peng memburu maju kede-pan sambil berseru:&lt;br /&gt;"Cu kongcu, Kau tak boleh menyambut se-rangan itu"&lt;br /&gt;Sekarang dalam jarak lima kaki disekitar tempat ini sudah tiada burung hidup yang bisa melewatinya lagi, sebab seluruh wila-yah sudah dilingkupi oleh hawa pedangnya yang amat kuat, sekalipun kita ingin pergi juga tak akan berhasil untuk berhasil melepaskan diri dari sini"&lt;br /&gt;Ong peng sendiripun dapat merasakan a-danya segulung hawa pembunuhan yang sa-ngat kuat menyelimuti sekeliling tempat itu.&lt;br /&gt;Dengan suara lantang Cu Siau hong se-gera berseru:&lt;br /&gt;"Nona Ih, harap tunggu sebentar, aku hendak memberitahukan rekanku ini tentang beberapa hal"&lt;br /&gt;"Katakanlah aku akan menunggumu, ta-pi jangan terlalu lama"&lt;br /&gt;Cu Siau hong manggut-manggut, sambil berpaling kearah Ong peng, ujarnya:&lt;br /&gt;"Seandainya aku sampai tewas diujung pedang nona Ih nanti, tolong antar jena-jahku kepada pihak Bu khek bun dan serah-kan kepada ciangbun suheng, minta ke-pada mereka untuk menguburnya dalam perkampungan Ing gwat san ceng, tak perlu diangkut pulang kedesa kelahiranku...."&lt;br /&gt;"Kongcu........"&lt;br /&gt;"Dengarkan baik-baik" tukas Cu Siau hong, "waktu kita untuk berbicara tidak terlalu banyak"&lt;br /&gt;"Baik, aku akan mendengarkan dengan seksama"&lt;br /&gt;''Beritahu kepada sunioku, dendam kesumat ini tak mungkin bisa kami balas, suruh dia bubarkan perguruan Bu khek bun, lalu mengajak It ki sute pergi jauh, keujung langit dan mengasingkan diri, jangan sekali-kali memikirkan lagi soal pembalasan den-dam"&lt;br /&gt;"Kongcu ..... '. Ong peng teramat sedih.&lt;br /&gt;''Dengarkan kata-kataku selanjutnya" tukas Cu Siau hong.&lt;br /&gt;Benar juga, Ong Peng tak berani banyak berbicara lagi.&lt;br /&gt;Cu Siau hong menghembuskan napas pelan lalu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila berjumpa dengan lo pangcu beritahu dua hal kepadanya, pertama katakan kalau aku tak dapat menunaikan tugas sampai selesai'&lt;br /&gt;'Persoalan yang kedua?" tak tahan air mata jatuh terlinang membasahi wajah Ong Peng.&lt;br /&gt;"Suruh dii mempersatukan kekuatan dari segenap perguruan yang ada didunia ini dan orang-orang yang telah mengasingkan diri untuk bersama-sama menghadapi organisasi ini, kalau hanya mengandalkan Kay pang dan Pay kau saja mungkin masih belum cukup.&lt;br /&gt;"Hamba akan mengingatnya semua" buru-buru Ong Peng membungkukkan badannya memberi hormat.&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera tertawa.&lt;br /&gt;''Baik, kalau memang sudah diingat, lak-sanakan dengan sebaik-baiknya"&lt;br /&gt;Kemudian sambil membalikkan badannya pelan-pelan dia mengangkat pedangnya ke atas udara, kemudian melanjutkan.&lt;br /&gt;'Nona, aku telah selesai untuk menyampai-kan pesan-pesan akhirku, harap nona suka memegang janji dan jangan membunuh pula orang yang akan menyampaikan pesan terakhirku ini'&lt;br /&gt;"Matilah dengan hati yang lega, semua yang telah kusanggupi pasti akan kulakukan dengan sebaik-baiknya"&lt;br /&gt;"Kalau memang begitu, akupun tak usah merasa kuatir lagi, nah, silahkan nona melancarkan serangan"&lt;br /&gt;''Kau hanya meninggalkan beberapa patah kata itu saja?"&lt;br /&gt;"Benar, hanya beberapa patah kata ini saja."&lt;br /&gt;"Konon ayahmu masih hidup sehat wal-afiat, apakah kau tidak akan meninggalkan pesan apa-apa kepada mereka!&lt;br /&gt;"Orang tuaku bukan anggota persilatan, mereka tak akan memahami persoalan seperti itu"&lt;br /&gt;'Kalau begitu, tinggalkanlah beberapa pa-tah kata untuk istrimu!"&lt;br /&gt;'Sayang sekali aku belum beristri"&lt;br /&gt;'Kalau begitu tentunya kau mempunyai kekasih hati atau pujaan hatimn bukan?'&lt;br /&gt;"Juga tidak ada, cuma aku memang mempunyai beberapa orang dayang yang genit--genit"&lt;br /&gt;"Dayang?"&lt;br /&gt;"Benar, orang yang mengurusi soal makan minum dan tempat tinggalku, setelah aku mati, mungkin mereka akan datang menjumpai nona, maka aku harap nona bersedia menasehati beberapa patah kata kepada mereka&lt;br /&gt;? Ih Bu lan manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Aku pasti akan memenuhi keinginan hatimu itu"&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera tertawa getir, lalu katanya:&lt;br /&gt;"Baiklah, sekarang nona boleh segera turun tangan untuk mulai melancarkan serangan."&lt;br /&gt;"Padahal aku benar-benar tak ingin membunuh dirimu, dapatkah kau beritahukan kepadaku, kau bukanlah pembunuh dari Keng Ji kongcu. . . . . ?"&lt;br /&gt;"Tidak dapat, sebab Keng Ji kongcu betul-betul sudah mati ditanganku, mengapa aku tak boleh mengakuinya?"&lt;br /&gt;Dengan sedih Ih Bu Ian menghela napas panjang.&lt;br /&gt;"Aaai.... seandainya kau tidak membu-nuhnya, dia pasti akan membunuh dirimu'&lt;br /&gt;"Nona, bukti nyata sudah berada dide-pan mata, sekalipun aku berusaha untuk menyangkal atau memungkiri persoalan ini juga bukan suatu cara yang tepat, bila nona tidak bermaksud untuk memaafkan kesalahanku itu, terpaksa diantara kita berdua harus melangsungkan suatu pertarungan untuk menentukan menang kalah kita berdua"&lt;br /&gt;"Kau amat keras kepala" bisik Ih Bu lan.&lt;br /&gt;Pelan-pelan pedangnya diangkat kembali ke tengah udara sambil bersiap-siap melancarkan serangan.&lt;br /&gt;Cu Siau hong pun mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mengambil posisi menghadapi lawan, hawa murninya dihimpun menjadi satu, segenap perhatian dipusatkan menjadi satu, dia telah bersiap sedia menghadapi serangan maut dari Ih Bu lan terse-but.&lt;br /&gt;Paras muka Ong Peng amat serius dan mengawasi gerak gerik dua orang itu tanpa berkedip.&lt;br /&gt;Walau perkenalannya dengan Cu Siau hong belum berlangsung lama, namun dalam ha-ti kecilnya telah muncul suatu rasa persahabatan yang amat tebal ....&lt;br /&gt;Walaupun selama ini dia hanya berlagak sebagai pembantu anak muda itu, namun dalam dua hari ini, dari dalam hati kecilnya telah timbul semacam perasaan yang sangat aneh, ia merasa bisa mengikuti manusia seperti Cu Siau hong, sekalipun benar-benar menjadi pelayannya juga suatu kejadian yang amat menggirangkan.&lt;br /&gt;Tapi pergaulan yang penuh kegembiraan ini segera akan berakhir, sejenak lagi bila Ih Bu lan melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, Cu Siau hong akan roboh bermandikan darah diatas tanah.&lt;br /&gt;Kendatipun peristiwa itu sendiri belum sampai terjadi, akan tetapi dalam benak Ong peng seakan-akan telah terbayang suatu peristiwa yang tragis, Cu Siau hong dengan tubuh penuh bermandikan darah terkapar diatas tanah.&lt;br /&gt;Mendadak Ong peng membentak keras:&lt;br /&gt;"Tidak bisa!"&lt;br /&gt;Sementara itu, Ih Bu lan sudah bersiap-siap melontarkan serangan, ketika mendengar jeritan lengking dari Ong peng ter-sebut, ia menjadi tertegun .....&lt;br /&gt;Buru-buru serangannya ditarik kembali sambil menegur:&lt;br /&gt;"Mengapa kau berteriak-teriak?"&lt;br /&gt;Ong Peng menghela napas panjang.&lt;br /&gt;"Aaai.... betul-betul suatu pemandangan yang amat tragis dan mengenaskan" gumamnya.&lt;br /&gt;"Pemandangan apa?"&lt;br /&gt;"Aaaai .... apa yang kukatakan hanya suatu khayalan belaka" gumam Ong Peng sam-bil menghela napas, "nona, tak usah kita bicarakan lagi ..."&lt;br /&gt;Tiba-tiba Ih Bu tan tertawa, katanya:&lt;br /&gt;"'Aku tahu, kau pasti telah membayangkan menang kalah yang bakal kami tentu-kan dalam pertarungan ini bukan?"&lt;br /&gt;''Entah apapun yang telah kubayangkan tak mungkin lagi bagiku untuk menghentikan pertarungan ini''.&lt;br /&gt;"Soal ini jangan hanya menyalahkan kepadaku seorang, aku toh sudah memberi kesempatan kepadanya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cu Siau hong turut tertawa, ucapnya:&lt;br /&gt;'Hari ini bisa dihindari, belum tentu besok bisa dihindari, lebih baik turun tanganlah dengan segera!"&lt;br /&gt;Ih Bu lan segera berpaling dan meman-dang ke arah Ong Peng, kemudian ujarnya:&lt;br /&gt;"Nah, sudah kau dengar sendiri, dialah yang memaksa aku, bukan aku yang memaksa dia, mengapa kau menyalahkan aku?"&lt;br /&gt;"Nona Ih" kata Cu Siau hong pula sam-bil tertawa, "sekarang, mungkin saja kau memang berhasrat untuk menghentikan pertarungan, tapi hal ini pasti akan menyiksa dirimu dan lagi sedikit banyak akan timbul perasaan tak tenang dalam hatimu di kemudian hari, kau bakal teringat selalu a-kan persoalan ini ...."&lt;br /&gt;"'Sungguh?` tanya Ih Bu lan dengan wa-jah tertegun.&lt;br /&gt;'Sungguh, kau akan selalu menyalahkan diri sendiri, menganggap dirimu sendiri ti-dak berusaha dengan sepenuh tenaga"&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, aku merasa sangat pusing, batinku bertentangan sendiri, aaai, . .!" Mungkin aku memang tidak seharusnya da-tang kemari''&lt;br /&gt;"Nona, lancarkanlah seranganmu itu, dalam sernnganmu iti, entah berhasil atau tidak membunuhku, kau pasti akan memperoleh ketenangan"&lt;br /&gt;Ih Bu Ian manggut-manggut, sekali lagi dia mengangkat pedangnya ke tengah uda-ra sambil bersiap-siap. Serangan kali ini dia tidak ragu lagi, sambil me-lejit ke udara, pedangnya seperti sebuah bianglala tajam meluncur ke angkasa dan menyambar ke depan.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Ong Peng memejamkan matanya rapat-rapat.&lt;br /&gt;Cu Siau hong menggerakkan pula pedang-nya menciptakan selapis cahaya bianglala putih yang amat menyilaukan mata.&lt;br /&gt;"Traaang..!" terdengar suara benturan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, cahaya putih segera lenyap dan ha-wa pedang pun membuyar ke angkasa.&lt;br /&gt;Paras muka Ih Bu lan berubah menjadi pucat pias seperti mayat, keningnya berke-rut kencang, dia berdiri dengan pedang di silangkan didepan dada.&lt;br /&gt;Ternyata keadaan waktu itu tidak seperti apa yang dibayangkan Ong Peng tadi.&lt;br /&gt;Atau paling tidak, Cu Siau hong belum mati, sekarang keadaannya sudah amat jelas, Cu Siau hong berdiri dengan pedang melint-ang badan.&lt;br /&gt;Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh darah yang bercucuran keluar amat deras.&lt;br /&gt;Luka itu terletak didada bagian depan, tampak daging yang merekah keluar sampai darah segar yang berhamburan membasahi pakaian.&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, asal Ih Bu lan melancarkan sebuah serangan lagi, niscaya Cu Siau hong akan terbunun diujang pedangnya.&lt;br /&gt;Ong Peng menjadi tertegun, serunya de-ngan cepat.&lt;br /&gt;"Kongcu... ..!''&lt;br /&gt;Cepat-cepat dia memburu ke depan.&lt;br /&gt;"Ong Ping, aku baik sekali" kata Cu Siau hong sambil tertawa, "aku telah berhasil menyambut serangannya itu"&lt;br /&gt;"'Tapi kau terluka''&lt;br /&gt;''Aaaah, apakah artinya sedikit luka ini? Dibandingkan dengan apa yang kuduga semula, keadaanku sekarang jauh lebih baik"&lt;br /&gt;Sementara itu, Ih Bu lan telah menarik kembali pedangnya seraya berkata pelan:&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, aku telah berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki namun aku tak berhasil membunuh dirimu"&lt;br /&gt;"Ehmmm ......"&lt;br /&gt;'Apa yang kau katakan memang benar, hatiku sekarang pun lebih tenang dan tenteram, aku sudah memberikan pertanggungan jawab kepada calon suamiku, dengan tulus hati dan bersungguh-sungguh aku telah be-rusaha untuk membalaskan dendam baginya akan tetapi aku gagal untuk melakukannya."&lt;br /&gt;'Nona, apakah kau masih ada rencana lain?"&lt;br /&gt;"Tidak ada, aku hendak pergi, aku akan pergi meninggalkan tempat ini, jika kau amat dendam kepadaku, setiap saat kau boleh datang mencari aku untuk membuat perhitungan."&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali, Katanya:&lt;br /&gt;'Nona, kau telah berusaha keras demi Keng Ji kongcu, janji kepada dirimu sendi-ripun sudah terpenuhi, sekarang aku ingin mengajak nona untuk mernperbincangkan masalah dunia persilatan"&lt;br /&gt;"Aku tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, orang yang kukenalpun tidak banyak, terhadap urusan dunia persilatanpun mengetahui amat terbatas sekali.&lt;br /&gt;"Mungkin saja persoalan tentang dunia persilatan yang kau ketahui tidak banyak tapi untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak timbul dari sanubari ma-sing-masing orang sendiri, hal mana sama sekali tiada sangkut pautnva dengan masa-lah dunia persilatan.&lt;br /&gt;Ih Bu lan termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian berkata:&lt;br /&gt;`Aku tak lebih hanya seorang anak pe-rempuan yang tidak banyak pengalaman, yang tak tahu urusan apa-apa, jangan terlalu mengharapkan diriku, nah aku hendak pergi dulu, baik-baiklah menjaga dirimu baik-baik......"&lt;br /&gt;Setelah tertawa sedih, dia melanjutkan:&lt;br /&gt;"Bukit tidak berbelok, jalannya yang berbelok, mungkin saja kesempatan kita untuk bersua kembali dimasa mendatang masih terbuka lebar ......"&lt;br /&gt;Sambil membalikkan badan, dia mengajak dayangnya beranjak pergi meninggalkan tempat itu.&lt;br /&gt;Dengan termangu-mangu Cu Siau-hong memperhatikan bayangan punggung dari Ih Bu-lan, memandang hingga bayangan itu lenyap dari pandangan mata.&lt;br /&gt;Ong Peng menghembuskan napas panjang, ujarnya kemudian.&lt;br /&gt;"Kongcu, mari kita bungkus lukamu itu!"&lt;br /&gt;Cu Siau-hong manggut-manggut.&lt;br /&gt;'Ong-Peng, dia mengetahui banyak sekali rahasia besar yang kita perlukan, sayang dia enggan untuk mengutarakannya"&lt;br /&gt;"Kongcu, mungkin kau lupa, dia memang sebetulnya adalah musuh kita semua .. ....! '&lt;br /&gt;Setelah mengeluarkan obat luka luar, dia segera membalut luka Siau-hong yang berada dibagian dadanya.&lt;br /&gt;Mulut luka itu dalamnya mencapai tiga inci dengan panjang setengah depa, andaikata luka itu seinci lebih dalam lagi, besar kemungkinannya akan melukai isi perut a-tau otot tulangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Ong Peng sembari membubuhkan obat pada luka dada itu, diam-diam dia berdoa bagi keselamatan Siau-hong.&lt;br /&gt;Sebaliknya Cu Siau hong sendiri tidak memperdulikan keadaan lukanya, dia termenung dengan kening berkerut, seakan-akan sedang mempertimbangkan suatu masalah besar yang amat pelik baginya.&lt;br /&gt;Selesai membalut luka tubuh Cu Siau hong, Ong Peng lalu baru berbisik dengan lirih.&lt;br /&gt;"Kongcu, sudah saatnya buat kita untuk pulang, lukamu itu tidak ringan, lebih baik istirahatlah dulu selama beberapa hari'&lt;br /&gt;Dengan nada setengah menjawab setengah tidak, Cu Siau hong berkata:&lt;br /&gt;'Ong Peng, apakah dari pihak Kay--pang telah mengirim mata-mata yang mengawasi daerah disekitar tempat ini"&lt;br /&gt;"Sebenarnya ada, tapi untuk memenuhi harapan kongcu, Tan tianglo telah menitahkan untuk membuyarkan semua pengawasan disekeliling tempat tersebut.'&lt;br /&gt;Mendadak.Cu Siau hong melompat bangun sambil berseru:&lt;br /&gt;"Kita segera berangkat! Cepat laporkan kepada Tan tianglo, kita harus menguntit nona tersebut"&lt;br /&gt;Berbicara sampai disitu, mendadak ke-ningnya berkerut kencang, seakan-akan me-rasa kesakitan.&lt;br /&gt;Jelas mulut lukanya kembali merekah akibat dari goyangan badannya barusan.&lt;br /&gt;Ong Peng menghela napas panjang, ka-tanya:&lt;br /&gt;"Kepandaian Kay-pang untuk menguntil jejak seorang adalah nomor wahid didunia, tak nanti budak itu meloloskan diri.&lt;br /&gt;Kaupun tak usah kesal karena persoalan ini, yang penting adalah rawat lukamu sebaik-baiknya ......"&lt;br /&gt;Cu Siau-hong manggut-manggut dan berjalan keluar dari hutan.&lt;br /&gt;Ong Peng betul-betul sangat hebat, tak lama kemudian ia telah berhasil mendapat-kan sebuah tandu kecil. .&lt;br /&gt;Dengan naik tandu, Cu Siau-hong segera dilarikan pulang dengan kecepatan tinggi.&lt;br /&gt;Tandu itu langsung masuk ke dalam ru-ang tengah sebelum berhenti.&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan tadi, Cu Siau-hong telah mengatur napasnya dan bersermedi, menanti tandu itu berhenti, ia telah selesai pula dengan semedinya. "&lt;br /&gt;Begitu menyingkap tirai dan melangkah keluar dari tandu, seketika itu juga ia menjadi tertegun.&lt;br /&gt;Tampak Ui lo pangcu, Tan Tiang-kim, Pek Bwee, Pek Hong dan Tang Cuan berlima telah berdiri berjajar didepan tandu.&lt;br /&gt;Buru-buru dia maju ke depan dan menjatuhkan diri berlutut katanya:&lt;br /&gt;"Sunio dan cianpwe sekalian menyambut kalian tak berani Siau hong terima....''&lt;br /&gt;"Bangunlah nak, konon lukamu tidak ring-an" tukas Pek Hong. .&lt;br /&gt;"Nak, rupanya aku salah juga setindak'" kata Ui lo pangcu pula, ak sudah menilai rendah lawanku"&lt;br /&gt;Tang Cuan segera mengulurkan tangan kanannya dan membangunkan Cu Siau hong dari atas tanah.&lt;br /&gt;"Mari kita berbincang-bincang di ruang dalam saja?" kata Ui lo pangcu, kemudian sambil memberi tanda.&lt;br /&gt;Dalam ruangan belakang makanan kecil dan air teh wangi telah disiapkan di atas meja.&lt;br /&gt;Ui lo pangcu, Tan Tiang kim, Pek Bwee Pek Hong, Tang Cuan ditambah pula deng-an Cu Siau hong, enam orang bersama-sama mengambil tempat duduk diruang itu.&lt;br /&gt;Agak kebingungan Cu Siau hong memper-hatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian serunya.&lt;br /&gt;"Lo pangcu adakah suatu kejadian besar"'&lt;br /&gt;"Siau hong, jangan kau tanyak&lt;br /&gt;SAMBIL tertawa Ong Peng segera menggeleng.&lt;br /&gt;''Tidak usah, kita di ruang tengah ini saja, itu. . . meja dekat jendela'&lt;br /&gt;"Maaf toaya, meja ditepi jendela sudah penuh semua"&lt;br /&gt;"Bukankah di sana masih terdapat meja kosong?"&lt;br /&gt;"Meja itu sudah dipesan orang."&lt;br /&gt;"Dipesan siapa?"&lt;br /&gt;"Li ciang-kwee dari toko penjual kain Tay-heng!''&lt;br /&gt;Ong Peng tidak menggubris pelayan itu lagi, dengan langkah lebar dia segara berjalan menghampiri meja tersebut.&lt;br /&gt;Meja itu cukup besar, diatasnya sudah disiapkan mangkuk dan sumpit, malah dicantumkan pula kartu nama dari pemesannya.&lt;br /&gt;Sambil tertawa Ong Peng segera mengambil kartu nama itu dan membuangnya ke lantai, setelah itu ujarnya sambil tertawa:&lt;br /&gt;"Pelayan, aku lihat kami akan menempati meja ini saja"&lt;br /&gt;Sementara itu Tiong It-ki yang bertugas berjalan dipaling belakang sambil mengawasi keadaan disekelilingnya telah naik pula ke dalam ruangan Wang-kang-lo.&lt;br /&gt;'Tiong It-ki tidak duduk bcrsama Cu-Siau hong, melainkan seorang diri duduk dimeja yang berhadapan dengan mulut anak tangga, Hal ini memang disengaja oleh Cu Siau hong, agar bilamana perlu bisa mernberi bantuan dengan secepatnya.&lt;br /&gt;Menyaksikan gerak gerik Cu Siau-hong serta sikap Ong Peng yang siap-siap hendak berkelahi itu, pelayan tersebut menjadi tertegun dan berdiri melongo.&lt;br /&gt;Wang-kang-lo adalah rumah makan terbesar dan termegah di kota Siang-yang, juga merupakan tempat yang paling suka dida-tangi oleh orang-orang persilatan, persoalan sekecil pun yang terjadi ditempat ini, dengan segera akan tersiar sampai dimana-mana.&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera mendehem pelan dan mengambil tempat duduk, sementara dua orang Kiam-tong itu segera berdiri disebe-lah kiri dan kanan tubuhnya.&lt;br /&gt;Tan Heng dan 0ng Peng duduk dikedua belah samping sehingga kursi dihadap-an Cu Siau-hong dibiarkan dalam keadaan kosong.&lt;br /&gt;Sambil tertawa Cu Siau-hong segera berkata:&lt;br /&gt;"Ong congkoan, suruh pelayan hidangkan sayur"&lt;br /&gt;Sewaktu bersantap, dikedua belah sampingnya masing-masing berdiri seorang bocah yang menyoren pedang, lagak semacam ini selain amat jumawa pun latah sekali.&lt;br /&gt;Ong Peng segera berpaling memandang ke arah sang pelayan yang masih termangu, kemudian sambil mendengus dingin serunya:&lt;br /&gt;"Hei, mengapa masih berdiri termangu disitu? Hayo cepat siapkan sayur dan arak."&lt;br /&gt;Gerak gerik mereka yang jumawa ditambah perselisihan yang terjadi, dengan cepat menarik perhatian banyak orang yang ada dalam ruangan rumah makan itu.&lt;br /&gt;Sekarang, sebagian besar sorot mata mereka telah tertuju ke arah mereka.&lt;br /&gt;Dengan suara rendah pelayan itu berseru:&lt;br /&gt;"Congkoan toaya, orang yang memesan tempat ini adalah langganan kami, dengan perbuatanmu itu bukankah sama artinya dengan memecahkan mangkok nasi hamba!"&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang ramai berkumandang datang dari arah tangga, kemudian muncul enam orang disitu.&lt;br /&gt;Orang pertama adalah seorang lelaki berjubah panjang, dia adalah Li ciang-kwee dari toko cita merek Tay-heng.&lt;br /&gt;Tampaknya Li ciangkwee sudah mengetahui letak meja yang dipesannya, dia langsung berjalan menuju ke depau Cu Siau-hong&lt;br /&gt;Melihat kedua belah pihak telah saling bertemu, sambil bermasam muka pelayan itu berdiri kaku disamping.&lt;br /&gt;Senyuman yang semula menghiasi bibir Li ciangkwee segera lenyap begitu dilihat-nya meja yang dipesan telah terisi tamu dan segera berpaling ke arah pelayan, kemudian dengan kemarahan yang meluap te-riaknya...&lt;br /&gt;"Hei apa, yang terjadi? Tampaknya usaa Wang-kang-lo terlalu baik sehingga meja yang kami pesan pun sudah di jual kepada orang lain ?"&lt;br /&gt;"Li ciangkwee" seru pelayan itu, sambil terbungkuk-bungkuk penuh ketakutan, "se-benarnya meja ini sudah kami tinggalkan buatmu, tapi beberapa orang toaya ini bersikeras hendak mendudukinya, hamba. . . hamba. ."&lt;br /&gt;Li ciangkwee segera berpaling ke arah Cu Siau-hong, ketika dilihatnya Cu Siau hong mendongakkan kepalanya tanpa me-mandang sekejap matapun terhadapnya, kemarahan nya yang berkobar makin menjadi dan segera tertawa dengan tiada hentinya"&lt;br /&gt;"Heeehh. . . heeehhh. . . heeehh. . . masa kejadian seperti ini? Dalam persoalan apa pun tentu ada perbedaan antara siapa yang datang duluan dan siapa belakangan, apakah lantaran Li toaya suka makan gratis maka tiada tempat bagi ku?. Hmm, panggil ciangkwe kalian! Hari ini aku harus menuntut suatu keadilan dari kalian!''&lt;br /&gt;Pelayan itu segera mengiakan dan membalikkan badan berlalu dari situ.&lt;br /&gt;Tapi Ong Peng segera menghalangi jalan perginya seraya berseru:&lt;br /&gt;'Tunggu sebentar.....'&lt;br /&gt;Setelah bangkit berdiri, Ong Peng mengangkat bahunya seraya berkata lebih jauh:&lt;br /&gt;"Aku pikir, kau tentunya Li ciangkwe dari toko cita merek Tay heng bukan?"&lt;br /&gt;''Betul, aku she Li!"&lt;br /&gt;"Seorang yang mulia tak akan menyalahkan orang kecil, Li ciangkwe, aku lihat kemarahanmu itu tak perlu kau lampiaskan diatas tubuh pelayan tersebut"&lt;br /&gt;''Apa maksudmu?" teriak Li ciangkwe dengan gusar.&lt;br /&gt;"'Pelayan itu sudah mengatakan kalau meja ini telah dipesan oleh Li toa-ciangkwe, cuma kami tidak melihat kehadiran Li toa--ciangkwe disini, maka kami pun datang kemari duluan, kau toh sudah bilang, ada yang datang lebih dulu ada yang belakangan, itulah sebabnya kamipun menempati meja ini lebih dahulu '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi sekarang kami toh sudah datang'&lt;br /&gt;"Kalian sudah datang terlambat, maka aku minta lebih baik kalian berpindah tempat saja."&lt;br /&gt;*********************************&lt;br /&gt;Hal 9 s/d 12 Hilang&lt;br /&gt;*********************************&lt;br /&gt;kemudian sambil tertawa, "dalam Wang kang-lo ini penuh dengan mangkuk dan piring porselen, berkelahi ditempat ini bukankah hanya akan merusak peman-dangan saja?"&lt;br /&gt;Dimulut dia berkata demikian, sepasang tangannya sama sekali tidak berhenti, secara beruntun dia telah menyambut ke enam buah serangan yang dilancarkan dua orang lelaki berbaju panjang itu.&lt;br /&gt;Kedua orang lelaki berjubah panjang itu masing-masing melanearkan tiga buah- sera-ngan, serangan pertama dan ke du.a dapat dipunahkan Ong P.3ng secara mudah,, sedang serangan yang ketiga ternyata disambut o-leh Ong Peng dengan kekerasan. '&lt;br /&gt;"Blaaammm!" ditengah suara benturan yang amat nyaring, dua orang lelaki berjubah panjang itu masing-masing mundur satu langkah.&lt;br /&gt;Paras muka Li ciangkwe segera berubah hebat serunya:&lt;br /&gt;"Kalian berdua masa tak sanggup untuk membereskan satu orang saja. . ."&lt;br /&gt;Dua orang lelaki berjubah panjang itu segera menundukkan kepalanya dengan wajah malu.&lt;br /&gt;Li ciangkwe menghela napas panjang, kembali gumamnya:&lt;br /&gt;"Memelihara tentera seribu hari, menggunakannya dalam sesaat, dihari-hari biasa kalian makan kelewat mewah, minum kelewat kenyang, setelah menjumpai persoalan satu pun tak becus!''&lt;br /&gt;Cu Siau-hong yang menyaksikan kejadi-an itu, diam-diam lantas berpikir:&lt;br /&gt;"Saudara hanya memikirkan soal rejeki dan uang, orang ini mah sedikit pun tidak mirip seorang saudagar"&lt;br /&gt;Mendadak dua orang lelaki berjubah panjang itu menyingkap jubah panjangnya sambil meraba ke pinggang, tampaknya mere-ka sudah bersiap-siap hendak menggu-nakan senjata tajam.&lt;br /&gt;Dengan kening berkerut Li ciangkwe segera menegur:&lt;br /&gt;'Hei, mengapa tidak segera mengundur-han diri?. Apakah kalian suka kehilangan muka di situ?"&lt;br /&gt;Pada waktu itu, dua orang lelaki berju-bah panjang itu sudah meraba gagang go-lok mereka, tapi setelah mendengar tegur-an tersebut, mereka segera mengendorkan kembali tangannya dan~mengundurkan diri dengan kepala tertunduk.&lt;br /&gt;Dalam pada itu, Cu Siau-hong sedang memutar otaknya menduga-duga siapa gerangan Li ciangkwe tersebut, namun diluar dia bersikap acuh tak acuh, melirik sekejappun kearah Li ciangkwe pun tidak. Tan Heng dan kedua orang kiam-tong itupun hanya berdiri tak berkutik ditempat semula.&lt;br /&gt;Sambil tersenyum Ong Peng, segera berkata lagi.&lt;br /&gt;"Soal bersantap mah setiap hari harus melakukannya beberapa kali, pekerjaan semacam ini bukan terhitung sesuatu yang luar biasa, masa soal isi perut pun mesti beradu jiwa?"&lt;br /&gt;"Perkataanmu memang benar" kata Li-ciangkwe sambil tertawa dingin, "tempat yang kami pesan telah kau serobot, kejadian ini mah kejadian kecil, untuk bersantap juga tak perlu saling beradu jiwa, anggap saja kalian lebih hebat, kami mengaku kalah. . ."&lt;br /&gt;Sambil mempertinggi suaranya, dia melanjutkan:&lt;br /&gt;"Pelayan! kami akan berpindah tempat!"&lt;br /&gt;"Silahkan Li-ya!" buru-buru pelayan itu berseru.&lt;br /&gt;'Dia segera membalikkan badan dan berlalu lebih dulu dari sana.&lt;br /&gt;Li ciangkwe segera mengikuti dari be-lakangnya.&lt;br /&gt;Ong Peng berkerut kening, dia segera berpaling dan memandang sekejap kearah Cu Siau hong, sementara wajahnya memperlihatkan perasaan apa boleh buat.&lt;br /&gt;Agaknya dia sama sekali tidak menyangka kalau Li ciangkwe bisa menahant sabar dengan menyudahi persoalan sampai disitu saja.&lt;br /&gt;Setibanya disamping Cu Siau-hong, dia lantas berbisik dengan suara lirih.&lt;br /&gt;'kongcu, bajingan itu sanggup menyesuaiktan diri dengan keadaan, kenyataan ini benar-benar berada diluar dugaan kami"&lt;br /&gt;"Duduk dan bersantaplah, jangan sampai membuat orang lain tahu kalau kita memang sengaja mencari gara-gara"&lt;br /&gt;Ong Peng mengiakan dan duduk kembali ke tempat semula.&lt;br /&gt;Dengan cepat pelayan datang menghidang-kan sayur dan arak.&lt;br /&gt;Dua oxang Kiam-tong tersebut hanya berdiri dibelakang Cu Siau-hong sambil menun-dukkan kepalanya, mereka tidak berkata apa-apa.&lt;br /&gt;Dalam kenyataan kedua orang itu selalu memperhatikan setiap orang yang berada di ruang Wang kang lo tersebut.&lt;br /&gt;Sayur dan arak telah dihidangkan, dalam waktu singkat seluruh meja telah di penuhi oleh hidangan-hidangan yang lezat.&lt;br /&gt;-ooo0ooo-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGIAN 34&lt;br /&gt;SEMENTARA itu, Li ciangkwe bersama semua orang yang dibawanya telah ber-lalu dari pengawasan dari Cu Siau hong sekalian.&lt;br /&gt;Sedang tamu yang berkunjung ke rumah makan Wang kang lo makin lama semakin ba-nyak, sedemikian penuhnya sampai tiada tempat yang kosong lagi.&lt;br /&gt;Tapi tamu yang berkunjung kesana masih berrdatangan terus tiada hentinya.&lt;br /&gt;Diatas ruangan Wang kang lo masih tersedia dua tempat kosong yang dapat menampung dua orang lagi, yaitu di meja yang ditempati oleh Cu Siau hong.&lt;br /&gt;Tapi setiap orang yang melihat tampang Cu Siau hong segera berusaha untuk menyingkir jauh-jauh, tak seorang manusia yang tak ingin mencari kesulitan buat diri sendiri.&lt;br /&gt;Tapi di dunia ini justru ada juga orang yang tidak takut dengan segala macam kesulitan.&lt;br /&gt;Misalkan saja kakek dan orang muda ini.&lt;br /&gt;Yang tua sudah berusia lima puluh tahunan, mengenakan jubah panjang berwarna a-bu-abu, bertubuh kurus, sedemikian kurus-nya hingga tinggal kulit pembuagkus tulang, mungkin dari seluruh badannya belum tentu bisa terkumpul daging seberat tiga kati.&lt;br /&gt;Sepasang matanya mana cekung kedalam, mukanya kuning seperti lilin, tampang se-perti itu persis seperti seorang yang sudah banyak tahun mengidap penyakit t b c.&lt;br /&gt;Sebaliknya yang muda barwajah tampan berbibir merah dan bergigi putih, dia mengenakan pakaian ringkas berwarna biru, sebilah golok lengkung bergagang emas tersoren dipinggangnya.&lt;br /&gt;Diatas sarung golok itu bertatahkan tujuh biji mutiara sebesar buah kelengkeng, Mutiara-mutiara itu jelas tak ternilai harganya, berkelip-kelip memancarkan sinar yang menyilaukan mata.&lt;br /&gt;Dua orang manusia semacam itu melaku-kan perjalanan bersama-sama, dengan cepat memberikan suatu pemandangan yang kontras dan tak sedap dipandang ........&lt;br /&gt;Dua orang itu langsung berjalan kede-pan meja, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun segera duduk.&lt;br /&gt;Kakek kurus berjubah abu-abu itu segera berteriak keras:&lt;br /&gt;"Hei, pelayan, pelayan...."&lt;br /&gt;Semenjak terjadinya keributan tadi, pelayan itu benar-benar tak berani mengusik ketenangan Cu Siau hong sekalian.&lt;br /&gt;Maka sewaktu dua orang itu duduk, walaupun sang pelayan sudah melihatpun pura--pura tidak melihat, buru-buru dia melihat ke arah lain.&lt;br /&gt;Tapi setelah dipanggil, tentu saja dia tak dapat berlagak pilon terus, terpaksa sambil mengeraskan kepala dia berjalan mendekat:&lt;br /&gt;"Tuan, kau ada pesan apa?" tegurnya.&lt;br /&gt;"Tolong tanya apakah tempat ini adalah sebuah rumah makan yang menjual hida-ngan?"&lt;br /&gt;"Betul"&lt;br /&gt;"Kalau betul, mengapa mesti bertanya lagi?. Cepat siapkan sayur dan arak."&lt;br /&gt;Pelayan itu memandang sekejap ke arah Cu Siau hong dan Ong Peng, kemudian se-runya:&lt;br /&gt;"Tuan, disini sudah ada tamu."&lt;br /&gt;"Ada tamu lantas kenapa? Toh disini masih terdapat dua tempat yang kosong. Apalagi sang tamu pun tidak berbicara, buat apa kau mesti cerewet melulu?"&lt;br /&gt;"Aku. . . aku. . ."&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera mengangkat cawan araknya dan berkata sambil tertawa:&lt;br /&gt;`Pelayan, tambahkan dua cawan dan dua pasang sumpit"&lt;br /&gt;Sayur yang dipesan Cu Siau-hong benar-benar banyak sekali, meskipun cuma empat orang yang sedang duduk bersantap, paling tidak ada belasan macam sayur yang dihidangkan.&lt;br /&gt;Malahan diantaranya ada setengah yang sama sekali belum di jamah mereka.&lt;br /&gt;Agaknya palayan itu tidak menyangka kalau tamunya yang satu ini sebentar dingin sebentar panas, melihat kesulitan secara tiba-tiba bisa teratasi, dengan cepat dia me-ngiakan dan buru-buru membalikkan badan berlalu dari sana.&lt;br /&gt;Mendadak terdengar kakek berbaju abu--abu itu membentak dengan suara dingin:&lt;br /&gt;"Berhenti kau jangan bergerak!"&lt;br /&gt;Pelayan itu menjadi tertegun, kemudian serunya:&lt;br /&gt;"Ada urusan apa?"&lt;br /&gt;"Lohu bukan seorang peminta-minta, a-kupun bukan seorang yang tak sanggup membayar, mengapa aku mesti makan sisa sayur orang lain? Siapkan hidangan persis seperti yang dia pesan itu!"&lt;br /&gt;"Oooh tuan, kalau pesan seperti itu lagi, mana muat tempatnya?"&lt;br /&gt;Kontan saja kakek berbaju abu-abu itu tertawa dingin. .&lt;br /&gt;"Mengapa tidak muat? Apakah kaliaa tak bisa menyingkirkan hidangan yang sudah mereka?"&lt;br /&gt;'Soal ini, soal ini ...'&lt;br /&gt;Dari dalam sakunya kakek berbaju abu-abu itu mengeluarkan sekeping uang perak seberat tujuh delapan tahil, kemudian sambil diletakkan diatas meja, serunya:&lt;br /&gt;"Kau takut aku makan gratis? Nah, terimalah dulu uangnya'&lt;br /&gt;Sambil tertawa Cu Siau hong segera berkata:&lt;br /&gt;"Pelayan sayur yang sudah kami makan seharusnya kau singkirkakn semua!'&lt;br /&gt;Pelayan itu agak tertegun sebentar, kemudian sahutnya dengan cepat:&lt;br /&gt;"Baik, baik! Tuan berdua tentunya sahabat lama"&lt;br /&gt;"Teman? Teman apa? Lohu tak punya teman'" tukas kakek berbaju abu-abu itu ketus.&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari keadaan sekarang, seratus persen dapat dipastikan kalau kakek itu memang datang untuk mencari gara-gara, sebab gaya yang diperlihatkan sekarang adalah gaya orang yang sedang mencari urusan.&lt;br /&gt;Cu Siau Hong segera tertawa, dia keringkan secawan arak yang berada dihadapannya tanpa balas berbicara, malah hawa amarahpun tidak terlihat diatas wajahnya .&lt;br /&gt;Yang paling aneh lagi, adalah Ong Peng, ternyata dia hanya menundukkan kepalanya sambil makan minum dengan la-hap, sepatah katapun tidak diucapkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayan itu masih berdiri tertegun disana untuk beberapa saat lamanya dia tak tahu apa yang mesti dilakukan?&lt;br /&gt;Agaknya kakek kerbaju abu-abu itu sudah habis kesabarannya, mendadak dia berkata lagi dengan dingin:&lt;br /&gt;`Pelayan, mengapa kau masih berdiri tak berkutik disitu? Apakah kau anggap lohu tak bisa membunuh orang?"&lt;br /&gt;Walaupun kakek berbaju abu-abu itu berperawakan ceking, namun dia mempunyai suatu hawa seram yang menggidikkan hati, hawa seram tadi bisa membuat orang mera-sa ngeri, seram dan ketakutan.&lt;br /&gt;Pelayan itu segera merasakan hatinya bergetar keras, tanpa banyak berbicara dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ. Kakek berbaju abu-abu itu segera mendongakkan kepalanya memandang sekejap ke-arah Cu Siau-hong, lalu ujarnya:&lt;br /&gt;"Kau sungguh berjiwa besar!"&lt;br /&gt;"Empat samudra semuanya adalah saudara, kita bisa bertemu boleh dibilang masih berjodoh"&lt;br /&gt;"Aku lihat inilah yang dinamakan musuh bebuyutan jalan terasa sempit . . ."&lt;br /&gt;'Musuh bebuyutan? Kita bermusuhan?"&lt;br /&gt;'Betul, kita memang bermusuhan"&lt;br /&gt;"Aku belum pernah berselisih denganmu, sejak kapan dendam ini terikat? Harap sobat bersedia menerangkan"&lt;br /&gt;Kakek berbaju abu-abu itu segera tertawa dingin.&lt;br /&gt;"Heeehhh..... heeehhh. . . heeehhh. . lohu senang berbicara apa, aku akan berbicara apa, memangnya di dunia ini masih ada orang yang dapat mengurusi diriku?"&lt;br /&gt;"Benarkah tiada orang yang mengurusi dirimu?" tiba-tiba Cu Siau-hong mengejek. .&lt;br /&gt;Mendadak kakek berbaju abu-abu itu menekankan tangannya ke atas meja, sepiring ang-sio-hi yang berada di meja mendadak mencelat ke angkasa dan menyambar ke wajah Cu Siau-hong.&lt;br /&gt;Seakan-akan ada orang yang mengangkat piring tersebut dan menimpuknya ke depan.&lt;br /&gt;Piring tersebut berputar amat kencang di angkasa, kemudian meluncur kedepan dan menerjang pula keatas tenggorokan Cu Siau hong.&lt;br /&gt;Pada waktu itu, Cu Siau hong sedang memengang sebuah cawan, dengan cawan itulah dia menghantam sisi piring tersebut, "Traang" piring yang sedang berputar itu mendadak meluncur balik ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4537347065284875195-2669703167263080134?l=cerita-silat-clasic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/feeds/2669703167263080134/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4537347065284875195&amp;postID=2669703167263080134&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/2669703167263080134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/2669703167263080134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/2009/01/pena-wasiat-24.html' title='Pena Wasiat 24'/><author><name>Taviv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09431956148586873513</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q0YVGe00Snk/SX_O-ytuR-I/AAAAAAAAANA/cAjoAQf6lAU/S220/My+Son.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4537347065284875195.post-1831882629569972865</id><published>2009-01-29T20:46:00.000+07:00</published><updated>2009-01-29T20:47:09.437+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pena Wasiat'/><title type='text'>Pena Wasiat 23</title><content type='html'>Oleh : Tjan ID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Kay pang yang hadir ditempat itu memang tak sedikit jumlahnya, begitu perintah diturunkan berpuluh-puluh batang panah berapi segera dibidikkan ke dalam kebun raya Ban Hoa wan.&lt;br /&gt;Tak selang berapa saat kemudian, tampak Keng ji kongcu tergopoh-gopoh munculkan diri dengah wajah penuh kegusaran teriaknya:&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, apa-apaan kau ini?"&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera tersenyum.&lt;br /&gt;"Masa maksudnya masih belum kau pahami?" ucapnya, ''kami tak ingin memasuki kebun raya Ban hoa wan"&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;''Sebab kami tak ingin tertipu dan masuk perangkap" sahut Cu Siau hong sambil tertawa.&lt;br /&gt;''Kita toh sudah berjanji akan melangsung-kan pertarungan didalam kebun raya Ban hoa wan, kenapa secara tiba-tiba kau berubah ingatan?"&lt;br /&gt;"Betul aku berkata demikian, tapi setelah kupikirkan kembali, terasa olehku kalau cara ini berbahaya sekali.. seandainya didalam kebun raya Ban hoa wan kau telah menyiapkan jebakan untuk mencelakai kami, bukankah kami akan terperangkap mentah--mentah?..&lt;br /&gt;"Hmm, dengan pikiran seorang siaujin menilai kebesaran jiwa seorang Kuncu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perkataan semacam inipun dapat kau ucapkan, hal ini benar-benar membuat aku merasa kagum sekali'&lt;br /&gt;"Apa maksudmu berkata demikian?"&lt;br /&gt;"Pada saat ini kita berdiri sebagai musuh yang saling berhadapan, kemungkinan besar kalian telah menyiapkan banyak jebakan dalam kebun raya Ban hoa wan, padahal kami berharap dapat menyelesaikan persoalan ini secara adil"&lt;br /&gt;"Penyelesaian secara adil? Sekalipun demikian, hal ini juga tak boleh dilangsungkan diluar kebun raya Ban hoa wan" ucap Keng ji kongcu kemudian cepat.&lt;br /&gt;"Kenapa tak boleh bertarung diluar kebun raya Ban hoa wan?"&lt;br /&gt;"Bagaimanapun juga kita tak boleh meng-ganggu orang jalan"&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera tertawa.&lt;br /&gt;"Dalam pertarungan ini, kita masing-masing akan mengandalkan kepandaian yang dimilikinya untuk berusaha membunuh pihak lawan, nyawa saja sudah tidak dimaui, mengapa mesti takut terhadap orang jalan''&lt;br /&gt;"Kalau begitu, kalian tak berani memasuki kebun raya Ban hoa wan?" ucap Keng-ji kongcu kemudian dingin.&lt;br /&gt;"Sekarang kita bertarung dengan mengandalkan kepandaian masing-masing untuk menentukan mati hidup kita, dalam hal ini tak bisa dibicarakan soal berani memasuki kebun raya Ban hoa wan atau tidak, kami tak ingin memasuki kebun raya Ban hoa wan tak lain karena kami ingin mencari suatu keadilan belaka"&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, kalau lagi bercekcok, perkataan apapun dapat digunakan, lebih baik kita tak usah membicarakan persoalan terse-but lagi."&lt;br /&gt;"Saudara Keng, aku lihat bagaimana ka-lau kita berdua menentukan dahulu mati hidup kita sendiri?"&lt;br /&gt;"Kau ingin bertarung lebih dulu melawan aku?"&lt;br /&gt;Cu Siau hong mengangguk.&lt;br /&gt;"Benar! Kita berdua memang lebih baik menentukan dahulu siapa yang lebih berhak untuk hidup"&lt;br /&gt;'Cu Siau hong, agaknya dalam hatimu sudah mempunyai suatu keyakinan dapat menangkan aku bukan begitu?`&lt;br /&gt;''Aaaah, siapa bilang? Aku hanya merasa diantara kita berdua agaknya sudah mencapPai suatu keadaan yang harus diselesaikan dengan suatu pertarungan......"&lt;br /&gt;"Baiklah, kalau begitu mari kita langsungkan pertarungan ini di kebun raya Ban hoa wan"&lt;br /&gt;"Baik, cuma sebelum pertarungan dilangsungkan, terlebih dahulu ada beberapa patah kata yang hendak ku beritahukan dulu kepada mu"&lt;br /&gt;"Aku siap mendengarkan ucapanmu itu'&lt;br /&gt;'Dalam waktu singkat kami akan melepas api dari belakang bukit, sebelah kiri mau-pun kanan, jika mereka tak mau munculkan diri sekarang maka jangan harap mereka bisa keluar lagi dari tempat itu dalam kea-daan selamat'&lt;br /&gt;Paras muka Keng ji kongcu segera beru-bah hebat.&lt;br /&gt;"Apa? Kalian akan melepaskan api dari belakang bukit sana?" teriaknya tertahan. .&lt;br /&gt;Sebelum melakukan perkerjaan tersebut aku bermaksud untuk memberitahukan lebih dahulu kepada kalian, kami tak ingin kehilangan sikap terbuka yang kami miliki'!&lt;br /&gt;Keng ji kongcu segera tertawa hambar.&lt;br /&gt;'Cuma saudara Cu juga tak usah meng-harapkan yang terlalu besar" katanya cepat, sekalipun kau lepaskan api untuk membakar tempat itu, belum tentu apimu itu dapat membakar habis kami semua."&lt;br /&gt;"Lihat saja nanti, pokoknya sampai saat ini menang kalah, kita tahu belum ditentukan.&lt;br /&gt;Keng Ji kongcu segera menggerakkan tangan kanannya untuk meraba gagang pedang yang tersoren dipinggangnya, kemudian u-jarnya dengan dingin:&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, cabut pedangmu!.&lt;br /&gt;Tergerak hati Cu Siau hong, segera pikir-nya.&lt;br /&gt;"Aku telah memberitahukan soal melepaskan api kepadanya, namun ia sama sekali tidak nampak gelisah atau cemas. Masa mereka benar-benar mempunyai cara yang terbaik untuk menghindarkan diri dari bencana api tersebut?"&lt;br /&gt;Sementara dia masih memikirkan persoalan itu, mendadak terasa cahaya tajam berkelebat lewat, sebuah bacokan kilat telah me-nyambar kearah batok kepalanya.&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera menggerakkan pe-dang ditangan kanannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.&lt;br /&gt;"Criing!" benturan nyaring yang memekik-kan telinga bergema memecahkan keheningan, sepasang pedang itu saling membentur dan meninbulkan percikan bunga api.&lt;br /&gt;Mendadak saja kedua bilah pedang itu patah menjadi dua, membuat senjata tersebut melesat kesamping:&lt;br /&gt;Tapi kutungan pedang kedua orang itu masih melanjutkan gerakannya membabat ke tubuh lawannya.&lt;br /&gt;Rupanya cara tersebut telah diperhitung-kan masak-masak oleh Keng ji kongcu.&lt;br /&gt;Beberapa hari berselang, setelah mereka berdua melangsungkan suatu pertarungan yang seru, Keng Ji kongcu telah merasa bahwa dia tak akan bisa menangkan musuhnya dengan mengandalkan perubahan jurus serangan yang lihay, itulah sebabnya dia lantas merubah taktik pertarungan yang dipergunakannya.&lt;br /&gt;Terlintas ingatan untuk menggunakan cara beradu jiwa ini untuk mengajak lawannya mati bersama.&lt;br /&gt;Dikala sepasang pedang mereka saling membentur, dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya yang kuat untuk mematahkan ke-dua bilah pedang itu sekaligus.&lt;br /&gt;Keng Ji kongcu telah memperhitungkan pula kekuatan tenaga dalam yang dimiliki lawannya, berbicara soal tenaga dalam saja, Cu Siau hong tak akan lebih unggul daripa-da kemampuannya.&lt;br /&gt;Bila sepasang pedang itu patah secara tiba-tiba, apalagi dalam keadaan tenaga da-lamnya tak bisa ditarik kembali, mustahil Cu Siau hong dapat merubah gerakan lagi untuk mematahkan ancaman yang datang.&lt;br /&gt;Walaupun cara ini lihay dan keji, namum harus mempunyai suatu syarat, yakni orang yang menggunakan cara ini harus bersedia pula untuk mengorbankan nyawa sendiri.&lt;br /&gt;Sebab arah yang dituju oleh kutungan pedang itu merupakan bagian-bagian memati-kan ditubuh lawan.&lt;br /&gt;Andaikata tenaga dalam yang terpancar ke luar tak dapat ditarik kembali tepat pada waktunya, gerakan pedang tersebut pasti akan meluncur ke depan lebih jauh, dalam keadaan demikian kemungkinan musuhnya untuk terluka diujung pedang tersebut menjadi besar sekali.&lt;br /&gt;Yaa, kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya perhitungan ini merupakan suatu perhitungan yang cermat, Keng ji kongcu telah mempertaruhkan pula selembar jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul juga, Cu Siau hong sama sekali tidak menyangka kalau Keng Ji kongcu dapat mengerahkan tenaga dalamnya untuk mematahkan pedang tersebut dalam bentro-kan yang barusan terjadi, ia lebih-lebih tak menduga kalau pikak lawan mengajak dirinya untuk mati bersama.&lt;br /&gt;Begitu sepasang pedang mereka putus, Keng Ji kangcu segera menambah kecepatan gerak kutungan pedangnya menusuk dada Cu Siau hong.&lt;br /&gt;Pedang ditangan Cu Siau hong sendiri pun sebenarnya memang tertuju ke bagian mematikan didada Keng Ji kongcu, tapi dalam keadaan tenaga dalamnya tak dapat ditarik kembali, pedang itupun secepat kilat menusuk pula ke atas dada Keng Ji kongcu.&lt;br /&gt;Tan Tiang kim yang pertama-tama menjerit kaget, namun ia sudah tak sempat un-tuk memberi pertolongan lagi.&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat sepasang pedang mereka telah saling menusuk tubuh lawan seorang secara telak.&lt;br /&gt;Keng Ji kongcu memang tidak berniat untuk menghindarkan diri, kutungan pedang itu dengan telak menembusi dadanya hingga tembus ke punggung.&lt;br /&gt;Sebaliknya Cu Siau hong tidak menyerah dengan begitu saja, dalam keadaan yang amat krisis itu, mendadak ia keluarkan suatu gerakan langkah yang amat aneh sekali, ti-ba-tiba tubuhnya berkelit ke samping.&lt;br /&gt;Namun gerakan itu toh masih terlambat selangkah, kutungan pedang itu segera menembusi bahu kirinya secara telak.&lt;br /&gt;Keng Ji kongcu memang sangat berhasrat untuk membinasakan Cu Siau hong, dalam melepaskan serangan tadi, ia sertakan suatu kekuatan yang besar sekali.&lt;br /&gt;Kutungan pedang itu segera menembusi bahunya sampai kebelakang, menembusi bahu kiri si anak muda itu.&lt;br /&gt;Semua peristiwa tersebut berlangsung dalam sekejap mata, Tan Tiang kim, Lik Hoo, Ui Bwee, Ang Bo tan, semuanya telah berlarian mendekat.&lt;br /&gt;Lik Hoo segera melompat mendekat sambil melancarkan sebuah tendangan kilat ke lambung Keng ji kongcu. Sementara Ui Bwee dan Ang Bo tan segera turun tangan membimbing tubuh Cu Siau hong,&lt;br /&gt;Keng Ji kongcu segera mengebaskan tangan kirinya menangkis tendangan dari Lik Hoo itu, kemudian bentaknya dengan suara dingin:&lt;br /&gt;"Kau pingin mampus!"&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, dia masih mempunyai kewibawaan untuk mengendalikan ke tiga orang dayang itu, bersamaan itu juga sapuan telapak tangannya itu telah menggetarkan kaki kanannya sehingga kaku dan kesemutan.&lt;br /&gt;Dalam pada itu, Keng Ji kongcu maupun Cu Siau hong sama-sama telah melepaskan kutungan pedang ditangannya.&lt;br /&gt;Dengan suatu gerakan cepat Tan Tiang kim melompat ke depan dan menghadang dihadapan Cu Siau hong, setelah itu ujarnya dingin.&lt;br /&gt;"Tindakan yang kau lakukan benar-benar terlalu rendah dan memalukan. . ."&lt;br /&gt;Walaupun dadanya telah ditembusi pedang, namun Keng Ji kongcu masih tetap berdiri tegak, sikapnya yang buas dan keren itu menambah rasa ngeri dan bergidik bagi siapapun yang melihatnya.&lt;br /&gt;Bibirnya tampak bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun ia tidak men-jawab pertanyaan dari Tan Tiang kim itu.&lt;br /&gt;Pelan-pelan Cu Siau hong berjalan mele-wati Tan Tiang kim, kutungan pedang terse-but masih menancap diatas bahu kirinya.&lt;br /&gt;"Saudara Keng, apakah kau hendak ber-bicara denganku?' dia bertanya.&lt;br /&gt;Keng Ji kongcu manggut-manggut.&lt;br /&gt;Dia berusaha keras menghindari banyak berbicara, dengan gerakan ia menggantikan ucapan tersebut.&lt;br /&gt;"Baiklah, kau boleh berkata dan siaute akan mendengarkan dengan seksama" sahut Cu Siau hong.&lt;br /&gt;Keng Ji kongcu buka suara, tapi begitu bibirnya digerakkan darah segar segera meleleh keluar.&lt;br /&gt;Dari sini terbuktilah sudah bahwa jantung nya telah terkena tusukan maut itu.&lt;br /&gt;Dengan suara yang kabur, dia bertanya:&lt;br /&gt;"Bagaimana caramu untuk menghindarkan diri dari tusukan pedangku itu?"&lt;br /&gt;Ternyata Keng Ji kongcu menutup rapat-rapat dan enggan banyak berbicara karena kesempatannya untuk berbicara memang tidak terlalu banyak...&lt;br /&gt;"Aku pernah belajar ilmu gerakan tubuh Ngo heng tay na ih!" sahut Cu Siau hong, Keng Ji kongcu kembali manggut-manggut, katanya lebih jauh:&lt;br /&gt;"Aku sudah merasa perhitunganku sempurna sekali, tapi aku tetap menilai rendah dirimu, betul, ilmu gerakan tubuh Ngo heng tay na ih. . .'&lt;br /&gt;Belum habis perkataan itu diucapkan, dia sudah roboh terkapar diatas tanah.&lt;br /&gt;Pelan-pelan Cu Siau hong menghembuskan napas panjang, katanya:&lt;br /&gt;"Keng Ji kongcu, sesungguhnya aku tidak berniat untuk membunuhmu, walaupun kau adalah seorang musuhku, namun kau adalah seorang musuhku yang menarik hati"&lt;br /&gt;Waku itu Keng Ji kongcu telah menutup matanya, tapi setelah mendengar ucapan tersebut, mendadak ia membuka matanya lagi, lalu katanya sambil tersenyum:&lt;br /&gt;"Cu Siau hong, terima kasih banyak atas ucapanmu itu, jangan sekali-kali kau ma-suki kebun raya Ban hoa wan!"&lt;br /&gt;Cu Siau hong mengangguk.&lt;br /&gt;"Terima kasih banyak atas petunjukmu''&lt;br /&gt;Setelah berhenlt sejenak dia melanjutkan.&lt;br /&gt;''Saudara Keng apakah didalam kebun rayga Ban hoa wan telah ditanam obat peledak?"&lt;br /&gt;Rupanya ucapan tersebut diutarakan oleh-nya dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya, begitu ucapan tadi diutarakan, darah segar segera memancar keluar dari ketujuh lubang inderanya, selembar nyawanya juga melayang meninggalkan raganya.&lt;br /&gt;Tusukan pedang itu telah menembusi jantungnya secara telak, sekalipun ada dewa-pun belum tentu bisa menyembuhkan luka itu.&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera menjura kehadapan jenasah Keng Ji kongcu, kemudian katanya:&lt;br /&gt;'Saudara Keng, terimalah bormatku ini sebagai rasa sesalku"&lt;br /&gt;Kemudian tangan kanannya menggenggam gagang pedang itu dan mencabut keluar kutungan pedang tersebut dari atas bahu kirinya.&lt;br /&gt;Darah segar segera memancar keluar de-ngan derasnya.&lt;br /&gt;Buru-buru Ang bo tan mengeluarkan obat luka dan lari mendekat, kemudian memba-lut luka diatas bahu kiri Cu Siau hong tersebut.&lt;br /&gt;"Benar-benar suatu siasat yang licik dan keji, aaai kelicikan umat persilatan memang sukar diduga dan dihadapi, lain kali kau musti bersikap lebih berhati-hati lagi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memandang sekejap mulut luka Cu Siau hong, dia melanjutkan:&lt;br /&gt;"Apakah luka itu mencapai ke tulang"&lt;br /&gt;"Untung saja belum" sahut Cu Siau hong sambil menggeleng, "lukaku ini tak lebih hanya luka diluar saja."&lt;br /&gt;Tan Tiang kim manggut-manggut.&lt;br /&gt;'Cu kongcu' katanya, "untung saja kau masih bisa menghadapi serangan tersebut dengan kesadaran otakmu, coba kalau nasib mu tidak mujur, seharusnya tusukan itu akan melukai tulangmu''&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera tertawa.&lt;br /&gt;"Setelah kutungan pedang itu dicabut ke luar, boanpwe baru tahu kalau nasibku memang sedang mujur, sebelum pedang itu dicabut tadi, boanpwe malah beranggapan sembilan puluh persen lengan kiriku ini bakal lumpuh dan cacad selama hidup"&lt;br /&gt;"Mungkin inilah yang disebut orang baik selalu dilindungi Thian, sebenarnya tusukan itu . . ."&lt;br /&gt;Pengemis tua itu tidak melanjutkan kata-katanya, sambil tersenyum dia lantas membungkam.&lt;br /&gt;Sementara itu anggota Pay kau dan Kay pang telah berbondong-bondong tiba disana, mereka segera melakukan persiapan didepar sana.&lt;br /&gt;Tan Tiang kim berpaling dan memandang sekejap kearah Pek Bwe, kemudian melanjutkan:&lt;br /&gt;"Saudara Pek, tampaknya perguruan Bu khek bun masih ada kesempatan untuk termashur lagi dalam dunia persilatan ...."&lt;br /&gt;"Kesemuanya ini adalah berkat pemberian dari locianpwe" sambung Pet Hong cepat-cepat.&lt;br /&gt;"Aah, mana, mana, padahal seluruh umat persilatan didunia ini, mungkin masih akan membonceng ketenaran dari Bu khek bun kalian"&lt;br /&gt;Ucapan itu mengandung suatu maksud tertentu, hanya dia tidak menerangkan lebih jauh.&lt;br /&gt;Tiada orang yang menyambung perkataan itu, juga tiada orang yang menjawab.&lt;br /&gt;Penampilan Cu Siau hong terlalu luar biasa, tiada anggota Bu khek bun yang pernah belajar ilmu gerakan tubuh Ngo heng tay -na ih kecuali Cu Siau hong seorang.&lt;br /&gt;Anehnya tiada orang yang bertanya kepada Cu Siau hong, Pek Hong tidak bertanya, Tang Cuan juga tidak.&lt;br /&gt;Sementara itu, gulungan asap tebal telah membubung tinggi dari belakang bukit sana.&lt;br /&gt;Anggota Kay pang yang mendapat perintah untuk melepaskan api tampaknya sudah mulai melakukan tugasnya.&lt;br /&gt;"Mari kita juga mundur agak kebelakang! "ucap Tan Tiang kim pelan.&lt;br /&gt;Sementara itu dari dalam kebun raya Ban hoa wan telah muncul puluhan orang lelaki berpedang yang berlarian dengan kecepatan tinggi.&lt;br /&gt;Seorang berbaju putih yang berjalan dipaling depan segera membentak nyaring:&lt;br /&gt;"Berhenti semua kalian!"&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera berhenti, tiga orang nonapun turut berhenti.&lt;br /&gt;Tan Tiang kim dan Pek Bwe sekalian juga ikut berhenti.&lt;br /&gt;Puluhan orang bersenjata pedang itu dengan cepat melakukan pengepungan disekeliling tempat itu.&lt;br /&gt;Orang berbaju putih yang berdiri ditengah arena itu segera menegur dengan suara lan-tang:&lt;br /&gt;"Siapa yang membunuh orang ini?"&lt;br /&gt;"Aku!"&lt;br /&gt;"Gotong dia dari sini!" perintah orang berbaju putih itu.&lt;br /&gt;Dua orang lelaki bersenjata pedang segera munculkan diri dan menggotong jenasah dari Keng Ji kongcu untuk dibawa kembali ke dalam kebun raya Ban hoa wan.&lt;br /&gt;'Jelas orang-orang ini masih belum tahu kalau didalam kebun raya Ban hoa wan terdapat suatu jebakan yang mengerikan sekali"&lt;br /&gt;''Siapa namamu..." cegat orang berbaju putih kemudian.&lt;br /&gt;"Cu Siau hong"&lt;br /&gt;'Tahukah kau siapa telah membunuh orang dia harus membayar dengan nyawa sendiri'' .&lt;br /&gt;'Apakah hendak membalaskan dendam bagi kematian Keng Ji kongcu ....?"&lt;br /&gt;Dari sekian banyak jago pedang yang dibawa orang berbaju putih itu, kecuali dua orang yang menggotong jenasah Keng Ji-kongcu memasuki kebun raya Ban hoa wan, sisanya yang berjumlah dua puluh delapan o-rang jago pedang itu secara terpisah berdiri dibelakang orang berbaju putih tadi.&lt;br /&gt;Sambil tertawa seram, orang berbaju putih itu meloloskan pedangnya kemudian berkata.&lt;br /&gt;"Benar, kami memang hendak membalaskan dendam bagi kematian Ji kongcu kami itu."&lt;br /&gt;"Baik, silahkan kalian turun tangan"&lt;br /&gt;Orang berbaju putih itu mendongakkan kepalanya, dia saksikan puluhan orang jago dari Kay pang telah mempersiapkan pula senjata tajam mereka untuk menyambut datangnya serangan yang mereka lancarkan.&lt;br /&gt;Selain anggota Kay -pang, para jago dari perguruan Bu khek bun telah mempersiap-kan pula senjata tajam masing-masing untuk siap melangsungkan suatu pertempuran sengit.&lt;br /&gt;Situasi berubah menjadi sangat kritis, setiap saat agaknya pertarungan akan segera berkobar.&lt;br /&gt;Cu Siau hong tertawa hambar, ujarnya kemudian.&lt;br /&gt;"Keng Ji kongcu mati ditanganku, bila mana kalian ingin membalaskan dendam bagi kematian Keng Ji kongcu, silahkan turun tangan terhadap diriku seorang"&lt;br /&gt;Dengan langkah lebar Tang Cuan segera maju ke depan, lalu serunya:&lt;br /&gt;''Sute, luka diatas bahumu belum sembuh, beristirahatlah sebentar, serahkan beberapa orang ini kepada suhengmu''&lt;br /&gt;Seng Tiong gak serta Tiong it ki juga secepat kilat melompat kedepan untuk bersiap siaga melangsungkan pertarungan.&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera tertawa ringan, katanya:&lt;br /&gt;"'Seng susiok, toa suheng, silahkan kamu sekalian untuk beristirahat sebentar lagi, bagaimana kalau babak pertarungan kali iniserahkan dulu kepada siaute?".&lt;br /&gt;"Tapi sute. . . lukamu. . .'&lt;br /&gt;''Mereka tidak lebih cuma pembunuh-pembunuh kelas tiga dari kebun raya Ban hoa wan, terus terang saja kukatakan walaupun siaute menderita sedikit luka namun siaute -yakin masih sanggup untuk menghadapi mereka semua"&lt;br /&gt;"Aku tahu bahwa sute memiliki kemampuan tersebut, tapi mengapa kau tidak membiarkan kami saja yang turun tangan membereskan mereka .? seru Tang Cuan.&lt;br /&gt;"Benar" sambung Seng Tiong gak, "Siau hong, sekalipun kau masih memiliki sisa tenaga untuk menghadapi mereka, tapi kami toh sedang menganggur dan tak ada urusan"&lt;br /&gt;"Sute......." seru Tang Cuan lagi.&lt;br /&gt;Cu Siau hong tertawa getir, ucapnya:&lt;br /&gt;"Ciangbunjin, Seng susiok, apakah kalian telah mewariskan ke tiga jurus ilmu pedang itu kepada Tiong sute?"&lt;br /&gt;''Aku telah mewariskannya kepada dia' jawab Seng Tiong gak, "hanya tidak diketahui apakah dia telah hapal atau belum"&lt;br /&gt;"Siaute telah hapal" sahut Tiong It ki cepat.&lt;br /&gt;"Bagus sekali kalau begitu, harap kalian suka melindungi diriku untuk menghadapi jago-jago pedang kelas satu mereka."&lt;br /&gt;Mendadak Tang Cuan segera memahami akan sesuatu, segera sahutnya.&lt;br /&gt;"Baik, kalau begitu kita lakukan saja menuruti kehendak sute, mari kita mundur ke belakang"&lt;br /&gt;SEUSAI berkata dia lantas mengundurkan diri terlebih dahulu dari tempat itu.&lt;br /&gt;Kemudian disusul pula oleh para jago dari pihak Kay pang pun turut mengundurkan diri.&lt;br /&gt;Orang berbaju putih itu memandang kesemuanya itu dengan tenang, tiba-tiba dia merasakan situasi sedikit mencurigakan, de-ngan dingin dia lantas berseru:&lt;br /&gt;"Cu Siau hong apakah kau telah mempersiapkan diri?"&lt;br /&gt;Pelan-pelan Cu Siau hong mengambil kembali kutungan pedangnya dari atas tanah kemudian jawabnya:&lt;br /&gt;"Sudah, sekarang kau boleh menyuruh mereka untuk turun tangan`&lt;br /&gt;Darah masih mengucur keluar dari mulut lukanya itu, sekalipun luka tadi tak sampai melukai tulangnya, akan tetapi luka semacam itu tidak terhitung ringan.&lt;br /&gt;Berbicara sesungguhnya, sebagian besar kawanan jago yang hadir diarena ketika itu sama-sama tidak habis mengerti dengan tindakannya itu, semua orang tidak mengerti apa sebabnya sianak muda itu bersikeras hendak turun tangan sendiri untuk menghadapi musuhnya.&lt;br /&gt;Pek Hong yang pertama-tama tidak tahaan dengan suara lirih dia lantas berbisik.&lt;br /&gt;"Ayah coba lihatlah mengapa Siau hong bersikeras hendak turun tangan sendiri un-tuk menghadapi lawan? hal ini karena kekerasan kepalanya ataukah karena ingan menang saja?&lt;br /&gt;"Cara kerja bocah ini selamanya memang membingungkan hati orang yang melihatnya, bahkan aku sendiripun dibikin tidak habis mengerti" jawab Pek Bwe.&lt;br /&gt;"Benarkah ayah juga tidak tahu"'&lt;br /&gt;"Ehmmm, ada sedikit tidak mengerti"&lt;br /&gt;"Kalau begitu cegahlah dia'&lt;br /&gt;"Jangan, jangan cegah perbuatannya, ca-ra kerja bocah ini memang selamanya mem-bingungkan orang, terus terang saja bukan a-ku sendiripun merasa tidak mengerti, tapi aku yakin dia masih mempunyai suatu maksud tertentu yang dalam sekali artinya"&lt;br /&gt;"Sementara itu Lik Hoo, Ui Bwe dan Ang Bo tan telah meloloskan senjata mereka dan berjaga-jaga dekat Cu Siau hong..&lt;br /&gt;Melihat itu, sambil tertawa Cu Siau -hong segera berkata:&lt;br /&gt;Lik Hoo, kalian tak usah membantuku'&lt;br /&gt;"Tapi kongcu....kami....."&lt;br /&gt;"Harap kalian mundur tiga langkah dari sana, bila aku sudah kalah nanti, belum terlambat jika kalian ingin turun tangan"&lt;br /&gt;`Ketiga orang dayang itu saling berpan-dangan sekejap, akhirnya pelan-pelan mereka mengundurkan diri dari situ:&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera melintangkan kutungan pedangnya didepan dada, separuh badannya miring ke samping, sedangkan keningnya berkerut kencang, jelas lukanya masih belum merapat dan jelas sakit sekali.&lt;br /&gt;Mendadak si anak muda itu melompat maju ke depan, kemudian serunya dengan lantang:&lt;br /&gt;"Jika kalian belum mau juga turun tangan, jangan salahkan kalau aku akan turun tangan lebih duluan"&lt;br /&gt;Orang berbaju putih itu tertawa dingin.&lt;br /&gt;Pedangnya segera dituding kesamping, tiga orang jago pedang berpakaian ringkas sege-ra menyongsong maju kedepan:&lt;br /&gt;Tiga bilah pedang dengan disertai tiga desingan angin tajam, langsung menerjang ke tubuh Cu Siau hong.&lt;br /&gt;Cu Siau hong melintangkan kutungan pe-dangnya didepan dada, mendadak dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat dia membalikkan tubuhnya....&lt;br /&gt;"Trang" Bunyi benturan keras bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu Cu Siau hong sudah menerjang keluar dari kepungan ketiga orang jago pedang itu.&lt;br /&gt;Tampak tubuhnya berputar terus tiada hentinya, orang bersama pedangnya telah melebur menjadi satu dan menyerbu kedalam kelompok jago-jago pedang itu.&lt;br /&gt;Gerakan tersebut merupakan suato gerakan yang aneh sekali, dalam sekejap mata dia sudah berputar keluar dari balik kepungan ka-wanan jago pedang itu dan menyelinap ke belakang tubuh Lik Hoo sekalian bertiga .....&lt;br /&gt;Pertarunganpun secara tiba-tiba berhenti dengan sendirinya.&lt;br /&gt;Sementara itu Lik Hoo, Ui Bwe, serta Ang Bo tanl telah mengangkat pedangnya bersiap sedia, sedangkan tangan kirinya menggenggam senjata rahasia.&lt;br /&gt;Cu Siau hong yang secara tiba-tiba menyelinap ke belakang tubuh tiga orang itu membuat Lik Ho sekalian merasa gembira sekali, tapi merekapun merasa tanggung jawabnya semakin besar, bagaimanapun juga mereka harus melindungi keselamatan Cu -Siau hong dan bersama-sama membendung serangan gabungan dari pihak lawan.&lt;br /&gt;Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan siapapun, ditengah keheningan yang mencekam, mendadak tampak ada dua orang jago pedang roboh terkapar keatas tanah.&lt;br /&gt;Selisih jarak antara jago pedang yang satu dengan jago pedang yang lain sebenarnya memang tidak termasuk jauh, begitu seorang di antara mereka roboh, maka tubuh mereka segera menumbuk diatas tubuh rekan yang lain.&lt;br /&gt;Dalam sekejap mata suara benturan keras bergema tiada hentinya, puluhan orang jago pedang yang hadir diarena ketika itu, da-lam sekejap mata sudah ada separuh diantara yang roboh terkapar di atas tanah.&lt;br /&gt;Orang yang tak sampai roboh saat itu masih tetap berdiri tegak ditempat semula.&lt;br /&gt;Tan Tiang kim serta Pek Bwe yang me-nyaksikan kejadian itu menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.&lt;br /&gt;Lebih-lebih Tang Cuan, Pek Hong serta Seng Tiong gak, mereka semua merasakan hatinya bergetar keras. Mereka sama sekali tidak tahu ilmu pedang apakah yang mereka pergunakan itu, sebab aliran ilmu pe-dang yang dipergunakan sama sekali bukan aliran pedang dari perguruan Bu khek bun. Ketika menengok kembali keadaan Cu Siau hong tampak paras mukanya pucat pias bagaikan mayat, mulut lukanya kembali me-rekah, darah segar bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan Pek Hong berjalan mendekati-nya, lalu berbisik dengan suara lirih:&lt;br /&gt;"Siau hong terluka lagi"&lt;br /&gt;"Tidak, hanya luka lama yang merekah kembali sehingga mengucurkan darah."&lt;br /&gt;"Nak, sebenarnya kau tak usah turun ta-ngan sendiri, mengapa kau bersikeras hen-dak melakukannya sendiri?" Ucap Pek Hong dengan suara dingin.&lt;br /&gt;"Aku hanya ingin mencoba ilmu pedangku sendiri, aku rasa kelompok pembunuh ini semestinya merupakan kelompok yang paling lemah" sahut Cu Siau hong lirih.&lt;br /&gt;Paras muka Pek Hong tampak serius sekali, kembali dia berkata.&lt;br /&gt;"Siau hong, kau terlalu keras kepala, coba lihat paras mukamu itu ."&lt;br /&gt;Sementara itu Pek Bwee dan Tang Cuan sekalian telah berjalan mendekatinya.&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera berseru.&lt;br /&gt;"Boanpwe ingin mohon diri lebih dulu!"&lt;br /&gt;Sambil membalikkan badan dia mengundurkan diri dari situ.&lt;br /&gt;Lik Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan dengan cepat mengikuti dibelakangnya dengan ketat.&lt;br /&gt;Cu Siau hong berjalan sejauh ratusan langkah dari tempat semula, akhirnya ia duduk bersila dibawah sebatang pohon besar dan memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.&lt;br /&gt;Dia benar-benar merasa lelah sekali, serangan yang dilakukannya barusan telah meng-hamburkan tenaganya seperdelapan bagian.&lt;br /&gt;Ang Bo tan segera berlutut disamping pemuda itu dan membubuhkan obat lagi diatas bahu kiri Cu Siau hong yang terluka, kemudian membalutkan kembali.&lt;br /&gt;Pek Hong tidak mengikuti kesana, tapi Pek Bwe segera menyusul tiba.&lt;br /&gt;Diantara semua banyak jago yang berada dalam arena dewasa ini, hanya Pek Bwe seorang yang paling memahami tentang Cu -Siau hong, ia juga yang mengetahui masa-lahnya paling banyak.&lt;br /&gt;Pek Hong bisa mengijinkan ketiga orang perempuan siluman itu mengikuti disamping Cu Siau hong tanpa menegur atau menanyakan kesemuanya inipun berkat bujukan dari Pek Bwe.&lt;br /&gt;'Tempat itu semestinya boleh dibilang sudah aman, walaupun jaraknya dari kebun ra-ya Ban hoa wan tidak terlalu jauh, namun ada puluhan orang jago kelas satu dari perkumpulan Kay pang yang melakukan penjagaan disekitar sana.&lt;br /&gt;Pek Bwe segera berjongkok disamping pemuda itu sambil berbisik:&lt;br /&gt;"Nak, apakah kau ada urusan yang hen-dak disampaikan kepadaku?"&lt;br /&gt;Cu Siau hong membuka matanya kembali dan tersenyum.&lt;br /&gt;"Locianpwe benar-benar merupakan suara hatiku!" katanya.&lt;br /&gt;Nak, hal ini disebabkan lohu lebih banyak mengetahui tentang urusanmu, bila berbicara tentang orang yang benar-benar memahami suara hatimu, maka orang itu seharusnya adalah Ui lo pangcu dari Kay-pang'&lt;br /&gt;"Aaaah .... kalau soal ini mah, boanpwe benar-benar tak berani membantah...."&lt;br /&gt;Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan: 'Locianpwe, beritahu kepada Tang ciangbun suheng, suruh dia pusatkan segenap perhatiannya untuk menghadapi para pendekar pedang macan kumbang hitam!'&lt;br /&gt;Pek Bwee tertegun, kemudian ujarnya:&lt;br /&gt;"Apa? Jadi para pendekak pedang macan kumbang hitam juga berada didalam kebun raya Ban hoa wan ini?"&lt;br /&gt;"Paling tidak sebagian diantaranya berada disini, bila Keng Ji kongcu adalah pe-mimpin dari kebun raya Ban hoa wan ini, dia pasti akan mengumpulkan sebagian dari para pendekar pedang macam kumbang hitam itu di sini ...."&lt;br /&gt;"Kecuali para anggota Bu khe bun, sulit rasanya untuk mencegah serangan dari para pendekar pedang macan kumbang hitam itu."&lt;br /&gt;"Benar! jurus pedang dari It ki sute en-tah sudah dilatihnya hingga mencapai taraf mana?"&lt;br /&gt;"Sejak dia sadar kembali hingga kini ia selalu melatih jurus-jurus pedang itu dengan tekun, Tang Cuan yang mengajarkan juga sangat teliti dan sabar, apakah dia sudah berhasil menguasahinya penuh, rasanya hal ini sukar untuk dibicarakan .`&lt;br /&gt;"Moga-moga saja dia telah berhasil menguasahinya penuh, dengan demikian berarti kita mempunyai seorang yang jebih banyak untuk menghadapi para pendekar pedang macan kumbang hitam"&lt;br /&gt;"Siau hong, yang paling penting sekarang adalah semoga luka yang kau derita cepat sembuh. . ."&lt;br /&gt;'Padahal luka yang boanpwe derita tidak terhitung seberapa" tukas Cu Siau hong," Cuma sunio menghendaki aku beristirahat. Boanpwe tak tega untuk menampik keingin-annya'&lt;br /&gt;Pek Bwee segera tertawa, ujarnya:&lt;br /&gt;"Padahal Iuka yang kau derita tidak ri-ngan, cuma saja kau masih mampu untuk mempertahankan diri."&lt;br /&gt;"Locianpwe, persoalan paling penting pada saat ini adalah pertama, harus mencari akal untuk menghadapi para pendekar pedang macam kumbang hitam, kedua melepaskan api untuk membakar kebun raya Ban hoa wan ini dan memaksa keluar semua jago musuh yang masih berada disitu, jumlah mereka amat banyak gerakan tersebut sudah pasti akan berhasil untuk memaksa keluar semua jago lihay dalam kebun raya Ban hoa -wan, dalam keadaan demikian mereka pasti amat panik dan suatu pertarungan sengit pun tak akan dihindari, sekalipun jago-jago dari Kay pang dan Pay kau banyak sekali, aku rasa belum tentu sanggup untuk mem-bendung serbuan mereka"&lt;br /&gt;Pek Bwe segera manggut-manggut.&lt;br /&gt;Kembali Cu Siau hong berkata.&lt;br /&gt;"Cara yang harus kita pergunakan untuk menghadapi musuh adalah menyembunyikan dahulu para jago dari Kay pang dan Pay kau disuatu tempat, jika orang-orang dari kebun raya Ban hoa wan menyerbu keluar, sambut dulu mereka dengan bidikan panah dan sen-jata rahasia, bikin mereka kelabakan sete-ngah mati lebih dahulu"&lt;br /&gt;Pek Bwe manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Baik segera akan menyampaikan hal ini kepada pengemis tua Tan, suruh dia menga-tur dulu jago-jago dari Kay pang dan Pay kau katanya.&lt;br /&gt;"Sekarang kita sudah memegang posisi penggerak, tapi tak usah terlalu beradu kekerasan dengan mereka" Pek Bwee tertawa kagum, sambil manggut-manggut ia membalikkan badan dan beranjak pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Pek Bwee, Cu Siau hong segera memanggil ketiga orang dayangnya seraya berkata:&lt;br /&gt;"llmu pedang yang kuwariskan kapada kalian itu apakah sudah kaliau latih dengan baik?"&lt;br /&gt;"Walaupun kami sudah melatihnya dengan bersungguh hati sayang permainannya kurang begitu sempurna" jawab Lik Hoo.&lt;br /&gt;-ooo0ooo-&lt;br /&gt;BAGIAN 29&lt;br /&gt;CU SIAU HONG segera tertawa.&lt;br /&gt;"Sebentar, bila para pendekar pedang macan kumbang hitam itu menampakkan di-ri, lebih baik kalian turun tangan bersama, carilah akal untuk membantu pihak Kay pang"&lt;br /&gt;"Kongcu, kau suruh kami pergi menghadapi para pendekar macan kumbang hitam."&lt;br /&gt;"Benar!"&lt;br /&gt;"Kongcu jurus-jurus serangan yang dimiliki para perdekar pedang macan kumbang hitam itu sangat aneh dan lihay, jurus-jurus serangannya mematikan, pada hakekatnya kami tiga bersaudara tak sanggup menghadapi sejurus serangan pun dari mereka"&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera tertawa.&lt;br /&gt;"Lik Hoo, apakah kau takut mati" tanyanya.&lt;br /&gt;"Budak tidak takut mati, melainkan kami sama sekali tak mampu untuk memberi bantuan apa-apa, serbuan kami ini tak lebih hanya akan menghantar nyawa dengan sia-sia'&lt;br /&gt;"Jurus pedang yang kalian latih, sama sekali ini justru merupakan jurus tandingan bagi para pandekar pedang macan kumbang hitam tersebut"&lt;br /&gt;'Sungguh?"&lt;br /&gt;Cu Siau hong manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Cuma apakah membutuhkan bantuan kalian atau tidak, sampai sekarang masih sukar diduga, bila beberapa orang suhengte dari perguruan Bu khek bun kami itu masih mampu untuk menghadapi mereka, sudah barang tentu kalian tak perlu turun tangan, tapi jika kemampuan mereka masih belum cukup, maka kalian harus turun tangan untuk membantu mereka"&lt;br /&gt;"Sampai waktunya harap kongcu menurunkan perintah, kami pasti melakukan perintah itu."&lt;br /&gt;Dalam pada itu, dari belakang kebun raya Ban hoa wan telah mengepul asap te-bal yang membumbung tinggi keangkasa, rupanya para jago dari Kay pang telah mulai melepaskan api.&lt;br /&gt;Diluar dugaan, dari dalam kebun raya Ban hoa wan itu sama sekali tidak ada yang menyerbu keluar. Suasana dalam kebun raya tetap hening sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun.&lt;br /&gt;Kobaran api menjalar amat cepat, tapi sampai beberapa saat kemudian, api telah membakar seluruh kebun raya Ban hoa wan tersebut.&lt;br /&gt;Dengan sepasang mata melotot besar, Cu Siau hong mengawasi kobaran api yang ma-kin lama menjalar semakin dekat, otaknya berputar kencang, pada hakekatnya ia tak dapat beristirahat barang sejenakpun.&lt;br /&gt;Mendadak Cu Siau hong seperti menyadari akan sesuatu, dia segera melompat bangun sambil berteriak keras:&lt;br /&gt;"Kalian cepat mundur dari situ!"&lt;br /&gt;Tan Tiang kim serta Pek Bwee secepat sambaran kilat meluncur datang sambil berlarian mendekat, tegur mereka:&lt;br /&gt;"Siau hong ada urusan apa?"&lt;br /&gt;"Suruh mereka semua mundur secepat-nya dari situ, makin cepat semakin baik, makin jauh semakin baik".&lt;br /&gt;Tan Tiang kim maupun Pek Bwee ada-lah jago-jago kawakan dari dunia persilatan, mendengar seruan mereka itu lantas sadar, dengan suara keras kedua orang jago itupun berteriak lantang:&lt;br /&gt;"Suruh mereka cepat-cepat mundur dari sana!' Teriakan kedua orang itu sangat keras, ibaratnya guntur yang membelah bumi disi-ang hari bolong.&lt;br /&gt;Cu Siau hong turut berteriak pula dengan suara lantang.&lt;br /&gt;"Harap kalian semua cepat-cepat mengundurkan diri dari situ, dalam kebun raya Ban hoa wan ada bahan peledaknya"&lt;br /&gt;Para jago dari Kay pang yang berada disekitar tempat itu dapat mendengar teriakan menggeledek dari Tan Tiang kim maupun PekBwee, namun mereka masih tetap berdiri tak berkutik ditempat semula.&lt;br /&gt;Tapi setelah mendengar teriakan dari Cu Siau hong tersebut, bagaikan ada lompatan keluar dari tempat persembunyian mereka, dalam waktu singkat bayangan manusia berkelebat lewat, masing-masing orang pada melarikan diri dari situ.&lt;br /&gt;"Kongcu, mari kita juga pergi! bisik Lik Hoo kemudian.&lt;br /&gt;"Betul', kalau musti berada disini terus, rasanya mati pasti tak sedap....." sahut Cu Siau hong.&lt;br /&gt;Dia segera membalikkan badan dan mengundurkan diri dari tempat itu.&lt;br /&gt;'Untung saja semua orang memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, sehingga gerakan tubuh mereka cepat sekali, dalam waktu singkat semua orang telah mengundurkan diri sejauh ratusan kaki dari tempat se-mula.&lt;br /&gt;Pada saat itulah tiba-tiba terdengar sua-ra ledakan keras yang memekikkan telinga bergema dari arah kebun raya Ban hoa wan.&lt;br /&gt;Bagaikan ada gunung berapi yang meletus saja, mula-mula tampak pancaran air yang sangat keras menyembul ketengah udara, menyusul kemudian pepohonan, dedaunan dan ranting yang disertai hamhuran pasir dan tanah memancar keempat penjuru.&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat seluruh angkasa telah diliputi oleh kabut debu dan pasir yang tebal, seluruh pemandangan lenyap dari pandangan mata, terlapis oleh asap dan debu yang memenuhi udara.&lt;br /&gt;Sedemikian dahsyatnya letusan tadi, bah-wa percikan pasir yang dihamburkan ke uda-rapun terbukti bisa berterbaran sampai puluhan kaki jauhnya dari posisi semula.&lt;br /&gt;Seluruh kebun raya Ban hoa wan seakan-akan terlempar ke tengah udara...&lt;br /&gt;Menyusul kemudian semburan api yang membara menjirat sampai ke angkasa, begi-tu besar kobaran api tersebut, membuat kawanan jago dari perkumpulan Kay pang yang berada ratusan kaki dari tempat kejadian pun turut merasakan sengatan hawa panas yang maha dahsyat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja para jago dari Kay pang dan Pay kau mengundurkan diri dengan gerakan cepat, merekapun cukup jauh dari tempat letusan.&lt;br /&gt;Bayangkan saja seandainya mereka kabur a-gak terlambat sedikit saja, niscaya ada sebagian besar diantara mereka yang terluka bahkan tewas karena ledakanmesiu yang dahsyat itu.&lt;br /&gt;Memandang kobaran api yang menyelimuti seluruh angkasa, Tan Tiang kim berkata dengan lirih:&lt;br /&gt;"Betul-betul suatu jebakan yang amat dahsyat, tampaknya letusan ini telah memunahkan seluruh kebun raya Ban hoa wan.&lt;br /&gt;Kecuali Keng Ji kongcu beserta sekawanan jago pedang yang dibunuh Siau hong, tak nampak seorangpun yang menampakkan diri dari dalam kebun raya itu, ucap Pek Bwee.&lt;br /&gt;"Ya, hampir seluruh bekas-bekas yang ada didalam kebun raya itu turut dimusnahkan, tindakan mereka betul-betul sangat lihay, benar-benar sangat lihay" sambung Cu Siau hong.&lt;br /&gt;"Siau hong, tampaknya letusan ini telah melenyapkan segenap tanda dan jejak yang telah kita temukan", keluh Pek Bwe.&lt;br /&gt;"Betul, letusan inipun melenyapkan pula segenap tanda dan jejak yang mungkin tertinggal disitu"&lt;br /&gt;"Tindakan mereka betul-betul amat ke-ji, beratus-ratus orang anggota dan anak buah sendiri turut dikorbankan dalam leda-kan tersebut, sungguh merupakan suatu pe-ristiwa yang diluar dugaan"&lt;br /&gt;"Tan Tiang kim memperhatikan sekejap keadaan dalam kebun raya Ban Hoa wan itu, lalu berkata:&lt;br /&gt;"Tampaknya setelah lewat satu dua jam jangan harap ada orang yang dapat masuk ke sana'&lt;br /&gt;Dalam pada itu pepohonan dan aneka bunga yang berada dalam kebun raya Ban hoa wan telah bertumbangan hancur tak karuan, bahkan disana sini api berkobar amat besar.&lt;br /&gt;Seluruh kebun raya Ban hoa wan telah berubah jadi kobaran api yang membara, sejauh mata memandang, hanya jilatan api saja yang tampak ......&lt;br /&gt;Lik Hoo tertawa getir, katanya kemudian:&lt;br /&gt;'Ji moay, sam moay, seandainya kongcu tidak mengajak kita keluar dari situ, mungkin pada saat inipun kita sudah tewas di tengah lautan api yang membara dengan hebatnya ini"&lt;br /&gt;"Siau hong, sekarang bagaimana cara kita untuk turun tangan?" tanya Pek Bwe kemudian.&lt;br /&gt;Cu Siau hong menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu menjawab.&lt;br /&gt;"Aaai. . . untuk sesaat boanpwe sendiri pun tak tahu bagaimana harus bertindak"&lt;br /&gt;"Lebih baik kita gunakan cara lama, melakukan pemeriksaan secara besar-besaran di dalam kota Siang yang."&lt;br /&gt;"Aku rasa tindakan macam begitu sulit untuk menemukan titik terang, sebab tindakan mereka untuk memusnahkan kebun raya Ban hoa wan pun tidak lain bertujuan demikian, mereka tidak berharap kita bisa menemukan suatu bukti atau titik terang sehingga jeajknya tak bisa kita lacaki lebih lanjut. . ."&lt;br /&gt;"Tapi, kita toh tak akan lepas tangan dengan begitu saja?" kata Pek Bwe cepat.&lt;br /&gt;"Tentu saja tidak, namun mata-mata yang mereka persiapkan disekitar tempat ini terlampau ketat dan rahasia, bukan suatu tindakan yang gampang jika kita ingin melakukan sergapan terhadap mereka, aku pikir, satu-satunya jalan yang terbaik adalah berusaha agar mereka yang datang mencari kita, sebab tindakan ini justru lebih mudah"&lt;br /&gt;"Tapi.... dengan cara apakah kita baru bi-sa memancing mereka agar datang mencari kita?" tanya Pek Bwee.&lt;br /&gt;"Asal kita sudah bertekad untak memancing ikan, tentu saja harus ada umpannya!'&lt;br /&gt;"Tapi siapa yang akan kita jadikan umpan?"&lt;br /&gt;"Paling baik kalau sunio dan It ki sute!"&lt;br /&gt;"Asal mereka memang merupakan pilihan yang paling tepat, aku akan segera menyampaikan kepadanya, tanggung dia akan menyetujuinya"&lt;br /&gt;Pek locianpwe, peritahkan saja kepada mereka agar segera kembali kekota Siang-yang"&lt;br /&gt;"Cu sauhiap" kata Tan Tiang kim, tak kusangka kalau ada suatu organisasi rahasia yang bertindak begini kejam terhadap anak buahnya sendiri, peristiwa benar-benar diluar dugaan orang"&lt;br /&gt;Paras muka Cu Siau hong berubah menjadi amat serius, katanya.&lt;br /&gt;"Bila Keng Ji kongcu bermaksud untuk mencelakai kita, sesungguhnya dia mempunyai banyak cara untuk melakukannya, asal ia mencari suatu akal dan memancing kita masuk kedalam kebun raya Ban hoa wan niscaya kita semua akan terbasmi habis .....`&lt;br /&gt;'Bukankah pada dua hari berselang kitapun berada dalam kebun raya Ban hoa wan? Mengapa mereka tidak turun tangan?" tanya Pek Bwe dengan kening berkerut.&lt;br /&gt;"Aku sendiripun merasa keheranan.'&lt;br /&gt;"Kalau begitu yang mereka tuju sebetulnya bukan hanya perguruanmu saja. sambung Tan Tiang kim.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Lik Hoo menyela:&lt;br /&gt;"Kongcu, sebagian besar jago yang berada didalam ruang bawah tanah kebun raya Ban hoa wan sama sekali tidah tahu kalau disitu sudah ditanam bahan peledak dalam jumlah yang sangat banyak.&lt;br /&gt;"Cu Sauhiap, jangan-jangan Keng Ji kongcu memang ada maksud untuk menyelamat-kan kita?" seru Tan Tiang kim..&lt;br /&gt;'Yaa, dalam mengulas persoalan ini kita harus menilainya dari banyak sudut pandangan, bukan tak mungkin Keng Ji kongcu berminat untuk menolong kita semua'&lt;br /&gt;"Selain itu?"&lt;br /&gt;"Selain itu merekapun belum menganggap kita sebagai musuh yang paling penting sehingga tidak perlu harus menggerakkan jago-jago tersembunyinya yang dipersiap-kan disana"&lt;br /&gt;"Mari kita pulang ke Siang yang lebih dulu sebelum melanjutkan pembahasan terhadap masalah ini" ucap Tan Tiang kim kemudian. "kebuasan dan kekejaman organisa-si ini merupakan suatu kejadian yang belum pernah ditemukan dalam dunia persilatan selama seribu tahun belakangan ini, betul dalam dunia persilatan banyak terdapat organisasi rahasia semacam ini, namun tak sebuahpun diantara mereka begitu buas dan brutalnya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kawanam jago Kay pang dan Pay kau yang berkumpul disitu mulai dita-rik mundur dari tempat tersebut.&lt;br /&gt;Mereka datang secara berbondong-bondong dan kini pergi pula secara berbondong-bondong.&lt;br /&gt;Cu Siau hong, Pek Bwee, Tan Tiang kim, Tang Cuan sekalian segera kembali pula ke kota Siang yang.&lt;br /&gt;Setibanya dikota Tan Tiang kim berpamitan untuk menghadap lo pangcunya serta melaporkan apa yang telah terjadi.&lt;br /&gt;Sebaliknya Pek Hong mengumpulkan segenap anggota Bu khek bun untuk bersama-sama membahas persoalan tersebut.&lt;br /&gt;Tang Cuan dengan kedudukannya sebagai ketua Bu khek bun segera berkata:&lt;br /&gt;"Dengan susah payah kita berhasil me-nemukan kebun raya Ban hoa wan tak disangka kalau beginilah akibatnya, bila para pendekar pedang macan kumbang hitampun berdiam dalam kebun raya Ban hoa wan, niscaya mereka telah tewas semua disitu, mungkin kitapun tak dapat membalaskan dendam lagi bagi para suhengte kita yang tewas secara mengerikan itu"&lt;br /&gt;Siau hong bagaimanakah pendapatmu?" tanya Pek Hong kemudian.&lt;br /&gt;Mungkin Pek Bwee telah menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada perempuan ini, maka dia langsung bertanya kepada Cu Siau hong.&lt;br /&gt;"Tecu rasa kebun raya Ban hoa wan tidak lebih hanya merupakan suatu kantor cabang yang penting dari organisasi tersebut, belum tentu pendekar pedang macan kumbang hitam berdiam disitu.' kata Cu Siau hong kemudian.&lt;br /&gt;Maksud sute. . ." sela Tang Cuan.&lt;br /&gt;"Setelah ditinjau dari situasi yang terbentang didepan mata kita sekarang, siaute rasa tujuan dan sasaran dari organisasi tersebut sesungguhnya adalah menguasahi seluruh dunia persilatan, sedang perguruan Bu khek bun kita tak lebih hanya sasaran pertama yang mereka pilih"&lt;br /&gt;"Jadi maksud sute..'&lt;br /&gt;"Aaaai!" Cu Siau hong menghela napas panjang, "toa suheng, tentu saja kita harus membalas dendam bagi puluhan nyawa anggota Bu khek bun yang tewas di tangan mereka, tapi yang paling penting lagi kita harus menemukan beberapa orang yang menjadi mata-mata dalam tubuh perguruan kita. .&lt;br /&gt;"Mata-mata yang menyusup ke dalam perguruan kita?, Siapakah mereka?" tukas Tang Cuan.&lt;br /&gt;'Toa suheng, tidakkah kau merasa kehe-ranan terhadap beberapa orang suhengte yang hidup tak nampak orangnya, mati tak nampak mayatnya?"&lt;br /&gt;Tang Cuan manggut-manggut.&lt;br /&gt;'Betul, betul sekali.."' serunya, "cuma mungkinkah mereka pun ikut terkubur hidup-hidup didalam kebun raya Ban hoa wan?"&lt;br /&gt;"Siaute tak berani mengatakan dengan pasti kalau mreka tidak berada dalam kebun raya Ban hoa wan, tapi merekalah yang menjadi pangkal bencana ini, oleh sebab itu manusia-manusia jahanam tersebut tak boleh dilepaskan dengan begitu saja"&lt;br /&gt;'Setiap penghianat perguruan harus dijatuhi hukuman yang setimpal, tapi bagaimana caranya untuk menemukan mereka?'.&lt;br /&gt;"Kalau kita yang harus pergi mencari mereka, tentu saja hal ini tidak gampang, tapi kalau kita cari akal agar mereka yang datang mencari kita, tindakan ini jauh lebih mudah".&lt;br /&gt;'Tapi bagaimana caranya?".&lt;br /&gt;`'Ciangbun suheng, tentang soal ini, siaute tak berani bicara secara sembarangan'&lt;br /&gt;"Terhadap orang sendiri saja ada yang tak bisa kau katakan? '&lt;br /&gt;`Sekarang, kebun raya Ban hoa wan sudah musnah, rasa benci orang-orang organisasi tersebut terhadap kita orang-orang Bu khek bun tentu sudah merasuk sampai ke tulang sumsum, asal kita memberi kesem-patan kepada mereka untuk turun tangan, kemungkinan besar mereka akan segera melakukan suatu tindakan"&lt;br /&gt;"Cara ini memang bagus sekali, aku adalah seorang ciangbunjin, mungkinkah mereka akan turun tangan terhadap diriku?'.&lt;br /&gt;"Kemungkinan besar subo lah yang pa-ling mereka benci, sedangkan It ki sute merupakan orang yang paling ingin mereka tangkap. . ."&lt;br /&gt;"Siau hong", ucap Tang Cuan dengan cepat, "It ki sute sudah terlalu banyak merasakan siksaan dan penderitaan, diapun baru saja lolos dari cengkeraman lawan, masa kita akan menyuruh dia untuk menyerempet bahaya lagi. . . ?"&lt;br /&gt;`Siaute pun berpendapat demikian.. '&lt;br /&gt;'Kalian tak usah bersedih hati" tukas Pek Hong tiba-tiba, "Walaupun It-ki belum lama lolos dari mara bahaya, tapi ia tak mungkin melepaskan diri dari dunia persilatan lagi, itu berarti setiap saat ia harus hidup di ujung golok dan percikan darah, jangan dikarenakan ia pernah di bekuk satu kali, maka hatinya menjadi ciut dan ketakutan dengan bayangan tubuh sendiri."&lt;br /&gt;"Betul" sambung Pek Bwe. "seorang lelaki sejati yang hidup di dunia seperti ini sudah seharusnya meningkatkan semangat untuk melanjutkan hidup, janganlah dikarenakan pernah mengalami suatu kerugian maka semua semangat dan keberaniannya menjadi lenyap, It ki memang seharusnya banyak berlatih dan belajar."&lt;br /&gt;"Bagaimana situasi yang terbentang dalam dunia persilatan sekarang, aku yakin pihak Kay pang dan Pay kau sudah mengetahui dengan sejelas-jelasnya, seperti yang terbukti sekarang, tampaknya sasaran dari organisasi rahasia itu bukan hanya Bu-khek-bun kita saja"&lt;br /&gt;'Oooh..."&lt;br /&gt;"Oleh karena itu, kedua kelompok perkumpulan besar ini pasti akan mengutus jago-jagonya yang paling kosen untuk bekerja sama dengan kita'&lt;br /&gt;'Siau hong, kita toh tak bisa sama seka-li menggantungkan diri kepada pihak Pay--kau serta Kay-pang, kita harus menemukan suatu cara lain untuk melindungi kita sen-diri secara ketat" kata Seng Tiong-gak..&lt;br /&gt;"Perkataan Susiok memang benar, siautit sendiripun berpendapat demikian."&lt;br /&gt;'Sudah kau rundingkan persoalan ini de-ngan pihak Kay-pang?"&lt;br /&gt;"Belum, masalah ini belum ku singgung, Siau hong beranggapan bahwa hal ini harus minta persetujuan lebih dulu dari pihak subo dan It-ki sute kemudian baru dirundingkan dengan pihak mereka"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'"Baiklah! Kau boleh merundingkan persoalan ini dengan Tan Tiang kim dari Kay-pang" kata Pek Hong kemudian, 'coba dilihat bagaimanakah tindakan yang mereka ambil?"&lt;br /&gt;"Siau hong", kata Seng Tiong gak pula.&lt;br /&gt;"Sekarang kita tak usah membicarakan masalah Kay pang lebih dulu, yang penting adalah apa yang hendak kita lakukan?'&lt;br /&gt;"Siautit rasa, baik susiok maupun Siau-hong sendiri harus turun tangan bersama- sama"&lt;br /&gt;"Soal kita akan turun tangan bersama sih bukan masalah, yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana caranya kita bertindak sehingga bisa saling bantu memban-tu bila mana diperlukan"&lt;br /&gt;"Siautit berniat untuk menyaru sebagai seorang pembantu dan melakukan perjalanan bersama dengan subo dan sute"&lt;br /&gt;"Bagai mana dengan aku sendiri'&lt;br /&gt;"Susiok terpaksa aku harus menyiksa dirimu."&lt;br /&gt;"Baik, katakan saja Siau hong apa yang harus kita lakukan sehingga bisa berada di samping enso dan It ki terus menerus tanpa menimbulkan kecurigaan mereka"&lt;br /&gt;"Susiok tentunya kau sudah melihat sendiri manusia yang bernama Keng Ji kongcu itu, dia tak lebih hanya salah seorang yang diutus organisasi rahasia itu untuk memimpin masalah diluar, namun ilmu silat ser-ta kecerdasan otaknya termasuk kelas satu, dia bisa kalah dan tewas karena dia terlalu memandang rendah kita semua, dari sini bisa diketahui bahwa pentolan yang sebetulnya pasti lihay sekali. Sekalipun kita berjaga-jaga disamping subo dan sute juga bukan berarti bisa mengelabuhi mereka."&lt;br /&gt;"Bukankah hal ini sama artinya dengan berbuat yang sia-sia belaka?;' sela Seng Tiong gak. ..&lt;br /&gt;"Itu sih tidak, dendam sakit hati akibat musnahnya kebun raya Ban hoa wan telah membuat mereka menderita kerugian amat besar, tapi kejadian sebenarnya yang mengakibatkan kematian Keng Ji kongcu tidak dia ketahui sama sekali olehnya, oleh sebab itu perhitungan mana sudah pasti mereka catat di atas nama perkumpulan Bu khek bun kita."&lt;br /&gt;Pek Bwe segera manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Ehm, betul, mereka tak akan memandang tinggi kemampuan kita" katanya&lt;br /&gt;"Justru makin rendah pihak musuh menilai kemampuan kita, berarti kesempatan kita untuk berhasil semakin besar lagi"&lt;br /&gt;"Tapi bagaimana pula caranya untuk bekerja sama dengan pihak Kay pang serta Pay kau?"&lt;br /&gt;"Tentang soal ini harus dirundingkan dahulu dengan Tan Tianglo, minta kepadanya untuk mengirim seorang murid yang ceka-tan untuk memberi perlindungan secara diam-diam, lebih baik lagi kalau kita bisa menjanjikan suatu cara rahasia untuk sa-ling mengadakan kontak, sehingga bilamana diperlukan kita bisa langsung berhubu-ngan.&lt;br /&gt;"Bagus cara ini memang bisa dilakukan" Pek Bwe manggut-manggut.&lt;br /&gt;Siau hong sute, bagaimana pula dengan diriku? ' tanya Tang Cuan kemudian.&lt;br /&gt;"Ciangbun suheng, terpaksa akupun harus sedikit menyiksa dirimu"&lt;br /&gt;"Tak menjadi soal, katakan saja"&lt;br /&gt;"Dalam kenyataan, kita Bu khek bun ha-nya terdiri dari beberapa orang saja, itu berarti setiap orang harus memikul suatu tanggung jawab yang besar , aaai ..... semoga saja persoalan disini dapat diselesaikan, kita masih harus berangkat ke Pak hay untuk mendatangi per-guruan Khi keng bun serta menyelesaikan sakit hati suhu, mengenai rencana yang le-bih seksama telah siaute persiapkan!" harap susiok dan ciangbun suheng bersedia memberi petunjuk"&lt;br /&gt;Tang Cuan manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Baik, katakan lah"&lt;br /&gt;Dewasa ini pihak Kay pang dan Pay kau sudah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Paling tidak mereka sudah tahu bahwa Bu khek bun telah membayar suatu pengorbanan yang maha besar bagi umat persilatan didunia ini! sebab yang akan diha-dapi pibak lawan bukanlah Bu khek bun kita sebaliknya kita hanya merupakan perguruan pertama yang menjadi korbannya."&lt;br /&gt;"Tentang soal ini, apakah Tan Tianglo sudah tahu?"&lt;br /&gt;"Sudah tahu!"&lt;br /&gt;-Siau hong, coba katakan apa yang harus dilakukan oleh orang-orang Bu khek bun sendiri untuk melindungi keselamatan subo serta It ki sute ......" kata Tang Cuan.&lt;br /&gt;"Menurut pendapat siaute lebih baik se-mua anggota Bu khek bun turun tangan bersama dan berjalan bersama pula"&lt;br /&gt;"Tapi bagaimana caranya untuk berjalan bersama?" "Seandainya terjadi suatu gerakan yang mencurigakan, kita boleh segera menyembunyikan diri sebagai penyergap gelap, sedangkan Seng susiok dan subo serta It--ki sute berada bersama, kemudian ditambah lagi dengan Lik Hoo, Ui Bwe serta Ang Bo tan yang melindungi dari depan dan belakang, aku rasa pertahanan semacam ini su-dah terhitung cukup lumayan"&lt;br /&gt;"Maksudmu, kau dan aku bertindak seba-gai pembantu dimana perlu" kata Tang Cuan&lt;br /&gt;"Tepat sekali!" Cu Siau hong manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Siau hong, aku rasa posisi semacam ini memang cukup baik, tapi bagaimana cara-nya untuk dilakukan?"&lt;br /&gt;Dengan suara rendah Cu Siau hong sege-ra membeberkan rencana yang telah diaturnya itu.&lt;br /&gt;Selesai mendengar rencana tersebut, Pek Bwe maupun Tang Cuan sekalian diam-diam mengangguk memuji.&lt;br /&gt;Baru saja beberapa orang itu selesai berunding, Tan Tiang kim telah muncul dengan langkah tergesa-gesa, serunya kemudian:&lt;br /&gt;"Oooh, rupanya kalian semua berada disini"&lt;br /&gt;'Ada apa? Ada sesuatu persoalan yang amat penting?" sela Pek Bwe dengan cepat.&lt;br /&gt;"Barusan Lo pangcu memberitahukan dua hal kepadaku ...."&lt;br /&gt;"Soal apa?"&lt;br /&gt;Tan Tiang kim segara mengalihkan sorot matanya ke wajah Cu Siau hong, kemudian katanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Didalam persoalan ini, terpaksa dia harus merepotkan Siau hong sejenak"&lt;br /&gt;"Merepotkan Siau hong sejenak?' seru Pek Bwe tercengang, "sebenarnya apa yang telah terjadi?"&lt;br /&gt;"Barusan perkumpulan kami mendapat sebuah berita yang mengatakan ada sebuah kereta yang megah memasuki kota Siang yang."&lt;br /&gt;"Oooh .....? Siapa yang berada di dalam kereta itu?" tanya Pek Bwe.&lt;br /&gt;"Dalam kereta itu duduk seorang nona, sedang kusirnya adalah seorang perempuan tua."&lt;br /&gt;Pek Hong segera berkerut kening, kata-nya kemudian.&lt;br /&gt;"Locianpwe apa hubungannya antara kereta itu dengan Siau hong?"&lt;br /&gt;"Setelah memasuki kota Siang yang, sepanjang jalan nona itu telah melukai dua belas orang"&lt;br /&gt;"Siapa saja yang dilukai?" tanya Pek-Bwe.&lt;br /&gt;"Tentu saja anggota perkumpulan kami'&lt;br /&gt;"Sudah mati semua?"&lt;br /&gt;"Belum! Mereka semua hanya dihajar oleh semacam benda yang kecil, sekarang hingga jalan darahnya terluka"&lt;br /&gt;'Maksudmu ilmu To lip to hiat sinkang (biji Kacang hijau menghajar jalan darah)?"&lt;br /&gt;"Yaa, sebangsa kepandaian itulah, kini pihak kami telah mengutus empat orang jago untuk melakukan penghadangan"&lt;br /&gt;"Dan Siau hong diharapkan turut serta?' kembali Pek Bwee menyela:&lt;br /&gt;"Sebenarnya aku yang hendak pergi, tapi pangcu kami berharap Siau hong yang bisa turut serta dalam operasi kali ini"&lt;br /&gt;Pek Hong segera menghembuskan napas panjang.&lt;br /&gt;"Tan cianpwe, mengapa harus Siau hong yang turut serta didalam operasi kali ini?" tanyanya.&lt;br /&gt;"Soal ini aku sendiripun kurang jelas, Lo pangcu yang mengucapkan permintaan tersebut!'&lt;br /&gt;"Kalau toh lo pangcu yang berkata demikian, aku rasa ia pasti mempunyai suata alasan tertentu ........&lt;br /&gt;setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan:&lt;br /&gt;"Locianpwe, apakah hanya Siau hong seorang diri?"&lt;br /&gt;"Selain Sin jut dan Kui meh, masih ada dua orang jago dari perkumpulan Kay pang!"&lt;br /&gt;"Semuanya anak muda?"&lt;br /&gt;"Benar!"&lt;br /&gt;"Maksud lo pangcu ......?"&lt;br /&gt;"Dia orang tua hanya berpesan demikian, tapi tidak menerangkan apa alasannya."&lt;br /&gt;"Oooh. . ."&lt;br /&gt;Dia lantas berpaling dan memandang sekejap ke arah Cu Siau hong, kemudian lanjutnya:&lt;br /&gt;"Siau hong, apa pula pendapatmu sendiri?"&lt;br /&gt;"Boanpwe tidak mempunyai pendapat apa-apa, kalau toh lo pangcu yang berpesan demikian, aku rasa sudah sewajarnya bila aku segera berangkat sekarang juga"&lt;br /&gt;Tan Tiang kim segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Tang Cuan, kemudian katanya:&lt;br /&gt;"Bagaimana menurut pendapat ciangbun-jin?"&lt;br /&gt;"Lo pangcu berpesan demikian, tentu saja ia pergi untuk memenuhinya, Siau hong, pergilah sejenak."&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera bangkit berdiri, lalu katanya:&lt;br /&gt;"Tan Cianpwe, dimanakah orang-orang Kay pang yang ditugaskan dalam operasi kali ini ?"&lt;br /&gt;"Mereka telah mempersiapkan diri dan kini sedang menunggu didepan gerbang."&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera menjura kepada Pek Hong, kemudian katanya:&lt;br /&gt;"Siau hong mohon diri lebih dulu!"&lt;br /&gt;Kemudian sambil membalikkan badannya dia keluar dari ruangan tersebut...."&lt;br /&gt;Pek Hong tidak meninggalkan pesan apa-apa, dia hanya mengawasi bayangan pung-gung Cu Siau hong yang berlalu dengan wajah termangu.&lt;br /&gt;Tan Tiang kim menghela napas panjang, katanya kemudian:&lt;br /&gt;Saudara Pek, Tang ciangbunjin sesungguh-nya anggota Kay pang yang berada dikota Siang yang ini tak sedikit jumlahnya tapi lo-pangcu justru meminta Siau hong yang turun tangan sendiri, dalam hal ini aku si pe-ngemis tua benar-benar tidak habis mengerti, bahkan tidak diketahui dimanakah letak alasannya?"'&lt;br /&gt;"Lo pangcu mempunyai kecerdasan yang luar biasa, dengan pengalaman yang matang semua tindak tanduknva tak mungkin bisa diterka oleh kita sekalian, Aku rasa dia ber-buat begitu pasti mempunyai tujuan tertentu"&lt;br /&gt;"Tan cianpwe, bolehkah kami mengirim orang untuk membantu Siau hong bilamana diperlukan?" tanya Pek Hong.&lt;br /&gt;"Aku rasa tidak perlu, agaknya lo-pangcu sudah mempunyai persiapan yang matang tentang hal ini"&lt;br /&gt;"Kalau memang begitu bagus sekali, kita pun tak usah menguatirkannya lagi"&lt;br /&gt;Ucapan itu mempunyai arti ganda, yakni Cu Siau hong telah diserahhan kepada mereka, seandainya terjadi apa-apa, maka pihak Kay pang lah yang akan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Tan Tiang kim adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman, sudah barang tentu ia memahami apa yang dimaksudkan oleh Pek Hong.&lt;br /&gt;Tapi sebagai jago kawakanpun dia mempunyai cara kerja yang kawakan pula sekalipun memahami namun lagaknya seakan-akan tak tahu, malah sambil tertawa katanya kepada Pek Bwe.&lt;br /&gt;"Saudara Pek, malam itu Lo pangcu dan Siau hong telah keluar bersama?"&lt;br /&gt;"Benar!�" sahut Pek Bwe sambil manggut--manggut.&lt;br /&gt;Dia mengerti, walau pun diluaran Tan Tiang kim bertanya kepadanya, dalam kenyataan dia hendak memberitahukan kepada Pek Hong, agar Pek Hong tahu bahwa diantara Cu Siau hong dengan lo-pangcu sebenarnya sudah mempunyai suatu ikatan hubungan yang erat, dia sebagai orang luar tentu saja tidak memahami duduk persoalan yang sesungguhnya, jadi diapun tak usah kuatir apa-apa.&lt;br /&gt;Bukankah lopangcu dan Cu sauhiap telah berbicara empat mata sampai lama sekali?" Kembali Tan Tiang kim bertanya:&lt;br /&gt;"Benar, benar mereka berdua tampaknya amat cocok satu sama lainnya, pembicara-an telah dilangsungkan amat akrab"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pek Hong yang mendengar perkataan menjadi tertegun, kemudian serunya dengan cepat:&lt;br /&gt;"Ayah, mengapa aku tidak mengetahui tentang kejadian ini!"&lt;br /&gt;Tiada pertarungan yang tidak berbahaya, apalagi sepanjang jalan pihak lawan telah merobohkan anggota Kay pang dengan ilmu to lip to hoat jiu hoat, dari sini terbukti kalau musuh adalah seorang jago silat yang memiliki ilmu silat sangat lihay.&lt;br /&gt;Sekalipun Cu Siau hong memiliki sembilan bagian kesempatan untuk berhasil, toh ia masih memiliki satu bagian kemungkinan untuk kalah, itulah sebabnya Tan Tiang kim berusaha untuk menanamkan semacam kepercayaan dan keyakinan bahwa pemuda itu cukup mampu untuk bertindak tanpa kemungkinan mengalami kekalahan, dengan demikian cara kerja merekapun bisa jauh lebih luwes tanpa harus dibebani pelbagai pikiran.&lt;br /&gt;Setelah mengambil keputusan didalam hatinya, Pek Bwe segera berkata sambil tertawa.&lt;br /&gt;"Ya, mereka memang berbicara dengan akrab sekali sehingga aku sendiripun dilarang turut mendengarkan, aku juga tak tahu apa yang telah mereka bicarakan di dalam pertemuan tersebut.&lt;br /&gt;Kini persoalan telah dibicarakan dengan jelas, bukan hanya Pek Hong saja yang mengerti, malah Tang Cuan yang polos pikirannya pun memahami sepenuhnya.&lt;br /&gt;Maka sambil mengangguk Tang Cuan berkata:&lt;br /&gt;"Maksud loya-cu, diantara Siau hong dengan lo pangcu agaknya telah terjalin satu ikatan janji, bukan begitu?&lt;br /&gt;"Oooh ..... kalau soal itu sih tak nanti bisa dipahami oleh orang-orang yang berada diluar garis"&lt;br /&gt;"Kalau memang diantara mereka berdua sudah mengadakan suatu perjanjian, tentu saja persoalan mana merupakan persoalan pribadi mereka berdua sendiri..&lt;br /&gt;Tan Tiang kim segera tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;"Haaahhh. . . haaahhh. . . haaahhh. . . betul!" serunya, "kini yang dilakukan pangcu kami dengan Siau hong bukan cuma tidak diketahui oleh kalian, sekalipun kami pun juga tak ada yang tahu"&lt;br /&gt;Tang Cuan tertawa, kembali ia berkata.&lt;br /&gt;"Padahal para jago Kay pang berdatangan ke Siang yang tak lain karena persoalan Bu khek bun kami, dalam lal ini Bu khek bun merasa tak sanggup untuk membayarnya, jangan toh baru seorang Cu Siau hong sekalipun meminta kami semua anggota Bu khek bun untuk turun tangan bersama pun tak nanti kami akan menolak"&lt;br /&gt;Tang ciangbunjin, kerajaan punya hukum, dunia persilatan punya peraturan, kami pihak Kay pang telah berhutang kepada Bu khek bun, setiap anggota Kay pang dari lo pangcu, para pejabat sampai anggota yang paling rendah memikirkan persoal-an ini dihati, boleh dibilang tindakan kami sekarang untuk membalas budi, bisa juga dikatakan kami sedang berbakti demi umat persilatan, tapi setelah kami melangkah lebih ke dalam, ternyata diketahui bahwa ke semuanya itu bukan . . . ."&lt;br /&gt;"Lantas karena apa?".&lt;br /&gt;"Menolong diri sendiri, apa yang menimpa Bu khek bun tak lebih hanya merupakan suatu permulaan saja, untung permulaan tersebut diketahui kita semua dengan cepat".&lt;br /&gt;`0ooh....?"&lt;br /&gt;"Kay pang mempunyai banyak jago lihay yang berada di sini, tapi lo pangcu tidakmengutus mereka, sebaliknya meminta bantuan dari Cu Siau hong, kesemuanya ini menerangkan betapa seriusnya masalah ini, selain membantu Kay pang sesungguhnya kalianpun sedang membantu segenap umat persilatan yang berada di dunia ini"&lt;br /&gt;Setelah dikenakan topi tinggi, kontan saja Tang Cuan serta Pek Hong tak sanggup berkata apa-apa lagi, selain merasa sedih merekapun merasakan suatu kenyamanan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga Pek Bwe jauh lebih berpengalaman, katanya sambil tertawa.&lt;br /&gt;"Pengemis tua, perkataanmu memang benar, Lo-pangcu bisa memandang tinggi Siau hong, hal ini merupakan suatu kebanggaan baginya. seluruh Bu khek bun ikut berbangga akan hal itu, tapi subonya dan suhengnya toh tak bisa dibilang hanya duduk belaka sambil menyaksikan perkembangan da-ri peristiwa itu, kalau toh pihak Kay pang telah mengutus orang untuk memberikan bantuan bilamana perlu, rasanya Bu khek bun juga sepantasnya mengirim beberapa orang jagoannya untuk memberikan bantuan"&lt;br /&gt;Mendengar ucapun tersebut, Tan Tiang kim lantas bangkit.&lt;br /&gt;"Bagaimanapun juga jahe makin tua memang semakin pedas, tampaknya sulit untuk menampik kehendak mereka itu, kenapa tidak diluluskan saja dengan cepat?"&lt;br /&gt;Berpikir sampai di situ ia lantas berkata: "Yaa, memang sudah. . seharusnya berbuat demikian, aku pikir bila kalian ingin me-ngutus orang, alangkah baiknya jika merekapun mengubah sedikit wajahnya agar tidak ketahuan lawan.&lt;br /&gt;"Baik dengan situasi dunia persilatan yang serba kacau sekarang, tampaknya memang lebih baik jangan berkelana dengan wajah yang sesungguhnya"&lt;br /&gt;"Sebetulnya kami telah mempersiapkan suatu cara yang amat baik untuk menghadapi lawan" kata Pek Hong. "malah kami ada rencana uutuk mengundang Tan cianpwe guna merundingkan persoalan ini bersama-sama, tapi setelah -ada perkembangan seksrang Ini. tamp.akitya rencana kami itu tak perlu,di laksanakan tagi"&lt;br /&gt;"Rencana apa? Bolehkah dibeberkan dulu kepada aku si pengemis tua?"&lt;br /&gt;"Boleh saja, cuma sekarang belum waktunya, lagipula rencana ini muncul dari idenya Siau hong, aku rasa lebih baik masalah ini dibicarakan lagi menanti dia sudah pulang dengan selamat"&lt;br /&gt;"Baiklah!" ucap Tan Tiang kim kemudian sambil tertawa getir. "kalian berencana ingin mengutus beberapa orang?"&lt;br /&gt;'Anggota Bu khek bun tinggal beberapa orang ini saja, kalau hendak pergi, tentu saja kami akan pergi bersama!"&lt;br /&gt;"Aku rasa hal itu kurang baik". cegah Tan Tiang kim, paling banter hanya dua orang yang boleh turut serta"&lt;br /&gt;'Biar aku yang pergi!` seru Tang Cuan cepat.&lt;br /&gt;"Baik It-ki jugal berangkat....." seru Pek Bwe cepat, "Siau hong telah menolongmu, sekarang kaupun balas menyumbangkan sedikit tenagamu demi kepentingan Siau hong"&lt;br /&gt;Tang Cuan dan Tiong It ki segera mulai berdandan dan menyaru wajah mereka..&lt;br /&gt;-ooo0ooo-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM pada itu, ketika Cu Siau hong tiba didepan pintu gerbang, Sin jut dan Kui meh telah menanti didepan pintu.&lt;br /&gt;Tampaknya persoalan yang terjadi amat serius dan penting, kedua orang anggota Kay pang itu telah berdandan menjadi dua orang pelayan.&lt;br /&gt;Sin Jut serta Kui Meh memang sesung-guhnya berwajah cakap maka setelah berdandan wajah mereka tampak semakin polos dan menarik.&lt;br /&gt;Kedua orang itupun menyoren sebilah pedang dipunggungnya.&lt;br /&gt;Sambil tertawa Cu Siau hong berkata:&lt;br /&gt;"Kenapa kalian berdua telah merubah dandanannya menjadi begini rupa..&lt;br /&gt;Kui Meh Ong peng segera tertawa pula, sahutnya.&lt;br /&gt;"Inilah yang dinamakan Harimau menempuh seribu li makan daging, anjing menempuh seribu li makan najis, bil kami harus dibandingkan dengan Cu kongcu, sudah barang tentu selamanya tak dapat bisa menyusul"&lt;br /&gt;"Oooh.. apa maksudmu?"&lt;br /&gt;"Sekarang kami adalah pelayan Cu kongcu" kata Ong peng menerangkan, "bukankah kongcu sudah mempunyai tiga orang dayang? Kini bisa ditambah lagi dengan dua orang pelayan, hal mana pasti akan semakin menjunjung tinggi tingkat kedudukan kongcu"&lt;br /&gt;"Aaah ..... kejadian semacam ini hanya menurunkan derajat kalian berdua saja, eeh... mana yang lain?"&lt;br /&gt;"Mereka sudah berangkat lebih dulu". sahut Tan Heng cepat, "kini, kitapun harus segera berangkat'&lt;br /&gt;"Baik, mari kita berjalan sambil berbin-cang"&lt;br /&gt;"Padahal kami sendiripun kurang begitu jelas tentang masalah ini" kata Ong Peng, "konon, tugas kita adalah untuk menghadang sebuah kereta kuda, lo pangcu telah berpesan agar segala sesuatunya menurut perkataan kongcu, kami harus bersikap seolah-olah kami memang benar-benar pelayannya kongcu '&lt;br /&gt;"Apakah kalian berdua sudah tahu kereta kuda itu kini diparkir di mana ?"&lt;br /&gt;"Soal itu tak perlu kongcu risaukan, sebab anggota perkumpulan kami akan segera mengabarkan tempat tersebut kepada kita bertiga"&lt;br /&gt;Dibawah petunjuk dari para anggota Kay pang yang berada di sepanjang jalan, dengan cepat mereka bertiga telah berhasil menyusul kereta kuda tersebut .......&lt;br /&gt;Yang bertindak sebagai kusir kereta adalah seorang nenek yang rambutnya telah beruban semua, wajahnya dingin dan kaku seakan-akan semua orang di dunia ini telah berhutang banyak kepadanya dan sampai sekarang belum dibayar.&lt;br /&gt;Kereta itu masih berada di jalan raya beberapa li di kota sebelah selatan, jelas penjagaan yang dilakukan pihak Kay pang ketat sekali, beberapa puluh li di luar kota sudah berada di bawah pengawasan mereka.&lt;br /&gt;Walaupun jalan raya itu luas namun orang yang berlalu lalang sedikit sekali.&lt;br /&gt;Ketika mereka tiba beberapa puluh kaki di depan kereta tersebut, mendadak dari belakang sebatang pohon telah melompat keluar seorang anggota Kay pang yang segera berbisik:&lt;br /&gt;"Kereta didepan itulah sasaran kita, hati-hati dengan cambuk panjang dari si nenek itu dia telah melukai puluhan orang anggota perkumpulan kita"&lt;br /&gt;Cu Siau hong manggut-manggut, dia segera memperlambat langkahnya dan pelan-pelan maju ke depan.&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat, kereta itu telah tiba di depannya.&lt;br /&gt;Sewaktu selisih jarak kedua belah pihak masih ada tiga empat kaki mendadak kere-ta itu berhenti.&lt;br /&gt;Melihat jalan perginya dihadang orang si nenek yang berada diatas kereta itu menarik muka kemudian berkata dengan dingin.&lt;br /&gt;"Bocah muda tampaknya kau telah bosan hidup."&lt;br /&gt;"Tidak aku masih ingin hidup seratus tahun lagi, aku belum ingin mati apalagi dalam usiaku yang masih begini muda"&lt;br /&gt;Dengan sorot mata yang tajam nenek itu mengawasi sekejap seluruh tubuh Cu Siau hong, setelah itu tegurnya:&lt;br /&gt;"Bila tak ingin mati mengapa kau menghadang didepan kereta kami?"&lt;br /&gt;"Aku rasa jalan raya ini bukan hanya khusus untuk dilalui kereta saja, manusiapun boleh melewatinya"&lt;br /&gt;Si nenek berambut putih itu segera tertawa dingin.&lt;br /&gt;"Betul manusiapun boleh melewati jalan raya ini" sahutnya, "cuma kalau kau tidak berniat menghindari kereta, maka tubuhmu akan tergilas oleh roda-roda kereta"&lt;br /&gt;"Oya? aku mempunyai pandangan lain, aku rasa kereta ini belum tentu bisa menggilas orang sampai mati"&lt;br /&gt;Dengan geramnya nenek berambut putih itu mendengus dingin.&lt;br /&gt;"Orang muda, apakah kau ingin mencobanya?"&lt;br /&gt;"Betul, aku memang ingin mencobanya"&lt;br /&gt;"Hei bocah cilik, tampaknya kau memang ada maksud untuk mencari gara-gara dengan kami?"&lt;br /&gt;'Nyonya tua, kalau kau beranggapan demikian, Yaa .... apa boleh buat lagi!"&lt;br /&gt;Tiba-tiba nenek berambut putih itu mengayunkan cambuknya dan segera diayun-kan ke depan.&lt;br /&gt;Diiringi suara desingan angin tajam, cambuk tersebut segera menyambar ke muka.&lt;br /&gt;Siau hong mendengus dingin, jengeknya:&lt;br /&gt;"Hei nenek, kenapa kau sembarangan melukai orang?"&lt;br /&gt;Tangan kanannya segera diangkat dan menyambar cambuk panjang itu, kemudian di betotnyn keras-keras.&lt;br /&gt;Begitu Cu Siau hong membetot, ternyata nenek itupun turut membetot sekuat tenaga.&lt;br /&gt;Jadinya kedua belah pihak saling membetot dan saling bertahan dengan sepenuh tena-ga.&lt;br /&gt;"Taass. . " tiba-tiba cambuk panjang yang diperebutkan itu patah menjadi dua bagian.&lt;br /&gt;Menyaksikan kejadian itu, paras muka si nenek berambut putih itu segera berubah hebat, teriaknya:&lt;br /&gt;"Bocah keparat, rupanya kau memiliki kepandaian juga!"&lt;br /&gt;Tampak tirai kereta sedikit bergoyang, tahu-tahu ada dua bintik cahaya putih meluncur keluar.&lt;br /&gt;Cahaya putih tersebut bukan saja datangnya amat cepat, lagipula kecil sekali, sama sekali tidak membawa setitik desingan a-ngin. seranganpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tertawa dingin Cu Siau hong segera berseru:&lt;br /&gt;"Inilah sebab dari kematian mereka!"&lt;br /&gt;Seraya berkata dengan cepat dia berkelit sejauh tujuh delapan depa dari posisi semula.&lt;br /&gt;Sin jut dan Kui meh yang ada disisinya mendadak menyerbu kedepan sambil berteriak keras:&lt;br /&gt;"Aduh celaka, ditengah hari bolong kalian berani berbuat kejahatan hendak membunuh orang"&lt;br /&gt;Sembari berkata, tubuh mereka telah mendekati kereta tersebut.&lt;br /&gt;"Kembali!" bentak Cu Siau hong dengan suara keras.&lt;br /&gt;Tapi sayang terlambat selangkah, tirai kereta itu kembali tampak bergerak, Sin jut dan Kui meh segera roboh terkapar diatas -tanah.&lt;br /&gt;Cu Siau hong yang menyaksikan kejadian itu segera berkerut kening, secara secepat kilat dia melompat kedepan ke kereta itu.&lt;br /&gt;Begitu sampai didepan kereta, pedangnya turut diloloskan pula dari sarungnya.&lt;br /&gt;Tampak cahaya tajam berkelebat lewat, tiga ekor kuda yang menarik kereta itu tiba-tiba kabur kedepan.&lt;br /&gt;Meski kudanya tetap kabur, ternyata keretanya masih tetap terhenti ditempat se-mula.&lt;br /&gt;Rupanya dalam kilatan cahaya pedang yang menyambar lewat tadi, Cu Siau hong telah mematahkan tali pengikat antara sang kuda dengan kereta itu, sehingga dengan demikian tiga ekor kuda itupun bebas dari belenggu.&lt;br /&gt;"Blaaammm. . ." kereta yang berada dibagian muka segera terjatuh keatas tanah.&lt;br /&gt;Gerakan pedang dari Cu Siau hong itu cepat bagaikan sambaran petir tahu-tahu ujung pedangnya telah menuding kehadapan wajah si nenek berambut putih itu.&lt;br /&gt;Tapi gerakan tubuh dari nenek berambut putih itupun cepat sekali, belum lagi pedang Cu Siau hong menyambar tiba, orangnya sudah melayang dulu kesamping.&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera memutar pedangnya secepat kilat, "Taass, taass . !" tirai yang menutupi ruang kereta itu tahu-tahu rontok keatas tanah"&lt;br /&gt;Ternyata ia cukup cekatan, gerakan tubuhnyapun amat cepat, begitu tirai kereta terjatuh ke tanah, tubuhnya segera menjatuhkan diri ke belakang dengan gerakan jembatan gantung.&lt;br /&gt;Menyusui kemudian dia berjumpalitan beberapa kali dan menggelinding sejauh li-ma depa lebih, kemudian baru melejit bangun..�&lt;br /&gt;Empat titik cahaya perak yang amat menyilaukan mata menyambar lewat dikala Cu Siau hong menjatuhkan tubuhnya ke belakang tadi.&lt;br /&gt;Entah senjata rahasia apa yang digunakan, ternyata sambaran senjata tersebut sama sekali tidak menimbulkan suara, begitu terkena korbannya segera roboh terkapar.&lt;br /&gt;-ooo0ooo-&lt;br /&gt;BAGIAN 30&lt;br /&gt;CU SIAU HONG telah melejit bangun, kemudian sambil membalikkan badan ia menubruk ke arah nenek berambut putih itu.&lt;br /&gt;Dengan jurus pedangnya yang begitu a-neh, belum sempat nenek itu menghindarkan diri, ujung pedang Cu Siau hong telah menempel diatas tenggorokannya.&lt;br /&gt;Nenek itu menjadi tertegun serunya kemudian:&lt;br /&gt;"Sekarang aku sedang marah, hawa napsu membunuhku sangat tebal, bila kau masih belum ingin mampus, lebih baik jangan sembarangan bergerak" ancam Cu Siau gong segera&lt;br /&gt;'Lepaskan dia?" tiba-tiba dari balik kereta bergema suara seruan yang amat merdu.&lt;br /&gt;"Besar amat lagakmu!" dengus Cu Siau hong dingin."&lt;br /&gt;Terdengar suara keleningan yang merdu, seorang gadis berbaju hijau yang berparas cantik pelan-pelan berjalan keluar dari dalam ruang kereta kuda itu.&lt;br /&gt;Dengan suatu gerakan yang cepat, Cu Siau hong menotok jalan darah nenek itu dengan tangan kirinya, kemudian ujarnya dingin.&lt;br /&gt;"Dengarkan baik-baik, kedua orang pembantuku telah terluka ditangan kalian, maka sekarang si nenek itupun telah kulukai deng-an ilmu totokan khususku . ... '&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju biru itu memperhatikan Cu Siau hong sekejap, kemudian tersenyum ujarnya:&lt;br /&gt;"Telah terluka oleh suatu ilmu khusus?"&lt;br /&gt;Aku ingin melihat, macam apakah yang disebut sebagai ilmu totokan khusus itu?"&lt;br /&gt;"Oooh... jadi nona bermaksud untuk mencoba apakah bisa membebaskan totokan tersebut atau tidak?"&lt;br /&gt;"Aku rasa ilmu menotok jalan darah yang berada di dunia ini hampir sama satu sama lainnya, aku rasa kata totokan khusus tersebut kurang tepat cara penggunaannya"&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera maju selangkah dan menahadang jalan pergi nona cantik berbaju hijau itu, kemudian katanya dengan dingin:&lt;br /&gt;"Nona kedua orang pembantuku itu telah terluka oleh senjata rahasia apa?'&lt;br /&gt;Bukankah kau pandai mempergunakan ilmu menotok jalan darah khusus? Apakah tak bisa kau saksikan sendiri mereka telah terluka oleh senjata rahasia macam apa?"&lt;br /&gt;'Nona, senjata rahasia yang ada dikolong langit berjumlah ratusan macam banyaknya, bahkan memetik daunpun bisa diipakai untuk melukai musuh, sambaran bunga dapat membunuh orang, aku hanya bisa melihat kalau senjata rahasia yang nona gunakan itu bukan terbuat dari besi biasa"&lt;br /&gt;Emmm... setelah kudengar beberapa patah katamu itu dapat kusimpulkan kalau kau memang mempunyai sedikit pengetahuan."&lt;br /&gt;Mendadak Cu Siau hong menukas dengan suara yang keras:&lt;br /&gt;"Nona, berhati-hatilah kau!"&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja dia melancarkan sebuah tusukan pedang ke depan..&lt;br /&gt;Tampak cahaya tajam berkelebat lewat nona cantik berbaju hijau itu segera terdesak mundur sejauh dua langkah.&lt;br /&gt;Dengan wajah kaget bercampur terce-ngang nona cantik berbaju hijau itu segera mengawasi lawannya sambil berseru:&lt;br /&gt;"Benar-benar suatu kepandaian yang he-bat, ilmu pedang yang luar biasa.."&lt;br /&gt;"Kau terlampau memuji!"&lt;br /&gt;Pedangnya kembali digerakan melakukan suatu tusukan kesamping, ujung pedang itu segera menyergap keatas tenggorokan nenek berambut itu ....&lt;br /&gt;"Tahan, buru-buru nona cantik kerbaju hijau itu berseru.&lt;br /&gt;Ujung pedang itu segera berhenti hanya satu inci saja dari atas tenggorokan nenek itu.&lt;br /&gt;"Apa yang hendak kau lakukan? nona berbaju hijau itu menegur.&lt;br /&gt;"Apa lagi? Tentu saja membunuh orang."&lt;br /&gt;"Kau hendak membinasakan dirinya?" tanya nona cantik berbaju hijau itu dengan wajah tercengang.&lt;br /&gt;"Mengapa tidak? Baik atau buruk, aku akan membuktikan kepadamu kalau aku memiliki kemampuan untuk membinasakan di-rinya"&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau itu segera manggut-manggut, ujarnya kemudian.&lt;br /&gt;"Aku sudah begini dewasa, sepanjang jalan kemari beratus-ratus li sudah kutempuh, tapi baru pertama kali ini kujumpai ada orang yang sanggup memaksa aku mundur dalam serangannya yang pertama, cuma sekali pun kau membunuhnya juga sama sekali tak akan bermanfaat bagi dirimu pribadi!"&lt;br /&gt;"Apakah nona tidak berharap aku mem-bunuhnya?"&lt;br /&gt;"Benar!"&lt;br /&gt;"Boleh saja, tapi akupun berharap agar kedua orang pelayanku itu sadar lebih dulu.&lt;br /&gt;TIBA-TIBA saja sikap si nona cantik berbaju hijau itu berubah menjadi lemah lembut, sambil mengangguk dia menjawab:&lt;br /&gt;"Baiklah, aku akan segera menolong mereka!"&lt;br /&gt;Ia lantas membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Sin-jut serta Kui--meh, kemudian berjongkok di sisinya.&lt;br /&gt;Kurang lebih seperempat jam kemudian, pelan-pelan dia baru bangkit berdiri.&lt;br /&gt;Ketika dia berjongkok tadi, punggung-nya menghadap ke arah Cu Siau-hong, o-leh karena itu Cu Siau-hong sama sekali tidak melihat dengan jelas apa saja yang telah dia lakukan.&lt;br /&gt;Akan tetapi, sewaktu dia bangkit berdiri kembali, lamat-lamat tampak air keringat membasahi wajahnya.&lt;br /&gt;Agak tergetar juga perasaan Cu Siau-hong menghadapi kenyataan tersebut, segera serunya.&lt;br /&gt;'Agaknya nona lelah sekali"&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau itu segera menghembuskan napas panjang, katanya:&lt;br /&gt;"Apakahkau ingin menyaksikan sendiri senjata rahasia apakah yang telah melu-kai mereka?"&lt;br /&gt;Dengan mempersiapkan diri sebaik-baik nya untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan, Cu Siau-hong mengangguk.&lt;br /&gt;"Baik . . . akan kusaksikan sendiri senjata rahasia macam apakah itu.''&lt;br /&gt;Pelan-pelan nona cantik berbaju hijau itu menjulurkan tangan kirinya ke depan.&lt;br /&gt;Diantara telapak tangannya yang putih dengan ke sepuluh jari tangannya yang runcing dan ramping, tampak ada dua batang jarum yang tipis sekali masing-masing sepanjang lima hun.&lt;br /&gt;Cu Siau hong telah memperhatikan ben-da itu dengan seksama, namun dan tidak berhasil mengenali benda apakah itu.&lt;br /&gt;"Tahukah kau, senjata rahasia apakah ini?' tanya nona cantik berbaju hijau itu kemudian.&lt;br /&gt;Cu Siau hong menggelengkan kepalanya berulang kali.&lt;br /&gt;"Belum pernah kusaksikan senjata rahasia semacam ini, tentu saja aku tidak dapat mengenalinya" dia menjawab.&lt;br /&gt;Perlukah kuberitahukan hal ini kepadamu?"&lt;br /&gt;"Dengan senang hai! aku akan membu-ka telingaku lebar-lebar"&lt;br /&gt;"Benda ini bernama Toan hun ci (duri pemutus nyawa), diujung senjata ini telah kupolesi dengan suatu obat pemati rasa, yang sangat kuat, itulah sebabnya barang siapa terkena senjata rahasia ini, dia sege-ra akan jatuh tak sadarkan diri, sekalipun tampaknya mereka roboh terkapar, sesungguhnya belum mati, cuma saja benda itu akan segera menyusut begitu terkena aliran darah panas, satu jam kemudian sari obat tadi a-kan hancur menjadi berkeping-keping dan turut mengalir didalam peredaran darah manusia, dua belas jam kemudian obat ta-di baru akan menyerang kedalam jantung, nah pada saat itulah sang korban baru benar-benar mati"&lt;br /&gt;"Oooh... betul-betul teramat keji!"&lt;br /&gt;"Sekalipun amat keji dan berbahaya namun sang korban sama sekali tidak merasakan penderitaan apa-apa, mereka akan mati dalam keadaan tidak sadar sama sekali."&lt;br /&gt;'Benda apakahyang kau pergunakan un-tuk membuat duri pemutus nyawa ini . ." tanya Cu Siau hong tiba-tiba.&lt;br /&gt;"Selama hidua jangan kau harap bisa melihatnya, sebab benda itu terbuat dari sejenis tumbuh-tumbuhan yang sangat a-neh, semacam senjata rahasia yang bersifat alam''&lt;br /&gt;Cu Siau hong berpaling dan memandang sekejap kearah Sin jut dan Kui meh, kemudian katanya:&lt;br /&gt;'Kenapa mereka belum juga mendusin?'&lt;br /&gt;''Sekarang daya kerja obat itu belum luntur samna sekali, tapi dengan cepatnya mereka akan mendusin kembali"&lt;br /&gt;''Apakah ilmu silat mereka akan mende-rita kerugian?"&lt;br /&gt;''Sama sekali tidak, sebab senjata raha-sia yang bersifat alam ini hanya akan memabukkan manusia saja, setelah sadar kembali, segala sesuatunya akan tetap seperti sedia kala'&lt;br /&gt;'Nona, asal mereka benar-benar tidak menderita kerugian apa-apa, maka akupun tak akan mencelakai si nenek ini"&lt;br /&gt;'Apakah kau yang bernama Cu Siau hong? Tiba-tiba nona cantik berbaju hijau berta-nya.&lt;br /&gt;"Benar"&lt;br /&gt;"Tampaknya kau adalah orang yang sangat teliti"&lt;br /&gt;Cu Siau hong menghela napas panjang.&lt;br /&gt;"Tampaknya nona sangat memahami ten-tang diriku?" katanya.&lt;br /&gt;"Jadi kau yang membunuh Keng Ji kongcu"&lt;br /&gt;"Benar"&lt;br /&gt;"Tidak gampang ilmu silat yang dia miliki lumayan sekali dan lagi diapun seorang yang cermat dan seksama"&lt;br /&gt;"Persoalannya akupun amat cermat dan lagi ilmu silat yang kumilikipun lumayan juga, oleh sebab itu diapun tidak beruntun dan mati diujung pedangku"&lt;br /&gt;'Oooh...."&lt;br /&gt;"Apakah nona berhasrat untuk membalas-kan dendam bagi kematiannya?"&lt;br /&gt;"Aku sama sekali tidak mempunyai rencana itu"&lt;br /&gt;"Maka kaupun telah menyelidiki dengan jelas segala sesuatu tentang diriku ?"&lt;br /&gt;"Tahu diri tahu lawan, setiap pertempuran baru bisa menang, tapi kenyataannya kau sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang diriku".&lt;br /&gt;'Terhadap Keng Ji kongcu pun tidak banyak yang ku ketahui"&lt;br /&gt;"Kau terlalu percaya pada dirimu sendiri"&lt;br /&gt;"Nona terlalu memuji''&lt;br /&gt;Sementara itu Sin jut dan Kui meh telah bangun dan duduk.&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera berkata:&lt;br /&gt;'Kalian sudah terkena semacam senjata rahasia yang sangat aneh milik nona ini, untung saja dia telah menyelamatkan kalian"&lt;br /&gt;Sin jut dan Kui meh saling berpandangan sekejap, kemudian katanya bersama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kongcu lah yang telah menyelamatkan kami"&lt;br /&gt;"Tak bisa dibilang aku yang telah menolong kalian, sebab bila nona ini enggan turun tangan, terpaksa aku hanya bisa membalaskan dendam untuk kalian"&lt;br /&gt;Tiba-tiba terlintas hawa gusar diatas wajah nona berbaju hijau itu, bentaknya dengan cepat:&lt;br /&gt;''Cu Siau hong, kau mengatakan dirimu sanggup untuk membunuh aku?"&lt;br /&gt;"Paling tidak aku dapat membunuhnya"&lt;br /&gt;Dengan dingin nona itu berkata lagi.&lt;br /&gt;"Sekarang kau boleh menyingkir dari situ, aku hendak membebaskan jalan darah nya yang tertotok, kemudian .....'&lt;br /&gt;"Tunggu sebentar, biar aku bertanya dulu kepadanya sampai jelas kemudian baru nona demontrasikan keahlianmu untuk membebaskan dirinya dari pengaruh totokan"&lt;br /&gt;'Kau sukar dihadapi, juga cerewetnya setengah mati"&lt;br /&gt;Cu Siau hong sama sekali tidak menggubris ucapan itu, dan mengerling sekejap ke arah Sin jut dan Kui meh, kemudian katanya.&lt;br /&gt;"Cobalah untuk menghatur napas, apakah ilmu silat yang kalian miliki masih utuh ataukah menderita gangguan besar"&lt;br /&gt;Sin jut dan Kui meh kembali saling berpandangan sekejap, kemudian dengan sangat berhati hati mereka mencoba untuk menga-tur pernapasan.&lt;br /&gt;Cu Siau hong dengan pedang terhunus bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, sepasang matanya mengawasi gerak gerik nona berbaju hijau itu tanpa berkedip.&lt;br /&gt;Lebih kurang seperempat jam kemudian, Sin jut dan Kui meh baru menyelesaikan semadinya, setelah mendeham pelan sahut-nya.&lt;br /&gt;"Kami sangat baik, ilmu silat yang di milikipun sama sekali tidak mengalami gangguan"&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera menyingkir kesamping kemudian katanya:&lt;br /&gt;"Nona, sekarang kau boleh mencoba untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok."&lt;br /&gt;Sistim perotokan jalan darah yang dipergunakan olehnya itu berasal dari kitab pemberian si kusir kuda Lo liok, sebetulnya berasal dari perguruan manakah kepandaian itu, Cu Siau hong sendiripun tak tahu.&lt;br /&gt;Tapi Cu Siau hong dapat merasakan bahwa kepandaian tersebut sama sekali berbeda dengan ilmu menotok jalan darah dari perguruannya.&lt;br /&gt;Nona berbaju hijau itu segera maju ke depan dan pelan-pelan berjongkok diatas ta-nah, setelah memeriksa keadaan yang diderita si nenek berambut putih itu dengan seksama, secara beruntun dia melepaskan tiga buah pukulan diatas tiga buah jalan darah penting ditubuh nenek tersebut.&lt;br /&gt;Dengan sorot mata tajam, Cu Siau hong mengawasi terus gerak gerik tangan si nona berbaju hijau itu, setelah diamatinya beberapa waktu, dia berkata:&lt;br /&gt;'Nona, bila caramu membebaskan totokan tersebut keliru, kemungkinan besar akan be-rakibat jiwanya terancam bahaya maut, oleh sebab itu kuanjurkan kepada nona, agar jan6gan keras kepala.&lt;br /&gt;Nona berbaju hijau itu sama sekali tidak berpaling, sepasang tangannya secara gen-car menotok sekujur tubuh nenek berambut putih itu.&lt;br /&gt;Tampak keringat telah membasahi seluruh tubuh si nenek dengan derasnya, jelas dia- memang merasakan suatu penderitaan yang luar biasa sekali.&lt;br /&gt;Kembali nona berbaju hijau itu merubah gerakan tangannya, dari totokan kini berubah menjadi tepukan tiada hentinya dia menepuk seluruh badan nenek itu.&lt;br /&gt;Cu Siau hong yang menyaksikan kejadian itu segera berkerut kening, dia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu di-urungkan.&lt;br /&gt;Mendadak secara berbareng nona berbaju hijau itu menggerakkan sepasang telapak tangannya dan secara beruntun melepaskan tiga buah pukulan yang menghantam enam buah jalan darah penting ditubuh nenek tersebut.&lt;br /&gt;Nenek berambut putih itu segera menghembuskan napas panjang, pelan-pelan dia bangkit dan duduk.&lt;br /&gt;Nona berbaju hijau itupun bangkit berdiri, sambil membalikkan badan dan meman-dang sekejap ke arah Cu Siau hong, katanya:&lt;br /&gt;Benar-benar sangat hebat, rupanya kau telah menotok Khi keng pat-mehnya...''&lt;br /&gt;"Benar, memang jalan darah pada khi kheng pat meh yang telah kototok, tapi toh akhirnya berhasil juga nona bebaskan"&lt;br /&gt;"Tapi kau telah membuang banyak waktu, juga membuat popo harus merasakan penderitaan yang cukup lama."&lt;br /&gt;"Yaaa, apa boleh buat, terpaksa aku harus berbuat demikian, siapa suruh nona terlalu keras kepala?"&lt;br /&gt;Nona berbaju hijau itu tertawa hambar, katanya kemudian:&lt;br /&gt;''Untung saja Cia popo memiliki dasar tenaga dalam yang baik, sedikit penderitaan tersebut masih sanggup dia tahan"&lt;br /&gt;Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan:&lt;br /&gt;''Ilmu totokant jalan darah semacam ini tampaknya bukan berasal dari perguruari Bu khek bun'`&lt;br /&gt;"Apa pula sangkut pautnya antara hal ini dengan diri nona?''&lt;br /&gt;"Darimana kau pelajari ilmu menotok jalan darah tersebut?''&lt;br /&gt;"Kenapa? Apakah hal inipun ada sangkut pautnva dengan dirimu?''&lt;br /&gt;''Betul, besar sekali sangkut pautnya, sebrab ilmu menotok jalan darah yang kau gunakan itu bukan kepandaian silat dari dar-atan Tionggoan'&lt;br /&gt;,Agak tergetar juga perasaan Cu Siau-hong setelah mendengar perkataan itu, segera pikitrnya.&lt;br /&gt;"Mungkinkah ilmu silat yang kuperoleh dari kitab tersebut bukan ilmu silat dari daratan Tionggoan"&lt;br /&gt;Terdengar nona berbaju hijau itu berkata lagi.&lt;br /&gt;"Cu Siau hong apa hubunganmu dengan Thian san siang koay (Sepasang manusia aneh dari Thian san)?"&lt;br /&gt;'Thian san siang koay?"&lt;br /&gt;`Benar"&lt;br /&gt;'Aku belum pernah bertemu dengan mereka"&lt;br /&gt;"Ilmu menotok jalan darah yang kau pergunakan itu merupakan ilmu khas milik Thian san siang koay, bila kau tak pernah mengenal dengan mereka, kenapa kau gunakan kepandaian silatnya?"&lt;br /&gt;"Ilmu silat yang berada didunia ini sumbernya adalah satu, sekalipun ilmu menotok jalan darah yang kupergunakan mempunyai kemiripan dengan ilmu menotok jalan darah Thian san siang koay, toh bukan berarti Thian san siang koay yang mewariskan kepandaian tersebut kepadaku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nona cantik berbaju hijau itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia ber-kata.&lt;br /&gt;''Sekarang, aku sudah mempercayai satu hal yakni au memang sanggup untuk membunuh Keng Ji kongcu"&lt;br /&gt;"Dalam kenyataan keng Ji kongcu memang tewas ditanganku, tapi entah hubungan apakah yang terjalin antara nona dengan Keng Ji kongcu?'&lt;br /&gt;"Kalau kukatakan, maka akan terjadi lah suatu akibat yang benar-benar menakutkan"&lt;br /&gt;"Oya "&lt;br /&gt;"Tapi jika kau bersikeras ingin mendengarnya, dengan senang hati akan kusampaikan kepadamu'.&lt;br /&gt;Apa yang bakal terjadi akhirnya akan terjadi juga, sekalipun aku tak bersedia mendengarkan juga tak bisa merubah kenyataan ini betul bukan ..... ?"&lt;br /&gt;'Hanya ada satu hal yang berbeda, bila kau tidak tahu, mungkin saja kami akan melewatkan kesempatan hal ini dengan begitu saja, bila kau sudah tahu, terpaksa kami akan membuat perhitungan denganmu sampai impas, sekarang kau boleh memilih sendiri'&lt;br /&gt;''Aku pikir lebih baik aku memilih untuk mendengarkan''&lt;br /&gt;Dengan dingin nona berbaju hijau itu segera berseru:&lt;br /&gt;'Cu Siau hong, apakah kau bersikeras ingin tahu?"&lt;br /&gt;"Benar! Aku tak pernah menyukai suatu pekerjaan yang membingungkan, maka harap nona bersedia untuk menjelaskan.''&lt;br /&gt;'Dengarkanlah baik-baik..... Keng Ji kongcu adalah suhengku, juga merupakan bakal suamiku, setelah kau membunuhnya, pantas tidak bila aku membuat perhitungan dengan mu?"&lt;br /&gt;Pelan-pelan Cu Siau hong mengangguk.&lt;br /&gt;'Yaa, memang sepantasnya kalau membalaskan dendam baginya"&lt;br /&gt;"Bagus sekali, dan sekarang aku hendak membalaskan dendam bagi kematiannya"&lt;br /&gt;"Oleh karena itu sepanjang jalan kau melakukan pembantaian, membunuh banyak sekali anggota Kay pang?'&lt;br /&gt;"Kau toh bukan anggota Kay pang, Apa sangkut pautnya persoalan ini dengan dirimu?"&lt;br /&gt;"Suatu pertanyaan yang bagus sekali, ke-tika Keng Ji kongcu membawa para pendekar pedang macan kumbang hitamnya me-nyerang perkampungan Ing gwat san ceng dan membunuh puluhan orang anggota Bu khek bun kami, apakah hal ini tiada sangkut pautnya dengan diriku?'&lt;br /&gt;"Nona berbaju hijau itu tertegun beberapa saat lamanya, kemudian menyahut.&lt;br /&gt;''Tentu saja ada hubungannya!"&lt;br /&gt;''Nona, tampaknya kau adalah seorang yang tahu peraturan"&lt;br /&gt;"Aku memang selalu tahu aturan.!"&lt;br /&gt;"Kalau tahu aturan, pembicaraan jadi lebih gampang untuk dilakukan lebih jauh."&lt;br /&gt;Nona berbaju hijau itu menghembuskan napas panjang, tukasnya tiba-tiba:&lt;br /&gt;Perhitungan tersebut lebih baik tak usah kita perhitungkan lagi, sekali pun hen-dak diperhitungkan juga tak bakal menjadi beres"&lt;br /&gt;"Maksud nona..."&lt;br /&gt;"Kali ini aku datang sendiri kemari sesungguhnya hanya ada satu maksud saja .. .. "&lt;br /&gt;''Membalaskan dendam bagi kematian calon suamimu?" tukas Cu Siau hong tiba--tiba.&lt;br /&gt;''Bila kau berkata demikian, maka ucapanmu itu tak bisa dianggap salah, cuma selamanya aku sulit untuk menerangkan dulu duduknya persoalan sampai jelas, perlu kau ketahui perkawinanku dengan Keng Ji kongcu baru disetujui oleh angkatan tua, sedangkan aku pribadi sama sekali belum memberi jawabannya!'&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Sebab dia sangat romantis, aku per-nah dengar orang berkata, dia adalah seorang lelaki hidung bangor, yang paling gemar main perempuan."&lt;br /&gt;"Oooh..? '&lt;br /&gt;"Tentang soal ini, apakah kau juga tahu?'&lt;br /&gt;"Tidak begitu jelas" jawab Cu Siau hong "sebab aku tidak lama bertemu dengan Keng Ji kongcu"&lt;br /&gt;"Sekarang dia telah mati, perduli aku datang dengan kedudukan sebagai apa, sudah sewajarnya bila kubalaskan dendam bagi kematiannya!"&lt;br /&gt;"Betul!'&lt;br /&gt;"Sekarang kau masih ada pesan terakhir apa yang hendak kau tinggalkan? Cu Siau hong?"&lt;br /&gt;"Pesan terakhir sih tak ada, cuma aku ingin mengadakan suatu perjanjian dengan nona''&lt;br /&gt;"Baik, katakanlah, asal bisa kukabulkan pasti, tak akan kutampik"&lt;br /&gt;"Didalam pertarungan yang bakal berlangsung nanti, hanya melibatkan kau dan aku saja, bila aku mati, dendam sakit hati nona sudah terlampiaskan, maka kaupun tak boleh mencari anggota Bu khek bun yang lain untuk membuat perhitungan"&lt;br /&gt;"Tapi bila aku yang mati pasti ada orang yang datang mencari dirimu lagi"&lt;br /&gt;''Bila aku membunuhmu, maka keadaan-nya bertambah berlarut-larut, terpaksa akupun akan bertahan terus sampai mati''&lt;br /&gt;Nona berbaju hijau itu menghela napas panjang, katanya.&lt;br /&gt;"Padahal belum tentu benar demikian, Keng Ji kongcu telah membunuh kalian orang-orang Bu khek bun, bukankah kalian tetap mencarinya untuk membalas dendam? Bila aku membunuhmu, aku rasa pasti ada pula orang-orang yang akan datang mencariku untuk membuat perhitungan"&lt;br /&gt;"Kerajaan ada wet hukum, dunia persila-tan ada peraturan, bila seorang telah me-langgar hukum, dia sudah sepantasnya kalau dijatuhi hukuman sesuai dengan apa yang diperbuat, tapi bila seorang telah melanggar peraturan dunia persilatan, bukankah diapun harus menerima hukuman yang setimpal pu-la dari para jago persilatan sesuai dengan perbuatan yang telah ia lakukan?."&lt;br /&gt;"Kau maksudkan Keng Ji kongcu memang sudah sepantasnya mati?''&lt;br /&gt;"Benar Keng Ji kongcu telah membunuh puluhan orang anggota Bu khek bun, dian-taranya terdapat beberapa orang perempuan dan pelayan yang sama sekali tak mengerti ilmu silat, coba katakanlah apakah dia pantas untuk mati?"'&lt;br /&gt;Nona berbaju hijau itu termenung sejenak lalu katanya.&lt;br /&gt;''Meskipun dia pantas untuk mati, itu kan dipandang menurut sudut pandanganmu sendiri, mengapa aku tidak memikirkannya pula dari sudut pandanganku?"&lt;br /&gt;"Kalau berbicara dari sudut pandangan itu, tentu saja keadaannya berbeda, kau seharusnya membalaskan dendam baginya, seringkali budi dan dendam pribadi bisa membunuh keadilan dan kebenaran, aku yakin delapan puluh persen umat manusia yang berada di dunia sekarang, mempunyai cara berpandangan seperti nona"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nona berbaju hijau itu segera tertawa, katanya kemudian:&lt;br /&gt;'Cu Siau-hong, tampaknya kau adalah seorang yang sangat memakai aturan dalam pembicaraan maupun tindakan"&lt;br /&gt;"Terlalu banyak aturan yang berlaku dalam dunia persilatan, hal ini dikarenakan aturan-aturan tersebut dipandang orang dari sudut pandangan yang berbeda antara yang satu dengan lainnya, tapi hal yang sebenarnya hanyalah satu, itulah sebabnya seringkali akan muncul banyak teori dan keadaan yang beraneka ragam"&lt;br /&gt;''Aaai .... lebih baik tak usah kita bicarakan tentang masalah-masalah tersebut, sekarang kita membicarakan persoalan diantara kita sendiri saja"&lt;br /&gt;"Silahkan nona berbicara, aku akan mendengarkannya dengan penuh seksama."&lt;br /&gt;''Aku hendak membalaskan dendam bagi kematian Keng Ji kongcu!"&lt;br /&gt;"Nona, akupun tak akan membiarkan diriku dibunuh tanpa melawan, diantara kita berdua tampaknya harus melakukan suatu pertempuran yang paling seru.&lt;br /&gt;"Ya, benar, karena sudut pandangan maupun teori yang dipegang masing-masing pihak saling bertolak belakang.&lt;br /&gt;"Betul!" kita memang memandang persoalan itu dari sudut pandangan masing-masing pihak"&lt;br /&gt;Pelan-pelan nona berbaju hijau itu mengangguk, katanya kemudian:&lt;br /&gt;'Kau menggunakan pedang?'&lt;br /&gt;"Betul, senjata apa yang nona pakai?"&lt;br /&gt;"Senjataku berada didalam sakuku. Bila mana saatnya untuk digunakan sudah sampai, sudah pasti akan kugunakan secara otomatis."&lt;br /&gt;"Maksud nona, kau hendak menerima beberapa jurus seranganku dengan tangan ko-song.&lt;br /&gt;"Benar, silahkan kau turun tangan!"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4537347065284875195-1831882629569972865?l=cerita-silat-clasic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/feeds/1831882629569972865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4537347065284875195&amp;postID=1831882629569972865&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/1831882629569972865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4537347065284875195/posts/default/1831882629569972865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-silat-clasic.blogspot.com/2009/01/pena-wasiat-23.html' title='Pena Wasiat 23'/><author><name>Taviv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09431956148586873513</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_q0YVGe00Snk/SX_O-ytuR-I/AAAAAAAAANA/cAjoAQf6lAU/S220/My+Son.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4537347065284875195.post-4004231929202312088</id><published>2009-01-29T20:42:00.000+07:00</published><updated>2009-01-29T20:45:45.636+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pena Wasiat'/><title type='text'>Pena Wasiat 22</title><content type='html'>Oleh : Tjan ID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ucapan pangcu memang benar!"&lt;br /&gt;"Aku pikir, entah dia muncul dalam bentuk apa dan menampakkan diri dimana, cara yang paling sempurna untuk menutupi jejaknya adalah kematian"&lt;br /&gt;"Dalam dunia ini memang tiada persoalan lain yang lebih mudah dilupakan orang dari pada suatu kematian"&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Benar! Itulah sebabnya mengapa ia tak pernah dicurigai orang selama ini"&lt;br /&gt;"Kalau begitu, dia adalah seorang manusia?"&lt;br /&gt;"Sulit untuk dikatakan! Tak ada orang yang kenal dengannya, juga tak tahu apa kedudukannya sekarang, menurut pendapat aku si pengemis tua, entah dia menam-pakkan diri dimana dan pada saat apapun, mungkin penampilannya itu tak akan menarik perhatian orang atau perkataan lain dia selalu menampakkan diri dalam kedudukan masyarakat yang rendah"&lt;br /&gt;"Lo pangcu, apakah kita perlu me-lakukan pemeriksaan, benarkah dia sudah mati sungguhan atau tidak?"&lt;br /&gt;"Bukan soal perlu atau tidak, tapi kita harus melakukan pemeriksaan tersebut"&lt;br /&gt;Mau perika sih mudah saja! Tapi bagai mana, caranya kita lakukan pemeriksaan ter-sebut?"&lt;br /&gt;"Soal itu, tergantung adakah orang yang bersedia membantu usaha kita, kalau berbicara menurut watak Tiong buncu, bila dalam anggota Bu khek bun kedapatan ada yang mati, maka dia pasti akan mengubur jenazah secara wajar dan baik"&lt;br /&gt;"Tentu saja demikian"&lt;br /&gt;"Nah inilah titik terang yang bisa kita gunakan sebagai pangkal penyelidikan kita'&lt;br /&gt;"Perlukah kita membuka peti mati untuk melakukan pameriksaan?'&lt;br /&gt;'Persoalannya sekarang adalah sekarang dia berada dimana? Dimana jenasahnya di kuburkan?"&lt;br /&gt;Kali ini Cu Siau hong tidak mengangguk, juga tidak menggeleng.&lt;br /&gt;Melihat itu, Ui lo pangcu segera menghembuskan napas panjang, katanya lebih jauh:&lt;br /&gt;"Pek Bwe lote, menurut jalan pemikiranku, tempat jenasahnya dikubur sudah pasti tak terlalu jauh letaknya dari perkampungan Ing gwat san ceng."&lt;br /&gt;Pek Bwe dan Ui pangcu segera menengok kembali ke wajah Cu Siau hong.&lt;br /&gt;Si anak muda itu masih tetap duduk dengan tenang di tempat tanpa mengangguk ataupun menggeleng.&lt;br /&gt;Pek Bwee lantas mendeham beberapa kali, katanya:&lt;br /&gt;"Kalau begitu tempat jenasah itu dikubur pasti sukar sekali ditemukan. "&lt;br /&gt;"Mungkin juga orang yang mengubur jenasahnya telah mengalami musibah semua, sehingga tak ada orang yang tahu dimanakah letak tempat penguburannya?"&lt;br /&gt;Paras muka Cu Siau bong kelihatan amat sedih, namun ia tidak bergerak ataupun mengucapkan sepatah katapun.&lt;br /&gt;Pek Bwe segera berkerut kening lalu mendeham berat, ujarnya kembali:&lt;br /&gt;"Lo pangcu, kelihatannya persoalan ini rada sedikit merepotkan"&lt;br /&gt;"Yaa, memang ada sementara persoalan yang tak bisa terlampau dipaksakan ....."&lt;br /&gt;Cu Siau hong mendongakkan kepalanya dan memandang kedua orang itu sekejap, kemudian tertawa getir.&lt;br /&gt;''Pek lote" kata Ui pangcu kemudian, "aka rasa mungkin ada banyak orang yang tahu akan persoalan ini, kenapa kita tidak mencari orang lain untuk ditanyanya?"&lt;br /&gt;Kali ini Cu Siau hong memberikan reaksinya, kembali dia menggelengkan kepala-nya berulang kali.&lt;br /&gt;Ui Pangcu segera tersenyum, katanya:&lt;br /&gt;"Pek lote, dalam persoalan ini, jangan biarkan terlalu banyak orang yang tahu"&lt;br /&gt;Kembali Cu Siau hong mengangguk.&lt;br /&gt;"Saudara Pek, aku lihat kita pikirkan kembali persoalan ini pelan-pelan, siapa tahu bisa kita pikirkan suatu cara yang lebih praktis dan sempurna?" Pelan-pelan Cu Siau hong bangkit berdiri kemudian katanya:&lt;br /&gt;"Boanpwe ingin mohon diri lebih dahulu"&lt;br /&gt;"Baik! Kau boleh berangkat selangkah lebih duluan, setelah lelah seharian penuh memang sepantasnya kalau kau pergi beristirahat"&lt;br /&gt;Cu Siau hong segera membalikkan badan dan pelan-pelan berlalu dari tempat itu.&lt;br /&gt;Memandang bayangan punggung Cu Siau hong yang menjauh, Pek Bwe menghembus-kan napas panjang katanya:&lt;br /&gt;"Lo pangcu, bocah ini terlalu muda, tidak tahu aturan, bila telah melakukan kesalahan harap lo pangcu jangan marah!"&lt;br /&gt;"Saudara Pek, aku dapat melihat bahwa perasaannya amat gundah dan berat sekali"&lt;br /&gt;Bila orang muda bisa memegang janji hal ini tak akan merugikan kepribadiannya dan kejadian tersebut merupakan suatu per-buatan yang baik, lohu merasa tidak leluasa untuk terlampau menegurnya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mengerti, kitalah yang telah menyusahkan dia, mana mungkin kita akan menegurnya lagi?'' .&lt;br /&gt;"Sungguh, bijaksana lo pangcu mengha-dapi setiap persoalan, lohu merasa kagum sekali"&lt;br /&gt;Ui pangcu segera tertawa.&lt;br /&gt;"Pek lote, kalau didengar dari pembica-raan Siau hong, agaknya pena wasiat me-mang benar-benar telah berkunjung ke per-kampungan Ing gwat san ceng, sedangkan kitab pusaka Bu beng kiam bok tersebut rupanya juga merupakan hadiah dari pena wasiat ....... '&lt;br /&gt;'Yang membuat lohu keheranan adalah pena wasiat tak pernah melibatkan diri da-lam pertikaian dunia persilatan, kenapa ia bisa menghadiahkan sejilid kitab Kiam boh kepada Cu Siau hong? '&lt;br /&gt;''Pek lote" kata Ui pangcu dengan wajah serius, "Aku rasa persoalan ini tak akan terlepas dari dua alasan, pertama pena wasiat telah menetapkan ahli warisnya dan Cu Siau hong mungkin merupakan pilihannya."&lt;br /&gt;"Oooh. . . soal ini bukankah sedikit agak berbeda dengan cara kerja Pena Wasi-at pada umumnya? Bukankah cara kerja pena wasiat selamanya amat rahasia?"&lt;br /&gt;"Bila pertanyaan ini kau ajukan kepadaku lebih awal sendiri, maka akupun tak akan mampu untuk menjawabnya, tapi sekarang aku si pengemis tua telah berha-sil menelusuri sedikit akan duduknya persoalan'&lt;br /&gt;"Lohu siap mendengarkan penjelasan!'&lt;br /&gt;"Orang yang berhak memegang pena wasiat selain musti jujur dan bijaksana, yang paling penting lagi adalah dia harus memiliki ilmu silat yang sangat lihay serta ji-wa yang sosial dan tidak serakah akan pahala dan kedudukan, orang orang semacam ini tak mungkin bisa dibina sedari kecil, melainkan harus dicari dari antara pendekar--pendekar sejati yang telah ada didalam dunia persilatan, ternamanya Tiong buncu da-lam dunia persilatan menunjukkan kalau dia punya pamor mungkin diapun termasuk salah seorang pilihannya untuk menggantikan kedudukannya si pemegang pena wasiat terse-but, oleh karena itu pula baru tersiar beri-ta bahwa pena wasiat telah datang keperguruan Bu khek bun"&lt;br /&gt;Berbicara sampai disini, mendadak ia menutup mulut.&lt;br /&gt;Pek Bwe menghela napas panjang, kata-nya:&lt;br /&gt;"Leng kang memang cukup jujur dan bi-jaksana, tapi ilmu silatnya masih belum cukup untuk menduduki jabatan memegang pena wasiat, Lo pangcu tak usah ragu-ragu lagi untuk berbicara, apa yang ingin kau katakan, utarakan saja secara terus terang"&lt;br /&gt;"Menurut dugaan aku sipengemis tua, Pena wasiat telah berkunjung ke Bu khek-bun mungkin telah melakukan pula suatu penyelidikan yang seksama, setelah mengeta-hui kalau Tiong buncu merupakan anggota persi-latan yang secara langsung terlibat di-dalam pertikaiannya dan merasa tidak co-cok dengan syarat sebagai pemegang pena wasiat, maka pilihannyapun terjatuh pada Cu Siau hong. Tentu saja, Cu Siau hong pun merupakan pilihan permulaan saja, sedang mengenai cara untuk merahasiakan indenti-tasnya, tentu saja kematian merupakan suatu tindakan yang paling tepat"&lt;br /&gt;Pek Bwee mengangguk tiada hentinya.&lt;br /&gt;"Benar dengan kecerdaaan dan kebijaksanaan Siau hong, dia memang merupakan pilihan yang paling baik tapi menurut pandangan lohu agaknya dia tidak memiliki suatu kewibawaan, apakah hal ini cocok untuk menjabat sebagai pemegang pena wasiat?"&lt;br /&gt;"Soal ini? Aku seorang pengemis tuapun mempunyai semacam pandangan yang berbeda, Cu Siau hong termasuk diantara orang yang berwajah gagah, dapat menegakkan keadilan dan kebenaran, juga tidak terlalu-&lt;br /&gt;mempersoalkan segala tetek bengeknya masalah, tindakannya untuk menampung Lik Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan merupakan suatu bukti yang nyata dari kebesaran jiwanya, tapi juga merupakan suatu tindakan yang tepat selain dari pada itu, untuk menolong Tiong It ki merupakan suatu tindakan yang belum tentu bisa tercapai meski telah mengorbankan nyawa puluhan orang jago lihay pun tentu saja cara yang digunakannya itu hanya Cu siau hong seorang yang bisa mempergunakannya, bila berganti orang lain belum tentu dia memiliki syarat yang cukup untuk menaklukkan ketiga orang siluman perempuan tersebut''&lt;br /&gt;"Aaaai... lo pangcu, akupun masgul karena persoalan ini, bagamanapun juga tindakan Siau hong untuk menerima ketiga o-rang siluman perempuan itu untuk selalu mendampinginya bukan merupakan tindakan yang baik, tapi apa yang harus kita lakukan? Harap lo pangcu bersedia memberi putunjuk untuk mengatasi hal ini'&lt;br /&gt;"Aku rasa, soal ini tak perlu kalian risaukan, walaupun aku tidak mengerti soal ilmu perbintangan, namun pengalamanku selama puluhan tahun hidup menjadi manusia, membuat pandanganku terhadap orang lain jarang keliru."&lt;br /&gt;"Lihk Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan merupakan perempuan-perempuan cabul yang sudah amat termashur namanya dalam du-nia persilatan, bagaimana mungkin Bu khek bun bisa menerima mereka? Sekalipun sebelum matinya Leng kang telah meninggalkan pesan yang mengijinkan Siau hong bertindak sekehendak hatinya tanpa terikat oleh peratur-an Bu khek bun, tapi bila ia sampai melakukan perjalanan dalam dunia persilatan dengan membawa serta beberapa orang cabul itu, maka harus ditaruh ke manakah nama baik perguruan? Apalagi dia masih muda, berdarah panas dan besar gairah hidupnya, andaikata kena terangsang oleh pancingan yang berani ketiga orang budak tersebut, bukankah kejadian ini akan mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa yang memalukan?"&lt;br /&gt;Ui Pangcu segera tertawa.&lt;br /&gt;''Lote, kalau toh sudah tidak terbelenggu oleh peraturan perguruan Bu khek Bun dan mengapa pula kau harus menguatirkan baginya?'.&lt;br /&gt;"'Lo pangcu, agaknya kau sama sekali ti-dak merasa kuatir akan persoalan ini?"&lt;br /&gt;'Kuatirpun apa gunanya?. Dalam kenyataan, cara kerjanya sudah merupakan suatu tindakan yang baik, Pek lote, seandainya Tiong It ki belum tertolong sekarang, dapatkah Bu khek bun menerima permintaan dari ke tiga orang perempuan itu?"&lt;br /&gt;''Soal ini.. . soal ini...'&lt;br /&gt;Sambil tertawa Ui pangcu segera berkata:&lt;br /&gt;"�Aku percaya, Bu khek bun pasti akan menyetujui permintaannya, waktu itu Bu- khek bun sudah pasti bukan memikul suatu beban yang berat sekali ...."&lt;br /&gt;"Tapi Cu Siau hong telah meluluskannya itu berarti kamipun tak dapat menampiknya lagi.&lt;br /&gt;''Paling tidak, dalam perasaan kalian tak akan terdapat beban terlampau berat"&lt;br /&gt;"Maksud pangcu.."&lt;br /&gt;"Maksud lohu, bila Cu Siau hong bisa bertindak bijaksana tanpa mempersoalkan hal-hal yang kecil....''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak ia berhenti berbicara, wajahnya berubah menjadi amat serius, pelan-pelan lanjutnya:&lt;br /&gt;''Pek lote, semenjak pena wasiat muncul dalam dunia persilatan, sudah banyak manusia munafik yang dibongkar kedoknya sehingga ketenangan yang meliputi dunia persilatan selama ini boleh dibilang merupakan pemberian dari pada wasiat, tapi keadilan meningkat satu depa, kejahatan meningkat satu tombak, sekalipun pena wasiat berhasil membongkar kedok kemunafikan se-mentara orang, namun hal itu justru telah mendesak pula kaum laknat dan manusia keji itu untuk menyembunyikan dirinya semakin rapat, dari laporan Tiang kim dapat kuketahui semua kejadian dalam kebun raya Ban hoa wan, kekuatan serta pengaruh yang begitu besarnya tak mungkin bisa terbentuk dalam satu hari saja, apalagi sudah puluhan tahunan dalam dunia persilatan dalam ketenangan mustahil secara tiba-tiba bisa masuk sekelompok kekuatan yang demikian besarnya, oleh sebab itu menurut pendapat lohu, sudah pasti kelompok kekuatan itu telah dibina banyak tahun, cuma tindak tanduk mereka terlampau rahasia dan gerak geriknya a-mat misterius sehingga sulit buat orang lain untuk menduga asal usulnya "&lt;br /&gt;''Benar juga perkataanmu itu, misalnya saja Keng Ji kongcu itu bukan cuma ilmu silatnya saja yang sangat lihay, pengetahuan nya pun luas sekali, agaknya ilmu silat yang dipelajarinya berasal dari satu aliran yang sama ..... .&lt;br /&gt;"Nah itulah suatu titik kelemahan" sela Ui pangcu.&lt;br /&gt;Pelan pelan ia bangkit berdiri, kemudian melanjutkan:&lt;br /&gt;''Pek lote, kau boleh pergi, berhubung masalahnya terlampau besar, mungkin soal ini tak bisa dibicarakan sampai jelas dalam dua tiga patah kata saja. Kitapun tak usah menduga-duga yang tidak-tidak, malam sudah larut, silahkan Pek lote kembali ke kamar un-tuk beristirahat"&lt;br /&gt;Persoalan itu memang terlampau berat dan besar, Pek Bwe sendiripun tahu kalau persoalan ini tak mungkin bisa dibicarakan lebih jauh, maka ia lantas beranjak dan mohon diri. .&lt;br /&gt;Dia tidak segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat, melainkan berbelok menuju ke kamar tidurnya Cu siau hong.&lt;br /&gt;Cahaya lampu menerangi ruangan itu, sambil bertopang dagu Cu Siau hong sedang memandangi sinar lentera itu dengan termangu:&lt;br /&gt;Ketika mendengar suara langkah mendekat Cu Siau hong baru mendongakkan kepalanya, jelas perasaannya sangat berat dan gundah sehingga dia memusatkan perhatiannya ke satu arah sambil mengulapkan tangannya, Pek Bwe menegur:&lt;br /&gt;"Nak, kau belum tidur?"&lt;br /&gt;Cu Siau hong bangkit berdiri dan mengambilkan secawan air teh untuk Pek Bwe, setelah itu katanya dengan lirih:&lt;br /&gt;"Boanpwe sedang memikirkan beberapa persoalan!''&lt;br /&gt;"Apa yang kau pikirkan?..&lt;br /&gt;`Aaaai... boanpwe masih muda dan tak tahu urusan, setelah kululuskan permintaan Lik Hoo, Ui Bwe dan Ang Bo-tian untuk membawanya keluar dari kebun raya Ban hoa wan, sekarang aku tak tahu bagaimana caranya untuk menempatkan me-reka? '&lt;br /&gt;Setelah memperoleh petunjuk dari Ui pangcu, pikiran dan cara berpandangan dari Pek Bwe jauh lebih terbuka. sambil tertawa katanya.&lt;br /&gt;'Kenapa? Jika belum tahu bagaimana ca-ranya untuk menyelesaikan persoalan mereka, kenapa kau meluluskan permintaan nya?'&lt;br /&gt;"Waktu itu boanpwe hanya bertujuan untuk menolong It ki sute, sekalipun mereka ajukan syarat yang lebih tinggi, aku tetap akan meluluskannya tak kusangka. . ."&lt;br /&gt;"Tak kau sangka kalau akhirnya akan mendatangkan banyak kesulitan bagimu?" sam-bung Pek Bwe.&lt;br /&gt;''Saat ini boanpwe sedang mengawali kesulitan tersebut"&lt;br /&gt;"Coba katakan agak jelas kesulitan maceam apakah yang sedang kau alami sekarang'&lt;br /&gt;"Boanpwe merasa masih banyak urusan yang harus segera diselesaikan, akan tetapi aku tak tahu harus menitipkan ketiga orang budak itu dimana?"&lt;br /&gt;"Bukankah Tang ciangbunjin telah setuju untuk menerima mereka sebagai anggota Bu-khek bun.&lt;br /&gt;"Telah boanpwe pikirkan hal ini, tapi aku rasa tindakan tersebut kurang baik"&lt;br /&gt;Diam-diam Pek Bwee berpikir:&lt;br /&gt;"Bagaimanapun juga, bocah ini sudah banyak membaca buku, kecerdikannya memang jauh melebihi orang lain"&lt;br /&gt;Tapi diluar, sengaja dia bertanya:&lt;br
